Sunday, October 30, 2016

Dassault Rafale F3R vs Saab Gripen-E

Rafale-M (Credits: Anne-Christine Poujoulat/AFP)
Gripen E 39-8 (Credits: Saab)

Battle of Eurocanards

Menuliskan perbandingan ini lebih sulit, karena untuk pertama kalinya, kedua pesawat tempur disini bukanlah versi export, alias versi yang sudah di-downgrade seenak perut, baik oleh Washington DC, ataupun Moscow

India baru saja merogoh kantong US$6,2 milyar untuk pembelian 36 Dassault Rafale diluar proporsi biaya customisasi khusus India $1,9 milyar, dan persenjataan $800 juta; tanpa Transfer-of-technology. Sedangkan Saab baru saja membuat penawaran ke Indonesia, senilai $1,14 milyar untuk 16 Gripen-C. Supercruising Gripen-Echo yang jauh lebih modern, untuk estimasi kasar prediksi harga tertinggi akan jatuh sekitar 30% lebih mahal, atau sekitar $1,5 milyar, atau bisa lebih murah kalau membeli lebih banyak dari hanya 16 unit.

Terlepas dari kebutuhan Rafale India untuk dapat membawa senjata nuklir, pertanyaannya: 
Apakah $6,2 milyar untuk 36 Rafale, jauh lebih unggul dibandingkan 
(estimasi kasar) $3 milyar untuk 36 Gripen-E?


Monday, October 17, 2016

Simulation: How Gripen-E will win the next Air War

Credits: Stefen Kaln, Saab
All Gripen images are Saab copyright 
Blog ini sudah menyajikan kenapa Gripen-E adalah satu-satunya pesawat tempur modern, yang memenuhi semua persyaratan 21st Century Air Superiority Fighter: jauh lebih unggul baik dari segi kinematis, maupun semua aspek lain, dibandingkan semua pesawat tempur lain; baik yang dioperasikan di seluruh Asia Tenggara / Australia, ataupun dibandingkan dua pesawat versi export yang ditawarkan ke Indonesia.

Kalau kedua artikel sebelumnya, sudah menampilkan kenapa Gripen-E akan selalu berpotensi memenangkan setiap pertempuran udara, artikel ini berbeda:

Simulasi:

Bagaimana Gripen-E akan memenangkan perang udara, melawan lawan manapun.

Monday, October 10, 2016

Kekuatan Udara Indonesia di tahun 1960-an

MIG-21 AURI di tahun 1960-an
Gambar: TNI-AU
Surat kabar Kompas baru menuliskan bagaimana kekuatan TNI di tahun 1960-an sangat disegani. Banyak blog, ataupun komentar berita Indonesia tidak berhenti menjunjung tinggi, bagaimana kuatnya kekuatan udara Indonesia di masa itu.

Penulis sendiri pernah mendengar berita ini semasa kecil. Tentu saja, pernyataan ini menimbulkan rasa bangga, mengingat kelihatannya kekuatan kita terasa sangat lemah.

Akan tetapi... TUNGGU DULU!

Sekarang sudah Abad ke-21. Tahun 1960-an sudah berlalu hampir 50 tahun yang lalu. Sudah saatnya melakukan analisa secara lebih mendetail. Pernahkan kita bertanya: Apakah benar kekuatan kita dahulu kala itu begitu kuat?

Monday, October 3, 2016

Analisis: Dassault Rafale India; Apakah India akhirnya juga akan membeli Gripen-E?

Credits: Nicolas-Nelson Richard, AFP

Setelah melewati masa pemilihan pesawat tempur baru yang berlarut-larut sejak tahun 2001, dimulai dengan program MMRCA, India akhirnya berhasil menutup kontrak untuk pesawat yang seharusnya sudah tutup buku dari tahun 2012.

Sama seperti kontrak Eurofighter Typhoon untuk Kuwait yang sudah dibahas sebelumnya, pelajaran apa saja yang bisa kita ambil dari pengalaman India?