Tuesday, September 13, 2016

Peresmian production aircraft Boeing T-X; 13-September-2016

Boeng T-X;  Credits: Bill Carey, AINonline

Move over T-50! .....Atau pesawat yang Assembled in Korea; Designed, Fully Source-coded, and controlled by Lockheed-Martin, USA!

Salah satu program development pesawat yang paling dirahasiakan saat ini akhirnya sudah diresmikan di pabrik St. Louis Boeing,  pada 13-September-2016; 

Yang paling menarik dari peresmian model ini sendiri, Boeing mengungkapkan kalau pesawat T-X yang mereka resmikan adalah production model, bukan prototype!

Ada beberapa alasan kenapa Boeing / Saab T-X akan berpeluang besar untuk merebut kursi terdepan dari Lockheed-Martin T-50 dalam program T-X United States, yang akan membutuhkan 350 pesawat latih baru untuk pengganti Northrop T-38 dalam dua puluh tahun ke depan:





Pertama: Supersonic Boeing T-X dapat dipastikan LEBIH MURAH dibandingkan Lockheed T-50  

Saab mengirim fuselage dari T-X  dari Norrköping ke pabrik Boeing di St. Louis,
melalui pesawat angkut Il-76

14-Juni-2016
(Gambar: 
Andreas Åsenhei)
Bukan tanpa alasan Boeing memilih Saab AB sebagai partner utama dalam program T-X pada Desember-2013 yang lalu; Saab sudah dikenal sebagai Grand Maester dalam industri Military Aviation untuk membuat pesawat tempur dengan biaya development, akuisisi, dan operasional yang semurah mungkin, tanpa pernah perlu mengkompromikan kemampuan tempur.

Breaking Defense melaporkan bagaimana Daryl Davis, presiden dari Phantom Works, Boeing mengungkapkan keunggulan produksi T-X ini: "...hampir tidak diproduksi dengan tangan (atau secara konvensional), tetapi menggunakan Advanced Adhesive (perekat), 3-D printing, dan semua tehnik lain untuk "break the cost curve"."

Program Manager Ted Togerson mengungkapkan lebih lanjut, kalau Advanced Cockpit untuk Boeing T-X yang seharusnya membutuhkan waktu 6 minggu untuk di-desain, dan diproduksi dari nol, hanya membutuhkan waktu 8 hari untuk dapat diselesaikan!  


Kalimat ini selalu menjadi bahasa philosophy design Saab dalam seluruh program Gripen, dan sekarang philosophy ini sendiri sengaja diturunkan ke program Boeing T-X. Sama seperti Gripen, pesawat latih ini sendiri sudah dirancang dari awal dengan biaya development, dan produksi yang semurah mungkin. Seperti sudah disinggung diatas, Boeing T-X bahkan bukanlah prototype, tetapi production model yang sudah siap terbang!

Sementara itu, competitor lain dalam program T-X; Northrop-Grumman, yang akan mengikuti jalur konvensional dalam development phase, masih menguji coba prototype untuk versi T-X mereka, pada 19-Agustus-2016 yang silam:
Northrop T-X prototype Model 400 di Mojave
(Gambar: Northrop-Grumman)
Kerjasama dengan Saab sudah membuat Boeing berhasil melompati jebakan cost advantage dari Lockheed-Martin, yang sebenarnya secara halus berhasil mencurangi pemerintah Korea untuk membiayai 87% development cost dari T-50 mereka.

Lockheed-Martin sendiri tidak pernah mempunyai pengalaman untuk membuat pesawat yang baik harga, ataupun biaya operasionalnya murah, dan ekonomis. Oh, F-16? Sebenarnya adalah produksi General Dynamics Aviation, yang diakuisisi Lockheed di akhir tahun 1990-an.

Lockheed-Martin T-50 sendiri, walaupun mempunyai kemampuan supersonic dari mesin F404, sebenarnya sudah berhasil dikalahkan oleh pilihan pesawat latih subsonic dari Alenia Aermachi M-346, dalam kompetisi kritis Singapore, dan Israel; dua angkatan udara yang sudah terhitung paling modern, dan paling mapan di dunia. Alenia M-346 sendiri mengikuti kompetisi T-X dalam wujud T-100, melalui partnership dengan Raytheon.

Israel sendiri mengungkapkan kalau M-346 adalah pilihan yang lebih baik dibanding T-50. Faktor lain yang tersirat disini: Selain spesifikasi Lockheed T-50 yang dianggap masih kurang fleksibel, (M-346 bahkan dapat mengoperasikan Link-16 data link), baik harga, ataupun biaya operasionalnya dianggap kurang kompetitif dibandingkan M-346.

Sekarang, Boeing T-X akan menampilkan pesawat dengan mesin afterburning GE F404-402 yang sama, memberikannya kemampuan supersonic, dengan biaya operasional jangka panjang yang dapat dipastikan akan lebih murah.

Pada akhirnya masalah untuk program T-X kembali... budget... budget... budget. 

Mengingat saat ini, para politisi, dan Pentagon masih gandrung kepada pesawat F-35 Lemon II, yang kemampuan tempur-nya "tidak becus" dengan harga per unitnya yang terlalu mahal, dan problemnya juga tidak pernah bisa kunjung habis, penghematan dari harga per unit pesawat program T-X akhirnya akan menjadi salah satu penentu utama kemenangan dalam kompetisi ini.




Kedua: Twin-tail Design akan lebih optimal untuk melatih pilot F-35  


Kalau prototype dari Northrop-Grumman terlihat mirip dengan T-38, sedangkan Lockheed-Martin T-50 terlihat mirip dengan F-16-Lite; Boeing T-X, secara desain terlihat paling mirip dengan F-35. 

Walaupun keuntungan desain disini boleh dibilang sebagian akan tergantung kepada persepsi para penilai, konfigurasi Twin-Tail Single-Engine Boeing T-X biar bagaimanapun akan selalu lebih mudah untuk dapat mereplikasi kemampuan manuever F-35 Lemon II.

Mengingat pesawat ini juga akan menginjeksi keunggulan dari flight control system dari Boeing F-18E/F dan Saab Gripen, secara desain jauh lebih sederhana, dan airframe-nya sendiri akan sangat ringan, kemampuan manuever-nya dapat dipastikan masih akan jauuuh..... jauuh lebih unggul dibanding F-35 Lemon II, yang gembrot karena harus membawa lift-fan untuk versi-B, kemudian conformal weapons bay, yang menjadikannya serupa dengan B-17 di jaman Perang Dunia II, dengan sayapnya yang terlampau kecil untuk bisa bermanuever.


Seperti T-50, dan Northrop Model 400, konfigurasi cockpit untuk Boeing T-X, seperti bisa dilihat dalam gambar di atas, memilih desain tandem dimana posisi kursi belakang untuk instructor lebih tinggi, dibandingkan posisi kursi depan untuk pilot yang dilatih; dan dengan demikian mengoptimalkan field-of-view dari instructor.

Terlebih lanjut, Boeing menyatakan kalau T-X mereka sudah terintegrasi ke dalam Ground-based Training System untuk memastikan learning curve pilot yang optimal.



Penutup: Boeing / Saab mempunyai pandangan jangka panjang: tidak hanya untuk program T-X, pesawat ini direncanakan akan di-export ke customer lain!  

Advanced Lead-In Fighter Trainer. Salah satu komponen paling penting dalam infrastruktur Angkatan Udara yang modern. 

Ironisnya, portfolio Boeing, dan Saab sebenarnya masih kosong untuk mengisi komponen ini, dan dengan demikian mereka tidak mempunyai produk yang dapat bersaing dengan pemain lama BAe Hawk, ataupun kedua pemain baru Lockheed-Martin T-50 (bukan buatan Korea), dan Alenia M-346.

Inilah kenapa bukan tanpa alasan, Boeing sudah menyatakan kalau T-X mereka, di luar program T-X, akan ditujukan untuk export market. Saab sendiri sepertinya mengawasi kebutuhan pesawat latih untuk AU Swedia, untuk menggantikan Saab-105 yang sekarang sudah terlalu tertinggal. Tidak hanya United States, dan Swedia, kebanyakan negara lain juga masih mengoperasikan banyak pesawat latih dari desain tahun 1960-an yang sudah sekarat. Beberapa contoh lain; Swiss masih memakai F-5F dual-seater, Jerman masih memakai T-38 yang dipangkalkan di US, sedangkan Perancis juga masih memakai Dornier AlphaJet.

Qatar masih ingin membeli 72 F-15, sedangkan Kuwait masih menginginkan 24 F-18SH melalui program FMS pemerintah US. Untuk negara-negara pembeli F-15, dan F-18, Boeing tentu akan berpeluang untuk menawarkan pesawat T-X mereka dalam satu paket yang terintegrasi penuh.

Sebaliknya, bagi negara-negara yang mungkin ingin menghindari prosedur FMS (Foreign Military Sales) US yang cenderung berbeli-belit, Saab akan dapat menawarkan model T-X yang tidak akan membawa tehnologi US yang sensitif. Sama seperti Boeing, Saab sendiri akan dapat memaketkan penjualan Gripen, yang terintegrasi dengan T-X. 

Terlebih lanjut, karena Saab sudah berhasil menunjukkan Boeing bagaimana caranya memproduksi pesawat militer on budget, dan on time untuk mengikuti program philosophy Breaking the curve, keuntungan jangka panjang lain dari kerjasama ini: Bukan tidak mungkin keduanya akan mulai melihat kemungkinan untuk melihat masa depan yang... beyond Gripen-E, Super Hornet, or... the incredibly sad F-35. 

Pesawat tempur Generasi keenam? Atau untuk Abad ke-22?

Sementara lini produksi Saab sudah dipenuhi order Gripen-E untuk Swedia, dan Brazil (semoga juga Indonesia!), lini produksi pabrik St. Louis Boeing untuk F-15, dan F-18 boleh dibilang sudah sekarat: Pentagon sangat menginginkan membeli pesawat F-35 Lemon II; sedangkan dua desain twin-engine Boeing, tentu saja tidak pernah bisa sesuai dengan keterbatasan anggaran kebanyakan negara pembeli sekutu US. Tidaklah mengherankan kalau Boeing sebenarnya cukup aktif untuk melihat ke masa depan, di masa setelah hangover pasca post-F-35...

Dalam jangka panjang, kerjasama ini membuat Boeing akan dapat memetik keuntungan dari sistem Saab yang sudah terbukti jauh lebih efektif dibandingkan sistem development US yang terlampau berbelit-belit, mahal, dan cenderung terlambat. Saab sendiri juga akan mendapat keuntungan dari kemampuan lobi politik di Washington DC, dan kemampuan marketing raksasa Boeing. Belum lagi menghitung kemampuan produksi pabrik St. Louis Boeing untuk mengisi market.

Untuk Indonesia... seperti sudah diinstruksikan Presiden Jokowi; seyogjanya kita harus menginginkan produk Alutsista yang berbentuk investasi jangka panjang. Belum terlambat untuk kita naik ke kereta sekarang, dan memilih paket Saab, yang akan memenuhi semua kebutuhan pertahanan Indonesia, dan berpeluang mendudukkan kita di kursi terdepan untuk 50 - 100 tahun kedepan.


Gambar: Louise Levin/Försvarsmakten
Memenuhi kebutuhan, BUKAN keinginan!
Komitmen produsen untuk memenuhi UU no.16/2012,
biaya operasional ekonomis untuk Anggaran Pertahanan yang terbatas,

dan
akan selalu lebih memperhatikan kesejahteraan pilot, dan Ground Crew!

Kenapa sistem pertahanan Nusantara harus terus disandera oleh dua produk "versi export" downgrade, yang merugikan?




15 comments:

  1. Apakah mimin punya keraguan tentang TNI?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita hanya bisa melihat dari kenyataan yg diberitakan di media, misalnya beberapa contoh sederhana untuk soal akuisisi:

      ## Kenapa banyak pejabat sepertinya kurang menyukai hasil kerja industri pertahanan lokal, dan lebih senang untuk cenderung membeli barang import (alias "versi export" / downgrade), seperti contohnya, Sukhoi?

      ## Berkaitan dgn diatas, kenapa banyak yg sibuk berbicara mau beli ini-itu, tetapi..... kok tidak pernah menyinggung UU no.16/2012 ?

      ## Kenapa masih sangat doyan untuk membeli armada gado2 dari bermacam2 supplier?
      Spt sudah dibahas disini, arti strategisnya NOL besar, dan kerugian negara menjadi sangat berat.

      ## Dimana perencanaan strategis jangka panjang? Kenapa sibuk modernisasi, tetapi hanya asal beli?

      ## Kenapa juga terlalu senang terus-menerus terobsesi membeli pesawat tempur?
      TETAPI, seperti bisa dilihat, sangat enggan untuk membeli lebih banyak missile, atau perlengkapan modern seperti targeting pod.

      Kalau seperti sekarang, 50 pesawat tempur yg hanya bisa dipersenjatai 100 missile, maka efek gentarnya... yah, hanya membuat negara kita jadi bahan tertawaan negara lain!

      Jauh lebih efektif (dan lebih hemat) membeli 16 pesawat tempur, dan 120 missile (4x BVR , 2 WVR per pesawat + stock cadangan di gudang).

      @ Training juga akan jauh lebih optimal, apalagi kalau ke-16-nya bukan "versi export", biaya operasionalnya sesuai keterbatasan anggaran, dan mempunyai kemampuan Networking yg kebal utk di-jamming lawan.

      @ Apalagi kalu persyaratan dasar utk 16 pswt ini adalah AESA radar, dan kemampuan Sensor Fusion Abad ke-21.

      @ Apalagi kalau 16 pesawat itu juga bisa didukung 2 Erieye AEW&C utk mengoptimalkan pengawasan wilayah udara nasional.

      @ Apalagi kalau BVRAAM yg dipilih adalah model terbaik di dunia, yg juga non-export version - MBDA Meteor.

      @ Apalagi kalau pembuatnya, tidak seperti bbrp kalangan dalam negeri, juga bertekad untuk memenuhi persyaratan UU no.16/2012(!), untuk mulai membangun langkah utk kemandirian industri, dan sistem pertahanan Nasional.

      Kebutuhan Nasional, atau hanya utk memenuhi keinginan belaka?

      Delete
    2. Min, setelah melihat poin-poin mimin, sepertinya para pejabat sangat tidak kompeten

      Delete
    3. Kita tidak perlu menghakimi apakah satu, atau lain pihak kompeten atau tidak.

      Kita sebagai bangsa baru melewati masa transisi ke masa pemerintahan demokratis -- dan semua pihak baru mulai belajar untuk menyuarakan pendapatnya masing2, atas dasar pertimbangannya sendiri2.

      Kembali ke masalah pertahanan udara Indonesia:
      Setelah baru saja pulih dari masa Embargo US 1999 - 2005 (karena masalah Timor Timur), ada keinginan yang sangat kuat untuk membangun pertahanan udara Nasional yang jauh lebih mapan.

      Tentu saja ini natural. Bukankah kita iri melihat bagaimana kekuatan udara tetangga, khususnya Singapore, dan Australia sebenarnya "State-of-the-art" --- jauh lebih modern, matang, dan tentu saja kemampuannya berbeda jauh antara bumi, dan langit dibandingkan Indonesia.

      Nah, lantas langkah apa yang harus kita ambil untuk "mengejar ketinggalan"?

      Disinilah kita lalu mulai menembak kaki sendiri, karena dalam periode itu, setelah kita cukup lama "dikucilkan" secara regional, lantas kita sebagai bangsa menjadi menggapai ke sana-sini untuk mencoba mencari jawaban yang terbaik.

      Disinilah Miskonsepsi mulai merebak, dan mendominasi pemikiran re pertahanan di Indonesia.

      ## Sejak tahun 1958, para Jendral USAF, dan USN terutama; sudah lama menyebarkan propaganda kalau pesawat twin-engine lebih baik dibanding single engine
      Karena itu --- Indonesia juga membutuhkan twin-engine fighters!
      ---> Terjunlah kita untuk membeli Sukhoi, dan KF-X (!!)

      Kenyataannya: Sejak tahun 1914 sampai sekarang, pesawat tempur twin-engine tidak pernah terbukti lebih unggul, atau reliabilitasnya lebih tinggi dibanding Lightweight single-engine fighters.

      Para pilot USAF sendiri, (bukan para jendral) yang sudah menjajal F-15, dan F-16, sudah lama selalu menilai kalau F-16 yang single-engine sebenarnya adalah pespur Air Superiority yang baik akselerasi, ataupun manuevernya lebih baik vs F-15.

      ## Kemudian, ada beberapa penulis cerita fiksi ilmiah di website Ausairpower.org -- yang menggambarkan Sukhoi adalah pesawat yang begitu memukau!
      Apalagi, coba lihat performa Su-35 thrust-vectoring di Paris Airshow 2013 -- huebat!!

      Karena itu --- Indonesia membutuhkan Sukhoi Su-35; pesawat tak terkalahkan!!!

      Seperti sudah dibahas disini -- kemampuan Su-35 yang digambarkan di sana hampir 99% fiktif:
      @@ Untuk dapat menantang pilot pespur NATO, ataupun Australia; pilot Su-35 harus terlebih dahulu mendapat training regime yang sebanding. Dengan biaya operasional selangit, anggaran pertahanan Russia yg terbatas, kesulitan organisasi, dan perbedaan prosedur --- sudah hampir mustahil kalau Su-35 bahkan dapat menandingi F-15C Upgrade, dengan AN/APG-63v3 AESA / AMRAAM-D, dan JHMCS / AIM-9X

      @@ Ausairpower juga cukup bodoh untuk tidak bertanya ke para pilot di lapangan -- Thrust-Vectoring tidak relevan dalam pertempuran jarak dekat.

      @@ Ruski punya bermacam2 jenis BVR missile? 100% Mitos.
      Kurangnya investasi, keterbatasan tehnologi, dan anggaran, berarti missile BVR andalan Ruski hanyalah R-27 SARH, yang hanya sebanding dengan AIM-7 Sparrow, yang sudah dioperasikan US sejak tahun 1960-an, dan sekarang sudah dipensiunkan.

      Oh, lagipula, untuk negara pengkhianat yg pernah menghibahkan MiG-21 seperti Indonesia, hanya BVR missile versi export (downgrade) yang tersedia -- tentu disertai dengan harga markup!

      @@ US, dan NATO juga tidak bodoh. Mereka sudah mempunyai lebih banyak referensi langsung re pengetahuan tentang semua tehnologi pespur / missile / radar Ruski. Bahkan mungkin, mereka sudah mempelajari habis2an dengan intensitas yang lebih tinggi dibanding Russia sendiri.

      Ini baru beberapa point.

      Efek gentar Su-35, apalagi kalau dioperasikan Indonesia, yang tidak mempunyai infrastruktur / sistem yang siap = NOL BESAR.

      (lanjut dibawah)

      Delete
    4. ## Miskonsepsi berikutnya: Mimpi indah dari KF-X/IF-X.

      Banyak penulis blog militer Indonesia 100% positif dan membayangkan kalau kita akhirnya bisa mendapat pesawat "buatan sendiri".

      Sayangnya, ini hanya mimpi!
      Lebih parahnya, orang Korea sebenarnya menjual mimpi mereka ke Indonesia, dan kemudian kita bermimpi lebih mendalam lagi, dan menjadikannya cerita yang indah...

      ## Korea Selatan hanyalah anak kemaren sore, yang masih harus mengemis ToT ke United States, yang sudah terkenal kikir ToT ke semua negara lain, apalagi ke Indonesia!

      Jangan pernah berharap ToT US apapun yang jatuh ke KF-X, akhirnya akan turun ke IF-X!

      ## Kita bisa melihat di artikel ini sendiri, bagaimana Saab - Boeing sebenarnya, di belakang layar, sudah melihat betapa sulitnya pasar pesawat tempur di dunia.

      Dengan jumlah produksi yang sedikit (250 unit), dan dengan memilih desain twin-engine yang dengan sendirinya jauh lebih rumit; KF-X hanya akan menjadi pesawat yang lebih inferior dibanding F-16V, tetapi jauh lebih mahal harganya.

      Tentu saja, versi IF-X akan menjadi "versi export", alias downgrade.

      Belum lagi menghitung kalau anggaran "mimpi" Korea sebenarnya jauh dari realita. Hampir tidak mungkin pesawat ini bisa selesai dengan biaya $16 milyar, apalagi karena Korea sbnrnya miskin tehnologi, dan pengalamannya hanya untuk dipercundangi untuk membiayai T-50, untuk Lockheed-Martin!

      ==============================
      ==============================
      Ok, itu hanya beberapa contoh, dan sudah meracau terlalu jauh :)

      Tujuan blog ini sendiri untuk meningkatkan kesadaran nasional, kalau kita perlu kembali ke basics:

      Ayo, membangun sistem pertahanan udara Nasional Abad ke-21, dan memilih partner (bukan hanya semata mempertahankan hubungan penjual-pembeli), yang juga dapat memenuhi persyaratan UU no.16/2012, yang ditulis bukan untuk dilanggar!

      Kalau industri pertahanan lokal menjadi lebih mandiri, dan diperkaya oleh ToT, bisa hampir 90% harga yang dibayar untuk pespur dapat diinvestasikan kembali ke industri lokal.

      Kenapa tidak?

      Dan kalau berbicara soal efek gentar.... juga.........
      Efek gentar setiap pesawat tempur, sebenarnya tergantung kepada sistem pertahanan yang dipakai penggunanya.

      Misalnya, F-16 yang dipakai Mesir, tidak akan mungkin dapat menandingi F-16 Israel, atau F-16 Turki!

      Indonesia membutuhkan sistem pertahanan yang diakui dunia, bukan seperti sekarang!

      Su-35, dan IF-X --- dua pesawat yg tidak akan pernah bisa compatible --- mau bermimpi sampai kapanpun juga, tidak akan pernah bisa menjadi dasar untuk sistem pertahanan yang baik.

      Sistem membutuhkan pespur yang:
      ## Biaya operasionalnya terjangkau, tetapi kemampuan kinematisnya bersaing, atau lebih unggul vs negara lain. Supercruise!!!

      ## Training regime yang sebanding dengan standard kualitas NATO.

      ## Dukungan infrastruktur modern, mulai dari AEW&C, dan Networking.

      ## Tentu saja, juga kembali, seperti diatas -- dukungan penuh dari industri pertahanan lokal untuk menopang sistem tersebut 100%.

      Tanpa dukungan industri lokal = hanya menjadi mimpi!

      Delete
    5. Min, jika kita mengikuti latihan Pitch Black, pesawat apakah yg lebih cocok untuk dikirim? F-16 atau Sukhoi?

      Delete
    6. Antara kedua pilihan, tentu saja F-16 pilihan yang lebih ideal.

      Tidak hanya karena biaya op lebih murah, tapi secara tehnis F-16 juga akan jauh lebih compatible secara operasional, taktis, dan prosedural dgn pesawat2 Australia, Singapore, dan Thailand.

      Pilot kita juga mungkin bisa belajar utk tehnical AMRAAM, dan AIM-9X disana.

      Tahun ini, TNI-AU akhirnya mengirim F-16 kok, setelah tahun 2014 absen.

      Delete
  2. Miris memang melihat sistem pertahanan udara indonesia, dari pesawatnya aja gado-gado, belum artileri pertahanan udara juga sama gado-gado....
    apa karena pejabat pertahanannya penyuka gado-gado ya...
    wkwkwk....

    Tapi kalo ngomong di media nasional selalu bilang sistem pertahanan indonesia itu sangat canggih...
    wkwkwkwk....

    ReplyDelete
    Replies
    1. .... dan inilah kelemahan terbesar negara kita, bukan hanya pejabat, tetapi juga banyak kalangan:

      Kesombongan

      Ironisnya Ruski sebenarnya juga berbagi kelemahan yang sama ini.

      Inilah juga perbedaan dengan, terutama negara2 Barat, termasuk Australia, dan Singapore:

      Angkatan Udara mereka sudah jauh lebih modern, dan lebih unggul dalam segala hal, tetapi mereka tidak pernah berhenti untuk mengkritik kelemahan sendiri!

      Akan selalu ada kekurangan, dan akan selalu ada banyak pertanyaan kenapa tidak bisa begini, atau begitu. Dan dengan demikian, mereka juga terus menciptakan tantangan baru yang harus dilampaui!

      Ini artinya akan ada selalu ada insentif internal yang jauh lebih mendesak untuk terus meningkatkan kemampuan melebihi sekarang.

      Delete
    2. bagaimana dgn kasus f-35 apakah US tidak terlalu sombong bung? padahal kritikan untuk pesawat ini juga sudah banyak

      Delete
    3. Memang benar.

      Ini juga salah satu contoh kesombongannya tersendiri, tetapi secara konsep berbeda dengan kesombongan di Indonesia.

      Negara kita ini sepertinya masih terlalu banyak jatuh ke pepatah ini:
      Lebih baik aksi, daripada nasi.

      Sebaliknya kesombongan US sendiri, sebenarnya bukan tidak berdasar;

      Sejak tahun 1945, mereka mempunyai industri military aviation terbesar, termodern, dan resource-nya pun paling banyak vs semua industri military aviation lain di seluruh dunia kalaupun digabungkan.

      Faktor memperkuat yang lain: US juga mempunyai jauh lebih banyak uang daripada semua negara lain digabung.

      Kesombongan semacam ini, akhirnya juga membawa kehancuran --- dan kehancuran disini sebenarnya sudah dimulai dari beberapa konsep yang terlihat di atas kertas kelihatan sangat memikat:
      ## Stealth
      ## 100% percaya kepada kemampuan BVR Combat
      ## Twin-Engine, atau biaya operasional mahal = pesawat tempur yang lebih hebat.

      Seperti kita sudah lihat dari contoh F-22, dan F-35:
      1. Stealth is a flawed concept.
      Kita akan membahas ini lebih mendetail di topik lain.
      ## Singkat cerita, setelah US merangkul stealth, seluruh dunia sekarang sudah berlomba-lomba untuk membuat tehnologi "passive sensors" agar dapat melihat pesawat stealth.
      ## Kedua, tentu saja; semua pespur Stealth sebenarnya tidak akan dapat menandingi pespur non-stealth: Lebih mahal, upgrade lebih sulit, pesawatnya akan selalu lebih berat, dan kemampuan kinematis-nya dikompromikan.

      Dengan kata lain --- Stealth, sama seperti konsep V/STOL, atau TVC -- sebenarnya mencoba membuat pesawat yang berhasil menentang semua hukum fisika = Tidak akan pernah bisa berhasil 100%.

      2. BVR Combat
      Ini adalah topik fokus yang berikutnya dalam blog ini.

      US sepertinya terlalu "menggampangkan" dan berpikir kalau semua konflik dapat dimenangkan 100% hanya dengan AESA radar + AMRAAM-D.

      Seperti contoh Stealth di atas, semua hukum fisika sebenarnya menentang konsep BVR combat dari awal -- dan karena itu, pespur yang baik seharusnya siap baik untuk BVR, WVR, ataupun close combat!

      3. Twin-Engine / Biaya operasional mahal = kemampuan tempur lebih unggul.
      Tidak ada kebohongan lain yang lebih bodoh daripada pemikiran semacam ini.

      Kunci keunggulan pesawat tempur secara individual, sebenarnya 100% tergantung kepada kemampuan pilot, dan tentu saja sistem pendukung yang baik.

      Pesawat yang berbiaya operasional mahal tentu saja berarti maintenance-nya lebih berat, dan kesiapan tempurnya lebih sedikit; dan dengan demikian akan selalu menghadiahkan jam terbang latihan yang lebih sedikit, dan dengan sendirinya akan selalu menurunkan kualitas training pilot --- tidak peduli mau sehebat apapun (F-22 dikenal sebagai hanggar Queen!).

      Dalam hal ini kesombongan disini = mencoba melawan hukum fisika yang lebih sederhana = mau sekaya apapun, mau sehebat apapun; tidak akan bisa menang!

      Delete
  3. Min, apakah Erieye bisa dipasang ke Boeing 737-800NG?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa, tetapi untuk apa?

      Selain biaya akuisisi / operasional menjadi lebih mahal, dari segi kemampuan, (berbeda dengan Wedgetail) Erieye sebenarnya tidak membutuhkan ukuran platform yang besar seperti Boeing 737.

      Erieye ditujukan dari awal untuk memberikan pengawasan territorial yang semaksimal mungkin, dengan biaya yang seekonomis mungkin agar menjadi "affordable" untuk kemampuan finansial militer Swedia, yang lebih terbatas dibanding negara-negara besar seperti US, UK, Perancis, Jerman, atau Ruski.

      Delete
  4. Mimin punya pendapat tidak tentang KRI Nagabanda?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kapal ini adalah versi modernisasi (yg dikembangkan sendiri oleh Korea) dari tipe U-209 buatan HDW Jerman, yang sebenarnya masih satu kelas yg sama dengan KRI Cakra, dan Nenggala.

      DSME Korea memang sudah mendapat ToT dari HDW, dan hak utk mengembangkan memproduksi/menjual sendiri.

      U-209 biar bagaimama adalah pilihan yg jauh lebih baik vs Kilo-class Ruski, yg reliabilitasnya belum tentu terjamin, dan lagi2 hanya akan menjadi barang "versi export".

      Sekarang kalau dari faktor resiko:
      DSME Korea sbnrnya baru digerebek auditor pmrnth Korea krn manipulasi finasial, dan skrg sedang dalam tahap restukturisasi dari ancaman kebangkrutan.

      Sejauh mana kesulitan DSME akan mempengaruhi proyek kapal selam TNI-AL?

      Kita belum tahu.

      Akhir ini banyak perusahaan Korea, terutama di sektor maritim, sedang terbelit terlalu banyak hutang, dan terancam bangkrut.

      IMHO, mungkin kontrak ini pada awalnya diberikan kembali ke HDW Jerman, dibanding DSME.

      ... dan lebih baik membeli DUA unit dari versi U-214, yg mempunyai sistem AIP yg membuatnya jauh lebih sulit utk dideteksi, daripada 3 kapal dari Improved Changbogo.

      Delete