Monday, September 26, 2016

Meluruskan beberapa miskonsepsi Sukhoi di Indonesia!

Sudah saatnya mempensiunkan Sukhoi yang MAHAL tapi Inferior,
dan menggantikannya dengan satu-satunya pesawat yang memenuhi
Kebutuhan Indonesia!
(Gambar: Saab
)
Gripen-NG 39-7 demo model with 2 IRIS-T, 2 MBDA Meteor, 2 drop tanks, & 2 Paveway bombs: 
Persenjataan yang jauh lebih modern dibanding RVV-AE versi Kommercheskiy!
Sudah saatnya menguraikan beberapa mitos, atau miskonsepsi yang mendukung Sukhoi di setiap formil Indonesia!


Miskonsepsi Pertama: Sukhoi Su-27/30 adalah "penyelamat" dari resiko embargo militer US!


Sejak tahun 2003, sampai sekarang, sebenarnya keadaan de-facto tidak pernah berubah. 99,99% dari semua pesawat tempur, angkut, dan helikopter yang dipergunakan militer Indonesia, mau dari AU, AL, dan AD, tetap saja menggunakan part buatan United States. Mau itu CN-235, C-295, C-212, C-130, hampir semua helikopter, pesawat latih T-50, Super Tucano, ataupun F-16, yang jumlahnya sekarang 3:1 dibanding Sukhoi, yang cepat rusak, semuanya akan tetap bergantung kepada spare part buatan US.

Kenyataannya, hampir semua pesawat yang diproduksi di dunia, akan tergantung kepada suatu part yang diproduksi di US. Alasannya sangat sederhana. Tidak hanya industri aviation / militer mereka terbesar di dunia, kualitas part produksi US juga mempunyai reputasi sangat reliable. Inilah kenapa bukan tanpa alasan, CN-235 produksi dalam negeri-pun memilih mesin CT-700 buatan General Electric.
Maju tak gentar di masa Embargo US (1999 - 2005):
Walau kesulitan spare part, & harus kanibalisme dari unit lain
para pahlawan TNI-AU kita tetap berhasil mengoperasikan F-16

(Gambar: Acig.org)
Sebaliknya, sejak tahun 1915 sampai sekarang, Russia tidak pernah dikenal mempunyai kemampuan produksi untuk spare part, ataupun pesawat yang faktor reliabilitasnya sebanding dengan kualitas Barat.

Seperti sudah sering dibahas disini, keluarga Sukhoi Flemon sudah dikenal sangat haus maintenance, dan mempunyai airframe yang berumur pendek. Setiap spare part tidak pernah diproduksi untuk tahan untuk operasional lebih dari beberapa ratus jam. Mesin AL-31F tidak dirancang untuk bisa tahan operasional 1,000 jam, padahal mesin Eurojet EJ200, PW F100, atau GE F110 / F404 / F414 semuanya sudah dirancang dari awal agar dapat beroperasi selama umur airframe pesawat. Bicara soal airframe, Su-27/30 Kommercheskiy Indonesia, hanya akan tahan 3,000 – 4,000 jam, atau kurang dari 20 tahun, sementara F-16, menurut hasil tes Lockheed-Martin, dapat terbang 25,000 jam terbang, atau hampir 92 tahun operasional!

Masa di masa sekarang, masih ada yang bisa ketakutan akan “embargo”? Sudah tidak ada alasan untuk satupun negara Barat yang mau bermain dengan kartu ”E” ke Indonesia, yang sudah demokratis, dan pecinta damai; tidak seperti si you-know-who, yang hobinya mencaplok territorial negara lain. 

Seharusnya kita justru lebih takut dengan seberapa mahalnya, dan seberapa lamanya “perbaikan yang mendalam” yang terjadi semakin reguler! Mau seberapa lama, dan seberapa besar keuangan rakyat hanya akan diperas oleh para perantara, dan seberapa cepat Sukhoi akan masuk liang kubur!
Tanpa perlu embargo, hanya perlu 10 tahun, 
sebelum rongsokan Kommercheskiy butuh "perbaikan mendalam"

(Gambar: TNI-AU)

Versi downgrade, cepat rusak, senang MUDIKumur pendek, dan kesayangan pada perantara!


Miskonsepsi Kedua: "NKRI harga mati!" 
Indonesia "membutuhkan" Sukhoi Su-35 Super Flemon!


Pernyataan semacam ini sebenarnya melihat ke arah yang salah.
  • Sekali lagi, sejak dimulainya perang Dingin dari tahun 1945, sampai sekarang, baik US, maupun Soviet, dan kemudian Russia, hanya pernah menjual pesawat tempur export version, atau kommercheskiy, alias model downgrade dari spesifikasi yang dipakai di negaranya sendiri.
  • Para pendukung pesawat versi export: silahkan berdoa sekhusuk mungkin! Kedua negara adidaya ini tidak akan pernah menawarkan Transfer-of-Technology, dan dengan demikian kedua produk negara adidaya ini tidak akan pernah mau memenuhi persyaratan UU no.16/2012, yang menggariskan kebutuhan untuk membangun industri pertahanan dalam negeri.
Khusus untuk yang mendukung: "Sukhoi harga mati", jangan pernah melupakan beberapa faktor pemberat lain:
  • Gajah tidak pernah lupa! Moscow juga tidak akan pernah melupakan, kalau di masa lalu, Indonesia juga sudah berjasa untuk menghibahkan 13 MiG-21 ke United States. 
  • POLITIK: Indonesia sangat ANTI-KOMUNIS!  Komunisme tidak mempunyai tempat di negara yang berdasarkan Pancasila. Sayangnya, walaupun komunisme sudah runtuh, orang Russia sendiri tetap menganggap komunisme sebagai faktor yang positif. Seperti diatas, apakah mereka juga sudah memaafkan kalau Indonesia pernah membubarkan partai komunis terbesar di luar Uni Soviet, dan PRC?
  • Kalau masih belum cukup, sepanjang sejarah, hingga masa kini, Indonesia menjalin hubungan yang sangat akrab dengan US, Australia, Jepang, Eropa Barat, negara-negara ASEAN, dan Timur Tengah; yang rata-rata juga lebih pro-US. 
Inilah kenapa, dalam benak pikiran Moscow, resiko bocornya rahasia Sukhoi, apalagi yang top model seperti Su-35, untuk jatuh ke tangan Lockheed-Martin, dan Washington DC sangat besar! Karena itu versi kommercheskiy untuk Indonesia, tentu saja HARUS di-downgrade habis-habisan.

Model downgrade, dan tanpa transfer-of-technology! 

Loh, lantas bagaimana caranya bisa menjunjung kedaulatan negara?

Untuk Sukhoi, kebutuhan mutlaknya justru harus berurusan dengan si agen perantara resmi dari pemerintah Ruski: Rosoboronexport, yang menuntut komisi, akan menunjuk perantara lokal, dan reputasinya sendiri sudah mendunia untuk memberikan pelayanan after-sales service yang jelek.

Silahkan tanyakan saja kepada orang-orang India, yang jauh lebih berpengalaman dari Indonesia, untuk berurusan dengan Rosoboronexport.

Mulai dari laporan mereka dari tahun 2011:
AviationWeek, 4-Apr-2011:
India upset with Russian Military spare part supply
Sampai 2016 sekalipun, tetap saja tidak berubah, atau mungkin malah bertambah kacau:
Link: Indian Express, 8-Agustus-2016

Inilah kenapa pernyataan seperti diatas, seharusnya diralat:

Komisi perantara harga mati! Kalau masih mau "ngidam" Su-35, dan terus mengoperasikan Sukhoi!”

”Sukhoi harga mati! Kami mendukung sepenuh hati keterlibatan para perantara untuk menghabiskan uang negara!”

Daripada terus-menerus membayar terlalu banyak uang ke para perantara, lebih baik belajar untuk mendukung pilihan, yang lebih dapat melatih kemampuan, sekaligus memperhatikan kesejahteraan pilot, dan menjadi dasar untuk pembangunan industri pertahanan dalam negeri yang lebih kompetitif.


Miskonsepsi Ketiga: Bukankah semua analisa Barat selalu takut dengan "efek gentar" Su-35?  

Kalau masih percaya, berarti pembaca sudah tertipu oleh permainan jurnalisme di Barat!

Media Barat, tidak seperti media berita Indonesia, mempunyai kebiasaan untuk selalu mengkritik sistem pertahanan mereka. Beberapa kritik ini memang tepat, semisal F-35 memang pesawat tempur yang hampir tidak berguna, kecuali untuk menghabiskan uang. 

Nah, kalau sudah sampai di post-script, atau beberapa paragraf penutup dari analisis kritis di Barat, ada kecenderungan untuk sengaja menambahkan perbandingan dengan Su-35, J-20, J-31, atau sebut saja semua model produksi Ruski, atau China disini!

Lihat contoh analisis F-35 Lemon II  seperti disini; J-31 PRC tentu digambarkan sangat baik, walaupun prototype-nya sendiri sebenarnya  kelihatan sangat bermasalah dalam atraksi perdananya. 

AINonline, 17-Nov-2014:
Pesawat hasil nyontek, tentu saja hasilnya jelek!
Seperti bisa dilihat, sebagian dari "efek gentar" Su-35 sebenarnya hanya karena jurnalisme Barat "mau main gampang”, tanpa pernah mau mengerjakan PR secara mendalam, seberapa hebatnya tipe yang mereka sebut.




Loh, bukankah PAK-FA, Su-35S, Su-30MKI/SM atraksi udaranya "begitu kerennnn……" dalam setiap airshow? Pesawat tempur Barat kan terbukti tidak bisa menandingi? 

Silahkan melihat Saab J-35 Draken melakukan cobra manuever di tahun 1960, tanpa perlu fly-by-wire system, seperti Sukhoi Flemon:

Everyone can do the cobra!

Atau mau melihat F-16 MATV / VISTA concept di tahun 1997, yang dapat berputar-putar begitu luwes, karena menggunakan Thrust-Vector-Control?

F-16 yang bisa terbang mundur! Wow!

Yah, apapun yang bisa dilakukan Sukhoi Flemon, sebenarnya pesawat-pesawat buatan Barat sudah bisa melakukan hal yang sama…. tapi mereka memilih untuk tidak memasang fitur TVC yang memukau penonton, karena tidak akan bisa relevan dalam pertempuran udara dalam dunia nyata.

Daripada men-quote kiri-kanan seperti sebelumnya, saatnya untuk kembali ke analogi pesawat terbang kertas, yang lebih mudah dimengerti.

Sekarang cobalah melipat sendiri pesawat terbang dari kertas, dan lemparkanlah! Lihat apa yang terjadi? Pesawat kertas terbang dengan indahnya, bukan?

Ketika kita melempar, kita menciptakan apa yang namanya Forward Thrust. Kecepatan melaju kedepan ini, menciptakan daya Lift di sayap si kertas. Kombinasi antara Thrust dan Lift melampaui berat, dan drag si kertas, makanya dia bisa terbang.

Hukum Fisika pesawat terbang: Tidak bisa dilawan!
Sekarang mari melakukan percobaan! Coba lemparkan pesawat kertas itu dengan mengeyamping, atau... ke arah atas! Apa yang terjadi sekarang?

Si kertas akan jatuh ke bawah, bukan?

Karena si kertas tidak mendapat Forward Thrust, maka tidak akan ada Lift dari sayap kertas, dan karena itu dia akan jatuh ke bawah.

Selamat! Anda baru saja sukses melakukan percobaan dari apa yang disebut Thrust-Vectoring dalam dunia penerbangan. Bisa melihat sendiri hasilnya, bukan?

Thrust-Vectoring yang mengubah arah dorong mesin pesawat, akan membuat pesawat menjadi tidak berdaya, sampai dia bisa mendapat kembali Forward Thrust-nya, dan kemudian mendapat Lift dari sayap.

Tidak ada sasaran yang lebih empuk dalam pertempuran udara, daripada pesawat tempur yang kehilangan kecepatan, dan menjadi bebek tak berdaya. Ini hanya akan menjadikannya makanan untuk WVR missile modern di kelas AIM-9X Block-II, IRIS-T, Phyton-5, atau A-Darter.

Pilot PAK-FA, Su-35, atau Su-30SM yang mencoba bermain TVC dalam konflik yang sesungguhnya hanya akan dihabisi F-16 Block-50+/-52+, pesawat tempur yang jauh lebih modern, pilotnya jauh lebih terlatih, dan persenjataannya jauh lebih baik. Sukhoi manapun hanya akan menambah koleksi gambar Kill marking dibawah cockpit F-16.





.... Tapi.... tapi, tapi, tapi... menurut Suhu Ausairpower....? 


Semua material re Sukhoi dalam website ini delusional, dan tidak pernah sesuai dengan realita keterbatasan Sukhoi Flemon yang sebenarnya.
Untuk dapat mengalahkan F-18F Australia, misalnya, seperti dalam skenario fantasy Ausairpower ini, pilot Sukhoi Su-35 / Su-30SM digambarkan sudah memiliki kemampuan training yang sebanding dengan pilot NATO, tehnologi yang sebanding dengan F-18F, dan persenjataan yang kompetitif. 

Kenyataannya justru sebaliknya.

Seperti sudah dibahas disini, tidak hanya kualitas training pilot Australia termasuk yang terbaik di Asia, F-18F adalah pesawat tempur yang jauh lebih modern, dengan advanced flight control yang lebih mudah dikuasai pilot, situational awareness yang jauh lebih tinggi, kemampuan Networking yang lebih handal, dan persenjataan / perlengkapan yang jauh lebih modern daripada Sukhoi manapun, apalagi versi Kommercheskiy downgrade yang hanya tersedia untuk export, tetapi entah kenapa, masih di-idamkan oleh beberapa kalangan.

How BVR Combat betwen F-18F and Su-35SK will play out:
Australian Super Hornets will easily trash any Sukhoi Kommercheskiy,
with better training, superior techniques, more advanced sensor suites, and weapons


Sedangkan pilot Sukhoi Su-35 Kommercheskiy Indonesia, berkat biaya operasional / komisi perantara yang tinggi, dan kesulitan maintenance akibat "jasa" aftersales service Rosoboronexport, sudah pasti akan kurang training. Belum cukup disana, kalau Sukhoi versi lokalnya saja sudah ketinggalan jaman 30 tahun; versi Kommercheskiy masih akan di-downgrade lebih jauh, dan hanya bisa dipersenjatai dengan missile export versi lemon pula. 

Cilaka dah! 

Kalau mau memilih pesawat tempur untuk masa depan pertahanan Indonesia, mbok ya, mengambil pilihan yang terbaik, dan jauh lebih modern! Pesawat yang bukan versi export, dan kemampuannya jauh lebih unggul.

Lebih lanjut: mempersenjatai Sukhoi dengan 10, sampai 12 missile? Ini suatu lelucon yang sangat lucu! Untungnya, Russia sendiri tidak sebodoh itu. Mereka masih bisa melihat kenyataan, dan mempersenjatai semua Sukhoi dengan cukup 6 missile saja.
....seperti biasa, hanya dengan 2 R-73, dan 4 R-27 (AA-10 Alamo), 
missile tercinta buatan Ukraine!!
(RAF Photo, via Wikimedia)
Kalau masih mencoba mengambil referensi ”kehebatan” Sukhoi Flemon, hanya berdasarkan material dari Ausairpower, sudah saatnya men-delete bookmark ini, dan mencari bahan referensi dari banyak sumber lain yang jauh lebih obyektif.




Penutup: Mempensiunkan Su-27/30, akan mulai me-MERDEKA-kan kita!


Memang sudah saatnya menghentikan praktek armada gado-gado, dan memotong .... the weakest link dalam pertahanan Indonesia.

Berikut pernyataan seorang awam yang tidak tahu apa-apa mengenai militer, ketika diajak membicarakan Sukhoi:

"Wah! Kalau biaya operasional Sukhoi begitu mahal, jam latihan terbang pilot sudah pasti kurang, dong?"

Yah, memang benar. Sukhoi adalah pesawat tempur, yang sudah tidak becus menjaga wilayah udara Nasional, hanya akan terus-menerus merongrong keuangan rakyat!

Kenyataannya untuk sementara waktu, F-16 Block-25+, walaupun hanya salah satu pesawat tempur versi export yang lain, sudah dapat melakukan tugas apapun yang dapat dilakukan Sukhoi dengan biaya operasional yang jauh lebih murah, persenjataan / perlengkapan yang jauh lebih modern, dan kebutuhan maintenance yang jauh lebih ringan.

Penghematan dari pemerasan biaya operasional Sukhoi, dan komisi perantara, dengan sendirinya dapat dialihkan ke investasi yang lebih bernilai, seperti membeli lebih banyak missile, agar bisa... menembak jatuh pesawat lawan, kemudian mencoba menjajaki produksi sistem pertahanan Nasional yang modern, dan terintegrasi..... dan untuk menabung pembelian sekurangnya 2 skuadron Gripen-E di tahun 2020-an; satu-satunya tipe pesawat yang akan bisa memenuhi semua kebutuhan Indonesia, kemampuan tempurnya jauh lebih terjamin, dan juga didukung oleh komitmen produsennya untuk turut menyokong pembangunan industri pertahanan dalam negeri, melalui konsep "Triple Helix".

Kalau di masa depan masih mau senang Alutsista gado-gado, pembelian Gripen-E, akan dapat mengalihkan hobi ini ke tempat yang lebih baik:
Gambar: Saab
Seleksi pembelian persenjataan. 

Yah, memang tidak kedengaran se-bonafit seperti membicarakan pembelian pesawat tempur. Tetapi, seperti dalam keadaan sekarang, untuk apa terus-menerus membeli pesawat tempur, tetapi sungkan untuk membeli missile? 

Pesawat tempur manapun, tidak akan bisa ada efek gentarnya tanpa dipersenjatai dengan missile yang kemampuannya bersaing. Sukhoi justru paling parah, karena kemampuan kill missilenya seperti diatas, akan sangat lemot.

Dan tidak ada pesawat yang efek gentarnya lebih mengerikan dibanding pesawat yang memberikan.... KEBEBASAN untuk memilih senjata dari supplier manapun!

Yah, tidak seperti Sukhoi, yang sedari awal sudah dikutuki nasib untuk hanya bisa memakai missile versi export, Saab Gripen-E, yang sudah biaya operasionalnya murah, dan kemampuan Networking-nya lebih lebih unggul, juga mempunyai kemampuan untuk membawa cocktail persenjataan yang mematikan, yang akan kesulitan ditandingi negara manapun.
  • 2 x AIM-9X Block II or A-Darter - jarak jangkau 20 kilometer, dan probability Kill paling tinggi dibanding semua missile lain.
  • 2 x ASRAAM -- jarak jangkau 50 kilometer, dan menggunakan IR-seeker agar lebih sulit dihindari lawan
  • 3 x MBDA Meteor BVRAAM -- yang jarak jangkaunya jauh melebihi AMRAAM-D, dan probability-Kill-nya jauh lebih tinggi.
Lihat, untuk cocktail di atas, pembelian Missile dapat dilakukan dari tiga, atau empat sumber yang berbeda, bukan? Silahkan saja coba menyulitkan delivery, seperti... ehm... Rosoboron... ehm! Inilah salah satu faktor kenapa Gripen, justru akan menjadi pesawat yang paling anti-embargo, atau masalah kesulitan supply ala Rosoboron.

Mari memperhatikan daftar pesawat tempur negara-negara tetangga, yang kemampuannya serius (Malaysia tidak termasuk!):
  • F-18A Australia, bisa membawa AMRAAM, ASRAAM, dan AIM-9X, tetapi tidak diperlengkapi dengan AESA radar, dan Sensor Fusion seperti Gripen.
  • F-18F Australia, F-15SG, dan F-16V Singapore akan membawa AESA radar, tetapi belum mencapai tehnologi Sensor Fusion, dan hanya terikat untuk mengoperasikan AIM-9X, dan AMRAAM. 
  • F-35..... pesawat stealth lemon lain yang menyedihkan, hanya bisa membawa 4 x AMRAAM, dan tidak akan bisa berkelahi dalam jarak dekat.
  • Su-35, dan J-10 PLA-AF akan diperlengkapi dengan PL-10, dan PL-15 unproven missile buatan PRC, yang kemampuannya mungkin lebih unggul dibanding RVV-AE, berkat ilmu nyontek, tetapi belum bisa menandingi AMRAAM-D.
Dengan dukungan sistem yang baik; industri pertahananan yang lebih mandiri, National Networking System, dan sokongan dari Erieye AEW&C; Gripen-Indonesia + Missile cocktail versi Indonesia, tidak akan ada bandingannya di seluruh Asia Tenggara.
Dalam presentasinya saja, Gripen 39-8 sudah bersenjata lebih lengkap dari seluruh TNI-AU!

Penghematan dari biaya operasional Sukhoi bisa dialihkan
untuk membeli lebih banyak missile kelas satu buatan Barat!
(Gambar: Saab)







30 comments:

  1. menurut saya militer barat menganggap TVC 100% useless tidak benar bung buktinya fitur TVC dipasang pada pespur mereka yg paling mahal f-22

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung @Leon,

      Bukan berarti TVC "useless", tetapi "tidak relevan" dalam pertempuran jarak dekat.

      F-22 memang mempunyai TVC, tetapi tidak seperti Sukhoi, fitur ini tidak diperuntukkan dalam pertempuran jarak dekat, melainkan untuk mengubah arah saat terbang stealth.

      Ingat: F-22, tidak seperti F-35, mempunyai all-aspect-stealth design dari awal, dengan RCS kurang dari sepersepuluhnya F-35. Dengan kata lain, F-22 adalah stealth freak.

      F-22 yang mencoba mengubah arah dengan mengggerakan aileron akan lebih mengkompromikan RCS, dibanding dengan mempergunakan TVC.

      Dalam latihan; pilot F-22, yang mengetahui fitur itu ada, menjadi merasa "gatal", dan mencoba menjajalnya dalam pertempuran jarak dekat.

      Akibatnya: Pilot2 F-22 harus membayar mahal, karena menjadikannya mangsa empuk dalam pertempuran jarak dekat melawan pesawat2 Energy Fighter Traditional yang non-TVC, seperti Typhoon, Rafale, F-15, dan F-16.

      Kutipan dari interview dngn pilot Typhoon di Aviationweek (Link ada di artikel sebelumnya re Su-35):
      ==============================
      "Raptor has Thrust Vectoring. Typhoon doesn't. What the (F-22) can do, it's amazing! Typhoon just don't do that!"
      ==============================

      Pernyataan selanjutnya lebih penting lagi:
      ==============================
      ... Thrust Vectoring will transform in few seconds an Energy fighter, into a piece of metal literally falling out of the sky, making it an easy prey for (non-TVC) fighters that conserve their Energy..
      ==============================

      Dalam pertempuran jarak dekat dewasa ini, semua WVR missile generasi terbaru di kelas AIM-9X, Phyton-5, dan IRIS-T, juga sudah mempunyai kemampuan High Offboresight -- atau kemampuan untuk men-lock target mengikuti arah pandangan Helmet-Mounted-Display pilot.

      Probability Kill untuk missile IR-seeker, bahkan sebelum era HOBS / LOAL, sudah mencapai 60% -- alias jauh lebih mematikan dibanding BVR missile dengan Active Radar, atau favorit Ruski: Semi-Active Homing.

      (Ini walaupun kebanyakan korban IR missile juga hanyalah "third grade" MiG-21, dan MiG-23 versi export)

      Disinilah kenapa keunggulan TVC, sama seperti keunggulan Stealth, akan lebih cepat kadaluarsa.

      Kemampuan untuk mengubah arah moncong pesawat, agar menghadap musuh, menjadi tidak relevan. Wong, missile bisa ditembakkan mengikuti arah pandang pilot!

      Pilot yang lebih terlatih, dan lebih berpengalaman, akan menempatkan pesawatnya di posisi yang paling se-strategis mungkin untuk dapat mendapatkan lock. Pesawat lawan yang melakukan TVC, dan kehilangan kecepatan, hanya memberikannya target yang mudah untuk ditembak.

      Delete
    2. Untuk Sukhoi:

      Ruski sendiri merasa benar2 yakin, kalau mereka sudah menemukan "eureka factor" untuk dapat mengalahkan pesawat2 tempur Barat.
      Dan tanpa disengaja, TVC dapat merangkap sebagai fitur "Marketing gimmick" untuk Sukhoi.

      Di tahun 1990-an, kita bisa melihat bagaimana India, dan Malaysia menjadi "korban iklan", dan merasa Su-30MKI/MKM akan lebih unggul dalam pertempuran jarak dekat.

      Kenyataannya tidak demikian: Mencoba melawan hukum fisika pesawat terbang, hanya akan selalu menimbulkan kekalahan!.

      Pilot2 India sudah membayar mahal ketika MKI mereka dihabisi dalam latihan Red Flag, atau dalam latihan bilateral dengan Eurofighter Typhoon RAF. Tidak ada satupun pilot Barat yg pernah menyegani kemampuan MKI.

      IMHO, tidak seperti pilot F-22 yang sekarang sudah menelan pil pahit, belum pernah ada satupun pilot Ruski yang mengerti kalau fitur TVC yang "hebat" ini sebenarnya adalah kelemahan utama semua Sukhoi mereka.

      Inilah akibat negatif dari KUPER. Kurang Pergaulan.

      Ruski tidak pernah mengetes pesawat tempur mereka untuk latihan udara secara intensif, seperti halnya prosedur latihan mancanegara di negara2 Barat, yang bisa terjadi setiap beberapa bulan.
      Ini perpaduan karena tipis modal di tahun 1990-an, pesawat tempur biaya op-nya terlalu mahal, dan sekarang..... (berkat Crimea) tidak ada yang mau berteman dengan Ruski.

      Sebaliknya, berkat F-22, dan Sukhoi MKI, semua... sekali lagi SEMUA pilot pesawat tempur Barat sudah siap untuk menghadapi pilot Sukhoi nakal manapun yang mencoba menjajal TVC di depan mereka!

      Untuk negara2 Barat, pentingnya latihan mancanegara adalah:
      ## Kesempatan untuk mengetes kekuatan, dan kelemahan masing2, dan lebih memahami kemampuan sendiri.
      ## Kesempatan untuk mendapat feedback, baik positif, maupun negatif dari negara lain, untuk semakin memajukan prosedur / sistem pertahanan masing2.
      ## Kesempatan untuk juga memperhatikan / mempelajari sistem / prosedur negara lain / pespur tipe lain
      ## Mau mengetes satu fitur baru? Bawa ke Red Flag, dan diadu saja dengan F-22 kalau perlu!

      Ruski, (dan PRC) tidak pernah mendapatkan keuntungan ini, dan secara politik, sepertinya mereka juga segan, karena tidak akan mau kelihatan "kalah" dari pilot2 Angkatan Udara negara lain.

      .... makanya mereka juga masih hobby memakai R-27 yang juga sudah ketinggalan jaman. Tidak pernah benar2 ada insentif untuk mereka melakukan investasi yg lebih mendalam untuk BVR combat, atau untuk mengetes R-77, yang di atas kertas, seharusnya lebih modern dari R-27.

      Proyek K-77ME, atau versi ramjet dari R-77? Lupakan saja!

      Meragukan kalau mereka bahkan masih punya cukup modal untuk membiayai proyek ini, atau kemudian mengetesnya secara intensif untuk menandingi MBDA Meteor.

      Delete
  2. Setelah negosiasi hampir 3 tahun, India baru saja menutup kontrak untuk 36 unit Dassault Rafale senilai $8,8 milyar.

    Apa yang kita bisa pelajari dari pengalaman India re akuisisi pespur?

    Sama seperti kontrak Kuwait untuk Eurofighter,
    ini akan menjadi bahan topik / diskusi yg menarik utk lain kali.

    ReplyDelete
  3. bung GI bagaimana perbandingan SU-35 dgn pespur Ruski lainnya MIG-35 mana yg lebih canggih ataukah sama saja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Secara umum, semua kelemahan pesawat buatan Ruski sama saja:
      ====================================================
      ## Baik pesawat, atau persenjataan hanya tersedia versi "kommercheskiy", alias versi downgrade.
      ## Pesawat / Persenjataan yang versi Russia-nya sendiri sudah ketinggalan jaman 20 - 30 tahun, dibanding Teen fighters US, apalagi Eurocanards yg skrg lebih rajin di-upgrade.
      ## Faktor reliabilitas terjamin kacau, availability rate rendah, dan umur airframe pendek -- krn Russia belum ada pengalaman / menunjukkan kemampuan untuk bisa membuat pespur, atau spare part yg tahan lama.
      ## Tentu saja, semua negara pembeli harus berurusan dengan Rosoboronexport, dan membayar komisi utk setiap transaksi; mulai dari pembelian, perawatan, & spare part.
      ## Harga pesawat biasanya lebih murah dari tipe Barat, tetapi biaya operasional terjamin 3 - 4x lipat lebih mahal.

      Perbedaan antara MiG-35, dan Su-35:
      ==============================
      ## MiG pesawatnya belum siap sampai 2018, dan sejauh ini belum ada pembeli, karena kalah bersaing dengan 2 pabrik Sukhoi, yg juga saling bersaing sendiri ; KNAAPO, dan Irkut.

      ## MiG sudah memasang Phozatron AESA radar, sedang Sukhoi (termasuk PAK-FA) masih memakai radar single-frequency PESA; tetapi seperti semua produk Ruski lain, kualitasnya sangat meragukan.

      AESA radar sbnrnya kemampuannya 90% tergantung programming code, dan integrasi ke pesawat; sisanya masalah Electronic precision Engineering.
      Produk buatan Barat skrg sudah memasuki generasi ketiga, dan sedang bersiap menjajaki generasi keempat dgn material GaN, untuk menambah kemampuan 30% - 40% lagi. Mereka juga sedang menjajaki kemungkinan memakai transmitter AESA sebagai "networking terminal", yang dapat men-transfer data jauh lebih cepat dari Link-16 Terminal.

      Ruski sudah tertinggal terlalu jauh dalam "learning curve" ini, dan mustahil mereka akan bisa mengejar, apalagi skrg mereka sudah di-embargo dari segala arah!

      ## Tidak seperti Sukhoi, MiG kabarnya akan memakai MIL-STD1533 standard untuk memudahkan upgrade di masa depan, seperti pespur Barat.
      Tetapi kembali.... Ruski tidak punya pengalaman untuk membuat pespur yg mudah utk di-upgrade, jadi hasilnya tidak akan terlalu bisa diharapkan!

      Bahkan US saja yg sudah berpengalaman segudang, ternyata menabrak tembok utk mencoba meng-upgrade F-22, dan F-35.

      Dalam hal ini, hanya Saab yg berhasil menerapkan konsep fleksibilitas yang jauh lebih tinggi, dibanding semua pemain tradisional yg lain. Mereka sudah merencanakan kalau di masa depan, kemampuan processing untuk 40 komputer di Gripen-E; processing speed-nya siap untuk bisa di-upgrade ke versi yg beberapa ratus kali lebih cepat lagi dari sekarang.

      Sementara F-22, pesawat favorit Ausairpower, masih mengandalkan processor 25MHz....

      ## Mnrt research dari para pilot NATO, yang sudah mengetes versi MiG-29A, dan Su-27S tshun 1980-an, dari segi platform, MiG-29 sebenarnya jauh lebih manueverable dibanding Sukhoi.

      Dengan T/W ratio lebih tinggi, dan Wing-Loading lebih rendah, kemampuan kinematis MiG-29 sebenarnya hampir seimbang dengan F-16 dngn mesin GE, dan melebihi pesawat raksasa di kelas F-15.

      Delete
  4. Kita mengenal mig 21 sebagai pesawat temput rusia yg paling mudah dalam perawatan, itu karna singgle enggine.

    China ama pakistan juga bisa buat jf 17 ( dibantu designer mig )
    Kenapa indonesia tidak bisa seperti itu.

    Indonesia selalu dapat barang downgrade / komersil. Sebagai negara non blok dan hanya mempunyai alutsista kelas 3, apa daya SDA kita kurang mampu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Matt,

      Sebenarnya MiG-21 adalah pespur terbaik yg pernah dibuat Soviet / Ruski. Tidak masalah kalau part-nya tidak dibuat untuk tahan lama, karena desainnya sederhana. Banyak negara yg masih mengoperasikan MiG-21 skrg mulai memproduksi spare part dengan memakai 3D printing.

      IMHO, adalah kesalahan waktu itu Soviet tidak permah membuat pesawat single-engine sederhana utk menggantikan MiG-21; pesawat yg sudah terbukti paling menyulitkan USAF dalam perang Vietnam; eh,..... malah membuat Su-27, dan MiG-29 twin-engine, yg dengan sendirinya kebuuhan maintenance-nya jauh lebih merongrong, hanya utk "mengimbangi" US.

      ===========
      ## Ide membuat pesawat tempur sendiri...
      ===========
      Mau desain single-engine yg lebih sederhana (LCA Tejas, JF-17, atau Mitsubishi F-2), atau desain twin-engine yg lebih mahal, lebih rumit, maintenancenya lebih berat, namun kemampuan kinematis yg relatif akan lebih jelek vs simgle-engine (KF-X), ide seperti ini kelihatan bagus dalam mimpi, tetapi sudah tidak sesuai dengan realita pasar pesawat tempur dewasa ini.

      ## Barrier of Entry
      Desain pespur sudah menjadi begitu complex, kenutuhan resource sudah terlalu demanding, segala macam tehnologinya juga sudah melompat terlalu jauh; semua pemain baru tidak akan dapat mengejar "learning curve" yg sudah dilampaui para pemain lama untuk mulai dari NOL.

      ## Very mature market
      Tidak seperti di tahun 1950-an, dimana banyak Angkatan Udara bisa mengoperasikan ribuan pesawat; Pasar pesawat tempur dunia sudah menyempit, dan akan terus menyempit , seiring dengan harga pesawat yg juga cenderung semakin mahal.

      Belum cukup disana, para produsen lama, terutama Boeing, Lockheed, Dassault, BAe, dan Sukhoi sudah mempunyai "established market". Biasanya, negara pembeli akan cenderung untuk terus membeli dari supplier yg sama, terus-menerus.
      Saab saja masih tergolong pemain baru untuk mencoba "merebut market", tetapi dari segi pengalaman / kemampuan/tehnologi, mereka tergolong sebagai salah satu produsen lama.

      Kalaupun ada kemampuan utk melewati "barrier of entry" seperti di atas, pemain baru akan harus berhadapan dengan realita kalau produksi pesawat mereka pasti akan sedikit, karena tidak akan ada pembeli selain mereka sendiri!

      Dan, karena sudah nasib produksi akan sedikit, sudah pasti HARGA akan menjadi mahal.

      Kalau belum cukup parah, akan sangat sulit utk bersaing dngn kemampuan / tehnologi F-16V, dan Gripen-E di pasar single-engine; ataupun utk bisa menandingi F-18E/F, F-15E, Rafale, Typhoon, dan F-35 (harganya akan sama dngn F-15) di pasar yg menginginkan twin-engine.

      Inilah kenapa ide "membuat pesawat tempur sendiri" sekali lagi, adalah seperti upaya untuk memindahkan gunung.
      Bukan cuma sulit, tapi hampir mustahil; dan hasil akhirnyapun, kalau kesampaian, hanya akan ada 2 kemungkinan:
      Terlalu mahal, tetapi kemampuannya tidak akan dapat bersaing dngn standard F-16,

      ATAU....

      Pesawat yg harganya terjangkau, tetapi memang kemampuannya super inferior, seperti JF-17.

      Yah, JF-17 secara tehnis desain base airframe-nya saja masih berbasiskan MiG-21 tahun 1950-an, dengan mesin MiG-29, yang bisa mengeluarkan asap (membuatnya gampang terlihat dalam pertempuran udara), dan tentu saja secara tehnis, tidak akan dapat menandingi tehnologi pesawat tempur ringan FA-50, yang sudah disengaja dari awal untuk satu-dua tingkat dibawah F-16.

      Delete
  5. Bung Matt,

    Re: Kenapa kita hanya mendapat Alutsista "versi export" kelas-3?
    ============================================

    Ini bukan masalah SDA, ataupun kurang upaya, tetapi politik.

    Sebenarnya solusinya sangat mudah:
    Seharusnya kita tidak boleh lagi membeli Alutsista dari US ( Korea juga sama saja), dan Russia, tetapi saatnya berpaling ke Eropa, dan dengan demikian bisa memenuhi UU no.16/2012, untuk pembangunan industri dalam negeri.

    Kenyataannya di masa lalu, beberapa generasi pemerintah Indonesia sudah berulang kali menimbun "dosa yang tidak bisa diampuni", baik secara politik, dan strategis terhadap Washington, dan Moscow.

    Ditahun 1960-an terutama, US tidak akan melupakan masalah "Konfrontasi Malaysia", dan bagaimana waktu itu kita bermain mata dngn Moscow, re Alutsista. Kesimpulan yg mereka ambil dari sini: kita tidak bisa dipercaya dengan Alutsista kelas satu, seperti Australia, kemudian Singapore.

    Pembelian Sukhoi di thn 2003, sebenarnya juga dimulai dari kesalahan US yang memberlakukan embargo terlalu lama, tetapi ini sudah cukup untuk kembali mengingatkan mereka, kalau kita tidak bisa cukup dipercaya... terciptalah F-16 Block-25+, yg kemampuannya.... yah, jauh dibawah Block-52 beneran, seperti dioperasikan Singapore, atau Korea.

    Sebaliknya, Ruski sendiri tidak akan terlalu antusias untuk menjual perlengkapan mereka yg terbaik.
    Untuk apa? Toh, lihat seperti diatas, kita juga sudah berhutang dosa menghibahkan MiG-21, dan kabarnya juga beraneka ragam jenis missile, radar, dan SA-2 ke United States di tahun 1969-1970. Berapa resikonya kejadian yg sama bisa terulang?

    Su-35? Kemungkinan dikutak-katiknya terlalu banyak. Bisa thrust-vectoring, tapi mungkin 40% komponen / subsystem-nya dari Su-27SKM.

    Kalau masih belum cukup, kita juga tidak pernah mencoba persahabatan secara strategis militer dengan US (kemungkinannya jauh lebih besar), ataupun Ruski; dan dengan demikian kita juga akan selalu diperlakukan sebagai "orang luar".

    Sebaliknya, Eropa, secara politik lebih netral / memaafkan, dan tidak terus2an mengambil pusing dengan hutang2 masa lalu, seperti US, dan Ruski.
    produsen Eropa tidak membeda2kan antara versi export, dan versi lokal.
    Yang penting barang terjual, dan mereka menguasai market Indonesia.

    UK, misalnya, walaupun sebenarnya adalah pihak yg berada diposisi terdepan dalam "konfrontasi" di masa lalu, akan mendukung upaya EADS Casa Spanyol, untuk menjual Eurofighter Typhoon Tranche-3B, dengan AESA radar, yg lebih modern dari milik mereka sendiri. Kan keuntungan untuk Eurofighter, berarti lebih banyak pekerjaan di pabrik BAe Systems.

    Untuk pemerintah di London, masalah demikian sudah tidak lagi relevan dewasa ini.
    Toh, kalaupun kita membeli Typhoon, tidak akan mungkin dipakai melawan mereka, bukan?

    Inilah kenapa, MBDA juga tidak akan segan untuk menjual Meteor BVRAAM ke Indonesia, kalau kita mau.

    US, dan Ruski, sebaliknya, dari dulu selalu takut rahasia mereka akan dibocorkan ke yang lain.
    Dan dalam hal ini, ya, Indonesia tergolong customer yang masuk kategori "riskan".

    Jadi tidak seperti di negara2 lain, membanding2kan kemampuan antara model-A, atau model-B tidak terlalu relevan di Indonesia, kalau salah satunya ternyata produksi US, atau Ruski.
    Kalau pembelinya Indonesia, barang tersebut pasti akan di-downgrade.

    Inilah kenapa Pertanyaannya seharusnya berubah menjadi:
    Produk Eropa manakah yang paling sesuai untuk memenuhi kebutuhan Indonesia?

    ReplyDelete
  6. untuk pespur mungkin boleh dikatakan hampir mustahil tapi bagaimana dengan alutista matra lain bung?
    saya lihat peluang kita memproduksi alutsista sendiri selain pespur cukup besar wong bikin kapal perang aja bisa masa tank dan rudal tidak bisa

    ReplyDelete
    Replies
    1. ===============
      Pesawat Tempur
      ===============
      Dari semua Alutsista, memang tehnologi pesawat tempur tidak hanya yang paling sukar untuk dikuasai, tetapi juga paling sensitif secara politik.

      Orang Eropa sebenarnya juga tidak akan sembarangan menawarkan ToT, kalau negara prospective client-nya "nakal".
      Hanya Perancis yang paling berani dalam hal ini, misalnya, masih mau menjual Rafale ke Mesir.
      IMHO, Saab tidak akan pernah menawarkan penjualan kesana.

      Untuk pesawat tempur, kita seharusnya lebih realistis, dan mengambil tawaran ToT Saab, kemudian mencoba menelusuri pengembangan2 yg kecil2an terlebih dahulu, misalnya yg sangat basic dahulu:

      "Bisa tidak membuat integrated defense Network antara Darat-Laut-Udara dari Sabang - Merauke?"

      Mengingat armada nelayan PRC di LCS, misalnya, sebenarnya seperti bertindak-tanduk seperti bajak laut, kita akan sangat membutuhkan kemampuan ini.

      Sebaliknya, mencoba memproduksi pesawat abal-abal bersama pemain yg masih bau kencur seperti Korea sih, seperti diatas, hasilnya sudah pasti akan jelek. Masih belum cukup parah, mereka masih mengiba ToT dari United States lagi, yah, tidak akan ada harapan mengemis ke negara yg sudah terkenal paling pelit.

      US tidak akan mungkin memilih kasih ke Korea, wong ke sohibnya Australia, dan UK saja mereka tetap cukup keras!

      ==============
      Untuk Alutsista Laut
      ==============
      Kita beruntung, karena kebutuhan US Navy adalah unik khusus untuk US Navy; "blue water fleet" yang mempunyai kemampuan menjelajah berbulan-bulan di tengah laut --- kebutuhan yg kurang realistis untuk kebanyakan AL lain.

      Artinya semua galangan kapal di US, cenderung hanya mempererbutkan kontrak kapal untuk USN saja, yang sendirinya sebenarnya lebih besar dari semua Angkatan Laut di dunia, kalau digabung menjadi satu sekalipun.

      ... jadi untuk kapal Fregat, Corvette, Patroli, atau kapal selam --- di luar US Navy, pasarnya memang sedari dahulu sudah didominasi orang2 Eropa.

      Ini dengan sendirinya memudahkan pemenuhan UU no.16/2012.

      =================
      Untuk Alutsista Darat
      =================
      Panser Anoa sudah menjadi awalan yang bagus dari PT Pindad untuk penjajakan awal, malah boleh dibilang Anoa sebenarnya lebih masuk akal untuk kebutuhan Indonesia, dibandingkan Leopard yang beratnya 60 ton.

      Sekali lagi untuk tank, Main Battle Tank berat di kelas Leopard tidak relevan untuk kebutuhan Indonesia yang negara kepulauan.

      IMHO, sebenarnya masih ada lowongan untuk tank ringan, yang mobilitasnya tinggi di medan tempur, tetapi dengan membawa anti-tank missile utk memukul MBT berat, untuk menggantikan tank di kelas FV101 Scorpion, atau AMX-13.

      Dalam medan tempur terbuka seperti di Eropa, atau di Timur Tengah, memang tank2 berat seperti Armata Tank, Leopard 2, dan M1A2 akan berjaya, tetapi dalam medan tempur perkotaan yang sempit, di daerah yang berimba, atau di pulau-pulau kecil seperti di Indonesia?

      Tank ringan, yang dapat bergerak cepat utk shoot-and-run, akan menjadi raja.

      Ngomong2, PT Pindad baru saja menandatangani perjanjian dengan Saab untuk pembuatan sistem pertahanan udara:
      =================================
      Link website Saab
      =================================

      Kerjasama ini sifatnya jangka panjang.
      Pendekatan Saab untuk kerjasama dngn PT Pindad ini sendiri cukup menarik!

      Selain langkah ini sebenarnya menaruh lagi satu pondasi yang sebenarnya sangat dibutuhkan Indonesia untuk membangun Sistem Pertahanan yang baik, langkah Saab ini sekaligus juga merangkap untuk memperkuat penawaran Gripen-System mereka ke TNI-AU.

      Seperti biasa, pememnuhan persyaratan UU no.16/2012 akan menjadi salah satu prioritas utama dalam tawaran kerjasama Saab.

      Delete
    2. tapi ko herannya TNI AD dulu begitu ngotot beli MBT,bahkan katanya pemebelian MBT adalah keharusan dan sudah dikaji mendalam

      Delete
    3. Yah, sama kan dengan argumen kalau "Indonesia 'membutuhkan' Sukhoi!"

      Seperti sudah dituliskan dalam artikel ini;
      Sukhoi juga hanyalah pesawat kualitas lemon yg gampang rusak / umur pendek, dgn biaya op lebih mahal dari F-22, cuma bisa dapet versi downgrade (kommercheskiy), dgn persenjataan yg juga sudah ketinggalan jaman, pelayanan after-sales service yg jelek / menjamin memeras keuangan negara, dan... tentu saja, sampai 1000 tahun lagipun, Ruski tidak akan mau memenuhi persyaratan UU no.16/2012.

      Kita bisa melihat dengan logika, kalau ada tiga alasan sederhana kenapa Leopard tidak relevan utk Indonesia:

      =============
      ## Mobilitas.
      =============
      Kita negara kepulauan, dan Leopard adalah tank yg beratnya 70 ton. Sewaktu dibeli saja, tidak ada kemampuan utk memindah2kan Leopard dari 1 pulau ke pulau lain.
      KRI Teluk Bintuni? Bisa memindahkan berapa tank sekali jalan?
      Apakah sudah mempersiapkan tempat di setiap pulau untuk bisa onloading/offloading Leopard dimana saja?

      Kalau misalnya, taruh kata, Natuna direbut PRC, dan Leopard di pulau Jawa, lantas mau bagaimana?

      KRI Teluk Bintuni hanya akan dihancurkan dahulu sebelum pernah bisa mencapai Natuna. Dan kalaupun sampai, yah, seperti diatas, bisa diturunkan dimana?

      ===========
      ## Logistik
      ===========
      Mengoperasikan MBT, tidak seperti menoperasikan bus. Maintenance requirementnya lumayan berat. Butuh service & maintenance tiap bbrp belas jam operasional.
      Tank ini juga cepat menghabiskan bensin. Para pengguna MBT yg lain biasanya mempunyai armada ratusan truk logistik militer utk support.
      Lagi2, kebutuhan Leopard ini juga kosong di Indonesia.

      Memindahkan tank antar pulau saja sudah repot, armada logistik masih harus diperhitungkan lagi.

      ============
      ## Strategis
      ============
      Pengalaman masing2 pihak mulai dari jaman Perang Dunia II konflik Arab-Israel, Georgia (2008), Iraq, dan Afganistan menunjuk ke satu hal:

      Tank, yg sehebat apapun, sudah terbukti sangat rentan kalau mencoba bertempur sendirian tanpa support..... terutama vs infantry dengan anti-tank missile.

      Untuk bisa mengoperasikan MBT, kita hatus memahami, dan menguasai konsep "combined arms" dimana tank, hanyalah satu bagian dari armada lengkap, yg termasuk helikopter, infantry, scout vehicle, dan dewasa ini.... drone. Kehilangan satu komponen, buyar dah semua.

      Ini satu lagi aspek strategi yg masih sama sekali baru utk Indonesia.

      Berkaitan ddngan faktor mobilitas di atas juga, kembali: Leopard juga mau dipakai bertempur dimana?

      Dengan panjang 9,75 meter, dan lebar 3,75 meter, akan kesulitan utk menjelajah di pegunungan, atau di rimba.

      Pengalaman US di Vietnam menunjuk kebutuhan tank ringan M551 Sheridan, dibanding MBT M48 Patton yg ukurannya terlalu besar, dan terlalu berat. US Army juga skrg tidak mempunyai Light tank, bukan karena tidak butuh, tapi belum kesampaian.

      Di perkotaan juga, tank terbukti sangat rentan utk dihantam musuh besarnya.... infantry dgn anti-tank missile, yg mempunyai banyak tempat utk sembunyi, dan dapat menghantam tank dari atas, (dimana armornya lebih tipis) untuk memastikan penetrasi yg semaksimal mungkin.

      Kebutuhan vs Keinginan
      Kelihatannya alasan kenapa ingin Leopard, krn tidak mau kalah saingan dgn Singapore (Leopard), Malaysia (PT-91), dan Australia (M1A2). Tentu konteks pemakaian MBT utk ketiga negara berbeda dgn Indonesia, dngn kebutuhan unik yg berbeda juga.

      Singapore / Malaysia secara tehnis masih menyambung ke benua Asia, tidak perlu pusing memindahkan MBT dari pulau ke pulau. Sedang Australia adalah satu benua besar, yg kebanyakan padang pasir datar, cocok utk MBT + mereka mempunyai 6 C-17, masing2 dapat mengangkut 1 MBT

      Delete
    4. Min, mungkin untuk Indo lebih cocok light tank seperti Centauro 120 yg lebih ringan tp mempunyai kanon 120mm seperti Leopard 2

      Delete
    5. Boleh dibilang sebenarnya dalam pasar kategori Light Tank sekarang tidak ada model yang ideal --- krn seluruh dunia terlalu terobsesi membuat MBT.

      US Army sudah mencoba 4x untuk membuat tank ringan, tapi masih gagal.

      IMHO, tank ringan ID-X harus memenuhi persyaratan sbb:
      ## Berat kurang dari 30 ton; mendekati 20 ton lebih ideal.
      ## Rodanya bisa optional, mungkin bisa swappable, antara tracked-wheels, seperti Leopard, untuk pertempuran di medan berat, atau memakai ban karet untuk pertempuran di jalan raya, seperti IAV Stryker / Panser Anoa.
      ## Panjang antara 5 - 6 meter, lebar tidak boleh lebih dari 3 meter
      ## Harus bisa bergerak lebih cepat, dan lebih gesit dibanding MBT, dengan kecepatan maksimum lebih dari 80 km di jalan raya.
      ## Jarak jangkau dengan bensin penuh; minimal 600 kilometer.
      ## Maintenance tentu harus jauh lebih ringan vs MBT
      ## Dapat di-airdrop dengan C-130 Hercules, seperti M551 Sheridan
      ## Persenjataan anti-tank utamanya, lebih baik mengandalkan Anti-Tank missile, daripada 120 mm cannon; terlalu berat & bulky.
      Cannon utamanya ukuran 30 mm, dengan 1500 round, untuk membantai infantry; dan masih dipasangkan dngn 1 - 2 secondary machine gun 7.62 mm.
      ## Armour-nya cukup tahan banting untuk menahan kaliber 14.5 mm Armour-Piercing Round, seperti IAV Stryker US Army.
      Kelihatan terlalu ringan? Untuk menahan 120 mm cannon, atau RPG; light tank ID-X juga harus membawa Reactive Armour (Plat armour yg dapat ditembakkan dari tank utk menangkal serangan - ini sudah operasional!)

      Tentu saja requirement yang tidak kalah penting:

      ## Light Tank ID-X harus fully-networked dengan "Network Pertahanan Nusantara", dan mempunyai secured communication link, untuk berhubungan dengan..... supporting infantry, drones, Gripen-E Indonesia, Super Tucano, atau dengan Light-Attack Helikopter.

      Nah, begitulah... masih ada lowongan untuk PT Pindad membuat tank ringan baru yg tidak ada bandingannya di dunia...... dan lebih seusai untuk kebutuhan Indonesia.

      Tank ID-X yang akan dapat diterjunkan di Natuna, atau di pulau manapun dengan C-130, dan mengigit cukup keras utk membuat lawan pusing.
      :)

      Catatan:
      Untuk kebutuhan helikopter -- Apache, yang sebenarnya 100% diperuntukkan misi Anti-Tank sbnrnya kurang sesuai utk Indonesia, sedang, Mi-35 yg buatan Ruski terlalu gampang rusak! Kabarnya juga bbrp unit juga sudah pernah melalui tahap "perbaikan mendalam".

      Delete
    6. Tank selalu lebih efektif jika didukung oleh infantri dan kekuatan udara, kita bisa melihat ini dalam Hundred Days Offensive pada perang dunia pertama dan di teater Eropa pada perang dunia kedua. Namun, apakah Indonesia bisa menerapkan taktik ini agar kendaraan lapis bajanya bisa efektif dalam pertempuran?

      Delete
    7. Perang antar Tank yang terbesar sepanjang sejarah, sbnrnya terjadi di front Timur, antara Jerman vs Soviet dalam PD II.

      Pertempuran perebutan Kharkov (1942), dan pertempuran Kursk (1943), adalah studi yg menarik untuk penggemar tank.

      Walaupun, perang Yom-Kippur 1973 memberi refernsi yg lebih relevan untuk perang tank, antara Israel - Mesir - Syria.

      Apakah kita bisa?

      Jawabannya, sangat meragukan.

      Kita tidak ada pengalaman, dan tidak pernah mencoba untuk belajar.
      Tetapi ini bisa dimaklumi, karena memang sebenarnya tidak pernah terlalu relevan ke Strategi Pertahanan untuk Negara Kepulauan.

      Untuk apa? Seperti di atas, mengoperasikan MBT tidak relevan utk Indonesia.

      Seharusnya justru kita mempelajari konflik US - Jepang, dalam Perang Pacific, (1942 - 1945) sebagai salah satu dasar membangun sistem pertahanan modern.

      Singkat cerita, berikut komponen terpenting dalam perang Pasifik:

      ## Air Superiority.
      Semua kapal, ternyata adalah target yg mudah untuk dihancurkan dari udara!
      Inilah kenapa kita butuh RBS-15.
      Demikian juga pesawat transport besar utk mengangkut tentara.

      ## Naval Superiority.
      Perpaduan antara kapal selam, ASW (Anti-Submarine Warfare), dan kalau lawan terlalu banyak / kuat, networked KCR yg bersenjata missile, untuk menghantam kapal pengangkut lawan.

      ## Paratroops, dan Amphibious Landing.
      Perpaduan caranya menguasai tempat untuk mendaratkan pasukan, dan bagaimana caranya mendaratkan sebanyak2nya tentara, seaman mungkin.

      Delete
    8. setuju seharusnya kita fokus memperkuat matra laut sedangkan matra darat dan udara berperan sebagai suport bukanya mengecilkan peran AU dan AD tapi melihat kodisi geografis dan sejarah secara strategis jauh lebih menguntungkan memiliki Al yg kuat ketimbang AD dan AU yg kuat namun AL yg lemah

      Delete
  7. Min, apakah Marder dan BMP-3 TNI sdh dipasangi ATGM?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Perlengkapan launcher-nya sih kelihatan sudah terpasang.

      Tapi seperti 'kebijaksanaan' akuisisi Alutsista "beli kosong" akhir2 ini:
      Kita tidak tahu berapa banyak missile yg sudah dibeli, atau apakah belum beli?

      Kebiasaan "beli kosong" sbnrnya hanya merugikan negara, baik dalam jangka pendek; bagaimana bisa latihan tanpa senjata??

      Ataupun jangka panjang;
      beli "cicilan ala Indo" sebenarnya lebih mahal dibanding beli borongan, spt kebiasaan semua negara lain, walaupun sekilas terlihat seperti "penghematan", ini sifatnya semu.

      Nanti kita bahas lebih dalam re Akusisi Rafale di India.

      Delete
    2. Perbedaan dari beli alusista secara cicilan dan borongan itu secara singkat apa?

      Delete
    3. Secara sederhana sih, seperti kita membeli gula, atau cabe di pasar.

      Kalau membeli 20 kg, tentu kita akan mendapat harga per kg lebih murah dibanding kalau membeli hanya 5 kg, karena dengan demikian kemampuan kita menawar harga yang lebih murah menjadi lebih kuat.

      Untuk pembelian Alutsista, sebenarnya bbrp tingkat lebih rumit, karena tidak seperti membeli cabe, atau gula, yang sekali beli-putus.

      Pertama2, harus memperhitungkan Initial Provision Cost (IPC)

      Ini adalah investasi untuk asset tetap, seperti infrastruktur pendukung, komputer / software, simulator, dan initial training. Dalam hal ini, IPC harganya tidak akan berubah banyak, baik untuk 6 pesawat, daripada untuk 32 pesawat.

      Kalau tidak mau beli, jangan harap pesawat bisa terbang!

      Kemudian, sebelum mengambil keputusan, saatnya memperhitungkan hal-hal lain secara masak-masak, seperti di bawah:

      (Ini menjadi lebih panjang)

      ## Pembelian dalam jumlah yang lebih besar, memang lebih murah, tetapi kita akan memerlukan jaminan komitmen After Sales Support dari penjual.

      Ini dikarenakan, kita akan membina hubungan erat dgn mereka selama puluhan tahun.

      Bagaimana komitmen mereka untuk mensupport apa yg kita beli?
      Apakah kita bisa mempercayai mereka?
      Bagaimana reputasi mereka di negara lain?
      Apakah pelayanan mereka terjamin, atau meragukan / cenderung cuma morotin duit negara, seperti Rosboron?

      Nilai plus, kalau penjual berkomitmen untuk memenuhi UU no.16/2012, dan lebih memperlakukan kita seperti partner daripada sebagai customer.

      ## Tidak kalah pentingnya, adalah memperhitungkan terlebih dahulu:
      Apakah platform itu akan mudah dikuasai pilot, atau staff lokal, atau tidak?
      Lihat history platform! Reliable atau tidak? Pesawat yg reliable, berarti lebih banyak training, dan biaya perawatan bisa menghemat dalam jangka panjang.

      Kalau memang dari awal, kebutuhannya juga sudah merongrong, dan bikin pusing 7-keliling seperti Sukhoi, siap2 untuk keluar biaya perawatan yg jauh lebih besar dari angka berapapun yg disebut penjual, apalagi kalau perkataannya tidak akan bisa dipercaya spt Rosoboron.

      ## Initial Training. Kembali, jumlah lebih besar lebih murah.
      Faktor pendukung: kalau platform itu mudah dikuasai (spt dalam point 2), ya, dengan sendirinya training untuk menciptakan banyak pilot / staff dgn kemampuan LUAR BIASA, menjadi lebih mudah.

      Dan tidak hanya berhenti disana, regenerasi pilot / staff juga lebih mudah kalau jumlah yg dioperasikan lebih banyak. Kemampuan untuk lebih mandiri di kemudian hari, juga menjadi jauh lebih mudah.

      Lihat artikel re: Armada gado2 yg merugikan!

      ## Terakhir, perencanaan jangka panjang untuk supply spare part. Kembali, beli jumlah yg lebih banyak, harga lebih murah.
      Dan., kalau pesawatnya terbukti sangat reliable (point 2), disini juga akan banyak penghematan, dan kembali, pelatihan seperti diatas menjadi semakin mudah lagi.

      Delete
  8. Bung GI.
    Swedia sekarang punya hmpir 100 gripen c/d, apa pilihan terbaik untuk gripen c/d swedia sendiri ?
    Dipertahankan kah ?
    Dijualkah ?
    Atau Dibongkarkah ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kemungkinan besar Gripen-C/D akan disewakan, atau dijual utk bersaing dengan pasar murah dari "Excess Defence Article", alias F-16 bekas seperti US.

      Filipina, dan Bostwana bisa menjadi prospective customer.

      Pada awalnya, Swedia berencana mengupgrade versi C menjadi versi E,
      tetapi di tengah jalan, Saab menemukan kalau perbedaan antara versi C, dan E sebenarnya menjadi terlalu besar.

      Desain, material, dan tehnik konstruksi untuk versi E hampir sama sekali baru (dan sbnrnya juga lebih murah), sama seperti perbedaan antara Hornet classic, dan Super Hornet.

      Jadi tidak akan ada banyak penghematan untuk meng-upgrade, dibanding memproduksi dari nol.

      Delete
  9. Andai kalau gripen eks swedia dijual Dan kira² mempunyai harga yg sama dngn F16 hibah amerika.
    Dilihat Dari kemampuan tempur gripen c/d vs F16 c/d kita, sepertinya masih hebat gripen . toh secara Dari umur juga masih muda gripen ( Tampa perlu ambil Dari gurun ) tinggal pakai saja.

    Kalau kita beli yg belum bisa bawa meteor, kan bisa di upgrade supaya bisa bawa meteor.
    Dan kalau ingin pake aesa radar, tinggal bilang saja dan kayaknya Saab juga bisa melakukan hal ITU .

    Swedia Dengan menjual gripen eks mereka, sepertinya tidak usah terlalu mengeluarkan banyak Dana until membeli gripen E.

    apalagi kalau disewakan, jelas lebih mempunyai nilai ekonomis yg lebih banyak dan lebih menggiurkan.
    25 gripen c/d eks swedia = $1milyar ( tawaran yg bagus ). Luar biasa bukan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, bung Matt.

      Gripen-C/D sebenarnya kemampuannya jauh melebihi F-16 Block-50+/52+, bahkan untuk versi USAF; bukan versi export.
      ## RCS kurang dari sepersepuluh F-16, yg pengurangan RCS-nya sendiri memang tidak peenah optimal.
      ## Infra-Red signature-nya juga jauh lebih rendah
      ## Lift-to-drag ratio lebih tinggi, memastikan kemampuan manuever lebih unggul.
      ## MS-20 Upgrade, dan perubahan radar ke PS/05 Mk4 memberikannya kemampuan untuk mengoperasikan Meteor; tinggal beli kalau mau :)
      ## Scorpion HMD untuk dapat mengoperasikan AIM-9x jauh lebih optimal dibanding F-16 Block-25+ Indonesia.
      ## TIDLS fighter-to-fighter Network, yang bahkan dapat memberitahukan posisi wingman dimana. Dan kompatibilitas ke Link-16, atau Nasional Network.

      Dalam latihan2 udara NATO, Gripen Swedia, Hunggaria, dan Czech sudah membuktikan diri untuk dapat selalu "melibas" F-16 MLU / Block-50/52+ negara2 lain, ataupun menandingi Typhoon / Rafale.

      AESA radar, dan IRST upgrade sejauh ini masih belum direncanakan untuk versi C/D, walaupun Saab sekarang sudah berhasil membuat AESA radar sendiri (non Selex-ES).

      Memang ada baiknya kalau kita menyewa 1 skuadron Gripen-C/D untuk menggantikan Sukhoi, sembari memunggu order untuk Gripen-E.

      Tidak hanya 16 Gripen-C/D, kalaupun dipersenjatai minimal sekalipun, sebenarnya kemampuannya akan jauh melebihi armada gado2 yg sekarang: 33 F-16, dan 8-10 Sukhoi yg masih bisa terbang;

      .... Langkah ini akan menjadi dasar yg baik untuk mempersiapkan pilot, ground crew, Industri pertahanan dalam negeri, dan sistem pertahanan Indonesia, sebelum bisa beradaptasi ke pesawat tempur Abad ke-21 yg sesungguhnya.

      Hanya para perantara yang nanti akan gigit jari.

      Angka sewaan untuk 14 pesawat di Hunggaria, bernilai $500 juta untuk 12-year term, termasuk training, spare part, dan maintenance; dengan clausal 100% offset, 30%-nya offset dalam bentuk investasi langsung.

      Kalau negara kita berminat membeli 2 Skuadron Gripen-E, 2 - 4 Erieye AEW&C, dan memulai kerjasama untuk merancang-bangun sistem Network Nasional, tentu saja peluangnya cukup besar kalau harga sewa sementara Gripen-C/D bisa dapat lebih murah :)

      Delete
    2. Harga sewa $500jt untuk 14 gripen c/d full spare part dan maintenance ( cuma isi bengsin doang )

      Seburuk itukah sukhoi kita, tapi kenapa selalu di puja² ?

      Delete
    3. Gripen Hunggaria 12-tahun extension:
      ========================
      Link Flightglobal 2012
      ========================

      ## Ternyata paket offset-nya 110%, menghasilkan estimasi sekitar 10 ribu lapangan pekerjaan di Hunggaria.

      =================
      Sukhoi Indonesia
      =================
      Yah, terus dipuja-puja; akibat manipulasi opini di media massa, dan favoritisme.

      Padahal kenyataannya tetap saja tidak berubah:
      ## Senangnya mudik ke kampung halaman

      ## Hanya versi "Kommercheskiy", alias versi downgrade dari pesawat yg versi aslinya saja sudah kadaluarsa dari sejak pertama mengudara; karena rahasianya sudah dibocorkan Adolf Tolkachev.

      ## Alokasi biaya operasional untuk Sku-11 lebih besar dibanding seluruh TNI-AU, tetapi jam terbang pilotnya bisa dipastikan akan lebih sedikit dibanding yang didapat pilot F-16, dan BAe Hawk-209.

      ## Tentu saja setiap Rupiah yang dihabiskan untuk Sukhoi, tetap saja beberapa %-nya tetap masuk kembali ke kantong perantara.

      Kerugian negara bisa mencapai 20% per transaksi, atau mungkin lebih besar lagi.

      ## Persenjataannya (Lihat di atas) sudah ketinggalan jaman, dan mungkin hanya bisa menembak jatuh Boeing 777, dibanding pesawat tempur lain.

      ## Sukhoi, yang dirancang menurut sistem Soviet, tidak akan compatible dengan sistem Indonesia yang dipakai semua pesawat buatan Barat yg lain.

      Inilah kenapa sebaiknya Sukhoi, lebih cepat dipensiunkan lebih baik.

      Toh, terbang juga tidak bisa sering, karena biaya mahal, dan kesiapan tempur rendah ===> artinya, tidak akan becus menjaga wilayah udara Indonesia.

      Bukan salah pilot, atau TNI-AU, tetapi memang begitulah nasib kalau menggunakan pesawat twin-engine dengan kebutuhan maintenance yg merongrong, yg asalnya dari Ruski.

      Delete
  10. pendukung gripen ngamok kenapa gak beli jf 17 aja biar greget coeg

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, loh.... Inilah miskonsepsi berikutnya.
      Tujuan tulisan di blog ini bukan semata hanya untuk "asal mendukung" satu pilihan.

      Itu mah namanya mendukung supplier / perantara asing!

      Seyogjanya, mbok ya kita semua belajar menjadi lebih dewasa, dan mendukung pilihan tebaik untuk Negara kita tercinta yang memenuhi semua persyaratan berikut:

      ## Memenuhi semua kebutuhan pertahanan Indonesia 50 tahun ke depan.

      ## Biaya operasional tidak boleh "menggentarkan" keuangan rakyat

      ## Transaksinya harus transparan, dan jujur; tidak boleh menghamburkan uang hanya untuk membayar komisi perantara.

      ## Supplier-nya siap memenuhi semua persyaratan UU no.16/2012, terutama berkaitan dengan pembangunan industri pertahanan dalam negeri, dan potensi banyaknya pekerjaan untuk para ahli dari rakyat negeri sendiri.

      ## Pesawat yg dijual bukanlah barang rongsokan "versi export", atau "Kommercheskiy", yang sudah di-downgrade untuk negara kita tercinta.

      ## Pesawat yang paling menjamin kedaulatan NKRI sendiri, dari keuntungan Transfer-of-technology, dan potensi untuk mendapat kemampuan untuk bisa berinovasi sendiri, tanpa perlu didikte "apa yg diperbolehkan" oleh supplier.

      ## Pesawat tempur ultra modern, yg memenuhi persyaratan Abad ke-21: Sensor Fusion (AESA radar, IRST, IFF yg teintegrasi), kemampuan manuever terbaik, kemampuan Networking terbaik, Low Observable, Supercruise, dan kemampuan untuk membawa semua senjata terbaik di dunia.

      ## Pesawat yg potensi pengembangan, dan paket upgrade dari supplier-nya paling terjamin untuk 50 tahun ke depan.

      Yang paling penting, pesawat yang mau menjadi warga negara Indonesia, bukan terus memegang passport negara lain, atau senangnya "mudik untuk perbaikan mendalam".

      Ayo, belajar mendukung pilihan terbaik untuk sistem pertahanan, industri lokal, dan kedaulatan Indonesia!

      Gripen-Indonesia.

      Delete