Monday, September 19, 2016

Gripen-E, pengganti ideal untuk Sukhoi Su-27/30 Kommercheskiy Indonesia!

Gripen-C Formation in 2010 (Credits:Stefan Sundkvist)

Sudah saatnya mempensiunkan Sukhoi Indonesia.

Kenapa tidak?

Ada banyak keuntungan secara strategis, finansial, dan industrial kalau Saab Gripen-E terpilih, tidak hanya untuk menggantikan F-5E, tetapi juga Sukhoi Su-27/30 Kommercheskiy.


Sekali lagi ingat: Sukhoi Su-27/30 hanyalah versi Export downgrade dengan kemampuan yang sangat meragukan

Baik US, ataupun Russia sebenarnya "setali tiga uang" untuk melakukan pembatasan versi export  untuk setiap senjata yang mereka jual ke negara client. Hanya saja kalau F-16 adalah combat-proven platform, sebaliknya Sukhoi kemampuan strategisnya sudah harus dipertanyakan, alias hampir nihil.
Sukhoi tidak pernah terlihat membawa R-77, tetapi selalu R-27 SARH
(Gambar: The Aviationist, 2015)
Very Kommercheskiy SK, SKM, MK, MK2, hanyalah versi export / downgrade dari versi yang di negara asalnya, dengan persenjataan yang juga versi export tidak akan mampu menandingi F-16 Block-25+ hibah 

RVV-AE (izdeliye-190), atau missile versi export dari R-77 (izdeliye-170), kemungkinannya terlalu kecil untuk dapat beroperasi sesuai harapan, atau dapat menembak jatuh pesawat tempur manapun. Ini dikarenakan AU Russia sendiri, sebenarnya tidak pernah membeli, atau mengoperasikan versi original R-77 secara intensif.

BVR missile andalan untuk dalam negeri Ruski sendiri adalah ini:
R-27 with Semi-Active Radar Homing Seeker,
equivalent to AIM-7 Sparrow (now retired!)
Dave Majumdar, editor untuk National Interest, sudah mempertanyakan kenapa pesawat tempur terbaik Russia: Sukhoi Su-30SM, dan Su-35S di Syria saja, masih membawa "crappy" missile, alias missile kuno yang sudah ketinggalan jaman.
"Modern" Irkutsk Su-30SM in Syria...
 dengan R-27 missiles tercinta, buatan Artem factory; Kiev, Ukraine!
(Gambar: Sputnik News)
Service record-nya sendiri di Indonesia kelihatan "cemerlang", dalam tanda kutip:
  • Pada Februari-2009 saja, pernah terjadi kasus dimana dua Su-30MK2 Indonesia tiba-tiba melaporkan kalau keduanya tiba-tiba sudah di-lock oleh mungkin "pesawat lawan". Pesawat lawan yang mana? Kalau bukan kesulitan tehnis, kejadian ini justru menggarisbawahi kalau Situational Awareness di cockpit Sukhoi memang sangat kurang, dan ternyata memang benar.....
  • Masakan untuk mencegat pesawat baling-baling bambu Beechcraft, dengan kecepatan hanya 300 kph, yang terbang dengan sangat perlahan dari atas Laut Timor, menuju ke Filipina, baru bisa tertangkap..... di dekat Manado? Jaraknya sudah hampir 1500 kilometer di Timur Laut dari Sultan Hassanudin AB, Makassar!! 
    Bisa menyusup ribuan kilometer tanpa bisa dicegat:
    Ini bukan kesalahan TNI-AU, atau Kohudnas

    Untuk Sukhoi Kommercheskiy; baling-baling bambu Beechcraft adalah pesawat stealth.
    (Gambar: Kompas)
    Efek gentar yang mana? Bukankah seharusnya Sukhoi menjaga wilayah udara Timur Indonesia? F-16, Bae Hawk-2009, T-50, atau bahkan A-4 Skyhawk yang sudah dipensiunkan sekalipun, akan dapat melakukan tugas ini dengan jauh lebih baik, dan jauh lebih murah. Bicara soal T-50....
  • Pada 26-Agustus-2014 yang lalu, SindoNews melaporkan keberadaan Latihan Perkasa D-14, dimana Su-27SKM, dan Su-30MK2 yang dipangkalkan di Biak, dengan dukungan 1 pesawat Boeing 737 2x9 Surveillance (sebenarnya bukan tipe pesawat AEW&C), ternyata GAGAL UNTUK MENCEGAT TIGA T-50 yang berperan sebagai penyusup ke dalam wilayah NKRI.
  • Menang 3 - 1 vs Sukhoi, walaupun tidak membawa jammer, 
    atau perlengkapan EW manapun
    (Gambar: SindoNews)

    Ini tidak membuktikan kemampuan pilot TNI-AU:
    Versi Kommercheskiy memang barang lemon
    Dan tidak hanya gagal sekali, Sukhoi Su-27/30 gagal mencegat T-50 sampai TIGA HARI. Padahal targetnya juga hanya T-50, yang tidak bersenjata, dan tidak bisa membawa jammer jenis apapun. 

    Sebenarnya justru sangat beruntung ini hanya latihan; targetnya BUKANLAH J-11B China, atau F-18F Superhornet Australia, yang sudah pasti akan membawa kado persenjataan, dan perlengkapan Electronic Warfare, yang jauh lebih lengkap, dan jauh lebih modern dibandingkan semua yang dimiliki TNI-AU saat ini.
Tentu saja, efek gentarnya secara regional juga nol besar, karena berkat faktor Tolkachev, setiap negara lain mungkin sudah lebih paham tentang Sukhoi dibandingkan Indonesia.

Kesemua hal di atas, kembali menggaris-bawahi, kalau kemampuan Sukhoi Kommercheskiy alias produk downgrade, sampai selamanya tidak akan bersaing. 

Semakin lama, kita mengoperasikan Sukhoi juga tidak akan membuat semakin mahir. Ini karena faktor berikutnya....


Sukhoi umurnya tidak panjang, dan semakin lama operasional, semakin memeras keuangan rakyat!


Hobinya  MUDIK berbulan-bulan
 Lebih banyak lagi dong komisi untuk para perantara...
(Gambar: TNI-AU)
Kenapa biaya operasional Sukhoi mahal?

Heavy Twin-Engine Fighters, seperti F-15, Typhoon, dan Rafale memang sudah lazim kalau biaya operasionalnya selalu mencapai lebih dari 2 - 3x lipat dibanding single-engine fighter di kelas F-16. Sukhoi, tentu saja jauh lebih parah, karena konstruksinya mewarisi sistem Soviet; baik usia airframe-nya, dan setiap spare yang dipakai tidak pernah dibuat untuk bisa tahan lama.
Link: BBC, 28-Juli-2002
Lebih parah lagi, untuk setiap negara importir, setiap transaksi harus dilakukan lewat Rosoboronexport, atau agen perantara resmi yang ditunjuk pemerintah Russia untuk mewakili industri persenjataan mereka. Sebagai prosedur standar, sudah normal untuk mereka menunjuk beberapa perantara lokal, yang kemudian masing-masingnya akan menuntut komisi yang cukup tinggi, apalagi untuk pengguna kecil, yang senang beli cicilan, yang sudah koceknya tipis, tapi masih rela membayar harga retail yang di-mark up.

Center of Budget Analisis, seperti dilaporkan harian Republika, mengeluhkan kerugian negara yang bisa mencapai 20%, kalau memutuskan untuk membeli pesawat efek gentar "lemon" Su-35, berdasarkan "mimpi" dari penulis "cerdas" di Ausairpower; yang kemampuan tempurnya tidak akan mampu menantang F-18F SuperHornet Australia, atau pesawat tempur manapun di seluruh Asia Tenggara.

Patut diketahui, komisi perantara disini tidak hanya sekali beli putus; melainkan sifatnya seperti benalu dalam jangka panjang. Semua spare part, dan maintenance, akan selalu harus dibeli lewat Rosoboronexport; dalam artian: harga setiap spare part yang dibeli, biaya tehnisi Russia, biaya perawatan dalam jangka panjang, atau perbaikan mendalam, seperti diatas, semuanya akan selalu dicantoli beberapa % untuk komisi perantara. Biaya operasional Sukhoi yang Rp 500 juta, atau sekarang bisa Rp 600 juta (termasuk biaya perbaikan), kemungkinan 10 - 20%-nya sudah termasuk biaya komisi perantara. Dan semuanya negara yang harus membayar!

Pada tanggal 8-Agustus-2016 ini, India sudah menjabarkan betapa sulitnya untuk berurusan dengan si agen perantara Rosoboronexport, walaupun mereka adalah customer terbesar untuk persenjataan buatan Russia. 

Berikut salah satu cuplikan yang menarik:
Link: Indian Express, 8-Agustus-2016
Sudahlah!

Lupakan saja "mimpi" kalau Russia membuat NKRI kebal dari embargo militer US! Justru kebalikannya, sebenarnya pembelian Sukhoi membuat pertahanan Indonesia terjerumus ke dalam lubang perangkap yang jauh lebih dalam! 

Ingat! Sudah tidak ada lagi alasan untuk negara-negara Barat memberlakukan embargo militer ke Indonesia. Untuk apa? Yang sering dilupakan orang, sebenarnya Indonesia sudah lama menikmati hubungan ekonomis / sosial / politik yang sangat bersahabat dengan US, Australia, Jepang, ASEAN, dan negara-negara Eropa Barat. Inilah kenapa ketakutan semacam ini hanya akan menjadi phobia yang tidak beralasan di Abad ke-21.

Dengan biaya operasional selangit, dan "hobby" untuk bolak-balik ke negara asalnya untuk perbaikan yang mendalam, Sukhoi hanya akan terus menyandera keuangan rakyat. 

Semakin lama mengoperasikan Sukhoi, negara hanya akan semakin merugi.

Belum lagi menghitung, umur airframe Sukhoi akan kurang dari 20 tahun, atau lebih pendek dibanding BAe Hawk-209, yang sudah dibeli dari pertengahan tahun 1990-an, menjadikannya prospektif pesawat tempur yang paling pertama, yang harus diganti dalam waktu dekat. 

"Sekali pakai, buang!"
Dalam sistem Soviet, setiap pesawat seharusnya hanya dipakai 10 tahun, sebelum diganti baru!
(Gambar: China-defense.blog)
Sukhoi Indonesia, rata-rata tidak akan hidup jauh lebih lama dari tahun 2025, dan sampai waktu itu, akan ada lebih banyak lagi "perbaikan mendalam", atau lebih banyak unit yang tidak lagi bisa terbang. TS-3001, dan TS-3002 saja sudah tidak pernah kelihatan mengudara sejak tahun 2008.

Inilah kenapa, daripada terus-menerus menghamburkan uang untuk "efek gentar yang semu" alias NIHIL, lebih cepat mempensiunkan Sukhoi lebih baik.



Mempensiunkan Sukhoi, akan memberi ruangan untuk akuisisi 2 skuadron (32 pesawat) Gripen-E Indonesia

Keuntungan Strategis

Gripen-E adalah satu-satunya pilihan yang tidak hanya jauh lebih unggul, dan memenuhi budget, baik dari segi akuisisi, ataupun biaya operasional, tetapi juga akan membuat Indonesia MERDEKA dari masa penjajahan dua pesawat tempur versi export, atau Kommercheskiy dari dua negara adidaya, yang selamanya tidak pernah bisa mempercayai Indonesia sepenuh hati!
... dengan kemampuan Tactical Information Data-Link (TIDLS),
yang lebih unggul dibanding Link-16 NATO, dan...
... tehnologi Sensor Fusion, yang memberikan Indonesia Qualitative Edge di seluruh Asia Tenggara,
(Gambar: Saab)
Dengan kemampuan tempur yang hampir 10,000%, atau 100x lipat lebih unggul dibanding dinosaurus Kommercheskiy yang sekarang, Gripen tidak akan kesulitan untuk mencegat penyusup, mau baling-baling bambu Beechcraft, ataupun yang bersenjata lengkap seperti Su-35 PLA-AF di atas laut Cina Selatan. Tentu saja, biayanya juga jauh lebih murah dibanding mencoba mencegat dengan Sukhoi, atau F-16.

Efek gentar? Tidak seperti Su-Kommercheskiy downgrade peninggalan jaman purbakala tahun 1980-an, yang hanya bisa memakai unproven export BVR misile; Gripen adalah pesawat tempur pertama yang sudah bisa dipersenjatai dengan BVR missile terbaik di dunia:
Ding-Dong! The Sukhoi killer missile!


Keuntungan Finansial

Biaya operasional untuk 32 pesawat, atau untuk 2 skuadron (Sku-11, dan Sku-14), untuk masing-masing unit / pilot dapat berlatih 150 - 200 jam terbang per tahun, akan memenuhi hukum Economies of Scale: Mengoperasikan lebih banyak pesawat tempur di satu tipe, biaya menjadi lebih murah

Bahkan, biaya operasional 2 Skuadron Gripen-E, akan lebih murah dibandingkan biaya operasional 16, eh, 8 Sukhoi sekarang ini, yang mungkin lebih dari 20%-nya hanya akan masuk kembali ke kantong para perantara. Belum lagi menghitung, biaya operasional Gripen yang murah, dan perawatannya yang mudah, dengan sendirinya akan selalu lebih bersahabat untuk kesejahteraan pilot, staff, dan ground crew TNI-AU.
Tentu saja, Gripen akan selalu lebih siap tempur setiap hari, tanpa perlu menghabiskan waktu untuk diperbaiki secara mendalam berbulan-bulan.
... sudah saatnya memilih pesawat yang lebih mengutamakan kesejahteraan pilot, dan staff lokal,
 dibanding hanya untuk mengisi kantong perantara asing!
(Gambar: Saab)


Keuntungan Pameran parade Udara, untuk setiap hari perayaaan


Credits: Stephen Sundkvist, via Wikimedia
Lagipula, seperti gambar di atas, untuk parade udara, Gripen yang mempunyai konfigurasi sayap close-coupled delta-canard, akan kelihatan lebih menarik untuk ditonton, dan berbeda dibandingkan Sukhoi, atau F-16, yang mewarisi bentuk desain konvensional tahun 1970-an, yang  akan kelihatan semakin membosankan.

Untuk para penonton awam; F-16V tidak akan terlihat berbeda dibanding F-16A/B/C/D, sedangkan Su-35 tidak akan terlihat berbeda dari Su-27SK.
Parade 10 tahun Gripen-Hunggaria
(Credits: Jacek Domanski)
Keunggulan tambahan lain, tidak seperti Sukhoi (kapan TNI-AU pernah melakukan Flying Display Sukhoi, seperti Sergei Bogdan??), yang biaya operasionalnya mahal, pilot kita akan dapat lebih sering mempertunjukkan kebolehan Gripen-Indonesia, seperti halnya sudah sering dilakukan bahkan oleh pilot Czech, yang walaupun sebenarnya mengoperasikan Gripen-C sewaan:
Czech Gripen Flying display, ILA 2014

Saab; tidak seperti para penjual barang rongsokan "versi export" (termasuk Korea), adalah satu-satunya produsen yang berkomitmen untuk memenuhi semua persyaratan UU no.16/2012 kita.
Link: Jane's
Bukan. 

Bukan berarti blog ini mengajarkan kita harus memuja Saab, ataupun untuk mengajukan argumen kalau penawaran mereka "terlalu menggiurkan"!

Seyogjanya, sudah saatnya kita belajar menjadi lebih dewasa untuk mendukung pilihan pesawat tempur Indonesia masa depan, yang memenuhi kebutuhan, dan bukan keinginan.

Saat ini, ditengah pernyataan pejabat, atau bombardir berita dari media massa; kita hanya terperangkap dalam ilusi, seolah-olah ada banyak pilihan, padahal sebenarnya hanya ada dua opsi: Lebih menguntungkan Indonesia, atau tidak (pesawat versi export)?

Ayo, belajar mendukung pilihan yang bukan hanya paling menguntungkan, tetapi juga paling menjamin Kedaulatan Nasional!

Pilihan yang dapat menjadi pra-sarana pembangunan sistem pertahanan Nasional, yang dapat bersaing di dunia!

Pilihan yang paling menguntungkan prospek jangka panjang pembangunan industri pertahanan dalam negeri!

Pilihan pesawat tempur yang paling future-proof untuk menghadapi tantangan 50 tahun ke depan!

Dan terakhir,
....pesawat tempur yang BUKAN "versi export"! 

33 comments:

  1. Min, nanti kerjasama dengan Saab itu apa saja? Apa hanya assembling?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung @Haykal,
      Penawaran assembling Gripen adalah pemanis terakhir yg baru mereka tawarkan.

      Sebelumnya mereka sudah menawarkan:
      ## Kerjasama strategis untuk membangun sistem pertahanan Nasional --- ini sendiri adalah kerjasama jangka panjang, kemungkinan akan mulai didasari dari pendalaman Gripen System dahulu.

      ## ToT untuk Gripen, dan semua system lain yg mereka jual -- ini sebenarnya membuka peluang investasi jangka panjang untuk membangun industri pertahanan dalam negeri, dan untuk mengembangkan innovasi lokal yg bisa diaplikasikan ke Gripen System, atau mungkin dipasarkan sendiri kelak.

      ## Penjualan 1 - 2 unit Erieye AEW&C -- kemungkinan memakai Saab-2000, atau Saab-340; bisa dipasang di CN-235, atau C-295 tetapi biaya integrasi ke platform akan terlalu mahal.

      ## Penawaran perakitan RBS-15 Anti-ship missile di fasilitas PT DI.
      Mengingat ketegangan di LCS, dan anehnya, untuk mempertahankan negara kita yang kepulauan, TNI-AU juga tidak memiliki stock anti-ship missile..... ini adalah suatu kebutuhan.

      ## Penawaran untuk membangun sistem Networking Nasional, untuk integrasi antar-Alutsista. Mereka juga menawarkan networking untuk mencoba menyatukan F-16, dan Sukhoi; IMHO, hal ini akan sangat sulit dilakukan tanpa kerjasama pemerintah US; sedangkan Sukhoi tidak akan bisa compatible dengan sistem networking Barat.

      Tidak seperti semua pilihan lain, tawaran Saab untuk menjual "paket lengkap" sebenarnya seperti melamar menjadi WNI (Warga Negara Indonesia).

      Inilah kenapa sy menamai blog ini: "Gripen-Indonesia" :)

      Delete
  2. Salam sehat bung GI,

    Di akhir september kita akan disuguhkan latihan TNI AU yang sangat besar, dimana semua jenis pespur kita akan di ikutsertakan.
    Yang jadi pertanyaan, berapa nilai / anggaran yang dibutuhkan untuk latihan tersebut ?

    Kembali ke topik diatas,. untuk mendapatkan 3-4 skuadron gripen NG, kira² berapa tahun hal itu akan terwujud ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung @Matt,

      Untuk anggaran latihan -- kita tidak bisa memprediksi sampai melihat berapa jumlah yang mereka gelar; seberapa lamanya, dan seberapa banyak persenjataan yang dipakai.

      Tetapi disinilah kita bertabrakan dengan polemik penggunaaan Sukhoi:
      ==================================
      Kalau untuk latihan udara -- lagi2, Sukhoi akan menelan proporsi biaya yang terbesar untuk TNI-AU, dibandingkan semua tipe lain, walaupun jumlah yang mengudara jauh lebih sedikit.

      Padahal jumlah Sukhoi yang sekarang operasional sudah semakin sedikit;
      #TS-2701, dan TS-2702 masih belum pulang setelah "mudik" sejak Desember-2015
      #TS-3001, dan TS-3002 tidak kelihatan bisa mengudara sejak 2008.
      #Kalau tidak salah, masih ada satu unit Su-30MK2 yang masih menjalani "perbaikan mendalam" menyertai TS-3006.

      Dari jumlah yang tersisa, belum tentu semuanya juga masih bisa mengudara. Kita lihat saja. TNI-AU boleh merencanakan semuanya ikut, tetapi pada hari-H-nya, tidak akan semuanya siap terbang.

      Delete
    2. ==============================
      Delivery Time 3 - 4 Skuadron Gripen-E
      ==============================

      ## Menurut Saab, Gripen-E 39-8 akan mulai mengudara akhir tahun ini.
      Pada 18-Mei yang lalu, 39-8 sbnrnya kelihatan belum dipasangi IRST, dan bbrp fitment untuk Missile-Approach-Warning (MAW) system sepertinya juga masih absen.

      ## Saab sendiri menyatakan kalau produksi pabrik mereka di Linköping masih bisa bertambah kalau ada order baru; dan setelah 2022, pabrik Embraer di Brazil juga bisa diikutsertakan untuk memproduksi lebih banyak lagi Gripen, kalau kapasitas di Linköping tidak mencukupi.

      Kemungkinan delivery untuk skuadron pertama Gripen-E untuk Indonesia, untuk angka optimis, baru akan bisa dimulai antara 2021 - 2022.

      ## Seperti diatas, di waktu itu, bisa dipastikan TNI-AU akan mulai pusing karena Sukhoi Kommercheskiy akhirnya sudah semakin mendekati "used-by-date"-nya, dan sudah siap masuk liang kubur!

      Tidak seperti F-16A/B versi Block-15 yang akan masuk proses MLU untuk menambah usia airframe sampai 20 - 25 tahun lagi; umur Sukhoi tidak akan bisa diperpanjang.

      ## Lagipula, dalam jangka pendek, mengingat TNI-AU memiliki 16 Sukhoi, dan 33 F-16, tetapi kurang dari 100 missile -- prioritas anggaran kelihatan berada di tempat yg salah kalau masih mau membeli 16 pesawat untuk menggantikan F-5E.

      Delete
    3. Jadi thn realistis untuk skuad 1 gripen adalah tahun 2022, jadi kita punya waktu 5 thn untuk menabung .

      Dan harapan kedepan tentu adalah rudal dan senjatanya. Masa iya si ga bisa beli rudal dalam jumlah banyak, anggap saja $200-300juta buat beli rudal. Semua pesawat pasti sudah bisa gotong rudal lengkap.


      Dan saya rasa , indonesia cukup mampu untuk beli banyak gripen .

      Bayangkan pespur kita mempunyai senjata lengkap. Pasti negara lain akan lebih segan

      Delete
    4. Betul - pespur harus mempunyai senjata, dan perlengkapan lengkap.

      Jangan lupakan juga faktor TRAINING, dan SISTEM yang bersaing!

      Tanpa adanya perpaduan ketiga hal ini, mau beli pesawat apapun, efek gentarnya akan NOL BESAR.

      Di tengah situasi perekonomian skrg, dimana setiap Kementerian diminta untuk lebih menghemat, dan menghilangkan "waste", kembali ke topik: inilah saatnya untuk mulai mempensiunkan Sukhoi secara bertahap:

      ## JANGAN lagi mengirim satupun Sukhoi untuk "perbaikan mendalam", yang seperti TS-2701 & TS-2702; dua pespur tehnologi analog tahun-80an, sudah memakan waktu hampir setahun penuh!!

      Biayanya mungkin bisa mencapai bbrp juta dollar per unit...
      ...dan ini hanya akan memberi makanan ke perantara!

      ## Sukhoi berikutnya yg butuh "perbaikan mendalam", sebaliknya lebih langsung di-"scrap", dan dipensiunkan!

      TS-3001 & TS-3002 adalah dua kandidat utama.

      ## Batalkan rencana boros seperti utk membeli mesin AL-31F; harga per unit $3 juta kalau beli borongan ratusan unit spt PRC, atau India.

      Tempo hari, TNI-AU berencana menghamburkan $100 juta tahun depan utk beli mesin Sukhoi, dengan harga per unit kemungkinan akan terdongkrak ke $5 juta per unit (termasuk komisi) karena beli eceran.

      Itu juga belum tentu tehnisi kita akan dapat mengganti mesinnya sendiri!

      Butuh waktu 5 hari, mnrt AU India, dan kemungkinan harus memanggil lagi tehnisi dari Russia --- lebih banyak lagi bayar komisi!

      F-16 tidak pernah perlu ganti mesin kok! Krn tidak spt barang Ruski, sudah dibuat utk bisa tahan lama.

      Sukhoi berikutnya yg mesinnya jebol (hanya tahan kurang dari 1000 jam), pensiunkan!

      ## Jangan menghamburkan uang lagi utk dua missile inferior R-73, dan RVV-AE, yg dibeli dari 2008, eh, baru diantar 2012.

      Sebaliknya, alihkan dananya utk men-stock lebih banyak AIM-9X, dan AMRAAM C7!

      Gripen, semua versi, bahkan akan dapat menggunakan keduanya lebih baik dibanding F-16V.

      Delete
    5. Itu F16 hibah udah dateng 5 lagi, dan terbang sejauh 9000mil dari amerika ke indonesia. Kalau sukhoi bisa ga ya ?

      Sudah total 14-1 yang sudah datang, dan semua itu terbang secara langsung. Dan alangkah baiknya pada pengiriman mendatang, semua pilot yg membawa F16 hibah dari TNI AU sendiri ( lumayan buat tambah jam terbamg :) )



      Itu droptanknya lumayan dapet gratisan . :D

      Delete
    6. Trmksh atas kabarnya, bung @Matt,

      Ternyata delivery-nya sudah 14 pesawat sejak 2014, dan dua gelombang lagi datang tahun depan.

      Betul, F-16 kita memang akan membutuhkan drop tank, krn tipe ini tidak akan bisa melakukan air-to-air refueling dengan KC-130B.

      ### Yah, Sukhoi memang tidak bisa terbang sejauh itu.... Begitu mendarat sudah akan langsung butuh maintenance berat.

      India sampai membawa 2 C-17 ke Red Flag, hanya utk men-support 4 Su-MKI, dan 4 Jaguar, Ruski sendiri kelihatan iri dgn kemampuan India membawa Sukhoi mereka ke US (!!)

      Ini dikarenakan pilot AU Russia sudah kehilangan kemampuan utk menerbangkan pespur sejauh F-16... kurang pengalaman, dan kurang jam training.
      Kemampuan utk bisa air-to-air refueling saja sudah tergolong langka di AU Ruski.

      # Tentu saja, biaya perakitan kembali dgn tehnisi mereka, juga akan lebih memaksimalkan komisi perantara.

      ### Delivery kalau dari pabrik, biasanya akan selalu diantar pilot negara asalnya.
      Dahulu, delivery Gripen-C/D ke Thailand juga diantar pilot AU Swedia kok.

      Kalau mau pilot kita latihan terbang jauh.... Libatkan pilot Kita untuk ikut latihan Red Flag, seperti India!

      Tentu saja, ini baru akan lebih mungkin terjadi, kalau tunggangannya mempunyai kemampuan yg jauh lebih baik dari sekarang, dan biaya deploymentnya lebih murah...... Gripen.

      Bisa ikut-serta, dan membuktikan diri dengan performa yg baik dalam latihan Red Flag akan menimbulkan efek gentar tersendiri di kawasan!

      Delete
    7. Kalau kita punya gripen, baiknya si jangan di ikutkan di event red flag. . ntar gripen kita bisa di evaluasi dan akhirnya udah bisa di antisipasi.

      Jadi yang ikut ya F16 hibah aja, dengan catatan pespur kita yang tidak ikut tetap rutin berlatih.



      Menurut mimin, pesawat 2 enggine yang terbaik dan tercanggih itu apa ?

      Delete
    8. Bung Matt,
      ... sebenarnya justru sebaliknya, kalau kita mengoperasikan Gripen, kita harus lebih aktif mengikuti banyak latihan mancanegara.

      Latihan ini bukan hanya menjadi tempat untuk mengetes / mengukur kemampuan sendiri, tetapi juga tempat untuk belajar dari feedback negara lain yang lebih berpengalaman, dan tempat untuk memupuk persahabatan / beroperasi bersama.

      Swedia dapat dipastikan juga akan mulai mengirim Gripen-E ke Red Flag, untuk mengetes prosedural, dan semua kemampuan barunya.

      Feedback dari latihan ini, seperti dari keterlibatan Swedia sebelumnya untuk versi-C/D, akan dipergunakan untuk menjadi salah satu dasar untuk periodical upgrade tahap berikutnya.

      Alangkah baiknya kalau Indonesia bisa turut berbagi masukan dngn Swedia, misalnya, dari hasil Red Flag-nya sendiri untuk bisa berkontribusi ke paket upgrade MS-22.

      Keuntungan semacam ini tidak akan bisa kita dapatkan dari pesawat2 "versi export", yang selain sudah di-downgrade, biaya operasionalnya jauh lebih mahal.

      Contoh lain....
      ================================
      Kenapa efek gentar semua Sukhoi hampir nihil?
      ================================
      Ini justru karena kecuali India; baik Ruski, atau PRC, dua negara pengguna Sukhoi yang lain, dianggap "musuh" bersama yg mengancam kedamaian dunia.
      Tidak ada yang mau berlatih dengan mereka, kemampuan mereka tidak pernah terbukti.

      Makanya Ruski agak ge-er kalau berpikir TVC bisa "memenangkan" close-combat..

      India sendiri sudah belajar, kalau TVC membuat Sukhoi mereka mudah dikalahkan F-15, dan F-16, walau entah kenapa mereka masih merasa agak sombong.
      Feedback dari pilot USAF, dan RAF tidak ada yang menganggap Sukhoi Su-30MKI layak untuk ditakuti kok!

      Bodohnya, Sukhoi MKI India juga dilarang Ruski menyalakan radar mereka dalam latihan, karena faktor kerahasiaan, katanya.

      ... Sebenarnya Ruski hanya takut, kalau gelombang radar Bars-M dipelajari negara2 NATO, dan menjadi mudah di-jamming.

      Sebaliknya, justru kalau mereka takut, seharusnya mereka mengijinkan India untuk mengetes Bars-M.

      Kalau memang bisa di-jamming terus kenapa?

      Perbaiki dong!
      Dan dengan demikian versi Bars-M, dan Irbis-E yg berikutnya menjadi lebih tahan banting!

      Sayang, karena sudah ketakutan sendiri, berarti kemampuan radar PESA Sukhoi ini tidak pernah terbukti, dan dengan demikian dapat dipastikan akan mudah dikalahkan dalam medan konflik yang sebenarnya!

      Yang lebih lucu lagi, bisa dipastikan NATO sudah berhasil mempelajari signal radar Irbis-E Su-35, dan Bars-M Su-30SM dari armada udara Ruski yang ada di Syria.

      ## Kurang pengalaman, dan tidak pernah terbukti!
      Inilah kenapa tempo hari, J-11B PLA-AF (fotocopy dari Su-27SK) ternyata kalah telak 4-0 versus Gripen-C Thailand, yang jauh lebih modern, dan pilotnya jauh lebih berpengalaman,


      Delete
  3. Bung gi..
    Dalam latihan pencegatan sukhoi terhadap t-50 yg dianggap 'gagal' faktor penyebabnya apa.. Karena jangkauan radar sukhoi yg pendek ato tidak ada komunikasi dgn stasiun radar darat..
    Dan apakah mgkn gripen bisa sukses melakukan pencegatan di simulasi tersebut jika erieye tidak disertakan..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung @tutus,

      Sulit untuk menilai apa yg sebenarnya terjadi tanpa adanya laporan tehnis yang lebih mendetail.

      Tapi dari bbrp sumber pengetahuan umum saja:

      ## Semua Sukhoi untuk internal navigation dan positioning, mengandalkan sistem satelit GLONASS buatan Ruski, kemungkinan tidak compatible dengan positioning system di Indonesia, yg akan lebih memakai GPS.

      Ini akan menyulitkan koordinasi antara Sukhoi (yg lain sendiri) dengan radar di darat, ataupin semua asset lain.

      ## Cockpit Sukhoi juga tidak pernah bisa mengoptimalkan situational awareness yang sebanding dengan cockpit Barat.

      ## Radar pulse-doppler di pespur juga sbnrnya kemampuan sudut deteksinya terbatas untuk mencari target, dan menderita apa yg disebut "sidelobe leakage"; memberi gangguan false reading di receiving end radar.

      Mech radar di Sukhoi adalah tehnologi tahun 1980-an belum tentu dapat menanggulangi kesulitan ini dengan baik.

      Tidak tertutup kemungkinan kalau radar di versi Kommercheskiy juga sudah di-downgrade.

      ==========
      Kesalahan mendasar disini:
      ==========

      Semua negara pembeli Sukhoi Flanker sejak tahun 1990-an seperti berharap mereka bisa mengoperasikannya seperti F-15C/E, dengan harga beli yg discount, padahal ternyata kesulitan logistiknya lebih parah, dan biaya operasionalnya jauh lebih mahal.

      Tentu saja, kemampuan Flanker sebenarnya tidak pernah mendekati Eagle dalam hampir segala hal: Situational Awareness, radar, persenjataan, mesin, networking, training, reliabilitas, atau bahkan kinematis: T/W ratio, dan wing-loading Eagle masih lebih unggul.

      Delete
    2. =====================================
      Gripen yang dioperasikan tanpa Erieye
      =====================================
      .... sebenarnya dalam formasi 2 - 4 pesawat, dapat berfungsi sebagai semacam "mini-AWACS" sendiri.

      Semua readings dari setiap radar Gripen dalam formasi tersebut dapat di-"share" bersama dalam satu layar cockpit, melalui sistem TIDLS Fighter-to-fighter network. Jarak jangkau TIDLS sendiri mencapai 500 kilometer; jadi empat Gripen akan dapat berbagi radar coverage yang cukup besar.

      Dalam skenario latihan yang sama, Gripen akan dapat melakukan interception dengan sukses dari hari pertama.

      Hunggaria melaporkan kalau PS-05 radar Gripen dapat memberikan gambaran yang jelas, mulai dari jumlah, jarak, posisi, dan formasi lawan yang bermanuever secara ketat, dan bahkan ---- tidak dapat di-jamming dengan sistem yang dipakai NATO!

      Versi-E bahkan akan dapat mencari lawan dengan radar AESA, atau lebih baik lagi.... secara pasif dengan menggunakan IRST system, yang dapat "melihat" jarak 90 kilometer+.

      Delete
    3. @DR

      Sebenarnya T-50i tidak "kosong melompong" sama sekali, ia dibekali dg ESM, shg tiap kali mendeteksi emisi radar sukhoi maka bisa merancang taktik penghindaran yang tepat.

      Sebenarnya AU telah lama menerapkan taktik sejenis dg wahana yang berbeda...ketika konfrontasi irian barat, GCI radar AU di bula-ambon, radar pd KRI yang beroperasi di area tsb bisa memberikan peringatan dini bagi hercules/dakota AU yang sedang mendrop pasukan di irian barat.

      Sadapan komunikasi radio antara GCI-belanda di biak dan hawker hunter/neptune, diteruskan secara berantai oleh pesawat AU lain yang sedang terbang tinggi shg bisa mengatasi kendala jarak komunikasi yang jauh kpd flight hercules/dakota shg bisa merancang aksi penghindaran yang tepat.

      Hal-hal tsb diatas menunjukkan betapa pentingnya memiliki datalink, shg transmisi data maupin komunikasi radio yang terenkripsi bisa berjalan dg aman.

      Khusus mengenai sukhoi, berbagai preseden di india maupun oleh AU, menunjukkan respon sukhoi yang lambat dlm melaksanakan aksi scramble jika dibanding F-16/T-50i.

      Juga data fusion sukhoi patut dipertanyakan, krn seharusnya ia memiliki kemampuan akuisisi target yang bagus krn selain membawa radar, sukhoi juga memiliki eots...?!!!!

      Delete
    4. Bung hari,

      Apa benar T-50 membawa RWR?

      Baik T-50, atau TA-50, dua versi yg dibeli pemerintah SBY, tidak pernah ditawarkan untuk memakai RWR. Ini khusus untuk versi FA-50.

      T-50 bahkan tidak membawa radar, sedang TA-50 memakai APG-67, seperti BAe Hawk-209, dan mempunyai kemampuan utk mengoperasikan AIM-9 Sidewinder.

      Menurut Korea Times, Washington DC "...put severe restrictions on the specifications of T-50s sold to Indonesia."

      Yah, dengan kata lain, T-50 adalah satu lagi contoh "versi export" US, dan sepertinya memang versi Indonesia sangat basic.

      ## Kemampuan semua Alutsista Ruski, biasanya iklannya selalu melebihi kemampuan aslinya.
      Satu2nya kelebihan mereka adalah R-73, dan Helmet Mounted Display di thn 1980-an... Sebelum industri militer Barat yg dasarnya jauh lebih mapan, dan jauh lebih modern, membuat versinya sendiri yg beberapa generasi lebih unggul.

      OLS-27 IRST di Sukhoi, seperti IRST di MiG-29 yg fehnologi tahun 1980-an, mnrt pilot2 Barat hanya produk lemon, yg kemampuan deteksinya sangat terbatas. Laser-finder-nya jga sangat basic, dan hampir tidak bisa melihat apa2, mungkin jarak maksimum kurand dari 20 km, itu juga kalau cuacanya cerah.

      OLS-35 untuk Su-35 hanya bisa melihat target "seukuran Su-30", dari jarak 35 kilometer.
      Bukan tandingannya IRST buatan Selex-ES, atau OSF di Rafale Perancis.

      ## Di tahun 1960-an, apa yg ada sebut itu lebih mengarah ke SIGnal INTelligence (SIGINT), daripada melihat gelombang radar lawan spt RWR.

      Waktu itu, kemampuan networking Barat masih dalam tahap pembuatan -- gelombang radio mereka kadang masih bisa bocor. Sepertinya kita berhasil menyadap komunikasi mereka.

      Swedia sebenarnya sudah mendahului negara2 Barat dalam Networking, dan waktu itu, sudah mulai menginterasikan komunikasi J-35 Draken mereka ke sistem radar di darat.

      Encrypted communication. Sulit untuk disadap, dan hampir mustahil bisa di-jamming.

      Delete
    5. @DR

      Benar oom...hal ini pernah diulas di majalah angkasa ketika mengangkat topik ttg latihan tsb (sukhoi vs t-50i di biak).

      Tampaknya rwr tsb buatan ellektronita/itali, sama dg terpasang di hawk 100/200 dan cn-235 mpa milik TNI AL

      Delete
    6. Trmksh atas infonya, bung hari.

      Hm, menarik juga.
      Kemungkinan RWR ini sifatnya plug-n-play, jadi tidak terintegrasi ke source code T-50 --- dan dengan demikian, tidak perlu ijin modifikasi dari Washington DC.

      Kita bisa membayangkan lagi apa yg bisa terjadi dari hasil latihan ini, bukan?

      F-16 Block-25+ dari Sku-03/16, yang membawa radar APG-68 dngn kemampuan BVR, RWR yang lebih modern, dan AMRAAM C7 akan dapat dengan mudah menembak jatuh Sukhoi, hampir tanpa perlawanan.

      Radar Sukhoi Sku-11 bahkan tidak akan pernah bisa melihat dimana F-16, sebelum tiba2 AMRAAM sudah menancap diperutnya!

      Tidak heran performanya lemot sewaktu berhadapan dengan Beechcraft bbrp bulan kemudian.
      Bukan salah pilot, tetapi memang pesawatnya tidak compatible dgn sistem kita, dan kemampuannya downgrade-nya jelek.

      Yah, untuk negara yg pernah menghibahkan MiG-21 ke US,
      Ruski tidak akan mungkin memberikan spesifikasi Sukhoi yg kemampuannya lebih solid, atau paling tidak, bisa menyamai Su-30MK2 Vietnam,
      karena semakin hebat, resikonya semakin besar rahasianya kembali bocor ke Washington DC.

      Tentu saja, ini juga akan berlaku ke Su-35, yang versi aslinya saja, yg masih memakai R-27, atau untested/unproven R-77, sudah bukan tandingan pesawat2 negara tetangga.

      Sebaliknya, F-16 Block-25+, atau versi-V juga sama saja.
      Washington akan khawatir kalau spesifikasi yg terlalu tinggi, kemungkinan rahasia bocor ke Moscow menjadi semakin besar.

      Apalagi ini sudah kedua kalinya Indonesia mencoba "main mata" dengan Russia sejak tahun 1960.

      Demikianlah akibat polemik armada gado2 Sukhoi v F-16.
      Yang rugi negara, dan seluruh rakyat Indonesia, bukan?

      Delete
    7. Bung hari,

      Leornado-Finmeccania (pembuat radar, IRST, dan IFF utk Typhoon / Gripen) mengkonfirmasi installasi RWR Seer untuk beberapa BAe Hawk-209 bulan Februari-2016 yang lalu.
      ============
      http://www.janes.com/article/58037/singapore-airshow-2016-indonesia-to-upgrade-hawk-200-209s-with-rwr-self-protection
      ============

      ... tetapi sejauh ini tidak ada konfirmasi kalau RWR ini dipassang ke T-50.

      Kalau melihat bentuk unitnya, kemungkinan installasinya akan memerlukan ijin dari Washington DC, karena harus diintegrasikan ke unit komputer pesawat.

      Delete
    8. Tentang rwr ada kok di majalah angkasa (bisa dicari pd edisi lama ttg latihan tsb)...mengenai produk mana, hanya dugaan saya saja

      Delete
    9. This comment has been removed by the author.

      Delete
  4. ===============================
    Inilah kenapa kita harus mempertanyakan, kenapa dahulu Kemenhan, dan TNI-AU sempat berkeras membeli Sukhoi Su-35, yang lagi2 hanya akan menjadi versi Kommercheskiy, padahal service record Sukhoi Su-27/30 saja tidak pernah terlalu bagus, dan kesulitan maintenancenya sudah seabrek.

    ## Bagaimana caranya Sukhoi (versi manapun) akan dapat memajukan pertahanan Indonesia?

    ## Apakah sudah mengecek prosedur training akan bersaing dengan standard NATO, atau apakah biaya operasionalnya terjamin akan terjangkau?

    ## Apakah keuangan negara terjamin, dapat membayar biaya operasional Sukhoi?
    Membeli dalam jumlah cicilan + biaya komisi sih, biaya operasional Su-35 Kommercheskiy Indonesia bisa meledak 200 - 300% lebih mahal dibanding di Russia.

    ## Apakah dapat menjamin Rosoboronexport akan dapat melakukan after-sales service yang lebih baik dibanding perlakuan mereka di India?

    ## Kenapa Su-35, dan Su-30SM Russia sendiri masih memakai "crappy" R-27 missile di Syria, dan diatas Baltic?

    ## Kenapa Ruski sendiri menjual versi export dari missile, yang mereka tidak pernah pakai? Berapa kemungkinannya bisa mendapat pK (probability Kill) yang sebanding dengan AMRAAM C7 yang sudah dipakai F-16 Block-25+?

    ## Terakhir, pesawatnya saja tidak pernah di-test drive, atau pernah datang ke Indonesia.

    Kalau kita mau membeli mobil, atau motor; pasti akan meminta test drive dulu, bukan?

    Untuk pesawat tempur, dimana kita akan menggantungkan pertahanan negara, wong belum pernah dicoba, kok sudah buru-buru mau langsung "asal beli"?

    ReplyDelete
  5. Secara pribadi saya lebih senang Typhoon, tp secara realistis Gripen lebih cocok untuk Indonesia yg mempunyai banyak bandara kecil dan anggaran yg cekak

    ReplyDelete
    Replies
    1. bung @Haykal,

      Berikut perbandingan antara kedua Eurocanards ini:

      Keunggulan Typhoon atas Gripen:
      =================================
      ## Ukuran AESA radarnya lebih besar - 1500 transmitter, ukurannya sebanding vs F-15, dan F-22, jarak deteksi / tracking akan lebih unggul mungkin antara 10 - 20%
      ... Pembuat radar Gripen / Typhoon sama: Selex ES, skrg sudah berganti nama ke Leonardo Fimmecannia

      ## Kemampuan kinematis akan lebih unggul, krn T/W ratio yang lebih tinggi. Kecepatan Supercruise dilaporkan diatas M1,4+; sedangkan Gripen-E melaporkan M1.25+
      ..... tetapi menurut pernyataan pilot Gripen-C di Eropa, perbedaannya tidak cukup besar; Gripen masih dapat mengalahkan Typhoon.

      Kelemahan Typhoon:
      =======================
      ## Harga per unit hampir dua kali lipat lebih mahal, dan biaya operasionalnya... EMPAT kali lipat lebih mahal.
      Tentu saja jumlah jam maintenance juga sekitar 16 jam / jam terbang, atau hampir 4x lipat Gripen.

      Ini artinya mudah -- setiap Gripen dapat terbang lebih sering dalam sehari.

      ## Biaya integrasi untuk setiap persenjataan baru juga jauh lebih mahal; untuk MBDA Meteor hampir 3x lipat dibandingkan Gripen.
      Typhoon juga belum akan siap membawa Meteor sampai tahun depan, atau bisa lebih telat lagi.

      ## Eurofighter kabarnya juga masih bermasalah untuk bisa memperpanjang usia dasar airframe ke 8,000 jam.

      Dari segi jarak jangkau, perbedaan antara keduanya tidaklah berbeda jauh.
      Gripen-E juga akan membawa Gallium-Nitride Jammer, Typhoon belum.

      Delete
  6. Min, katanya negara kita adalah salah satu negara dengan militer terkuat di Asia, apakah betul itu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dari segi Alutsista udara saja:

      ## Kita tidak pernah merancang bangun sistem pertahanan udara ultra-modern, seperti yg sudah dimiliki Jepang, Singapore, atau Australia.

      ## Kita tidak mempunyai pesawat AEW&C, pesawat tanker juga cuma 1.

      ## Kita tidak mempunyai National Networking, yang sebanding dengan sistem Link-16 /-11.

      ## Kita mengoperasikan 50 pesawat tempur, tetapi hanya versi export kelas tiga, terus gado2 lagi dari dua negara yang saling mencurigai satu sama lain.

      ## ... .lebih parah lagi, hanya membeli 100 Air-to-Air Missile, dan separuhnya lagi2 hanya versi export.

      ============
      Lebih lanjut, kalau mlihat secara umum
      ============

      ## Anggaran pertahanan Indonesia juga temasuk yang rendah dibanding Australia, Singapore, Jepang, Korea Selatan, kemudian juga PRC, dan Taiwan,

      ....tetapi pembelanjaannya sangat menyukai gado2 / mencampur-adukan macam2 supplier, yang justru membuat biaya operasional menjadi lebih mahal, dan support lebih sulit.

      ## Tentara kita juga tidak cukup pengalaman, karena belum pernah terlibat konflik dengan negara lain.
      Vietnam, misalnya, sudah banyak makan garam dari perang dengan US, PRC, dan Kamboja.

      ## Industri pertahanan kita juga baru mulai dibangun kembali, tetapi kemajuannya belum beraturan, dan kurang terorganisir dengan baik..... Jauh dari kemandirian.

      ## jumlah personil tentara mungkin memang temasuk paling banyak (dari TNI-AD),
      .... akan tetapi.....

      ...kapasitas angkut kapal / pesawat / helikopter juga sebenarnya masih kurang mencukupi untuk dapat memindah2kan satu divisi penuh dari satu pulau, ke pulau lain.

      ## Polemik Leopard -- ini hampir tidak mungkin bisa dipindah2kan cepat dari satu pulau, ke pulau lain, dan TNI-AD sepertinya belum benar2 menguasai kebutuhan logistik support, yang dibutuhkan MBT dalam konflik yang sesungguhnya.

      IMHO, kita masih harus banyak belajar lebih dahulu, dan membereskan semua prioritas Renstra, agar lebih terfokus untuk membangun Sistem yang siap tempur.... sebelum mulai meng-klaim "kuat" di Asia.

      Tentu saja, semua negara lain dapat melihat semua kelemahan2 di atas.
      selama tidak ada kemauan untuk berevolusi menjadi lebih baik, ya, selamanya akan begitu2 saja

      Delete
    2. Jadi Indonesia hanya unggul dari segi manpower tp dari segi equipment dam technology msh sangat" kurang?

      Delete
    3. Spt diatas, perbedaan Indonesia dibanding negara lain adalah Sistem.

      Sistem selalu menjadi dasar atas semua perencanaan pertahanan, dan prinsip dasarnya sangat sederhana:
      ## Sistem Training setiap personil harus terus mencoba untuk lebih baik daripada negara lain. Setiap personil harus tahu apa yg mereka lakukan, dan bagaimana beradaptasi cepat tergantung si-kon (point kedua dibawah).

      Tentu saja, perlengkapan yang baik adalah perlengkapan yang paling dapat mendukung sistem training terbaik yang bisa diberikan.

      Inilah kenapa terobsesi membeli pespur versi export, apalagi dari Ruski, yg biaya operasionalnya tak terjangkau, justru hanya akan semakin memperlemah Indonesia.

      Inilah juga kenapa, prioritas utama pespur Indonesia, seharusnya adalah plaftorm yang paling bisa memberikan keuntungan training yang paling maksimal.... ehm.... Gripen.....ehm...

      ## Situational Awareness. Negara harus mempunyai keahlian untuk bisa lebih bisa mengawasi, dan menguasai situasi-kondisi setiap wilayah / titik strategis yang bisa menjadi medan tempur, dibanding pihak lain.

      Misalnya, mari berasumsi kalau gunung Salak adalah salah satu titik strategis.
      Maka setiap unit TNI sudah harus lebih tahu seluk-beluk gunung ini lebih dibanding lawan: mana jalan pintasnya dari darat, pespur harus terbang dari sudut mana agar dapat memanfaatkan terrain dan membuatnya tidak terlihat lawan sampai detik terakhir, dll.

      Tentu saja, harus ada sistem pengawasan yg bagus, sehingga kita tahu dimana musuh, sedangkan mereka harus menebak-nebak unit kita dimana. Inilah contoh penguasaan situational awareness: kita lebih paham medan tempur dibanding lawan.

      ## Terakhir, strategi yang cohesive, dan adaptable.
      Ada pepatah di Barat, semua rencana rapi yang sudah ditulis bagus-bagus, bisa langsung berantakan begitu peluru pertama ditembakkan!
      Strategi yang bagus harus sangat pandai utk bisa beradaptasi, dengan memaksimalkan kedua keunggulan di atas.
      Kita harus siap menerima kekalahan terlebih dahulu, tetapi bisa membalikkan kekalahan itu menjadi kemenangan.

      Kita bisa melihat sendiri, Indonesia tidak pernah mempunyai sistem yang baik,
      ... dan karena itu pembelian alutsista menjadi dari sumber yg gado2, tanpa kelihatan ada perencanaan strategis yang jelas.

      Mengoperasikan F-16, dan Sukhoi berbarengantidak pernah masuk akal dari sisi strategis, dan kenapa hanya ada kurang dari 4 missile per pesawat?
      Efek gentar: NOL -- mengoperasikan Su-35, dan KF-X hanya akan memperparah keadaan.

      Tank Leopard, spt diatas, tidak pernah masuk akal.
      Logika saja: Negara kita adalah negara kepulauan, dan MBT (Main Battle Tank) seberat 60 ton sangat sulit utk dipindah2kan antar pulau, dan kebutuhan logistiknya luar biasa berat!

      Dalam konflik Russia - Georgia di tahun 2008 saja, dua negara yg berbatasan langsung di darat, dan masing2 mengoperasikan ratusan MBT. Diatas kertas, bukankah seharusnya ada perang tank, tapi ternyata apa yg terjadi?

      Tank Ruski, dan tank Georgia tidak pernah saling bertemu!

      MBT dari kedua belah pihak kerap malah bertemu dengan infantri lawan, yg sudah siap membawa anti-tank missile, dan MBT selalu menjadi pihak yg kalah!

      Ini menggariskan kelemahan lain dari MBT -- harus dioperasikan dalam combined Arms strategy, dalam artian MBT harus bergerak didukung infantry, helikopter, dan kalau perlu juga harus memanggil bantuan air support.

      Dari sini, kita juga bisa melihat sendiri... kita belum mempunyai kemampuan, atau pengalaman untuk dapat memakai Leopard dengan baik dalam pertempuran, bahkan kalaupun juga pertempurannya di ladang luas yang terbuka di pulau Jawa, atau Sumatera.

      Delete
    4. Tambahan:
      ========

      Dalam keadaan sekarang, kalaupun kita menambah jauh lebih banyak jumlah equipment, dengan tehnologi yang semodern mungkin, untuk alasan modernisasi, tetap saja, tanpa sistem yang baik, semuanya hanya akan menjadi istana pasir.

      Renstra TNI-AU menginginkan 160 pesawat tempur, atau 10 skuadron.

      160 pswt perpaduan dari Sukhoi, dan KF-X?

      Biaya operasionalnya akan terlalu mahal untuk anggaran yg tersedia, servicability kedua pesawat tidak akan bisa terjamin, dan training dari dua tipe yg tidak compatible, tanpa ada guru yg baik, akan tetap tertinggal jauh vs Singapore, dan Australia.

      Belum lagi menghitung, kalau menambah jumlah pilot dan crew AU itu sulit, karena akan selalu harus bersaing dengan sektor komersial.
      US, dan Russia saja menghadapi kendala yang sama, dan paket remunerasi TNI-AU tidak akan bisa terlalu bersaing!

      Tidak ada sistem, maka jumlah sebanyak apapun, walaupun semodern apapun, tidak akan ada artinya menghadapi negara yg dari awal sudah memprioritaskan sistem yg baik.

      Delete
  7. bisakah dengan intgrated system dari SAAB menghubungkan tiga matra untuk koordinasi pak. thanks

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa.

      Swedia adalah salah satu pelopor dalam bidang integrated networking, yang bahkan mendahului sistem NATO.

      Segala sesuatu terintegrasi dalam satu network disana.

      Inilah salah satu bentuk kerjasama yg mereka tawarkan secara jangka panjang.

      Delete
  8. Bung GI kenapa India tidak membeli SU 35, Tapi justru membeli Rafale yang super mahal...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepertinya untuk sekarang, India sudah cukup kapok memakai Sukhoi; dengan segala kesulitan maintenance, dan permasalahan Rosoboronexport.

      Walaupun Rosoboron kemudi9an pernah mencoba "pitch" Su-35, mereka tidak merasa versi -35 jauh lebih sakti dibandingkan Su-MKI.

      ========
      Rafale
      ========
      Kalau dipikir, sebenarnya program akuisisi India sebenarnya sangat kacau-balau.

      Program MMRCA dahulu kala untuk 108 pesawat itu sebenarnya tidak pernah masuk di akal.

      ## India sepertinya mencoba membedakan kalau Rafale di Medium-class, sedangkan Su-MKI berada di Heavy class.

      Kenyataannya, kemampuan Rafale, dan MKI sebenarnya saling "overlapping" --- Rafale dapat melakukan semua yang MKI bisa, dengan jarak jangkau / payload yang sebanding, dan kemampuan yang jauh lebih unggul; berkat AESA radar / OSF-IRST.

      Satu hal lain yang Rafale bisa, dan MKI tidak akan bisa: Membawa senjata nuklir!

      ## Kenyataan lain: India sebenarnya tidak membutuhkan lebih banyak twin-engine --- mereka sbnrnya lebih membutuhkan pespur ringan single-engine, untuk menggantikan MiG-21/23/27, dan SEPECAT Jaguar!

      Kita perhatikan saja bagaimana perkembangan Rafale di India; kabarnya mereka baru tutup kontrak.

      Perbandingan antara MKI / PAK-FA, dan Dassault Rafale sudah pasti akan terjadi -- dan, IMHO, Rafale adalah pesawat yang jauh lebih unggul!

      Delete