Tuesday, September 6, 2016

Adolf Georgievich Tolkachev - Kenapa efek gentar SEMUA Sukhoi menjadi NOL BESAR!!

Su-30MK2 Indonesia -- Gambar: TNI-AU
Semua Sukhoi secara tehnis sudah kadaluarsa dari sebelum pertama terbang!

Adolf Georgievish Tolkachev adalah informan nomor satu Soviet untuk Central Intelligence Agency (CIA) United States antara tahun 1979 - 1985. Beliau bekerja di Phazotron Design Bureau, dan sudah membocorkan ribuan blueprint (CIA press release) dari hampir semua sistem radar, tehnologi pesawat, missile, bahkan sampai tahap awal pengembangan stealth Uni Soviet ke tangan militer Amerika Serikat, sebelum akhirnya tertangkap, dan di-eksekusi Soviet di tahun 1986.

Bukankah bocornya rahasia Soviet ini, hanya untuk tahun 1979 - 1985???

Sekarang sudah tahun 2016. Bukankah seharusnya Russia di jaman sudah pulih dari semua kebocoran ini?

Tom Cooper menuliskan dalam artikel di War-is-boring, bagaimana kekuatan udara Russia di jaman sekarang, sebenarnya belum pernah benar-benar bisa pulih dari "kebocoran" yang terjadi di tahun 1980-an awal ini. 

Untuk menggali lebih dalam..



Knowledge is power: Sejak tahun 1980-an, Angkatan Udara Barat sudah memahami 100% kemampuan / keterbatasan setiap pesawat / radar / missile buatan Ruski!  

Link: War-is-Boring

Tidak hanya berhenti disana, informasi Tolkachev juga menjadi dasar baru untuk sistem training negara-negara Barat. Sudah menjadi bagian dari latihan standard pilot-pilot NATO sejak tahun 1980-an untuk dapat mengalahkan Su-27, MiG-29, dan semua jenis SAM, atau radar system buatan sistem Soviet.
Adolf Georgievich Tolkachev
(CIA file Photo)
Tom Cooper menuliskan lebih spesifik kalau: 
  • Pilot F-14A US Navy di tahun 1986, sudah memahami 100% kemampuan MiG-23 Libya yang mereka tembak jatuh.
  • Pilot A-7E Corsair II US Navy tidak kesulitan menghadapi SA-5 Libya, karena mereka sudah tahu persis bagaimana caranya menghancurkan SAM system itu dengan baik.
  • Sistem pertahanan Iraq yang sudah dibangun dengan rapi, dan ditempa dalam perang Iran-Iraq, hanya dapat bertahan selama 3 hari, sebelum dihabisi dengan total dalam Dessert Storm 1991.
Di lain pihak, tidaklah mengherankan kalau Angkatan Udara Israel dapat dengan mudah merobek-robek pertahanan sistem ala Soviet di Syria, dalam pertempuran di Bekaa Valley, 1982. Kemungkinan besar, mereka juga sudah mendapat inside information, bagaimana secara spesifik dapat men-jamming / mengacaukan setiap radar, dan setiap radio komunikasi Syria.

Untuk melihat ke trend yang lebih dekat, Angkatan Udara Israel di tahun 2014 dapat menerbangkan F-15I di siang hari bolong, untuk membom target di Syria, sembari mempercundangi Buk-M missile battery, dan SA-2 tanpa dapat tersentuh.

Walaupun kebocoran rahasia Uni Soviet ini sudah terjadi hampir 40 tahun yang lalu, tidak semudah itu untuk industri Alutsista Udara Russia dewasa ini untuk dapat pulih dari kerusakan yang sudah terjadi, karena kenyataan yang berikutnya.



Uni Soviet JATUH BANGKRUT tidak lama setelah Tolkachev tertangkap, dan sejak itu kemajuannya tidak bisa banyak! 

Kemampuan keuangan Soviet, dan kemudian Russia, sebenarnya tidak pernah mencukupi untuk memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan akibat kebocoran rahasia Tolkachev.

Seperti bisa dilihat di atas, anggaran pertahanan Soviet (kemudian Russia) terjun payung di tahun 1989 dari angka di atas $300 milyar, menjadi kurang dari $100 milyar. Semenjak itu, anggaran pertahanan Russia, yang mewarisi peninggalan Uni Soviet, belum pernah berhasil menembus angka $100 milyar. Bahkan walaupun akhir-akhir ini, Russia mencoba mendongkrak anggaran pertahanan mereka menjadi jauh lebih tinggi, tetap saja nilai total ini sebenarnya masih kurang dari 30% anggaran di masa Soviet.

Sama seperti teen fighters US yang masih berakar di tehnologi tahun 1970-an, mau tidak mau, karena keterbatasan dana yang lebih parah, dan keterbatasan pengembangan tehnologi industri militer Russia; mulai dari PAK-FA, Sukhoi Su-35S, Su-30SM, dan MiG-29SMT masih akan terus mewarisi base technology yang sama sejak masa kebocoran Tolkachev.

Salah satu upaya para ahli Russia untuk memperbaiki "kerusakan" yang sudah terjadi, adalah meningkatkan kemampuan Air Combat Manuevering di Sukhoi, eh... malah dengan memasang mesin Thrust-Vector-Control. India termakan iklan ini, dan mungkin mulai menyesal membeli Su-30MKI. 
Memang keren kalau dipertunjukkan dalam Air Show, sayangnya...
sama sekali tidak relevan dalam pertempuran udara!
(Gambar: M0tty via wikimedia)
Sementara itu, para pilot Angkatan Udara negara-negara Barat sebenarnya hanya tersenyum-senyum sendiri melihat Thrust-Vectoring Sukhoi di Paris Air Show 2013. Tidak hanya mesin TVC menjadi lebih rumit, dan dengan sendirinya akan selalu mengurangi reliabilitas; kemampuan TVC sebenarnya hanya akan menjadikan mereka mangsa empuk dalam pertempuran udara!
Link: The Aviationist
Inilah alasan kenapa pesawat tempur Barat memilih untuk tidak memasang Thrust-Vector-Control,
yang hanya asyik untuk ditonton di pertunjukan udara!
Keuangan Negara akan selalu mendikte besarnya anggaran pertahanan. 

Sekarang sejarah sedang mengulangi tragedi yang sama untuk prospek perkembangan industri pertahanan Russia untuk menjauh dari kebocoran rahasia mereka. Sama seperti Uni Soviet di tahun 1980-an, keuangan Russia tetap saja tergantung kepada harga minyak mentah, yang sebagaimana kita tahu, sudah jatuh dari harga US$100 / barrel, ke bawah harga US$40 / barrel sekarang. Setelah menikmati masa kenaikkan anggaran selama 10 tahun terakhir, pada akhirnya Moscow memutuskan untuk memotong anggaran pertahanan mereka 5% di tahun 2016.

Tidak ada uang, maka biaya development berkurang, dan prospek pengembangan tehnologi Russia, yang memang pada dasarnya sudah lebih terbatas dibanding industri Barat, dengan sendirinya tentu saja akan semakin berkurang.

Bahkan PAK-FA-pun baru saja dikritik sebagai "versi dari Su-35 yang terlalu mahal", tanpa ada keunggulan kemampuan yang berarti.



Bocornya rahasia Soviet via Tolkachev hanyalah salah satu dari banyak kebocoran rahasia yang lain sejak tahun 1960! 


Pemerintah Orde Baru Indonesia tentu saja sudah turut berkontribusi untuk menjatuhkan industri Alutsista Soviet dengan donasi 13 MiG-21F-13, dan memberikan kesempatan kepada USAF untuk pertama kalinya, dapat mengoperasikan satu skuadron penuh MiG-21 di 4477th Testing Squadron. Sebelum Tolkachev, hibah MiG-21 Indonesia mungkin terhitung kemenangan terbesar intelligence coup United States dalam "mencuri" tehnologi Soviet / Russia.

Runtuhnya Uni Soviet membuka hampir semua kartu yang masih disembunyikan, seperti MiG-29, dan R-73 missile Ex-Jerman Timur. Unifikasi Jerman memberikan kesempatan untuk NATO menguji keunggulan High-Off-boresight R-73, yang dipadukan Helmet-Mounted-Display di MiG-29; yang ternyata sudah lebih unggul dibandingkan kombinasi F-16, dan AIM-9M missile di waktu itu. 

Keunggulan ini tentu saja tidak berlangsung lama, karena hampir setiap negara Barat kemudian mulai menjadikan Helmet Mounted-Display menjadi standard di setiap pesawat tempur (kecuali untuk F-22A, dan F-16 Block-25+ versi export Indonesia), dan memproduksi High-Off-boresight missile generasi terbaru, dengan kemampuan kinematis, IRCCM (Infra-Red Counter Counter Measure), dan IR-seeker yang jauh lebih modern; dimulai dari IRIS-T (Jerman), dan AIM-9X (US).

Dengan demikian, US, dan negara-negara Barat memastikan diri untuk tetap up-to-date, dan lebih unggul beberapa langkah dari apapun yang terbaik yang bisa dibuat Russia. 



Penutup: Apa konsekuensinya untuk pemakai Sukhoi Kommercheskiy awam seperti Indonesia? 

Pernyataan kalau efek gentarrrr Sukhoi "sangat terasa" di kawasan ini, sebenarnya hanya membohongi diri sendiri.

Sukhoi Su-27SK/SKM, dan Su-30MK/MK2 di Skuadron-11 hanyalah versi kommercheskiy, alias model downgrade dari keluarga Su-27 bertehnologi tahun 1980-an, yang hampir 99% rahasianya sudah dibocorkan Adolf Georgievich Tolkachev. Kemampuan tempurnya tidak akan bersaing, hanya bisa dipersenjatai dengan RVV-AE; missile versi export yang tidak pernah diuji coba secara intensif, problem maintenance-nya sudah menumpuk, dan biaya operasionalnya yang setinggi langit hanya akan memeras keuangan negara.

Efek gentar NOL BESAR, dan masih senang mudik berbulan-bulan lagi!
(Gambar: TNI-AU)
Di lain pihak, semua pilot pesawat tempur Barat, termasuk Australia, dan Singapore, sudah mendapat pelajaran bagaimana caranya menghadapi keluarga Flanker. Bahkan boleh dibilang, mungkin mereka lebih paham tentang Sukhoi Flanker, dibandingkan Indonesia, berkat pengalaman berbagi informasi, dan latihan bersama selama puluhan tahun, sebelum kita mulai mengoperasikan Sukhoi.

Kesemua angkatan udara ini juga akan mempunyai guesstimasi yang cukup akurat untuk dapat memprediksi semua kemampuan tempur Su-35S, yang di atas kertas saja sebenarnya sudah sangat meragukan akan dapat bersaing dengan pesawat tempur modern di kawasan Asia Tenggara.

Inilah juga kenapa, Sukhoi content dalam website referensi favorit para penggemar Sukhoi sedunia ini, sebenarnya juga semakin tidak relevan.

Tehnologi pesawat tempur Russia sudah terlalu sering dipercundangi bermacam-macam faktor, mulai dari hibah Indonesia, sampai kebocoran rahasia di kiri-dan-kanan. Biaya operasional yang terlalu mahal, akibat dari hasil design Soviet di akhir tahun 1970-an, yang memilih desain Heavy Twin-Engine, artinya juga tidak akan mungkin ada satupun pilot pesawat tempur buatan Ruski, yang akan dapat bersaing dengan kemampuan pilot F-16 NATO.

Sudah saatnya menghentikan program Alutsista gado-gado, dan kembali berpaling ke industri pertahanan Barat, eh, Eropa... untuk membangun industri, dan sistem pertahanan masa depan Nasional yang lebih baik.

10 comments:

  1. bung sebetulnya peran armada shukoi ini apa sih,kalau untuk patroli terlalu mahal sedang untuk misi intercept seperti yg sudah2 juga kurang efektif terahir buat menjaga Natuna juga malah f-16 dan tucano yg dipake apa cuma buat parade doang

    ReplyDelete
    Replies
    1. IMHO, armada Sukhoi di Sku-11 memang tidak pernah relevan untuk kebutuhan Indonesia.

      ## Secara strategis, Tolkachev factor spt diatas sudah membuat efek gentarnya NOL besar.
      Kita tidak bisa mimpi kalau Sukhoi "ditakuti" negara lain.

      ## Lagipula, Ruski tidak akan pernah mempercayai Indonesia dengan versi export Sukhoi yang kemampuannya bersaing, bahkan dibandingkan F-16 Block-52+ Singapore.

      Mengingat kita juga mengoperasikan lebih banyak F-16, kemudian baik secara diplomatis/ sosial/ ekonomi kita akan selalu lebih akrab ke US, dan Australia, dan sejarah masa lalu menghibahkan MiG-21; sudah saatnya juga bangun dari mimpi "Su-35".

      ## Biaya operasional terlalu mahal, bukan hanya karena tipe ini haus maintenance, tetapi juga karena komisi perantara yg akan dipasang di tiap harga spare part / service.

      Inilah kenapa lebih cepat mempensiunkan Sukhoi lebih baik untuk negara, dan sekali lagi.... Saatnya berhenti bermimpi "Su-35!"

      Delete
  2. Hmm...barat the best ya ? Bagaimana dengan f35 yg kaya ngos ngosan ...bagaimanapun kalau kita berpaling ke barat kita akan selalu 2 langkah di bawah singapura...liat pengalaman kita waktu berpaling ke barat : f16 kita 98% grounded akibat embargo

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung @utuy,
      Sy sudah menuliskan dengan panjang lebar dalam dua artikel sebelumnya; kenapa F-35 adalah pesawat yang tidak karuan.

      F-16 di-embargo... sy sudah menuliskan sebelumya disini:
      http://gripen-indonesia.blogspot.com/2016/08/perbandingan-f-16-block-25-block-52id.html

      Seharusnya kita bangga, walaupun di tahun 2003, F-16 "seharusnya" sudah tidak bisa terbang;
      eh, ternyata TNI-AU masih bisa mengudarakan 2 F-16 bersenjata lengkap, untuk menghadang 5 F-18 Hornet (atau Super) USN dalam insiden pulau Bawean!

      Ini justru memperlihatkan kalau F-16, yang lebih sederhana; faktor reliabilitas-nya sangat tinggi, dan tetap dapat dioperasikan (walaupun dengan kanibalisme spare part), dalam kekurangan.

      Kalau kita berpikir "takut embargo", makanya tidak mau beli dari US, ini sebenarnya konsep pemikiran yang salah.

      Mau membeli dari Ruski?
      Sukhoi, tanpa perlu di-embargo saja, dalam 10 tahun sudah rusak sendiri, dan harus menjalani "perbaikan mendalam" selama berbulan2.
      Dan ini sebenarnya normal, karena buatan Ruski memang tidak pernah didesain untuk tahan lama, seperti semua tipe Barat.

      Apa bedanya "perbaikan mendalam" dengan embargo militer, bung?
      Toh, dalam kedua skenario, pesawat yg sudah dibeli, tidak bisa dioperasikan lagi, bukan?

      Pelajaran yang harus diambil dari pengalaman pernah di-embargo, seharusnya adalah
      mengambil langkah untuk menuju kemandirian sistem pertahanan nasional.

      Seperti sekarang, kita bisa melihat sendiri; sebenarnya kita seperti melompat dari mulut harimau, ke mulut naga berkepala sepuluh!

      Delete
    2. Oiya,
      jangan lupa juga seperti sy sudah tuliskan di artikel di atas;

      ## Russia tidak akan pernah melupakan Indonesia setelah melakukan pengkhianatan hibah MiG-21 ke US.

      ## Lagipula Ruski mempunyai kebiasaan untuk menjual versi "Kommercheskiy", alias model export / downgrade, yang spesifikasinya miring dibandingkan yg dipakai Russia sendiri.

      Delete
  3. Tapi gripen bukan pilihan pertama... masih ada Fiver kok..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung @rukanda,

      Saab Gripen-E adalah pilihan yang paling ideal untuk Indonesia dalam segala hal:

      ## 100% ToT, dan kerjasama jangka panjang dengan Saab untuk membangun industri pertahanan lokal: menjamin kedaulatan, dan menjadi dasar yang baik untuk kemandirian.

      Saab juga satu2nya supplier yang berkomitmen memenuhi UU no.16/2012.

      ## Biaya operasional murah, sangat sesuai dengan keterbatasan anggaran --- 2 skuadron Gripen-E masing2nya dapat berlatih 170 jam / tahun dengan biaya yang sama dengan 1 Skuadron Sukhoi yang sekarang.

      ## Tidak seperti Ruski, atau US, Saab tidak menjual "versi export", yang kemampuan tempurnya dikurang2i.

      ## Dapat beroperasi dari hampir semua landasan perintis di seluruh Indonesia, tanpa perlu investasi mendalam untuk meng-upgrade semua landasan agar cukup mewah untuk menoperasikan pespur.

      ## Networking, dan AEW&C -- 16 Gripen, yang didukung 2 Erieye, akan dapat memberikan pengawasan wilayah udara nusantara jauh lebih optimal dibandingkan status quo sekarang, dengan armada gado2 yang tidak karuan.

      ## Tentu saja, Gripen-E sebenarnya adalah pesawat tempur Abad ke-21, yang kemampuannya akan jauh lebih unggul dari F-35 US atau Su-35 Ruski.

      https://gripen-indonesia.blogspot.co.id/search/label/Kebutuhan%20vs%20Keinginan

      Delete
  4. bgaimana mungkin flanker tidak mempunyai daya gentar??? artikel ini tidak mendasar, knapa? dalam latma pitch black 2012 saat TNI AU mengirim armada sukhoi 27/30 di Ausie pihak Ausie sendiri menydari betapa F-18 hornet mereka kalah dalam segala lini pertempuran udara melawan flanker TNI AU. mereka mengatakan bahwa hornet bisa meraih keunggulan tapi harus di bantu pesawat AWACS milik RAAF dlm skeneraio dogfight.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Artikel itu baru ngaco, kalau referensinya tidak jelas, terus menuliskan kalau "efek gentar Sukhoi luar biasa!"

      Kalau mau contoh artikel semacam itu sih banyak, di rata-rata blog militer Indonesia yang lain.

      Yah, kenyataannya, silahkan melihat link dari CIA press release dalam artikel diatas; semua rahasia Sukhoi memang sudah bocor ke tangan U.S. sejak dahulu kala.

      ## ... dan Su-27SK/SKM, dan Su-30MK/MK2 mempunyai suatu kesamaan ---
      Kommercheskiy Model kommersial = versi export = yang sudah di-downgrade untuk keperluan export Moscow.

      ## Jangan lupakan juga, kalau persenjataan Sukhoi juga persenjataan versi export:
      R-73E/EL adalah versi export dari R-73, yang sudah ketinggalan jaman; versi terbaru: R-74, atau K-74M2 (tidak tersedia untuk export)

      RVV-AE adalah versi export dari R-77.
      Ini lebih menarik, karena Russia sendiri tidak pernah membeli, mengoperasikan, atau mengetes R-77 secara intensif. Semua foto Sukhoi AU Russia, bahkan sampai di Syria sekalipun, selalu membawa..... R-27 (AA-10 Alamo), produksi tahun 1980-an warisan Soviet, dengan Semi Active Homing, yang sudah ketinggalan jaman.

      ## Biaya operasional mahal, dan senang mudik ke negara asalnya. TS-2701, dan TS-2702 sudah mudik sejak Desember-2015, dan masih belum pulang. Ini kan lebih parah dari embargo?

      Ini semua fakta, dan bukan mimpi!

      Lebih lanjut,
      Menurut mitos yang merebak di Indonesia, memang F-18 Hornet kalah dari Su-27/30.

      Tetapi bagaimana bisa?

      Pelajaran disini: Jangan meremehkan Super Hornet, apalagi kalau dioperasikan RAAF, salah satu angkatan Udara terbaik di dunia.

      ## Pertama-tama, pilot Australia yang mengikuti prosedur latihan NATO 170 - 200 jam per tahun, sudah jauh lebih terlatih dibandingkan pilot Sukhoi Indonesia, yang dengan biaya operasionalnya melebihi $50,000 / jam, sudah pasti akan kurang training.

      ## Kedua, patut diingat, kalau dari 2003, sampai dengan latihan Pitch Black Australia 2012 --- memangnya persenjataan apa yang dibawa Sukhoi Indonesia?

      Nihil. Yah, kenyataannya kebiasaan pemerintah sebelumnya adalah membeli "macan ompong" tanpa persenjataan.

      ## Terakhir selalu ingat, kalau RAAF Australia tidak hanya anggarannya jauh lebih besar, dan intensitas latihannya lebbih banyak, mereka juga jauh lebih terorganisir dalam satu sistem yang modern, dan tentu saja persenjataan / perlengkapan juga lebih lengkap, dan lebih modern dibanding apapun yang bisa dioperasikan Indonesia.

      Kita harus belajar "mengejar ketinggalan", bukan bermimpi "bisa mengimbangi" salah satu Angkatan Udara pertama di dunia, yang sudah menimba pengalaman 100 tahun, dan lebih unggul dalam segala hal.

      Mana mungkin Su-Kommercheskiy (versi downgrade) Indonesia dapat menandingi Australia?

      Btw,
      Sudah melihat artikel yang ini, memangnya bagaimana Su-35 versi export apakah mampu menghadapi F-18F Super Hornet Australia?

      =============================
      F-18F RAAF vs Su-35 Kommercheskiy
      =============================

      Delete