Monday, August 15, 2016

TNI-AU akan kekurangan pilot, dan ground crew!

Gambar: Louise Levin/Försvarsmakten

Kekurangan Pilot, dan ground crew akan menjadi realita dalam Setiap Angkatan Udara.

CNN, pada 11-Agustus-2016 yang lalu, melaporkan bahwa kesulitan ini sudah mulai melanda USAF Amerika Serikat, yang melaporkan kekurangan 700 pilot di tahun 2016, sebelum menanjak ke 1000 pilot di tahun 2021. Dari jumlah ini saja, 551 adalah jumlah pilot untuk pesawat tempur.

Masalah utama yang disinggung dalam artikel CNN ini adalah:
Mulai terjadinya persaingan antara 
paket remunerasi Angkatan Udara pemerintah,
dan Commercial Airlines!

Semua airline di US sedang memulai me-recruit lebih banyak pilot, dan ground crew. Ini dikarenakan Airlines di sektor komersial akan menghasilkan UANG, tentu saja Angkatan Udara Negara, yang masih memakai paket gaji PNS, tidak akan mampu dapat mengajukan paket yang bersaing.

TNI-AU, yang koceknya jauh lebih tipis, 
tidak akan bisa kebal dari masalah yang sama!

Masalahnya tidak hanya berhenti di paket remunerasi pilot semata, tetapi untuk lebih dalam lagi:


Kesejahteraan Pilot, dan ground crew TNI-AU, seharusnya menjadi prioritas utama dalam Anggaran

Setiap RENSTRA, atau analisa manapun yang mau mengklaim bertema militer hampir selalu melupakan satu hal: the human factor

Pilot, dan ground crew adalah manusia juga, yang seharusnya mendapat perhatian lebih tinggi dibanding sekadar terus-menerus termakan obsesi keinginan pribadi untuk mencoba membeli barang-barang mewah, untuk memenuhi cita-cita, atau mimpi yang arti strategisnya kurang.

Sama seperti di US, sektor penerbangan komersial Indonesia sedang meledak dalam belasan tahun terakhir. Lion Air, Garuda Indonesia, dan AirAsia Indonesia semuanya sudah meneken kontrak untuk membeli puluhan, sampai ratusan pesawat Airbus A320NEO, atau Boeing 737NG -- dan untuk setiap pesawat baru yang mereka beli, akan membutuhkan pilot, co-pilot, dan ground crew untuk merawat.

Tentu saja pilot, ataupun ground crew yang sudah mendapat latihan, dan pengalaman dari Angkatan Udara, cenderung akan selalu dibayar lebih mahal kalau beralih ke sektor komersial. 
Michael Ouimet; for Air Asia Line-up // 
Marifka Wahyu, TEMPO untuk Lion Air


Masih bermimpi untuk bisa "Menandingi negara tetangga"?

TNI-AU HARUS BISA menandingi paket remunerasi pilot, dan crew dari
Air Asia, atau Lion Air terlebih dahulu!
Keadaan TNI-AU yang masih mengoperasikan armada gado-gado F-16 v Sukhoi sebenarnya jauh lebih parah daripada kelihatannya. Seperti dalam serial artikel Armada gado-gado Indonesia, regenerasi pilot, ataupun support crew akan sangat sulit, karena masing-masingnya hanya akan menjadi spesialis di tipe tertentu. Semakin cepat mereka beralih ke sektor kommersial, semakin sulit masalah perawatan, atau operasional armada gado-gado TNI-AU.

Inilah kenapa dalam Abad ke-21 ini, tantangan terberat setiap Angkatan Udara, dibanding semata mempertahkan armada gado-gado adalah.... 


JAUH LEBIH SULIT untuk Angkatan Udara manapun, untuk dapat mempertahankan talentanya, agar mereka tidak tertarik untuk beralih ke sektor Komersial!

Ini tidak hanya berhenti disana...



Proyek, atau pesawat yang harga, dan biaya operasionalnya terlalu mahal, hanya akan bersaing dengan paket remunerasi pilot, dan ground crew!


Kembali menengok dahulu ke USAF; Tempo hari mereka mengeluh akan kekurangan jumlah pesawat tempur di tahun 2021.  

Sebenarnya pernyataan ini sendiri adalah KEBODOHAN BESAR:
  • Jumlah Anggaran pertahanan US sudah menjadi yang terbesar yang didunia, tetapi Pentagon, dan para Jendral mereka lupa, kalau ini bukan berarti TIDAK TERBATAS. Dan, sayangnya.... 
  • Dengan memilih investasi di proyek mercusuar seperti F-35, atau B-21 bomber terlepas dari apapun juga dalihnya, para Jendral USAF tanpa sengaja sebenarnya lebih memilih membeli pesawat, daripada peningkatan kesejahteraan pilot, dan ground crew. 
Tidak heran USAF tidak dapat bersaing dengan sektor Kommersial, 
yang tidak perlu membayar biaya pemerasan dari F-35!
  • Yang lebih lucu lagi: masalah "kekurangan jumlah" tidak akan pernah melanda USAF, kalau dari awal mereka mau mengikuti akal sehat. Batalkan F-35, walaupun Lockheed-Martin akan merengek-rengek! Dan kemudian, mengalihkan tehnologi F-35 ke produksi batch baru dari combat-proven platform: F-15SE,  F-16V, atau F-18 ASH, agar kemampuannya jauh lebih bersaing. Semua new built teen-fighters ini akan dapat memanfaatkan pengurangan RCS yang lebih optimal, Jammer generasi baru, built-in IRST, dan mengadopsi tehnologi Sensor Fusion untuk memastikan semuanya akan terus jauh lebih unggul, baik dibandingkan Su-35, atau S-400 SAM Russia. 
Efek Gentar F-35:
Tidak hanya menghabiskan dana yang begitu besar,
tetapi juga mulai membunuh kemampuan pilot USAF!
TNI-AU juga sama saja. 

Boleh dibilang, kekacauan yang sekarang ada adalah warisan dari beberapa keputusan 10 tahun yang lalu, yang sepertinya dibuat secara spontan tanpa pernah memikirkan prospek jangka panjang.

Pesawat pencinta perantara, Sukhoi variant manapun untuk selamanya TIDAK AKAN PERNAH MASUK AKAL untuk perencanaan strategis Indonesia. Hanya dalam 5 - 10 tahun, kesulitan spare part sudah akan menjadi sesuatu yang rutin, dan akan jauh lebih parah dibanding kemungkinan terjadinya Embargo, yang sekarang hampir mustahil

Kalau negara siap membayar biaya operasional mahal, berarti tentu saja... akan selalu lebih sedikit dana yang tersisa untuk dapat bersaing dengan paket numerisasi dari Lion Air, atau AirAsia Indonesia.

Apakah masih ingin terus bermimpi "membuat pesawat sendiri", dan menamam modal di proyek mercusuar Twin-Engine IF-X? Ini sebenarnya hanya versi export dari KF-X, yang tidak pernah dirancang untuk memenuhi kebutuhan Indonesia. 

Hasilnya akan sama saja. Biaya produksi, ataupun biaya operasionalnya terlalu mahal, tanpa kemampuan strategis yang berarti, atau kerjasama industrial yang terjamin, mengingat pesawat ini akan sangat tergantung pada belas-kasihan dari Washington DC.

Pesawat SUPER INFERIOR buatan US, eh, Korea....
MUSTAHIL 
untuk memenuhi kebutuhan Indonesia,
atau
untuk memenuhi persyaratan UU no.16/2012

Link: Korea Times, 6-Juni-2016
Silahkan saja bertanya ke orang-orang Korea, apakah mereka bersedia memenuhi persyaratan UU no.16/2012. Apalagi mengingat ketergantungan mereka ke tehnologi US, membuat mereka masih seperti bayi yang belum bisa berhenti menyusui.

Inilah kenapa pada akhirnya...


Setiap Angkatan Udara seharusnya berhenti bermain 'gengsi dong' dan mengoperasikan Lightweight Single-Engine Fighter


Kemudahan Maintenance, dan biaya operasional Murah,
LEBIH BERSAHABAT untuk kesejahteraan semua pilot, dan support crew!

Semuanya SERBA MUDAH untuk dikuasai!

(Gambar: Louise Levin/Försvarsmakten)
Kekurangan pilot adalah kesulitan global di Abad ke-21, ditengah semakin galaknya perkembangan penerbangan sipil di sektor Komersial. Dengan mengoperasikan terlalu banyak pesawat stealth, atau twin-engine yang maintenance-nya akan selalu mencekik anggaran, dengan sendirinya setiap Angkatan Udara akan selalu kesulitan untuk dapat terus mempertahankan kesejahteraan pilot, dan ground crew mereka.

Kalau masih mau mempertahankan Jumlah Pilot, dan JAM TRAINING dengan Anggaran yang terbatas, memang sudah seharusnya semua Angkatan Udara mengoperasikan pesawat tempur SINGLE-ENGINE, yang biaya operasionalnya tidak akan mencekak anggaran: Gripen, atau F-16.

Mau sampai kapan Indonesia, yang anggaran pertahanannya terlalu kecil untuk dapat bersaing dengan Australia, dan Singapore, mau terus meniru kebodohan yang sama dengan USAF, yang anggarannya sudah melebihi seluruh APBN Indonesia?

Kita tidak bisa terus-menerus menjadi sebodoh itu.

Sudah saatnya menghilangkan kebiasaan mengoperasikan armada gado-gado, yang tidak hanya akan terlalu menghamburkan anggaran, tetapi juga selama ini toh juga didapat dari membeli pesawat tempur "versi export", yang lahir dari pembatasan tehnologi, baik dari Washington DC, ataupun Moscow.


Kenapa tidak mengoperasikan pesawat tempur yang sangat bersahabat dengan kesejahteraan pilot dan crew, sekaligus memenuhi SEMUA persyaratan UU no.16/2012?


Link: Jane's

Saab Gripen, seperti sudah dilahirkan sejak awal untuk memenuhi semua kebutuhan pertahanan udara Indonesia, tanpa perlu mencekak anggaran. Dengan biaya operasional yang hanya 66% dibandingkan F-16, pada akhirnya Angkatan Udara kita dapat lebih berkonsentrasi untuk kesejahteraan pilot, dan ground crew, dan memastikan kita akan beberapa langkah lebih depan dari tantangan "kekurangan pilot di Abad ke-21".

Pilot yang sudah lebih termotivasi, dan sudah mendapat jauh lebih banyak TRAININGdengan sendirinya akan menjadi lawan yang tangguh di saat konflik. Pahlawan yang akan mempunyai kemampuan untuk mempertahanan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ini tidak akan pernah dapat tercapai selama kita masih doyan untuk terus mengoperasikan pesawat versi export, atau kommercheskiy.
(Credits: Saab; Gripen, the Smart Fighter)
With Gripen, Saab did everything right!

Sedari membuat rancangan awal untuk Gripen, mereka seperti sudah melihat dari jauh-jauh hari, kalau kebutuhan pertahanan di masa sekarang, ataupun di masa depan, tidak akan dapat terpenuhi oleh pesawat yang baik harga, ataupun biaya operasionalnya semakin hari semakin mahal, semakin sulit untuk di-upgrade, dan juga semakin rumit, sampai membutuhkan komite lebih dari seribu orang untuk merancang bangun desainnya.

Saab bangga untuk menyebut Gripen the Smart Fighter.

Sebenarnya pengertian yang lebih tepat adalah... The Very Adaptable Smart Fighter. Pesawat ini adalah satu-satunya tipe pesawat tempur yang akan hampir kebal pada setiap tantangan baru di Abad ke-21, karena pesawat ini sudah terbukti untuk sangat pintar untuk beradaptasi.

Kemampuan kinematis Gripen akan jauh lebih unggul dibanding kebanyakan tipe yang sekarang operasional. Dengan keunggulan training, platform, tehnologi, Networking, dan persenjataan paling modern, Gripen hampir tidak mungkin bisa ditembak jatuh pesawat tempur lain dalam pertempuran udara di Abad ke-21, apalagi kalau pesawat lawan hanyalah pesawat versi export dari negara adidaya, yang sudah di-downgrade

Sebaliknya, Gripen akan sangat mematikan. Senjata baru apapun yang diproduksi di industri militer Barat, seperti dalam contoh MBDA Meteor, Gripen akan selalu menjadi platform pertama yang mengoperasikan senjata tersebut. Sementara semua pesawat lain akan membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum mulai dapat memakai senjata yang sama. Waktu itu, pengguna Gripen sudah akan menimba jauh lebih banyak pengalaman memakai senjata tersebut, dibanding semua pemain lain.

Kalau performa mesin F414-GE39-E masih belum cukup di masa depan, Gripen masih bisa beradaptasi untuk menggantinya dengan mesin F414 EPE, yang daya dorongnya 20% lebih kuat. Super Gripen?

Kalau Gripen-E di masa depan masih akan kesulitan untuk dapat melihat Stealth fighter, pesawat ini kembali akan beradaptasi, agar tetap dapat melihat pesawat lawan dari jarak yang aman, dan kemudian dapat dengan aman mengalahkannya dalam pertempuran udara.

Lemparkan saja semua masalah ke Gripen! 

Mau menghadapi S-400? Su-35? PAK-FA? F-22? F-35? Kalaupun Gripen-E, belum bisa menang sekarang, pesawat ini akan selalu dapat beradaptasi untuk dapat mengalahkan SEMUA lawan manapun. Keunggulan ini tidak akan bisa didapat dalam pesawat tempur lain, apalagi versi export.

Inilah yang dimaksud dengan Affordable Practical Technology, bukan Ultra-Expensive High-Maintenance Solution.

Indonesia sudah diundang untuk menjadi salah satu negara partner jangka panjang untuk pengembangan platform Gripen-E melalui Transfer-of-Technology. Tidak ada alasan untuk tidak menerima tawaran ini!


Memenuhi KEBUTUHAN, bukan KEINGINAN
Credits: Saab


10 comments:

  1. Bung GI, salah satu kendalanya adalah tidak transparannya pengelolaan dan perawatan dari alutsista di Ina, kita tidak pernah tahu evaluasi SU 27/30 yang sudah tidak bisa terbang berapa, yang siap tempur berapa,kendala perawatannya seperti apa, justru yang ada adalah menutup informasi itu dengan alasan rahasia negara.
    Begitu menghadapi situasi darurat ternyata kesiapan tempur hanya 25%

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang.
      Transparancy.org juga sudah menuliskan hal yg sama.

      Kalau soal transparansi Alutsista, kita masih sangat kurang. Boleh dibilang ini akibat sisa2 mental "dwi fungsi" dari jaman Orde Baru.

      ... untuk Alutsista made in Ruski lebih bagus lagi, karena kata "transpansi" itu tidak ada dalam kamus mereka (!!)

      Karena tidak ada transparansi yah, akibatnya tentu saja sangat negatif. Semuanya akan ditutup2i, agar kebenarannya tidak diketahui.

      Kemungkinannya terbuka lebar untuk harga markup utk spesifikasi downgrade habis2an, kesiapan tempur yg tidak bisa dihitung, dan spt dalam artikel ini, kemungkinan juga jumlah pilot skrg sudah mulai tidak memadai.

      Kemungkinannya juga bbrp oknum akan terus dapat memperkaya diri dari kegelapan2 ini.

      Pada akhirnya hanya negara, dan rakyat yang rugi.

      Memang sudah saatnya Sukhoi Indonesia di-audit.

      Dari analisa awam saja, spt dalam artikel sebelumnya, Sukhoi tidak akan mampu menandingi F-16 hibah, yg lebih modern, persenjataanya lebih baik, dan kesiapan tempurnya terjamin.

      Kenapa kita mau terus buang2 uang untuk biaya operasional yg begitu mahal?

      Berapa harga % markup yg selama ini sudah dihamburkan?

      Secara logika, dengan Anggaran Pertahanan hanya $7 milyar, dan luas wilayah yg menuntut leboh banyak pesawat; kita seharusnya tidak boleh mengoperasikan twin-engine fighter, apalagi kalau yg merongrong spt Sukhoi.

      Pemerintahan Jokowi sudah menggariskan keperluan utk transparansi setiap transaksi, dan menghilangkan perantara.

      BONUS:
      Kalau transaksi berikutnya utk pespur juga akan DIHARUSKAN untuk memenuhi semua persyaratan UU no.16/2012; dengan sendirinya pilihan2 lain yg hanya mengikuti "keinginan" belaka akan gugur dengan sendirinya.

      Inilah kenapa pilihan supplier dari Saab Swedia, tidak hanya akan memenuhi kebutuhan, tetapi juga memberikan banyak keuntungan dari segi transparansi, edukasi, dan disiplin.

      Kerjasama antara badan riset, industri dalam negeri, dan TNI-AU dengan sendirinya akan membuka transparansi yg lebih jelas, dan mengurangi kemungkinan praktek2 gelap "dibawah meja".

      Dari sudut pandang ini, sbnrnya lebih cepat menutup kontrak dgn Saab lebih baik.


      Delete
  2. Min, sampai saat ini Indonesia sdh ada kerja sama dengan SAAB?

    ReplyDelete
    Replies
    1. BPPT sudah teken kontrak kerjasama sejak tahun lalu utk pengembangan tehnologi,

      KRI Klewang trimaran tempo hari juga berhasil dibuat dengan bantuan Saab.

      Delete
    2. SAAB perusahaan yang bagus, tidak segede LM atau Airbus tapi karyanya diakui dunia.... Efektif, Efisien dan Modern...
      cocok sebenarnya buat kerjasama dengan INA...
      yang Budget Militernya cuman sekitar 7 Milyar dollar termasuk gaji pegawai...

      Delete
    3. Memang benar.

      Tawaran yg kita dapat tidak seperti transaksi jual-beli US, dan Ruski --- yg sudah begitu sampai kapanpun hanya akan rela menjual "versi export / kommercehskiy" yang akan di-downgrade.

      Tawaran Saab adalah ToT, dan kerjasama jangka panjang.

      Dari sini saja kita juga akan bisa memetik banyak pelajaran dari segi teladan, displin, efesiensi, dan belajar untuk berinovasi.

      Kebetulan, spt diatas, Saab juga sudah mendesain setiap sistem / subsystem se-ekonomis, dan semurah mungkin, tanpa pernah mengkrompromikan kemampuan!

      Ini sebenarnya jauh lebih sulit utk dilakukan, dibandingkan hanya membuat desain yg goal-nya terlalu ambisius, spt contoh F-22, dan F-35 (US), PAK-FA (Ruski), ataupun KF-X.

      Kesemua pengerja proyek diatas, akhirnya hanya akan bertabrakan dengan realita: Terlalu mahal, terlalu rumit, dan/atau terlalu cepat ketinggalan jaman.

      Kesempatan kerjasama dgn Saab bukan hanya semata tawaran yg "menggiurkan", tetapi kesempatan terbaik kalau kita mau melangkah maju.

      Tidak akan ada efek gentar lain yg lebih nyata, kalau dengan anggaran kita yg minim, dapat membuktikan diri kalau kemampuan tidak kalah dengan standard terbaik di dunia!

      Delete
  3. Min, pesan kepada pemerintah dalam rangka HUT RI ke-71

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wishlist perihal akuisisi:

      ## Seperti instruksi presiden 20-Juli yang lalu, "Beli menurut kebutuhan, dan bukan keinginan!"

      ## Setiap pembelian Alutsista harus memenuhi persyaratan UU no.16/2012, transaksi harus transparan, dan tidak boleh memakai perantara.

      ## Dengan demikian praktek pembelian armada gado2, dan barang2 versi export yg kemampuannya terbatas, seperti dalam belasan tahun terakhir akan berakhir dengan sendirinya.

      ## Katanya "takut embargo"? ya, jawabannya adalah dengan meningkatkan kemampuan industri pertahanan lokal, bukan membeli barang versi export.
      Belajar mengambil inisiatif untuk berinovasi!
      Selalu utamakan alih-Tehnologi, sebelum membeli!

      Untuk Armada gado2 sekarang:

      ## Batalkan keterlibatan Indonesia dalam proyek mercusuar KF-X.
      @@ Hanya akan menghabiskan terlalu banyak uang,
      @@ Sebagai partner; Korea tidak akan bisa dipercaya krn kerjasama mrk dngn LM,
      @@ keuntungan negara akan sangat minimal, dan
      @@ IF-X hanya akan menjadi pesawat "versi export".

      ## Pensiunkan Sukhoi untuk menghemat anggaran!
      Uangnya dapat dinvestasikan kembali untuk membangun sistem pertahanan yg serius, dan seperti dalam artikel ini, dapat dialihkan untuk meningkatkan kesejahteraan pilot, dan support staff.

      Terakhir, konsentrasikan setiap RENSTRA untuk membangun sistem pertahanan yg baik, terpadu, tanpa perlu mencekak anggaran....., bukan seperti selama ini hanya untuk menambah jumlah dgn beli kosong, atau cicilan, tanpa pernah ada perencanaan strategis yg jelas.

      =====================
      Saab's Gripen System, Erieye, dan National Networking?
      ====================
      Kembali, kerjasama Saab akan menjadi dasar yg baik utk membangun sistem pertahanan Indonesia masa depan.

      Delete
  4. Min, menurut mimin bagaimana keadaan anti-aircraft warfare di Indonesia?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nanti saya akan membahas lebih lanjut mengenai hal ini.

      Konsep dasarnya begini saja:
      Seandainya Indonesia membeli Surface-to-Air Missile system Modern;

      Tanpa adanya sistem IFF, atau sistem komunikasi yang "reliable" baik di F-16, Sukhoi, ataupun T-50, bagaimana caranya operator missile akan dapat membedakan mana lawan, mana kawan?

      Delete