Monday, August 8, 2016

Perbandingan F-16 Block-25+ (Block-52ID) vs Sukhoi Su-30MK2 Indonesia

Mana yang lebih unggul?
F-16 Block-25+ (alias Block-52ID versi DPR) vs Sukhoi Su-30MK2
Keduanya pesawat model export / kommercheskiy, alias model DOWNGRADE!
(Gambar: TNI-AU)

Kalau masih belum cukup,
Keduanya TIDAK AKAN memberikan keuntungan industri pertahanan lokal!
Bagian pertama dari analisa Armada gado-gado Indonesia sudah menuliskan bagaimana armada pesawat tempur yang sekarang (F-16 v Sukhoi) sebenarnya hanya sangat merugikan negara:
  • Untuk selamanya akan MUSTAHIL kalau kita dapat merancang-bangun sistem pertahanan udara yang modern, yang akan dapat menangkal lawan yang jumlahnya lebih besar, dan lebih kuat.
  • Armada gado-gado sekarang juga terlalu MENGHAMBURKAN UANG tanpa adanya efek gentar yang berarti. Baca: Tidak ada satupun negara lain yang takut!!
  • Fragmentasi armada pesawat tempur juga berarti TNI-AU akan kesulitan untuk menangani Regenerasi Training Staff / Pilot dalam jangka menengah-panjang. 
  • Terakhir, membagi armada antara kedua penjual pesawat tempur model export Ruski vs United States, sama seperti bermain dengan API! Mau lebih condong kemanapun juga, hanya tangan kita yang terbakar sendiri!
Sekali lagi, saat ini kita hanya mengoperasikan dua model pesawat tempur versi export, yang sudah di-downgrade oleh pembuatnya. Artikel ini sendiri akan menganalisa yang lebih spesifik dari polemik armada gado-gado Indonesia:


"Antara F-16 Block-52ID vs Sukhoi Su-30MK2,
mana memangnya yang lebih unggul??"

Training, dan Pengalaman

Seperti sudah ditulis berulang-ulang dalam setiap perbandingan versus antara dua model manapun; TRAINING sebenarnya adalah faktor penentu utama kehebatan pesawat tempur manapun.

Pengertiannya sendiri cukup sederhana: 

"Tanpa adanya TRAINING untuk pilot / support staff agar dapat menguasai kemampuan pesawat  tempur semaksimal mungkin, tidak peduli sehebat apapun spesifikasinya, pesawat tersebut efek gentarnya NOL BESAR."

Entah kenapa, Renstra versi November-2015 sepertinya masih terlalu terobsesi untuk terus-menerus membeli pesawat tempur baru. Tanpa adanya investasi yang berarti kedalam SISTEM TRAINING yang bersaing, dan jumlah persenjataan yang lebih lengkap (Lihat dibawah!), semua rencana itu hanya akan menghamburkan uang untuk membeli pesawat-pesawat yang indah untuk dipamerkan di parade-parade Nasional, tetapi tidak akan mempunyai kemampuan tempur yang berarti kalau benar-benar diuji.

Kembali ke topik, ada dua kenyataan yang sebenarnya tidak bisa dielakkan dalam perbandingan F-16 v Sukhoi:

Kenyataan Pertama 
TNI-AU sudah jauh lebih berpengalaman dalam mengoperasikan F-16 selama hampir 30 tahun. Sedangkan armada Sukhoi, berkat beli cicilan, tidak pernah mencapai jumlah operasional 10 unit sampai 2010. Belum cukup disana, sampai tahun 2012, semua Sukhoi ini juga masih terbang "telanjang" tanpa pernah membawa missile versi export Ruski; dan dengan demikian hampir 9 tahun pengalaman pemakaian Sukhoi boleh dibilang sudah mubazir.

Kenyataan Kedua
Biaya operasional F-16 Single-engine lightweight fighter yang lebih sederhana, akan jauh lebih murah dibanding Sukhoi variant manapun juga. Armada gabungan F-16 C/D Block-25+ juga dioperasikan dalam JUMLAH YANG JAUH LEBIH EKONOMIS (saat ini 33 pesawat). Dalam keadaan yang sekarang, biaya operasional untuk F-16 Indonesia, walaupun kurs US$ yang bertengger di atas Rp 13,000; masih akan dibawah dari angka Rp 100 juta per jam terbang.

Pengalaman mengoperasikan F-16 selama puluhan tahun, bahkan sudah terbukti dengan kemampuan untuk dapat mengudarakan dua F-16 bersenjata lengkap dalam Insiden Pulau Bawean, walaupun sewaktu itu Embargo Militer US membuat F-16 langka spare part. Operational readiness untuk F-16 juga terjamin melebihi 75%.
Tetap gigih operasional walaupun di Embargo:
Memang harus kanibalisme spare part, tapi yang penting tetap bisa terbang.
(Gambar: ACIG.org)
Sukhoi Su-27/30 di Skuadron-11 sampai kapanpun juga, atau mau diputar-balikkan bagaimanapun juga, MUSTAHIL untuk dapat bersaing dengan ketangguhan, kesiapan tempur, dan jumlah jam terbang F-16 di Skuadron-03, dan Skuadron-16. Mau mengganti Sukhoi Su-35 Kommercheskiy-pun hanya akan menabrak masalah yang sama.
Tanpa perlu ada embargo, dan belum umurnya10 tahun,
TS-3006 Kommercheskiy sudah rusak berat, dan sudah dipaksakan MUDIK ke Belarusia.
(Gambar: TNI-AU)
Malu dong! Apanya yang bisa menjaga kedaulatan?

Menghabiskan jutaan dollar sih, hebat.
Biaya operasional Sukhoi terhitung Rp 400 juta / jam, di November-2014. Perhitungan ini dilakukan sebelum kurs US$ melesat (Rosoboronexport selalu menjual dalam US$, bukan Russian Ruble!!), dan sebelum satupun Sukhoi sempat dikirim pulang untuk mudik wajib di negeri asalnya, untuk menjalani "perawatan mewah" yang hanya bisa dilakukan disono. Biaya operasional sekarang untuk pesawat pemeras keuangan negara ini...? Silahkan menghitung sendiri!

Pemenang: F-16 Block-25+

Faktor keunggulan platform F-16, yang biaya operasionalnya jauh lebih murah, dan maintenance-nya jauh lebih mudah adalah suatu kenyataan yang tidak dapat disangkal. Dengan proporsi anggaran yang jauh lebih kecil, pilot-pilot F-16 Block-25+ dengan sendirinya akan dapat menabung lebih banyak jam terbang, dan TRAINING dibandingkan pilot-pilot Sukhoi di Skuadron-11.

Yang lebih penting lagi, F-16 Block-25+ yang mempunyai kemampuan BVR combat, akan mempunyai kompatibilitas yang lebih tinggi dengan rata-rata pesawat tempur negara tetangga, yang beroperasi menurut sistem NATO. Hasil dari kontribusi training seperti dalam Pitch Black 2016 dengan sendirinya juga akan jauh lebih optimal untuk kepentingan Indonesia.


Sensors

Perbandingan disini cukup singkat, karena kedua-dua pesawat tempur utama Indonesia ini adalah export model, dengan spesifikasi kemampuan yang terlalu rendah. OLS-27 IRST di Sukhoi, yang adalah legacy system dari tahun 1980-an, kemampuannya juga meragukan.

AN/APG-68v1 pulse-mechanical doppler di F-16 Block-25+ adalah combat-proven radar, yang mempunyai jarak jangkau maksimum 200 kilometer, atau jarak deteksi 70 kilometer untuk RCS sekitar 5 meter persegi. 

Pilot F-16 Indonesia tidak akan kesulitan untuk dapat mendeteksi, dan kemudian men-lock Su-30MK2, yang RCS-nya LUAR BIASA BESAR, atau melebihi 25 meter persegi dari jarak 100 kilometer+, jauh sebelum pilot Sukhoi dapat melihat F-16 yang RCS-nya hanya 1,6 meter persegi.

Sebaliknya Myech radar N001VEP, dengan asumsi KALAU ini adalah versi radar yang dipasang di MK2 Kommercheskiy Indonesia, baru bisa melihat F-16 dari jarak kurang dari 50 kilometer. Mengingat radar abal-abal Sukhoi Su-30MK2 juga sudah gagal untuk dapat mencari "pesawat capung" di tahun 2014, bahkan sampai sejam lebih, si capung sudah berhasil mencapai Manado; pesawat tempur di kelas F-16 kemungkinan masih belum terlihat sampai jarak yang lebih dekat lagi.
Gambar: Ausairpower, kitab suci untuk Sukhoi!
Pemenang: F-16 Block-25+

Apakah masih belum percaya kalau pesawat tempur Lightweight Single-Engine biasanya akan selalu lebih unggul dibanding Heavy Twin-Engine?

Ukuran radar yang lebih besar yang dapat dibawa Sukhoi, dengan sendirinya akan di-offset dengan RCS-nya yang jauh lebih besar. Di lain pihak, walaupun pengurangan RCS untuk keluarga F-16, tidak pernah dilakukan secara optimal dari US sendiri, ukurannya yang lebih kecil, dengan sendirinya memberikan RCS yang jauh lebih kecil.

Dan kalau ini masih belum cukup....

BVR Combat

Perbandingan disini akan sangat singkat: Indonesia sudah mendapat ijin dari US untuk mengakuisisi "hanya" 37 AIM-120C7 AMRAAM, dalam nilai transaksi $95 juta. Sebaliknya di tahun 2012, Indonesia "hanya" membeli 25 missile RVV-AE, yang kemampuannya tidak jelas, untuk mempersenjatai Sukhoi.

AMRAAM C7, walaupun sudah mulai digantikan dengan versi-D, sebenarnya masih menjadi BVR missile andalan kebanyakan pesawat tempur USAF, US Navy, dan kebanyakan negara-negara NATO; bahkan Polandia saja, masih belum mendapat export clearance untuk AMRAAM C-7 di tahun 2005. Dengan jarak jangkau melebihi 105 kilometer, dan kemungkinan jarak tembak efektif 50 - 70 kilometer - inilah missile yang sebenarnya menjadi tolok ukur semua BVR missile modern.

Sebaliknya, untuk para pembeli persenjataan udara Ruski, hanya akan diijinkan untuk membeli RVV-AE (izdeliye-190), yang adalah versi export dari R-77 (izdeliye-170); yang sendirinya belum pernah dibeli dalam jumlah yang besar, dan dioperasikan secara intensif dalam Angkatan Udara Russia sendiri. Kecuali dalam acara MAK show, atau static display di Darat, Sukhoi Russia belum pernah terlihat membawa R-77.

Lihat! The mighty Su-35.....in Syria....
Kasihan! Hanya bisa dipersenjatai dengan R-27 BVR missile,
buatan Ukrania.
(Gambar: Russia Today)
Jadi mana yang lebih unggul? 
  • AIM-120C7 -- BVR missile standard NATO, yang sudah sering di-tes, dan combat-proven, atau....
  • RVV-AE (izdeliye-190) -- BVR missile versi Export, yang versi Izdeliye-170-nya saja hampir tidak pernah dipakai si pembuat?
Psst.... pilot Ruski juga belum ada yang pernah menimba pengalaman untuk "menjajal" kehebatan AMRAAM C7.

Pemenang: F-16 Block-25+

Hampir tidak mungkin Su-30MK2 (versi paling modern dari armada Sukhoi gado-gado Indonesia), akan dapat menembak jatuh pesawat tempur manapun, bahkan di seluruh dunia, dengan missile yang kemampuannya belum tentu terjamin.


Sebaliknya, F-16 Block-25+ Indonesia memang bukanlah tandingannya F-18F Australia, ataupun F-16 Block-52+ Singapore yang perlengkapannya jauh lebih modern, dan persenjataannya jumlahnya jauh lebih banyak; akan tetapi kemampuannya sudah jauh lebih dari cukup untuk dapat menghabisi Sukhoi Kommercheskiy bertehnologi tahun 1980-an, yang manapun juga.


WVR, and Close Combat

Seharusnya Su-30MK2 lebih unggul dong! Kan bisa Cobra manuever!

Tunggu dulu!
Link: Ausairpower
Testing the Super Hornet (2002)
Yah, kenyataannya, flight control keluarga Sukhoi yang masih bertehnologi tahun 1980-an, seperti yang dibeli Indonesia, sebenarnya kurang bersahabat untuk pilot. Akan dibutuhkan jauh lebih banyak Training, dan Jam terbang agar setiap pilot dapat menguasai kemampuan Sukhoi yang optimum. Dengan biaya operasional yang begitu tinggi, dan anggaran pertahanan yang pas-pasan, kemampuan negara kita untuk dapat memenuhi hal ini akan sangat terbatas. Terlepas dari rumor manapun, kemungkinannya terlalu kecil kalau rata-rata pilot di Skuadron-11 sudah dapat menguasai penuh semua kemampuan Sukhoi. 


Bahkan sangat meragukan kalau pilot-pilot Sukhoi AU Russia sendiri, yang jumlah jam terbangnya tidak karuan, mempunyai kemampuan untuk dapat mengalahkan F-16 NATO.
(Sumber: Defense News, 15-Juli-2015)

Sebaliknya, F-16 sudah dikenal untuk mudah dikuasai pilot. Bahkan menurut pendapat beberapa pilot USAF sendiri, dan bukan propaganda para Jendral USAF; F-16 adalah pesawat tempur Air Superiority yang kemampuan manuevernya lebih unggul dibandingkan si raksasa F-15 Eagle

Seperti sudah dibahas di atas, pilot-pilot Indonesia sudah jauh lebih berpengalaman dalam menguasai F-16 selama 30 tahun. Dengan T/W ratio,dan Wing-Loading yang bersaing, untuk dapat ber-manuever lebih ketat dibanding pesawat-pesawat bongsor di kelas Sukhoi Flanker, ataupun F-15. 

Ingat juga, kalau ukuran F-16 jauh lebih kecil dibandingkan Su-30, yang ukurannya sebesar lapangan sepak bola! Dan dalam pertempuran jarak dekat, ini akan menjadi penentu utama.

Untuk persenjataan, kembali, walaupun Block-25+ kita belum dapat diperlengkapi dengan Joint Helmet-Mounted Cueing System, seperti rata-rata pembeli F-16 yang lain, mereka kembali akan dipersenjatai dengan missile yang satu generasi lebih unggul dibanding R-73 Ruski (yang seeker-nya buatan Ukrania, yang sudah mengembargo Russia): AIM-9X, yang jarak jangkaunya nyaris mendekati jarak BVR.

Kalau kemampuan kill AIM-9X, yang mempunyai Infra-Red Counter-Counter Measure (IRRCM), dipadukan dengan dua mesin Sukhoi yang sangat PANAS, maka hasilnya akan..... 

Pemenang: F-16 Block-25+

Singkat cerita, Sukhoi di Skuadron-11 tidak akan mempunyai banyak harapan untuk dapat mengalahkan F-16 Block-25+ di Skuadron-03, atau Skuadron-16 dalam pertempuran udara jarak dekat.



Penutup: F-16 Block-25+ lebih unggul dalam segala hal dibandingkan Su-30MK2

Masih belum percaya? 

Mari menilik kembali beberapa kenyataan yang ada, yang tidak pernah disimak dengan seksama:
  • F-16 adalah pesawat tempur Lightweight Single-Engine, yang biaya operasionalnya murah, dan lebih mudah dikuasai pilot. 
  • .... pilot-pilot Indonesia sudah jauh lebih berpengalaman dalam mengoperasikan F-16 sejak tahun 1989; dan tidak seperti Sukhoi beli cicilan jaman SBY; F-16 sudah dipersenjatai dengan AIM-9L, dan AGM-65 Maverick dari awal.
  • Pilot-pilot Skuadron-03, dan -16 dengan sendirinya akan dapat mengumpulkan lebih banyak jam terbang, dibandingkan pilot-pilot Sukhoi di Skuadron-11; walaupun tentu saja Sukhoi akan menyedot jauh lebih banyak proporsi anggaran, dibanding ke-33 F-16!
  • F-16 juga adalah langganan biasa untuk latihan bilateral dengan Australia (bukan hanya Pitch Black) -- jauh lebih mudah untuk dioperasikan menurut sistem training NATO. Sebaliknya, Sukhoi Su-27SKM/Su-30MK2 hanya pernah mengikuti Pitch Black 2012, dan tidak seperti mitos yang merebak di Indonesia, hasilnya sebenarnya kurang memuaskan
Link: Asia Pacific Defense Reporter:

Australia tidak pernah merasa gundah kok dengan Su-27/30 Indonesia!

Kenapa mereka mesti "gundah" dengan Sukhoi bertehnologi 1980-an?

Sudah ketinggalan jaman
Persenjataan minimal, 
Jumlah jam terbang kurang
tidak ada Networking,
tidak compatible dengan sistem Indonesia,
biaya operasional juga kemahalan

Mereka sebenarnya cukup sopan untuk menjaga muka kita!


  • Persenjataan untuk F-16 Block-25+; AIM-9X, dan AIM-120C7 masih SATU GENERASI LEBIH MODERN dibandingkan missile versi export, manapun yang tersedia dari Ruski, dan bahkan tidak pernah digunakan dalam jumlah besar, atau di-tes secara intensif.
  • RCS untuk F-16 lebih rendah, T/W ratio lebih unggul, dan Drag Rate lebih rendah dibanding pesawat-pesawat tempur bongsor di kelas F-15, dan Sukhoi Flanker.
  • Belum lagi menghitung kalau Mission Computer MMC-7000, M5 software package, dan cockpit interface untuk F-16 Block-25+ sebenarnya sudah "setaraf" dengan Block-50/52 "versi export" -- dan dengan demikian akan jauh mengoptimalkan kemudahan untuk user interface, dan keunggulan Situational Awareness, dibanding cockpit warisan tahun 1980-an di Sukhoi. Cockpit Su-27SK (TS-2701, & TS-2702), bahkan belum mempunyai satupun layar LCD!!
Inilah kenapa, bukanlah tanpa alasan, kalau Vietnam-pun menginginkan F-16 bekas, seperti Indonesia. Sukhoi Su-30MK2 bukanlah pengganti yang ideal untuk pesawat tempur utama Vietnam: MiG-21 -- Lightweight single-engine fighter, yang lebih lincah, biaya operasionalnya lebih murah, dan relatif maintenance-nya lebih mudah.

Yah, boleh dibilang F-16 Block-25+ hibah adalah investasi asset pertahanan udara yang jauh lebih menguntungkan dibanding Sukhoi, yang sampai sekarang masih sibuk untuk terus menyandera anggaran pertahanan Indonesia, tanpa pernah mempunyai efek gentar yang berarti.

Untuk apa terus mengoperasikan pesawat tempur yang biaya operasional per jamnya mungkin melebihi paket remunerasi pilot selama setahun penuh?

Washington DC boleh dibilang cukup lihai dalam menawarkan paket EDA (Excess Defense Article) untuk menghibahkan ke-24 F-16 Block-25 ke Indonesia. 

  • Para ahli / pengamat dari Lockheed-Martin, maupun DepHan US, sudah terlebih dahulu mempelajari kemampuan Su-27, dan Su-30 versi export, yang dibeli Indonesia dengan harga yang sangat mahal; 
  • ... dan dengan demikian menawarkan paket F-16 yang jauuh lebih unggul dibandingkan Sukhoi....
  • .... tanpa perlu memberikan spesifikasi export yang bersaing dibandingkan apa diperbolehkan untuk Australia, ataupun Singapore.

Kenyataan lain di dunia nyata: Anggaran Belanja Negara untuk tahun 2016, baru saja dipangkas, untuk mengatasi kemungkinan defisit di akhir tahun. 

Sudah saatnya mempensiunkan Su-27/30! 

Semakin lama mengoperasikan penyandera anggaran ini, kita hanya akan semakin rugi!

Seperti bisa dilihat di seluruh artikel ini, bahkan walaupun F-16 hanya akan menjadi pesawat versi export, keuntungannya masih jauh lebih besar dibandingkan Sukhoi. Lagipula, seperti sudah seringkali diulang, umur semua Sukhoi ini tidaklah panjang. Maksimum 20 - 25 tahun, dan hanya 3,000 jam terbang, dan sementara itu akan banyak "perbaikan mendalam" yang dibutuhkan!

Sebaliknya, Lockheed-Martin sebenarnya sudah mengetes ketahanan airframe untuk F-16 agar umurnya bisa mencapai 92 tahun! Ini memastikan kalau dari segi investasi murni, F-16 sudah jauh lebih menguntungkan dibandingkan terus memelihara pesawat yang selalu merongrong seperti Sukhoi.


Baca: Pensiunkan pesawat yang setiap beberapa tahun hanya minta "perbaikan mendalam"!
Gambar: Saab


31 comments:

  1. Min, alasan Indonesia membeli Sukhoi itu apa ya sebenarnya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung @Haykal,
      Sebenarnya ada 2 faktor:

      Pertama, Embargo militer US berlangsung terlalu lama (1999 - 2005). Tahun 2003, sewaktu tiba2 Presiden Megawati menantangani kontrak Sukhoi; kesulitan spare part US sbnrnya sedang pada puncaknya, dan.... insiden Pulau Bawean baru saja terjadi.

      Kedua, sbnrnya pemerintah Orde Baru pernah memesan, sebelum membatalkan kontrak untuk 24 Su-30KI di tahun 1997.
      Ini memudahkan kemungkinan transaksi 2003 -- karena koneksinya sudah ada dari sebelumnya.

      Sayangnya, sbnrnya bagi yang terus mendukung pembelian Sukhoi, sbnrnya melupakan beberapa kenyataan dewasa ini:

      Pertama, Sukhoi tidak berhasil mengurangi ketergantungan Indonesia akan spare part buatan US.
      Tidak hanya F-16, dan T-50 (hanya diproduksi di Korea, tetapi 100% produk US); tetapi juga mesin / spare part/ avionic komponen untuk CN-235, C-212, NC-295 (tiga2 memakai mesin Pratt & Witney), dan C-130.

      Bahkan EMB-314 Super Tucano -- juga mesinnya P&W.

      Kedua, problem maintenance Sukhoi ternyata JAUH LEBIH BERAT dibandingkan F-16.
      Atau bahasa kasarnya: CEPAT RUSAK, dan TIDAK PANJANG UMUR.

      Seperti sudah dituliskan diatas, sbnrnya kita mengejutkan dunia di tahun 2003; karena dapat mengirim F-16 untuk menghadang F-18 US Navy dalam "Insiden Pulau Bawean".

      Bukannya seharusnya F-16 di-embargo dan tidak lagi bisa terbang? Kok masih bisa?

      Jadi ditengah kelangkaan spare part, dan perlu kanibalisasi dari unit lain saja, paling tidak TNI-AU masih tetap dapat mengoperasikan F-16... Itu sebenarnya suatu prestasi tersendiri.

      ## Bayangkan saja:
      2 pilot F-16 Indonesia diwaktu itu; mereka mengetahui kalau jumlah lawan yang dihadapi lebih banyak (5 pesawat).
      Mereka juga tahu sbrnya pesawat mereka spare-part-nya tambal sulam, dan F-16A tidak mempunyai kemampuan BVR.

      Tetapi tetap mereka berani menghadang "5 pesawat lawan".
      Itu baru namanya pahlawan!

      ## Sayangnya, mau diputar-balikkan bagaimana pun juga, Sukhoi tidak akan pernah dapat mereplikasi hal yang sama!

      Wong, tidak kena embargo saja, sudah "rusak berat", dan harus mengalami "perbaikan mendalam" dalam waktu kurang dari 10 tahun.

      ===============
      Tambahan
      ===============

      ## PLA-AF mengoperasikan Su-27SK sejak tahun 1992 -- dan menjadi AU pertama yang mempensiunkan Sukhoi Export.

      ## India sudah mengoperasikan Su-30MKI sejak 2002 (10 tahun lebih muda)--- dan karena usia airframe MKI tidaklah lebih panjang umur dibanding Su-27SK; kita tunggu saja di tahun 2025; saat India akan mengeluh karena banyak Su-30MKI mereka akan habis masa pakainya!

      ## India, Vietnam, dan Indonesia -- yang sama2 sudah mengoperasikan Sukhoi 10 tahun -- semuanya sudah sama2 melapokan kalau akhirnya, pesawat2 Ruski ini mulai membutuhkan "perbaikan mendalam".

      ## Kalau laporan2 dari India cenderung akan selalu lebih marak untuk masalah2 Sukhoi -- karena media berita disana lebih blak2an dalam melaporkan serba-serbi ttg IAF.

      Bukan berarti Vietnam, atau Indonesia lebih pandai dalam merawat pesawat.

      Delete
    2. Berarti alusista buatan barat itu lebih reliable daripada buatan Ruski?

      Delete
    3. Pengertiannya begini:

      # Pesawat tempur Barat, mulai sejak tahun 1960-an dirancang dari awal untuk dapat beroperasi sekurangnya 20 tahun, dan umurnya dapat diperpanjang ke 30 - 40 tahun.

      Alhasil, desain Barat juga akan selalu lebih memperhatikan kemungkinan upgrade / penambahan kemampuan di masa depan.

      # Pesawat tempur Ruski masih mewarisi desain dasar dari jaman Soviet --- seharusnya setiap 10 tahun sudah harus dipensiunkan, dan diganti model baru.

      Di masa Soviet, ini bukan masalah, karena setiap hari semua pabrik mereka akan bekerja membuat pespur baru. Dengan kata lain, seluruh negara Uni Soviet itu seperti pabrik militer yg terus bersiap untuk konflik.

      Tentu saja, prinsip ala Soviet lebih mematikan ke ekonomi negara -- ini adalah salah satu alasan kenapa Soviet bangkrut di tahun 1989; dan kemudian bubar.

      Kembali ke pespur Ruski; krn awalnya hanya dirancang utk beoperasi hanya 10 tahun, setiap spare part mrk tentu saja SELALU akan cepat habis masa pakainya.

      Masalahnya tentu saja, produksi pespur, ataupun semua komponen di pabrik2 Ruski, atau negara2 ex-Soviet yg lain sudah tidak akan bisa lagi sebanyak di tahun 70-an, dan 80-an.

      Tentu saja akibatnya harga satuan spare part menjadi lebih mahal di jaman sekarang ini.

      Produksi lebih sedikit = harga pasti naik.

      .....padahal tidak ada perubahan berarti dari segi kualitas komponen yg diproduksi.


      Masalah lain: desain twin-engine yg jauh lebih kompleks, akan selalu menuntut lebih banyak maintenance, dan spare part dibanding desain single-engine spt MiG-21.

      Itulah kenapa biaya operasional Sukhoi, dan MiG-29 menjadi sangat mahal, dan tetap saja akan selalu sering rusak, apalagi kalau umurnya sudah lewat 10 tahun.

      Ini masih belum menghitung komisi % untuk setiap transaksi penjualan lewat Rosoboronexport Ruski, dan/atau para perantara lokal di masing2 negara pembeli.

      Delete
  2. Min, katanya Indonesia memilih Su-35 tp majalah Angkasa atau Commando msh banyak iklan Saab tentang Gripen. Apa mungkin Saab msh ingin merubah pikiran pemerintah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Keputusan untuk membeli pesawat tempur, pada akhirnya akan kembali ke tangan pemerintah, bukan berdasarkan "keinginan" TNI, atau Kemenhan.

      Presiden Jokowi sendiri sudah mengumumkan, seperti sudah dibahas dalam artikel sebelumnya, pembelian Alutsista:
      ## Harus sesuai kebutuhan, dan bukan keinginan
      ## Harus melalui G-to-g, dan Tidak boleh memakai perantara
      ## Harus memenuhi semua persyaratan UU no.16/2012; Harus ada ToT, dan turut membangun industri dalam negeri
      ## Harus dapat menjadi investasi jangka panjang yg menguntungkan negara

      Dari pernyataan presiden saja, kelihatannya F-16V, dan Su-35S sudah bisa dinyatakan akan GUGUR, apalagi mengingat industri dirgantara Indonesia masih absen mendapat alih tehnologi dari siapapun juga mengenai tehnologi pesawat tempur.

      Masakan kita mau terus-menerus menjadi pelanggan setia US, dan Ruski, yang cuma bisa membeli buta dari kedua supplier yg "saling bersaing" ini?

      Apanya yg menjunjung tinggi kedaulatan negara?

      ## Efek negatif lain dari Su-35: kembali, BIAYA OPERASIONAL, kalaupun tidak perlu menghitung kemungkinan % Komisi perantara, dan paket pesangon.

      Anggaran Belanja tahun ini saja sudah dipangkas, karena ancaman defisit anggaran.

      APBN 2017 dapat dipastikan akan sedikit turun dibanding versi 2016 -- harus akan ada penghematan operasional di setiap departemen.

      Kita perhatikan saja,
      IMHO, harinya Gripen-Indonesia sudah semakin mendekat.

      Bukan berarti dalam jangka pendek pemerintah akan langsung teken kontrak G-to-G dengan pemerintah Swedia.
      Seperti diatas, saat ini keuangan negara masih sulit.

      ## Lagipula, penundaaan ttd kontrak juga akan membawa efek positif yang lain untuk Negara kita:
      Kemungkinan mengambil opsi pembelian Gripen-E, yang kemampuannya jauh lebih unggul, akan menjadi lebih besar dibanding versi-C.

      Lini produksi Gripen-E baru akan mencapai puncak ekonomis di tahun 2019-2020. Pada saat itu, mungkin pembelian -E sudah bisa menjadi lebih murah.

      ## Faktor keuntungan Kedua:
      Penundaan kontrak, berarti Sukhoi, dan BAe-Hawk-209 semuanya akan pensiun hampir berbarengan di tahun 2020-an.

      Ini membuka peluang untuk kita membeli antara 32 - 48 pesawat.
      jauh lebih menghemat dibandingkan terus-menerus tersiksa membeli harga "eceran" karena mau "mencicil".

      Delete
    2. Berarti jika menurut UU no. 16, hanya Typhoon, Rafael, dan Gripen yg bisa dibeli?

      Delete
    3. Hanya produsen Eropa yg akan menawarkan ToT, kerjasama dengan industri lokal, dan tidak hanya itu:
      Mereka juga sudah lebih berpengalaman, dan mempunyai reputasi yg baik dalam hal ini.

      # Dassault sepertinya kemungkinannya sulit untuk masuk,
      Rafale tidak hanya mahal baik dari segi akuisisi, ataupun operasional; tetapi semua perlengkapa/persenjataan tidak akan compatible, dngn yg ada di Indonesia.

      Sy pernah menulis, kalau dulu Indonesia membeli Mirage 2000, dan bukan F-16, mungkin sekarang kita akan lebih condong ke Rafale.

      # Eurofighter sebenarnya membunyai koneksi lewat EADS Casa, yg sudah bekerjasama dengan PT DI sejak tahun 1980-an.
      Namun kembali, biaya akuisisi, dan operasional akan terlalu mahal -- walaupun bisa lebih murah dibanding Su-35, ataupun IF-X sesama twin-engine.

      Kemampuan Networking untuk Rafale, dan Typhoon juga sepertinya akan tergantung ijin US, krn masih memakai Link-16.

      # Saab, spt sudah dituliskan disini, memenuhi semua persyaratan.
      Boleh dibilang Gripen seperti sudah dilahirkan untuk memenuhi semua kebutuhan pesawat tempur Indonesia, tanpa terkecuali.

      Erieye AEW&C, dan rencana pembangunan National Networking yg sudah mereka tawarkan, akan membuka mata kita untuk melihat semua "keajaiban" Abad ke-21, yg tidak akan pernah bisa tercapai kalau terus-menerus bergantung kepada pesawat2 "versi export".

      Delete
  3. bung saya heran kenapa TNI ko seperti ngotot ingin beli pespur baru entah SU-35 atau yg lain padahal f-16 hibah saja belum semuanya datang bukanya sok tau tapi menurut saya f-16 bisa juga menggantikan peran f-5

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang benar.

      Sy juga sudah pernah menuliskan:
      "Kita sudah tidak lagi membutuhkan pengganti F-5E."

      Secara tehnis, 23 F-16 Block-25+ dan 15 T-50i sudah memenuhi kebutuhan ini.

      Pembentukan Sku-16 juga secara tidak langsung juga seperti menggantikan Sku-14 yg F-5E/F-nya pensiun.

      ====================================
      Yang tidak banyak orang lain sadari:
      ====================================
      Sebenarnya TNI-AU sekarang ini sudah jauh lebih kuat dibanding di "jaman keemasan semu" di tahun 1960-an.

      10 F-16A/B Block-15 akan segera memasuki fase MLU (Mid-Life Upgrade), yang akan memberikan kemampuan setara dengan ke-23 F-16 Block-25+.

      Dengan demikian untuk pertama kalinya, kita akan mengoperasikan 2 skuadron penuh, atau 33 F-16 modern, dengan kemampuan BVR yang bisa diandalkan.

      Delete
    2. Tetapi, kalau mulai berbicara modernisasi....

      Disinilah segala sesuatu mulai menjadi ruwet.
      Alasan, dan semakin banyak alasan yg tidak jelas mulai saling bertimbunan, kenapa kita "memerlukan pengganti F-5E".

      Apakah TNI-AU akan pernah bisa "menandingi" negara tetangga?

      Kalau hanya semata terus berpaku untuk menambah JUMLAH, seperti dalam RENSTRA TNI-AU yang sekarang, untuk selamanya sih jangan pernah berharap banyak!

      Kekurangan utama kita adalah TIDAK ADANYA sistem pertahanan yang modern, dan siap tempur!; seperti yang sudah diadopsi Australia, dan Singapore.

      Jadi apakah kita masih membutuhkan pesawat tempur baru?
      Kalau tujuannya hanya sekadar asal belu untuk menambah jumlah; ini sih akan mubazir.

      Negara hanya akan menghamburkan uang untuk lebih banyak pesawat tempur yang bisa dipertontonkan dalam parade Nasional, seperti Hari Kemerdekaan, tanpa pernah mendapat keunggulan kemampuan taktis yang berarti.

      Kebutuhan Indonesia sebenarnya sangat jelas:

      ## Beli dahulu lebih banyak persenjataan, dan perlengkapan untuk pesawat tempur yang sudah ada!
      Yang ada sekarang saja, jumlah senjatanya minim.
      Targeting pod saja, baru mau dibeli.

      ## Kapan mau berbicara Networking?
      Tidak ada Nasional Networking, mau punya 150 pesawat tempur-pun akan mubazir!

      ## Kapan mau membicarakan pengawasan territorial yang lebih maksimal?
      Ini kembali mengacu ke kemampuan Networking, agar dapat berbagi gambaran antar Alutsista darat-laut-udara;
      ..... dan......
      kebutuhan untuk mulai mengoperasikan pesawat AEW&C.

      IMHO, Indonesia akan membutuhkan minimal 2 pesawat; dengan 4 - 6 pesawat menjadi kebutuhan ideal jangka panjang.

      ## Bagaimana caranya meningkatkan kemampuan pilot agar "sebanding" dengan negara tetangga?

      Pertanyaan ini jauh lebih penting daripada sekadar jumlah.
      TNI-AU dengan 60 pesawat tempur Abad ke-21, yg masing2 pilot menguasai kemampuan tunggangannya melebihi 100%, akan jauh lebih efektif.

      ## Terakhir, bagaimana caranya meningkatkan kemandirian Nasional untuk pertahanan udara?

      ToT untuk Alutsista darat, dan laut sudah banyak terjadi.

      Sedangkan menaruh semua uang ke dalam proyek KF-X hanya akan menjadi investasi yg mubazir, karena kita akan bertaruh ke negara ingusan yang "sok bisa", tapi sendirinya tidak akan pernah mempunyai kemampuan mandiri utk membuat pesawat tempur.

      ## Tentu saja, pesawat tempur Indonesia yang ideal untuk generasi sebelumnya bukan Su-35, atau F-16V versi export; yang sama seperti armada yg sekarang, selamanya akan membuat kita semakin ketinggalan jaman.

      Kebutuhan masa depan seharusnya adalah pesawat yg seharusnya dapat menjawab semua kekurangan di atas dengan sekali tepuk:
      ## Training,
      ## Persenjataan yg tak tertandingi,
      ## Kemampuan Networking,
      ## Dapat bekerja-sama dengan pesawat AEW&C secara optimal
      ## Mememuhi semua persyaratan UU no.16/2012, dan dengan demikian akan menjamin kedaulatan negara untuk bebas menentukan sendiri kemampuan pesawat tempur sendiri(!).
      ## Biaya operasionalnya juga, tidak seperti Sukhoi pecinta para perantara yg gampang rusak, harus terjangkau untuk keuangan negara.

      Inilah kenapa kita perlu untuk mulai memperhatikan pentingnya paket lengkap yang ditawarkan Saab:
      Gripen-E + Erieye + Networking + Produksi RBS-15

      Delete
    3. bung kalau g salah pas DPR setuju kita f-16 bebrapa tahun silam mereka maunya f-16 hibah tsb di upgrade setara block 50/52 kenapa malah ahirnya jadi setara block 25 apa ada yg main2 disini?

      Delete
    4. Bung Leon,
      Problemnya semua kembali mengacu ke polemik armada gado2.

      Di tahun 2008 - 2009, para pejabat, ataupun petinggi TNI-AU sebenarnya sadar dalam hati mereka, kalau Sukhoi Su-27/30, dengan segala masalah maintenance-nya, kesiapan terbang yg rendah, dan biaya operasional yg mahal ternyata tidak dapat menggantikan fleksibiltas operasional F-16.

      Karena pmrth SBY saat itu sangat menyukai "beli cicilan" baik ke Ruski, ataupun US; mereka hanya bisa merogoh anggaran $750 juta untuk membeli F-16.

      $750 juta hanya cukup untuk membeli 6 F-16 Block-52 baru.
      Harga eceran membuat F-16 kelihatan mahal, akibat beli cicilan.

      Pemerintah Obama, sebaliknya, menawarkan counter-offer yang sangat lihai:

      Bagaimana kalau kami menawarkan 24 F-16 Block-25 bekas, yang akan di-upgrade level-nya ke setara Block-32?

      Penawaran ini sebenarnya sangat jitu:
      ## Waktu itu, Indonesia membutuhkan lebih banyak pesawat tempur. Sukhoi tidak bisa terbang sesering F-16; sedangkan F-5 sudah semakin sulit perawatannya (Swiss juga mengalami problem yg sama).

      ## Pmrnth Obama juga ingin menunjukkan kalau paket F-16 "hibah" masih akan lebih unggul dibanding Sukhoi tahun 1980-an yg dibeli Indonesia.

      ## 24 F-16, akan mengangkat jumlah F-16 Indonesia ke 34 pesawat -- ini adalah titik ekonomis optimal. Biaya operasional dengan sendirinya akan lebih murah, sedangkan Indonesia sendiri akan semakin tergantung kepada US, daripada "mimpi2" yg sebelumnya.

      Bukankah dengan demikian, kedua belah pihak akan sama2 untung?

      DPR sebenarnya protes: "Masakan kita hanya membeli setara Block-32? Harus setara Block-52 dong!"

      ## Yah, tetapi dengan dana yg tersedia hanya $750 juta (berkat politik beli gado2), dan bukan $1 milyar lebih, kemampuan daya beli / menawar Indonesia dengan sendirinya lebih terbatas.

      ## Pentagon (DepHan) US sendiri masih belum tertarik untuk mengijinkan Indonesia untuk membeli "versi export" yang spesifikasinya terlalu bersaing.

      Untuk jalan tengahnya, yah, US tetap menawarkan F-16 Block-25+ upgrade, tetapi agar DPR senang, kita diperbolehkan untuk menamainya "Block-52ID"; walaupun secara tehnis, spesifikasi F-16 hibah tersebut masih jauh dibawah jika dibandingkan F-16 Block-52 yang asli.

      Jadi kembali -- kedua belah pihak sebenarnya jadi sama-sama senang.

      Delete
    5. Tambahan:

      IMHO, keputusan untuk mengambil 24 F-16 "hibah" adalah keputusan yang lebih baik dibanding kalau waktu itu memilih membeli 6 F-16 Block-52 baru.

      Permasalahannya kembali: Versi Export.
      Apa yang akan diijinkan program FMS US untuk spesifikasi F-16?

      Block-52 Indonesia beli baru, kemungkinannya terlalu besar kalau spesifikasinya "akan lebih rendah" dibandingkan Block-52/52+ yang sudah dioperasikan Singapore.

      Karena toh dua-dua pilihan akan di-downgrade, lebih baik mengambil pilihan yg menghasilkan lebih banyak pesawat -- 24 F-16 hibah.

      # Biaya operasional dengan sendirinya akan lebih murah
      # Dengan menambah kemampuan BVR, F-16 Indonesia dapat kembali naik tahta untuk menjadi Penjaga Udara Indonesia, yang akan jauh lebih ampuh, dibandingkan Sukhoi.
      # Lebih penting lagi, 24 pesawat = lebih banyak pengalaman / jam terbang untuk pilot.

      Point terakhir ini akan menjadi dasar yang bagus untuk Pesawat tempur Indonesia yang Next Generation -- yang seharusnya bukan lagi masih terpaku di versi export US, Korea (sebenarnya US-- sama saja!), atau Ruski.

      Delete
    6. 750jt untuk 6 f-16......
      kalau kesampaian itu benar2 sebuah pemborosan

      Delete
    7. Sekarang masih belum kapok, para petinggi masih mau mencoba mencicil 10, eh, kemudian jadi 8 Su-35 "Kommercheskiy"... yang akan jauh lebih mahal lagi baik dari segi akuisisi, initial provision, atau operational.

      Ironisnya, dengan hanya bisa mengandalkan missile versi export RVV-AE, bahkan Su-35 masih akan kalah dalam BVR combat dibanding F-16 Block-25+, yang senjatanya lebih bagus.

      Su-35 = transaksi tidak akan transparan + komisi perantara + paket pesangon utk bbrp pejabat.

      Semuanya negara yg bayar.

      Delete
  4. Min, ada berita katanya kita ditawarkan frigate Iver Huitfeldt oleh Denmark

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau kita melihat di semua berita militer Indonesia:
      semua orang akan selalu menawarkan sesuatu yg baru.

      pesawat Amphibi: Jepang, atau Russia.

      pesawat Transport: Antonov, atau Airbus.

      kapal selam: U-209, atau Kilo-class

      Ini karena semua pihak sebenarnya melihat kelemahan TERBESAR Indonesia:
      Kita sangat menyukai armada gado-gado, tanpa pernah ada perancanaan strategis yg jelas.

      Membeli itu selalu mudah, apalagi kalau mengikuti keinginan semata.
      Kalau sudah mulai bicara:
      Bagaimana untuk memelihara Alutsista itu dengan baik sampai 20-30 tahun ke depan, dan kemudian apakah bisa mempergunakannya 100% baim dari segi Training, dan Support ??

      Disinilah semua rencana itu akan selalu kandas.

      Dengan dana yg terbatas, seharusnya kita menjadi the smart buyer, bukan asal beli seperti di jaman SBY: Kebanyakan sama sekali tidak ada perhitungan operasional di masa depan, tetapi setelah itu masih sok jago.

      Utk urusan Fregat, sebaiknya Kita tetap berkonsentrasi ke pengembangan dari PKR 10514.

      Delete
    2. This comment has been removed by the author.

      Delete
    3. Iya betul Min, sebaiknya kita konsentrasi bagaimana cara agar PKR bisa menjadi AAW Frigate standard Eropa

      Delete
  5. Wah, sepertinya pertahanan Indonesia itu msh kayak abad ke-20. Mana bisa mempertahankan ancaman yg ada di abad ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selama masih menyukai armada gado2, dengan praktek "asal beli" dalam jumlah cicilan, dan terus-menerus terobsesi dgn Alutsista "versi export",

      Tidak akan pernah ada upaya untuk merancang bangun sistem pertahanan Abad ke-21.

      Dengan demikian kita akan mengutuki diri, agar menjadi yg paling ketinggalan jaman.

      Delete
  6. Berbicara soal F 16 block 25+ indonesia, apakah semua sudah ngandang di pangkalan udara kita ?

    Ya saat ini pespur yang tercanggih dan battle proven milik kita ya adalah F16. Dan yg perlu ditambah adalah paket persenjataanya. . mungkin 20% dari anggaran untuk tni au. . biar gahar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mnrt F-16.net, delivery F-16 B25+ sudah selesai di akhir tahun 2015.
      Kalau melihat armada "parade" TNI-AU, jumlah F-16 juga sudah kelihatan meledak, sementara Sukhoi semakin sedikit...

      Ini kembali menggariskan kenyataan lain:
      Kalaupun twin-engine lebih hebat 2x lipat dibanding single-engine (INI HANYA MITOS BOHONGAN!), jumlah single-engine yg bisa mengudara tetap saja akan 3 - 4x lipat lebih banyak dibanding Twin-engine, sehingga pada akhirnya tetap saja equasinya tidak berubah:

      Single Engine Lightweight Fighter (kecuali F-35 yg BERAT), akan selalu lebih superior dibanding Heavy Twin-Engine Fighter.

      Belum menghitung kalau biaya operasional twin akan selalu minimal 2.5x lipat.
      Sukhoi Ruski yg lebih cepat rusak dibanding Typhoon, atau F-15, biayanya akan selalu 4 - 5X lipat minimal.

      ===========
      Alokasi Anggaran untuk F-16
      ===========
      Memang benar.

      Dalam keadaan armada gado2 yg skrg, jauh lebih baik kita mengalokasikan lebih banyak anggaran untuk TRAINING, dan PERSENJATAAN untuk F-16, dibanding Sukhoi.

      Ini masih akan menjadi investasi yg lebih baik, better-value-for-money,
      Walaupun masih pesawat versi export.

      Sudah seharusnya berhenti untuk "pilih kasih", dan stop menghabiskan terlalu banyak uang untuk Sukhoi!
      Toh, akhirnya akan mubazir juga; tetap saja akan cepat rusak, 10 lagi sudah harus pensiun, secara tehnologi sudah terlalu kuno, dan persenjataan versi exportnya kualitas meragukan.

      Sampai kapanpun juga, kesemua ini tidak akan dapat diubah.

      IMHO, seperti diatas -- semakin cepat Sukhoi dipensiunkan, semakin baik untuk negara;
      Baik dari segi finansial, ataupun kebutuhan strategis di masa depan.

      Delete
  7. Maksud anda apakah 24 pesawat f 16 sudah datang semua ?

    Apakah semua pesawat tempur dari rusia memang boros bbm dan haus spare part ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul. Selalu.
      Sampai kapanpun juga mesin Ruski tidak akan dapat mungkin bisa bersaing dengan tehnology, kualitas, panjangnya umur, dan konsumsi bahan bakar jika dibandingkan mesin PW, GE, Eurojet, atau SNECMA.

      Masalah dasarnya turun ke tiga hal utama:
      ## Industri militer Soviet memang sudah selalu jauh tertinggal; terutama dari segi tehnology, dan precision engineering.
      Untuk selamanya, industri ex-Soviet tidak akan dapat mengejar ketinggalan.

      ## Industri militer Barat juga jauh lebih cooperative dalam hal tehnology sharing, yang sekaligus juga berbuntut saling bersaing utk membuat kualitas mesin yg sebagus mungkin.

      Soviet yg sudah ketinggalan jaman, tidak pernah kecipratan tehnologi karena selalu dianggap musuh bersama.

      Ruski post-Crimea 2014 skrg juga sudah dianggap musuh bersama di Eropa, dan demikian, dalam jangka panjang proseknya sangat jelek. Mereka hanya akan semakin terkucil, dan tertinggal.

      ## Terakhir - Kembali, pada jaman Soviet, mereka tidak pernah merasa perlu utk terlalu meningkatkan kualitas mesin mereka agar lebih tahan lama.

      Kurangnya kualitas mesin mereka, dapat selalu ditebus dengan kelebihan produksi -- artinya spare part harus selalu ready stock.

      Konsumsi BBM... juga jawabannya utk Sukhoi yah, hanya membuat tangki bahan bakar yg sebesar mungkin.

      Yah, mereka akan selalu mendahulukan KUANTITAS daripada KUALITAS utk menyelesaikan semua masalah militer mereka, baik secara strategis, ataupun engineering.

      Btw,
      kalau kualitas mesin Ruski "tidak bersaing", kualitas mesin buatan PRC, yg didapat dari warisan ilmu "jiplakan", kualitasnya lebih hancurrr lagi.

      Delete
  8. Dan ada rencana untuk menggantikan hawk 109/209 dengan fa 50, apakah itu artinya tni au akan menambah lagi pesawat tempur satu mesin ?

    Toh hingga sampai saat ini kita masih menghamburkan uang untuk menerbangkan sukhoi, boleh lah buat isi² skuadron tempur ( tapi harus 100% siap terbang dan kurangi jam terbang ) soale boros

    Dan katanya, kita akan menambah 4 skuadron tempur lagi, apakah kemungkinan gripen / f 16 akan masuk dalam skuadron baru tersebut ?

    ReplyDelete
    Replies

    1. FA-50, seperti sy sudah sebut sebelumnya, hanya akan menjadi F-16 kelas dua; tanpa kemampuan BVR, Networking, atau Helmet-Mounted-Display.

      Karena Lockheed-Martin memegang kontrol atas "Source Code" untuk semua T-50, kemungkinannya terlalu kecil kalau mereka akan mengijinkan Korea menambah kemampuan BVR, dan kemudian menjadikannya model yg bersaing dengan F-16.

      T-50 sendiri sebenarnya adalah contoh jelek "mencoba membuat pespur sendiri" dengan kerjasama Lockheed-Martin US.

      Secara tehnis, pesawat ini adalah pesawat US, hanya pabriknya saja di Korea --- ini walaupun pemerintah Korea harus membuang uang 87% untuk biaya development T-50.
      Nah, dari sini saja, kita sudah bisa membayangkan kalau proyek KF-X itu akan mengalami nasib serupa, atau malah lebih gawat lagi, karena produk ini akan bersaing dengan produk Lockheed-Martin!

      Lebih baik menambah F-16 Block-25+ Hibah, dibanding membeli FA-50 versi export baru.

      Jauh lebih baik lagi, seperti diatas:
      Mengganti BAe Hawk-209, dan Sukhoi -- dengan 2 skuadron Saab Gripen-E.

      Biaya operasional Gripen memang sudah dirancang dari awal untuk lebih murah 40% dibanding F-16, dan dengan demikian masih akan cukup bersaing dengan biaya op BAe Hawk, atau FA-50, sementara kemampuannya benar-benar 10-20x lipat lebih unggul.

      Belum lagi menghitung keuntungan kita secara strategis -- kita akan mengoperasikan pespur yang fully-networked untuk pertama kalinya, dan akan dapat beroperasi dengan Erieye AEW&C.

      ... dan juga secara industrial, karena setiap $$ yang diinvestasikan dalam Gripen-E, akan dikembalikan ke industri pertahanan Indonesia. Saab sendiri mengklaim hampir 85% dari nilai transaksi Gripen, akhirnya akan dikembalikan dalam jumlah lapangan kerja, produksi / perawatan yang akan dibuat untuk menyokong Gripen System, produksi untuk RBS-15, dan pembangunan National Network.

      IMHO, kita tidak akan membutuhkan 10 skuadron pespur.
      Kalau kemampuan setiap pespur jauh lebih optimal dari sekarang (Baca: Gripen-E, dan bukan pespur versi export), kita tidak akan butuh lebih banyak dari 4 - 5 Skuadron saja.

      Inilah kenapa Gripen-E adalah pilihan terbaik untuk Indonesia.

      Delete
  9. Udah armada kita gado², trus jumlahnya nanggung atau sedikit. Dan parahnya lagi tidak bisa saling berkoneksi antar pesawat tersebut.

    Kalaupun kita mempunyai pesawat gado², harusnya yang bisa saling terkoneksi. Contoh gripen dan f16.

    Dari thn 2014 udah terdengar akan pengganti f5 kita. Dan sampai saat ini belum kelar. Dan apa ada kabar terbaru dari berita ini bung ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belum.

      Sejauh ini kita justru harus bersyukur kalau pemerintahan Jokowi tidak keburu nafsu utk main "asal beli", atau asal tanda-tangan (KF-X), tanpa perlu menimbang arti strategis, dan investasi yg jangka panjang.

      Memang ngomongin "pengganti" sudah dari 2014, tp IMHO, mengingat masalah kurs, dan perekonomian yg sedang melambat, pembelian ini kemungkinannya akan tertunda sampai 2018-2020.

      Tentu saja, semakin lama TNI-AU masih terus mengoperasikan Sukhoi yg menyedot anggaran, penundaan pembelian hanya akan semakin molor.

      Re: F-16, dan Gripen:
      Sy juga melihat kalau armada TNI-AU dalam tahap selanjutnya, akan mengoperasikan F-16, dan Gripen.

      Ini akan menjadi bahasan yg menarik tersendiri.

      Delete
  10. Pesawat uni soviet / rusia memang terkenal murah dan boros spare part, berbeda dengan pesawat amerika yang mahal namun awet spare part.

    Tunggu semua f 25+ dari amerika datang semua + lengkapi senjatanya.
    Seperti apa yang anda katakan, senjata dan jam terbang adalah yang utama .

    Lengkapi progam MEF dengan bijaksana dan tepat dulu,.

    ReplyDelete