Wednesday, August 31, 2016

Analisa: F-35 - pesawat yang salah konsep (Bagian II)

F-35C (US Navy Photo)

F-35C draggy jet yang terbang dengan membawa 6 pylon....(US Navy Photo)

"Eh, tunggu dulu, bukankah seharusnya ini pesawat stealth? Kenapa masih membawa senjata di pylon?"

"Begini ceritanya," para ahli dari group F-35 fanboys menjelaskan. "F-35 harus mempunyai kemampuan untuk membawa senjata di pylon, karena kalau pertahanan udara lawan sudah berhasil di-netralisir, F-35 harus dapat membawa lebih banyak senjata dari hanya 2 bomb yang bisa dibawa Conformal Weapons bay-nya!"

"Oh, begitu toh, jadi berguna pada saat F-35 sudah tidak lagi memerlukan stealth," jawab si Armchair Analyst, yang pengetahuannya masih awam, dan tidak mempunyai kualifikasi aeronautics, ataupun pernah bekerja sebagai pilot apapun, yang kemudian menanyakan pertanyaan awam berikut yang sewajarnya:

"... akan tetapi, bukankah ratusan F-16C/D, F-18E/F, ataupun F-15E yang sekarang ada sudah dapat melakukan tugas yang sama dengan biaya akuisisi per unit, dan biaya operasional per jam yang jauh lebih murah (dibanding F-35 Lemon II)? Belum lagi menghitung, bukankah F-18E/F dan F-15E; dua twin-engine fighters yang ukurannya lebih besar, dan jumlah pylon-nya lebih banyak akan dapat membawa lebih banyak bomb?"

.......(sunyi senyap).....

Lebih lanjut, saatnya membahas beberapa fundamental flaw lain dari F-35, yang akan sangat sulit untuk diperbaiki, dan walaupun milyaran dollar lagi dihamburkan, tetap saja tidak akan ada perubahan yang berarti.


Helmet Mounted Display untuk F-35: 
HARUS custom-built untuk setiap individual pilot, harganya $400,000 per unit,
dan..... performanya lebih jelek dibanding JHMCS  

F-35's "high-tech" Helmet Mounted Display:
Photo: Wikimedia
Helmet Mounted-Display untuk F-35, buatan Rockwell-Collins, seperti segala sesuatu di pesawat ini, yang mengaku-ngaku "Generasi kelima", tentu saja harus menjadi "the world's most advanced!". 

Tidak seperti Helmet Mounted Display traditional, seperti JHMCS II, atau Scorpion; "F-35 Gen III Helmet Mounted-Display" sudah di-slave dengan AN/AAQ-37 Distributed Aperture System Electro-Optical (buatan Northrop-Grumman) yang memadukan sistem IRST, dan optical camera, akan memberikan kemampuan untuk pilot dapat "melihat" 360 derajat disekeliling pesawat (seperti melihat tembus ke belakang, atau ke bawah), dengan kemampuan Night Vision, sekaligus memberikan keunggulan Situational Awareness dari IRST, karena setiap missile, atau ancaman yang mengancam pesawat akan dapat terlihat dengan mudah oleh pilot F-35.


Kelihatannya luar biasa canggih, bukan? 

Kenyataannya, seperti segala sesuatu yang lain dalam F-35, "magic helmet" ini-pun dengan sendirinya memperkenalkan segudang masalah baru. Versi yang sekarang sedang diuji-coba sudah Generasi ketiga, yang ternyata.... tetap saja tidak bisa memperbaiki masalah-masalah yang sama: 
  • Harganya terlalu mahal - $400,000 / unit, atau hampir beberapa kali lipat paket remunerasi pilot USAF selama setahun; sedangkan JHMCS II harganya hanya sekitar $50,000 / unit.
  • Setiap unit harus di-custom-built untuk setiap pilot. Bayangkan! Seandainya satu pilot kecelakaan, atau sakit, pilot cadangannya saja sudah harus siap untuk mempunyai satu Helmet cadangan seharga $400,000!
  • Helmet ini sendiri terlalu berat (2,31 kilogram), dan beresiko cukup besar untuk menimbulkan cedera pada leher pilot, kalau harus "eject" dari pesawat, bahkan bukan tidak mungkin dapat membunuh pilot!
  • Kemampuan Night Vision-nya tidak memenuhi syarat.
  • Situational Awareness, yang mana? Menurut pilot, display-nya sulit untuk dibaca, apalagi kalau dalam situasi turbulance.
  • Pilot F-35C US Navy melaporkan kalau melihat lewat HMD ini, seperti melihat lewat "jendela yang kotor", sangat sulit untuk membedakan beragam sinar dari luar, dan membuatnya tidak bisa mendapatkan kualifikasi untuk mendarat di atas kapal induk US.
  • Yang paling parah: Ukuran helmet ini sendiri dilaporkan terlalu bulky (kebesaran) untuk pilot dapat menoleh di dalam cockpit! Yah, helmet ini mempunyai kemampuan melihat 360 derajat sekeliling pesawat, dan menembus airframe ke bawah, atau ke belakang, tetapi pilotnya sendiri akan kesulitan untuk menoleh..........!!
  • Masalah terakhir: tidak seperti semua pesawat tempur lain yang masih diperlengkapi dengan HUD (Head Up Display) di cockpit, semua informasi, atau readings dari F-35 akan dipancarkan melalui HMD ini. Hanya memerlukan satu malfunction, untuk helmet yang ultra-modern ini, dan pilot F-35 akan sama sekali buta, tuli, dan pikun.
DAS system, dan Helmet Display ini, sebenarnya tidak hanya untuk memenuhi cita-cita "lebih modern dari yang lain", tetapi juga lahir dari kelemahan fundamental F-35 yang sudah dibahas sebelumnya: Pesawat ini terlalu gemuk! Tanpa bantuan HMD yang dapat melihat "menembus" pesawat, mereka tidak akan pernah dapat melihat dimana lawan!

Tentu saja, semua masalah F-35 belum bisa berhenti disana.


EOTS (Electro Optical Targeting System) di F-35 sudah ketinggalan jaman 12 tahun, dibandingkan generasi terbaru dari Sniper ATP-SE buatan Lockheed-Martin sendiri.... yang sudah bisa dibawa F-15, dan F-16

Gambar: Northrop-Grumman 
Sistem EOTS di atas kertas, seperti segala sesuatu yang lain tentang F-35, juga cukup menarik: Memadukan kemampuan IRST untuk melihat pesawat lawan, sekaligus kemampuan targeting pod seperti Litening pod, atau Sniper pod.

EOTS untuk F-35 didasarkan pada Litening II pod buatan Northrop Grumman di tahun 1990-an. Untuk F-15, F-16, dan F-18, yang jauh lebih fleksibel karena tinggal pasang-copot, Litening II sudah jauuh ketinggalan jaman. Ketiga model ini dapat memilih antara Northrop-Grumann LITENING-SE, atau Lockheed-Martin SNIPER ATP-SE, yang dua generasi lebih modern.

Sayangnya, kembali ini menggariskan salah satu fundamental flaw dari stealth fighter design, yang juga sudah mendera F-22: sistem EOTS di F-35 harus di-built-in ke dalam airframe pesawat, dan tidak semudah itu untuk bisa di-upgrade -- karena segala sesuatu didalamnya sudah di-"fused" dalam satu sistem. Dalam hal ini, EOTS juga akan terintegrasi dengan DAS system, dan Helmet-Mounted Display, seperti diatas. Dengan demikian mengubah satu komponen, berarti harus mengganti hampir semuanya!

Yah, ternyata F-35 yang "Generasi kelima" sudah ketinggalan jaman lebih dari 12 tahun dibanding "Generasi keempat".

Maaf, pernyataan ini SANGAT keliru!
Link: Business Insider.com 
"The Insanely Expensive F-35 is a waste of money!"


Software Issue: F-35 akan sangat sulit untuk mengintegrasikan setiap senjata baru, dan  masih belum bisa menembakkan GAU-22A cannon ..... sampai tahun 2019!


Ben Affleck, dan Josh Harnett sudah bisa menembak dengan P-40 kok, di-"tahun 1941",
sedangkan F-35 BELUM BISA menembak sampai 2019!

Senapan mesin. 

Senjata paling sederhana yang sudah bisa dipakai setiap pesawat tempur sejak baling-baling bambu di tahun 1914. Dewasa ini, pesawat tempur modern dapat memilih antara gatling gun (M61 di F-15, F-16, dan F-18), atau revolver cannon (BK-27 Mauser di Typhoon, atau Gripen).

F-35 untuk pertama kalinya didunia, adalah pesawat tempur yang masih belum bisa menembakkan cannon GAU-22A-nya, sampai tahun 2019.

Masalahnya mengacu ke satu hal: Software, atau Source Code pesawat!

F-35 mempunyai 24 juta baris programming line di tahun 2012, dan sampai sekarang masih belum kunjung selesai untuk ditulis. Versi terakhir, Block-3i, menurut F35.com baru menyelesaikan 89% dari total programming code lines yang dibutuhkan agar F-35 dapat operasional.

Software untuk Block-3i, menurut FlightGlobal (27-April-2016) mempunyai failure rate setiap 15 jam sekali, sedangkan Block-2B yang sebelumnya bisa gagal setiap 4 jam. Ini sebenarnya sudah dihitung sebagai suatu kemajuan, mengingat dalam satu tes, hanya satu dari enam F-35A di Mountain AB, Idaho, yang dapat mengudara justru gara-gara masalah software glitch. Availability Rate -100% turun banyak dibanding F-15C, dan F-16C/D yang masih menikmati angka di atas 75%.

MBDA pernah membahas bagaimana Meteor akhirnya akan dapat diintegrasikan ke F-35. Yah, mengingat pesawat ini hanya bisa BVR Combat, dan sangat membutuhkan senjata yang lebih baik dibandingkan AMRAAM; kombinasi ini memang masuk akal. Tetapi...... kembali, karena masalah software issue, tidak akan terjadi sampai software Block-4, atau mungkin sekitar 2025, atau lebih lama lagi.

Lagipula, MBDA Meteor tidak akan muat ke dalam ukuran.... lagi-lagi conformal weapons bay di F-35 yang sempit, dan sudah membuatnya menjadi lebih draggy, lebih berat, dan gemuk. Untuk dapat dimuat, akan membutuhkan "sedikit" modifikasi untuk memotong panjangnya missile. Dengan demikian, kemungkinannya cukup besar kalau jumlah bahan bakar untuk Meteor versi F-35 akan lebih sedikit dibanding versi standard untuk Eurocanards. Lebih sedikit bahan bakar = jarak jangkau akan lebih terbatas.

Sangat meragukan kalau kombinasi F-35, dan Meteor, akan dapat menandingi ketiga Eurocanards yang tidak perlu menghadapi kendala yang sama.


Sama seperti Sukhoi di Indonesia: Biaya operasional F-35 akhirnya akan mencekik semua angkatan udara NATO!

Dalam perhitungan yang paling optimis saja, biaya operasional untuk F-35A sudah lebih mahal dibandingkan Eurofighter Typhoon, atau Dassault Rafale, walaupun akan masih lebih murah dibandingkan Su-35 Kommercheskiy, yang secara tehnologi bahkan sudah lebih ketinggalan daripada hampir semua pesawat tempur Barat.

RNLAF (Royal Netherlands Air Force) membuat estimasi biaya operasional per tahun 270 juta Euro, hanya untuk 37 pesawat F-35A versi export. Dengan asumsi jumlah jam terbang 200 jam per unit, biaya operasional pesawat "lemon" ini akan mencapai 36,486 Euro per jam.

Bagaimanapun juga hebatnya stealth fighter (dan kenyataannya tidak begitu), atau pesawat tempur manapun, tidak pernah bisa memberikan justifikasi untuk biaya operasional yang terlalu mahal. Kebutuhan maintenance akan selalu lebih berat, seiring dengan itu, kesiapan tempur Angkatan Udara akan berkurang, dan tentu saja, akhirnya jam terbang untuk Training akan berkurang. Apalagi kalau kesulitan pertumbuhan ekonomi negara mulai mengekang, atau akhirnya mengurangi proporsi anggaran pertahanan.

Angkatan Udara yang kurang training, kemampuannya hanya akan semakin menurun tanpa ada perubahan yang berarti, dalam artian, mengoperasikan pesawat tempur yang biaya operasionalnya lebih terjangkau.

Tentu saja, kembali patut diingat, bahkan USAF-pun tidak kebal dari kesulitan untuk mempertahankan jumlah pilot yang tersedia. F-35 tentu saja akan memperparah keadaan ini di masa depan. Baik jumlah pesawat, ataupun jumlah pilot hanya akan terus berkurang.



Penutup


"When the roots of a tree start to decay,
it spreads death to its branches...."
-- Peribahasa Nigeria --

Kalau sesuatu memang sudah membusuk di akarnya, bagaimanapun juga hasilnya akan selalu rusak, dan tidak akan mungkin dapat diselamatkan lagi. Inilah peribahasa yang paling menggambarkan F-35 Lemon II. Boleh dibilang bahkan, semua kesulitan di pesawat ini sebenarnya bukan kesalahan Lockheed-Martin, tetapi seperti sudah ditulis dalam artikel sebelumnya: pesawat ini sudah SALAH KONSEP dari awal.

Canadian Prime Minister, Justin Trudeau:
"....(F-35) does not work,and is far from working."
National Post, Canada


Mari menilik ulang kenapa F-35 memang sudah busuk dari awal. Perhatikan beberapa diagram berikut:



Ide "Stealth for all" seperti yang dicetuskan di Pentagon di awal tahun 2000-an saja, sebenarnya sudah membohongi diri sendiri dari awal.

Desain dasar stealth mempunyai banyak keharusan yang tidak akan pernah bisa dipenuhi pesawat Lightweight single-engine di kelas F-16:
  • Konstruksi dasar, dan material sudah spesialis, untuk di-optimalkan untuk stealth RCS dari awal. Mau diputar bagaimanapun, pesawat stealth yang paling sederhana sekalipun, biaya development, harga per unit, dan perawatannya-pun akan selalu lebih mahal, dan lebih sulit.
  • Pesawat stealth juga harus membawa conformal weapons bay, yang dengan sendirinya membuat pesawat ini lebih gemuk, dan berat; sebenarnya lebih menuntut desain Twin-Engine, untuk dapat mengkompensasi kedua kelemahan ini.
B-29 Superfortress; Credits: Associated Press
... or a 1940s Boeing B29 Superfortress can do a much better job
"My conformal weapons bay is way better!
I can carry 9,000 kgs, as opposed to your pathetic little 1,890 kg capacity..."
  • Seperti sudah dilihat dalam artikel ini, karena segala sesuatu harus di-built-in dan di-fused dalam satu airframe, pesawat stealth akan selalu menjadi terlalu sulit, dan terlalu mahal untuk bisa di-upgrade.
Untuk menjadi seperti F-16, setiap pesawat tempur harus menganut konsep dasar yang sama: Ukuran lebih langsing, lebih ringan, dan biaya perawatan murah, agar dapat terbang berkali-kali. 

Dua kebutuhan yang saling bertentangan, bukan?  

Karena ukurannya yang besar, F-22 sebenarnya adalah pesawat tempur stealth yang paling ideal. Sedangkan program F-35, yang mencoba menjejalkan konsep stealth yang sama ke platform single-engine di kelas F-16; dengan sendirinya faktor resiko, dan kesulitannya sudah menumpuk segunung dari awal.

Dan, tidak berhenti disana, F-35 masih harus menjejalkan.... kebutuhan supersonic V/STOL yang diminta US Marine, dan ini lebih parah lagi.
Yah, konsep supersonic V/STOL sebenarnya bermusuhan dengan semua konsep lain yang diinginkan semua pihak lain dari F-35. Masih belum cukup disana:


Ide gila dari para jendral USAF bahwa F-35 akan dapat menggantikan A-10 Thunderbolt, yang konsep dasarnya adalah pesawat dapat berputar-putar lama di atas medan tempur, tahan banting kalau ditembak lawan, dan memberikan support ke tentara di bawah apabila diperlukan, sama sekali tidak bisa dipenuhi bahkan dengan pesawat di kelas F-16 sekalipun, yang akan terbang terlalu cepat, dan menghabiskan terlalu banyak bahan bakar untuk misi yang sama.


A-10 Thunderbolt menyelamatkan Letnan Kim Campbell di Iraq, 2003,
karena pesawat ini sudah dirancang dari awal untuk bisa selamat dari intense ground fire!
(US Air Force Photo - via Wikimedia)

F-35 TIDAK PERNAH dirancang untuk terbang rendah, dan ditembaki lawan!
Pesawat ini akan terbang terlalu cepat, terlalu tinggi, dan terlalu jauh
dari realita medan tempur di bawah.
Sebenarnya F-35 cukup memprihatinkan! Pesawat ini hanyalah korban politik, yang sudah hancur dari sebelum pertama mengudara, karena apa yang diinginkan sudah sangat bertentangan dengan realita. 

Pesawat ini sudah tidak mungkin masih bisa diselamatkan!

Saksikan saja lebih lanjut sebelum F-35 menunjukkan banyak lagi problem yang akan dimuat dalam laporan DOT&E pemerintah US. Ibarat kapal yang sudah mulai tenggelam, saat ini semua participant dalam JSF project seperti mencoba menambal kebocoran..... hanya dengan memakai lembaran uang kertas US$.
The reality of F-35 in one simple graphic
(Credits: unknown artist, @ imagefriend.com)
Psst..... bagaimana caranya si negara pembuat pesawat amatiran, yang proyeknya "menginginkan" pesawat yang "lebih unggul" dari F-16, tetapi "tidak dapat mengungguli" F-35 "Lemon" II?

Ketiga Eurocanards sudah jauh lebih unggul dalam hampir segala hal, dari kedua pesawat Lockheed-Martin itu dari sekarang.

18 comments:

  1. bung GI dalam BVR/wvr bagaimana caranya pespur non stealth bisa menang melawan pesawat stealth(f-22,f-35,pakfa dll)sedangkan stealth sulit terlihat oleh radar

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Dalam pertempuran jarak dekat (WVR), ketiga Eurocanards akan menandingi, atau menggunguli F-22...
      Ini bukanlah pesawat tempur terbaik didunia, performa kinematisnya tidak jauh lebih unggul, dan dari segi platform cukup bermasalah; seperti Sukhoi, pelan2 juga semakin ketinggalan jaman, mulai dari defense suite modern, ataupun persenjataan.

      Untuk F-35.... Pesawat "gemuk, draggy, dan berat" ini tidak dirancang untuk pertempuran jarak dekat. Pswt ini akan kesulitan untuk menghadapi F-5E Tiger II, atau MiG-21 versi upgrade. Itu juga kalau software-nya tidak crash di udara.

      ## Untuk BVR combat --- sy akan menuliskan lebih mendetail topik lain.

      Singkat cerita, tidak akan semudah itu untuk memenangkan BVR combat, dengan, atau tanpa stealth; apalagi menghadapi lawan yg sudah memenuhi semua persyaratan "21st Century Air Superiority Fighter".

      USAF, spt sudah sy tuliskan sblmnya, hanya bermimpi kalau F-22, dan F-35 mereka akan dapat mengalahkan semua lawan dalam BVR combat.... dengan hanya mengandalkan AMRAAM.

      ## Untuk semua pespur Ruski, versi manapun juga (termasuk PAK-FA), masalahnya sama: secara tehnologi mereka sudah terlalu tertinggal jauh, biaya operasional terlalu mahal, jumlah jam latihan akan selalu kurang, dan tidak seperti mitos Ausairpower, mereka sebenarnya menderita "under-investment " untuk BVR combat.

      Wong, missile andalan mereka, yg sampai dibawa ke Syria, hanyalah R-27 (AA-10 Alamo), tipe semi-active radar-homing (SARH) yg perlu dituntun 100% oleh radar pesawat induknya dari mulai ditembakkan, sampai mengenai target, tanpa pernah bisa dilepas.

      Sebaliknya kualitas RVV-AE, RVV-SD, atau RVV-MD versi export juga akan sangat meragukan..

      Ruski tidak pernah membeli missile dari keluarga R-77 (izdeliye-170) dalam jumlah besar, apalagi pernah mengetesnya secara intensif, seperti AMRAAM, MICA, atau Meteor.

      Dengan kata lain, semua missile Ruski tidak akan dapat menandingi kualitas AMRAAM, yg kemampuan kill-nya saja belum tentu bisa terjamin.

      Delete
  2. Kalau untuk masalah dogfight, lebih unggul F-22 atau F-35?

    ReplyDelete
    Replies
    1. F-22 akan jauuuuh lebih unggul.
      ## kemampuan supercruise; dapat menentukan kapan mau bertempur, kalan mau lari, atau kapan mau menyerang tanpa disangka.
      ## T/W ratio 1,08, dan wing-loading 377 kg/m2 memastikan manuever juga jauh lebih baik daripada si gendut F-35.

      Kelemahan F-22 dalam pertempuran jarak dekat:
      ======================================
      Tidak ada Helmet-Mounted Display, untuk mengoperasikan AIM-9X Block-2 --- dengan kata lain, kecuali kelebihan Supercruise, sensor dan Networking, sebenarnya hanya akan seimbang dengan......... F-16 Block-25+ Indonesia, yg juga sama2 tidak membawa JHMCS.

      F-22 akan kesulitan untuk menghadapi generasi terbaru dari ketiga Eurocanards;
      ==========================================
      ## Typhoon, dan Gripen-E membawa IRST buatan Selex-ES untuk melihat F-22 dari jarak 90 kilometer+ secara pasif, dan juga dipersenjatai Meteor BVRAAM dengan dual-datalink, dengan jarak jangkau di atas 200 kilometer+.

      F-22 tidak membawa IRST, dan juga tidak mempunyai kemampuan untuk mengoperasikan AMRAAM-D dengan 2-way datalink.

      ## Typhoon, dan Gripen juga akan membawa Helmet-Mounted-Display, dan BISA membawa WVR missile di kelas ASRAAM ( IR missile jarak jangkau 50 killometer), AIM-9X Block-2 atau IRIS-T.

      Lagi-lagi dua kemampuan yg F-22..... juga tidak bisa,
      belum lagi menghitung ukurannya yg sangat besar, akan membuatnya lebih gampang dilihat pilot lawan, dan akan jauh lebih kesulitan untuk menghindari..... Peluru yang bodoh, dan tidak mengenal stealth.

      Delete
  3. Thanks bung gi atas artikelnya..
    Akhirnya saya paham knp sering bgt bung gi nyebut f35 sbg pesawat lemon..
    Ulasan2 yg bung gi sampaikan lengkap dan lugas..
    Oh ya bung.. Tolong dong di skenariokan penempatan gripen d indonesia jika indonesia terlibat konflik dengan cina d lcs..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung @tutus,
      Trmksh atas feedback-nya.

      Sy akan menulis lebih lanjut, kenapa baik F-22, dan F-35 akan kesulitan untuk mengalahkan pespur lawan yg sudah siap dalam BVR combat;

      ... dan kenapa dalam jangka menegah saja, kelebihan stealth keduanya juga akan semakin tidak relevan, saat semua pihak mulai ber-migrasi ke AESA radar, dan kemampuan passive sensors, yg "kebal stealth".

      Lebih lanjut:
      ## Bagaimana ketiga Eurocanards tetap saja akan semakin mudah untuk mengalahkan F-22, atau F-35..... Khususnya kenapa Gripen-E akan mempunyai kemampuan utk mengalahkan kedua model US yang jauh lebih mahal ini.

      ## Gripen-Indonesia dalam konflik LCS vs PRC.... Ini juga coming soon...

      Delete
  4. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  5. bung berapa kira2 harga f-35 untuk batch pertama

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jauh lebih mahal daripada perkiraan -- karena sudah pesawatnya konsep-nya kacau, LM / Pentagon juga melompati tahap prototyping yang terlalu lama, dan sudah langsung melompat ke LRIP (Low Rate Initial Production); dan karena itu kerusakan yang ditemukan akan menular ke setiap unit.

      Sejauh ini hampir 200 F-35 sudah diproduksi, dan semuanya bermasalah.

      $200 juta untuk F-35A sebelum tahun 2014
      <$250 juta untuk F-35B/C sebelum tahun 2014

      LM berkata F-35A akan turun harganya ke $85 juta di tahun 2019... Mengingat semua masalahnya masih se-abrek (Lihat di atas), kemungkinanya terlalu kecil kalau "mimpi" ini bisa tercapai.

      Delete
    2. Min, jika tdk ada prototype, maka waktu kompetisi LM memakai apa untuk melawan Boeing X-32?

      Delete
    3. X-35 hanya concept demonstrator lebih untuk menguji kelaikan konsep untuk memenangkan program JSF, bukan prototype.

      Tidak ada radar, tidak ada software, tidak ada komputer, tidak pernah ada Helmet Mounted Display, dan dngn demikian, mereka juga tidak pernah "mengetes" seberapa berat, dan draggy F-35.

      Delete
    4. Berarti X-35 itu hanya fuselage dgn engine dan flight controls?

      Delete
    5. Berarti X-35 itu hanya fuselage dgn engine dan flight controls?

      Delete
    6. X-35 boleh dibilang tujuan utamanya hanya untuk mengetes konsep desain F-35B versi V/STOL, bukan prototype.

      ketiga versi F-35 akan berbagi desain fuselage yg sama, jadi secara konsep fuselage X-35 hanya harus menunjukkan bisa "muat" lift-fan untuk versi-B, dan masih bisa terbang supersonic.

      Patut diingat kalau di tahun 1970-an, US cukup sukses untuk melompati "prototyping phase" yg terlalu lama dengan F-14, F-15, F-16, dan F-18.
      Demo model bisa terbang, langsung lompat ke LRIP, dan produksi Block-1; dengan demikian penghematan banyak dari segi development cost.

      Perbedaannya dengan F-35; keempat teen fighters dibuat atas dasar konsep yg jauh lebih sederhana, lebih spesifik, & dengan demikian juga faktor resikonya jauh lebih rendah.
      Tentu saja ada bbrp faktor keberuntungan disini, dan pada tahun 1970-an boleh dibilang sedang masuk jaman keemasan industri pespur US.

      Delete
  6. Min, adakah perbedaan filosofi antara alusista barat dengan timur?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pertanyaan anda sebenarnya cangkupannya cukup luas.

      Perbedaan paling mendasar untuk men-cover semua basis filosofi antara Barat vs Russia:

      ## Angkatan Udara Barat lebih memprioritaskan kebebasan taktis dalam setiap unit (Squadron Leader, Flight Leader, atau Individual pilot) untuk memenangkan setiap pertempuran.

      Situational Awareness adalah prioritas utama dari segi design pesawat, dan Training; agar pilot dapat mengambil keputusan terbaik secara independent tergantung pada kondisi lapangan.

      Berkaitan dengan SA ini, koordinasi antara pilot pespur, dan controller di pesawat AEW&C juga akan selalu menjadi prioritas utama, dan seiring dengan ini... pengembangan kemampuan Networking untuk berbagi situasi taktis seakurat mungkin.

      ## Pilot untuk pesawat tempur Ruski sebaliknya, tidak pernah diberikan kebebasan untuk mengambil keputusan sendiri.

      Segala sesuatu harus dikoordinasi lewat Ground Control, dan seiring dengan itu, Situational Awareness, dan Networking antar pesawat, atau dengan AWACS tidak pernah menjadi prioritas yang tinggi.

      ## Sehubungan dengan diatas;
      Training pilot pesawat tempur Barat juga cenderung jauh lebih berat, dan lebih intensif dibanding pilot yang berlatih menurut sistem Ruski.

      Inilah kenapa India, yang mencoba menggunakan Su-30MKI menurut sistem training Barat, melaporkan banyak kesulitan!

      Sukhoi, yang memang umur airframe, dan semua part-nya lebih terbatas, tidak pernah di-desain untuk terus-menerus bermanuever tempur (+/- 5G, misalnya) setiap hari -- kalau tidak, ya, cepat rusak!

      Delete
  7. bicara training standar training untuk Rusia berapa jam terbang per tahun bung dan apakah indonesia sudah mengikuti standar ini?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Standard Training Soviet tidak pernah sebanding dari segi kualitas, ataupun seberapa realistisnya skenario tempur, dibanding sistem Barat, yg sebenarnya sudah berevolusi bbrp kali, dan selalu memprioritaskan lebih banyak jam terbang.

      Kebanyakan pesawat Soviet, sebelum Sukhoi Flanker, juga cenderung jarak jangkaunya sangat terbatas -- dengan sendirinya juga mengurangi jam latihan ke angka minimum; sedangkan Sukhoi Kommercheskiy biaya operasionalnya selangit, dan reliabilitas ya kurang terjamin = sama saja.

      Perkiraan dari bbrp sumber: Tidak akan lebih dari 100 jam setahun, untuk angka paling optimis, dan seperti diatas, kualitas latihan per jam sistem Soviet tidak sebanding dengan setiap jam latihan sistem Barat.

      Latihan untuk Sukhoi Indonesia? kita hanya bisa estimasi kasar.
      Mengingat biaya op sekarang bisa menembus Rp600 jut / jam (termasuk biaya perbaikan mendalam); paling banyak rata2 jumlah latihan hanya akan bisa 2 jam per hari,

      ... Mungkin kurang dari 45 jam setahun per pilot, dan biayanya sudah mencapai 438 milyar per tahun.

      Ini angka paling optimis, tetapi mengingat kesulitan maintenance, & keterbatasan dana, mungkin masih kurang dari itu.

      Untuk biaya yg sama, kita dapat mengoperasikan 2 Skuadron penuh (32 pesawat) Saab Gripen, 170 jam terbang per tahun.

      Delete