Thursday, August 4, 2016

Armada gado-gado Indonesia: F-16 v Sukhoi

Kenapa Delivery-nya saja berbeda?
F-16 Block-25+ dapat diterbangkan langsung dari US, dengan beberapa refueling stops, 

dan sedikit bantuan dari KC-10 Extender;

Sukhoi Flanker, harus selalu dipreteli dulu, 

diangkut didalam perut AN-124 buatan Ukraine, sebelum kemudian dirakit balik...
Jawabannya di akhir artikel ini!
(Gambar: TNI-AU)
Di tahun 2003, pembelian 2 Su-27SK, dan 2 Su-30MK; sebenarnya membuka lembaran baru dalam sejarah pertahanan udara Indonesia: untuk pertama kalinya sejak tahun 1960-an, akhirnya kita akan mulai mengoperasikan "armada gado-gado" dengan pesawat tempur buatan Barat v Timur. 

Kalau dipikirkan sekilas, kelihatannya ide memecah pembelian semacam ini memang menarik.

Bukankah kita jadi tidak bergantung hanya kepada satu supplier pesawat tempur saja? Anti-Embargo dong?

Sayangnya, ini adalah salah satu miskonsepsi lagi yang mendasar. Armada udara kita, dalam status quo yang sekarang, sebenarnya hanya akan SANGAT MERUGIKAN NEGARA, baik dari sisi Perencanaan Strategis, Kemampuan tempur, Finansial, ataupun Logistik.




Kerugian Strategis: Kita tidak akan bisa membangun sistem pertahanan udara yang dapat memenuhi kebutuhan Nasional


Kebutuhan untuk sistem pertahanan yang modern, seperti pernah dibahas sebelumnya, adalah sesuatu yang sangat mendasar. Kedaulatan Nasional, hanya akan dapat disokong oleh System yang siap tempur, bagaimanapun besarnya tantangan yang harus dihadapi. Inilah seharusnya yang menjadi cita-cita kita, bukan untuk memiliki 100+ pesawat tempur, yang kemampuannya akan semu tanpa dukungan sistem yang baik.


Exhibit 1: Singapore's Networked Air Defense System:
Perpaduan optimum antara Pengawasan, Networking / integrasi Alutsista, Kesiapan Tempur / Training, dan Sistem Organisasi yang rapi:
Indonesia masih terlalu jauh dari kemampuan ini!
(Gambar: Singapore's Ministry of Defense)
Beberapa pelajaran dari contoh Sistem Singapore
di atas:
  • Armada gado-gado TIDAK AKAN MEMPUNYAI TEMPAT dalam sistem pertahanan modern. Saat ini, kita justru akan lebih bingung bagaimana caranya mengoperasikan F-16, dan Sukhoi bersama, apalagi mengingat kemungkinan kalau keduanya akan bisa saling tembak sendiri.
  • Pesawat tempur sebenarnya hanyalah satu komponen dari Sistem yang sudah siap. Hanya semata mengandalkan JUMLAH pesawat tempur TIDAK AKAN PERNAH BISA EFEKTIF. 
  • Terlebih lanjut, Singapore juga sudah mengambil langkah untuk membangkan pra-sarana pendukung tambahan yang saat ini belum diperhitungkan di kebanyakan negara ASEAN: Training menurut standard NATO, Networking / Integrasi informasi antar-Alutsista, pengawasan territorial yang maksimaldan Struktur Organisasi yang lebih rapi.
  • Sistem Singapore adalah sistem yang SUDAH LEBIH SIAP TEMPUR menghadapi lawan yang jumlahnya lebih besar, dan / atau lebih kuat. Boleh dibilang, kalaupun dalam skenario imajinatif; Indonesia mengoperasikan armada gado-gado v2: 50 Su-35, dan 50 IF-X sekalipun, tetap saja TIDAK AKAN DAPAT MENANDINGI Sistem Pertahanan Singapore (!!!!) - ini terlepas dengan, atau tidaknya mereka akan mengoperasikan F-35.

Entah kenapa, kebutuhan untuk membangun sistem yang modern ini belum banyak dibahas, atau boleh dibilang terlalu diacuhkan baik dalam Renstra resmi TNI, ataupun dalam analisis lokal manapun.

Selama kita terus-menerus terobsesi, seperti dalam peta startegis sekarang, seperti ingin mengoperasikan Su-35, dan IF-X (versi F-16V yang jauh lebih mahal, tetapi tidak akan jauh lebih baik)- dua pesawat versi export yang tidak compatible (Lihat point berikut), dan biaya operasionalnya akan terlalu mahal - untuk selamanya, tangan kita akan selalu terikat.



Kerugian Kemampuan: Kita mengoperasikan dua jenis pesawat tempur "versi Export", yang tidak mempunyai kemampuan operasional yang compatible; dan semua negara lain mengetahui KELEMAHAN ini!


Saatnya berhenti membohongi diri sendiri!

Dalam status quo yang sekarang: F-16, dan Flanker adalah dua jenis pesawat tempur yang dibuat untuk saling membunuh satu sama lain, bukan untuk beroperasi secara bersama. Sampai kapanpun, keduanya tidak akan dapat di-datalink, atau dalam lingkup yang lebih rendah - tidak akan bisa berbagi IFF system yang compatible

Kesulitan ini dikarenakan beberapa faktor:
  • Baik US, ataupun Russia juga TIDAK AKAN MENGIJINKAN MODIFIKASI ke airframe yang sudah mereka jual, ATAU mereka akan dengan mudah men-cut-off support ke pesawat tempur yang sudah kita beli.
  • Kalaupun kita tidak menghadapi masalah yang sama, dan kalaupun ada kemauan; sistem software di F-16, dan Sukhoi juga TIDAK AKAN BISA COMPATIBLE; karena mengoperasikan sistem radar, persenjataan, perlengkapan, dan elektronik yang BERBEDA JAUH.
  • Belum lagi menghitung kalau kedua jenis pesawat tempur utama Indonesia ini adalah "pesawat tempur versi export" kelas tiga (!!)" yang kemampuannya lebih rendah dibandingkan apa yang dimiliki negara-negara tetangga. 


Bukankah India TERBUKTI dapat mengoperasikan armada gado-gado Mirage-2000, dan SEPECAT Jaguar (asal Perancis), dengan Su-30MKI, MiG-29, MiG-27, dan MiG-21? 

India juga masih berencana membeli Rafale lagi! Armada gado-gado seharusnya bukan masalah pelik dong!

Sayangnya, Angkatan Udara India adalah contoh panutan yang salah untuk Indonesia. Secara strategis, armada gado-gado India sebenarnya sudah seperti benang ruwet, tetapi mereka masih mempunyai beberapa kelebihan: 
  • Anggaran pertahanan mereka saja puluhan kali lebih besar. 
  • Industri pertahanan mereka juga jauh lebih mapan. 
  • IAF mempunyai puluhan tahun pengalaman tempur (dengan Pakistan)
  • Terakhir, IAF juga berpengalaman mengoperasikan ratusan pesawat tempur selama puluhan tahun. 
Kesemua faktor diatas bukanlah sesuatu yang dapat direplikasi di Indonesia. Tidak hanya jumlah anggaran mereka jauh lebih besar, tetapi kata kuncinya adalah PENGALAMAN mereka juga jauh lebih unggul.

Untuk dapat mengoperasikan Rafale, dengan Su-30MKI, misalnya, India akan membutuhkan investasi infrastruktur pendukung yang sangat besar. Ini akan memerlukan kerjasama secara mendalam dengan Israel, yang sekarang sudah dikenal sebagai ahli dalam modifikasi pesawat tempur ex-Soviet / Russia, agar dapat beroperasi compatible ke dalam operasional sistem Barat.

Semuanya adalah Fixed Cost Investment - tidak akan banyak bedanya kalau mengoperasikan 50 pesawat gado-gado seperti Indonesia, ataupun ratusan pesawat tempur seperti India: Biayanya tidak akan berbeda jauh!

Inilah kenapa sebagai pemain kecil, kita justru harus menyadari adanya Limitasi, atau batasan-batasan sendiri dari awal. Sampai selamanyapun, kita tidak akan mempunyai kemampuan untuk memindahkan gunung.




Kerugian Finansial: Daya beli anggaran pertahanan kita, sampai kapanpun akan terbatas, TETAPI kita akan terus dipaksa untuk membayar harga retail! Tentu saja, biaya operasional juga akan selalu lebih mahal.


Diagram contoh untuk pembagian dana $2,4 milyar, untuk membeli dari dua Supplier untuk dua jenis pesawat tempur yang tidak compatible. 
Ini hanya Simulasi Contoh: 
Semua angka diatas adalah Angka Estimasi, dan bukanlah Angka Penawaran / Perhitungan Resmi:
Initial Provision untuk Sukhoi, kemungkinan masih akan jauh lebih mahal lagi.
 Hasilnya cukup jelas, bukan?
  • Jumlah unit yang dibeli sudah pasti akan selalu LEBIH SEDIKIT dibanding kalau memilih dari satu supplier. Tidak akan pernah mungkin ada harga discount untuk pembelian borongan, dan sampai kapanpun, negara harus selalu membayar harga satuan RETAIL.
  • Biaya operasional juga akan selalu menjauh dari biaya operasional ekonomis di negara asalnya. Ini dikarenakan kembali, pembelian spare part, dalam jumlah eceran, akan selalu lebih mahal. Belum lagi menghitung kalau biaya transport, pemasangan, fees, atau komisi % perantara (untuk Sukhoi) dengan sendirinya juga akan lebih mahal.
    Ini hanya Contoh: 
    Pembelian spare part untuk 32 pesawat, dengan sendirinya 20% lebih murah per unit,
    dibandingkan untuk 8 pesawat.
  • Operational Readiness untuk Sukhoi (versi manapun juga), akan selalu JAUH LEBIH RENDAH dibandingkan operationally proven F-16, yang rata-rata akan mencapai angka 75%. Dalam skenario diatas, Indonesia hanya akan mempunyai 12 F-16, dan 2 Su-35 yang siap terbang sewaktu-waktu. Sebaliknya, kalau $2,4 milyar itu dimanfaatkan dari awal hanya untuk membeli F-16V, kita akan mendapatkan 24 pesawat yang siap terbang setiap saat.
  • Grafik diatas tanpa sengaja menggaris-bawahi satu kelemahan lain dalam Anggaran Pertahanan Indonesia: Kemampuan finansial untuk mengoperasikan Twin-Engine akan SELALU LEBIH TERBATAS! Kalau ingin mengoperasikan pesawat tempur dalam jumlah yang lebih banyak, biaya Initial Provision, dan Operational Cost Twin-Engine akan selalu mengkhianati anggaran. Dalam contoh diatas, Su-35 yang hanya terbang 50 jam / tahun, biayanya akan jauh lebih mahal dibandingkan 16 F-16V yang dapat terbang 100 jam / tahun.

Tentu saja, baik Lockheed-Martin, ataupun Sukhoi tidak akan pernah dapat memenuhi persyaratan seperti sudah digariskan dalam UU no.16/2012:
Dengan kata lain, sampai selamanyapun, pembelian armada gado-gado versi export, akan seperti "Sial dirudung malang".



Kerugian Logistik, Training, dan Maintenance: Perbedaan prosedur operasional, perawatan, dan persenjataan berarti kemampuan pilot / staff hanya akan SPESIALIS baik untuk F-16, ataupun Sukhoi


Jumlah tipe yang dioperasikan sekarang sudah sangat terfragmentasi untuk terlalu banyak tipe, dengan jumlah anggaran yang terbatas.

Ini bukan menimbulkan efek gentar, melainkan kesulitan logistik, dan training yang mendalam.

Dalam hal ini, keadaan armada gado-gado Indonesia sebenarnya sangat parah:

Karena kemampuan operasional, ataupun prosedural untuk F-16, dan Sukhoi berbeda jauh, banyak pilot, atau maintenance staff akan lebih spesialis khusus ke F-16 saja, atau ke Sukhoi saja.

Dalam hal ini, armada Sukhoi adalah armada gado-gadonya sendiri – karena masih terbagi lagi dalam EMPAT SUBTYPE, yang masing-masingnya berbeda satu sama lain, dan akan membutuhkan spesialisnya sendiri dalam masing-masing subtype:
  • TS-2701, dan TS-2702 adalah versi yang paling kuno, variant kommersial (downgrade) dari Su-27S yang pertama mengudara di tahun 1980-an, dengan interface cockpit analog, dan tidak ada refueling probe.
    Look! No refueling probe on the left side!
    (Gambar: TNI-AU)
  • TS-2703, TS-2704, TS-2705 adalah versi yang lebih modern, dengan beberapa layar LCD mulai menghiasi cockpit. Radarnya akan berbeda dengan versi basic SK, karena SKM seharusnya menambah kemampuan serangan udara-ke-darat. Oh, dan tidak seperti SK; SKM mempunyai refueling probe.
  • Su-30MK2 adalah sub-variant yang paling modern dari keluarga Sukhoi Kommercheskiy Indonesia. Kembali, kesulitan maintenance merudung malang: TS-3001, dan TS-3002 mungkin akan lebih compatible dengan TS-30xx yang lain dari segi maintenance. Tetapi jangan lupa juga, tidak seperti TS-27xx; semua Su-30 akan membutuhkan Weapon System Officer, bukan? Ini juga menyulitkan training terlebih lanjut untuk jumlah yang sedikit.
Seperti sudah pernah dibahas sebelumnya, jangan pernah berharap kalau maintenance untuk Su-35 (terutama), akan compatible dengan Su-27, dan Su-30! Pesawat ini berbeda jauh! Inilah kenapa bukan tanpa alasan, Su-35, sebenarnya hanya akan MEMPERLEMAH kemampuan udara Indonesia!

Tidak tertutup kemungkinan, kalau Indonesia HARUS membayar biaya operasional Sukhoi yang termahal di dunia!

Bagaimana dengan faktor regenerasi pilot, atau staff?
Setiap talenta tidak akan semudah itu digantikan, karena setiapnya akan menjadi SPESIFIK - mereka hanya akan menjadi ahli di SATU TIPE pesawat saja, dan tidak akan ada kemampuan untuk tipe yang lain. Dan pada akhirnya, setiap pilot, atau staff pendukung tidak akan selamanya bekerja di TNI-AU. Suatu hari mereka akan harus pensiun, atau memutuskan untuk mengambil pekerjaan lain, mungkin di sektor kommersial. 

Dengan armada yang begitu ter-fragmentasi, terutama untuk Sukhoi, dengan sendirinya akan sangat sulit untuk memastikan regenerasi / training setiap staff. Apakah negara harus berkorban untuk mengirim generasi staff baru ke negara pembuat, agar dapat mempertahankan skill?

Apakah dengan armada gado-gado yang sudah begitu memakan biaya, dan menyulitkan logistik, dan training, TNI-AU akan masih dapat memberikan paket remunerasi pilot / staff yang bersaing dengan sektor komersial



Faktor X: Baik US, ataupun Russia akan selalu curiga selama kita selalu membeli Alutsista dari pihak lain, apapun juga alasannya


Dalam sejarah masa lalu saja, Indonesia juga sudah cukup banyak menimbun hutang untuk kedua belah pihak. Russia tidak akan pernah melupakan kalau Indonesia pernah menghibahkan MiG-21 ke US di tahun 1969! Tentu saja, US menikmati hibah MiG-21 ex-Indonesia ini, dan mengetesnya secara intensif di 4477th Test and Operational Squadron.


Anggota 4477th Squadron berpose bersama MiG-21 F-13.
(Gambar: Wikimedia)
Dengan pengkhianatan ini, kenapa Ruski akan pernah mau mempercayakan Sukhoi versi Kommercheskiy, yang spesifikasinya bersaing? Mereka tentu saja akan menghitung seberapa besar kemungkinannya rahasia dari Su-35SKI akan dibocorkan ke para ahli Lockheed-Martin.

Sebaliknya, US sendiri, sudah dihibahi MiG-21, seperti tidak tahu berterima-kasih. Sepanjang sejarah, mereka memang sudah selalu pilih kasih, dan TIDAK AKAN PERNAH menjual Alutsista versi export, yang kemampuannya sebanding dengan Australia, ataupun Singapore.

Untuk menilik kembali, F-16 Block-25+ Indonesia (menurut dokumen DSCA BUKANLAH Block-52ID seperti versi DPR) hanya akan mempunyai perlengkapan sebagai berikut:
  • AN/APG-68 radar - jauh lebih modern daripada AN/APG-66 di F-16A/B Block-15OCU, tetapi ini hanya versi yang masih basic buatan tahun 1980-an, yang sudah dipugar, bukan versi akhir AN/APG-68(v)9 yang lebih reliable, dan kemampuan jarak jangkau untuk deteksi, tracking, dan resolutionnya 30% lebih baik dibanding original version..
  • ALR-69 RWR, ALQ-213 ECM, dan ALE-47 Countermeasure system semuanya adalah sistem terpisah generasi sebelumnya, yang sudah tidak pernah dipilih oleh pembeli F-16 Block-50+/52+ yang lain. Pakistan, misalnya, mendapat ALQ-211(V)9 Advanced Integrated Defensive Electronic Warfare Suites (AIDEWS). Ini adalah versi modern yang mengkombinasikan tiga subsystem kuno yang didapat Indonesia.
  • Tidak ada IFF system (jenis APX- manapun)
  • Tidak ada JHMCS (Joint Helmet Mounted Cueing System) untuk memanfaatkan kemampuan HOBS (High Off BoreSight) dari AIM-9X
  • Tidak ada MIDS-LVT terminal untuk Link-16 Data Network
Seperti sudah dikutip dalam Korea Times, memang bukan tidak mungkin kalau pembelian Sukhoi yang dimulai di tahun 2003, akan menjadi faktor penentu untuk semua spesifikasi F-16V versi Export untuk Indonesia di masa depan.

TAMBAHAN: US sebenarnya cukup lihai dalam penawaran F-16 Block-25+ mereka. Ke-24 pesawat hibah ini sebenarnya MASIH JAUUUHH LEBIH UNGGUL dibandingkan Sukhoi Su-30MK2 beli baru!!

Inilah kenapa DIVERSIFIKASI SUPPLIER untuk armada yang gado-gado, adalah diversifikasi di tempat yang salah. Untuk selamanya, faktor ini tidak akan pernah membuat kita lebih kebal embargo, melainkan justru menimbulkan "perang dingin" antara kedua pihak dalam pembelian Alutsista: Siapapun yang menang, kita yang akan kalah!



Penutup

Armada gado-gado seperti status quo sekarang ini tidaklah sustainable dalam jangka panjang. Negara hanya akan menghabiskan terlalu banyak resource, baik dari segi tenaga kerja, investasi finansial, training, tanpa akan pernah bisa mendapat hasil yang berarti. Tentu saja, armada status quo yang sekarang juga tidak akan membawa banyak keuntungan yang berarti untuk industri pertahanan lokal.

Bagaimana caranya untuk mengatasi masalah yang sekarang?

Ini tidaklah mudah. Tetapi langkah pertama yang harus diambil, adalah KEBERANIAN untuk menghilangkan "The weakest link" dalam armada gado-gado Indonesia.

"Weakest link" yang mana?

Jawabannya sekalian untuk menjawab pertanyaan awal di artikel ini, kenapa prosedur delivery F-16, dan Sukhoi berbeda:
Su-30MK2 Vietnam delivery di tahun 2014
Karena BELUM BISA terbang jauh sendirian seperti F-16,
perlu kasih-sayang induk semang-nya, 

Mother Antonov, yang buatan.... Ukrania!
(Gambar: militaryparitet.com)
  • Ruski sebenarnya kurang mempunyai pengalaman / kemampuan untuk dapat melakukan ferry flight jarak jauh dengan Sukhoi, seperti halnya semua pesawat tempur Barat. Faktor Resiko-nya jauh lebih rendah untuk setiap Sukhoi dikirim lewat An-124. Tanpa sengaja, prosedur ini juga menggariskan kalau Sukhoi BUKANLAH pesawat yang panjang umur. Wong, terbang jauh seperti F-16 Block-25+ produksi tahun 1982 saja masih takut....
Memang sudah bau tanah sejak lahir....
(Gambar: China-defense.blog)
  • Perhitungan komisi akan lebih menguntungkan Rosoboronexport, dan / atau perantara lokalnya. Mempreteli Sukhoi di pabriknya, kemudian merakit kembali pesawat tersebut di tempat negara pembeli, semuanya akan membutuhkan waktu yang lebih lama, dan harus memperkerjakan tehnisi Rusia juga, bukan? 
Yah, kenyataannya, mulai dari delivery saja, Su-27/30 adalah pesawat tempur Indonesia yang PALING MERUGIKAN DAN MENGECEWAKAN. Inilah weakest link terbesar dalam pertahanan Indonesia yang modern.

Yang lebih ironis lagi: F-16 Block-25+ versi hibah sebenarnya adalah pesawat tempur yang masih jauh lebih unggul hampir dalam segala hal dibanding semua Sukhoi!

Sudah saatnya kita mempertimbangkan tidak hanya membatalkan rencana pembelian pesawat inferior Su-35, yang tidak akan berdaya bahkan untuk menghadapi F-18F Australia, tetapi juga untuk mempensiunkan Su-27/30, yang sudah terlalu kuno dari hari pertama dibeli.



10 comments:

  1. Mungkin sdh saatnya kita beralih ke suppliers Eropa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau mau lebih berdikari, menikmati ToT, lebih serius membangun insustri lokal, dan tidak mau terus didikte negara lain untuk "apa yg diperbolehkan", tidak pernah ada pilihan lain!

      Delete
    2. Maksudnya tdk ada pilihan lain itu bagaimana ya?

      Delete
    3. Contoh utk pespur:
      Apakah kita punya banyak pilihan?
      Typhoon, Rafale, Gripen, F-16, Su-35, IF-X (versi F-16 yg jauh lebih mahal).

      Kalau mau berbicara memenuhi persyaratan UU no.16/2012 utk kepentingan industri lokal, semua pilihan yg non-Eropa harus digugurkan!

      Tahap berikutnya - faktor ekonomis.
      Kalau uang bukan masalah, Eurofighter Typhoon Tranche-3B dgn AESA radar, dan MBDA Meteor.

      Kalau menginginkan jumlah yg lebih banyak --- Saab Gripen, yg biaya op-nya hanya 60% dibanding F-16.

      Faktor terakhir -- kalau mau belajar utk berinnovasi sendiri, dan mulai melakukan research pengembangan bermacam subsystem, senjata, atau perlengkapan lain;

      Gripen adalah platform yg paling ideal utk kandungan lokal.

      Delete
  2. Bung GI kalo kita lihat masalah TOT ini kadang masih berusaha di akali di negara ini, kita bisa liat di pemebelian kanon oerlikon skyshield untuk Paskhas AU, TOT yang di dapat hanya sebatas kita membuat kendaraan penganggkut untuk kanon itu yg di comot dari Truk HINO yang ada di pasar Indonesia terus di dandanin biar bisa angkut kanon itu...
    Lucu saya kira TOT nya tidak menyentuh suatu yang esensial berkaitan dengan kanon itu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung @reader,

      Sbnrnya untuk Alutsista darat & laut, rata2 jauh lebih fleksibel utk dapat di-modifikasi sesuka hati.

      ToT utk Oerlikon Skyshield, sy rasa hanya akan men-cover platform tsb secara spesifik, ttp memang TNI bebas menentukan sendiri; terserah mau dipasang dimana.

      Contoh lain: re modifikasi yg lebih extensif;

      Kapal2 Corvette ex-Jerman Timur (Parchim-class / Kapitan Pattimura), yg krn lagi2 buatan Ruski -- mesinnya terlalu bermasalah; PT PAL sudah berhasil mengganti mesin Caterpillar, yg jauh lebih reliable, dan performanya jauh lebih baik.

      Untuk Alutsista udara, apalagi pesawat tempur --- tidak semudah itu!

      Secara politik, tehnologinya jauh lebih sensitif. Org Korea saja sptnya masih belum terlalu paham soal ini.

      Delete
  3. Ya elah f16 australia aja udah ogah sm f16 kok malah dibanggain, indonesia juga sepertinya sudah memetik pelajaran percuma beli pesawat amerika kalau ujungnya ga bisa dipakai makanya cari alternatif... Lagian juga udah fix ko indonesia bakal boyong su 35 kecuali mungkin ada twaran yg lebih bagus

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kelihatannya anda belum pernah mengikuti blog ini sebelumnya:

      ## Untuk hidangan pembuka, sudah dituliskan sebelumnya kalau Gripen-E jauh lebih unggul dari mulai dari tehnologi, operasional, situational awareness, BVR combat, ataupun close combat vs Su-35 Kommercheskiy.

      ## Kedua, pelajari dahulu Pengetahuan umum berikut:

      Setiap negara pembeli alutsista buatan US, Russia, dan PRC hanya diijinkan untuk membeli Versi Kommercheskiy, atau "Versi Export downgrade.

      Kalau belum dukup, pelajari baik2, kalau semua missile yg dijual Ruski juga... Versi export.

      Kemampuan kill missile RVV-AE (izdeliye-190), yang hanya versi export dari R-77 (izdeliye-170) hampir bisa dipastikan akan NIHIL.

      AU Russia sendiri tidak pernah membeli, atau mengoperasikan R-77, karena development-nya tidak pernah selesai. Eh, tetapi mereka sudah menjual ribuan RVV-AE versi downgrade ke negara2 pembeli(!)

      ## Untuk referensi yang lebih lengkap, silahkan membaca artikel Q&A berikut tentang Su-35K:
      Interview fiktif dengan "pejabat" yang mendukung pembelian Su-35K.

      ## Jangan terlalu naif untuk mendewakan, dan mendukung pesawat inferior Su-35K!

      Sejak 2014 sampai sekarang, argumen "kenapa harus membeli Sukhoi" tidak pernah berubah.
      Belajarlah dari banyak sumber pengetahuan umum!
      Jangan asal mendukung pilihan buta!

      Tidak hanya Su-35K akan dipercundangi semua pespur Barat (F-5S Singapore saja masih lebih unggul ), tetapi membeli / mengoperasikan pespur inferior ini akan sangat merugikan NKRI:

      - Bisa dipastikan akan selalu ada Komisi perantara 20 - 30%, dan "perbaikan mendalam" di negara asal, yang akan melanggar pasal 43(2) UU no.16/2012.

      - Tidak akan ada alih tehnologi, atau kerjasama secara industrial (!!)

      - Seperti dalam polemik AW101, mendukung Su-35K, berarti akan seperti mendukung oknum2 pejabat yang bisa memperkaya diri dari mendapat pesangon "kickback" dari penjual.

      ## Pesan terakhir: belajar jangan hanya mendukung produk "favorit", tetapi pilihan yang paling sesuai dengan kebutuhan, dan keterbatasan Negara kita!

      Belajarlaj mendukung pembangunan industri lokal!
      Jangan hanya senangnya mendukung beli import dari perantara!

      Delete
  4. bang jika indonesia lebih memilih gripen dan mengoperasikan lebih dari 100 apakah indonesia mampu dari segi dana dan syarat apa saja untuk melengkapi ksemuanya misal dari matra darat laut dan udara(melengkapi gripen) dan sistem networkingnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. IMHO, renstra 10 skuadron, atau 100+ pespur sebenarnya tidak realistis. Tidak pernah sesuai dengan keterbatasan, atau kebutuhan kita.

      100 Gripen masih lebih murah dibanding mengoperasikan 16 Sukhoi.... akan tetapi.....

      Kalau didukung prasarana yg jauh lebih lengkap, 4 - 6 Erieye, 4 - 6 KC-130/KC-295, 4 C-295 ISR, sistem modern, stock ratusan missile, National Networking, dan keterlibatan penih induatri lokal,kita tidak akan membutuhkan lebih banyak dari 64 Gripen.

      Delete