Friday, August 19, 2016

Analisa: F-35 - pesawat yang salah konsep (Bagian I)

F-35A -- Credits: US Air Force Photo


Blog ini sudah membahas bagaimana armada gado-gado Indonesia yang sekarang hanya akan merugikan negara; anehnya, lebih banyak yang pro-Sukhoi, walaupun F-16 masih jauh lebih unggul, dan bagaimana kesemuanya ini hanya akan membuat TNI-AU kesulitan untuk mempertahankan pilot / staff  di Abad ke-21. 

Sekarang saatnya membuka lembaran baru analisis dalam blog ini:

F - 35

Semua pokok permasalahan F-35 sebenarnya bermula dari sesuatu yang sangat sederhana:
S T A R T I N G

C O N C E P T 

Yah, konsep awal. Untuk mengurai lebih lanjut...


KESALAHAN KONSEP sebenarnya sudah menghancurkan F-35 dari sebelum pesawat ini mulai dibuat!


Situs resmi JSF.mil mengungkapkan dengan sangat jelas dari apa yang diinginkan Pentagon dari proyek "Joint Strike Fighter", yakni pesawat tempur yang akan mengkombinasikan beberapa desain element yang quissential sebagai "kebutuhan desain dasar":
  • Next Generation Single-Engine Economical Fighter dengan kemampuan Stealth. Atau translasinya: Pesawat tempur F-16 dengan kemampuan stealth yang sebanding dengan F-117A
  • Naval Advanced Tactical Fighter - secara konsep mirip dengan diatas, tetapi dengan kemampuan untuk beroperasi dari atas kapal induk. 
  • Pesawat tempur yang mempunyai kemampuan V/STOL (Vertical/ Short Take Off and Landing), yang dapat terbang Supersonic. Harrier, walaupun bisa V/STOL, sebenarnya tidak pernah mempunyai afterburner.
  • Advanced Attack Aircraft untuk menggantikan.... F-117A, F-111, dan F-15E, yang lebih memprioritaskan serangan dari Air-to-Surface , daripada kemampuan Air-To-Air.
  • Kemudian ini sebenarnya ditambahkan terakhir....pengganti A-10A untuk tugas Close Air Support. Konsep ini sendiri menuntut kemampuan pesawat yang dapat berputar-putar lama di atas medan tempur untuk menjaga tentara yang beroperasi di darat, 
Inilah masalah utama dari F-35 Joint Strike Fighter. 

Pesawat ini sudah dituntut untuk dapat memenuhi kesemua konsep itu dengan cemerlang. Dengan kata lain, hanya satu tipe dasar, dan tiga sub-variant (A, B, C) akan dapat menggantikan F-117, F-16, F-14/F-18, A-10A, dan Harrier. Masing-masing tipe ini sudah dibuat dari desain philosophy / concept yang berbeda, untuk memenuhi tugas yang berbeda-beda, yang sebenarnya tidak saling compatible satu sama lain.

Disinilah kata "kebutuhan", dan "keinginan" untuk F-35 mulai menjadi semu.  

Baik USAF, US Marine, US Navy, atau negara-negara pembeli lainnya, sebenarnya menuntut suatu kelebihan yang spesifik dari F-35, akan tetapi masalahnya....

... karena desain untuk F-35 sendiri sudah harus kompromis dari awal, sampai kapanpun, pesawat ini tidak akan mampu membuat pesawat yang unggul untuk memenuhi satu tugaspun. Desain dasarnya sedari awal sudah harus berkorban untuk mengakomodasi semua "fitur desain" yang sebenarnya "dipaksakan" untuk masuk ke satu airframe.

F-35 is the Jack-of-all-trades,
but the master of none !!

Bisa melakukan SEMUA,
tetapi MUSTAHIL untuk menjadi ahli dalam bidang apapun!

F-35 adalah pesawat yang sudah salah konsep dari awal. Inilah kenapa tidak mengherankan kalau semua masalah berikutnya hanya akan menumpuk.


Kelemahan Utama F-35: STEALTH Desain 

Ini tidak salah. Stealth design sebenarnya adalah kelemahan utama setiap pesawat, yang mencoba-coba mengaku menjadi "Generasi kelima". 

F-35 memang adalah pesawat Stealth generasi ketiga, tetapi beberapa fundamental desain flaw dari Stealth tetap saja tidak berubah dari sejak jaman F-117A.

Secara umum, stealth shaping akan selalu mengkompromikan desain aerodynamis yang optimal dari jenis pesawat militer manapun. Setiap panel, harus didesain dari awal dengan fokus pada pengurangan RCS yang semaksimal mungkin. Inilah kenapa fokus desain pesawat kemudian akan mulai bergeser dari kemampuan manuever, ke stealth shaping.

Akibat pertama dari desain Stealth: Biaya development sudah pasti akan menjadi luar biasa mahal.

Kelemahan pertama akibat desain yang mengkompromikan kebutuhan stealth adalah conformal weapons bay, didalam perut pesawat.
Exhibit 1: F-35 is "technically" less draggy, due to Conformal Weapons Bay
(USAF photo)
Secara konsep memang sekilas kelihatan menarik. Para pendukung Stealth fighter sangat senang untuk menggarisbawahi bahwa F-22, dan F-35 yang membawa Conformal weapons-bay, tidak perlu dicantoli pylon yang akan membuat pesawat tempur lain lebih draggy, dan cenderung juga menambah RCS. 

Exhibit 2: The "draggy" pylons of Saab Gripen-NG 39-7 Demo Model
(Saab Photo)
Sayangnya, para pendukung concept stealth juga merupakan satu hal...
Conformal weapon bay dengan sendirinya menuntut desain fuselage pesawat menjadi lebih gemuk. Seperti dapat dilihat diatas, F-35 yang single-engined, mempunyai penampang depan yang ukurannya hampir sama dengan F-18E Super Hornet, dan dengan demikian memasuki teritorial drag rate yang sebanding dengan Twin-Engined fighters

Bentuk semua versi F-35 yang "gemuk" masih harus dikompromikan lebih lanjut karena "keharusan" untuk membawa lift-fan di versi F-35B, yang berdiameter 1,7 meter, ditengah-tengah fuselage pesawat. Ini tentu saja sudah menghancurkan performa aerodinamis dari ketiga variant F-35 yang harus berbagi fuselage desain yang sama.

Sayangnya, permasalahan Berat, dan Drag akan dapat dihindari dengan lebih mudah oleh desainer semua pesawat tempur lain, yang tidak perlu mendesain pesawat tempur stealth, dan menjejali airframe dengan Weapons Bay, atau lebih parah lagi.... Lift fan untuk F-35B.
Model concept dari pesawat lemon ini,
kelihatannya juga akan sama heavy and draggy dengan "kakaknya" si F-35
(Gambar: DefenseNews)
Pesawat tempur non-stealth, yang membawa missile / bomb di pylon, setelah semua menghabiskan semua senjata mereka; dengan sendirinya pesawat ini dapat lebih menghemat bahan bakar dalam perjalanan pulang, karena baik berat, ataupun drag-rate-nya menjadi berkurang banyak. Sebaliknya F-35 yang badannya memang sudah draggy dari awal, akan tetap saja sama draggy dalam perjalanan pulang, walaupun sudah sedikit lebih ringan.

Dari sini masalahnya hanya akan terus bergulir.


Kelemahan Kedua: Kalau sedang terbang stealthyF-35 will be outgunned by everyone else!!!

Masih berkaitan dengan konsep "Conformal Weapons Bay" seperti diatas, untuk dapat terbang stealth, F-35 hanya dapat membawa 4 AMRAAM (Raytheon). Betul. Dengan kata lain, F-35 tidak mempunyai kemampuan untuk membawa salah satu Within Visual Range  missile terbaik didunia, AIM-9X II, dalam keadaan stealth.
National Interest
16-Mei-2016
Masalah utama dari konsep SALAH ini - sampai 100 tahun lagipun, kemampuan kill dari BVR Missile tidak akan bisa terjamin 100%. Perkembangan tehnologi Radar-Warning-Receiver, radar jammer, dan active decoy system akan hampir sejalan dengan pengembangan tehnologi BVR missile. 

Di lain pihak, kelemahan solid boost rocket propulsion untuk semua AMRAAM, adalah ketidakmampuan mengatur kecepatan optimal untuk manuever akhir. AMRAAM sebenarnya akan membutuhkan kemampuan manuever melebihi 400G untuk memastikan "kill" terhadap pesawat tempur lawan yang bermanuever 5G, walaupun desain limit-nya hanya akan memperbolehkan kemampuan manuever maksimum yang 40 G.

Inilah kenapa setiap negara pembeli F-35 yang berharap kalau pesawat ini akan dapat menggantikan F-16 dalam Air Superiority Mission hanya akan kecewa, karena setiap pesawat tempur lain, akan dapat membawa jauh lebih banyak senjata, dan semuanya akan lebih unggul dalam tugas ini. 

Sebagai pembanding, ketiga Eurocanards akan dapat membawa BVR missile yang mempunyai "No Escape Zone" 3x lipat dibanding AMRAAM, dalam jumlah yang lebih banyak dibandingkan F-35, dan masih tetap siap membawa WVR missile modern di kelas AIM-9X Block-II, IRIS-T, atau ASRAAM.
Behold: 
Gripen-E 39-8 yang dipersenjatai 5 MBDA Meteor, dan 2 IRIS-T
Persenjataan yang jauh lebih lengkap
atau 2X lipat lebih efektif dibanding "stealthy" F-35.
(Saab)
Masih belum cukup disana, masih ingat kalau setiap AMRAAM yang dibawa F-35 harus masuk ke dalam perut? 

Perhatikan video Youtube berikut!
Dibutuhkan waktu lebih dari 0,5 detik untuk membuka pintu conformal weapons bay, dan hampir 2 detik sampai (dalam contoh ini) bomb mulai terlepas !!!

Inilah kelemahan lain dari SEMUA Stealth Fighter: 

Delayed Reponse Time to release weapons. 
Mereka harus menunggu sampai pintu Weapons Bay tersebut terbuka, sebelum kemudian me-release senjata keluar!

Setiap pesawat tempur non-Stealth, akan mempunyai keunggulan untuk dapat menembakkan missile mereka sepersekian detik lebih cepat dibanding SEMUA stealth fighter. Sebagai bonus, Stealth Fighter yang membuka weapons bay mereka, tentu saja juga akan merusak RCS-reading mereka selama beberapa detik, yang juga menjadikan mereka target yang lebih mudah untuk di-lock dengan AESA radar modern, apalagi yang sudah terpadu dalam tehnologi Sensor Fusion.




Kelemahan Ketiga: Performa Kinematis!  
F-35 akan kesulitan menandingi F-15, dan F-18E/F



Seperti dapat dilihat dalam perbandingan diatas, F-35A sebenarnya sangat mendekati berat, dan ukuran F-18F Super Hornet, dan F-15SG Singapore, atau dua kali lebih berat dibandingkan Saab Gripen-E. 

Bagaimana dengan Thrust-to-Weight Ratio, dan Wing-Loading?
DOUBLE INFERIOR.

Inilah kenapa F-35A sebenarnya masuk ke kategorinya sendiri: 

Heavyweight Single-Engined Strike Aircraft. 

Terlepas dari beberapa PR Campaign USAF akhir-akhir ini yang sebenarnya menciptakan mitos "keunggulan F-35" tersendiri (Ini akan dibahas di topik lain secara lebih mendetail), para pengguna F-35A hanya akan bermimpi kalau pesawat ini dapat menjadi Air Superiority Fighter

Angkanya saja tidak ada. 

Walaupun mesin PW F135 adalah mesin yang daya dorongnya terkuat didunia, angka kinematis untuk T/W Ratio F-35, masih kesulitan untuk bersaing dengan teman-temannya yang dapat membawa 2 mesin: F-18F, dan F-15SG, yang mempergunakan mesin yang lebih konvensional buatan GE Engines, padahal dari drag rate, F-35 hanya akan sebanding dengan F-18E/F. 



Kelemahan Keempat: F-35 akan sangat gampang hancur!


Masih berkaitan dengan masalah Berat F-35 seperti sudah dibahas diatas, tentu saja Lockheed-Martin, dan semua kontraktor lain juga mengetahui kalau masalah ini mempengaruhi performa kinematis F-35. 

Coba tebak apa yang sudah mereka lakukan?

Link: Times
Jadi pilihannya adalah ... pesawat yang akan dapat dengan mudah dihancurkan dengan senapan caliber .50"; atau terus menerbangkan pesawat yang memang sudah terlalu berat, dan hanya akan terus bertambah berat di masa depan.

Tentu saja, masalahnya tidak berhenti disana. Beratnya F-35, membutuhkan daya dorong mesin yang luar biasa besar, dan itu masih juga belum cukup.

Mesin PW F135, yang diproduksi dari pengembangan mesin PW F119 untuk F-22 Raptor, sebenarnya bisa dianggap terlalu mendesak safety margin ke level yang terlalu berbahaya untuk standard pesawat tempur Barat, walaupun mungkin ini lebih normal untuk pesawat buatan Ruski, yang sampai sekarang masih belum bisa membuat mesin yang bisa tahan lebih dari 1,000 jam operasional.
"F-35 just catches fire sometimes!"
War-is-boring, 10-Juni-2015


Penutup

Boleh dibilang keputusan pemerintah Australia untuk membeli F-18F Super Hornet, dan EA-18G Growler, masih jauh lebih baik dibandingkan rencana jangka panjang mereka untuk membeli lemon F-35, yang daftar kekacauannya masih segudang lebih banyak

F-35 sebenarnya sudah dilabel sebagai "malapraktek akuisisi" persenjatan di Amerika Serikat, sejak tahun 2012.

Kenapa lantas proyek F-35 masih terus berjalan, walaupun sudah begitu kacau?

Para politikus, dan para pimpinan militer yang mempunyai pangkat Jenderal, sebenarnya sama saja baik di Amerika Serikat, ataupun di Indonesia. Semuanya sudah ahli dalam memakai ilmu pejabat yang paling kuno, tapi efektif: 
"AJI MUMPUNG" 

Mereka hanya akan memegang waktu jabatan dalam jangka waktu yang terbatas, dan sebelum pensiun, mereka akan lebih cenderung memaksimalkan kebutuhan pribadi, diatas kepentingan negara sendiri dalam jangka panjang.

Laporan Boston Globe di tahun 2010 menggariskan kalau lebih dari 80% jenderal pensiunan ex-US Military, akan mendapatkan tawaran pekerjaan, dengan paket remunerasi yang menarik dari Major Defense Contractor di Amerika Serikat, seperti Lockheed-Martin, Raytheon, Northrop-Grumman, Boeing, atau yang lain.


Kenapa mereka akan terus mendukung F-35, yah, karena F-35 lebih penting untuk masa depan mereka, dibanding masa depan Amerika Serikat.

Para F-35 fanboyz, yang dipadukan dengan covert Lockheed-Martin PR Campaign untuk mendukung pesawat lemon ini di dalam setiap pembahasan Internet forum, sering menyindir kalau para pengamat awam yang mengkritik F-35 sebagai: "Armchair Analyst"  Seolah-olah para pengamat awam ini "tidaklah mempunyai kualifikasi" untuk dapat menuliskan pendapat yang obyektif mengenai segala kejelekan pesawat ini.

Ada satu perbedaan antara PR Campaign, dengan tulisan para "Armchair Analysts":

Tidak seperti mereka yang mengaku politikus, berpangkat jenderal, 
atau yang bekerja sebagai Test Pilot; 

"Armchair Analysts" hanya bisa melihat KENYATAAN  karena kebal dari kesaktian "AJI MUMPUNG" dan TIDAK PERNAH menerima bayaran dari pembuat / penjual pesawat! 

Analogi yang sama untuk F-35, ironisnya juga dapat diaplikasikan ke malapraktek akuisisi Alutsista di Indonesia. 

Dalam hal ini, khususnya untuk menyorot "pandangan" beberapa kalangan, dan Internet fanboyz untuk mendukung akuisisi pesawat lemon Sukhoi Su-35. Pesawat yang tidak hanya sudah sangat ketinggalan jaman, tetapi juga pesawat versi export, dengan persenjataan versi export, dengan biaya operasional yang tak terjangkau, yang harus dibeli dengan "bantuan" perantara, tidak akan dapat memenuhi semua persyaratan UU no.16/2012, dan sama sekali tidak relevan untuk kebutuhan Indonesia.

Yang lebih ironis lagi, tidak hanya kedua model lemon ini akan kesulitan menghadapi Upgraded F-15, dan F-16 yang sudah berumur 40 tahun lebih, tetapi keduanya juga berbagi suffix "-35" yang sama. 

Artikel berikutnya akan lebih menyorot ke kemampuan Stealth Technology, Sensor Fusion, dan High Tech Gadgets di F-35, yang sama seperti dalam polemik kekacauan penggunaan Sukhoi di Indonesia, sebenarnya hanya akan menimbulkan jauh lebih banyak masalah baru, yang membutuhkan banyak biaya, tanpa akan ada hasil yang berarti.

Masih jauh lebih unggul dibanding dua produk lemon ber-suffix "-35"
DAN
Memenuhi semua kebutuhan Pertahanan Indonesia
(Credits: Saab)



32 comments:

  1. bung menurut saya dgn segala kelemahannya tetap saja pesawat stealth tetap akan jadi yg terdepan dalam BVR combat yg anda sendiri sering bilang dalam BVR yg lebih dulu terlihat maka kemungkinan lebih besar jadi pihak yg kalah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seperti sy sudah tuliskan diatas: AMRAAM sbnrnya bukan senjata yg dapat memastikan kemenangan 100%.

      Orang Amerika memang sejak tahun 1950-an sudah selalu terobsesi utk dapat mengalahkan lawan dgn BVR combat, dan F-35 sbnrnya sudah menjadi korban konsep pemikiran yg SALAH.

      F-35 kemungkinan besar akan selalu melihat lawan terlebih dulu, dan bisa menembak terlebih dulu, tetapi masalahnya seperti diatas....

      AMRAAM sbnrnya mudah utk dikalahkan oleh pihak yg sudah siap, yg memakai pespur modern, dan sudah terlatih!

      Masalahnya:
      Yah, dalam keadaan skrg, boleh dibilang TNI-AU sih akan selalu menjadi pihak yg belum siap, belum cukup terlatih, dan pespur "versi export"-nya juga agak tertinggal.

      Jadi dalam skenario bayangan:
      F-35A Australia sih akan tetap jauh kebih unggul daripada seluruh TNI-AU, apalagi kalau kita membeli IF-X, atau Su-35; dua pesawat "versi export" yg baik kemampuan atau training-nya tidak akan mungkin bisa terjamin.

      Delete
    2. Psst... dan stealth bukan berarti "tidak terlihat".

      Ini juga akan diskusikan lebih mendalam di topik lain.

      Delete
    3. hmm jadi maksud bung f-35 kemungkinan besar akan terpaksa selalu masuk dalam WVR combat atau bahkan dogfight karena BVR missile seperti yg bung sering bilang kill ratenya kecil?

      Delete
    4. Betul, dan F-35 tidak akan siap, kalau tidak membawa AIM-9X.

      Tapi kalau membawa, berarti pesawat ini tidak akan stealhty; krn harus dipasang diujung pesawat.

      F-16V diatas kertas, sbnrnya masih jauh lebih baik.

      Tapi karena pembuatnya LM, yg juga nembuat F-35; sedang USAF sendiri sudah "malas" meng-upgrade F-16 --- ini tidak akan biaa terjadi.

      Delete
  2. Bung gi..
    Perbedaan f22 dgn f35 selain twin enggine itu apa ya bung.. Knp basic pengembangan f35 tidak mengambil f22.. Dan mengapa pemerintah amerika menghentikan produksi f22..

    ReplyDelete
    Replies
    1. ==========
      Perbedaan:
      ==========
      F-22 sudah dirancang dari awal untuk menjadi Ultimate Air Superiority Fighter, sedangkan F-35 tidak.


      ==================
      Kenapa F-22 di-"cancel"?
      ==================
      Ada 3 alasan sederhana:

      1. False Advertising
      ====================
      Sampai waktu cancellation di tahun 2008, USAF terlalu sibuk menepuk dada untuk mengumumkan kalau: "F-22 tidak ada tandingannya di dunia!" -- krn berhasil menembak jatuh ratusan F-15, dan F-16 dalam latihan udara.

      Kalau begitu hebat, kenapa perlu terlalu banyak?

      Ironisnya, pilot Dassault Rafale F2 Perancis, dan pilot Eurofighter Typhoon Tranche-2 UK & Jerman ternyata berhasil mengalahkan F-22A dalam pertemuan pertama mereka di tahun 2009.

      Waktu itu, pdhl Rafale / Typhoon belum membawa AESA radar; dan keduanya juga belum diperlengkapi HMD. Skrg kedua tipe ini sudah di-upgrade beberapa langkah lebih maju, sedangkan F-22A terbukti sangat sulit untuk mendapat upgrade.

      F-22 mustahil untuk bisa diperlengkapi IRST. Sampai sekarang, F-22 juga bahkan belum membawa JHMCS (Helmet Mounted Display), atau dapat mengoperasikan AIM-9X Block-II se-optimal F-15, dan F-16.

      2. Alasannya terlalu mahal.
      ===========================
      Padahal waktu itu production cost F-22 sebenarnya sudah lebih murah dibandingkan production cost per unit F-35 sekarang.

      3. USAF, US Navy, dan US Marine mau mengalihkan dana ke program F-35
      ===========================
      US Navy, dan US Marine tidak mempunyai pesawat yg equivalent dengan F-22; dan tentu saja keduanya menginginkan mainan stealth-nya sendiri.

      USAF sudah terlalu jumawa dengan kehebatan F-22, dilain pihak, mereka juga menginginkan seluruh armada mereka mengoperasikan "stealth".

      IMHO, program stealth US sebenarnya sudah "mismanagement" dari tahun 1980-an.

      Delete
  3. bung kenapa f-35 boleh dijual ke negara di luar US padahal pespur f-22 tidak boleh dijual padahal f-22 terhitung pesawat jadul kalau memang jarang di upgrade

    ReplyDelete
    Replies
    1. # F-22 waktu itu masih dianggap "terlalu hebat", dan sampai sekarangpun, Stealth shapingnya sbnrnya masih jauh lebih baik dibanding F-35.

      # RCS F-22 kurang dari sepersepuluhnya F-35 dari semua sudut, sedangkan RCS F-35 sbnrnya lebih optimal, hanya kalau dilihat dari arah depan atau 3/4 view dari depan.

      # Waktu itu, Pentagon juga belum dapat berpikir panjang.
      Mereka belum berpikir kalau jumlah F-22 terlalu sedikit, dengan sendirinya upgrade menjadi lebih mahal, dan lebih sulit.

      Computer di F-22 saja, masih memakai legacy processor 25MHz... dan tidak semudah itu untuk bisa diganti/upgrade. Hampir semua built-in software-nya akan harus ditulis ulang!

      *** F-22 bahkan belum bisa mengoperasikan AMRAAM-D dgn dual-datalink.

      # Terakhir, kenapa F-35 boleh di export?
      ========

      Selain spt diatas, US sudah mengambil kesimpulan kalau F-35 adalah model yg lebih inferior dari F-22;

      ....karena versi F-35 yg akan dijual adalah "Versi export".

      F-35A Australia, contohnya, baik RCS, ataupun kemampuan sensornya dapat dipastikan akan setingkat lebih dibawah dibandingkan F-35A USAF.

      Delete
  4. Oh ya bung GI,
    Tentu disini baju atau kulit luar antara F35 dan pespur gen 4 berbeda ataukah sama ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tentu saja berbeda.

      Mulai dari material konstruksi, stealth coating, bahkan sampai cat; F-35 dibuat dari bahan khusus.

      Tehnologinya tentu saja sangat dirahasiakan, dan proprietary rights US.

      Versi export F-35 akan memakai material "downgrade" untuk melindungi kerahasian tehnologi ini.

      =========
      Kelemahannya?
      =========
      Biaya produksi, dan maintenance tentu saja akan selalu menjadi lebih mahal, dan lebih sulit.

      Stealth coating di F-22, dan B-2 bomber sangat "labor intensive", dan perlu jadwal perawatan reguler utk memastikan pengurangan RCS yg optimal.

      F-35, mnrt LM, memakai coating generasi baru yg tidak membutuhkan perawatan sebanyak itu. Pernyataan ini sendiri belum benar2 diuji coba di lapangan.

      Yang pasti, stealth coating di F-35, walaupun lebih modern, hanya akan menjadikan tipe ini terlalu "manja", dan akan memeras biaya operasional.

      Tidak akan pernah bisa praktis di lapangan seperti F-15, F-16, dan F-18.

      Delete
    2. Pertanyaan orang awam.
      Apa bisa pespur gen 4 bisa memakai bahan / lapisan seperti F35 ?

      Delete
    3. Pesawat non-stealth, spt F-18E/F, dan ketiga Eurocanards sudah mempunyai jenis coat-nya tersendiri utk mengurangi RCS.

      Inilah kenapa RCS keempat model tsb kira2 berada di bawah 0,5m2.

      # Stealth coating F-35 tidak akan compatible, dan kemampuannnya tidak akan optimal krn pespur non-stealth tidak pernah didesain dgn stealth shaping.

      Lagipula, LM (dan pemerintah US) tidak akan mau membagi tehnologi coating F-35 ke pespur lain manapun.

      Delete
    4. Dari kelebihan gripen, harusnya indonesia punya minimal 2skuadron dan cocok untuk berdampingan dengan F16 kita. Bahkan kalau perlu kita tambah lagi F16 hibah, tapi yang lebih canggih dari blok 25. Toh dari kemampuam 2 pespur diatas sudah lebih dari pespur kelas ringan biasa , cukup untuk unjuk gigi bila ada yang macam².

      Entah kenapa saya tertarik dengan FA 50 yang konon akan mengantikan hawk. Dengan keterbatasn yg dimiliki, kalau hanya sebagai pesawat latih / patroli kurasa sudah baik. Karna sudah bisa bawa rudal dan bom dibanding dari t 50 yang kita punya.

      Karna dari kemampuan dana yang ada, pasti tak akan mampu untuk beli banyak gripen lagi.


      Sayang bukan realita






      Delete
    5. Secara tehnis, sbnrnya pswt tempur Lightweight single-engine akan selalu menjadi Air Superiority fighter yg paling handal.

      Sepanjang sejarah, tidak pernah ada pswt tempur BERAT yg terbukti dapat mendominasi pertempuran udara,

      Dan tidak seperti kepercayaan takabur US, BVR combat juga tidak akan pernah bisa terjamin memenangkan setiap pertempuran udara.

      Untuk Indonesia, kombinasi "sementara" utk 2 Sku Gripen & 2 Sku F-16 -- dua pespur Single-engine terbaik -- kemampuannya akan jauh melebihi kombinasi apapun yg memakai Sukhoi, atau IF-X.

      Nanti akan sy tulis lebih lanjut keuntungan armada F-16 / Gripen di lain artikel.

      ## Utk pengganti BAe Hawk-209;
      IMHO, kembali kita harus melompati FA-50, karena pesawat ini hanya akan menjadi "versi export" buatan Lockheed-Martin.

      Korea hanya "merasa" mereka jadi pembuat keluarga T-50, padahal yg memegang semua kunci ada di tangan Washington DC.

      Jauh lebih ideal dalam jangka menengah untuk mengisi Sku-01, dan Sku-12 dengan Gripen-E.

      Pada tahap ini, kita bisa melihat prospeknya Indonesia akan mengoperasikan 4 Skuadron Gripen-E.

      Ingat, semakin banyak membeli Gripen, sbnrnya keuntungan ToT, dan kemajuan industri pertahanan kita akan semakin optimal.

      Pada tahap ini mungkin antara 60 - 90% nilai transaksi sudah dapat diinvestasikan kembali ke industri lokal, bukan duitnya hilang hanya utk di-transfer ke Washington, atau Moscow.

      Delete
    6. Tentu FA 50 bukan untuk menemani gripen / F16,melainkan hanya untuk pelatihan lanjut . toh kalau langsung latih pakai gripen / F16 pasti akan cepat mengurangi usia pakai pesawat .

      Menurut bung GI senderi, apakah kiranya indonesia mampu untuk beli gripen E 2-4 skuadron full paket

      Delete
    7. Kalau memang kita mau mengoperasikan lebih banyak pesawat tempur,
      bukankah harga, dan biaya operasional per unit harus terjangkau terlebih dahulu?
      kalau tidak ya, menambah Jumlah hanya akan menjadi mimpi yg tak tercapai.

      Tentu saja, produsen pesawat tempur utama untuk Indonesia, sudah SEHARUSNYA juga berkomitmen untuk memenuhi semua persyaratan UU no.16/2012.

      ## Inilah kenapa membeli 4-skuadron Gripen-E (64 pesawat) masih lebih murah dibanding membeli 50 IF-X "versi export".

      Pesawatnya sudah siap produksi, sudah dirancang dari awak agar harga, ataupun biaya operasionalnya terjangkau, dan, kembali...... Kerjasama industrial dgn Saab berarti antara 60 - 80% nilai transaksi dapat diinvestasikan kembali ke industri dalam negeri.

      IMHO, tidak seperti dalam renstra yg "menginginkan" 10-Skuadron, atau 160 - 180 pesawat,
      4-skuadron Gripen-E (64 pesawat) sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan pertahanan nasional.

      ## Sortie rate yg tinggi berarti setiap Gripen akan seperti membeli 2 - 3 pesawat, karena setiap unit dapat terbang berkali-kali sehari.
      ## Deployment flexibility berarti Gripen dapat dipangkalkan dimana saja, tidak perlu sekarang menghabiskan dana untuk meng-upgrade Lanud ke tipe-A, atau -B.
      ## Kemampuan Networking, dan Sensor Fusion, berarti setiap Gripen bisa 400 - 500% lebih efektif dibandingkan armada gado2 kuno yg sekarang.
      ## BONUS efek gentar: Kalau Indonesia menjadi pengguna utama missile MBDA Meteor di Asia Tenggara.
      ## Biaya operasional untuk 64 Gripen, dengan menabung rata2 150 jam terbang per pesawat, juga akan hampir sama mahal dibanding biaya operasional armada gado-gado yg sekarang.

      ## Lebih banyak mengoperasikan hanya 1 tipe, biaya operasional akan selalu lebih murah, dan dengan sendirinya, paket remunerasi pilot, dan personil dapat dibuat untuk lebih ersaing dengan penawaran dari sektor komersial.

      Sebaliknya, Renstra 10-skuadron dahulu kala itu tidak pernah memperhitungkan:
      ## Seberapa besar membutuhkan keterlibatan industri lokal, khususnya PT DI?
      ## Berapa banyak kita harus mengimport dari luar, atau berapa banyak yg inovasi lokal?
      ## Bagaimana caranya dapat me-recruit, melatih, dan mempertahankan jumlah pilot, ataupun personil yg dibutuhkan?
      ## Tipe apa saja yg mau dioperasikan?
      Armada gado2 Su-35, dan IF-X, misalnya, biaya operasionalnya akan jauh lebih mahal dibanding sekarang, tetapi tidak akan pernah bisa menjadi satu kesatuan yg dapat beroperasi secara efektif!

      ## Tentu saja, baik Moscow, ataupun Washington DC (bukan Seoul) akan menerapkan pembatasan tehnologi "versi export" untuk Indonesia.

      Delete
    8. Yang jadi permasalahan adalah, apakah indonesia mau menggunakan pesawat tempur 1 macam ?

      Saat ini swedia mengoprasikan hampir 100 gripen A/B/C/D. Ketika 60 GripenE sudah ada di arsenal swedia, negara ini pasti akan disegani di kawasan .

      Delete
    9. Ini memang permasalahan "konsep pikir" yang masih perlu dibina kembali, gara-gara trauma embargo militer US (1999-2005), yang dipadukan dengan tidak pernah adanya pengalaman untuk mengoperasikan satu tipe saja.

      Menggunakan satu jenis pesawat tempur bukan berarti kita "lebih rentan" embargo;

      Justru sebaliknya, menggunakan satu jenis pesawat tempur justru akan membuat Indonesia justru kebal dari embargo, selama syarat2 ini dipenuhi:
      ## 100% full-support dari PT DI,
      ## Hubungan kerjasama erat dengan pembuat
      ## Bisa karena terbiasa sbnrnya adalah efek gentarnya sendiri.
      Bayangkan saja: setiap komandan, pilot, kepala maintenance, dan setiap support crew yang lain dalam operasional TNI-AU akan benar-benar terbiasa dengan pespur tersebut.
      Mau 20, atau 50 tahun operasional juga tidak akan masalah. Karena regenerasi staff juga akan jauh lebih mudah, dan boleh dibilang generasi yg selanjutnya mungkin bisa lebih mahir dari sebelumnya.

      ## Tentu saja, faktor reliabilitas platform harus dijadikan salah satu kriteria utama.

      Misalnya, mesin pespur buatan GE, dan PW sudah didesain untuk dapat operasional sampai 8,000 jam; sebelum perlu di-overhaul total, atau diganti. Kalau kita sudah begitu terbiasa dengan mesin buatan US tersebut, dapat menjalankan semua service ringan / berat secara independent, dan sudah mengerjakan PR, untuk menumpuk stock spare part; kalaupun US-nya sendiri di-bumi-hanguskan karena bom nuklir sekalipun... tidak akan menjadi masalah yang pelik.

      ## Di lain pihak, inilah juga kenapa sudah saatnya mempensiunkan Alutsista udara made-in-Ruski, karena reliabilitas-nya tidak akan pernah bisa terjamin, dan belum cukup disana...
      Pengalaman India, yang "katanya" mendapat ToT untuk Su-30MKI sudah menunjukkan kalau Ruski hanya akan terus "memegang ekor", dan memastikan HAL India tidak akan pernah sepenuhnya mandiri.

      IMHO, inilah kenapa sudah saatnya meningggalkan konsep armada gado-gado, yg spt sudah dibahas dalam 3 artikel sebelumnya, justru akan lebih banyak merugikan negara dibanding mencapai "keinginan" untuk lebih mandiri.

      Kemandirian itu adalah suatu kebutuhan, yang harus dikejar dengan investasi jangka panjang, baik secara industrial, tehnologi, dan training. Semuanya butuh kerja keras, dan tidak dapat ditempuh sehari-semalam.

      Sebaliknya,
      hanya sekadar terus-terusan senang membeli produk "versi export" dari Washington DC (atau murid setianya, di Seoul), dan Moscow.... ini sih hanya keinginan belaka untuk mengambil langkah mudah.

      Delete
    10. Ingat mesin PW jadi inget kanada ,
      Negara yang 1 ini mau keluar dari proyek F 35.

      Mereka sudah keluar biaya riset, mau keluar juga harus bayar lagi. Dan apakah berlaku sama dengan korea-indonesia ?

      Delete
    11. Sebenarnya polemik mundurnya Canada dari program F-35 cukup menarik!

      Pemerintah partai Conservative, yang menandatangani keikutsertaan Canada sebagai Tier-3 dalam program F-35, dan kemudian bercuap2 untuk membeli 65 pesawat --- akhirnya dilengserkan oleh partai Liberal dalam Pemilu disana.

      PM baru Canada, Justin Trudeau, kemudian menjadi politikus Barat pertama yang menyuarakan Kenyataan yg sebenarnya:
      "F-35 ... does not work, and is far from working!"

      Lebih lanjut, Trudeau mengungkapkan kalau pesawat ini terlalu mahal, dan tidak sesuai dengan kenyataan kebutuhan pertahanan Canada.

      .... sementara negara2 yang lain, seperti Denmark, Norwegia, Belanda, Jepang, dan.... Korea malah masih dibuat mabuk kepayang oleh "kemampuan stealth" F-35 Lemon II, yg tentu saja dipadukan oleh tekanan politik Washington DC.

      Lockheed-Martin, sahabat baik orang2 Korea, dan Defence Contractor terbesar di dunia, menjadi "ngambek", kemudian mengungkapkan kalau mereka akan menyingkirkan semua perusahaan Canada yg terlibat dalam proyek F-35!

      http://www.defensenews.com/story/defense/2016/06/15/lockheed-goes-offensive-canadas-f-35-debate/85946166/

      "I don't want it perceived as a threat, but we will have no choice: If Canada walks away from F-35, expect to relocate work in Canada to other purchasing nations."

      Warning: Don't mess with Lockheed-Martin!

      ## Tentu saja, sekarang peluangnya menjadi lebih besar, kalau Canada akan memulai "domino effect".

      Semua negara yg mau membeli F-35 sebenarnya cukup gerah melihat betapa mahalnya proyek ini, dan betapa bermasalahnya (sbnrnya karena sudah SALAH KONSEP dari awal; lihat diatas!). Kemunduran Canada, berarti menciptakan sesuatu "precedent" untuk negara lain mundur dari proyek F-35.

      ## Kedua, keputusan mengundurkan diri dari rencana membeli 65 pesawat, berarti harga per unit F-35 untuk beberapa batch pertama akan naik beberapa juta dollar, kecuali ada pembeli baru.

      Ini juga akan menjadi downward spiralnya sendiri agar F-35 memulai masalah "domino effect" seperti di atas.

      Untuk IF-X.......

      Delete
    12. .... kita tidak tahu apa yang dituliskan dalam kontrak kerjasama KF-X antara Indonesia, dan Korea.

      Apakah ada Exit Clause?
      Apakah ada penalty kalau Indonesia mundur?

      Korea sbnrnya belum banyak pengalaman untuk mengerjakan proyek2 pertahanan multi-nasional semacam ini, dan karena itu moga2 kontraknya sendiri tidak terlalu mengikat --- seperti misalnya, kontrak pembuatan Eurofighter antara UK, Jerman, Italy, dan Spanyol.

      IMHO, memang lebih baik "cut loss", dan mundur secepat mungkin, mumpung pesawatnya masih pesawat kertas, dan sampai saat ini, toh juga parlemen Korea-pun masih belum menyetujui lebih banyak investasi finansial ke dalam proyek mercusuar ini --- dan dengan demikian, mereka saat ini hanya bisa bermimpi kalau prototype pertama dapat terbang sesuai jadwal.

      Lagipula, Korea, tidak seperti para produsen Eropa; dengan memilih LM sebagai partner utama,
      tidak akan mungkin dapat menjamin Transfer-of-Technology untuk Indonesia.

      Seperti sy sudah tuliskan,
      .... mereka juga selalu membuat keputusan sepihak untuk menentukan radar, mesin, spesifikasi, dan semua perlengkapan lain yg mereka "inginkan", tanpa pernah ada sopan santun untuk menghargai "partner" mereka.

      Apakah ini partnership, atau kita hanya dibodohin?

      Delete
  5. Jadi menurut mimin Stealth masih terlalu mahal untuk sekarang?

    ReplyDelete
    Replies
    1. IMHO, pesawat stealth itu equivalentnya seperti pasukan special force di kelas Green Beret, Delta Force, atau Kopasus utk Indonesia.

      Sama seperti kenapa pasukan khusus jumlahnya lebih sedikit dibanding Tentara Reguler;

      Bukan hanya mahal, tetapi juga terlalu merepotkan utk mencoba mengaplikasikan regime training, dan kemampuan yg sama ke setiap personil lain.

      Konsekuensi lain: JUMLAH pesawat yg operasional sudah pasti akan menurun vs sekarang.

      Delete
    2. Tambahan:
      =========
      Krn US juga menginginkan konsep "Stealth-for-all" ini, dengan sendirinya kualitas stealth yg diaplikasikan dalam jumlah pswt yg lebih besar menjadi lebih menurun.

      F-35 sebenarnya adalah pesawat stealth US yang RCS-nya paling besar, hampir 10x lipat dibanding semua model sebelumnya.

      Dan karena pesawatnya sendiri menjadi terlalu rumit -- spt sudah ditulis dlm artikel diatas -- krn harus memenuhi bermacam2 tugas yg sebenarnya "tidak compatible" satu sama lain;

      US, dan semua pembeli F-35 akan mengoperasikan pespur yg biaya operasionalnya lebih mahal dibanding F-15, yang sendirinya saja sudah dianggap terlalu mahal..... di tahun 1970-an.

      Hanya mencoba mengkombinasikan kemampuan stealth dari F-117A, dan biaya ekonomis operasional F-16 saja, sbnrnya mereka sudah ber-MIMPI: Tidak mungkin bisa terjadi, karena stealth akan selalu menuntut perhatian khusus, dan lebih banyak perawatan.

      Delete
    3. Jd selama stealth masih terlalu mahal dan high maintenance, mereka hanya jd seperti "special forces"?

      Delete
    4. Yah, terlalu rumit, terlalu repot, dan terlalu mahal.

      LM, dan Pentagon berkata, akhirnya kalau produksi F-35 sudah banyak, dan semua negara sudah "terbiasa", nanti juga masalah perawatan F-35 dengan sendirinya lebih mudah, dan lebih murah.

      Hukum "economies of scale", kata mereka.

      Logika saja:
      F-16 perawatannya murah, karena KONSEP dasarnya sangat sederhana:
      "Lightweight daytime Single-engined BFM fighter."

      Kata "stealh" saja dengan kebutuhannya sendiri yg spesial, sudah bermusuhan dengan nilai ekonomis dari awal.

      F-35 lebih parah lagi, karena dari segi konsep, unlike F-16, pesawat ini sudah rusak dari awal (lihat diatas!).

      Akan dibutuhkan jauh lebih banyak personil utk men-support F-35, dibandingkan F-16, dan tentu saja....
      dengan sendirinya, jumlah pesawat tempur yg tersedia untuk NATO akan jauh berkurang, kalau F-16 terakhir akhirnya dipensiunkan.

      Boleh dibilang sbnrnya US, dan para pemuja F-35 seperti "sleepwalking" menuju jurang kehancuran.
      karena mereka menginginkan pesawat yang "bisa semua", eh malah dapat pesawat yg lebih mungkin untuk "tidak bisa apa2"!

      IMHO, tidak seperti argumen Ausairpower, ancaman terbesar untuk F-35 bukanlah Sukhoi Ruski, yg secara tehnologi, training, dan persenjataan sbnrnya sudah tertinggal terlalu jauh...

      Ancaman terbesar untuk F-35 adalah bagaimana pesawat ini akan menghancurkan kemampuan kebanyakan AU NATO dari dalam.

      Delete
  6. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
    Replies
    1. bung dari sisi desain apakah ada kemiripan antara KFX dgn f-35?

      Delete
    2. Kita tahu kalau Korea sbnrnya ber-"mimpi" untuk membuat KF-X menjadi semacam "F-35-lite" versi Korea.
      Semua presentasi ttg KF-X hampir selalu akan menyinggung "F-35".

      Perbedaan utama:
      ## Korea (sekali lagi, Indonesia tidak berhak utk berpendapat 1%-pun dalam proyek ini) sudah memilih 2 x mesin GE F414, sedang F-35 spt diatas memakai mesin PW F135, yg tidak akan boleh di-export.
      ## KF-X tidak akan dapat menandingi kemampuan Sensor Fusion, Networking, dan stealth F-35.
      Untuk stealth sih, memang bisa dimaklumi; akan tetapi Sensor Fusion KF-X akan menjadi kelemahan utamanya vs semua pesawat tempur Barat lain yg sudah siap sekarang, bukan hanya F-35.

      Persamaan utama antara KF-X, dan F-35:
      ================================
      Konsep dasarnya sama2 terlalu AMBISIUS dari awal.
      ================================

      Ini sbnrnya pemikiran yg salah kaprah.
      setiap pesawat seharusnya dibuat dari konsep yg sederhana dulu, yg dapat di-deskripsikan dalam 1 kalimat, bukan berlembar-lembar omong kosong.

      Karena konsep dasarnya sudah terlalu ambisius, dan terlalu rumit, dapat dipastikan KF-X akan menabrak bbrp masalah yg sama dengan F-35:

      ## Desain dasarnya akan terlalu BERAT, dan terlalu DRAGGY.
      Memilih desain dengan 2-mesin sudah pasti akan membuat pesawat yg lebih draggy vs F-16, dan Gripen, dengan biaya operasional yg juga jauh lebih mahal.

      Kita lihat saja apakah Korea bisa membuat pesawat yg lebih ringan daripada berat kosong 15 ton untuk Super Hornet. Kemungkinan besar sih, TIDAK.

      ## Kemudian setiap treshold dalam development hanya akan penuh dengan masalah; yang satu akan lebih rumit dari yang lain, karena kedua platform ini sudah dituntut utk melakukan terlalu banyak dari hari NOL.


      Delete
  7. Min, Gripen, Typhoon, Rafale itu punya radar absorbing material nggak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung @Haykal,
      Untuk re-cap: RAM coating adalah material yg lebih exclusive untuk Stealth fighter -- RCS lebih rendah vs pespur non-stealth = high maintenance = high operational cost.

      =================
      Eurocanards
      =================
      Ketiga desain Eurocanards baru masuk di meja gambar di tahun 1980-an, lebih dari 10 tahun setelah teen fighters US, dan Su-27/MiG-29 mulai mengudara. Pada waktu itu, semua desain pespur modern sudah lebih memperhatikan pengurangan RCS dibanding tahun 1970-an; dan karena itu ketiga Eurocanards semuanya sudah dirancang dari awal untuk pengurangan RCS yang se-optimum mungkin, walaupun tidak mendekati angka stealth F-117A.

      Pengurangan RCS di Eurocanards dimulai dari design shape, dan pilihan material yg sudah mengoptimalkan pengurangan pantulan radar sampai ke desain inlet mesin. Alhasil, ketiga Eurocanards mencatat RCS dibawah 0,5m2.

      Saab Gripen mengambil keuntungan RCS yg terendah karena ukuran frontal-view-nya memang lebih kecil dibanding Typhoon, Rafale, ataupun F-18E/F. Dalam latihan NATO, Hunggaria melaporkan kalau Gripen-C/D mereka saja tidak terlihat di radar pesawat tempur NATO yang lain (kebanyakan F-16 MLU).

      Versi-E akan mengurangi RCS lebih rendah lagi dari 0,1m2 (kira-kira RCS untuk Gripen-C).

      ## Membawa senjata di pylon memang menambah RCS; tetapi patut diingat, bahwa pesawat induknya adalah pemancar RCS terbesar dari gelombang radar lawan.
      Eurocanards yg membawa pylon untuk 6 missile, hanya akan menambah RCS menjadi 20-30% lebih besar daripada base RCS-nya.
      Contoh:
      Gripen-C base RCS 0,1m2 + 6 missile = kira2 0,13m2.

      Eurofighter Gmbh, Dassault, dan Saab -- ketiganya sebenarnya sengaja memilih desain konvensional dengan pengurangan RCS maksimum, justru karena mereka mau menghindari semua "jebakan" yang sama, yang sudah dialami US dalam membuat desain stealth fighter.

      ## Kemampuan kinematis lebih optimal!
      Inilah kenapa kemampuan kinematis F-22 tidak akan dapat mengungguli Eurocanards, yang desain awalnya tidak perlu membawa "stealth-design penalty".

      ## Better value-for-money.
      Typhoon, dan Rafale, walaupun bukan pesawat yg murah, harga per unitnya (termasuk biaya development) kurang dari setengah harga F-22.

      Sedangkan Gripen --- sudah dirancang dari awal agar biaya development, ataupun akuisisinya lebih murah dibandingkan JA-37 Viggen.

      ## Biaya operasional juga dengan sendirinya jauh lebih hemat.
      Typhoon, dan Rafale biaya operasionalnya masih sedikit lebih murah dibandingkan two-engine standard F-15C/E, dan jauhh....... lebih murah dibandingkan F-35A.

      ## Eurocanards juga akan lebih mudah, dan lebih murah untuk di-upgrade dibanding F-22, dan F-35!

      Tentu saja, kembali, keluarga Gripen menungguli dua saudaranya dalam hal ini --- karena memang sudah didesain dari awal agar mudah, dan murah untuk di-upgrade dalam jangka panjang.

      @@ Untuk Typhoon; belum ada satupun negara Eropa yang memilih untuk meng-upgrade ke AESA radar, karena biayanya terlalu mahal! Mengintegrasikan setiap senjata baru juga hampir 3x lipat dibanding Gripen.

      @@ Untuk Rafale -- masih belum ada Helmet Mounted Display, walaupun sudah ada bbrp testing, Perancis masih belum memilih untuk memasang HMD. Rafale juga belum mempunyai kemampuan untuk mengoperasikan 2-way datalink untuk midcourse-update dari Meteor BVRAAM.

      Delete