Thursday, July 21, 2016

Presiden Jokowi: Pengadaan Alutsista Sesuai Kebutuhan, Bukan Keinginan!

Presiden Jokowi
(File photo: Antara News)
Pernyataan Presiden Jokowi (20-Juli-2016) dalam perihal pengadaan Alutsista, seperti sudah di muat dalam artikel di Antara News, Berita Satu, dan Merdeka.com; sudah menggariskan beberapa point yang sangat penting:
  • Harus direncanakan secara matang sesuai KEBUTUHAN, dan BUKAN menurut keinginan.
  • Memenuhi persyaratan hukum UU 16/2012, agar dapat mengarah 
    menuju langkah kemandirian, dan memaksimalkan manfaat Nasional!
  • Diberlangsungkan melalui skema transparansi yang terbuka!
Pernyataan Presiden terlebih lanjut, seperti dikutip Antara News: "Ubah Pola Belanja Alutsista menjadi investasi", menggarisbawahi beberapa point lagi yang berkaitan:
  • Transaksi HARUS melalui Government-to-Government, dan BUKAN lewat perantara, yang hanya akan memperkaya oknum tertentu, dan memperkeruh transparansi transaksi.
  • Pembelian Alutsista sifatnya HARUS memberi keuntungan investasi jangka panjang, baik secara strategis, ataupun industrial.
  • Kerjasama industrial melalui skema Transfer-of-technology, yang ditawarkan penjual, dan juga sudah digariskan sebagai keharusan dalam Pasal 43 UU no.16/2012, juga akan menjadi prioritas utama.
  • TAMBAHAN Komentar Presiden: "Tidak boleh lagi membeli pesawat tempur tanpa berhitung berkalkulasi biaya daur hidup alutsista tersebut dalam 20 tahun ke depan.




Sayang! Bendera Indonesia belum ada dalam tampilan lightshow untuk Gripen-E!

Sudah saatnya untuk kembali melakukan Presiden Jokowi's Stress Test untuk pilihan-pilihan pesawat tempur Indonesia di masa depan, sesuai dengan apa yang sudah digariskan dalam daftar requirement baru ini.



Test Pertama: 
Government-to-Government Contract, dan Transparansi Transaksi


Untuk memenuhi kebutuhan baru ini, memang sudah saatnya mencoret kemungkinan pembelian Sukhoi dari daftar belanja TNI di masa depan. Patut diketahui, kalau Ruski BELUM PERNAH menawarkan penjualan Alutsista melalui skema Government-to-Government, melainkan selalu melalui badan perantara resmi yang ditunjuk pemerintah - Rosoboronexport, yang kemudian tentu saja akan menunjuk perantara lokal. 

Tanyakan saja ke orang-orang India, PRC, Aljazair, ataupun Vietnam: Apakah pernah ada G-to-G contract dengan pemerintah Russia? TIDAK AKAN PERNAH ADA. Ini walaupun transaksi kesemua negara tersebut baik dari segi nilai, ataupun jumlah jauh lebih besar dibandingkan Indonesia.

Pengalaman India, dengan perantara Rosoboron:

Link: Indian Express, 8-Agustus-2016

Sebaliknya, para supplier Barat sudah cukup kapok memakai perantara, karena transaksi perantara ala Ruski, hanya akan menjadikan skandal di negara masing-masing. Inilah keuntungan terbesar dalam transaksi persenjataan dengan sesama negara DEMOKRATIS, dimana suara rakyat untuk memprotes korupsi akan selalu lebih penting dibandingkan keuntungan pribadi para perantara.
Pesawat berumur pendek, dan gampang rusak TS-3006,
yang baru pulang MUDIK berbulan-bulan di Belarusia
(Gambar: TNI-AU)


"Tidak boleh lagi membeli pesawat tempur tanpa berhitung berkalkulasi biaya daur hidup alutsista tersebut dalam 20 tahun ke depan."




Test Kedua:
Apakah pesawat tempur masa depan kita akan menjadi 21st Century Fighter, yang mampu menjawab semua tantangan militer di Abad ke-21?


Pesawat tempur yang akan memenuhi kebutuhan Indonesia, pertama-tama harus harus dinilai dahulu dari segi kemampuan: 

  • Apakah pesawat tersebut mempunyai kemampuan untuk menghadapi pesawat lawan manapun?
  • Apakah biaya operasionalnya sendiri tidak akan mencekak anggaran?
  • Apakah pesawat tersebut juga dapat dipangkalkan di garis depan, dengan support yang minimal?

Mengenai kelebihan Sensor Fusion, dan kemampuan Tempur Gripen-E dibandingkan semua pesawat lain sudah dibahas dalam artikel sebelumnya. Sedangkan Su-35, yang biaya operasionalnya akan mencekak anggaran, kesiapan tempurnya terjamin minimal, dan radar-nya saja hanya single-frequency PESA radar, yang gelombangnya akan mudah terlihat tidak akan pernah banyak harapan.

Mengenai kenapa IF-X tidak akan memenuhi syarat untuk memenuhi persyaratan ini, akan lebih terjawab dalam point selanjutnya.



Test Ketiga:
Apakah supplier siap memenuhi SEMUA persyaratan yang sudah digariskan dalam UU no.16/2012?


Transfer-of-technology adalah salah satu persyaratan mutlak yang telah ditetapkan dalam Pasal 43 dari UU no.16/2012.

Dalam hal ini, Saab, melalui pemerintah Swedia, adalah satu-satunya supplier yang siap memenuhi semua persyaratan Undang-Undang kita:
Link: Jane's

Sebaliknya, kedua negara adidaya pembuat F-16, ataupun Su-35, TIDAK AKAN PERNAH bernegosiasi untuk memenuhi persyaratan Transfer-of-Technology

India, yang sudah membeli milyaran $$$ dari Russia, ataupun Australia / Saudi Arabia yang sudah memborong milyaran $$$ dari US; semuanya TIDAK PERNAH mendapat tawaran Transfer-of-Technology. Apalagi Indonesia, yang statusnya tidak akan pernah bisa dipercaya 100% oleh kedua belah pihak! Kalau bisa mendapat remah-remah saja, kita mungkin sudah harus bersyukur!

Sedangkan IF-X Korea? 
Seperti sudah dibahas sebelumnya, Korea akan mengandalkan Transfer-of-Technology dari US. Sekarang saja, mereka sudah mulai resah sendiri akan keterlibatan Indonesia dalam proyek mercusuar mereka, justru bisa mengganggu mimpi mereka yang di awang-awang. 
Korea Times, 25-Nov-2015
Sudah saatnya kita bangun dari mimpi, dan membatalkan proyek mercusuar ini!
Pesawat "Indonesia" dari KF-X tidak akan mungkin bisa terjadi!


Test Keempat:
Apakah model yang akan diakuisisi Indonesia akan menjadi model export, alias downgrade

Apakah upgrade package akan terjamin di-transfer dari pembuat untuk menjamin pesawat tersebut akan selalu up-to-date di masa depan?


Artikel IHS Jane's ini kembali menggaris-bawahi komitmen Saab, bahkan Gripen-C/D yang sudah ditawarkan saja akan membawa paket upgrade MS-20; menambah kemampuan radar PS/05A Mark-4, dan kemampuan mengoperasikan MBDA Meteor, BVR missile terbaik di dunia saat ini.

Tentu saja, untuk menjamin pesawat yang lebih Future Proof untuk menghadapi tantangan masa depan, kembali, kenapa mau berhenti di Gripen-C?

Kembali ke polemik IF-X: Berkaitan dengan masalah tech-transfer yang sekarang mulai merebak di Korea, dapat dipastikan hanya akan menjadi export model dari KF-X, yang hanya akan membawa tehnologi yang diperbolehkan oleh Washington DC. Karena itu, upgrade package untuk KF-X tidak akan di-transfer ke export model IF-X. Inilah kenapa pada akhirnya, IF-X tidak akan banyak berbeda dibanding F-16V, bahkan boleh dibilang jauh lebih beresiko tinggi dibanding Sukhoi.


Test Kelima:
Kerjasama jangka panjang dengan industri pertahanan lokal.


Kalau sudah sampai kemari, semua pilihan yang lain tidak lagi perlu dibahas, bukan?

Gripen, ataupun Erieye-nya sendiri saja belum terbeli, tetapi Saab sudah melompat terlebih dahulu untuk menandatangani kontrak kerjasama dengan Badan Pengkajian, dan Penerapan Tehnologi (BPPT) Indonesia.
Gambar: BPPT.go.id
Saab adalah satu-satunya supplier yang terus mengangkat pentingnya kerjasama industrial dengan Indonesia. Mereka bahkan sudah menawarkan perakitan 6 unit, dari 16 Gripen yang ditawarkan.



Final Test: Kebutuhan, atau Keinginan?


Saab menawarkan Gripen dalam paket lengkap, termasuk Erieye, National Network, perakitan RBS-15 di Bandung, 100% Technology Transfer, dan kerjasama industrial jangka panjang. Tawaran ini sudah menjawab semua KEBUTUHAN pertahanan Indonesia untuk 50 tahun ke depan. 
  • Kemampuan tempur? Gripen versi Echo akan menjadi Air Superiority Fighter yang paling sukar untuk ditembak jatuh di Abad ke-21!
    Gambar: Saab
  • Persenjataan? Gripen akhirnya memberi kesempatan untuk diversifikasi supplier di tempat yang benar. Kita tidak akan lagi tergantung kepada Satu sumber untuk membeli semua persenjataan, atau perlengkapan lain. Gripen yang dapat dipersenjatai MBDA Meteor, dan RBS-15 Anti-ship missile adalah pesawat tempur yang paling sesuai untuk memenuhi cita-cita "poros maritim" Indonesia.
    Gripen-D with recon pod, 2 IRIS-T, 2 Meteor, and 2 RBS-15F
    Gambar: Swedish Air Force
  • Biaya Operasional, dan Training? Terhitung hanya 60% dibanding F-16C/D, atau kurang dari sepersepuluh dari Sukhoi Su-27/30 bertehnologi tahun 1980-an. Biaya operasional ekonomis untuk pesawat tempur kemampuan kelas satu, dengan sendirinya memberikan keuntungan jauh lebih banyak JAM TRAINING, dan membiasakan diri dengan strategi pertempuran udara Abad ke-21!
  • Gripen juga sudah dirancang dari awal untuk melakukan perang Gerilya menghantam lawan yang lebih kuat, dan jumlahnya lebih banyak. Pesawat ini akan ideal untuk dipangkalkan di lapangan udara perintis manapun, dengan support yang cukup minimal.
    Mau memilih dipangkalkan dimana? Natuna? Biak? Kupang? Balikpapan?
    Gambar: Swedish Air Force
  • Bukankah kita juga SANGAT membutuhkan pesawat AEW&C untuk pengawasan wilayah udara Indonesia yang lebih optimal? Saab adalah satu-satunya supplier yang menawarkan Erieye AEW&C, dengan AESA radar. Kemampuannya tentu akan jauh lebih optimal juga dipasangkan dengan Fully-networked Gripen.
    Lalat-pun tidak akan bisa menyusup masuk!
    Saab-340 AEW&C
    Gambar: Wikimedia
  • Tentu saja, upgradability jangka panjang, dan kerjasama industrial dengan industri pertahanan lokal juga sudah terjamin. Saab sudah sering mengulang bagaimana kontrak kerjasama dengan mereka akhirnya akan di-investasikan kembali, sampai 85% nilai transaksi, dalam bentuk kerjasama industrial, dan lapangan kerja lokal.

Penutup

Pernyataan Presiden Jokowi ini akan menjadi titik terang baru dalam rencana Akuisisi Alutsista negara kita yang sebenarnya amburadul, dan segala sesuatu serba minimal, tapi juga masih 'sok bisa'. Pernyataan beliau sebenarnya sejalan dengan apa yang sudah diungkapkan dalam Polemik penolakan pembelian helikopter VVIP di tahun 2015 yang lampau.

Apakah kita semakin mendekati harinya Gripen-Indonesia?

Pembelian Gripen hanya akan membuka lembaran baru untuk Sistem Pertahanan Indonesia yang modern. Tetapi langkah untuk menuju modernisasi, dan kemandirian masih akan sangat jauh untuk tercapai, dan tidak akan dapat ditempuh dalam sehari-semalam.

67 comments:

  1. Wah, dgn hal ini mudah-mudahan Indonesia bisa bekerja sama dgn perusahaan pertahanan terkemuka seperti SAAB, Airbus Military, MBDA untuk memajukan pertahanan Indonesia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siip... bung @Haykal.

      Peluang kerjasama dengan perusahaan2 Eropa, seperti sudah dapat kita lihat dari CN-235, senapan SS-2, dan PKR-10514, memang akan sangat memajukan industri pertahanan kita sendiri.

      Tehnologi pesawat tempur, AEW&C, dan Networking saat ini, semuanya masih sangat asing untuk penguasaan lokal... dan selama kita hanya mau membeli "export model" US, atau Russia; untuk selamanya juga tidak akan pernah ada kesempatan untuk belajar.

      Delete
    2. Mimin, jadi pengamat militer sejak kapan?

      Delete
    3. Bung @Haykal,
      Sy hanya pengamat awam kok.

      Kebetulan memang dari dulu hobby belajar sejarah militer, dan kemudian memperhatikan berita2, atau analisa2 militer tehnologi terkini yang sifatnya lebih obyektif.

      Semua hasil research hanya berdasarkan dari informasi publik yang lepas.

      Delete
    4. Wah sama dong Min hehehe, kalau saya dari kecil udh seneng sama hal-hal militer

      Delete
  2. "Salah satu contoh Sukhoi itu. Itu kan G to G, negara antar negara," ujar Ryamizard.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung @bang kong,
      Kita sudah pernah diskusi re hal ini sebelumnya.

      Artikel ini sudah menjawab semuanya: Ruski tidak pernah melakukan transaksi G-to-G; melainkan melalui agen perantara resmi; Rosoboronexport.

      India, langganan terbesar Russia saja, masih harus berurusan, dan sudah sangat berpengalaman dengan Rosoboronexport.

      Delete
    2. Oh ya mungkin anda yang benar dan Ryamizard yang salah..

      Delete
    3. Siapa yang salah, atau benar itu tidaklah penting.

      Saya mengundang anda untuk melakukan research sendiri di Informasi Publik yang sudah tersedia di Internet, dan dengan demikian anda akan dapat menemukan kebenarannya sendiri:

      ## Silahkan cari bagaimana Russia pernah melakukan transaksi langsung antar pemerintah, dan bukan melewati Agen perantara resmi Rosoboronexport -- agen penjual yang sudah dikenal dalam dunia internasional untuk mematok % profit margin cukup tinggi atas harga produksi.

      ## Silahkan mencari, apakah seperti Saab Swedia, Russia (ataupun US -- Setali tiga uang!) pernah berkomitmen untuk memenuhi semua persyaratan UU no.16/2012!

      ## Silahkan juga mempelajari website ICW (Indonesian Corruption Watch) mengenai kecurigaan mark-up transaksi Sukhoi yang sebelumnya!
      ==============
      http://www.antikorupsi.org/id/search/node/Sukhoi
      ==============

      Referensi Tambahan yang boleh anda pelajari juga:
      ===================
      https://government.defenceindex.org/
      ===================
      Ini adalah website Transparancy International, untuk melihat seberapa bersihnya transaksi dalam bidang industri militer di masing2 negara.

      Seperti kita lihat disini -- Indonesia, maupun Russia sama-sama berada di status "D"; alias penuh KKN, dan transparansi dalam semua informasi transaksi akan terasa semu.

      Delete
    4. Seorang pejabat dalam pemerintahan bahkan tidak boleh melakukan kesalahan, bahkan dalam sebuah pernyataan, karena dibuat panutan dan acuan oleh pejabat dibawahnya. Itu adalah yang sangat-sangat penting.

      Tidak seperti kita yang asal bicara tidak akan berpengaruh apa2, kalaupun melakukan kebohongan juga hanya kalangan yang tidak berfikir yang akan tertipu.

      Delete
    5. Lol pejabat negara tidak boleh salah?faktanya berapa banyak tuh pejabat negara baik dari legislatif ekeskutif ataupun yudikatif yg ketauan berbuat salah, bukanya membela admin cuma y faktanya memang demikian

      Delete
    6. Maka ada punishment kan? Maka gak boleh salah, tapi disini kita bebas ngomong apa aja karena gak ngefek, cuma orang akan memberikan penilaian tersendiri, mana yang akan memberikan pernyataan obyektif dan mana yang subyektif.

      Saya sendiri masih percaya dengan apa yang di agendakan pemerintah, maka mengenai penilaian terhadap program IFX seperti pernyataan di bawah jelas2 saya tidak setuju.

      Program sedang berjalan, Segala dana, SDM, dan fasilitas di siapkan, bahkan ada tim bayangan yang akan mem-back-up sewaktu2 program ini mengalami masalah. Segala sesuatunya dimonitor dengan jelas. Tidak semua hal dipublikasikan karena menyangkut teknologi tingkat tinggi. Program di estimasikan sampai 2025. Untuk selanjutnya Indonesia bisa mengembangkannya sendiri sesuai kemampuan tanpa ikatan apapun dari fihak korea jika membuat struktur yang berbeda meskipun basicnya tetap digunakan. Berkaca pada SS2 Pindad yang basicnya adalah lisensi pada SS1, ANOA juga hasil Transfer teknologi, dan yang sedang dalam proses lanjut adalah PKR 10514 dan Cangbogo Submarine.

      Jika program ini di katakan PENIPUAN dan KESALAHAN maka sebuah vonis yang sangat prematur, cenderung mengada-ada, boleh saja ambil analisa dari berbagai sumber yang entah kredibilitasnya gimana, narasumbernya kualitasnya juga dipertanyakan.

      Pemerintah dengan resmi menyatakan kalau kita dapat 100% teknologi dan dengan kemampuan yang terbatas mungkin hanya 90% yang bisa di serap. Itu sudah dari cukup untuk mengembangkan teknologi pembuatan pesawat, mengenai hambatan radar misalnya ada LEN yang mempunyai kemampuan mengembangkannya. Dan selanjutnya dan selanjutnya..

      Teknologi tinggi itu berharga sangat mahal, jika ada yang meng-obral teknologi dengan harga murah, maka akan kita lihat kualitasnya.

      Saya sendiri sangat mendukung Gripen sebagai pengganti Hawk, tapi tidak untuk F-5 Tiger.

      THX, Salam.

      Delete
    7. Salam juga..

      Trmksh sudah mengungkapkan pendapatnya mendukung Su-35 sebagai pengganti F-5E,
      ... dan KF-X sebagai pespur masa depan Indonesia.

      Anda sudah membaca artikel ini kembali dari awal??

      ## Apakah US (penanggung jawab ToT KF-X), atau Russia pernah menyatakan akan memenuhi SEMUA persyaratan UU no.16/2012 ??

      Sy sudah pernah menulis: serigala akan selalu beranak serigala, sedang domba akan selalu beranak domba.
      Bukan kebiasaan mereka utk mengumbar ToT, atau mengajak kerjasama secara industrial!

      ## Apakah yg menjamin kemampuan tempur Su-35, atau IF-X hanya akan menjadi "model export", atau model downgrade?

      kembali, kebiasaan negeri adikuasa adalah mendikte spesifikasi "model export" yg diperbolehkan.

      Silahkan berdebat semaunya, tetapi seperti di atas, mau berdoa sekhusuk apapun, untuk selamanya ini TIDAK AKAN MUNGKIN BISA BERUBAH.

      ## Soal Upgrade pesawat tempur sendiri, misalnya utk IF-X agar independent dari Korea???

      Sy menyarankan anda benar2 mencoba menggali research yg lebih mendalam mengenai upgrade pespur!

      Sepanjang sejarah, dan mengingat tehnologi pespur juga sudah mencapai titik puncak kerumitan, TIDAK MUNGKIN ada negara pembeli yg dapat melakukan upgrade secara independent, tanpa dukungan negara pembuat.

      Setiap pespur modern sebenarnya mengandalkan jutaan baris programming line dalam SOURCE CODE pswt!

      ## Source Code adalah penentu utama kemampuan terbang (software untuk Fly-by-wire system), dan kemampuan tempur -- mulai dari targeting radar, persenjataan, networking, sampai ke semua subsystem lain.

      ## Source Code juga dapat dijadikan sarana utk membatasi kemampuan pesawat "model export" -- semisal: versi F-16 US mempunyai 4 - 5 mode tempur, versi Indonesia hanya mempunyai 2 - 3 versi saja, dan variasinya juga akan lebih terbatas.

      ## Source Code juga biasanya dikunci pembuat, karena merupakan intellectual property.
      untuk US, dan Ruski, ini artinya mereka akan memegang kuasa, kapan, dan bagaimana upgrade akan diperbolehkan untuk negara pembeli.

      terakhir, tanpa ijin / kemampuan mengubah Source code: TIDAK AKAN ADA PROSPEK MODIFIKASI SENDIRI.

      contoh:
      T-50 -- source codenya dipegang Lockheed-Martin!
      Korea sbnrnya tidak diperbolehkan untuk mengubah spesifikasi, atau mengganti satu pakupun tanpa ijin dari Washington DC.

      Alhasil, Korea belum pernah mempunyai pengalaman utk menulis source code pesawat manapun, apalagi KF-X.

      .... Dan disinilah kembali, Washington DC akan selalu bisa memegang ekor Korea.

      setiap komponen 21 "core tehnologi" yg diminta Korea untuk proyek mercusuar mereka, akan mengandung "Made-in-USA Source code", dan TIDAK AKAN DIPERBOLEHKAN untuk dimodifikasi sesuka hati!







      Delete
    8. Hmmm... Ini salah sy sendiri juga sbnrnya.

      sudah agak lama tidak pernah membahas Source code pesawat tempur.

      Fyi -- kalau kita membicarakan pespur, subyek ini sering dibengkalaikan, atau terlalu dianggap remeh di kebanyakan formil Indonesia khususnya.

      Kenyataannya tidak semudah itu membuat pespur modern dari nol.... Tanpa ada kemampuan menulis source code dari nol.
      Dan utk setiap pesawat, Source Code adalah intellectual property rights dari pembuat, yg biasanya akan selalu dikunci, dan dilindungi secara hukum oleh pemerintah negara pembuat.

      Inilah KUNCI kemampuan setiap pespur modern.

      kali lain, sy akan mencoba menulis artikel sendiri ttg serba-serbi Source Code.

      Delete
  3. Statement yang bagus dari bapak president...
    Tinggal nunggu dari para menterinya menjalankan atau tidaknya...
    Banyak kepentingan Ekonomi Pribadi disana hehehe...
    Memang contoh Yang Bagus dari pembelian Korvet Sigma yang dilanjut dengan PKR 10514...
    Kasel changbogo klas diteruskan...

    Tinggal nunggu angkatan udara...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, bung @reader.

      Sbnrnya memang Presiden kita sudah mengisyaratkan arah akuisisi Alutsista kita sejak "polemik pengadaan helikopter VVIP" itu tahun lalu.

      Apakah TNI perlu modernisasi? Ya, tentu saja perlu.

      Akan tetapi,
      ## UU no.16/2012 yg sudah dibuat tidak boleh dilanggar.

      ## Dan, sudah saatnya mengambil langkah kepedulian kemajuan industri pertahanan lokal, untuk mencapai kemandirian yang lebih berarti.

      Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya.

      Delete
  4. Min, buat artikel perbandingan alusista AS,Eropa, dan Rusia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Haykal,

      Sy akan membuat perbandingan dalam lingkup lebih kecil:

      Industri pespur US v Eropa v Russia

      Kelebihan, dan kekurangan masing2.

      Delete
    2. Wah boleh Min. Ditunggu ya artikelnya

      Delete
  5. bukanya IFX menurut kontrak sebagian akan di rakit disini ( kalau jadi) harap di koreksi kalau salah ini juga lupa2 ingat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pemerintah Indonesia pun sudah menyiapkan infrastruktur untuk merakit pesawat KF-X/IF-X di Indonesia dengan membuat hanggar di PT DI.

      http://www.lintasnasional.com/2016/01/10/300-ilmuwan-indonesia-diangkut-ke-korsel-pelajari-pembuatan-pesawat-tempur/

      Delete
    2. Bung @Leon,

      Pengalaman India dengan "mencoba memproduksi" Dassault Rafale dalam program MMRCA -- sebenarnya sudah memberikan kita contoh referensi yang bagus.

      ## HAL India, baik kemampuan produksi / tehnologi pespur-nya jauh lebih unggul dibanding PT DI.
      ## Dassault Perancis tetap saja mengambil keputusan: "Produksi di India? Tidak mungkin! Fasilitas HAL kurang memadai!"
      ## Pada akhirnya India membatalkan program MMRCA untuk memproduksi 140 Rafale. Kenapa? TERLALU MAHAL.

      Ini dilakukan untuk produksi 140 pesawat -- jumlah yang cukup ekonomis -- dan untuk pesawat yang lini produksinya sudah SIAP.

      Bagaimana dengan Indonesia, dan IF-X-nya?

      Tidak seperti India, yang mendapat Rafale:

      Pertama-tama, kita akan mendapatkan pesawat yang super inferior (dibandingkan semua Eurocanards), karena dibuat oleh negara bau kencur yang tidak ada pengalaman / kemampuan membuat pespur sendiri.

      Seperti sy sudah tuliskan di artikel ini; Tehnologi-Transfer IF-X tidak akan terjamin, karena tergantung kepada kebijaksanaan dari "Fatwa" Washington DC untuk mendikte Seoul -- "apa yang diperbolehkan ke Indonesia!"

      Kedua, tidak seperti Rafale untuk India, IF-X masih statusnya pesawat kertas.
      Mempersiapkan lini produksi untuk pesawat yang sama sekali belum siap produksi, dan kemungkinan hasil akhirnya juga akan "cacad" karena alasan pertama === RESIKO yang luar biasa TINGGI.

      Lebih baik Indonesia bertaruh dengan biaya operasional 100 Su-35 untuk mencekik keuangan negara, dibanding terus mencoba bertaruh untuk mencoba membangun lini produksi pesawat yang belum siap.

      Ketiga, berapa jumlah yang akan diproduksi untuk Indonesia?
      50 pesawat? 80 pesawat?

      Jumlahnya TERLALU SEDIKIT, dan ini akan jauh dari nilai produksi yang ekonomis.

      Prediksi yang seobyektif2nya, kita bisa melihat harga per unit menembus $300 juta / unit, untuk pesawat tempur yang super inferior.

      =========
      Catatan Akhir
      =========
      Proyek IF-X untuk Indonesia sudah menjadi mubazir dari awal, karena:

      A> Keputusan sepihak Korea untuk memilih Lockheed-Martin, dan secara tidak langsung pemerintah US sebagai partner utama untuk Tehnologi-Transfer.

      B> Keputusan sepihak DAPA (Defense Aquisition Program Administration) Korea yang memilih desain twin-engine, dibandingkan single-engine C-501 seperti yang sudah direkomendasikan langsung dari produsennya KAI, dan partner ToT mereka, Lockheed-Martin.

      Twin Engine = lebih rumit = lebih mahal = lebih banyak beresiko tinggi = TETAPI lebih bergengsi

      C> Jumlah produksi pesawat twin-engine KF-X TERLALU SEDIKIT; antara 230 - 250 pesawat, dan tidak akan ada negara pembeli yang mau mengambil resiko dengan pesawat rumit buatan negara "bau kencur".

      Tidak seperti Saab, Korea tidak pernah berhenti untuk bertanya: "Apakah kebutuhan dikau, Indonesia?"

      TIDAK. Mereka hanya bertindak sesuka hati! Main tabrak kiri-kanan.

      Sy sudah pernah menulis: Kita hanya akan seperti kerbau yang dicocok hidungnya dalam proyek KF-X!
      ..... tinggal masalah waktu sebelum kita akan ikut disembelih!

      Proyek ini adalah PENIPUAN dan KESALAHAN besar dari awal!

      Delete
    3. Apakah nasib KFX/IFX ini akan seperti pesawat tempur buatan Jepang Mitsubishi F2 ?

      Delete
    4. Bung @reader,

      Di atas kertas, Mitsubishi F-2 secara tehnis sudah menjadi proyek yg prospeknya jauh lebih bagus, jika dibandingkan KF-X.

      ## Pertama, industri dirgantara / pertahanan Jepang sendiri sudah jauh lebih unggul, berpengalaman, dan berinovatif dibanding Korea, yg masih "anak kemaren sore".
      Mereka bahkan adalah satu2nya negara yg berhasil membuat BVR missile, dengan AESA seeker.

      ## Kedua, Mitsubishi F-2 menggunakan basis F-16 sebagai pengembangan lebih lanjut,
      SEBALIKNYA, Kf-x mencoba membuat sendiri dari NOL.
      Biaya development, resiko tehnis, dan lead time utk proyek, dengan sendirinya sudah lebih rendah utk F-2.

      Pada akhirnya, tetap saja F-2 hanya menjadi contoh case study proyek "membuat pespur sendiri"; dari negara yg kurang pengalaman, ataupun kemampuan (dibanding para pemain lama).

      Karena hasil akhirnya adalah versi F-16 yg jauh lebih berat, draggy, dan hampir sama mahal dengan F-15; tanpa disertai keunggulan kemampuan yg berarti.

      Jepang sendiri mengakui, F-15CJ yang dirakit Mitsubishi, kemampuannya masih jauh lebih unggul dibanding F-2.

      Inilah kenapa bukan tanpa alasan, kalau semua analysis di luar (kecuali Analisis lokal Indonesia, atau Korea) tidak ada satupun yang optimis dengan KF-X, apalagi kalau membaca spesifikasi yg "dimimpikan" DAPA Korea.

      Pesawatnya terjamin sangat mahal; kemungkinan juga akan terlalu berat, dan yang paling penting......

      Tidak seperti "mitos" yg merebak di Indonesia..... Kemampuannya tidak akan lebih unggul dibanding F-16V.... buatan Lockheed-Martin, partner ToT utama yg menentukan nasib Kf-X, yg pasarnya sendiri akan mendapat perlindungan politik dari pemerintah US.

      Delete
  6. @GI

    bung diatas sempat membahas tentang source code apakah kalau kita pilih Gripen ada jaminan source code akan dibuka 100% ke kita dan apakah ada jaminan kalaupun source code dibuka 100% teknisi2 kita akan 100% menguasai source code tsb

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tidak seperti US, dan Russia, Ketiga pembuat Eurocanards selalu menawarkan transparansi kedaulatan atas kepemilikan pesawat yg sudah dibeli, melalui Source Code Control.

      contoh Saab untuk Thailand:
      ===============
      http://saab.com/region/thailand/about-saab/saab-in-thailand/
      ===============

      Tehnisi Indonesia terjamin akan dapat melakukan secara mandiri:
      ## Aplikasi upgrade software yg ditawarkan Saab untuk setiap tahapan MS-package, seperti yg akan diaplikasikan di versi Swedia.
      ## Kebebasan untuk mengapilkasikan modifikasi software agar dapat mengoperasikan senjata, perlengkapan baru, atau mungkin upgrade lokal spesifik, yg misalnya hanya ekslusif bisa digunakan di versi Indonesia.
      Untuk point terakhir, potensi jangka panjangnya untuk kemajuan industri pertahanan Indonesia sangat menarik! Kita mungkin bisa belajar untuk menjadi produsen / penjual perlengkapan pespur ke negara lain.

      ### Exclusive Advantage : Source Code Gripen sbnrnya sudah dibuat utk menjadi yg paling fleksibel, murah, dan mudah untuk mengetes / menambah senjata / perlengkapan baru, dibandingkan semua platform lain.


      ============
      ============
      Tapi, kita tidak boleh takabur dahulu...

      Ini berbicara soal potensi investasi jangka panjang.

      Dalam keadaan sekarang, pengetahuan kita dalam hal tehnologi pespur masih NOL besar.

      Semuanya akan tergantung kemauan, dan komitmen negara untuk menginvetasikan sumber daya kita ke platform Gripen!
      Kalau tidak, yah kelebihan ini hanya akan jadi mubazir!

      Inilah justru faktor resiko terbesar dari pembelian Gripen:
      ============
      Tehnisi kita akan bisa belajar berinovasi sendiri di masa depan, atau tidak?
      ============

      Sekali lagi, keunggulan ini tidak akan bisa didapat dari semua pesawat "keinginan" yang lain.

      Delete
  7. Min, kenapa Indonesia blm bisa ikut Exercise Red Flag, padahal Malaysia dan Singapura udh ikut?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Red Flag adalah latihan udara kelas atas, dimana semua participant akan berbagi strategi / tehnik yg hanya dapat dipercayakan kepada sekutu2 dekat saja.

      IMHO, ada bbrp alasan knp Indonesia belum diundang:

      1. Pertama, trust issue. Sampai saat ini, Indonesia masih belum bisa cukup dipercaya US.

      IMHO, lagi, perlahan2 ini akan berubah -- terutama karena kesulitan2 di Laut Cina Selatan. Kalau Indonesia mulai lebih menunjukkan solidaritas ke sesama ASEAN, dan lebih pro-aktif dalam mempertahankan Zona Ekonomi Ekslusif laut kita sendiri, tentu saja ini akan merubah pola pikir US-Australia.


      2. Akuisisi Alutsista, dan perencanaan strategis kita juga terlalu kacau, dan belum bisa dianggap serius negara lain.

      ## Seperti sy sudah pernah tuliskan, terutama untuk Alutsista udara, kita sepertinya terlalu terobsesi menambah pesawat tempur, daripada persenjataan / perlengkapan yang lebih diperlukan.

      ## Berkaitan dngn diatas, obsesi bbrp kalangan untuk Su-35 juga justru membuat kita kelihatan seperti bahan tertawaan negara lain.
      Semua Angkatan Udara lain tahu, kalau kita tidak akan mempunyai kemampuan merawat Su-35 dengan baik. Wong, Sukhoi memang sudah terkenal "gampang rusak", sedang pengalaman kita sendiri dngn "legacy" Su-27/30 saja sudah amburadul.

      Bagaimana bisa mengoperasikan pswt yg jauh lebih rumit, belum teruji, dan spare partnya akan jauh lebih mahal?

      ## KF-X, seperti sudah dibahas diatas, juga tidak menunjukkan kalau kita serius masalah Alutsista. Semua orang sudah tahu kalau US bahkan akan pelit ToT ke negara sekutu mrk sendiri (Korea), apalagi ke Indonesia.

      Semua participant dalam Red Flag sudah mempunyai sistem pertahanan udara yang baik. Tujuan mereka mengikuti latihan adalah untuk menguji prosedur, training, dan tehnik mrk; dan kemudian pengalaman yg dipakai akan dipergunakan kembali untuk memajukan sistem pertahanan mereka sendiri.

      Dalam keadaan status quo yang sekarang, yah, kembali diatas --- tidak akan ada orang yg menganggap Indonesia sebagai partner yg serius yang sudah siap mental untuk mengikuti latihan udara seperti Red Flag. Untuk apa? Apa yang mau didapat dari Red Flag?

      3. Faktor lain yg tidak kalah penting --- Semua pesawat tempur kita adalah versi export kelas dua!

      F-16 Block-25+, atau Su-30MK2 adalah dua model yg paling modern saat ini, dan tentu saja semua orang juga tahu, tidak compatible dalam operasional.

      Networking, atau Helmet-Mounted-Display saja tidak ada...sedangkan semua participant sudah berbicara mengenai penggunaan perlengkapan/persenjataan yg jauh lebih modern.

      Jadi tehnik macam apa yg bisa dipelajari Indonesia dalam latihan kelas satu di level Red Flag?

      4. Terakhir -- Indonesia juga tidak akan punya cukup uang untuk mengirim kontinen pespur / transport / support untuk berpartisipasi dalam Red Flag.

      IMHO, anggaran untuk TNI-AU saat ini saja sudah disandera dengan biaya operasional Su-27/30. Mnrt surat kabar Kontan saja, kita akan membutuhkan $100 juta hanya utk membeli mesin baru utk Sukhoi....
      ..... mesin baru: padahal rata2 Sukhoi saja umurnya masih kurang dari 10 tahun (kecuali 4 unit pertama yg sudah rusak berat, dan tidak bisa terbang!).

      ==================
      ==================
      Sy rasa dalam keadaan skrg, kita belum siap untuk bisa menjadi participant dalam latihan udara di kelas Red Flag.

      Kalau kita bisa bergabung, tentu saja akan menjadi Achievement-nya sendiri --- dan meningkatkan efek gentar, kalau performa kita disana terbukti tidak kalah bersaing.

      Tetapi ini kembali ke permasalahan semua --- kita terlalu senang membeli export model kelas-2 (IF-X, F-16, dan Sukhoi) --- jadi siapa yg bisa mengajarkan kita untuk membangun sistem pertahanan modern?

      Delete
    2. Apakah para petinggi TNI melihat masalah ini?

      Delete
    3. Kelihatannya tidak.

      Fokus "modernisasi" dalam Renstra bahkan belum mempriotaskan pembelian AEW&C -- salah satu komponen utama sistem pertahanan udara modern, yg dapat menutup kekurangan coverage radar di darat.

      Saat ini pemikiran ini terlalu terobsesi kalau menambah pespur, berarti efek gentar tinggi, apalagi kalau yg dibeli Su-35.

      IMHO, tidak ada yg lebih menunjukkan efek gentar, kalau AU kita dapat membuktikan diri dalam latihan Red Flag; kalau kemampuan /keterampilan pilot, dan staff kita tidak kalah bersaing dgn Singapura; AU yg paling modern, terlatih, dan terlengkap di seluruh Asia Tenggara.

      Su-35 yg high maintenance, dan tak pernah teruji, tidak akan pernah bisa memenuhi persyaratan ini, walaupun kita akan buang triliunan rupiah.

      Lagipula Ruski kembali, akan mendikte pemakai: mereka akan melarang pemakaian radar Irbis-E dalam latihan semacam ini.

      Itulah pengalaman India dgn MKI; radar Bars-M hanya boleh dinyalakan dalam "training mode" --- krn faktor kerahasiaan, katanya.

      Rahasia = radarnya tidak terpernah diuji coba secara obyektif vs radar, dan sistem ISW Barat.

      Para pemakai Sukhoi MKI, MKM, MKA buatan Irkut sebaiknya berdoa, kalau radar PESA single-frequency mereka tidak akan di-jamming habis2an dalam situasi konflik yg sbnrnya.

      Kita tahu kalau radar darat sistem pertahanan buatan Russia yg dipakai Syria, skrng saja sudah tidak lagi mempunyai kemampuan utk dapat men-lock F-15I Israel, yg RCS-nya sebesar lapangan sepak bola, di siang hari bolong!

      Ini baru membahas apa yg tersedia dalam informasi publik.

      Keikutsertaan dalam Red Flag bukan hanya utk membuktikan diri, ttp juga akan memberikan akses ke banyak informasi2 lain yg dirahasiakan, dan tak terbuka utk umum.

      Kalau kita bisa menjadi participant Red Flag, bukan main efek gentar yg bisa kita dapat!

      Delete
    4. Wah, sayang sekali itu. Dan saya sebagai generasi penerus sangat kecewa dgn pendahulu kami

      Delete
    5. Kapan2 sy akan tulis ttg pentingnya keikutsertaan dalam Red Flag.

      :)
      Jadi banyak hutang artikelnya. Harus research dahulu.

      Delete
    6. Min, coba sekali-kali buat artikel tentang apa yg harus diubah dari pola pikir TNI AU saat ini

      Delete
  8. Repotnya karena pemikiran petinggi TNI AU bahwa SU 35 adalah pesawat tempur yang sangat hebat....

    Entah kenapa ada pemikiran seperti itu....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang lucu.

      Kelihatannya sih, gara2 terlalu banyak membaca Ausairpower -- website yg "menggentarkan dunia" antara 2001 - 2008.... yg setelah pemerintah US memutuskan utk tidak mengijinkan export untuk F-22, eh, mendadak berhenti di-update.

      Padahal dgn memakai tehnologi "common sense" saja, kita bisa melihat kalau terlalu bnyk argumen disana ttg "kehebatan" Su-35, spt sudah dibahas disini, sbnrnya tidak pernah masuk logika.

      Yg banyak orang lupa -- tehnologi industri militer Russia sebenarnya TIDAK PERNAH BISA BERSAING dengan tehnologi Barat.

      Belum lagi menghitung efek jangka panjang embargo militer Ukrania, dan negara2 Barat, yg kali ini akan berlaku untuk selamanya.

      Kembali ke Ausairpower -- paling tidak satu argumen mrk benar --- F-35 adalah pesawat terjelek yg pernah dibuat US..

      Melawan F-16D Block-40 twin-seater yg membawa 2 draggy drop tank saja tidak becus!

      Daftar kekurangannya bisa ratusan halaman.

      Delete
  9. Oh ya bung Gi.
    Mengingat kehebatan radar aesa daripada pesa, kenapa sampai saat Ini kita tidak punya pespur beradar aesa. Apakah karna harganya terlalu mahal ataukah operator kita yg ingin masih ketinggalan zaman ??



    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada peribahasa:
      "Dimana ada kemauan, disana ada jalan!"

      Masalahnya, yah kelihatannya belum ada kemauan, krn bnyk pejabat sptnya ingin mengambil langkah yg "lebih mudah" -- lebih cepat delivery, atau versi export dari Ruski.

      Saab sudah menawarkan Gripen-E, asalkan kita mau menunggu waktu delivery lebih lama.

      LM menawarkan F-16V, ttp mengingat ini akan menjadi versi export, source code untuk APG-83 Indonesia tidak tertutup kemungkinan akan mendapat kemampuan "downgrade secara halus" vs APG-79 di SH Australia.

      IMHO, tidak pernah ada bnyk pilihan utk kita;
      # Terus gandrung ke model kuno yg tidak bisa diupgrade, maintenancenya sangat mahal, dan masih versi export (Sukhoi)

      ## Pespur dgn AESA radar, dan seluruh kemampuannya versi export (F-16V).

      Atau....
      ## Gripen-E yg akan menjamin kedaulatan Indonesia secara tehnologi, ataupun industrial.

      Delete
    2. @matt hamsik&DR

      Saya malah melihat sikap yang mendua mengenai radar aesa...saat gencar pemberitaan mengenai pengganti F-5, pihak AU mengabaikan faktor radar ini dan "tampaknya" mengarahkan kepada satu kriteria pesawat tertentu.

      Tapi dalam program KFX/IFX kita pasrah bongkokkan ketika korea memasukkan syarat radar aesa sbg salah satu komponen kunci.

      Delete
    3. bung @hari,

      AESA radar dari KF-X sebaiknya tidak berharap banyak.

      Masalahnya kembali ke kemampuan untuk menulis "Source code" --- kemampuan AESA radar di setiap pespur sbnrnya tergantung kepada kemampuan pembuat pesawat untuk dapat mengintegrasikannya secara "seamless" ke semua subsystem yg lain, mulai dari persenjataan, electronic warfare, defense suite, RWR, cockpit interface, atau external sensor lain.

      Untuk mengintegrasikan AESA radar = akan butuh sekurangnya ratusan ribu baris programming code.

      Korea kabarnya memilih Hanhwa-Thales utk supplier AESA radar.
      Pertanyaannya, bagaimana caranya mrk dapat mengintegrasikan radar buatan pihak ketiga, ke dalam pswt yg akan dibuat menurut bimbingan Lockheed-Martin?

      Kita tahu kalau Korea belum berpengalaman menulis source code sendiri, krn mereka sudah "dibodohin" dalam proyek T-50 tempo hari: "Assembled in Korea, designed, & 100% fully-controlled by Lockheed-Martin, USA".

      Dahulu, mrk sbnrnya meminta LM membantu mengintegrasikan (baca: menulis code) utk memasang AESA radar di KF-X.... Tentu saja permintaan ini sudah ditolak mentah2 dari Washington DC: "No F-35 customer ever asked for AESA technology!"

      Jadi Korea bisa saja membeli AESA radar, tapi bukan berarti mrk akan bisa memasangnya di KF-X, dan kemudian juga masih berharap kemampuannya akan bisa bersaing dengan perpaduan AN/APG-83 dan F-16V (!!).

      Dilain pihak, programming -- ini juga adalah salah satu sebab kenapa development untuk AESA radar di pesawat tempur Ruski kelihatan sudah mandek: PAK-FA saja masih membawa variant dari Irbis-E.

      Delete
    4. @DR

      Maaak...bisa seperti kejadian Mitsubishi F-2 dong, yang harus menulis sendiri source codenya.

      Bakalan berbelit prosesnya&berlipat anggarannya...belum lg berhitung ttg skala keekonomisannya.

      Kalau harus pensiun dini seperti F-2 kan sangat disayangkan, sementara F-16 yang mjd patronnya masih bisa berumur panjang, bahkan masih berusaha mendapatkan order besar di india

      Delete
    5. Kita lihat saja perkembangannya dari sisi Korea.

      Sejak penolakan 4 ToT tahun lalu, sudah semakin bnyk lampu kuning "peringatan akhir" utk menghentikan proyek KF-X.

      Korea sendiripun tahu: alternatif untuk membeli F-15, atau F-35 baru akan menjadi opsi yg lebih murah, dan lebih aman. Kemampuannya juga akan lebih terjamin.

      ## India === kemungkinan besar akhirnya akan memilih Gripen-E, krn mrk membutuhkan single-engine fighter. Lagipula, US tidak akan menawarkan ToT seberapapun jumlah F-16 yg dibeli/diproduksi lokal, dan Source code-nya akan selalu dikunci.

      Masalahnya Gripen-E di India juga bertabrakan masalah yg mirip dgn di Indonesia: GENGSI.
      =======
      =======
      Bbrp tahun yg lalu, Korea juga mengundang Saab untuk pembelian pespur F-X2.

      Saab menghadiri invitasi pertama, tp tidak seperti Eurofighter, mereka menolak utk mengajukan penawaran resmi. Daripada buang2 uang...

      Analisa Saab terbukti tepat:
      ============
      FAVORITISME: Korea tidak akan mungkin membeli pespur yg bukan buatan US,

      Dan kedua...

      Kembali, GENGSI... Korea selalu lebih menginginkan twin-engine raksasa F-15, atau pesawat stealth bodong F-35.
      ========

      Lucu kan, kalau pmrth sblmnya menandatangani kontrak KF-X, tanpa pernah memperhitungkan kalau Korea memang sudah dari dulu selalu menyembah produk buatan US?

      Yah,mau diputar bagaimanapun juga proyek ini hanya akan merugikan Indonesia.

      Delete
  10. ada statement juga bahwa TNI AU tidak terlalu membutuhkan radar AESA karena kita tidak dalam posisi sedang berkonflik atau membutuhkan Radar secanggih itu, saya pernah baca itu cuman lupa itu statement dari AU atau KEMHAN...

    Itu Ironis banget...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Posisi demikian justru sangat membingungkan -- kalau tidak butuh fitur yg paling penting di Abad ke-21, kenapa masih ambil pusing modernisasi Alutsista?

      Tujuan, ataupun perancanaannya jadi semakin tidak jelas.

      Daripada terus membuang2 uang rakyat untuk akuisisi yg tidak karuan, lebih baik terus saja menambah F-16 Block-25+ bekas.

      Oiya... sbnrnya kemampuan F-16 hibah ini saja, walaupun sudah di-downgrade habis2an sbnrnya masih lebih unggul dibandingkan Su-30MK2.

      ## RCS F-16 hanya 1,6m2, sedangkan Su- melebihi 25 m2 --- dan keduanya sama2 tidak mempunyai jammer, atau electronic warfare modern.

      Radar AN/APG-68 F-16 akan dapat melihat Sukhoi RAKSASA dari jarak lebih dari 200 km; sedangkan Mech radar Sukhoi baru bisa melihat F-16 dari jarak <70 km.

      ## AIM-120C7 (top BVR missile NATO sampai bbrp tahun yg lalu) baik dari jarak tembak, dan kemampuan men-lock target dapat dipastikan juga akan jauh lebih unggul dibanding RVV-AE, alias versi export dari R-77 --- yg sampai skrng belum dipakai secara luas oleh AU Ruski sendiri!

      ## Dalam jarak dekat, F-16 B-25+ yg drag ratenya lebih kecil, T/W rationya lebih unggul, & wing-loadingnya jg bersaing juga kemampuan manuevernya akan jauh lebih unggul dibanding twin-engine Sukhoi yg lebih berat, dan draggy.

      AIM-9X juga sudah satu generasi lebih modern dibanding R-73 export... dgn jarak jangkau maksimum mencapai 20 km.

      ##Jangan lupa juga kalau ukuran F-16 yg lebih kecil, berarti lebih sukar diikuti mata pilot dalam pertemouran jarak dekat --- sedangkan Sukhoi seperti lapangan bola di udara!

      ## Terakhir, F-16 biaya operasionalnya jauh lebih murah -- kurang dari Rp100 juta / jam, dan tidak seperti Sukhoi, lebih bandel, alias tidak gampang rusak.

      Kalaupun bbrp pejabat mau pilih kasih (ke Sukhoi) juga tidak akan mempengaruhi status quo ini:

      Pilot F-16 di Sku-03 dengan sendirinya akan dapat mengumpulkan jauh lebih banyak jam terbang / training vs pilot Sukhoi di Sku-11.

      Delete
    2. yup kalau g butuh alusista dgn teknologi terkini mnding beli bekas sekalian ngapain buang2 duid untuk sesuatu yg "katanya" tidak butuh

      Delete
  11. Tanyakanlah kepada presiden apa yang kita butuhkan ?
    Sukhoi kita vs sukhoi malaysia jelas kalah. Apalagi f 16 kita vs f 16 singapura ? Lebih telak lagi.

    Untuk negara terbesar di asia tenggara, dan katanya SDA'nya melimpah. . masa iya kita tidak punya uang untuk beli pespur canggih.
    Nah itu yang nyuri uang negara, jadi sasaran bom aja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ... mencoba membeli pesawat tempur, tetapi dalam jumlah CICILAN seperti kasus Su-27/30 juga adalah suatu kesalahan tersendiri.

      Dan sekarang, masih mau mencoba lagi dengan Su-35.

      Ini adalah salah kaprah dari awal, atau kesalahan strategis fatal.

      Membeli dalam jumlah cicilan, bukan berarti menghemat; melainkan sebaliknya, KERUGIAN BESAR negara dalam jangka panjang.

      ## Su-27/30 hanya dapat 16 unit model kuno untuk $1,1 milyar; sedangkan Malaysia hanya perlu membayar $800 juta untuk 18 Su-30MKM yg jauh lebih modern.

      ## Biaya operasional juga dengan sendirinya akan melompat jauh lebih mahal. Hukum ekonomi : Jumlah sedikit, bayar harga retail.
      Sedangkan Fixed cost untuk investasi infrastruktur, dan training yg dibutuhkan, akan sama saja dengan membeli 1 skuadron(!!)

      ## Tentu saja, khusus untuk supply senjata Ruski, ini artinya juga Malaysia hanya perlu membayar lebih sedikit komisi penjualan.

      Delete
  12. Oh ya bung GI
    Saya pernah baca artikel / berita yang mengatakan kalau tni Au kekurangan banyak pilot terutama untuk pespur . sedangkan ada artikel / berita yang mengatakan kalau 1 pesawat terlalu banyak pilot yang menggunakan .

    Yang benar yang manahkah bung ?
    Yang jelas kalau kita ingin punya banyak pilot pespur, dan pilihannya pasti cuma ?
    Tambah pespur / tambah jam terbang .
    Dan manakah kebutuhan yg paling dibutuhkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung @Matt,

      Secara ideal kita seharusnya mempunyai lebih banyak pilot daripada pesawat tempur, yang mempunyai kesiapan terbang di atas 80%.

      Dalam sistem NATO, untuk setiap pesawat tempur harus ada 3 pilot:
      1. Kalau satu pilot sakit, atau kecelakaan, harus ada yg siap menjadi back-up.

      2. Dalam konflik terbuka yg menuntut pespur tersebut harus mengudara berkali-kali -- masakan pilot yg sama akan melakukan 2 misi @ 3-4 jam setiap kali. Mereka juga harus bergantian.

      ## Agak sulit sebenarnya untuk mengikuti berita perkembangan TNI-AU sendiri, krn boleh dibilang, belum seperti India, atau Afrika Selatan, AU kita boleh terbilang masih tertutup.

      Dua kasus yg diungkapkan dalam contoh anda diatas, kelihatannya menunjukkan kesulitan2 logistik yg mendasar:
      1. Kalau kurang pilot utk pesawat tempur --- kemungkinan kebanyakan pilot dewasa ini akan lebih tertarik utk mengambil pekerjaan di sektor kommersial.
      Pekerjaan pilot pespur bukan hanya terhitung prestigious, tetapi juga yang paling sulit, dan demanding.
      Kalau negara tidak bisa memberi insentif yg cukup, yah, insentif untuk terus mendalami pekerjaan juga semakin berkurang.

      ..... apalagi kalau kita terus mengoperasikan pespur berbiaya operasional mahal, dan kesiapan tempur minimal, yg dengan sendirinya akan bersaing dengan paket renumerasi pilot / staff TNI-AU sendiri.

      2. Kalau 1 pesawat terlalu banyak pilot --- ini kemungkinan menunjuk kembali ke kesulitan maintenance.

      Kalau dari 12 pesawat, seharusnya 8 siap mengudara sewaktu-waktu, sementara 4 yg lain di-servis; kejadiannya bisa terbalik... hanya 2 pesawat yg siap terbang, 4 pesawat di-servis, dan 6 lagi sudah lama tidak terbang krn tidak ada spare part.

      Kita tentu tidak mengetahui seberapa luasnya problem ini dalam TNI-AU; apakah cuma terisolasi dalam 1 atau 2 skuadron, atau problem yg merata di setiap sektor.

      Kita juga tidak mengetahui kalau problem ini sendiri; apakah sudah lama terjadi, atau trend yg baru.

      Bagian dari masalah ini -- TNI-AU memang sudah menambah terlalu banyak pesawat tempur sejak tahun 2010 (24 F-16 B25+, 6 Su-30MK2, 16 T-50, dan 16 Tucano).

      Sangat sulit untuk dapat menambah jumlah pilot pespur (46 pesawat + 16 Tucano) hanya dalam waktu bbrp tahun, dan SAYANGNYA, semua 46 pesawat itu juga model export, yg kemampuannya kurang optimal.

      Delete
  13. Min, knp orang Indonesia banyak yg ingin negara kita betul-betul mandiri alusista tapi tidak mengetahui apakah Indonesia sdh memiliki kemampuan untuk itu atau masih blm

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar.

      Kemandirian Alutsista itu tidaklah semudah yg dibayangkan banyak kalangan.

      Kalau mengharap Indonesia bisa memproduksi semuanya dari NOL, lepas dari bantuan luar = mustahil

      Tidak ada satupun negara di dunia ini yg benar2 mandiri secara Alutsista, kecuali USA. Semua negara lain, akan tergantung kepada global supply chain dari perusahaan2, atau negara2 lain.

      Apa yg dapat kita kejar sebenarnya adalah kemandirian yg sifatnya lebih terbatas
      ## Kemampuan untuk mengoperasikan setiap unit Alutsista secara independent untuk selama mungkin, dalam keadaan tidak adanya support dari pembuat.
      ## Kemampuan untuk dapat menjadi innovator di beberapa sektor, bukan hanya menjadi pelanggan setia yg cuma bisa dipaksa mengangguk2an kepala.
      ## Full-support dari industri pertahanan lokal dalam mendukung setiap Alutsista. Kalau tidak akan bisa ada sokongan dari industri lokal, ya, kenapa beli tipe Alutsista itu?

      Berikut dua contoh langkah salah dalam ide kemandirian

      ## DIVERSIFIKASI supplier antara Barat, dan Timur.

      Ini sih tidak ada yg mandiri. Justru sebaliknya, faktor resiko kesulitan spare part justru menjadi jauh lebih besar, karena kita tergantung kepada 2 supplier yg saling mencurigai satu sama lain.

      Kita hanya akan "menggali lubang yg lebih dalam, untuk menutup lubang yg sbnrya tidak sedalam itu".

      ## Proyek IF-X.
      Ide untuk "mencoba membuat pesawat sendiri dari NOL" di Abad ke-21, dengan basis industri lokal yang kemampuannya hampir NIHIL, dan dengan memilih partner juga yg sama sekali tidak ada pengalaman / kemampuan industri yg mapan -- ini hanya akan menjadi mimpi yg indah.

      Tidak akan bisa terjadi.

      Delete
    2. Jadi menurut mimin langkah yg betul apa saja?

      Delete
    3. Hukum dasar pertama: sama seperti sebelum anak kecil mulai bisa berlari, dia harus belajar untuk bisa berdiri dulu, lalu berjalan tanpa pegangan.

      Transfer-of-Technology.
      Untuk membangun segala sesuatu, tanpa pondasi yg kuat, tidak akan ada yg mungkin bisa berhasil, bukan?

      ToT akan menjadi dasar yg baik untuk mulai bisa belajar.
      Hasil dari apa yg sudah dipelajari ini, akan dapat dipergunakan untuk memupuk kerjasama dengan pemberi ToT, dan menjadi akar untuk inovasi sendiri di masa depan.

      Langkah2 awal ini saja sudah perlu ketekunan, investasi, komitmen dan tekad yg bulat, baik dari Pemerintah, industri, TNI, dan perguruan tinggi negara selama bertahun2:
      "Kita mau belajar lebih mandiri, dan mulai membangun industri dalam negeri!"

      Kalau ToT saja belum pernah ada, bagaimana caranya langsung melompat ke rancangan awal yg tidak jelas, apalagi lompat ke produksi?

      Inilah kenapa orang sudah salah kaprah total dengan IF-X!

      Dalam keadaan skrg, seperti mencoba membangun jembatan layang antara Sumatera, dan Papua, padahal alat untuk memasang pondasi dasar saja belum punya.
      Perhitungan resiko, atau modal dari proyek ini saja tidak pernah jelas.

      Proyek ini terlalu jauh dari realita, dan terlalu dekat ke mimpi indah.

      Delete
    4. Min, yg biasanya mau ToT itu dari negara mana saja?

      Delete
  14. Bung GI kalo kita lihat masalah TOT ini kadang masih berusaha di akali di negara ini, kita bisa liat di pemebelian kanon oerlikon skyshield untuk Paskhas AU, TOT yang di dapat hanya sebatas kita membuat kendaraan penganggkut untuk kanon itu yg di comot dari Truk HINO yang ada di pasar Indonesia terus di dandanin biar bisa angkut kanon itu...
    Lucu saya kira TOT nya tidak menyentuh suatu yang esensial berkaitan dengan kanon itu...

    ReplyDelete
  15. Ada pertanyaan lagi saat ini di Indonesia bermunculan perusahaan-perusahaan swasta yang keliatannya mampu membuat Alutsista.
    Dan mereka mendapat kontrak pengadaan Alutsista entah itu buatan baru dari lokal indonesia atau TOT dari negara lain, apakah kualitasnya bisa dipertanggung jawabkan dari perusahaan seperti ini???
    Kenapa tidak dibentuk Holding Indutri pertahanan di Indonesia ini???

    ReplyDelete
  16. Rosoboronexport perusahaan agen yg di tunjuk pemerintah Rusia untuk jual produk militer rusia dan semua harus melalui perusahaan itu, kemenhan pun juga berurusan dgn mereka , pemerintah Rusia hanya memfasilitasi .......saya mendukung Gripen untuk F 5 Tiger tapi tidak untuk su 35 pengganti F5 tiger....kita juga sudah mempunyai sukhoi yg juga penempur kelas berat itu pun udah rumit perawatan biaya mahal operasional ,haus maintenance....pernyataan pemerintah yg mana yg menyebutkan 100% dapat ToT dari Rusia.....hanya mimpi beli 9 unit dapat ToT 100% dari Rusia.......

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitulah.
      Memang tidak mungkin akan bisa dapat ToT dari Ruski.

      India saja yang berkontribusi milyaran $ untuk PAK-FA, dan memproduksi 270 Su-30MKI hanya mendapat ToT "setengah jadi".

      Serigala memang akan selalu beranak serigala.

      Jangan lupa kalau umur Sukhoi di Sku-11 juga tidak akan lama. Sekitar pertengahan tahun 2020-an nanti sudah akan membutuhkan pengganti.

      Inilah kenapa Gripen juga akan bisa menjadi pengganti ideal untuk Sukhoi Sku-11.

      Delete
  17. bahkan pak RR pun tak pernah mengatakan apa bentuk ToT dan kerja sama produksi bersama dgn Rusia..... hingga sekarang pun Rusia masih bungkam ttg harga su 35...sangat lucu tender jet tempur pengganti f5 tiger belum dimulai pun udah ketahuan sapa yang menang............

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pengganti F-5E sebenarnya boleh dibilang sudah tidak lagi dibutuhkan.

      Sejak 2010, sebenarnya TNI-AU sudah mengakusisi terlalu banyak pespur, tetapi tidak pernah membeli persenjataan.

      Delete
  18. Korea sekarang bahkan kesulitan mencari ToT tambahan setelah 4 ToT ditolak AS..... beli su 35 tak akan nyambung teknologi nya dengan KFX/IFX.......heli serang yg dibeli TNI AD dari Rusia bulan september 2016 skrg udah mulai jalani perbaikan bahkan belum perang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lupa mengucapkan;
      selamat bergabung berkomentar pertama kali, bung tupa!

      Untuk KF-X; memang.
      Lockheed sebenarnya sudah memperingatkan Korea dari awal, kalau ToT yang mereka maui tidak akan disetujui oleh pemerintah US --- entah kenapa salah sendiri mereka yang masih ngotot.

      Mi-35P TNI-AD?
      Yah, begitulah.
      Baru membeli 5 unit; 2 di tahun 2003, dan 3 di tahun 2010 --- sudah harus dikirim ke Kaliningrad.

      Memang Alutsista buatan Ruski, secara umum tidak bisa tahan lama.
      Dan Ruski sendiri sepertinya sengaja tidak mau mengajarkan cara maintenance mandiri ke tehnisi Indonesia, agar kita bisa terus dibodohin.

      Delete
    2. thanks bung Dark , terus terang sejak datang ke blog ini saya mendapat pencerahan

      Delete
    3. nampaknya Rusia itu memang sengaja membuat RI jadi ATM nya Rusia

      Delete
    4. Begitulah, bung tupa.

      Jangankan Indonesia, yang sudah pernah membubarkan PKI, dan berkhianat menghibahkan bermacam2 aneka Alutsista ex-Soviet, ke United States, di tahun 1970-an...

      ... bahkan dengan customer mereka yang paling setia (sejak tahun 1960), India, yang dewasa ini juga sudah rela menghabiskan milyaran $$ setiap tahun, Russia tetap saja memperlakukan mereka seperti "sampah".

      Delete
  19. sekarang kemungkinan beli su 35 tanpa rudal atau missil....hahahhaha macan tua ompong

    ReplyDelete
    Replies
    1. .... dan kalaupun membeli missile, sebenarnya kualitasnya juga tidak pernah sebanding dengan buatan Barat.

      RVV-AE (izdeliye-190), BVR missile versi export andalan semua Sukhoi, kemungkinannya tidak akan bisa menembak jatuh pesawat lawan manapun; karena development-nya saja tidak pernah selesai sejak dimulai tahun 1982.

      Bahkan F-16 Block-25+ yang sekarang saja, akan dapat mudah mengalahkan Su-35K.

      Seperti diatas, karena saat ini saja, TNI-AU sudah mempunyai terlalu banyak pespur, lebih baik berkonsentrasi membeli lebih banyak missile untuk F-16, yang akan juga bisa di-share bersama Gripen.

      Untuk memenuhi MEF, lebih baik memprioritaskan pembelian AMRAAM C-7, AIM-9X, dan Sniper pod terlebih dahulu untuk memperlengkapi F-16; dan dengan demikian mengurangi masalah "macan ompong".

      Baik dalam jangka pendek, ataupun panjang, sebenarnya akan menumpuk terlalu banyak kesalahan / kekacauan selama kita terus gandrung membeli senjata Ruski.

      Delete