Tuesday, July 5, 2016

Pernyataan resmi: Swedia menawarkan 16 Gripen-C, dengan perakitan 6 unit di Indonesia!

Antara News (27-Juni-2016) melaporkan kalau Swedia telah mengajukan penawaran resmi  ke pemerintah Indonesia untuk akuisisi 16 Gripen C/D, atau Gripen-E; dengan penguasaan alih tehnologi yang lebih maksimal, melalui penawaran perakitan 6 unit di Indonesia! Nilai penawaran ini (UPDATE: Versi yang ditawarkan adalah versi C/D) boleh terbilang cukup ekonomis, hanya $1,14 milyar... dengan waktu delivery hanya 12 bulan setelah penandatanganan kontrak.


Sekali lagi, kembali patut digaris-bawahi, bahwa tidak seperti Sukhoi Russia yang akan selalu ditawarkan melalui perantara, penawaran Swedia ini kembali ditawarkan langsung dalam skema Government-to-Government contract yang terbuka, dan transparan! Kemungkinan adanya oknum manapun yang bisa memetik keuntungan pribadi dari transaksi ini NOL BESAR.

Gripen-C/D dengan MS-20 upgrade, yang menambahkan upgrade ke radar PS-05A Mark 4, dan kemampuan untuk membawa MBDA Meteor, sebenarnya kemampuannya sudah jauh lebih unggul, dan secara tehnologi beberapa generasi lebih modern dibanding semua pesawat tempur Indonesia versi export US dan Russia dewasa ini. Bahkan kemampuan versi C/D MS-20 sudah lebih dari cukup untuk mengalahkan Su-35 Monkey Model Kommercheskiy, yang sudah jauh ketinggalan jaman.

Akan tetapi, apa yang akan kita butuhkan di masa sekarang ini adalah pesawat tempur yang dapat memenuhi persyaratan 21st Century Air Superiority Fighter. Kenapa mau berhenti di Gripen-C/D? Lebih baik rela menunggu satu-dua tahun lagi, dan membayar sedikit lebih mahal, agar kita dapat memperoleh pesawat tempur yang lebih Future-proof di masa depan. Pesawat tempur yang lebih memastikan Return-on-Investment jangka panjang yang jauh lebih maksimal untuk negara, dan rakyat Indonesia.

Gripen-E.



Perakitan Gripen di Indonesia. Mungkinkah bisa terjadi?


Saab sendiri menjelaskan kalau Gripen memang diperuntukkan untuk ... breaking the Curve; whether it's for Learning, Cost, Upgradability, and Training

Di era dimana pesawat tempur modern cenderung harga semakin mahal, demikian juga biaya operasionalnya, tehnologinya semakin modern / rumit, dan pesawatnya sendiri dengan sendirinya lebih sukar untuk dikuasai pilot, ataupun maintenance staff, Gripen dirancang untuk dapat memenuhi semuanya, dengan desain yang lebih sederhana, dan lebih mudah dikuasai pemakai, tanpa perlu mengkompromikan kelebihan tehnologi, dan kemampuan pesawat tempur.

Dalam presentasi untuk launching Saab Gripen-E 18-Mei yang silam, terlebih lanjut, Matti Olsson mengungkapkan kalau bahkan setiap Gripen assembler (karyawan perakit Gripen) di pabrik Linkopping akan mempunyai kemampuan untuk ".... assemble the whole Gripen on his own." Yah, setiap karyawan perakit Gripen mempunyai kemampuan untuk memasang / merakit seluruh Gripen seorang diri. Kembali pernyataan ini menunjukkan kemudahan Gripen System dalam Breaking the Curve: Segala sesuatu harus mudah untuk dikuasai, harga tetap terjangkau, tetapi kemampuan tempur TIDAK BOLEH DIKOMPROMIKAN.

Kenapa pesawat tempur yang modern harus selalu lebih mahal dalam segala hal, lebih sukar untuk dikuasai karena terlalu rumit, dan dengan sendirinya lebih sukar untuk di-upgrade?

Yah, perakitan Gripen di Indonesia bukanlah sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Akan tetapi, kita tidak boleh takabur.

Semudah apapun prosedur perakitan Gripen, perakitan dalam jumlah hanya 6 unit akan tetap saja tidak akan dapat menghindari hukum Economy of Scale. Dengan kata lain, perakitan hanya 6 unit jumlahnya terlalu sedikit. Hal ini akan membutuhkan investasi yang terlalu besar dalam pembangunan infrastruktur perlengkapan di PT Dirgantara Indonesia, dan Training perakitan, tanpa hasil yang terlalu maksimal.

Kalau mau mengambil option perakitan Gripen di Indonesia, lebih baik mengikuti langkah Brazil: Mulailah berpikir untuk mengakusisi sekurangnya 2 skuadron, atau 32 pesawat!

Tidak seperti Brazil, kita akan lebih memilih perakitan dari bentuk assembly kit yang sudah siap pasang dari Saab, dibanding kemampuan manufacturing dari NOL. Ini juga dikarenakan, biar bagaimana fasilitas Embraer Brazil, yang sudah terbiasa memproduksi, dan mengeksport pesawat penumpang jet untuk export, juga sudah jauh lebih modern dibandingkan fasilitas PT DI. Keuntungannya, perakitan dari assembly Kit saja, sudah akan jauh lebih murah dibanding prosedur manufacturing Brazil. Lebih penting lagi, tidak seperti Brazil, kita akan mulai merakit Gripen-C/D, ataupun lebih baik lagi, Gripen-E, sewaktu produksinya sudah lebih mapan, dan lebih siap.


Jadi apakah penawaran perakitan Gripen mungkin bisa terjadi di Indonesia?
Pertama-tama ini adalah penawaran yang jauh lebih masuk di akal, dibanding proyek mercusuar dari pesawat "ambisi pribadi" Korea, yang hanya akan bergantung kepada tehnologi-transfer dari...  lagi-lagi negara adidaya, US... of... A.

Ah, lagi-lagi! IF-X hanya akan menjadi pesawat versi export yang kemahalan...

Kedua, akan jauh lebih masuk di akal, kalau assembly ini sendiri diperuntukkan jumlah akuisisi yang melebihi hanya 16 unit, agar dapat memenuhi hukum Economy of ScalePerakitan yang lebih banyak unit = lebih murah = lebih banyak yang bisa dikuasai = lebih menguntungkan jangka panjang.

Mengingat Gripen akan menjadi pesawat yang paling memenuhi kebutuhan Indonesia, dibanding pesawat tempur lain, yang biasanya dibuat hanya untuk memenuhi kebutuhan negara adidaya (atau Korea); kenapa tidak?


Pilih Gripen-E .... Jangan Gripen-C!


Pertama-tama, keunggulan Sensor Fusion di versi-E biar bagaimanapun, tidak akan dapat ditandingi versi C. Mengingat profilerasi AESA radar di kawasan Asia Tenggara sebenarnya jauh lebih cepat dibandingkan semua kawasan lain di dunia, sedangkan PRC akhirnya akan mulai mempergunakan Su-35 di Laut Cina Selatan, Gripen-E akan menjadi pesawat yang lebih memenuhi persyaratan Qualitative Edge di masa depan. IRST juga akan menjadi faktor yang menentukan kalau kita mau "menandingi" F-35.

Jarak jangkau Gripen-E akan lebih jauh, berkat internal fuel tank yang 40% lebih besar, dan kemampuan tempurnya juga akan lebih tinggi dibanding versi C, karena selain dapat terbang Supercruise, berkat keunggulan deteksi, dan tracking dari AESA radar, Gripen Echo juga akan dapat menembakkan MBDA Meteor, atau BVR missile manapun juga dari jarak yang lebih jauh. 

Mengingat Australia juga akan mengakusisi AMRAAM-D, yang akan memberikan kemampuan untuk mempercundangi dinosaurus kadaluarsa Su-35, Gripen versi Echo yang membawa Integrated Electronic Warfare Suite (EWS-39), yang kemampuannya sudah terintegrasi dengan Sensor Fusion, dan juga membawa GaN (Gallium Nitride)-based Jammer yang lebih modern, akan menjadi faktor yang lebih menentukan untuk survivability.

Kesemua faktor ini adalah keunggulan yang tidak dapat diperoleh dari versi-C. Lagipula, setiap MS upgrade per-3 tahunan yang berikutnya, akan lebih diprioritaskan ke versi Echo, dibanding ke versi-C, dengan kemungkinan upgrade tersebut bisa turun ke-C kemudian. Langkah ini sendiri kembali menunjuk, kalau Gripen Echo akan menjadi pesawat yang lebih Future-proof dibandingkan Gripen-C. 
Saab's Gripen-E Launching presentation, 18-Mei-2016
(Gambar: Saab)
Swedia sendiri berencana menggantikan lebih dari 100 Gripen-C/D, hanya dengan 60 Gripen-E. Langkah ini sendiri menuntut kemampuan versi Echo, yang harus 30 - 40% lebih unggul dibanding versi-C. 


Penutup

Dari paket penawaran yang $1,14 milyar, untuk 16 Gripen-C, Peter Carlqvist menyatakan kalau 85% dari nilai transaksi tersebut, akan diinvestasikan kembali dalam bentuk "alih tehnologi, dan kerjasama jangka panjang dengan industri lokal". Pernyataan ini sendiri memenuhi persyaratan UU no.16/2012, pasal 43 (5) (a). 

Patut diketahui kalau memang Saab adalah satu-satunya supplier yang menyatakan terus terang, kalau mereka berkomitmen untuk memenuhi semua persyaratan UU no 16/2012:

Link: Jane's
Penawaran Gripen, kembali menunjukkan Fokus mereka untuk menguntungkan kemampuan industri pertahanan lokal dalam jangka panjang, dibandingkan penawaran F-16V, atau Sukhoi, yang hanya diperoleh dari negara yang menginginkan Indonesia menjadi pelanggan yang setia, atau dalam kasus Sukhoi, negara yang bisa diporotin agar setiap pesawat yang sudah dibeli bisa diharuskan untuk dikirim balik menjalani perbaikan mendalam di negara asalnya.

Armada udara Indonesia sekarang yang bagaikan air, dan minyak; Dibuang sayang, sedangkan dipakai tidak akan bisa EFEKTIF! Alutsista dari beberapa sumber yang berlawanan tidak akan mungkin bisa bekerja sama dalam satu kesatuan. Dan semua negara lainpun mengetahui ini adalah KELEMAHAN TERBESAR Indonesia.

Faktor yang lebih menguntungkan dari akuisisi Gripen System, adalah untuk membuka mata kita akan kemampuan NetworkingWalaupun tidak dicatat dalam artikel Antara News ini sendiri, akan jauh lebih baik kalau dalam tahap awal, kita terlebih dahulu juga mengikuti langkah Thailand, untuk melakukan akusisi tambahan 2 pesawat Saab-340 AEW&C, dengan Erieye radar, untuk menambah kemampuan pengawasan udara di Nusantara.
Gambar:
Saab's Gripen: The Smart Fighter Youtube video
Dalam jangka panjang, peralihan armada udara air-dan-minyak Indonesia (Sukhoi vs F-16), ke armada Gripen-E akan jauh lebih menguntungkan industri pertahanan Indonesia, dan akhirnya juga menambah jumlah tenaga kerja yang terlibat. Patut kembali diingat pernyataan presentasi Saab, pada 18-Mei-2016 yang lampau:


"It's always been part of Saab's strategy to have Industrial Cooperation. 

We don't see it as a threat, but as an opportunity to create growth, partnership, and Transfer-of-Knowledge."

 Ulf Nielsson, Head of Aeronautics Saab AB - 18-Mei-2016 


Gripen System, Erieye Radar, dan National Networking adalah langkah yang harus diambil untuk mencapai kemandirian pertahanan Nasional. Dalam hal ini, akusisi 1 skuadron Gripen-E, dan 2 pesawat Erieye akan menjadi awalan baik untuk langkah kemandirian yang lebih jauh, yang akhirnya tidak akan terlalu tergantung ke negara adidaya.

Dalam kondisi yang sekarang, langkah Diversifikasi Supplier seperti yang sudah dilakukan sejak tahun 2003, TIDAK AKAN membuat Indonesia lebih kebal Embargo, melainkan justru akan lebih rentan terhadap kesulitan spare part, karena dalam langkah ini, kita justru akan tergantung pada belas kasihan dua negara adidaya, yang sebenarnya saling "cemburu" satu sama lain.

Hal ini sendiri akan dibahas lebih mendalam dalam post berikutnya.

64 comments:

  1. Dear Bung Admin yang jadi masalah memang dari pemerintah dan angkatan udara sendiri terlihat tidak mempunyai keinginan untuk memajukan angkatan udaranya secara Efisien, Efektif dan Komprehensive dan Mandiri.

    Terlihat pembangunan kekuatan Udara indonesia secara sporadis, tidak dikaji dengan matang terkesan asal beli aja...

    kekuatan udara indonesia tertinggal sangat jauh dari negara di asean minus Filipina

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar, bung @reader,

      Kekuatan udara kita memang sangat kacau-balau, bukan tandingannya AU negara tetangga manapun, kecuali anak2 bawang seperti Filipina, yg saat ini boleh dibilang tidak mempunyai AU sendiri.

      Masalahnya juga terlalu banyak manipulasi opini (membohongi diri sendiri) dari bermacam pihak, baik dari pengamat awam sipil, ataupun dari kalangan pejabat:

      Kalau anda sendiri perhatikan, setiap formil, atau pemberitaan di berita media di Indonesia, seolah2 menuliskan kalau kekuatan kita sudah hebat sekali!

      "Kita sudah siap menandingi Australia, atau sudah akan patut diperhitungkan di dunia!"

      Tidak ada yang lebih kacau, daripada membayangkan armada udara Indonesia masa depan akan memakai pesawat " pembayar komisi perantara" Sukhoi, yg dipadukan dengan pesawat "proyek mercusuar" KF-X.

      Secara tehnis saja, kedua tipe ini, sama seperti keadaan sekarang: Tidak akan compatible satu sama lain, dan keduanya akan tergantung pada ToT dari negara adidaya, alias NIHIL.

      Perbedaannya, baik Su-35, atau KF-X biaya operasionalnya saja akan mencapai 3 - 4 kali lipat dari sekarang, tanpa akan ada kemajuan tehnis yg berarti.

      Walaupun demikian, masih ada alasan untuk optimis:
      Pemerintah Jokowi yang sekarang lebih mempunyai visi pembangunan Indonesia yang jauh lebih jelas.

      Mereka juga sudah melihat tantangan sistem pertahanan kita di masa depan, yang saat ini terutama bukan untuk terobsesi "menandingi Australia", tetapi untuk pertama2 meningkatkan pengawasan wilayah Indonesia, dan memenuhi cita2 "poros maritim" Indonesia.

      Saat ini, biar bagaimana kenyataan lain juga sudah mulai menggigit.
      Cita-cita (atau mimpi) pertahanan boleh tinggi, tetapi selamanya Keuangan kita harus lebih terfokus ke pembangunan, dan dengan demikian akan sangat terbatas untuk Pertahanan.

      Daripada terus menghambur2kan uang untuk akuisisi beraneka ragam, tanpa tujuan yang jelas, dan mungkin untuk kepentingan keuntungan pribadi bbrp oknum, pada akhirnya jumlah dana yang terbatas itu harus kembali ter-FOKUS-kan untuk memenuhi kebutuhan Indonesia.
      Lebih lanjut, sudah terlihat kalau TNI, dan industri pertahanan lokal kita sendiri saja, seperti "saling bermusuhan".

      Kekuatan udara adalah salah satu kunci pertahanan Indonesia, yang kurang mendapat perhatian selama puluhan tahun. Inilah salah satu kunci utama untuk mencapai cita2 "poros maritim".

      Fungsi dari artikel2 disini adalah untuk meningkatkan kesadaran akan kekurangan2 kita sendiri, bangun dari mimpi, dan mulai turut menganalisa solusi mana, yang paling memenuhi kebutuhan, memenuhi keterbatasan anggaran, dan....sekaligus mendukung pembangunan industri pertahanan sendiri untuk menuju kemandirian yang lebih berarti.

      Delete
  2. Min, di media2 sering bilang kl pertahanan kita udh hebat, tp menurut saya pribadi pertahanan Indonesia msh kurang dan abal-abal

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitulah trend rata-rata "pembicaraan analisis militer" Indonesia dewasa ini.

      Kenyataannya, kekuatan yang sebagai berikut:
      # 1 skuadron (16 pesawat) pespur standard NATO (misalkan F-16 Block-50+/52+), yang didukung oleh:
      # 1 pesawat ISR (Intelligence Surveillance Reconaissance),
      # 1 pesawat AEW&C,
      # dan 1 pesawat tanker

      ....yang sudah mengumpulkan beberapa tahun latihan udara menurut standard NATO, akan lebih dari cukup untuk dapat mengalahkan seluruh pertahanan udara kita yang berantakan.

      Yah, terus terang, dalam keadaan sekarang, pertahanan Udara Indonesia tidak akan mampu berhadapan dengan 1 skuadron tempur Singapore, ataupun Australia, yang sudah lebih terlatih, bersenjata lengkap, dan didukung bbrp pesawat "Force enabler" (ISR, AEW&C, tanker).

      # Semua pespur kita versi export yang kelas-3;
      # Sukhoi, dan F-16 tidak compatible
      # Tidak ada Networking; sedangkan komunikasi radio adalah yang PERTAMA untuk di jamming agressor manapun.
      # Stock persenjataan juga serba minimal -- tidak cukup bahkan untuk mempersenjatai 6 missile per pesawat.

      --- Tidak akan ada harapan ---

      Delete
    2. This comment has been removed by the author.

      Delete
    3. Wah, berarti pertahanan Indonesia itu sukanya di lebih-lebihkan tetapi kl diuji nggak bisa apa-apa

      Delete
    4. Dalam 10 tahun terakhir ini, fokus pembelian Alutsista terlalu terfokus ke pesawat tempur, dan... tidak ada yg lain lagi.

      Bahkan ada bbrp pernyataan kalau kita "butuh" 160 - 180 pespur.

      Ini sih seperti istana pasir! Disapu ombak kecil pun akan runtuh!
      Apalagi kalau 100 lebih pespur itu armada gado2 mati rasa dari Barat-Russia yg tidak mempunyai operational procedure, training, dan sistem komunikasi yg compatible.

      Inilah bbrp yg harus juga diperhatikan, selain semata menambah JUMLAH pespur:

      ## Sistem pengawasan / deteksi dini harus lebih optimal.
      Ini tidak bisa ditutup semata dgn radar di darat, tetapi juga pesawat radar di udara, tipe AEW&C, yang juga membantu merangkap untuk tugas berikut....

      ## Integrated Command-and-control stations, untuk mengatur posisi setiap asset udara dalam situasi tempur.

      Sistem yg bagus tidak hanya bisa dikoordinasi melalui pswt AEW&C, tapi juga bisa dilakukan dari markas terdekat, atau lebih baik lagi... koordinasi juga dapat dilakukan secara strategis dari cockpit Flight Leader formasi pespur.

      ## Sistem komunikasi penghubung antara hasil pengawasan radar, C&C spt diatas, antar pespur, atau lebih baik lagi, semua asset Alutsista yg sudah terintegrasi.

      Networking yg compatible, harus bisa dipasang ke setiap unit, dan juga harus kebal untuk di-jamming pihak lawan.

      Hasil pengawasan, atau upaya koordinasi/strategi tidak akan mungkin bisa optimal, bukan? Apalagi kalau tidak bisa dikomunikasikan ke pilot atau setiap pihak yg harus turut terlibat.

      ## Terakhir, Electronic warfare atau EW-counter.

      Delete
    5. Kok bisa seperti it? Apa para petinggi kurang terdidik atau bagaimana?

      Delete
    6. Kalau melihat sejarah, selama ini Angkatan Udara Indonesia sbnrnya sudah selalu menjadi anak bawang, dengan perlengkapan minimal, sejak tahun 1970-an.

      Embargo militer US 1999 - 2005 boleh dibilang membuat kita menjadi lebih "kuper" (KURang PERgaulan) dari segi kemampuan strategis kekuatan udara. Akibatnya, semua filosofi pertahanan udara kita seperti masih melihat buku-buku militer tahun 1950-an.

      Ini juga menjelaskan kenapa kita masih menganggap Sukhoi Su-27/30 tua kita pesawat tempur yang "huebat".

      Terakhir, masalahnya kembali.... kita sebagai bangsa tidak pernah memprioritaskan untuk mendapat ToT, atau pendidikan strategis pertahanan udara, dari pihak yang mempunyai kemampuan, atau berpengalaman.

      Inilah kenapa kita harus berpaling dari kedua negara adidaya (dan Korea), dan akhirnya merangkul tawaran2 Eropa.

      Delete
    7. This comment has been removed by the author.

      Delete
    8. Min, kira-kira Indonesia bisa menjadi kekuatan militer yg diperhitungkan di Asia tidak dalam waktu dekat ini?

      Delete
    9. Kalau dari pembicaraan2 di blog2 analisis yang lain, atau pernyataan para pejabat sih kelihatannya bisa.

      IMHO, sistem pertahanan kita yg sbnrnya tertinggal hampir 50 tahun dibandingkan dengan apa yg sudah diadopsi Australia, dan sudah dikejar dengan sangat cepat oleh Singapura.

      Dalam keadaan sekarang, bisa membeli 1000 Leopard, 100 kapal selam, dan 500 pesawat tempur pun akan percuma, karena kita tidak akan mempunyai kemampuan untuk memakainya seefektif negara lain.

      Delete
  3. saya pribadi scara spesifikasi prefer Rafale, tp kalo disesuaikan dengan keadaan, ini itu, dan faktor2 faktor lain juga melihat pilihan paling tepat untuk pengganti F-5 cuma F-16 atau Gripen. diantara 2 ini yg lebih ideal untuk penguasaan teknologi dan industri Gripen lebih unggul.
    akhirnya Gripen jauhh lbh unggul dari Su-35 yg pada akhirnya gak jelas spesifikasi pesanannya apakah Su-35 dgn perlengkapan terbaik atau Su-35 model awal. Su-35 model terbaik pun masih dibawah kemampuan Eurocanard.

    kemampuan Gripen E/F sebenarnya malah mampu mengganti seluruh armada AU kita, ekonomis seperti F-16 tp lbh kuat dari Su-27/30.
    kalaupun AU memilih kombinasi Hi-Lo flanker tetap akan kehilangan posisi kecuali diganti Rafale hehehe...

    dan untuk AEW itu saya sendiri lebih tertarik R-99A, hehehe beda paltform aja sih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung @Alfa,
      ======================
      saya pribadi scara spesifikasi prefer Rafale, tp kalo disesuaikan dengan keadaan, ini itu, dan faktor2 faktor lain juga melihat pilihan paling tepat untuk pengganti F-5 cuma F-16 atau Gripen....

      ======================

      Memang benar.
      Keterbatasan finansial, yang dipadukan dengan territorial yang begitu luas, sebenarnya menuntut kebutuhan pespur Single-Engine, yang biaya operasionalnya lebih ekonomis.

      Berat desain yang lebih simple, Single-Engine juga biasanya dapat terbang 3 - 5x sehari, sedangkan pespur Twin-Engine maksimal hanya dapat terbang 2x sehari.

      Yang lucu, ada mitos yang diciptakan dari para jendral, dan Public Relation USAF, kalau pespur Single-Engine itu seperti tidak berdaya kalau menghadapi Twin-Engine.

      Sebaliknya, bahkan pilot2 USAF sendiri (bukan para jendralnya), sebenarnya berpendapat kalau F-16 adalah pespur Air Superiority, yang lebih unggul dibandingkan F-15, yang lebih tambun.

      ## Untuk Indonesia --- karena kita tidak dianggap sebagai sekutu dekat US, seperti Australia, Korea Selatan, atau Singapore; versi export F-16 hanya akan menemui banyak pembatasan tertentu.

      ======================
      akhirnya Gripen jauhh lbh unggul dari Su-35 yg pada akhirnya gak jelas spesifikasi pesanannya apakah Su-35 dgn perlengkapan terbaik atau Su-35 model awal. Su-35 model terbaik pun masih dibawah kemampuan Eurocanard.
      ======================

      Versi Su-35 yang bisa didapat Indonesia, ataupun PRC, dapat dipastikan akan menjadi versi Export (Kommercheskiy) -- alias versi downgrade dibanding Su-35 yang dipakai di Syria.

      Dan spt sudah sy tuliskan, Su-35 sbnrnya pesawat yg sudah ketinggalan jaman, akibat keterbatasan tehnologi industri pertahanan warisan jaman Soviet. Versi yg dipakai Russia-pun, memang tidak akan mampu menandingi Eurocanard.

      Belum lagi menghitung kalau pilot AU Russia sendiri sbnrnya kurang jam training, dan pengalaman dibanding pilot NATO.

      Dimanapun juga, "Newbie" tidak akan dapat mengalahkan pihak yang lebih berpengalaman!

      ======================
      ....diantara F-16, dan Gripen; yg lebih ideal untuk penguasaan teknologi dan industri Gripen lebih unggul.
      ....
      kemampuan Gripen E/F sebenarnya malah mampu mengganti seluruh armada AU kita, ekonomis seperti F-16 tp lbh kuat dari Su-27/30.
      ======================

      Benar.
      Pertama-tama, karena tidak seperti F-16, Gripen tidak mempunyai versi export / downgrade.
      Kedua, tidak seperti pembuat dari negara Adidaya, Saab sendiri sudah menunjuk kalau kerjasama secara industrial dengan negara pembeli, selalu menjadi bagian dari strategi mereka sendiri.

      Terakhir, tentu saja, kalau armada kita berganti ke armada Gripen-E, yang fully-networked, disertai investasi yg dapat dialihkan lebih banyak ke force enabler yang lain, spt tanker, dan AEW&C --- pilot kita juga akhirnya dapat berinvestasi ke lebih banyak jam training, sedangkan industri pertahanan kita akhirnya mendapat batu pijakan yang kuat untuk lompat ke dalam pengembangan industri pesawat tempur & persenjataan/perlengkapannya.

      Kesemuanya ini baru akan menjadi dasar untuk membangun Angkatan Udara yg modern, tanpa perlu berusaha terlalu keras untuk bersaing dengan jumlah anggaran pertahanan negara2 lain yg jauh lebih besar.

      Delete
  4. Om DR, apa masalah yang dihadapi afrika selatan sehingga sampai harus mengrounded beberapa gripen yang dimiliki? Setau saya dukungan industri pertahanan disana cukup baik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung @hari,

      Dari segi kemampuan, dan kualitas, baik industri persenjataan, ataupun militer Afrika Selatan (SA - South Africa) sendiri sbnrnya termasuk yang paling baik di dunia..... sampai tahun 1990-an akhir.

      Sejak itu, militer SA, khususnya Angkatan Udara mereka, mulai menabrak beberapa masalah.

      ================
      ## Peace devidend = pengurangan Anggaran Pertahanan
      ================
      Yah, negara-negara di sekitar SA boleh terbilang sekarang tergolong stabil, dan karena itu SA sudah tidak lagi menghadapi ancaman dari luar.
      Seiring dengan ini, anggaran pertahanan SA mulai dipangkas habis-habisan. Akibatnya, dewasa ini, bahkan SA tidak punya cukup uang untuk mengoperasikan 26 Gripen, pesawat tempur yang seharusnya nilai ekonomisnya optimal untuk mereka yg beranggaran cekak.

      ====================
      Ingat juga, kalau pembelian Gripen SA, dilakukan melalui perantara "Gripen International"
      ====================
      Tidak tertutup kemungkinan, kalau SA sbnrnya membeli terlalu banyak Gripen (26 pesawat) dibanding realita pengurangan Anggaran mereka.

      Inilah salah satu akibat memakai perantara --- pejabat SA disogok untuk 3 - 8% nilai transaksi, dan karena itu mungkin mereka juga sengaja menggelembungkan jumlah Gripen yg dibutuhkan, agar mendapat komisi lebih besar.

      ====================
      ## Mismanagement dari pemerintah SA
      ====================
      ... yang menuntut proporsi jumlah pilot, maaf, untuk Black African pilots, harus lebih besar dibanding White African pilots.

      Kalau sudah mulai mencoba menggariskan berapa % orang dari suku A, atau suku B yang diperbolehkan untuk menjadi pilot, ini hanya akan membawa kekacauan.

      Bukankah lebih baik kalau siapapun yang boleh menjadi jendral, ataupun pilot, seharusnya didasari oleh kemampuan masing-masing?

      =======================
      Faktor terakhir --- persaingan gaji pilot SA, dengan sektor komersial
      =======================
      Dewasa ini, dikabarkan juga kalau pilot di SA akan mendapat paket gaji yang lebih besar untuk bekerja di sektor komersial, dibandingkan dalam Angkatan Udara.

      Perhatikan juga kalau faktor yg terakhir ini --- mungkin juga akan mempengaruhi pilot pespur di Indonesia!

      Kalau paket gajinya kurang bersaing, kenapa sang pilot, atau maintenance staff tidak memutuskan untuk bekerja ke Lion Air, atau AirAsia?

      Inilah salah satu faktor lagi, kenapa kita harus memilih Gripen, dibandingkan pespur berbiaya operasional selangit seperti Sukhoi!

      Kesejahteraan pilot lebih penting dibandingkan "Prestige buying" pespur dengan efek gentar yg semu!

      Biaya operasional Gripen justru sebaliknya: tidak akan bersaing dengan paket gaji pilot, dan staff --- dan memberikan kesempatan untuk lebih meningkatkan kesejahteraan mereka.

      Bacaan lebih lanjut: War-is-boring

      Sy akan menuliskan Afrika Selatan, dalam seri "Country Focus", yang di masa depan akan termasuk Brazil, dan Polandia.

      Delete
  5. Profesor Australia: Indonesia Tak Punya Kapasitas untuk Jadi Kekuatan Baru di Dunia http://kom.ps/AFv0Sz

    ReplyDelete
    Replies
    1. Artikel Kompas:
      ===============
      http://internasional.kompas.com/read/2016/07/08/13300091/profesor.australia.indonesia.tak.punya.kapasitas.untuk.jadi.kekuatan.baru.di.dunia
      ===============

      Banyak komentator di artikel ini, yang tanpa sengaja sbnrnya sudah menunjukkan inti dari yg dimaksud professor Richard Robison dalam ceramahnya mengenai Indonesia:

      ## Arogansi yang terlalu tinggi ## --- "kita hebat! Loe nggak tahu apa2!"

      Nah, inilah.... Arogansi untuk melebih-lebihkan kemampuan sendiri, sampai kapanpun memang tidak akan membawa kita kemana2.

      Apa yang kita perlukan adalah introspeksi diri, dan melihat dengan kacamata realita:
      ## Introspeksi diri --- pelajari, dan akui dahulu kelemahan2 sendiri! Wong, kita tidak sehebat itu, kok!
      ## Pelajari apa yg sudah dicapai negara lain! Lihat apa yg dapat dijadikan tolok ukur disana!

      ## Nah, sekarang saatnya membuat cita-cita; yg disertai rencana strategis untuk memenuhi cerita tersebut, yang sesuai realita.

      Delete
  6. Salam sehat selalu bung GI .

    Katanya ada berita bahwa FA 50 akan menggantikan Hawk 109/209 milik kita, dan ada hubunganya dalam dan untuk progam Kfx-Ifx.

    Apakah nantinya pesawat FA 50 yang kita akusisi adalah yg versi pakai radar elta dari israel, jelas akan menjadi perdebatan tersendiri buat rakyat indonesia ?
    Menurut bung GI , seberapa untungkah indonesia bila mengakusisi FA 50 ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sy juga mendengar rumor ini.

      Sayangnya,
      ..pembelian FA-50 hanya akan menjadi suatu kebodohan.

      Pertama2, proyek KF-X sendiri adalah proyek mercusuar Korea, yang kemungkinan suksesnya terlalu minimal, dibuat oleh negara yg tidak mempunyai pengalaman/kemampuan dari basis tehnologi yg lebih rendah, tanpa ada kemungkinan terjadinya ToT yg berarti untuk Indonesia.

      Belum lagi menghitung kalau anggaran untuk proyek ini terlalu optimis... MUSTAHIL dapat membuat pespur baru dengan anggaran hanya $15 milyar, seperti "mimpi" Korea.

      Anggaran yang lebih realistis = $40 - $60 milyar -- dan ini juga akan menghasilkan pesawat yg kemampuannya lebih rendah dibanding Eurocanards, atau F-16.

      Pertanyaannya mudah:
      Kenapa kita masih mau menghamburkan uang untuk Korea?

      Kedua,
      Spesifikasi FA-50 tidak akan ditentukan oleh Korea sendiri, melainkan kita harus menengok ke Washington DC.

      Radar Elta buatan Israel di FA-50 tidak akan relevan.
      Masalahnya, sama seperti F-16, US akan mendikte apa yg "diperbolehkan" untuk FA-50

      Dengan kata lain, ini sama saja seperti membeli F-16 kelas dua, versi export.

      Tidak tertutup kemungkinan Washington akan menganggap FA-50 sebagai "saingan", dan menjegal transaksi ini, lalu mendorong kita justru untuk membeli T-50A (yang tidak bisa dipersenjatai), dan lebih banyak F-16 bekas.

      ====================
      FA-50 = F-16 kelas dua

      KF-X = Tidak akan lebih hebat dari F-16, tapi 3-4x lipat lebih mahal.

      F-16 versi export adalah pilihan yang lebih baik, lebih murah, dan kemampuannya lebih handal dibanding FA-50, atau KF-X.

      Delete
  7. Om DR, disitusnya saab ada 2 produk baru: "Radio monitoring&surveillance" serta "Information&intellegence fusion solution"...tapi hanya bisa masuk dg password, emang isinya apa to?

    ReplyDelete
  8. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  9. F-16 versi export adalah pilihan yang lebih baik, lebih murah, dan kemampuannya lebih handal dibanding FA-50, atau KF-X.

    Apakah yang anda maksud ini adalah pesawat baru atau pesawat bekas. Untuk pesawat bekas tentu kita akan sanggup membeli, tapi kalau pesawat baru palingan hanya beli berapa biji saja.

    Negara kita mengklaim jadi poros maritim, pastinya disini kekuatan udara dan laut sangatlah berpengaruh dan penting buat poros maritim,. Pesawat paling canggih tni au ? Kapal paling canggih tni al ? Terkadang memang miris bila tau bahwa kekuatan perang kita masih tertinggal jauh dari tetangga.

    Kembali ke topik.
    6 pesawat gripen akan dirakit di indonesia.
    Adalah pilihan yg sangat menarik entah itu dari gripen tipe apapun harusnya kita ambil itu.
    Banyak keuntungan yg dapat diambil dari perakitan di indonesia. Tentu bung GI disini akan lebih paham.
    Dan dengan indonesia bisa merakit gripen. Bila mau order gripen lagi kan mudah, perakitan di bandung jelas akan lebih murah.
    Dan bila sudah tau seluk beluk merakit pesawat tempur pasti akan membuat kedirgantaraan indonesia akan lebih maju.

    Perakitan gripen adalah TOT yg sangat besar dari saab. Bukan hanya sekedar perawatan. Tapi juga investasi yg sangat bagus buat indonesia.


    ReplyDelete
    Replies
    1. @bung Matt,
      ================
      F-16 versi export adalah pilihan yang lebih baik, lebih murah, dan kemampuannya lebih handal dibanding FA-50, atau KF-X.

      Apakah yang anda maksud ini adalah pesawat baru atau pesawat bekas?
      ================

      F-16V dengan AN/APG-83 AESA radar kemampuannya masih tetap akan bersaing, atau lebih unggul dibanding KF-X.

      F-16 Block-25+ versi hibah Indonesia -- masih lebih unggul kemampuannya dibanding FA-50; karena paling tidak sudah mempunyai kemampuan BVR Combat, dan sudah dapat menembakkan AMRAAM C5/7; walaupun kecil kemungkinannya dapat mengoperasikan 2-way datalink untuk AMRAAM-D.

      FA-50, walaupun bisa terbang supersonic, sejauh ini perlengkapannya hanya terbatas ke AIM-9 Sidewinder, Mk82 dumb bomb, dan AGM-65 Maverick. Yah, kira2 kemampuannya hanya sedikit lebih baik dibanding Hawk Mk209.

      Kembali, karena Lockheed-Martin mempunyai 100% kontrol atas source code di keluarga T-50; LM, dengan bantuan export control pemerintah US, akan memastikan kalau kemampuan T-50 yang diproduksi Korea, kemampuannya tidak akan mendekati produk LM sendiri, yakni F-16.

      Yah, Korea sbnrnya sudah dibodohin LM.... eh, tapi tetap memilih kerjasama dngn mereka untuk membuat KF-X.

      Delete
    2. ============
      Negara kita mengklaim jadi poros maritim, pastinya disini kekuatan udara dan laut sangatlah berpengaruh dan penting buat poros maritim,. Pesawat paling canggih tni au ? Kapal paling canggih tni al ? Terkadang memang miris bila tau bahwa kekuatan perang kita masih tertinggal jauh dari tetangga.
      ============

      IMHO, cita-cita "poros maritim" sangat sesuai dengan realita letak geografis kita yang strategis.

      Indonesia terapit diantara samudera Pasifik, dan Hindia. Jumlah kapal2 barang yang melewati selat Malaka baru saja mencapai titik tertinggi sepanjang masa di tahun 2015.

      Pembangunan sistem pertahanan tidak bisa terlalu dipandang remeh. Masakan menjaga selat Malaka saja, kemampuan kita saja boleh dibilang masih kurang?

      Di lain pihak, "poros maritim" juga harus menyesuaikan diri dengan realita keterbatasan anggaran pertahanan Indonesia, yang mau sampai kapanpun akan selalu lebih rendah dibandingkan Australia / Singapore.

      Faktor lain yg kurang diperhatikan dalam setiap analisis:
      Kalaupun jumlah anggaran Indonesia nilainya sama dengan Singapore, misalnya, hampir tidak mungkin efesiensi pemakaian anggaran kita dapat bersaing dengan Singapore. Dengan kata lain, anggaran kita akan selalu lebih "wasteful" -- banyak pengeluaran yg tidak perlu, dibanding Singapore, yg sistem organisasinya jauh lebih rapi.

      Kuncinya disini bukan untuk membeli produk yang "populer" atau mengejar kata "canggih", tetapi mencari produk Alutsista yang memenuhi kebutuhan Indonesia.

      Contoh jelek Alutsista yg tidak sepadan untuk "poros Maritim": Sukhoi untuk TNI-AU, dan Leopard untuk TNI-AD.

      Leopard -- Dianggap sebagai salah satu tank modern standard NATO yang terbaik... akan tetapi, bagaimana caranya tank seberat 60 ton, dapat dipergunakan untuk menjaga Indonesia, yang mempunyai 15 ribu pulau?

      Sukhoi --- ditakuti di Media Barat sebagai pespur andalan Ruski. Yah, tapi sejauh ini, kita masih gagal untuk membuktikan kalau dapat menggunakan Sukhoi dengan efektif. Ini tidak perlu ditulis terlalu banyak: Biaya op mahal, pesawatnya suka mudik, dan kemampua tempurnya tidak ada satupun yang takut!

      ...

      Delete
    3. Tp kl nggak salah Leopard cm diposkan di pulau2 besar, tp seharusnya kita jg punya light tank yg bisa menjagal MBT seperti CV9040-120T atau Centauro yg versi 120mm gun

      Delete
    4. Bung @Haykal,
      Sbnrnya kalau ada agressor yg mengancam Indonesia di kemudian hari, kemungkinan besar mereka hanya akan merebut pulau-pulau kecil di perbatasan, yang letaknya akan dekat dari titik strategis yg mereka inginkan!

      Kemungkinan negara lain menyerang pulau2 besar Indonesia, sebenarnya sudah nihil.

      Setelah melihat pengalaman berlarut-larut di Iraq, Libya, Afganistan, ataupun Syria, agressor yg mencoba merebut Kalimantan, atau Sumatera hanya akan rugi biaya, dan korban -- dibanding keuntungan finansial yg bisa mereka dapatkan.

      Inilah kenapa sebaiknya strategi pertahanan Indonesia menganut pola "Mobile Defense" --- semua asset militer harus dapat mudah dipindah-pindahkan dari satu pulau ke pulau lain secara fleksibel, dan Networked, agar saling mendukung.

      Tidak tertutup kemungkinan, kekuatan lawan yg akan dicurahkan untuk merebut pulau2 di perbatasan ini juga akan lebih besar dibandingkan apa yg kita miliki.

      Karena itu, strategi "Mobile Defense" kita harus siap menganut sistem "Perang Gerilya", seperti yg sudah dipelopori Jendral Sudirman di tahun 1945 - 1949.
      =================================

      Inilah kenapa, Indonesia sebenarnya sangat membutuhkan Gripen, yg memang sudah dirancang Swedia sedari awal untuk perang Gerilya vs Soviet / Russia, yang jauh lebih kuat, dan lebih besar.

      Tidak seperti F-16, atau Sukhoi;
      Gripen tidak akan dapat dihancurkan di pangkalan2 udara besar, seperti Iswayudhi, Sultan Hassanudin, dll... tetapi paling tidak, sudah dapat disembunyikan di ratusan landasan udara perintis yg sudah tersebar di seluruh Nusantara.

      Kalau kita mengoperasikan 5 Skuadron Gripen-E, disertai perencanaan strategis yg baik, akan hampir mustahil negara manapun, yang sekuat apapun juga akan dapat mencapai Air Superiority atas Indonesia.

      Gripen Indonesia akan terus memberikan "Area Denial", dan dapat terus melakukan "constant Harrassment", kemudian juga menimbulkan kerusakan asset, dan kerugian finansial yg luar biasa ke lawan --- hingga akhirnya mereka tidak akan mempunyai pilihan lain, kecuali mundur.

      Tentu saja ini tidak mudah.
      # Kita harus belajar menjadi mandiri terlebih dahulu. Kita harus siap men-support Gripen tanpa bantuan dari luar.
      # Persenjataan juga tidak bisa minim seperti sekarang... jumlah missile saja tidak mencukupi untuk 6 missile per pesawat.
      # Sistem pertahanan juga harus bisa fully-networked, dan di-support dengan sistem pengawasan modern. Peluangnya Gripen bekerja-sama dengan, misalnya: pasukan komando TNI-AD, atau KCR dari TNI-AL dalam membagi target, akan membuat kombinasi yg tak terkalahkan.
      # Terakhir, kita juga harus mulai menjajaki pelajaran dalam Electronic Warfare.

      Untungnya, sejauh ini, Gripen-C/D saja sudah terbukti tidak bisa di-jamming dalam latihan2 NATO, walaupun tidak membawa jammer macam apapun juga. Sedangkan Gripen-E dengan sistem EWS-39 yang satu generasi lebih maju, akan maju beberapa langkah lagi!

      Delete
    5. This comment has been removed by the author.

      Delete
  10. Repot juga Bung GI kalo situasinya masih seperti sekarang ini...
    Beli senjata tanpa kajian yang jelas dan tidak memikirkan dalam jangka panjangnya, Kebutuhan akan Efektifitas Efisiensi dan Komperhensive tampaknya tidak pernah dipikirkan....

    Yang penting Punya Efek Deterent Walopun Cuman Semu

    Sekarang ini Indonesia hanya beli senjata untuk Defile dan Parade biar keliatan gagah...

    Begitu dibutuhkan di Natuna kaya kemarin kok malah mau kirim Tukino ama Golden eagle, alasannya Sukhoi mahal biaya operasionalnya...

    pusing meliatnya...
    apalagi kalo jadi SU 35 jadi tambah terjebak di Logistik Night Mare yang mengerikan.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung @reader;
      ini juga sekaligus menjawab pertanyaan bung @Matt di atas re keuntunggan akuisisi Gripen untuk Indonesia.

      Pembelian Gripen sebenarnya bukan hanya sekadar penambahan Alutsista seperti sebelum-sebelumnya; tetapi Kesempatan untuk belajar membangun sistem pertahanan yang modern.

      Kita harus melenyapkan dahulu arogansi, kalau kekuatan kita sudah "dianggap hebat di dunia", atau pemikiran2 "bisa menandingi Australia."

      Negara kita sebenarnya membutuhkan guru besar, yg dapat mengajarkan kita seluk-beluk sistem pertahanan udara modern Abad ke-21.

      Spt sy sudah sering sebutkan; baik US, ataupun Russia tidak akan peduli dengan pembangunan sistem pertahanan Indonesia.
      Yang mereka pusing hanya agar pesawat mereka terbeli, dan berikutnya, Indonesia bisa dibelit untuk terus membeli spare part, dan membayar komisi perantara (untuk Rosoboronexport). Titik.

      Saab Swedia, adalah satu-satunya yg menawarkan paket kerjasama jangka panjang melalui sistem "TRIPLE HELIX" mereka.

      Ini artinya lebih mendalam dari semata hanya menjual Gripen System, atau Erieye, atau kerjasama secara industrial --- tetapi juga untuk membantu membangun sistem pertahanan Udara, yg akhirnya juga bisa merambat ke sistem pertahanan Nasional yg terpadu darat-laut-udara.

      Guru Besar.
      Setiap orang, organisasi, atau negara -- tidak akan ada yg mampu berdiri sendiri 100%, tanpa bantuan satu, atau dua pihak yang mempunyai kemampuan untuk mengajarkan / menurunkan ilmu mereka.

      Kembali, akuisisi Gripen System, yg dipadukan dengan Erieye, dan sistem Network Nasional -- akan menjadi pondasi yang dibutuhkan Indonesia untuk menjawab semua tantangan Abad ke-21.

      Hal ini akan menunjukkan langkah nyata menuju cita-cita "Poros Maritim" yang patut diperhitungkan di seluruh dunia!

      Delete
  11. Min, di Instagram-nya SAAB Meteor udh dpt Clearance untuk dioperasikan dari Gripen oleh AU Swedia. Dan katanya Gripen jd satu-satunya fighter operasional yg udh membawa Meteor di dunia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, bung @Haykal
      Sy sudah menuliskan ini di atas, dan di artikel sebelumnya.

      Gripen C/D dengan MS-20 adalah pespur pertama yg mengoperasikan MBDA Meteor.

      Kunci keunggulan disini: AU Swedia menjadi yang pertama mempunyai kesempatan untuk mempelajari seluk-beluk kemampuan Meteor, antara 2 - 3 tahun lebih dahulu dibanding semua AU Eropa lain pengguna Typhoon / Rafale.

      Dengan demikian, peluangnya cukup besar kalau dalam pengembangan strategi BVR tahap berikutnya, kombinasi Gripen-Meteor akan lebih unggul dibandingkan Typhoon, ataupun Rafale.

      Kalau kita membeli Gripen, dan kemudian mengakusisi Meteor; kita juga akan dapat memetik keuntungannya langsung.

      Nah, disinilah kesempatan emas Indonesia!

      Semua pengguna Gripen yang lain; Brazil, Czech, Hunggaria, Thailand, ataupun Afrika Selatan (yg anggarannya kembang-kempis), belum ada yg memutuskan untuk mengakusisi MBDA Meteor!

      Delete
  12. Oh ya bung GI,
    Pihak saab sendiri menawarkan gripen c/d yang masih standarkah atau yang sudah di upgrade seperti yg anda katakan di atas.

    Oh ya bung, dengan harga diatas apakah sudah termasuk amunisi dan persenjataanya.

    Dengan harga yg ditawarkan dari saab tentu bukanlah angka yg mahal. . sebab kita akan diajarkan cara merakit gripen itu sendiri. .

    Andai kata disetujui.
    Langkah awal 16 pesawat gripen c/d , 6 diantaranya akan dirakit di indonesia. .
    Langkah kedua order 16 pesawat gripen e/f dan beberapa diantaranya juga dirakit indonesia.

    Indonesia bisa merakit pesawat tempur itu sudah hal yg sangat membanggakan.

    Selain dari typhoon , apakah ada pabrikan pesawat tempur yang menjalani proses dan perakitan akhir di indonesia.

    Dari keseluruhan yg ditawarkan saab ke indonesia adalah tawaran yang sangat menguntungkan.

    Maaf bung bila ngomongnya kesana-sini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pertanyaan anda banyak :) -- sy akan coba jawab satu per satu:
      ==========================
      Pihak saab sendiri menawarkan gripen c/d yang masih standarkah atau yang sudah di upgrade seperti yg anda katakan di atas.
      ==========================

      Gripen C/D dengan MS-20 upgrade, adalah paket standard untuk setiap unit yang dibeli setelah 18-Mei-2016.

      Yang menjadi masalah adalah negosiator Indonesia. Kalau mereka yang meminta paket downgrade, karena tidak mau mengoperasikan Meteor, misalnya... ya, jadi kacau!

      ==========
      Andai kata disetujui.
      Langkah awal 16 pesawat gripen c/d , 6 diantaranya akan dirakit di indonesia. .
      Langkah kedua order 16 pesawat gripen e/f dan beberapa diantaranya juga dirakit indonesia.

      Indonesia bisa merakit pesawat tempur itu sudah hal yg sangat membanggakan
      ==========

      Yah, tetapi lebih baik daripada men-split order menjadi Gripen-C dan Gripen-E; sebenarnya akan lebih murah kalau kita langsung lompat ke opsi 32 Gripen-E.

      Beli borongan akan selalu lebih murah per unit, dibanding membagi order menjadi dua produk, sehingga discountnya jadi berkurang.

      Perbedaan kemampuan antara versi-E, dengan semua pespur Indonesia sudah melompat sangat jauh! Kalau mau lompat katak, dan mengejar ketinggalan, inilah kesempatan emas kita!

      ==============
      Dengan harga yg ditawarkan dari saab tentu bukanlah angka yg mahal. . sebab kita akan diajarkan cara merakit gripen itu sendiri. .
      ==============

      Pernyataan anda ini membuat sy juga jadi berpikir....
      Angka dari Saab memang tidak mahal.

      Anggaran "super optimis" dari KF-X saja sekarang terpaku di $16 milyar hanya untuk development + biaya produksi.
      20% kontribusi Indonesia = $3,2 milyar + biaya produksi 50 pesawat.

      Bukankah lebih murah kalau (bulatkan sedikit ke atas) $4 milyar itu dialihkan ke akuisisi, dan perakitan untuk 48 pesawat Gripen-E, yang ToT-nya juga jauh lebih terjamin?

      ... dan tentu saja, faktor resikonya jauh lebih rendah.

      Delete
    2. Entah apa yg jadi acuan pemikiran pemerintah kita yg sangat mendukung IFX-KFX. Apa karna perjanjian pemerintah indonesia - korea selatan yg menjadikan ini sebagai proyek bersama yg diutamakan . walaupun sudah ganti ke pemerintahan proyek ini harus jalan terus. Sudah terlanjur basah

      ANDAI KATA progam ini berhasil . masa iya dengan uang $3,2 milyar dapat 50 pesawat IFX , anggap saja $60juta/ unit. Seperti apa yang anda katakan bung. KFX-IFX dirancang dari 0%, tentu harus melalui riset dan yg lainya yang pasti akan sangat menguras dana. Itupun kalau proyek ini berhasi
      Dan speksifilasi tentu dibawah yg di harapkan indonesi

      Yah menunggu 6-7 tahun akan baru diajari merakit IFX, sementara kalau deal beli gripen. Kemampuan 6-7 tahun mendatang pasti sudah lebih pintar dari sekedar merakit.


      IFX hanya sekedar proyek ambisiuskorea - indonesia.
      Andai gripen mengajukan tawaran sebelum proyekkfx-ifx.pasti akan sangat berbeda

      Delete
    3. @Bung Matt
      ===============
      ANDAI KATA progam ini berhasil . masa iya dengan uang $3,2 milyar dapat 50 pesawat IFX , anggap saja $60juta/ unit.
      ===============

      ## $3,2 milyar -- baru biaya development, jadi belum akan mendapat satupun pesawat.

      ## Angka development yg $16 milyar yg di-"mimpi"-kan Korea saja sudah mustahil untuk dapat tercapai.

      Mereka menginginkan Twin-Engine design, sedangkan industri dirgantara Korea tidak mempunyai kemampuan yg seimbang dengan Eurofighter, Boeing, atau Dassault.

      Biaya development yg lebih masuk akal untuk pesawat mimpi Korea = $40 milyar + biaya produksi.

      ## Karena Korea menginginkan Twin-Engine design, lagi-lagi... biaya produksi juga akan jauh lebih mahal.

      Perkiraan: $125 juta / unit untuk Batch pertama (24 pesawat)
      Sekitar $90 - $100 juta untuk batch berikutnya.

      ========================
      Entah apa yg jadi acuan pemikiran pemerintah kita yg sangat mendukung IFX-KFX.
      ========================

      Memang keputusan yang tidak masuk di akal!

      Selain harganya terlalu mahal, spt diatas --- memangnya pemain yang masih bau kencur seperti Korea, yg setiap harinya akan berlutut untuk sembayang 5x ke arah Washington DC, bisa menjadikan ToT apa ke Indonesia?

      ## Dan... kalau melihat semua publikasi ttg KF-X, ada sesuatu lagi yang hilang....

      Yah, 50 unit IF-X, sebenarnya tidak pernah dijanjikan untuk diproduksi di Indonesia!

      =================
      =================
      Dibandingkan proyek mercusuar Korea, kontrak Brazil-Swedia untuk membeli / memproduksi 22 Gripen-E, dan 14 Gripen-E yang senilai $5,1 milyar saja menjadi kelihatan lebih murah.

      Untuk Indonesia, kalau kita tidak mengambil opsi manufacturing penuh, dan tidak seperti Brazil, kita juga tidak akan menuntut customisasi sendiri -- harganya akan lebih murah... paling mahal hanya $4 milyar.

      100% Transfer-of-Technology sudah pasti terjamin!
      Dan tidak seperti Korea yg belum berpengalaman, Saab lebih menjanjikan pendekatan melalui "Triple Helix" -- pemerintah, perguruan tinggi, dan industri masing2 akan turut serta dalam pengembangan tehnologi bersama-sama.

      Pilihan yang lebih menguntungkan Indonesia sudah terlihat jelas dari awal!

      Delete
    4. Membayar $3,2milyar hanya untuk development.
      Seperti apa kata anda. $3,2milyar pasti sudah dapat 2 skuadron gripen E. Tentu gripen E lebih nyata daripada KFX ( gambarnya aja masih diatas kertas ). Toh nanti KFX lebih diperuntukan atau di modif sesuai dengan apa yg dibutuhkan korea selatan sendiri. Belum tentu masuk kriteria apa yg dibutuhkan indonesia, kan jadi buang² uang.

      Yg jelas $3,2milyar untuk pengembangan. Itu keterlaluan, tentu masih ada proyek yg lebih berguna. .

      Hanyakarna kita di iming²i bisa buat pespur. Eh malah dibohongi sama patnernya. . yah udah terlanjur basah.

      Delete
    5. Kita lihat saja.
      Berita ttg KF-X Indonesia akhir2 ini sudah sporadic.

      Terakhir kali, Wapres yg mengumumkan kalau kita sudah menangguhkan investasi lebih lanjut di KF-X, karena dana yg ada sudah saatnya dialihkan untuk memenuhi kebutuhan akuisisi produk yg sudah jadi.

      Kita lihat saja bagaimana. Semoga saja, akhirnya akan ada pengumuman pembatalan partisipasi kita dalam proyek Korea ini.

      Pada akhirnya memang proyek ini skrg sudah serba salah utk kita:
      @ Apakah Korea bisa menjanjikan 100% ToT? Tidak mungkin.
      @ Apakah Korea bisa menjamin pesawat ini utk memenuhi kebutuhan Indonesia?
      Tidak seperi Saab, mereka sama sekali tidak pernah bertanya, atau melakukan analisa ttg apa yg kita butuhkan, kok.

      @ Apakah Korea dapat menjamin pesawat akan sesuai anggaran? mereka belum tahu, karena belum ada pengalaman membuat pespur sendiri, dan industri pespur, adalah industri yg paling sensitif secara politik, dan barrier-of-entry-nya luar biasa tinggi.

      Sejarah sendiri sudah menunjuk, biaya development untuk twin-engine generasi baru bisa mencapai $40 milyar, dan ini juga dilakukan oleh para pemain yg sudah mempunyai kemampuan, dan pengalaman; tanpa perlu mengiba2 ToT ke Washington DC.

      @ Apakah Korea dapat menjamin harga per unitnya akan terjangkau (65 juta)?
      Sekali lagi, si partner newbie, tp sok bisa, masih belum mengerti kalau jumlah produksi KF-X, hanya 230 - 250 unit terlampau sedikit, desain twin-engine yg dengan sendirinya jauh lebih complex, yg dipadukan kemampuan industrial/tehonloggi terbatas, berarti kita akan melihat harga per unit yg lebih mahal dari F-35.

      best case scenario: Semoga pembatalan proyek datang dari Korea sendiri.

      Tp kelihatannya mereka akan gengsi; tidak akan mau kalah dari Jepang, yg sudah akan memulai proyek pespur sendiri baru2 ini....

      PADAHAL industri pesawat terbang Jepang, berbeda dengan Korea, sbnrnya sudah jauh lebih maju, dan lebih berpengalaman: mereka sudah bisa membuat pespur, selagi Korea masih memakai popok.

      Delete
    6. Sebelum kita melangkah lebih jauh / tambah rugi. Semoga saja apa yg dikatakan wapres bisa benar terjadi.

      Ya kami sebagai rakyat indonesia juga tidak mau ada perang atau konfrontasi dengan negara lain. Ada banyak anggapan masyarakat yg mengtakan " ambil tuh pulau kami, biar kami berfikir untuk beli alutsista canggih ". Memang apakah indonesia seperti itu.

      Ohya bung
      Apa katanya ada perjanjian pasca PD 2 antara jepang dan amerika, yg intinya melemahkan dan merugikan perkembangan dirgantara jepang ?
      Hahaha malah jauh mluber kemana-mana komenya :)

      Delete
    7. Hahaha, maaf reply juga agak telat.

      Memang pusing juga kalau memperhatikan sikap, atau pandangan bnyk kalangan di Indonesia, apalagi dalam mslh pertahanan.

      Masalah utama: kita terlalu banyak BERMIMPI seolah2 kita sudah hebat; tanpa mau ambil pusing kesulitan2, atau tantangan nyata yg harus dihadapi.

      Sy baru melihat video di Youtube, bgmn orang membayangkan kita akan mengoperasikan Su-35, DAN Eutofighter Typhoon --- krn itu kita akan "TIDAK TERKALAHKAN".

      MIMPI.

      Mengoperasikan dua tipe pswt twin-engine yg biaya opnya mahal, dalam jumlah sedikit, dan tidak compatible secara operasional, atau prosedur, hanya akan membawa kita ke jurang kehancuran finansial, dan strategis.

      KF-X tidak bnyk berbeda.

      ======
      Jepang, dan Jerman
      ======
      Kedua negara ini memang tidak diijinkan membuat pesawat apapun sampai tahun 1950-an akhir, walaupun akhirnya diijinkan kembali -- untuk menghadapi musuh bersama waktu itu -- Uni Soviet.

      Karena kedua negara tsb sudah mempunyai basis dirgantara yg cukup matang, boleh dibilang cukup cepat keduanya untuk mengimbangi UK, yg skrg justru lebih mundur dibanding 40 - 50 tahun yg lalu.

      Delete
    8. Ef typhoon dan Su 35 on youtube :) :)
      Itulah kita bung, sering bermimpi terlalu jauh dari kenyataan . .
      Menurutku EF Typhoon lebih hebat dari Su 35, tapi toh katanya juga ada yg gagal / cacat. Sering di grounded untuk di periksa.
      Nah untuk Su 35 juga jelas berbeda sama yg digunakan au rusia untuk menggempur isis.

      Hehe anda pasti lebih tau plus dan minus pesawat itu :)

      Mungkin karna twin-enggine , playload lebih banyak , terbang lebih jauh. . jadi seolah pesawat twin-enggine mempunyai efek menakutkan untuk menginfasi/ ngebom negara lain. Bila memang begitu ceritanya, ya mending sekalian beli bomber.

      Delete
    9. Ya, begitulah.
      Mimpi2 memang selalu terasa manis di lidah, sampai akhirnya menelan pil pahit realita.

      Secara umum, pespur Single-engine (kecuali F-35) akan selalu jauh lebih efektif dibanding Twin-engine manapun.

      Lebih sederhana = maintenance lebih mudah/cepat = biaya op lebih murah = lebih sering terbang.

      Ukuran lebih kecil = less drag = Akselerasi/manuever cenderung lebih baik = RCS dgn sendirinya lebih kecil = lebih sulit diikuti pandangan mata pilot lawan.

      Single engine = lebih hemat bahan bakar = jarak jangkau sbnrnya tidak beda bnyk dgn twin-engine = lebih mudah utk menghindari WVR missile modern dgn IR seeker.

      Secara tehnis, hanya twin-engine F-22, Typhoon, dan Rafale yg performa kinematisnya mungkin masih lebih unggul vs Gripen-E.

      Tetapi perbedaannya tidak akan banyak, sedangkan harga & kesulitan maintenance ketiga model diatas akan selalu berkali-kali lipat vs Gripen.

      Dalam keadaan tempur, ketiga tipe tsb akan memerlukan 3 - 4 pswt utk dapat menyamai sortie rate / frekuensi mengudara per hari yg bisa didapat dari 2 Gripen.

      Inilah knp sy menuliskan dgn Gripen, kita tidak akan memerlukan terlalu bnyk pespur. Uangnya dapat diinvestasikan kembali ke sistem pengawasan, pesawat tanker, persenjataan, dan Networking.

      Delete
    10. Yup betul sekali bung GI .

      Yg lebih miris adalah persenjataan pespur itu sendiri . mungkin kalau pespur kita dijejer, belum tentu semua pespur menenteng senjata lengkap.

      Bahkan mungkin kita tidak punya stok persenjataan yang memadai . tentu pilot juga perlu latihan memakai rudal yg dipakai, rudalnya saja kurang.

      Menurut bung GI, seharusnya atau idealnya setiap pesawat tempur harus mempunyai berapa stok rudal ?

      Delete
    11. Setiap AU modern biasanya akan mempersenjatai setiap pespur mereka dgn:

      4 x BVR Missile
      2 x WVR missile

      Atau 6 missile per pesawat + Stock cadangan di gudang antara 3 - 6 missile tambahan per pesawat.

      saat ini kita bahkan tidak bisa mencukupi kebutuhan dasar 6 missile per pesawat, tapi eh.... tapi masih ingin menambah pespur.

      Lebih banyak unit BUKAN berarti efek gentar lebih kuat, tapi lebih banyak target utk ditembak jatuh lawan.

      TRAINING, dan berkaitan dgn ini, INVESTASI adalah salah satu kelemahan terbesar kita yg lain.

      Sepsnjang sejarah, kita belum pernah berhasil memaksimalkan investasi penuh (training, senjata, upgrade) untuk memaksimalkan kemampuan tempur tipe pespur manapun yg kita pakai.

      F-5E misalnya, adalah pespur yg kemampuan tempurnya cukup mengerikan, justru krn ukurannya yg kecil, cepat, dan lincah.

      KALAU digunakan dgn baik, dan mendapat cukup banyak kasih sayang (investasi) spt versi Brazil, atau Singapore, sbnrnya F-5E mempunyai potensi utk dapat mengalahkan/mempercundangi Sukhoi, F-16, ataupun F-15.

      Yah, dalam keadaan skrg bahkan F-5 Singapore saja sudah lebih dari cukup utk mengalahkan F-16, dan Sukhoi Indonesia.

      Delete
    12. Ya untuk F5 singapore dan brasil adalah salah satu yg tercanggih.


      Apakah sangat mahal untuk beli VWR dan BVR missile. Saya rasa harga 2 pesawat tempur akan dapat banyak missile tersebut.

      Saya rasa apa yg dipublis ke media tidak sepenuhnya benar, saya rasa mentri yg bersangkutan tetaplah orang yg pintar.nah lo emang kalau benar


      Ohya bung, apakah bvr missile kita udah pada dateng yg dari amerika ?

      Delete
    13. Australia membeli 450 AMRAAM-D (top missile US) seharga $1,22M. Ini kira2 bisa jadi panduan harga utk BvR missile modern, untuk harga borongan.

      AIM-9x kalau tidak salah harga per unitnya sedikit lebih murah.

      =========
      Untuk kapannya pembelian AMRAAM Indonesia sudah datang, kita tidak tahu sampai ada pengumuman lagi. Washington sendiri sih tidak keberatan utk transaksi tsb.
      =========

      Analisis obyektif itu memang sulit.

      Baik media massa, ataupun pernyataan pejabat (negara manapun) biasanya akan mengandung sedikit banyak bahasa propaganda utk mempengaruhi pendapat pembaca.

      IMHO, kita hanya dapat menilainya dngn memperbandingkan dngn fakta2 yg ada, yg kalau mau diputar bagaimanapun juga, suaranya tidak akan bisa berubah.

      Contoh:
      USAF baru2 ini mengklaim, F-35 berhasil "selamat", atau "mengalahkan" F-15E di 366th Squadron dalam latihan.

      Kebenaran, atau kebohongan?

      Sekarang kita bisa melihat fakta yg ada:
      # Mau diputar sebagaimanapun juga oleh Public Relation USAF,
      F-35 tetap saja penampang fuselage-nya terlalu gemuk, high drag rate, dan mesinnya underpowered utk menyokong badannya yg berat.
      T/W ratio, wing-loading, akselerasi, ataupun sustained turn rate-nya tidak akan mungkin dapat bersaing dengan F-15E.

      # F-15E USAF sbnrnya baru memulai tahap meng-upgrade radar mereka ke AN/APG-82 AESA radar di tahun 2012. Unit yg sudah diupgrade akan masih dalam tahap membiasakan diri, sedangkan dilain pihak, kebanyakan belum membawa IRST generasi baru spt Legion Pod buatan Lockheed-Martin.

      Tidak tertutup kemungkinan, F-35 sbnrnya masih diperhadapkan dengan F-15E yg masih membawa APG-70, dan/atau diperlengkapi APG-82 tapi belum benar2 siap tempur.

      Tergantung bagaimana skenario latihan (publisitas USAF) itu ditampilkan, tentu saja kemungkinannya cukup besar kalau F-35 memenangkan ronde ini.

      Apakah itu artinya F-35 akan menjadi pespur yg efektif di dunia nyata?
      Kita bisa mengambil kesimpulan sendiri.

      Delete
    14. Ya harga amraam D australia vs amraam c7 indonrsia sebenarnya kalau dihitung satauan / borongan tidaklah berbeda jauh harganya . toh mungkin kalau seandainya amraam D dijual kebukan sekutu dekat, mungkin harganya bisa sampai 3,5 juta/unit.

      Apakah Aim-9x itu upgrade dari aim-9 standar.

      Sebenarnya persenjataan dari pespur yg kita punya , jelas condong kebarat.

      Super tucano, hawk, t50 yg bisa attack, f16 vs sukhoi.

      Selain sukhoi pasti sudah bisa bawa aim-9, bahkan hawk yg pesawat jadul katanya sudah bisa bwa bvr.
      Dari sini sudah keliatan persenjataan mana yang harus diperbanyak. Toh walaupun bila nanti kita beli gripen kosongan, sudah jelas gripen lngsung bisa terbang dngan senjata diatas tersebut.

      Ya memang masih sangat kurang antara jumlah rudal dan pesawatnya.
      Aim-9 yg kita punya juga yg jadul, sampai saat ini palingan F16 kita cuma dipersenjatai aim-9 jadul untuk pertempuran udara.

      Delete
    15. Bung @Matt,

      Sy harus koreksi sedikit --- AIM-9X atau kebanyakan WVR missile Barat generasi yg sama, kabarnya harganya hanya akan mencapai $500 ribu / unit.

      AMRAAM-D, dan MBDA Meteor termasuk yg paling mahal -- harganya mungkin lebih mendekati $2 juta; dibanding $3 juta.

      Biaya tambahannya kemungkinan diperuntukan upgrade, agar semua pespur Australia (F-18, dan F-35) akan mempunyai kemampuan 2-way datalink untuk mengoperasikan AMRAAM-D.

      ==================
      Indonesia tempo hari membeli AIM-9X --- AIM-9 generasi terbaru.

      Tetapi tentu saja, F-16 kita tidak mempunyai JHMCS (Joint Helmet Mounted Cueing Display), untuk dapat menembakkan AIM-9X menurut arah pandangan helm pilot!!

      Artinya --- AIM-9X Indonesia tidak akan bisa ditembakkan ke samping, atau ke belakang seperti milik negara2 lain!

      Delete
  13. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  14. Apa pendapat mimin secara pribadi tentang program F-35 Lightning II?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mudah,
      F-35 will not work!

      Hanya "Spin doctor" (propaganda pemutar-balikan fakta) yg marak dilakukan para Top Brass di Pentagon, dan Lockheed-Martin yg akan memuat berita2 / laporan2 positif mengenai pesawat ini.

      Sy sudah agak lama tidak menulis ttg F-35, walaupun msh mengikuti perkembangannya. Nanti sy akan coba menuliskan dalam artikel yg lebih lengkap.

      Berikut bbrp pokok permasalahan F-35:
      # US melakukan kesalahan FATAL karena mereka skip "prototyping phase", dan langsung lompat ke LRIP (Low Rate Initial Production). Yah, mereka sudah mulai produksi walaupun development phase-nya belum selesai.
      Akibatnya setiap masalah baru yg timbul harus diperbaiki ke 100 pswt yg skrg sudah diproduksi, bukan hanya ke 4-5 protoype.

      RESIKO proyek ini menjadi terlalu besar.

      # Terlalu rumit, terlalu mahal. Source codenya sja sudah 7 juta line (Rafale hanya 2,5 juta line), tapi masih belum final... dan mslh2 baru masih hanya akan terus bermunculan.

      # Semua variant terlalu berat, bentuknya draggy, dan sayapnya terlalu kecil. Pswt ini tidak akan mungkin dpt menandingi F-15, dan F-16 dalam segi akselerasi, atau manuever.

      # Mesin F135 adalah yg terkuat di dunia, tapi daya dorongnya tidak akan mencukupi. Berbeda dgn mesin single-engine fighter F-16, atau Gripen; kelihatannya mesin ini juga beresiko tinggi utk rusak.

      O ya, mesin ini juga terlalu mahal, belasan juta $$ per unit, dan SANGAT PANAS.
      IRST Eurocanards, dan Ruski akan dapat melihatnya dari jarak BVR.

      # Persenjataanya juga minim. Utk terbang stealth, hanya bisa dipersenjatai dgn 4 AMRAAM. Dalam pertempuran jarak dekat, stealthy F-35 yg ukurannya gemuk, dan membawa mesin F135 yg super panas, tidak akan dapat menandingi F-16 Block-30 yg sudah membawa JHMCS (Helmet Mounted Display), dan missile AIM-9X.

      ## Faktor-X: Semenjak lahirnya F-117, semua pihak sudah berlomba2 membuat tehnologi yg dapat mengalahkan Stealth.

      Nanti sy akan tuliskan lebih lanjut di lain hari.

      Delete
    2. F-35 jg direncanakan akan menggantikan A-10 Thunderbolt II untuk peran CAS/Ground Attack tp F-35 punya masalah too fast, too lightly armed, too lightly armored daripada Warthog

      Delete
    3. Betul. Ini salah satu lagi kegilaan para Jendral USAF!
      Semua orang; baik pilot, ataupun tentara yg sudah berpengalaman mendapat perlindungan dari A-10 Thunderbolt II semua sudah memberi kesaksian, kalau dalam keadaan skrg saja, tidak akan mungkin F-16 bisa melakukan tugas yg sama, apalagi F-35, yang kemampuannya lebih inferior.

      Tetapi para jendral berkata, "Tenang! Kita akan memakai Smart Munitions! Pasti bisa!"

      Satu hal lagi yg tidak banyak orang tahu; para Jendral US setelah pensiun dari masa jabatan militer mereka, biasanya akan mendapat tawaran untuk bekerja di perusahaan2 kontraktor besar di US, spt Lockheed-Martin, Raytheon, Boeing, atau Northrop Grumman, dengan paket gaji yg tidak kalah besar + bonus.

      Hasil research Boston Globe:
      =============================
      http://archive.boston.com/news/nation/washington/articles/2010/12/26/defense_firms_lure_retired_generals/
      =============================
      ... menunjukkan kalau 70% dari para Jendral tersebut biasanya akan menerima tawaran ini.

      Kenapa para jendral US membela F-35 mati2an?
      Karena mrk biasanya lebih memikirkan kocek sendiri, dibandingkan melihat logika, dan kebutuhan negara.

      Para kontraktor itu sudah melihat dari jauh2 hari, jendral mana saja yg akan mereka tarik ke dalam daftar renumerasi mereka.

      Inilah kenapa industri militer US boleh dibilang salah satu yang paling "korup mental".

      Delete
    4. Min, knp dalam beberapa hal alusista buatan Eropa udh mulai menyaingi yg buatan Amerika?

      Delete
    5. Memang benar.

      Sampai tahun 1970-an, sbnrnya industri pesawat terbang, dan missile US masih lebih unggul dibanding Eropa.

      Sekarang, US sbnrnya masih tetap lebih unggul -- karena mereka sudah membuat pesawat stealth -- sedangkan Eropa justru sengaja tidak membuat stealth untuk menghindari kelemahan2 desain yg menyertai bentuk stealth shaping

      Pada pokoknya: Bentuk stealth = mengkompromikan bentuk aerodynamis, dan/atau membuat biaya produksi / maintenance / upgrade menjadi super tidak terjangkau.

      (Nanti sy akan bahas lebih lanjut di post lain).

      ## Secara kinematis -- ketiga Eurocanards dewasa ini boleh dibilang akan mempunyai kemampuan untuk mengimbangi/mengalahkan F-22, F-15, F-16, dan F-18 ---- sedangkan F-35 tidak akan mempunyai banyak harapan.

      ## Dari tehnologi missile -- MBDA Meteor --- kemampuannya tidak ada bandingannya baik di US, ataupun Russia, yg sama2 belum berhasil membuat BVR missile dengan ramjet propulsion.

      Akan membutuhkan waktu belasan tahun untuk US mengejar ketinggalan dalam hal ini, karena semua uang mereka sudah diminum Lockheed-Martin untuk memproduksi pesawat tempur terjelek sepanjang masa (F-35).

      Perkembangan tahap selanjutnya untuk Meteor: MBDA sedang dalam tahap diskusi awal dengan Jepang, yang sbnrnya sudah mempunyai tehnologi untuk membuat AAM-4 BVR missile, dengan AESA seeker.

      Yah, dengan kata lain, mereka sedang melakukan penjajakan untuk membuat Meteor, dengan AESA seeker, yang akan jauh lebih sukar untuk di-jamming pesawat lawan.

      Delete
  15. @om DR

    Oom...pertanyaan kedua saya belum direpply

    ReplyDelete
    Replies
    1. :)

      Saab memang mempunyai bnyk produk baru, yg berbagi satu persamaan: Terintegrasi dalam satu Network.

      Sy belum research ttg produk yg anda tunjuk secara spesifik. Nanti sy akan kembali lagi ke topik ini.

      Delete
  16. Min, saya takutnya kalau kita beli Gripen E/F kita nanti nggak bisa beli senjatanya seperti waktu beli Sukh6

    ReplyDelete
    Replies
    1. Disinilah keunggulan Gripen dibanding semua pilihan lain:

      Senjata apapun yang sekarang bisa dipakai F-16, sudah langsung bisa dipasang ke Gripen dari hari pertama!

      Pembelian MBDA Meteor tentu saja boleh ditunda, karena Gripen dapat menggunakan AIM-120C7 AMRAAM, dan AIM-9X Block-2.

      Gripen-E, yang sudah diperlengkapi dengan Helmet Mounted Display generasi terbaru, dengan kemampuan Supercruise, dan Networking untuk saling berbagi target / men-guide missile ke arah pesawat lawan -- akan dapat menggunakan kedua senjata tsb 200 - 300% lebih efektif dibanding F-16 Block-25+ versi export/hibah kita.

      Saab RBS-15F anti-ship missile juga sudah ditawarkan untuk produksi sendiri di Bandung.

      Delete
  17. Min, td saya dpt Info kl Indonesia mau beli AMRAAM sama targeting pod Sniper, tp untuk Sniper hanya bisa beli 6 unit

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung @Haykal,
      Sniper targeting pod sbnrnya sudah diumumkan sejak pembelian 24 F-16 hibah dahulu kala. Kelihatannya waktu itu pmrnth US mengijinkan 24 unit (belum tentu versi terbaru), tapi tidak mengherankan kalau keterbatasan finansial hanya memperbolehkan 6 unit.

      Pembelian 37 AMRAAM AIM-120C7, sudah diumumkan tahun ini di di dokumen DSCA pemerintah US.

      Pembelian keduanya kembali menggarisbawahi KELEMAHAN UTAMA kita, yg bisa dilihat semua negara lain:

      Kita senang membeli pesawat tempur, tapi SANGAT MALAS untuk berinvestasi dlm perlengkapan / persenjataan modern.

      Dengan kata lain -- semua pespur kita skrg spt "macan ompong".

      Delete
  18. Bung DR, menurut saya biaya operasional SU-35 sangat tidak masuk akal jika dibandingkan dengan anggaran militer Indonesia saat ini. Kita butuh pesawat canggih dengan biaya operasional yg terjangkau. Gripen menawarkan transfer TOT 100% dan jika kita beli 16 pesawat, maka 6 pesawat silahkan dirakit di Indonesia. Tapi menurut saya itu hanya bualan sales SAAB. Karna nggak mumgkin Gripen percaya begitu saja pembuatan/perakitan pesawat dilakukan dinegara yg nggak punya pengalaman pembuatan Jet Tempur (PT. DI hanya membuat pesawat komersil (cmiiw)). Tapi memilih Gripen juga langkah yg tepat karna alasan National Networking yg bisa kita bangun dengan pengadaan produk2 tempur dari Swedia baik itu alutsiata udara, darat dan laut. Melihat alutsista kita yg gado2 sekarang (Russia & USA) kita akan kesulitan klo nenghadapi perang karena nggak bisa berkomunikasi secara baik antar pesawat tempur. Klo kita memilih Gripen setidaknya kita dapat dua keuntungan, biaya operasional yg ekonomis dan mengejar National Networking pada angkatan udara, darat dan laut kita. Mengejar National Networking terdengar memang terlambat, tapi lebih baik dari pada tidak sama sekali.

    *ini hanya pendapat saya saja Bung DR, pendapat amatir dengan referensi minim. Hehehe....

    ReplyDelete
  19. Bung DR, menurut saya biaya operasional SU-35 sangat tidak masuk akal jika dibandingkan dengan anggaran militer Indonesia saat ini. Kita butuh pesawat canggih dengan biaya operasional yg terjangkau. Gripen menawarkan transfer TOT 100% dan jika kita beli 16 pesawat, maka 6 pesawat silahkan dirakit di Indonesia. Tapi menurut saya itu hanya bualan sales SAAB. Karna nggak mumgkin Gripen percaya begitu saja pembuatan/perakitan pesawat dilakukan dinegara yg nggak punya pengalaman pembuatan Jet Tempur (PT. DI hanya membuat pesawat komersil (cmiiw)). Tapi memilih Gripen juga langkah yg tepat karna alasan National Networking yg bisa kita bangun dengan pengadaan produk2 tempur dari Swedia baik itu alutsiata udara, darat dan laut. Melihat alutsista kita yg gado2 sekarang (Russia & USA) kita akan kesulitan klo nenghadapi perang karena nggak bisa berkomunikasi secara baik antar pesawat tempur. Klo kita memilih Gripen setidaknya kita dapat dua keuntungan, biaya operasional yg ekonomis dan mengejar National Networking pada angkatan udara, darat dan laut kita. Mengejar National Networking terdengar memang terlambat, tapi lebih baik dari pada tidak sama sekali.

    *ini hanya pendapat saya saja Bung DR, pendapat amatir dengan referensi minim. Hehehe....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung @tom-tom,

      Pendapat analisa awam / amatir, IMHO, akan selalu lebih mengikuti akal yang sehat, dibanding pendapat yang didasari mimpi yang tidak karuan, dan tidak berdasar.

      ====================
      menurut saya biaya operasional SU-35 sangat tidak masuk akal jika dibandingkan dengan anggaran militer Indonesia saat ini. Kita butuh pesawat canggih dengan biaya operasional yg terjangkau.
      ================

      Memang benar.
      Mimpi memang selalu kelihatan indah kalau terlihat di kertas,
      tetapi kalau sudah menabrak kenyataan --- kemampuan finansial negara akan selalu mendikte kemampuan tempur setiap Alutsista!

      Modal terbatas + pesawat tempur berbiaya op muahal + spesifikasi versi export + Persenjataan juga versi export = Efek gentar NOL besar.

      ====================
      Karna nggak mumgkin Gripen percaya begitu saja pembuatan/perakitan pesawat dilakukan dinegara yg nggak punya pengalaman pembuatan Jet Tempur (PT. DI hanya membuat pesawat komersil (cmiiw)).
      ====================

      Seperti sy sudah tuliskan dalam artikel ini -- IMHO, perakitan hanya 6 unit; baik nilai ekonomis, atau keuntungan industrial-nya akan terlalu kecil.

      Lebih baik baru mengambil opsi perakitan sendiri dari Saab, kalau kita memutuskan untuk mengakusisi sekurangnya 2 skuadron (32 pesawat minimal). Dengan demikian, investasinya tidak akan mubazir.

      ================
      Melihat alutsista kita yg gado2 sekarang (Russia & USA) kita akan kesulitan klo nenghadapi perang karena nggak bisa berkomunikasi secara baik antar pesawat tempur.
      =================

      Seperti sy sudah tuliskan dalam artikel "armada gado2" Indonesia, keputusan memecah supplier antara US - Russia hanya akan lebih merugikan negara, dibanding pemikiran akan "lebih kebal embargo".

      Tehnologi pespur sbnrnya dinilai sebagai tehnologi paling sensitif, dari segi Alutsista -- dan selama kita terus terpaku mencoba menjadi langganan US, dan Russia berbarengan, yah, artinya kita hanya akan "diperbolehkan" mengakusisi pespur versi export yg standard-nya kelas tiga.

      IMHO, kita bahkan harus melangkah lebih jauh lagi dari mimpi-mimpi yang sekarang, yang sudah menyandera TNI-AU diantara Sukhoi, F-16, dan IF-X ---- Kita harus mulai berpikir menjadikan Saab Gripen-E menjadi pesawat tempur utama dalam jangka panjang!

      Nasional Networking, dan biaya ekonomis hanyalah 2 dari banyak keuntungan yang bisa kita dapat dari kerjasama dengan Saab:

      ## Kerjasama dengan Saab, berarti untuk pertama kalinya, industri dalam negeri kita akan dapat menjajaki pengembangan tehnologi pesawat tempur, dan persenjataan udara dengan lebih serius. Ini membuka banyak peluang untuk innovasi lokal dalam jangka panjang; bahkan tidak tertutup kemungkinan kita bisa menjadi ahli dalam pengembangan satu sektor tertentu!

      ## Biaya operasional murah, dan mengoperasikan hanya satu jenis pesawat tempur, berarti jauh lebih mudah untuk TNI-AU untuk dapat meretensi pilot / staff; yang saat ini mau tidak mau, akan mulai bersaing dengan paket remunerasi dari sektor komersial (AirAsia, Lion Air, dll)

      Regenerasi / Training akan jauh lebih mudah, dan mengasah kemampuan setiap individual juga akan jauh lebih efektif!

      ## Mengoperasikan hanya satu jenis pesawat tempur, sebenarnya membuat kita lebih kebal embargo / kesulitan spare part, karena kita akan bisa karena biasa; dan mendapat dukungan penuh dari industri lokal untuk (semoga) memproduksi kebanyakan spare part yg paling sering diganti, dan dapat mengejakan sendiri kebanyakan "perbaikan" atau overhaul mendalam.

      ## Tentu saja, kemampuan tempur Gripen, kalau sudah bisa belajar untuk bisa mempergunakannya dengan baik; sebenarnya akan jauh lebih unggul dibanding pesawat tempur manapun!

      IMHO, tidak seperti mimpi Renstra di tahun 2010, yang menginginkan 10 skuadron (160 pesawat), kita bahkan tidak akan memerlukan lebih banyak dari 64 Saab Gripen-E (4 skuadron); atau maksimum 80 pesawat.

      Delete