Tuesday, July 12, 2016

Den Haag Tribunal mendukung klaim Filipina: PRC tidak berhak mengklaim Laut Cina Selatan!

China's 9-dash line - mengklaim territorial laut Vietnam, Filipina, Malaysia, Brunei,
dan laut sekitar Natuna, Indonesia
(Gambar: BBC News)
Den Haag Tribunal (12-Juli-2016), seperti dilaporkan BBC, Reuters, dan CNN, akhirnya sudah memberikan keputusan resmi atas kasus yang diangkat Filipina ini:

"People's Republic of China (PRC) tidak mempunyai hak atas klaim territorial mereka di Laut Cina Selatan."

Setelah "kehilangan muka" di Den Haag, tentu saja CCTV, State Media pemerintah PRC, sudah dengan cepat mengumumkan kalau PRC akan menolak untuk mengakui sahnya keputusan tersebut

Keputusan ini tentu saja juga berlaku ke Indonesia. Sebagaimana sudah sering dilaporkan di media massa, sudah terlampau sering nelayan PRC yang memasuki wilayah laut di sekitar Natuna.  

Bagaimana tidak? Menurut PRC, bukankah mereka melakukan tindakan yang legal? Mereka tidak sedang melakukan penyusupan, karena kawasan Timur Laut dari Natuna, termasuk dalam "9-dash-line."

Situasi sempat memuncak pada tanggal 20-Juni yang lampau, ketika KRI Imam Bonjol, bahkan sampai harus membuat tembakan peringatan untuk menghalau 12 kapal "penyusup" PRC!


Indonesia berada di pihak ASEAN, bukan penengah tanpa kepentingannya sendiri di LCS!



Seperti sudah dituliskan sebelumnya, klaim PRC atas LCS, adalah ancaman terbesar bersama, yang harus dihadapi negara-negara ASEAN. Indonesia tidak bisa mengklaim untuk menjadi penengah dalam konflik Filipina - PRC. Filipina tidak pernah mengklaim territorial Indonesia; sebaliknya sama seperti Filipina, Indonesia juga menghadapi masalah yang sama dengan sepak terjang PRC di LCS!

Posisi Indonesia tidaklah netral. PRC memang tidak mengklaim territorial darat Natuna, tetapi apakah laut dalam Zona Ekonomi Ekslusif di sekitar Natuna, memang boleh diberikan cuma-cuma ke PRC?
Foto Passport PRC saja memasukkan "9-dash-line" sebagai territorial China
(Gambar: Reuters)
Indonesia, Malaysia, Brunei, Filipina, dan Vietnam adalah anggota ASEAN. Sudah saatnya menunjukkan solidaritas ke sesama negara ASEAN, dan menyatakan ke PRC kalau kita satu suara: Kita tidak saling mengklaim wilayah negara lain, dan PRC tidak berhak melanjutkan klaim mereka atas territorial ASEAN.

Tindakan apa saja yang sudah dilakukan PRC sejauh ini untuk mengancam kestabilan di Laut Cina Selatan?



Armada Nelayan Luar Negeri PRC sebenarnya adalah Angkatan Laut "tidak resmi" yang sangat berbahaya!

Kapal Nelayan PRC yang tertangkap
Gambar: TNI-AL / Liputan6.com
Penulis Andrew Erickson, dan Conor M. Kennedy sudah mengungkapkan hal ini dalam artikel di War-is-boring: Armada Maritim PRC ini sudah terlalu sering melakukan "gangguan" ke semua banyak negara, yang membuat masing-masing pihak, termasuk US sendiri, cukup kesulitan untuk menghadapinya.
  • Awak armada Nelayan PRC untuk "misi mancanegara" kebanyakan sudah mendapat Maritim Militia Training (Sumber: China Military Online) dari Angkatan Laut PRC sendiri. Yah, mereka sebenarnya bukan lagi semata nelayan sipil semata, tetapi militia - secara tehnis, mereka adalah tentara PRC, tetapi statusnya non-professional, yang mempunyai kemampuan tempur untuk menghadapi konflik!
  • Berkaitan diatas, mereka memang sengaja mengambil topeng "nelayan sipil", agar Angkatan Laut Negara lain, akan memperlakukan mereka sebagai warga sipil PRC, bukan sebagai tentara professional.
  • Tindakan-tindakan armada Maritim PRC ini sudah lama terbukti sangat aggressif, dan illegal, bahkan seperti dilaporkan di BBC, mereka mempunyai kemampuan sampai merambah pencurian ikan di lepas pantai Guinea, yang terletak di sebelah Barat benua Afrika! 
Yah, armada Milita Nelayan PRC bahkan tidak segan menghabisi perikanan Guinea,
yang jaraknya puluhan ribu kilometer dari rumah!
Google Map
Tentu saja, dengan hasil ruling di Den Haag ini, armada Militia Nelayan PRC, dapat dipastikan akan semakin aktif, dan kemungkinan besar juga akan semakin aggresif di Laut China Selatan.

Negara yang terlihat lemah, seperti dalam kasus Guinea diatas, hanya akan menjadi korban "agresi halus" Armada Militia Nelayan PRC. Demikian juga di Laut Cina Selatan! Armada nelayan PRC bukanlah "tidak sengaja" memasuki wilayah laut Indonesia. Pengiriman armada ini adalah tindakan aggresif-manipulatif, yang sudah direncanakan dari awal. Dengan kata lain, manuever mereka sebenarnya adalah "Agresi militer, dengan personil non-militer".

Apakah keamanan negara-negara ASEAN harus bergantung kepada US Navy, yang sudah semakin aktif mengirim kapal-kapal perang mereka ke wilayah ini:
USS Ronald Reagan (CVN-76) sekarang sedang beroperasi di LCS
Gambar: US Navy

Saatnya juga lebih serius dalam pemilihan Alutsista Masa depan


Khusus untuk Indonesia; sekarang sudah bukan lagai jamannya seperti sebelum 2012, dimana kebanyakan pembelian Alutsista seperti dilakukan tanpa perencanaan strategis yang jelas.

Rencana akuisisi "pesawat pencinta komisi perantara" Su-35, ataupun terus rela mengoperasikan Su-27/30 bertehnologi tahun 1980-an, yang tidak akan mempunyai kemampuan bahkan untuk menandingi F-16C/D yang jauh lebih modern, dengan biaya operasional setinggi langit juga semakin tidak beralasan. Belum lagi menghitung biaya pengiriman, penginapan berbulan-bulan, dan biaya reparasi "mudik yang mendalam" yang akan harus mendera setiap unit Sukhoi manapun.

Demikian juga menghamburkan uang untuk proyek "mercusuar Korea", untuk pesawat yang baik biaya development, atau harga per unitnya hanya akan diluar kemampuan Indonesia.... dan versi IF-X, sama seperti F-16, hanya akan menjadi versi export/downgrade dibanding KF-X, yang sendirinya saja kemampuannya akan lebih inferior dibanding ketiga Eurocanards, yang sebenarnya sudah lebih unggul dibanding F-35.

Jauh lebih menguntungkan kalau dana yang sekarang teralokasikan untuk proyek-proyek mercusuar seperti diatas, lebih dialihkan untuk pembangunan Sistem Pertahanan Mandiri, yang akan siap menghadapi tantangan-tangangan PRC di LCS:
  • Keputusan Tribunal Den Haag, hanya akan membuat ketegangan di LCS justru semakin memuncak, dibandingkan sebaliknya, karena PRC sudah menyatakan Menolak untuk mengakui keputusan tsb
  • Armada Militia Maritim PRC sangat banyak, dan mereka semakin rajin untuk bersekongkol dengan armada Coast Guard mereka sendiri, untuk melakukan "harrasment" ke negara-negara ASEAN. 
  • PLA-AF sudah berhasil membuat beberapa pangkalan udara di LCS, dan dalam beberapa waktu lagi, akan memulai operasi patroli ke "wilayah yang masuk dalam 9-dash line", kemungkinan dengan menggunakan armada Sukhoi, termasuk pesawat J-11/J-16 jiplakan; Shenyang J-10, dan akhirnya setelah siap, pesawat J-20, dan J-31, yang dibuat berdasarkan hasil hacking PRC atas desain F-35. Perhatikan kelebihan PRC disini: Armada udara mereka akan jauh lebih banyak dibanding armada udara seluruh ASEAN!
Negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia, sudah dituntut untuk menjadi lebih pro-aktif. Saat ini, semua pihak hanya dapat bereaksi terhadap tindakan-tindakan aggresif PRC di Laut Cina Selatan. Sudah saatnya untuk mulai mengambil inisiatif, dan membentuk prosedur bersama untuk menghadang sepak terjang Beijing di kawasan ini.


Fully-networked Gripen yang membawa Recon pod, RBS-15, Meteor, dan IRIS-T / AIM-9X,
akan menjadi penjaga ideal untuk menghadapi kemungkinan sepak terjang PRC di LCS!

Mungkinkah Gripen menjadi pesawat tempur ASEAN?
(Gambar: Saab)
Update: PRC sekarang sudah mengancam akan memberlakukan ADIZ (Air Defence Identification Zone), kalau kepentingannya di LCS terancam! 

Bersambung ke: Laut Cina Selatan: Eskalasi, atau solusi damai??
Seberapa jauhkah kemungkinan pecahnya konflik di Laut Cina Selatan?

27 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. Mungkin Indonesia harus beli pesawat AEW&C, radar Giraffe, dan pesawat tempur dengan kemampuan kelas I tp dgn harga murah seperti Gripen E yg dilengkapi RBS-15 dan Meteor yg dipadukan dgn AIM-9X atau IRS-T

    ReplyDelete
    Replies
    1. sy akan meng-update artikel ini lagi besok.

      PRC baru mengumumkan kalau mereka mengancam akan memberlakukan ADIZ (Air Defense Identification Zone) di daerah "9-dash-line".

      artinya: Semua pswt sipil, atau militer ASEAN, walaupun terbang salam zona ekonomi ekslusif masing2, harus melapor dulu ke ground control China(!!)

      Ini semakin menuntut kebutuhan Gripen - Erieye - MPA - Networking utk Indonesia, dan kembali spt diatas, ASEAN harus mempertimbangkan pembentukan pakta pertahanan, ala NATO.

      Delete
  3. Bung GI berapa besar kemungkinan kekuatan udara yang kira kira bisa dikerahkan ke Natuna???
    Pesawat Berkode TS bukan TT
    dan berapa lama kira-kira bisa stand by di Natuna???

    ReplyDelete
    Replies
    1. Inilah masalahnya,
      Sukhoi, atau F-16 tidak akan bisa di-deploy terlalu lama jauh dari markas, kecuali lanud di Natuna di-upgrade ke level yg mengimbangi Iswayudhi AB.
      Mungkin F-16 bisa tahan 10 hari, sedangkan Sukhoi antara 3-5 hari -- butuh bnyk spare part, dan mngkn puluhan jam maintenance setiap jam terbang.

      meng-upgrade Lanud fi Natina, membangun fasilitas support, lalu mempersiapkan support staff, biayanya akan terlalu mahal, dan menjadikannya target dalam komflik terbuka.
      Masalahnya, letak Natuna terputus terlalu jauh dari Kalimantan / Sumatera, yg fasilitasnya jauh lebih lengkap; malah letaknya lebih dekat ke Malaysia.
      Secara strategis, ini menjadikan Natuna tempat yg paling sulit dipertahankan dari seluruh wilayah Indonesia.

      Dengan Gripen, yg perawatannya mudah, 8 pesawat dapat dideploy disana berbulan2, dengan perlengkapan support yg cukup dibawa 1 Hercules.

      Delete
  4. Mimin tahu tdk tentang European Defence Agency?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung @Haykal,
      EDA sepertinya semacam badan management utk training bersama negara2 Eropa.

      Badan spt ini sptnya masih jauh untuk ASEAN.

      Dalam kasus LCS, masalahnya semua negara ASEAN terlihat lemah di mata PRC. Kita tidak kompak, dan rata2 tidak mempunyai kemampuan militer yg bersaing -- ini juga dikarenakan kawasan ini sangat damai, makanya kebanyakan negara agak lalai.

      Hanya Singapore yg mempunyai kemampuannya mampu menantang PRC, dengan Thailand, dan Vietnam di peringkat kedua. Dari daftar ini saja, baik Singapore, atau Thailand tidak mempunyai kepentingan langsung di LCS.

      Delete
  5. Menurut mimin secara pribadi, berita bahwa Indonesia akan beli AMRAAM sama Sniper targeting pod walaupun untuk Sniper hanya beli 6 unit bagaimana?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung @Haykal,
      IMHO, pembelian AMRAAM AIM-120C7, dan Sniper pod biarpun sedikit, baru saja membuka lembaran baru dari segi training, dan pengalaman.

      ## AMRAAM C7 adalah top BVR missile US sampai 4-5 tahun yg lalu, dan secara tehnis sudah jauh lebih modern, dan akan jauh lebih reliable dibanding RVV-AE (missile versi export Ruski) yg dibeli utk Sukhoi; dengan jarak jangkau melebihi 100 km, jarak efektif kira2 50-70km.

      Masalahnya hanya Radar APG-68v di F-16 sudah cukup tertinggal vs APG-68v9 yg dibeli kebanyakan pembeli Block-50/52 murni. Tapi kalau belum punya pengalaman, dan skill; sedangkan BVR missile buatan Ruski jauh lebih inferior ---- yah, apa boleh buat?

      Paling tidak F-16Block-25+, dan AMRAAM C7 akan menjadi dasar awal untuk mulai menjajaki tehnik BVR combat modern,

      ## Sniper pod targeting system juga lebih membuka lembaran baru untuk kemampuan air-to-ground F-16; walaupun sayangnya, skrg ini hanya bisa dipadukan dgn AGM-65 Maverick missile jarak dekat, yg ironisnya lebih optimal untuk menghancurkan tank, dengan kemampuan secondary melawan kapal. Sepertinya kita belum mendapat ijin untuk mulai membeli JDAM "smart bomb", dengan GPS, atau infra-red guidance.

      Tidak ada equivalentnya utk targeting pod yg sama buatan Ruski!
      Su-34, dan Su-35 Ruski di Syria saja, 80% hanya bisa men-drop dumb bomb, dengan tingkat akurasi sangat rendah.
      Ruski masih belum benar2 menguasai tehnologi "smart bomb" spt US.

      Yang tidak banyak diketahui orang:
      Navigation system di semua pespur buatan Ruski, termasuk Su-34, dan Su-35; menggunakan sistem satelit GLONASS, dan bukan GPS. Demikian juga, guidance utk "smart bomb" yg sudah mereka produksi.

      Kelemahannya; GLONASS mengandalkan lebih sedikit jumlah satelit vs GPS, yg sifatnya lebih global -- alhasil, tentu saja reliabilitas, dan akurasi sistem juga berkurang vs GPS, dan utk Indonesia, akan membingungkan, krn tidak akan compatible.

      Delete
    2. Min, Seandainya kita beli Gripen, apakah AMRAAM sama Sniper bisa diintegerasikan ke pesawatnya?

      Delete
    3. Bisa;
      AMRAAM adalah BVR missile standard utk Gripen, sblm MBDA Meteor siap.
      Versi Thailand, Hunggaria, dan Czech masih memakai AMRAAM untuk BVR missile standard.

      Sniper juga adalah salah satu recon pod yg sudah diintegrasikan ke Gripen.

      AIM-9X Block II, yg juga baru diajukan, dan sudah disetujui pemerintah US bbrp waktu yg lalu, juga "tinggal pasang" ke Gripen.

      Spt sudah sy tuliskan, Gripen-C, ataupun -E akan dapat mempergunakan ketiganya antara 200 -300% lebih efektif dibanding F-16, yg mendapat pembatasan versi export, dari segi radar, Helmet Mounted Display, dan Networking.

      Keunggulan lain: RCS untuk Gripen kurang dari sepersepuluh dari F-16; akan sangat sulit utk dilihat radar non-AESA.

      Delete
    4. Min, jadi Gripen itu bisa menggunakan semua sistem persenjataan blok barat?

      Delete
    5. Benar.

      Inilah salah satu kunci keunggulan Gripen platform.

      Kita tidak akan tergantung pada monopoli perlengkapan/persenjataan "yg diperbolehkan" oleh negara adidaya, yg akan mendera semua tipe pespur lain.

      Kalau mau lebih "kebal embargo", atau pengertian yg lebih tepat: Mau lebih mandiri --- Gripen adalah satu2nya pilihan yg paling menjanjikan.

      Delete
  6. Bung GI kalo kita mengakuisisi Gripen C/D seperti yang ditawarkan, apakah itu sudah memakai Radar AESA dan sudah bisa menembakan Rudal Meteor?
    Berapa Skuadron minimalnya untuk bisa mencover seluruh wilayah Indonesia?
    Saya pikir Indonesia akan sulit bicara kebutuhan militer Ideal atau mengimbangi China atau Australia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung @reader,
      Dalam artikel sblmnya, sy sudah menuliskan perbandingan antara Gripen-C, dan -E.

      Versi-E seyengah generasi lebih modern, dan dgn sendirinya akan lebih future-proof dibandingkan versi-C. Secara tehnis, perubahan strukturalnya cukup besar antara kedua model ini. Versi-C bisa diupgrade ke -E, tetapi biayanya akan terlalu mahal.

      IMHO, lebih baik langsung melompat ke -E. Lagipula tidak spt Sukhoi, Gripen adalah pespurnya pilot, dan support staff!

      Semua interface Gripen sangat user-friendly; pesawat ini akan sgt mudah utk digunakan, dan dikuasai. Learning curve-nya terjamin mulus, utk versi-E yg akan mempunyai kemampuan utk mengalahkan pswt "stealth".

      =========
      Berapa pswt yg dibutuhkan?
      =========
      Tidak seperti MIMPI mengoperasikan 180 pswt, IMHO, 5 skuadron maksimal (80 pesawat @ 16 pswt per SQ) sudah lebih dari cukup.

      Kalau kita memilih Sukhoi versi export, sbnrnya 400 pswtpun tidak akan cukup, krn terlalu HIGH MAINTENANCE, dan GAMPANG RUSAK.

      Demikian juga F-16, atau KF-X. Mungkin akan butuh sekurangnya 200 pesawat, kembali, versi export yg kemampuannya dibatasi.

      Semua kombinasi apapun juga dari Su-, F-16, atau KF-X, tidak akan mungkin bisa seefektif armada udara yg 100% Gripen-E.

      Delete
  7. Min, perbedaan antara Sukhoi Russia dan Sukhoi India apa saja?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini bisa menjadi artikel sendiri di lain hari.

      Su-30MKI India buatan pabrik Irkut -- model equivalent Su-30SM.

      Su-35 buatan KNAPPO --- berbeda pabrik, beda intellectual property.

      Versi India boleh dibilang akan lebih unggul dibanding versi -SM Russia, ataupun Su-35 dari pabrik saingannya, karena 2 alasan:

      ## Faktor Israel
      Yang paling mencokok adalah sistem Electronic Countermeasure versi MKI yg adalah buatan Israel, yg sudah combat proven, dan kemampuannya terbukti sapat mengecoh / mengganggu sensor2 buatan Barat.
      Dilain pihak, baik Su-30SM, ataupun Su-35S akan mengandalkan ECM buatan Ruski, yg performanya tidak akan terjamin, terutama melawan generasi baru dari AESA radar, dan Sensor Fusion Barat.

      Sejauh apa level customisasi Israel, dalam sistem2 lain di MKI, seperti Networking, ataupun Targeting System sejauh ini juga dirahasiakan.

      Inilah satu point yg lucu utk mrk yg menyukai Sukhoi -- mau membuatnya lebih efektif?
      Kita harus rajin bekerja-sama dngn Israel, yg sudah mempunyai reputasi utk meng-upgrade setiap Alutsista buatan Ruski / Soviet agar kemampuannya setaraf tehnologi Barat.

      ## Kedua, orang2 India sudah jauh lebih berpengalaman untuk mengoperasikan MKI sejak 2000, dibanding Ruski sendiri dngn Su-30SM, & Su-35S.

      Kalaupun Su-35 memang sedikit lebih modern dibanding MKI dalam bbrp hal, misalnya spt radar, tidak akan relevan.
      Pilot2 India sudah mengumpulkan jauh lebih banyak jam terbang dibanding pilot Ruski. Mrk juga sudah belajar berlatih melawan kebanyakan tipe pespur Barat, satu lagi pengalaman yg tidak akan pernah bisa didapat Ruski.

      Ini saja dulu ringkasan singkatnya.

      Delete
    2. kalau menurut ane nanti kalo kerja sama dengan israel nanti takut diprotes

      Delete
  8. Min, dari ASRAAM, AIM-9X, IRS-T, A-Darter, dan Phyton. Missile WVR barat paling bagus yg mana?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini akan menjadi artikel sendiri.

      Materialnya cukup berat.

      Ringkasan singkat dahulu:
      Semua missile WVR generasi baru Barat ini, yg sudah mempunya kemampuan HOBS (High Off-Bore Sight); alias dapat ditembakkan menurut arah pandangan mata pilot --- secara tehnis semuanya sudah setengah generasi lebih maju, bahkan dibanding versi terbaru R-73 Ruski, yang di tahun 1980-an sbnrnya menjadi pelopor tehnologi ini.

      Delete
  9. Min, gmn pendapat mimin tentang KRI RE Martadinata?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kebetulan sy juga sedang mengawasi subyek ini kemarin :)

      KRI Martadinana adalah Sigma-class Corvette 10514 - versi terberat dari Sigma-class produksi Damen Schelde Shipyard, Belanda.

      ==========
      Pertama-tama,
      TNI-AL / PT PAL Surabaya; dalam menjalin kerjasama dngn Belanda, boleh dibilang sudah memberikan panutan yang baik / salah satu yang paling sukses untuk program akusisi ALutsista, yang mengandalkan Transfer-of-Technology.

      Kita bisa melihat kalau Sigma 10514 sebenarnya hasil terakhir dari investasi jangka-panjang yang dimulai dari pembelian 4 kapal Diponegoro-class (Sigma 9113) langsung dari Damen sejak tahun 2005.

      Inilah model ToT yang bagus.
      # Beli dahulu beberapa unit secara utuh dari pembuatnya langsung;
      # Pelajari kebutuhan jangka panjang Indonesia bersama pembuat!
      # Mulai belajar dari si pembuat yg siap mengajarkan, secara jangka panjang
      # Gariskan spesifikasi Alutsista generasi berikutnya, yang bisa dirakit sendiri di Indonesia
      # Akhirnya, baru mulai produksi.

      Semuanya program yg bertahun-tahun, bukan mimpi sehari-semalam.

      Kedua -- dari segi kemampuan, Martadinata 10514 adalah evolusi bertahap yg valid setelah belajar dari pengalaman Diponegoro 9113.

      Saat ini kebanyakan publikasi terfokus ke radar udara generasi baru: Thales Smart-S Mk-2

      Radar ini adalah evolusi lebih lanjut dari versi MW08 di Diponegoro, yg kemampuannya lebih terbatas.
      Seiring dengan kemampuan radar yg lebih baik, Anti-Air missile-nya juga berubah dari versi sebelumnya MBDA Tetral, ke MBDA MICA missile yg jarak jangkaunya lebih jauh, dan kemampuan kill-nya lebih tinggi.
      ===================

      Martadinata-class juga dikabarkan akhirnya akan mulai menggantikan Ahmad Yani-class yang sudah semakin uzur.

      ## Patut dicatat kalau program KPR / Sigma 10514 juga sudah mempertunjukan adanya "Future expandability" -- kalau kemampuannya mau ditambah / di-upgrade di kemudian hari, sudah siap!

      Tidak tertutup kemungkinan, kalau generasi berikutnya dari Sigma 10514, akhirnya bisa mulai mengadopsi anti-aircraft missile buatan Eropa kelas 1 --- MBDA Aster-missile!


      ## Secara tehnis kelas ini akan menjadi salah satu Alutsista laut yang akan paling siap untuk menghadapi tantangan di Laut Cina Selatan.

      ## Tentu saja, kalau kita akhirnya mulai mengadopsi Gripen + Erieye + National Networking --- Martadinata-class ini adalah salah satu kapal pertama yang paling modern / paling compatible untuk beroperasi dalam satu network dengan Gripen.

      Bayangkan kalau layar radar di Martadinata juga dapat melihat gambaran yg sudah di-share dari Gripen / Erieye --- kemampuan tempurnya saja automatis akan meningkat lebih dari 50%!!!

      Delete
    2. Tapi mudah-mudahan pemerintah juga membeli persenjataannya agar tidak menjadi macan ompong

      Delete
  10. Bung GI...
    Kayaknya bakal ada kemajuan ni dalam pengadaan alutsista indonesia...
    Semoga..
    http://www.antaranews.com/berita/574142/presiden-jokowi-ubah-pola-belanja-alutsista-jadi-investasi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Trmksh link-nya, bung @titus

      Artikel ini sangat menarik.

      Akhirnya, Presiden Jokowi memberi keputusan untuk pembelian Alutsista yang akan sejalan dengan kebutuhan Indonesia, bukan untuk sekadar "memenuhi mimpi", atau memenuhi kepentingan oknum2 tertentu.

      ==================
      Untuk memperkuat indusri pertahanan nasional, Presiden menegaskan bahwa proses pengadaan alutsista harus dimulai dari interaksi antara pemerintah dengan pemerintah (government to government/G to G) guna memangkas adanya perantara yang menggelembungkan (mark up) harga transaksi.

      "Memangkas perantara yang saya kira di situ adalah kecenderungan mark up harga, dan proses G to G ini akan memperkuat pakta integritas untuk membentuk zona toleransi nol terhadap praktik-praktik korupsi yang ada di negara kita," demikian Presiden Jokowi.
      ==================

      Hanya negara2 Barat yang akan menawarkan transaksi langsung lewat G-to-G --- Mereka sendiri sudah cukup kapok memakai perantara, karena hanya akan menjadi skandal di negara sendiri.

      Inilah bagusnya bertransaksi dengan supplier dari negara demokrasi!

      Dan kata "investasi" dalam pembelian Alutsista... akhirnya sudah mengarah kepada Best Value for Indonesia.
      Pihak mana yg siap melakukan Transfer-of-Technology?
      Pihak mana yg akan menawarkan kerjasama industrial secara jangka panjang, untuk membangun kemampuan industri pertahanan Indonesia?

      Memang sudah saatnya menghentikan pembelian Alutsista "versi export".

      Kita awasi saja perkembangannya lebih lanjut.

      Delete
    2. Artikel tambahan:
      ===========================
      http://www.antaranews.com/berita/574149/presiden-jokowi-kebijakan-alutsista-berdasarkan-kebutuhan-bukan-keinginan?utm_source=fly&utm_medium=related&utm_campaign=news
      ========================

      Betul.
      Kebutuhan, dan bukan Keinginan / mimpi.

      Delete
  11. Catatan:
    Berkaitan dengan artikel ini:
    ======================================

    Seperti yg sudah sy tuliskan dari bbrp bulan yg lalu, atau dari tahun lalu di forum lain --- PRC akhirnya akan memulai Combat Air Patrol --- patroli udara di atas Laut Cina Selatan, dalam area "9-dash-line", yg mereka anggap adalah territorial mereka sendiri.

    ========================
    http://www.janes.com/article/62389/china-to-conduct-regular-combat-air-patrols-over-south-china-sea
    ========================

    ReplyDelete