Thursday, July 21, 2016

Presiden Jokowi: Pengadaan Alutsista Sesuai Kebutuhan, Bukan Keinginan!

Presiden Jokowi
(File photo: Antara News)
Pernyataan Presiden Jokowi (20-Juli-2016) dalam perihal pengadaan Alutsista, seperti sudah di muat dalam artikel di Antara News, Berita Satu, dan Merdeka.com; sudah menggariskan beberapa point yang sangat penting:
  • Harus direncanakan secara matang sesuai KEBUTUHAN, dan BUKAN menurut keinginan.
  • Memenuhi persyaratan hukum UU 16/2012, agar dapat mengarah 
    menuju langkah kemandirian, dan memaksimalkan manfaat Nasional!
  • Diberlangsungkan melalui skema transparansi yang terbuka!
Pernyataan Presiden terlebih lanjut, seperti dikutip Antara News: "Ubah Pola Belanja Alutsista menjadi investasi", menggarisbawahi beberapa point lagi yang berkaitan:
  • Transaksi HARUS melalui Government-to-Government, dan BUKAN lewat perantara, yang hanya akan memperkaya oknum tertentu, dan memperkeruh transparansi transaksi.
  • Pembelian Alutsista sifatnya HARUS memberi keuntungan investasi jangka panjang, baik secara strategis, ataupun industrial.
  • Kerjasama industrial melalui skema Transfer-of-technology, yang ditawarkan penjual, dan juga sudah digariskan sebagai keharusan dalam Pasal 43 UU no.16/2012, juga akan menjadi prioritas utama.
  • TAMBAHAN Komentar Presiden: "Tidak boleh lagi membeli pesawat tempur tanpa berhitung berkalkulasi biaya daur hidup alutsista tersebut dalam 20 tahun ke depan.


Tuesday, July 12, 2016

Den Haag Tribunal mendukung klaim Filipina: PRC tidak berhak mengklaim Laut Cina Selatan!

China's 9-dash line - mengklaim territorial laut Vietnam, Filipina, Malaysia, Brunei,
dan laut sekitar Natuna, Indonesia
(Gambar: BBC News)
Den Haag Tribunal (12-Juli-2016), seperti dilaporkan BBC, Reuters, dan CNN, akhirnya sudah memberikan keputusan resmi atas kasus yang diangkat Filipina ini:

"People's Republic of China (PRC) tidak mempunyai hak atas klaim territorial mereka di Laut Cina Selatan."

Setelah "kehilangan muka" di Den Haag, tentu saja CCTV, State Media pemerintah PRC, sudah dengan cepat mengumumkan kalau PRC akan menolak untuk mengakui sahnya keputusan tersebut

Keputusan ini tentu saja juga berlaku ke Indonesia. Sebagaimana sudah sering dilaporkan di media massa, sudah terlampau sering nelayan PRC yang memasuki wilayah laut di sekitar Natuna.  

Bagaimana tidak? Menurut PRC, bukankah mereka melakukan tindakan yang legal? Mereka tidak sedang melakukan penyusupan, karena kawasan Timur Laut dari Natuna, termasuk dalam "9-dash-line."

Situasi sempat memuncak pada tanggal 20-Juni yang lampau, ketika KRI Imam Bonjol, bahkan sampai harus membuat tembakan peringatan untuk menghalau 12 kapal "penyusup" PRC!

Tuesday, July 5, 2016

Pernyataan resmi: Swedia menawarkan 16 Gripen-C, dengan perakitan 6 unit di Indonesia!

Antara News (27-Juni-2016) melaporkan kalau Swedia telah mengajukan penawaran resmi  ke pemerintah Indonesia untuk akuisisi 16 Gripen C/D, atau Gripen-E; dengan penguasaan alih tehnologi yang lebih maksimal, melalui penawaran perakitan 6 unit di Indonesia! Nilai penawaran ini (UPDATE: Versi yang ditawarkan adalah versi C/D) boleh terbilang cukup ekonomis, hanya $1,14 milyar... dengan waktu delivery hanya 12 bulan setelah penandatanganan kontrak.


Sekali lagi, kembali patut digaris-bawahi, bahwa tidak seperti Sukhoi Russia yang akan selalu ditawarkan melalui perantara, penawaran Swedia ini kembali ditawarkan langsung dalam skema Government-to-Government contract yang terbuka, dan transparan! Kemungkinan adanya oknum manapun yang bisa memetik keuntungan pribadi dari transaksi ini NOL BESAR.

Gripen-C/D dengan MS-20 upgrade, yang menambahkan upgrade ke radar PS-05A Mark 4, dan kemampuan untuk membawa MBDA Meteor, sebenarnya kemampuannya sudah jauh lebih unggul, dan secara tehnologi beberapa generasi lebih modern dibanding semua pesawat tempur Indonesia versi export US dan Russia dewasa ini. Bahkan kemampuan versi C/D MS-20 sudah lebih dari cukup untuk mengalahkan Su-35 Monkey Model Kommercheskiy, yang sudah jauh ketinggalan jaman.

Akan tetapi, apa yang akan kita butuhkan di masa sekarang ini adalah pesawat tempur yang dapat memenuhi persyaratan 21st Century Air Superiority Fighter. Kenapa mau berhenti di Gripen-C/D? Lebih baik rela menunggu satu-dua tahun lagi, dan membayar sedikit lebih mahal, agar kita dapat memperoleh pesawat tempur yang lebih Future-proof di masa depan. Pesawat tempur yang lebih memastikan Return-on-Investment jangka panjang yang jauh lebih maksimal untuk negara, dan rakyat Indonesia.

Gripen-E.