Wednesday, June 15, 2016

Gripen-E - 21st Century Air Superiority Fighter (Part 2)


Artikel bagian pertama sudah memperlihatkan kalau performa kinematis Gripen-E akan melebihi kebanyakan pesawat tempur yang operasional di Asia Tenggara. 

Untuk memenuhi persyaratan 21st Century Air Superiority Fighterkemampuan pesawat tempur tentu tidak bisa hanya terbatas pada performa kinematis, tetapi juga akan tergantung kepada kemampuan Sensors, Networking, Survivability, dan Weaponry. 

Berbeda dengan perbandingan satu lawan satu yang sebelumnya, artikel ini kembali akan menambahkan perbandingan dengan F-18F Australia, dan F-15SG Singapore, sebagai tolok ukur yang obyektif untuk masing-masing kandidat pesawat tempur masa depan Indonesia.



Sensors


Seperti bisa dilihat, kecuali Su-35, semua pesawat tempur buatan Barat akan diperlengkapi dengan AESA radar, dan perbedaan kemampuannya akan berbeda jauh.

AESA radar akan mempunyai keunggulan Low Probability to Intercept; gelombang radar dapat berpindah-pindah frequency ribuan kali per detik, untuk mengecoh / mempersulit kemampuan Radar-Warning Receiver (RWR) lawan untuk melihat darimana asalnya gelombang radar tersebut. Sebaliknya, radar Irbis-E PESA, hanya dapat beroperasi dalam 1 frequency, dengan kapasitas output yang fantastic. Dengan demikian, signal Irbis akan MUDAH TERLIHAT oleh semua pesawat tempur lain di perbandingan ini.

Keunggulan jarak jangkau Irbis-E, seperti sudah diiklankan di Ausairpower, sekali lagi TIDAK AKAN RELEVAN, karena setiap pesawat tempur yang diperlengkapi dengan AESA radar akan mempunyai kemampuan passive tracking, yang dipadukan dengan sistem RWR modern, akan dapat melihat posisi Sukhoi secara akurat, dengan mengikuti arah gelombang radar Irbis-E. 

Belum lagi menghitung, kalau beberapa pesawat akan diperlengkapi dengan internal Jammer untuk memperpendek jarak deteksi radar Sukhoi. Setiap pesawat tempur lain yang diperbandingkan disini, kalau berhadapan dengan Su-35, tidak akan perlu menyalakan radar, sampai saatnya menekan tombol merah!

Masih belum cukup disana, masing-masing AESA radar akan memiliki keunggulan growth-factor dibandingkan radar PESA Sukhoi yang sudah tidak bisa lagi di-upgrade. Masing-masing transmitter untuk setiap AESA radar saat ini basisnya masih dibuat dari material Gallium-Arsenade (GaA). Sudah menjadi pengetahuan umum dalam industri pembuat AESA, kalau dalam jangka panjang, penggantian material transmitter ke Gallium-Nitride (GaN) akan meningkatkan effisiensi kemampuan deteksi / tracking radar antara 25 - 30% lagi.

Inilah kenapa Su-35 adalah pesawat tempur yang sebenarnya sudah ketinggalan jaman!

Gripen-E mengungguli semua pesawat tempur versi export US, karena diperlengkapi dengan rotating swashplate, untuk meningkatkan sudut deteksi radar 100 derajat di sekeliling pesawat. Kemampuan ini memberikan kemampuan Gripen untuk mempertahankan missile-lock dalam BVR combat, sembari menghindari missile, atau ancaman deteksi radar lawan. Beberapa sumber bahkan menunjuk kalau rotating-AESA radar di Gripen, dan Typhoon akan mempunyai kemampuan untuk melihat ke "belakang" pesawat.

Keunggulan terbesar Gripen vs semua pesawat tempur yang lain: SENSOR FUSION!

Gripen-E adalah satu-satunya tipe yang akan dapat memadukan kemampuan deteksi dari AESA radar, IFF, dan IRST ke dalam satu gambaran. Kemampuan Sensor Fusion Gripen, bahkan sudah dipersiapkan dari awal untuk melihat stealth fighter dari jarak BVR.

IRST adalah salah satu kelemahan terbesar USAF, yang entah kenapa membengkalaikan pentingnya tehnologi ini dalam 30 tahun terakhir. Selex ES (baru berganti nama ke Leonardo-Finmeccania), pembuat AESA, dan IRST untuk Gripen, dan Typhoon, sekarang sudah diakui sebagai salah satu pelopor tehnologi IRST terdepan dalam industri militer Barat. Mereka baru saja menandatangani perjanjian dengan Northrop-Grumman untuk mulai memperkenalkan kembali tehnologi IRST ke jajaran pesawat tempur USAF.

IRST untuk Su-35....? OLS-35 hanya dapat melihat sasaran seukuran Su-30, dari jarak kurang dari 35 kilometer (dari depan). Apakah ini artinya F-16, dan Gripen, yang jauh lebih kecil, tidak akan terlihat dari arah depan?


Networking



Bisa dilihat disini, sebenarnya ada TIGA macam kemampuan networking yang berbeda, tetapi sebenarnya juga saling berkaitan satu sama lain:

  • Fighter-to-Fighter Network exclusive untuk pembagian gambaran sensor reading / status secara optimal - adalah kemampuan standard untuk Gripen, dan tidak bisa didapati di pesawat tempur lain, yang masih mewarisi desain tahun 1970-an.
  • Link-16, or National Network lebih untuk pembagian target, dan membedakan kawan, dari lawan, dalam sifat broadcasting antara tiap pesawat tempur dengan masing-masing asset lain, misalnya radar di darat, atau pesawat AEW&C yang sudah terintegrasi dalam satu network. Link-16 BUKANLAH kemampuan membagi informasi yang terintegrasi dalam setiap formasi pesawat tempur seperti TIDLS Gripen di atas. Salah satu desain parameter untuk Gripen-C/D justru adalah kemampuan untuk dapat compatible ke Link-16; karena sebelumnya Gripen-A/B hanya dapat memanfaatkan TIDLS, dan sistem STIRL-90 untuk pertahanan udara Swedia.
  • 2-way datalink untuk BVR missile modern, adalah networking exclusive, biasanya antara pesawat penembak dengan BVR missile yang ditembakkan. Patut diketahui disini, kalau untuk meningkatkan kemampuan kill, setiap BVR missile, akan terlebih dahulu membutuhkan Mid-course guidance, yang didapat dari radar pesawat induk. BVR missile, meskipun dengan Active Guidance, tidak akan bisa efektif kalau ditembakkan dengan tehnik fire-and-forget, karena pesawat target bisa saja sudah berpindah tempat puluhan kilometer ketika missile sampai. 2-way datalink menambahkan kemampuan missile untuk mengirim telemetry data kembali ke pesawat induk, yang lalu bertimbal-balik mengirim update ke Midcourse-guidance untuk mengarahkan missile ke target. 

** Angkatan Udara Russia tidak pernah dikenal dengan kemampuan Networking yang sebanding dengan pesawat tempur Barat. AU Russia sendiri bahkan belum mempunyai pengalaman dalam mengintegrasikan operasional pesawat tempur mereka dengan pesawat AWACS, seperti dapat dilihat dari armada udara mereka di Syria, yang tidak membawa satupun pesawat AWACS.



F-16V Indonesia, kemungkinan besar akan kembali "menikmati" pembatasan tehnologi dalam hal networking, sama seperti sudah diaplikasikan ke F-16 Block-25+ / Block-52ID. Sedangkan Australia, dan Singapore, yang berada dalam Export tier yang lebih tinggi, tentu saja tidak menghadapi kendala yang sama.



Tentu saja, pembatasan export US, atau keterbatasan tehnologi networking Russia, tidak akan relevan dibandingkan dengan sistem Networking di Gripen.

Tidak seperti pesawat tempur lain yang baru menambahkan Networking terminal belakangan, Gripen sudah dilahirkan untuk bekerja dalam Networked defense system. Setiap Gripen akan mempunyai kemampuan untuk memberikan datalink guidance ke semua missile yang ditembakkan Gripen yang lain.



Bukankah sudah saatnya membuat sistem Network Nasional, yang exclusive hanya untuk Indonesia, dibandingkan mengandalkan Link-16 NATO?



Sistem pertahanan Indonesia yang terkoneksi dari Sabang - Merauke seharusnya menjadi cita-cita RENSTRA untuk menjamin keamanan NKRI sampai ratusan tahun ke depan!


Weapons



Pertama-tama, setiap pesawat tempur, kecuali Gripen, akan menderita nasib yang sama: ketergantungan akan supplier senjata dari negara pembuat pesawat!

Kalau memang ingin supaya lebih mandiri, kenapa kita masih mau terus-menerus tergantung kepada US, atau Russia, yang hanya menyediakan pesawat versi export, kemudian mengunci pilihan persenjataan / perlengkapan mereka dengan versi export yang diperbolehkan?


Disini boleh dibilang tidak ada saingan. Gripen akan memberikan KEBEBASAN / KEMANDIRIAN untuk memilih supplier senjata sendiri, bebas dari pengaruh negara penjual!
Choose your own weapon selections!
Tidak perlu beli tergantung negara adidaya manapun.
M E R D E K A !!!
(Gambar: Saab)
Tentu saja, Gripen juga adalah pesawat tempur pertama yang sudah berhasil mengintegrasikan BVR missile terbaik di dunia yang tidak ada bandingannya di negara manapun:


Survivability

Integrated Electronic Warfare Suite. Saab sudah menyatakan kalau ini akan menjadi bagian dari parameter desain Gripen-E. Integrated Defense, dengan Missile Warning, dan laser-proximity warning system yang melindungi 360 derajat di sekeliling pesawat akan memperingatkan pilot kalau ada missile yang "bandel". Tidak penting jenis seeker untuk sang missile mau memakai Infra-Red Seeker, atau Active Radar.
(Saab)
Gallium Niitride-based Jammer akan menjadi titik keunggulan Gripen vs semua pesawat tempur lain yang diperbandingkan disini. Jammer akan menyulitkan deteksi radar pesawat tempur lain, atau mempersulit active radar missile di kelas AMRAAM untuk dapat mempertahankan lock.

Masih belum cukup?

RCS untuk Gripen-E adalah yang terkecil di dunia di luar Stealth Fighter. Ini dikarenakan ukuran yang kecil, desain, dan konstruksi yang sudah dioptimalisasi untuk pengurangan RCS. Dalam pertempuran udara, mau itu jarak jauh, ataupun jarak dekat, fitur ini dengan sendirinya akan jauh meningkatkan Survivability

  • Ukuran, dan RCS yang lebih kecil = lebih sukar dilihat radar pesawat lain, atau, lebih penting lagi, untuk dikunci radar seeker dari missile lawan.
  • Ukuran yang lebih kecil - akan selalu lebih sukar dilihat mata pilot pesawat tempur lawan dalam pertempuran jarak dekat. Tanyakan saja kepada pilot-pilot NATO yang sudah berhadapan dengan Gripen!
  • Pengurangan Infra-Red Signature - dengan sendirinya memperbesar peluang FLARE yang dilepaskan untuk mengecoh WVR missile lawan, dengan Infra-Red Seeker modern. Dalam sistem EWS-39 di Gripen-E, penembakkan Flare akan di-timing secara optimal, berdasarkan sensor feedback, baik dari Laser Warning Sensors, ataupun readings dari Radar, dan IRST.
Titik yang ditunjuk dalam gambar di atas adalah pesawat tempur lawan, dalam jarak kurang dari 12 kilometer. Tergantung arah dari mana pesawat lawan datang, belum tentu dia juga terlihat dalam IRST!

Semakin dekat jarak dalam pertempuran udara, apalagi kalau sudah terjadi merge, atau dogfight, kemampuan deteksi unggulan adalah radar Mk1: Mata pilot! Dan pesawat tempur Twin-Engine RAKSASAseperti F-22, F-15, dan Sukhoi akan selalu lebih mudah terlihat!

Kalau anda sang pilot, apakah lebih baik memilih menerbangkan pesawat twin-engine raksasa yang mudah dilihat, dan pantatnya lebih panas, atau pesawat tempur yang lebih kecil, lebih sukar untuk diikuti mata pilot, dan juga berpotensi lebih mudah menghindari missile Infra-Red seeker lawan?

Jangan lupa, kalau setiap missile, ataupun peluru SANGAT BODOH. Mereka akan selalu menyukai sasaran yang lebih besar, atau pantatnya lebih panas!

Gripen-E akan menjadi salah satu pesawat tempur yang paling sukar untuk di tembak jatuh dalam setiap pertempuran udara!



Penutup

Saab Gripen adalah pesawat tempur yang senang untuk belajar. Sejak dilahirkan di tahun 1993 sebagai pesawat tempur yang dahulunya exclusive untuk pertahanan Swedia, kemampuannya sudah terus-menerus berevolusi tanpa henti. Saab sudah berhasil untuk terus membuktikan kalau setiap kritik dari pihak luar, atau kekurangan yang mereka didapati dalam generasi Gripen yang sebelumnya, dapat selalu dijadikan landasan untuk meng-upgrade kemampuan dalam generasi selanjutnya, untuk memastikan pesawat ini tetap Up-to-date
  • Kemampuan networking agar compatible ke Link-16, didapati dari latihan-latihan udara NATO, dan partisipasi AU Swedia dalam latihan Red Flag 2006, 2008, dan 2013. 
  • Kemampuan Supercruise, dan penambahan IRST dalam Gripen-E adalah basic requirement, yang lahir dari feedback kompetisi pesawat tempur pengganti F-5E di Swiss (2007 - 2012); dan feedback hasil training Gripen-C Swedia vs Eurofighter Typhoon UK.
  • Gripen-C juga sering dikritik karena jarak jangkaunya kurang memadai -- karena itu versi-E akan menambah 40% kapasitas bahan bakar.
  • Swedia sudah melihat dari jauh hari kalau tehnologi Sensor Fusion, yang memadukan AESA radar, IFF, dan IRST dalam satu gambaranakan menjadi standard baru di Abad ke-21. 
  • Keunggulan platform Gripen adalah dapat mengintegrasikan setiap jenis senjata baru dengan lebih cepat, mudah, dan murah. Inilah kenapa Gripen dipilih sebagai testbed platform untuk MBDA Meteor. Swedia hanya perlu membayar biaya integrasi Meteor seharga $170 juta maksimum. Tentu saja, Gripen sudah siap membawa Meteor sejak 18-Mei-2015. Sedangkan untuk integrasi MBDA Meteor di Eurofighter Typhoon, UK harus membayar $154 juta, hanya untuk 1/3 proporsi dari biaya total yang HARUS dibagi bersama Jerman, dan Italy. Yah, biaya integrasi MBDA Meteor di Typhoon HAMPIR tiga kali lipat biaya integrasi untuk Gripen, dan pesawatnya belum akan siap sampai tahun 2017, atau 2018
  • Lihat point terakhir ini: Memilih platform Gripen akan membuka peluang bagi industri pertahanan Indonesia untuk mulai menelusuri kemungkinan pembuatan missile modern di masa depan. Proyek untuk membuat missile sendiri, bukankah jauh lebih realistis dibanding "proyek mercusuar untuk mencoba membuat pesawat tempur sendiri"?
  • Kelebihan terakhir: 
Link: AINonline
Tidak seperti pesawat tempur jenis lain, Gripen bukanlah model tanggung, yang lahir karena terpaksa dari kepentingan politis di negara pembuat. Pentagon US sudah semakin malas untuk terus meng-upgrade pesawat tempur teen fighters, demi melindungi pesawat kacau-balau, yang bernama F-35. Sedangkan Russia sendiri juga mencadangkan Su-35, dan Su-30SM, sebagai generasi perantara, sebelum PAK-FA mulai operasional.

Dengan kata lain, semua pemain lain dalam perbandingan ini hampir tidak bisa bersaing dengan Gripen-E.

Yang menarik disini; Sukhoi Su-35 ternyata semua infografisnya berlumurah darah merah.... Ini tidaklah mengherankan: 
  • AESA radar untuk standard Abad ke-21? Tidak ada.
  • IRST? Hanya dapat melihat target seukuran Su-30 dari jarak kurang dari 35 kilometer; sedangkan IRST buatan Selex ES akan mempunyai kemampuan untuk melihat "stealth fighter" dari jarak BVR (paling sedikit 50 kilometer).
  • Sensor Fusion? Apaan tuh?
  • Kemampuan Networking? Sukar dipercaya! Apalagi mengingat tidak seperti negara-negara NATO, Russia tidak perlu membawa pesawat AWACS untuk Command & Control di Syria (2015), atau di Georgia (2008).
  • Kemampuan kinematis? Tidak akan dapat bersaing dengan F-15C/E, yang sendirinya saja sebenarnya kurang bersaing dibanding F-16C, atau F-18A, yang lebih kecil, dan less drag.
  • Supercruise? Jangan bermimpi seperti Ausairpower!
  • Upgrade?? Sejak 2007 tidak pernah ada incremental upgrade.
  • BVR missile yang bersaing? Seperti kita lihat di atas Baltic, atau di Syria; Russia sendiri tidak memakai R-77, melainkan missile ini:
    Russia's primary BVR weapon: Semi-Active Radar Homing Ukrainian-made R-27 (AA-10 Alamo)
    Sorry... no AMRAAMski...
Yah, Su-35 sebenarnya unqualified untuk memenuhi persyaratan 21st Century Fighter yang sudah didefinisikan dalam blog ini, melainkan pesawat peninggalan jaman Perang Dingin, yang sudah tidak mampu lagi bersaing dari segi tehnologi dibandingkan pesawat-pesawat tempur Barat. Ini bahkan belum menghitung biaya operasionalnya yang akan selangit, ataupun Availability Rate-nya yang terjamin akan sangat parah!


Saatnya kita mulai berpikir lebih serius dalam membangun sistem pertahanan Indonesia yang lebih modern, untuk menghadapi tantangan-tantangan mada depan dalam Abad ke-21 ini. 

Gripen-E, the 21st Air Superiority Fighter adalah satu-satunya pilihan masa depan, yang dapat membawa Indonesia memasuki era pertahanan udara modern, yang M E R D E K A dari pengaruh "apa yang diperbolehkan" oleh versi export kedua negara adidaya.


Credits: Saab - Gripen the Smart Fighter (Youtube)
.... atau perlu menghabiskan waktu berbulan-bulan di negara asalnya, hanya untuk menjalani perbaikan mendalam....
(Gambar: Saab Youtube video)

Biaya penginapan berbulan-bulan + reparasi + transport 
 + komisi perantara
tentu akan mendongkrak biaya operasional >20% lebih mahal lagi,
hanya demi pesawat yang bertehnologi 1980-an!

29 comments:

  1. Bung GI,
    Apakah ada kabar terbaru kalau indonesia akan deal beli gripen E.
    Apakar radar aesa atau irst dapat melihat pesawat siluman seperti apa yg anda utarakan diatas ??

    Seperti kita beli sukhoi yg kata nya bnyak yg melobi untuk membatalkan, apalagi kalau kita beli gripen yg notabenya lebih canggih dari sukhoi. Apakah itu tidak akan membuat indonesia lebih tertekan saol politik yg ada. Saya kurang paham kalau kita beli alutsista itu mesti kurang greget/ masih dibawah dibanding negara tetengga atau apakah itu juga politik dan bla-bla-bla yg dipakai indonesia agar tak buat gaduh kawasan.

    Soal weapon yg bisa dibawa sama gripen adalah yg terbaik karna rudal / misil std nato bisa di instal. . tentu tidak hanya mengandalkan negara a / b saja sebagai supliernya tapi juga ada c-z yg sama juga sebagai pilihan lainya.
    Membuat rudal / misil untuk mensuport gripen juga akan lebih menambah nilai plus buat negara kita.

    Untuk anggaran yg kita punya untuk saat ini, tidak akan mungkin untuk membeli lagi pesawat baru. . dan saya berharap untuk tahun kedepan gripen dan segudang TOTnya lebih diutamakan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung @endo,
      Sepertinya Presiden Jokowi mengisyaratkan kalau kita tidak akan membeli pespur baru dalam jangka pendek.

      Spt sy sudah tulis, sbnrnya kita sudah membeli terlalu banyak pespur sejak 2010, dan kbnykn statusnya belum siap tempur. F-16C/D saja, baru akan siap tempur 2017. Jadi secara tehnis, kalaupun ada kemauan, tidak akan ada kemampuan, baik tehnis, maupun operasional utk menambah satu lagi jenis pespur baru. Itu juga kalaupun uang bukan masalah!

      ## Efek positif lain: Menunda pembelian, baik karena alasan operasional, ataupun operasional, akan semakin memperjelek / memperkecil kemungkinan pembelian Sukhoi di masa depan (!!)

      Karena Su-27/30 kualitasnya emang "ciamik", tinggal masalah waktu sblm lebih banyak borok lain yg merugikan negara semakin bermunculan.

      Pertanyaan "Memangnya kita butuh Sukhoi?" dengan demikian, akhirnya akan terjawab dengan sendirinya tanpa perlu banyak perdebatan, baik di formil, atau di Dephan.

      ## kalau soal pembelian apa yg "bakal buat gaduh kawasan" -- ini akan lebih mempengaruhi pembelian F-16V, atau KF-X.

      Dua2 produk yg tergantung akan ToT, atau kerjasama dari US terjamin tidak akan diperbolehkan melebihi kualitas yg sudah diperbolehkan utk Singapore, atau Australia.

      ## Utk yg masih mengharapkan ToT dari KF-X.... memangnya kita dari 30 tahun mengoperasikan F-16, pernah dapat ToT apa dari US?

      Kalau dari F-16 saja tidak dapat apa2, kenapa berharap bisa dapat sesuatu dari proyek mercusar KF-X?

      ## Sebaliknya dari sisi Sukhoi Russia, apa yg akan menjamin pembelian cicilan 8 Su-35 kemampuannya akan "mengimbangi" versi yg dibeli PRC, yg punya uang utk membeli 24 pesawat tanpa banyak cingcong?

      Yah, demikianlah polemik pembelian pesawat versi export US, atau Russia.

      ## Point terakhir -- pada akhirnya, kalau kita menginginkan penjual yg akan memenuhi semua persyaratan UU no.16/2012, dan akhirnya berhenti bermimpi, utk tidak mau melanggar UU kita sendiri, tentu saja Saab akan menjadi pemenang dalam jangka panjang.

      Dalam hal ini, Presiden Jokowi juga sudah mengisyaratkan kalau pembangunan industri pertahanan dalam negeri akan menjadi satu prioritas utama.

      Spt sdh dibahas, Gripen akan menyelesaikan semua benang ruwet akuisisi Alutsista udara dalam jangkabpanjang, dan akhirnya seluruh Indonesia yg akan menjadi pemenang. Bukan hanya Saab!

      Delete
  2. Min, suka komen di IG nggak tentang military?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya sudah agak lama tidak post komentar di tempat lain.
      :)

      Dari pengalaman saya, biasanya setiap tempat dipenuhi "fanboys" terhadap satu tipe tertentu, yg kemudian menolak mendengar, atau mencoba memutar-balikkan dari laporan faktual dari sumber-sumber berita pihak ketiga yang lebih obyektif.

      Delete
    2. Min, knp ya di Indo banyak yg jadi fanboy Sukhoi

      Delete
    3. ## Pertama, karena terlalu banyak orang terpukau ketika membaca website Ausairpower, yang seperti menggambarkan Sukhoi "tidak terkalahkan".

      ## Kedua, kurang banyak research (di luar Ausairpower!)
      Kenyataannya:
      @ Sukhoi adalah pswt yg sangat bermasalah, dan situational awareness pilot cenderung kurang.
      @Industri persenjataan Russia, yang warisan jaman Soviet, sudah tertinggal jauh baik dalam kemampuan, ataupun tehnologi dibanding industri Barat.
      @ AU Russia sendiri kurang latihan, dan pengalaman.

      ## Ada mentalitas "phobia embargo", tanpa pernah berhenti utk berpikir kenapa embargo US 1999-2005 itu terjadi.

      Padahal kesulitan spare part, atau maintenance utk Sukhoi yg memang haus duit, adalah faktor yg jauh lebih menakutkan!!

      # Terakhir ada mentalitas "mau ambil jalan pintas" agar AU Indonesia dapat "menandingi negara tetangga"; dan Sukhoi yang "tak terkalahkan" dianggap seperti dewa penyelamat.

      Kenyataannya tidak semudah itu.
      AU Singapore, dan Australia jauh lebih modern, sistem / organisasinya jauh lebih rapi, perlengkapan/persenjataan jauh lebih banyak, dan sistem latihan juga jauh lebih unggul.

      Dalam keadaan sekarang, TNI-AU sudah tertinggal hampir 30 tahun, dan puluhan Milyar dollar dibanding kedua negara tsb.

      Pesawat tempur manapun tidak akan dapat menyelesaikan masalah pertahanan Indonesia, tanpa investasi, dan restrukturisasi yang lebih mendalam. Apalagi kalau kita masih terus ingin membeli pesawat versi export dari US (atau Korea -- sama saja), atau dari Russia.

      Delete
  3. Apakabar oom?

    Pengen tau seberapa powerfullkah sistim jammer berbasis material Gan jika dibandingkan dg dedicated. Jamming pod spt pada growler atau knirti?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pertsnyaan yg bagus:

      Sistem Knirti Ruski sudah dibuat dari sebelum 2008. Tidak pernah diupgrade, sedang Russia sendiri tidak pernah berpengalaman menghadapi radar AESA buatan Barat, yg sudah berevolusi ke generasi ketiga sejak Su-35 pertama mengudara.

      Kecil kemungkinannya Knirti juga dapat melumpuhkan guidance system dari missile generasi baru dengan dual-datalink spt AMRAAM-D atau Meteor.

      Jamming pod di SH...

      Delete
    2. ...untuk Australia dalah versi AN/ALQ-214 -- memadukan jammer, RWR, decoy /flare dispenser dalam satu pod.

      Jauh lebih dari cukup utk mengalahkan missile versi export RVV-AE, atau BVR missile standard R-27 yang dipakai Ruski. Mungkin peluangnya jg cukup baik utk mengalahkan AMRRAM-D.

      **F-16V Indonesia kembali, belum tentu akan diijinkan untuk membawa integrated defense pod di kelas yg sama. Baca: kemungkinan besar tidak diperbolehkan.

      Gallium Nitride Jammer di Gripen-E performanya sekurangnya 25-30% lebih efesien dibanding jammer di AN/ALQ-214.

      GaN jammer hanyalah bagian dari EWS-39 defense suite yg dapat melihat "threat" dari 360 derajat di sekeliling pesawat.

      Dan tidak seperti AN/ALQ-214 yg sifatnya lebih independent, sistem EWS-39 juga akan terintegrasi dengan "Sensor Fusion" dari AESA, dan IRST Gripen-E untuk lebih mengoptimalisasi kemampuan pertahanan Gripen.

      Kelihatannya, sistem EWS-39 Saab sudah memetik pelajatan dari sistem Thales SPECTRA Dassault Rafale --- artinya ada kemungkinan jammer di Gripen akan memperpendek jarak deteksi radar lawan.

      Misalnya, kalaupun Irbis-E secara teori seharusnya dapat melihat Gripen dari jarak 90 km, kenyataannya Gripen baru dapat terlihat dalam jarak 40 - 60 km.

      Meteor, atau AMRAAM sudah akan menancap di perut Sukhoi bbro detik sebelum pilotnya pernah bisa melihat Gripen!

      Delete
  4. Pada tabel "networking", disebutkan F-16V kompatibel dg AEW tapi bersifat opsional...maksudnya bagaimana?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung hari,
      F-16V compatible dengan pesawat AEW&C, asalkan versi export untuk Indonesia diperbolehkan untuk memasang MIDS-LVT terminal untuk Link-16 / Link-11 connectivity.

      Kalau tidak, sama saja akan repot untuk menkoordinasi hanya dengan radio.

      Kalau melihat dari apa yg diperbolehkan untuk Block-25+, atau versi Block-52ID, mnrt DPR, dan TNI; kemungkinannya kecil kita mendapat terminal tsb.

      Versi export F-16V Indonesia sudah akan setengah lumpuh dibanding versi upgrade Singapore.

      Contoh lain: Walaupun jenis radarnya sama, dapat dipastikan radar Singapore juga akan bisa melihat versi Indonesia dari jarak yg lebih jauh.

      Delete
    2. Bung hari,
      Maaf, salah satu komentar anda re networking di RTAF tidak sengaja terhapus ketika membersihkan double posting.

      Delete
  5. Min, katanya Gripen itu dijuluki "Sukhoi Killer" ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gripen A/B dirancang untuk mengalahkan Su-27S/SK, dan MiG-29.

      Gripen-C/D menambah kemampuan kompatibilitas ke sistem NATO, sekaligus untuk menandingi semua versi modernisasi Su-27 (Su-27SKM/Su-30MK2) atau generasi baru seperti Su-30MKI, dan Su-35.

      Gripen-C/D dengan MS-20 upgrade tahun 2015/6, menambah kemampuan radar melalui upgrade ke versi PS-05A, memasang MBDA Meteor, sekaligus update fungsionalitas cockpit untuk dapat mengalahkan pesawat di kelas Su-35(!)

      Yah, versi C/D saja sudah jauh lebih unggul dibandingkan semua pesawat tempur yang dimiliki TNI-AU.

      Gripen-E/F akan maju beberapa langkah lagi, untuk dapat mengalahkan pesawat yg RCS-nya rendah (stealth).
      Dengan kata lain, hampir tidak mungkin Su-35, yang pilotnya juga akan sangat kurang latihan berkat biaya operasional yang tinggi, akan dapat mengalahkan Gripen-E.

      Delete
    2. Min, Russia itu punya skuadron tempur yg elit nggak?

      Delete
    3. Mungkin, tapi kita tidak tahu pasti kemampuannya.

      Fakta pertama: mau se-elit apapun juga, tidak ada satupun pilot Rusia yg pernah mempunyai cukup pengalaman untuk mengadu kemampuan dengan pilot NATO, dalam training bersama.

      Alhasil, misalnya, mereka bahkan tidak akan ada cukup pengetahuan, atau pengalaman, bahkan untuk dapat mengalahkan F-16 Block-50+/52+.

      Fakta kedua -- pilot NATO / Barat tidak hanya lebih rajin berlatih, mereka juga sudah mempelajari habis2an kemampuan keluarga Su-27, & MiG-29.

      Guesstimasi kemampuan Su-35, atau PAK-FA, berdasarkan pengetahuan, dan pengalaman ini akan cukup akurat.

      Dengan demikian, rata2 pilot standard NATO akan jauh lebih siap menghadapi lawan, dibandingkan sebaliknya. Segelintir pilot elit tidak akan dapat merubah peta ini.

      Terakhir, kembali tehnologi Russia juga sudah jauh tertinggal.

      Mrk memang berhasil membuat bbrp AESA radar prototype, misalnya... tetapi sangat meragukan kalau mrk akan mempunyai kemampuan untuk menuliskan ratusan ribu, sampai jutaan programming line (Source code) untuk dapat memakai AESA dalam keadaan tempur.

      Dan seperti semua hasil industri pesawat Russia, kualitasnya belum tentu sebanding dengan kualitas hasil produksi industri Barat.

      Delete
    4. Min, Indonesia nggak punya SAM jarak menengah-jauh ya?

      Delete
    5. Betul, Indonesia tidak punya.

      Prioritasnya juga tidak akan bisa tinggi dalam jangka menegah-panjang.

      Harganya, unit tipe manapun juga, akan terlalu mahal.

      Lagipula, secara strategis kita seharusnya memanfaatkan keunggulan geografis negara kepulauan. Setiap asset Alutsista seharusnya bisa disembunyikan di banyak tempat (!)

      Keberadaan satu saja unit SAM di titik tertentu, hanya akan menjadi iklan gratis untuk potential aggressor untuk mentargetkan wilayah tersebut.

      Faktor lain:Kemampuan pengawasan territorial, dan Networking seharusnya jauh lebih penting.. dibanding rencana2 muluk spt SAM, atau membeli pesawat angkut A400, Be-200, atau keinginan membeli pesawat tempur sebanyak2nya (semuanya juga versi export) seperti dalam Renstra versi sekarang.

      Delete
    6. Min, berarti lebih peting untuk kita punya pesawat AEW/AWACS. Kalau begitu tipe pesawat seperti itu yg bagus selain Erieye apa ya?

      Delete
    7. Selain Saab, tidak ada negara / pembuat lain yg menawarkan penjualan pswt AEW&C ke Indonesia.

      Kebetulan Erieye juga akan menjadi produk yg paling ekonomis, sesuai utk keterbatasan anggaran kita. Tetapi kemampuannya juga sudah terbukti, dan tidak akan kalah bersaing vs Boeing Wedgetail Australia, atau radar Elta yg dibawa G550 Singapore.

      Delete
    8. Erieye udh pake AESA, tp kenapa ya petinggi TNI & Kemenhan nggak terlalu tertarik padahal bisa untuk ngelacak Unauthorised flight & illegal fishing/pencurian ikan

      Delete
    9. Penjelasan sederhana:
      ## Sukhoi ditawarkan lewat agen perantara (Rosoboronexport), sedangkan Saab, ataupun Lockheed-Martin ditawarkan langsung lewat Government-to-government deal.

      Delete
    10. Berarti Indonesia lbh milih lewat perantara daripada langsung sesama pemerintah?

      Delete
    11. Dahulu, Swedia, dan US sudah kapok transaksi tidak langsung, antara perantara, dan negara pembeli.

      Kenapa demikian?

      Penjualan lewat perantara memastikan akan ada acara "memberi komisi" ke pejabat2 tertentu.

      "Gripen International" adalah badan perantara yg dahulu dibentuk Saab, dan Bae System utk menjual Gripen.

      Si perantara ini menyogok pejabat di Afrika Selatan sampai 3 - 8% nilai total transaksi 26 Gripen disana.

      Sampai tahun 1970an awal, Lockheed menyogok ratusan juta dollar untuk pejabat di Jerman Barat, Italy, Jepang, dan bbrp negara lain -- agar mrk membeli F-104.

      @Transaksi tidak akan transparan
      @Pejabat sudah pasti akan "pilih kasih"
      @Komisi pejabat, akhirnya dibayar juga dari kantong negara pembeli.

      Inilah kenapa Swedia, dan US sudah kapok. Transaksi terjamin transparan.

      Untuk Russia, tentu mereka tetap menjalankan prosedur yg sama.


      Delete
    12. ...prosedur Russia --- perantara, atau "state intermediaries."

      Delete
  6. Menurut mimin, alusista yg paling bagus itu dari AS, Rusia, atau Eropa?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mudah.

      Kalau mau membeli versi US, atau Russia, sama saja; selamat menikmati model versi export, alias downgrade dibanding apa yg mereka pakai sendiri.

      Eropa tidak mempunyai kebiasaan yg sama. Spesifikasi senjata 100% tergantung hasil negosiasi antara pembeli dan supplier.

      Sekali lagi, serigala akan selalu beranak serigala. Domba akan selalu beranak domba. Ini bukan sesuatu yg dapat diubah!

      Delete
  7. Bung gi.. Baca berita bahwa italia menstop suplay sparepart f-16 buat mesir di karenakan ada warga italia yg terbunuh d mesir.. Kq gampang bgt y bung italia meng'embargo' hanya karena terjadi pembunuhan warganya. Gmn reaksi swedia 'seandainya' ada warganya yg d hukum mati d indonesia. Apakah swedia akan meng'embargo' indonesia jg..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setahu sy, supply spare part, dan delivery F-16 ke Mesir dahulu sempat di tahan langsung dari Washington sendiri. Problem Mesir sbnrnya jauh lebih rumit, mulai dari pelanggaran HAM, sampai bagaimana demokrasi disana skrg sudah tumbang.

      IMHO, eksekusi WN asing bukanlah penentu utama terjadinya embargo, selama proses pengadilan berlangsung adil sesuai hukum yg berlaku, tanpa permainan kotor, dan WNA individual tsb juga sudah mengetahui konsekuensi pelanggaran hukum Indonesia, yg bisa berbuntut hukuman mati.

      Apakah tempo hari Australia, dan Brazil lantas memusuhi Indonesia?

      Tidak, bukan?

      Hubungan diplomatis mungkin sempat mendingin utk bbrp waktu, tapi Super Tucano tetap diantar dari Brazil, sedangkan Australia tetap menghibahkan C-130H mereka ke Indonesia.

      Delete