Wednesday, June 8, 2016

Gripen-E - 21st Century Air Superiority Fighter (1)



Memangnya Lightweight Single-Engine Fighter tidak akan dapat menandingi Heavy Twin-Engine Fighter untuk tugas Air Superiority Mission?

Blog ini sudah memuat sebelumnya, kalau pernyataan hanya Heavy twin-engine yang dapat melakukan tugas Air Superiority, hanyalah MITOS. 




SAAB Gripen-E adalah Lightweight Single-Engine Fighter terbaik di dunia untuk memenuhi tugas Air Superiority Mission!

Blog ini sebelumnya sudah menampilkan perbandingan antara Gripen-E, Su-35, dan F-16V; dalam konteks Indonesia sebagai pemakai utama, ke dalam dua bagian:
Dalam babak kedua, kita juga sudah melihat potensi kemampuan Su-35, dan Gripen-E, kalau digunakan Indonesia, untuk dipertandingkan dengan Super Hornet Australia; sebagai tolok ukur reference threat pertama yang dihadapi Indonesia:
Untuk recap, artikel ini akan mengulang sedikit kenapa Gripen-E akan jauh lebih unggul, jika dibandingkan dengan... F-16V, dan Sukhoi Su-35, alias dua pesawat versi export.



Performa Kinematis


Pertama-tama, saatnya melihat raw data terlebih dahulu. Beberapa informasi yang sudah dipublikasikan dari bermacam-macam sumber untuk masing-masing tipe banyak yang perhitungannya kurang akurat. Apa yang ditampilkan diatas, adalah versi yang paling up-to-date. 

Table perbandingan lain yang pernah ditampilkan di blog ini, akan di-update secara bertahap!

Berikut penjelasan dari table di atas:
  • Semua data untuk berat dicatat dalam Kilogram (kg), sedangkan untuk Thrust power dihitung dalam Newton (N).
  • Catatan: Data untuk Gripen-E sebenarnya belum akan final sampai awal tahun depan, kalau production model-nya sudah menjadi lebih definitif. Bahkan beberapa brosur dari Saab sendiri seperti menunjuk kalau berat kosongnya akan naik dari 6800kg (Gripen-C), ke 8000kg? Ini akan sama saja dengan menghilangkan keunggulan penggantian mesin dari RM12 ke F414. Jadi angka berat kosong untuk sementara akan diisi ke 7000 kg. Lagipula lini produksi Gripen-E dapat dipastikan akan sedikit berubah dibanding sewaktu memproduksi test model 39-8.
  • Berat BVR missile, dan WVR missile standard untuk masing-masing tipe ditampilkan diatas - karena perbandingan berikutnya akan menyertakan perhitungan T/W Ratio, dan Wing-Loading dengan isi tangki 50%, dan membawa 4 BVR, dan 2 WVR missile.
  • F-15SG, dan F-18F ditampilkan di sebelah kanan, sebagai referensi perbandingan untuk ketiga kontestan utama Indonesia. 
Dengan data ini sudah ditangan, saatnya memperbandingkan Thrust-to-Weight Ratio dan Wing-Loading:


"WahThrust-to-Weight Ratio untuk Gripen-E kelihatannya lebih rendah atau kurang bersaing jika dibandingkan dengan Su-35, atau F-16V?"

Memang benar. Tetapi silahkan perhatikan kembali baik-baik infografis diatas! 

Gripen-E adalah satu-satu tipe yang mempunyai desain parameter untuk kemampuan Sustained supercruise Mach 1,1+ dengan membawa Air-to-Air combat load (sekurangnya 6 missile). Ini adalah kemampuan yang tidak dapat direplikasi oleh satupun pemain lain dalam daftar di atas, walaupun T/W ratio mereka lebih unggul.

Kenapa demikian?

Saatnya memperhatikan dahulu "4 Forces" yang harus diperhatikan untuk mengukur performa pesawat.


Penjelasannya cukup sederhana. Mulai dari saat take-off, Engine Thrust sudah harus mengalahkan Drag Rate, untuk mendorong pesawat ke depan. Daya dorong mesin pesawat kemudian menciptakan Lift di sayap, yang membuat pesawat tersebut mempunyai kemampuan untuk mengalahkan beratnya sendiri, dan mengudara. Dalam keadaan terbang, keempat force ini terus-menerus bekerja terhadap pesawat tanpa henti. 

To fly, the aircraft's Engine Thrust, and the generated Lift from its wings must always work together to overcome its own Drag, and weight!

Sekarang saatnya memperhatikan beberapa faktor built-in cheat sheet yang akan selalu memenangkan kemampuan Supercruise Gripen:
  • Thrust-to-Weight ratio hanyalah salah satu panduan dasar dalam perbandingan kemampuan pesawat tempur. Seperti bisa dilihat dari gambar di atas, kalau T/W Ratio, sebenarnya tidak membandingkan dua variable yang saling berlawanan dalam keempat force di atas (!!!).  
  • Perhitungan yang lebih sulit untuk bisa di-quantify adalah Drag coeffecientDalam hal ini, F-16, ataupun Gripen akan selalu mempunyai drag coefficient yang lebih kecil dibandingkan semua pespur twin-engine manapun; membuat keduanya dapat menikmati kemampuan akselerasi yang bersaing, kalaupun T/W ratio-nya lebih kecil. Ini juga karena faktor Area Rule - fuselage, atau tubuh pesawat Lightweight single-engine (Tidak berlaku untuk F-35 yang fuselage-nya Guendut!!) juga tentu saja cenderung akan lebih tipis, less draggy, karena tidak perlu dijejali dengan dua mesin.
FoxTrot Alpha interview:
F-15C dengan mesin PW-220 mempunyai T/W ratio 1.07, dan Wing-loading 358 kg/m2,
masih lebih unggul dibandingkan Su-35
  • Sebaliknya, Drag coeffecient untuk pesawat tempur HEAVY Twin-Engine seperti Flanker, F-15, dan F-18 SH AKAN SELALU JAUH LEBIH BESAR. Inilah kenapa perhitungan T/W Ratio sebenarnya jauh lebih penting untuk Heavy Twin-Engine, karena pesawat di kelas ini harus melampaui dua hukum fisika: Drag Rate yang lebih besar, dan ukuran tubuh yang juga lebih berat!
Credits to website Fighter SweepComparing F-16 vs F-18
Bahkan F-16 Block-30, dan F-18A dapat supercruise in clean configuration,
mengalahkan performa si Twin-Engine bongsor F-15,
yang terpaksa menyalakan afterburner untuk bisa mengikuti!
  • Faktor Cheat Sheet kedua untuk Gripen: Pesawat ini juga akan mendapatkan lebih banyak LIFT FORCE advantage jika diperbandingkan dengan semua model lain yang dibuat di tahun 1970-an. Ratio ukuran sayap juga cenderung lebih besar dibanding ukuran fuselage, dan alhasil, seperti dapat dilihat diatas... angka Wing-loading-nya juga paling rendah dalam konfigurasi apapun.
  • Faktor Cheat Sheet terakhir untuk Gripen: Desain sayap Delta biasanya akan terhitung mempunyai Drag coeffecient yang lebih unggul dibandingkan bentuk sayap konvensional, yang diadopsi F-15, F-16, F-18, dan Sukhoi Flanker. Dalam sejarah, beberapa pesawat bersayap delta, yang walaupun T/W Ratio-nya lebih rendah, ternyata juga mempunyai kemampuan supercruise, atau bersaing dengan pesawat tempur lain.

The magic of Delta-wings


Secara umum, semua pesawat bersayap delta memang selalu lebih optimal untuk dapat terbang supersonic with very little drag, dibandingkan bentuk sayap konvensional seperti yang dipakai F-15, dan F-16. Di masa lalu, keunggulan ini tentu saja disertai kelemahannya tersendiri; sayap delta biasanya akan "...bleed too much energy" sewaktu berbelok. Di jaman sekarang, front canards tentu saja sudah menghilangkan kelemahan ini di ketiga model Eurocanards.

Saatnya memperhatikan beberapa model pesawat lain dengan sayap delta, dengan keunggulannya masing-masing:
  • F-16XL, saingan F-15E dalam program Tactical strike Fighter USAF; sebenarnya juga tanpa disengaja mendapat kemampuan supercruise, berkat keunggulan desain sayap cranked-delta desain. Ini dapat dicapai, bahkan walaupun T/W ratio-nya jauh lebih rendah dibandingkan Gripen.
  • Mirage 2000 juga hanya memiliki T/W ratio sekitar 0.70 at combat load. Beberapa sumber menunjuk kalau kemampuan akselerasi Mirage 2000 memang kurang bersaing dengan F-16 pada kecepatan rendah (dibawah Mach 0.6), tetapi perbedaannya tidak terlalu banyak. Dan kalau mau mulai bermain ke kecepatan transonic tinggi, sampai ke kecepatan Supersonic, kemampuan akselerasi Mirage 2000 dinilai lebih baik dibandingkan F-16.
  • Pesawat penumpang BAe / Aerospatiale Concorde, hanya mempunyai T/W ratio 0,373 -- tetapi berkat desain sayap delta, dan bentuk desain frontal view yang juga low drag tanpa perlu memusingkan kemampuan manuever; pesawat ini sebenarnya menghabiskan waktu mengudaranya dengan terbang lurus dengan kecepatan Supercruise, antara London/Paris - New York.
I used to supercruise... everyday.
Patut dicatat dalam perbandingan di atas; seperti sudah dituliskan sebelumnya, angka T/W Ratio, dan Wing-Loading untuk pesawat Heavy and Draggy Su-35 perbedaannya sangat sedikit dengan F-18F Super Hornet. Sedangkan F-15SG, dengan mesin GE F110-129 yang daya dorongnya lebih kecil, dengan mudah dapat mengalahkan semua parameter Su-35 tanpa ada perlawanan!


Wing Loading


Menarik, bukan, kalau dalam perbandingan Wing-Loading, Su-35 tidak dapat mengungguli satupun juga pesawat tempur lain? Wah, padahal performanya begitu memukau di Airshow.... 

Pesawat ini akan membutuhkan banyak thrust untuk bermanuever in combat load, belum lagi menghitung bentuk yang besar, dan badannya yang berat akan menjadi HUGE DRAG RATE, yang mempersulit manuever cepat. Penalty yang sama sebenarnya juga harus dihadapi F-15SG, dan F-18F. Dan kembali, dalam hal ini, perbandingannya dengan Super Hornet tidaklah besar, sedangkan F-15SG jauh lebih unggul.
Bukankah Su-35 bisa Thrust-Vector-Control untuk manuever?

Thrust-Vector-Control, seperti sudah diungkapkan banyak pilot-pilot Barat yang lebih berpengalaman, dan sudah pernah berhadapan dengan F-22; sebenarnya tidak akan relevan dalam close-combat.
Fox Trot Alpha
Perhatikan kembali grafik di atas mengenai 4 forces yang mempengaruhi kemampuan pesawat!

Thrust-Vectoring = Kecepatan hilang = Tidak ada Lift dari sayap.

Tanpa adanya Lift, Sukhoi tidak akan menyimpan energy kinetic lagi dalam pertempuran jarak dekat. Seperti dituturkan oleh Lt. Col Cliffton diatas: Ini justru akan memberikan kesempatan terbaik untuk lawan membunuh Sukhoi!

"Silahkan saja mencoba TVC! Pesawat anda akan kami hancurkan!"

Inilah faktor resiko lain yang tidak terlihat: Russia belum mempunyai pengalaman untuk mengetes kemampuan Thrust-Vectoring Su-35 mereka, dalam latihan manca-negara, seperti F-22! Alhasil, belum tentu pilot-pilot Russia, yang  standard training-ya belum bisa mengimbangi NATO, akan siap menghadapi pilot-pilot Barat, yang sekarang sudah lebih siap untuk menghadapi pesawat thrust-vectoring!

Sumber:
The Moscow Times, 14-July-2015

Penutup


Gripen-E adalah Air Superiority Fighter, dengan kemampuan kinematis yang bersaing, atau boleh dibilang lebih unggul dibanding kebanyakan tipe pesawat tempur yang dioperasikan di Asia Tenggara. Hanya Dassault Rafale, dan Eurofighter Typhoon, yang sama-sama memakai AESA radar, sayap delta-canard, dan T/W Ratio-nya lebih tinggi, boleh dibilang lebih unggul dibanding Gripen-E. Tetapi perbedaannya tidak akan banyak; dan siapa yang menang antara Gripen, dan kedua saudaranya, akan lebih tergantung kembali kepada..... KEMAMPUAN PILOT.

Artikel ini masih akan mendapat beberapa detail update dalam beberapa hari ke depan. Tapi ini hanya perbandingan performa kinematis yang mendasar. Pesawat tempur tentu harus mengandalkan banyak kemampuan lain.

Artikel selanjutnya akan memperbandingkan parameter lain, mulai dari Sensors, Networking, Defense Suite (and Survivability), dan akhirnya persenjataan.

7 comments:

  1. abis baca di angkasa online J11 Cina dihajar Gripen Thailand...
    kemungkinan bisa terjadi gak tuh SU 27/30 Indonesia dihajar F 18 Aussie...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Su-27/30 yg dibeli Indonesia sbnrnya bertehnologi tahun 1980-an, walaupun versi SKM, dan MK2 menambah bbrp layar LCD.

      Mnrt review pilot Australia yg mengetes Super Hornet di tahun 2002; secara tehnis, flight control Su-27/30 generasi ini sudah sangat jauh ketinggalan jaman(!!)

      Dibutuhkan jauh lebih banyak keterampilan pilot untuk benar2 menguasai Sukhoi, sedangkan Super Hornet yang jauh lebih "user-friendly", dan sangat mudah untuk dikuasai newbie.

      Jadi tidak seperti mitos yg merebak sejak Pitch Black 2012: Sukhoi Indonesia tidak akan dapat menandingi Hornet, atau Super Hornet Australia.

      Sbnrnya hasil latihan Thailand vs PRC juga tidak terlalu mengherankan.
      Bukan saja Gripen-C masih jauh lebih modern dibanding J-11; dan pilot Thailand jauh lebih terlatih dalam latihan mancanegara, dan sudah mengumpulkan lebih dari 5000 jam terbang.

      Kalau dibandingkan dengan Indonesia, yg kewalahan membayar biaya op Sukhoi, tentu saja hasilnya akan lebih parah lagi...

      12 Gripen-C/D, dengan dukungan 2 Saab-340 AEW&C saja, sbnrnya kemampuan tempurnya akan jauh lebih efektif dibandingkan seluruh TNI-AU dalam keadaan skrg.

      Delete
  2. F 16 tni ko cuma punya daya jelajah sekitar 500km aja ya, padahal besarnya ga beda jauh sama gripen. .
    Dan ketika kita akan membeli gripen + awe&c. Kita juga harus beli pesawat tangker juga.

    Saya merasa bila kita juga harus menambah pesawat multirole fighter.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jarak jangkau F-16 vs Gripen sebenarnya hampir sama: 4,000 km+

      Range untuk F-16V mungkin masih lebih baik, karena sudah diperlengkapi CFT (Conformal Fuel Tank).

      Dalam testing, dikabarkan kalau CFT di F-16 walaupun seharusnya lebih berat, dan draggy; tidak mengurangi kemampuan manuever lebih dari beberapa persen, atau menurut pilotnya "hampir tidak terasa".

      Yang menjadi masalah -- adalah fleksibilitas untuk air-to-air refueling.

      Kebanyakan pesawat tanker di dunia adalah berbagai variant dari KC-130; (versi TNI-AU KC-130B), dan pesawat ini hanya bisa memakai probe-and-drogue refueling system.

      F-16 hanya bisa memakai Flying boom; seperti semua pespur USAF yang lain.

      Untuk flying boom, kebutuhan pesawat tanker-nya dengan sendirinya akan menjadi lebih mahal.
      KC-767 (Boeing 767-based tanker), atau KC-30 (Airbus A330-based) --- dua2nya harganya mendekati $200 juta / unit.

      Mengingat keterbatasan anggaran Indonesia, kita akan lebih memungkin untuk menambah KC-130, dibanding "bermimpi" membeli KC-30, atau KC-767 -- apalagi mengingat salah satu KC-130B kita sudah jatuh di Medan tahun lalu.

      ## Kemungkinan tambahan KC-130 adalah pesawat bekas -- prediksi sy, KC-130F ex-US Marine yang dalam tahap dipensiunkan.

      ## Agak lucu kalau mendengar ada bbrp pernyataan "jumawa" kalau Indonesia "tidak boleh membeli pesawat bekas". Padahal sepanjang sejarah, kita sudah banyak mengoperasikan pespur bekas, tanpa pernah banyak masalah.

      -- 32 A-4H Skyhawk -- adalah ex-AU Israel; baru diakuisisi tahun 1980-an awal, padahal sudah berhenti diproduksi sejak tahun 1960-an; dan kemudian masih beroperasi tanpa banyak masalah sampai akhir tahun 1990-an.

      -- Sewaktu kita menghibahkan MiG-21 ke US; sebagai gantinya kita mendapat gantinya CAC Sabre dari RAAF Australia bekas (model ini sbnrnya terlalu tua) -- beroperasi dari tahun 1970 - 1985 -- digantikan F-5E.

      Untuk kedua tipe ini saja sebagai contoh, belum pernah ada yang jatuh; padahal 3 - 5 BAe Hawk-209 beli baru, kemudian 1 pesawat dari T-50 beli baru, Super Tucano beli baru, dan beberapa KT-1 beli baru, semua sudah berjatuhan sebelum 5 tahun operasional.

      Wah, topik jadi sedikit ngelantur.

      Air-to-Air refueling, dan kebutuhan untuk membawa CFT / drop tank, akan lebih bersangkutan dengan fleksibilitas yang diperlukan di saat konflik.

      (Bersambung dibawah)

      Delete
    2. Jarak jangkau

      Banyak yang menuliskan juga, jarak jangkau F-16, atau Gripen terlalu pendek -- makanya kita butuh Sukhoi(!!)

      Argumen jarak jangkau ini tidak relevan, karena kita justru lebih membutuhkan pesawat tempur untuk Self-Defense, bukan seperti negara-negara NATO, yang sekarang menggunakan pespur untuk mengebom target ribuan kilometer jauhnya di territorial negara lawan.

      Dalam misi pemboman, tentu kombinasi payload/range dari pespur Twin-Engine di kelas F-15E akan selalu lebih unggul, tapi dalam misi Air Superiority, terutama untuk Defense of own's terriotry, jarak jangkau menjadi kurang relevan untuk membenarkan pembelian pespur twin-engine manapun.

      Yang dibutuhkan adalah fleksibilitas tinggi untuk dapat melakukan Interception, yang secepat mungkin, jadi jarak markas pespur saja sbnrnya tidak boleh terlalu jauh dari titik yang hendak dijaga. Dan agar interception dapat selesai dengan cepat, dibutuhkan pespur yang dapat terbang secepatnya untuk mencapai titik tersebut.

      Seperti kita lihat dalam table infografis diatas, Sukhoi memerlukan 11,500 kg internal fuel, dan menambah 2 drop tank 2000 liter, untuk mencapai jarak 4,500 kilometer.

      F-16, dan Gripen dapat mencapai 4000 kilometer, dengan internal fuel hanya 3000 kilogram, dan membawa 2 tangki 2000 liter.

      Jarak yang diperbandingkan disini adalah Ferry Range -- jarak jangkau maksimum untuk terbang dari titik A ke titik B, sebagai panduan dasar.

      Membandingkan combat radius relatif akan terlalu sulit, karena ini akan tergantung mission profile, lamanya on-station, dan jumlah combat load yang dibawa.

      Dari sini saja, kita bisa melihat, kalau dalam keadaan standard saja; mesin buatan Ruski, yang memang tidak pernah dikenal hemat bahan bakar, akan menghabiskan hampir 4x lipat lebih banyak bensin, dibanding F-16, dan Gripen.

      ===> Konsumsi operasional saja sudah selangit!!

      =================================
      Dalam keadaan tempur, Sukhoi yang heavy, & draggy akan selalu lebih boros, karena akan perlu lebih rajin menyalahkan "afterburner" -- sedangkan F-16, dan Gripen, yang drag ratenya lebih kecil, akan selalu jauh lebih hemat bahan bakar, karena dapat terbang lebih cepat dengan membawa combat load, tanpa perlu terlalu sering menyalakan Afterburner.

      Jadi kesimpulannya dalam keadaan tempur:
      ## Apalagi kalau harus melakukan Interception, dan perlu menyalakan afterburner, jarak jangkau Sukhoi akan menciut jauh lebih banyak dibanding F-16, dan Gripen.

      ## Gripen justru akan menjadi pilihan yang lebih hemat lagi, dibanding F-16; karena dapat terbang Supercruise tanpa perlu menyalakan afterburner. Terus-menerus supercruise, tentu saja juga akan lebih boros bensin, tetapi kuncinya disini adalah fleksibilitas untuk dapat sampai ke titik yang lebih jauh dengan lebih cepat, dalam flight profile yang jauh lebih optimal.

      Jadi dalam keadaan armada sekarang:
      # F-16 Indonesia tidak bisa air-to-air refueling, tapi bisa membawa 2 - 3 drop tank besar; terlalu draggy untuk pertempuran udara.

      # Sukhoi-27/30 tahun 1980-an tidak bisa membawa drop tank.
      Bisa mengisi bahan bakar di udara dari KC-130B, tetapi mengingat konsumsinya juga lebih boros, dan tangkinya lebih besar; akan terlalu cepat menghabiskan supply bahan bakar yg tersedia.

      Seperti kita bisa lihat, kebutuhan Indonesia untuk fleksibilitas jarak jangkau justru akan lebih terpenuhi oleh.... Gripen-E, yang lebih hemat bahan bakar, dapat membawa drop tank, dapat melakukan air-to-air refueling, dan terakhir...

      .... kalau tidak cukup bahan bakar untuk kembali ke Lanud besar, atau terlalu jauh dari pesawat tanker, juga akan dapat mendarat ke salah satu landasan Forward Operating base, alias penjelmaan dari landasan perintis terdekat.

      Asalkan ada 1 tehnisi, dan 5 orang terlatih yang siap melayani "kebutuhan darurat" Gripen, dan fasilitas support yg bisa dibawa dalam 1 truk saja; Gripen sudah dapat mengudara kembali dalam 10 menit!

      Delete
  3. Yup betul sekali bung GI,.
    Yang diherankan adalah sukhoi yg kita anggap sebagai 1st fighter class adalah pespur yg berteknologi era 80an.
    Belum pernah terdengar sukhoi kita mengintercept pespur negara tetangga,.berbeda sama f16 vs f16 / f18 amerika, walau kelihatannya konyol dan tak seimbang tapi itu adalah sebuah intercep yg wow.

    Gripen sudah complete karna udah bisa serang udara, darat dan pengintaian. Dan saya berharap bukan hanya tni au saja yg mengoprasikan gripen E, tapi juga tni al kita punya skuadron gripen. Untuk gripen sendiri, ada berapa jenis/ merek rudal anti kapal yg bisa di instal selain rbs 15.

    A4 skyhawk yg sudah pensiun, kurang lebih kita mengoprasikan 30 thn dan itupun adalah bekas pakai, hal yg luar biasa
    Sedangkan hawk 109/209 yg kita beli baru, palingan 10 thn lagi harus pensiun.

    Untuk pesawat tangker sendiri, syuKur dapat hibah lagi . ga neko² yg penting masih lyk oprasional. Kan bisa untuk mensuport gripen

    Dan kenapa f 16 hibah kita belum datang ? Kenapa kita menyukai sukhoi yg boros ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Bung endo
      "Kenapa kita menyukai Sukhoi yang boros?"

      Ini perpaduan antara beberapa hal:
      ## Ada pemikiran kalau Sukhoi seperti penyelamat dari embargo US.
      Yah, tetapi gitu2 F-16 tidak pernah perlu dikirim balik ke US, untuk menjalani "perbaikan mendalam", seperti TS-2701, TS-2702, dan TS-3006.
      Malahan di tengah masa embargo, spt sudah anda tuliskan, TNI-AU sebenarnya malah mengejutkan dunia, dengan dapat mengudarakan 2 F-16 bersenjata lengkap untuk mencegat 5 F-18 US Navy --- sudah kalah jumlah, menderita embargo, masih berani menantang juga!

      ## Kedua, favoritisme; beberapa kalangan, baik dalam TNI, ataupun di Media massa, seperti meng-"anak emas"-kan, atau mem-favoritkan Sukhoi.

      Ini sbnrnya menggelikan, karena service record Sukhoi boleh dibilang paling parah dibanding semua pespur lain yg pernah dioperasikan Indonesia.
      - Biaya operasional terlalu mahal, sampai mulai sungkan untuk dipakai.
      - "Perbaikan mendalam" di Russia bisa berbulan-bulan, sebab-penyebabnya tidak pernah diberitahukan. Spt diatas, belum pernah ada pesawat buatan Barat yg pernah mengalami nasib serupa.


      ## Ketiga, Sebagian ini dikarenakan kebanyakan orang salah kaprah, kalau membaca berita2 ttg Sukhoi di Media Barat.

      Media Barat, atau blog2 Barat biasanya selalu mengkritik pesawat / persenjataan / perlengkapan-nya sendiri; dan untuk itu mereka akan selalu membutuhkan lawan "yang tak terkalahkan", untuk memperlihatkan apa yang perlu diperbaiki.

      Sebaliknya, media Russia (kebanyakan milik pemerintah), atau kebanyakan juga blog2 militer di Asia (termasuk Indonesia) -- biasanya selalu memuat berita-berita yang positif.
      Apa yang kita beli, apa yang kita miliki sudah HUEBAT!
      Contoh: "Australia gundah dengan modernisasi Indonesia".

      Sayangnya, ini konsep pemikiran yang salah!
      Kalau segala sesuatu yang sudah kita miliki itu hebat, berarti tidak akan ada dorongan / inisiatif untuk melakukan upgrade, atau improvement untuk meningkatkan kemampuan dong?

      Tinggal berleha-leha sendiri -- toh, kita sudah hebat!

      Sayangnya contoh pernyataan kalau "Australia gundah" itu salah sudah salah besar.

      Kita sebenarnya jauh ketinggalan jaman; kurang latihan, belum pernah berinvestasi untuk merancang sistem pertahanan Abad ke-21, dan dari segi fasilitas / persenjataan / perlengkapan juga serba minimal; sementara Australia dapat membeli barang-barang mewah seperti C-17, KC-30, dan 450 missile AMRAAM-D, yang tidak ada tandingannya di seluruh Asia.

      Kenapa Australia harus gundah kalau kita membeli Su-35?

      Yah, demikianlah... kenapa kita harus mulai bangun dari mimpi dahulu, dan menyadari kekurangan2 sendiri!

      Delete