Sunday, June 5, 2016

Akhirnya... titik terang pertama untuk masa depan pertahanan udara Indonesia?

Demikianlah cuplikan awal dari pernyataan Marsekal TNI Agus Supriatna, seperti sudah dimuat dalam Antara News.

Pengakuan jujur akan kelemahan sendiri akan selalu menjadi dasar, atau awalan yang baik sebelum akhirnya melakukan perubahan diri, agar dapat mencapai cita-cita yang diinginkan. Kalau selamanya tidak mau mengakui kelemahan kita sendiri, bukankah kita sebenarnya hanya membohongi diri sendiri?

Lupakan dulu mau membeli pesawat tempur apapun!

Kelemahan utama pertahanan udara Indonesia sebenarnya adalah:

"Kita belum mempunyai, atau bahkan belum pernah memulai merancang bangun SISTEM Pertahanan Udara; yang akan dapat menjawab semua tantangan geografis, finansial, dan strategis bangsa!"

Sistem - inilah yang membedakan Angkatan Udara yang akan siap tempur, atau tidak. 

Ini artinya bukan hanya semata bisa dijawab dengan memperbanyak jumlah pesawat tempur, radar, persenjataan, atau segala fasilitas lain. Tanpa sistem yang baik, ini hanya akan seperti membangun istana mewah, dan megah di atas pasir --- tidak ada pondasi / dasar yang kuat. Ditiup angin sepoi-sepoipun, istana mewah yang kelihatan manis kalau di-parade-kan itu juga akan hancur tak tersisa. 

SISTEM pertahanan yang baik, akan menjadi dasar yang kuat untuk pertahanan Indonesia yang modern. Ini tidaklah mudah. Kita harus terlebih dahulu memperhitungkan faktor-faktor berikut:

Pertama, Pengawasan territorial 100%. Ini sebenarnya sudah diakui dalam pernyataan beliau diatas: 
  • Apakah kita dapat memastikan untuk mempunyai kemampuan pengawasan wilayah udara Nasional 5,5 juta kilometer yang sudah optimal?
  • Untuk bisa mengirim pesawat tempur untuk mencegat lawan, bukankah kita sebarusnya tahu dahulu dimana penyusup, atau agressor itu berada?
  • Inilah kenapa Kebutuhan untuk pesawat AEW&C sebenarnya JAUH LEBIH PENTING dibanding terus menambah lebih banyak pesawat tempur.
Saab-340 AEW&C at Swedish AirForce Show 2010:
(Gambar: Wikimedia)
Erieye Radar - Inilah satu-satunya fasilitas AEW&C yang ditawarkan ke Indonesia!
Kedua, Komunikasi, sekaligus Standardisasi Asset. 

  • Kalau kita sudah mempunyai kemampuan untuk dapat melihat masuknya "ancaman penyusup" seperti dalam point pertama, apakah kita kemudian dapat mengkomunikasikannya, melalui Networking ke masing-masing asset pertahanan udara?
  • Apakah masing-masing asset tersebut dapat dipastikan sudah akan compatible untuk bekerja dalam satu Network?
  • Apakah masing-masing asset tersebut dapat dipastikan bisa saling mendukung satu, dengan yang lain.... dan TIDAK AKAN SALING TEMBAK dalam konflik?
  • Tidak kalah pentingnya, apakah masing-masing asset tersebut sebenarnya mempunyai sistem training, persenjataan, atau operating procedure yang seragam satu, sama lain?
Networking: Kemampuan untuk mengkomunikasikan letak / posisi lawan,
dan untuk membagi target ke setiap asset yang compatible dalam SATU SISTEM!
(Gambar: Saab)
Ketiga, kesiapan tempur. 
  • Seberapakah optimalnya kita akan dapat memanfaatkan masing-masing asset yang akan menjadi bagian dari Sistem baru Indonesia
  • Apakah masing-masing personil sudah mendapat cukup TRAINING, yang kualitasnya bersaing dengan Standard NATO
  • Apakah biaya operasional masing-masing asset juga tidak akan mencekak keterbatasan anggaran pertahanan kita?
  • Apakah fasilitas support, inventory stock management, dan persenjataan juga sudah lengkap, dan siap?
  • Atau lebih penting lagi.... apakah kita mempunyai senjata yang tepat untuk menghadapi tantangan pertahanan poros maritim Indonesia?
Exhibit 1: RBS-15 anti-ship subsonic cruise missile,
yang sudah ditawarkan untuk diproduksi sendiri di Bandung!
(Gambar: Wikimedia)

Terakhir..... baru membuat strategi pertahanan yang cohesive
  • Apakah sudah ada SOP (Standard Operating Procedure) dalam situasi Emergency? 
  • Dari SOP ini sendiri, sudah siapkah masing-masing asset untuk menghadapi bermacam ancaman dari luar? Mulai dari statusnya penyusup kategori ringan (hanya pesawat capung), ataukah apakah sudah siap menghadapi puluhan pesawat tempur lawan? 
  • Apakah pesawat tempur sudah siap dipangkalkan untuk menjaga masing-masing titik strategis yang diinginkan?
  • Apakah SOP itu sendiri cukup flexible, untuk dapat diadaptasikan dengan mudah untuk menghadapi strategi lawan yang sudah siap?
  • Panglima tentara agressor dapat dipastikan akan langsung menghantam Lanud Iswayudhi, Sultan Syarif II, Supadio, dan Sultan Hassanudin dari Hari Pertama. Apakah kita sudah siap menghadapi tantangan ini?
Kenapa kita butuh peawat tempur untuk Perang Gerilya?
Karena setiap Spy Satellite akan dapat melihat semua pesawat di setiap Lanud utama Indonesia!
(Gambar: Swedish Air Force)
Seperti kita bisa melihat sendiri, pertahanan udara Indonesia dalam keadaan sekarang sebenarnya belum siap menghadapi tantangan ancaman dari luar yang benar-benar serius. Ini sebenarnya tidaklah terlalu mengherankan; kenyataannya kita memang belum pernah menghadapi kemungkinan agresi dari luar, yang pernah mencoba mengancam integritas NKRI.


Lebih lanjut, Marsekal Agus Supriatna sendiri dalam artikel Antara News di atas, mengungkapkan kebutuhan pesawat tempur TNI-AU di masa depan adalah sebagai berikut:

Setuju. 
Bukankah akhirnya kebutuhan pesawat tempur Indonesia di masa depan akhirnya menjadi lebih jelas?

Kebutuhan mendasar di masa depan, untuk mengawasi 5,5 juta kilometer wilayah udara Indonesia, adalah 4 pesawat tempur yang dapat membentuk fast-response team, untuk mengawasi masing-masing ALKI Indonesia, atau titik-titik strategis lain, sesuai kebutuhan. 

Pesawat yang dapat melakukan tugas ini sebenarnya SUDAH SIAP, biaya operasionalnya sendiri tidak akan mencekak anggaran seperti tipe yang lain, sudah ditawarkan melalui skema yang transparan, dan akan didukung paket kerjasama jangka panjang dari pembuatnya, dengan industri pertahanan kita sendiri!


Indonesia's own 21st Century Fighter? 
Tehnologi modern, biaya operasional terjangkau, dan kemampuan deployment tak tertandingi
(Gambar: SAAB)
Negara kita sebenarnya tidak akan memerlukan lebih banyak dari 80 pesawat maksimal, atau 5 Skuadron Udara, kalau akhirnya memilih Gripen-E sebagai pesawat tempur masa depan penjaga kedaulatan territorial negara. Masing-masing Skuadron akan dapat mengerahkan detachment 4 pesawat secara bergantian, untuk di-rotasi dalam menjaga Natuna, Batam, Aceh / Medan, Ambalat, Kupang, dan Biak; untuk memastikan penjagaan masing-masing titik ini selama 24 jam setiap hari sepanjang tahun.


Efek Gentar yang lain: Prosedur Rotasi Gripen semacam ini, akan sangat sangat meningkatkan kemampuan Training dan Deployment pilot, dan staff; dan membuat masing-masing Skuadron Udara tidak hanya akan spesialis untuk bisa menjaga wilayah di sekitar Lanud pangkalan mereka saja, tetapi juga seluruh territorial Indonesia tanpa terkecuali. Di saat konflik, masing-masing personil setiap Skuadron akan mempunyai kemampuan yang JAUH LEBIH OPTIMAL untuk dapat bekerja-sama satu dengan yang lain berkat pengalaman ini.

Dengan biaya operasional yang hanya 67% dibandingkan F-16C/D, dan dapat dioperasikan dalam JUMLAH EKONOMIS yang optimal, Indonesia tidak akan memerlukan anggaran yang jauh lebih besar dibandingkan sekarang untuk menabung 150 - 200 jam terbang latihan per pesawat, per tahun dengan armada Gripen-E.

Kebutuhan 5-Skuadron Gripen di masa depan akan dibahas lebih mendalam dalam artikel lain. Kenyataannya, pesawat tempur non-export version inilah yang akan berpotensi menjadi pra-sarana utama pembangunan SISTEM Pertahanan Indonesia di masa depan.


Berita baik terakhir: Indonesia belum tentu akan membeli Sukhoi


Demikianlah pernyataan anggota Komisi I DPR, TB Hassanudin, pada Selasa, 31-Mei yang silam, seperti sudah dilaporkan Kompas.

Akhirnya.... 

Tidak hanya kemampuan Sukhoi Su-35 sebenarnya belum tentu akan sesuai iklannya, biaya operasionalnya akan mencekak anggaran, dengan problem logisik yang merepotkan, dan kita juga akan hampir mustahil akan mempunyai kemampuan untuk mengoperasikan Sukhoi Su-35 seperti yang diharapkan. 

Lagipula, Su-35 Kommercheskiy Indonesia tidak akan mungkin "dapat mengimbangi" F-18F Superhornet Australia, yang pilotnya sudah mengantongi jauh lebih banyak pengalaman, dan Training; dan Angkatan Udaranya sendiri juga jauh lebih modern, dan mempunyai SISTEM yang jauh lebih rapi.

Yah, kenyataannya Sukhoi, variant manapun, memang sebenarnya tidak pernah sesuai untuk kebutuhan nyata pertahanan Indonesia. 
  • Spare part-nya harus dibeli lewat Rosoboronexport, dan kemungkinan harus dikirim hanya dengan memakai Antonov AN-124 langsung dari Russia. Tidak hanya prosedur ini akan membuat biaya operasional setinggi langit, tetapi lead time-nya akan menjadi terlalu panjang. Kecil kemungkinannya Sukhoi akan siap tempur kalau dibutuhkan.
  • Tentu saja, kita juga sudah terpaksa mengirimkan balik tidak kurang dari empat pesawat untuk menjalani "perbaikan mendalam di Russia" selama berbulan-bulan. Kabar terakhir: Su-30MK2 TS-3006 akhirnya baru saja kembali ke Indonesia setelah menjalani perbaikan semacam ini. 
  • Belum lagi menghitung kalau TS-3001, dan TS-3002, alias dua Su-30MK dari pembelian di tahun 2003, sudah lama tidak kelihatan, dan kemungkinan sudah mengantri untuk menjalani perbaikan mendalam yang serupa dengan TS-2701, TS-2702, dan TS-3006.
  • Kebutuhan yang merongrong seperti diatas, tentu saja akan membuat biaya operasional Sukhoi melesat melewati Rp 500 - 600 juta / jam.... untuk pesawat bertehnologi tahun 1980-an, yang tidak akan bisa di-upgrade, dan umur airframe-nya akan segera kadaluarsa dalam 10 tahun mendatang, atau jauh lebih dahulu dibandingkan F-16 yang produksi tahun 1980-an.
Coming Soon: Dead Indonesian Sukhois....
(China-defense.blogspot)
Inilah kenapa pembatalan rencana pembelian Sukhoi, kalau akhirnya terjadi, akan menjadi KEMENANGAN bagi seluruh rakyat Indonesia.  

Pilihan pesawat tempur masa depan Indonesia, seyogyanya akan menjadi pilihan yang lebih mementingkan kebutuhan kita -- dan bukan versi export negara adidaya; dari pembuat yang akan serius dalam menjalin kerjasama jangka panjang, dengan industri pertahanan kita.

11 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
    Replies
    1. sepertinya TNI AU sudah mulai malas memkai sukhoi bung GI

      http://bangka.tribunnews.com/2016/05/31/operasional-shukoi-mahal-tni-au-siagakan-t50-dan-super-tucano

      Delete
    2. Bung @Irman,

      Trmksh atas Link-nya.

      Sangat menarik kalau Marsekal Supriatna juga menyebut kalau biaya operasional F-16 saja terlalu mahal, apalagi Sukhoi.

      Sbnrnya yg menjadi masalah disini, F-16 memang juga tidak semudah itu untuk dapat dipindah2kan ke Forward-Operating-Base (FOB) seperti di Natuna. Versi C/D yg lebih rumit juga kebutuhan logistiknya akan membesar dibandingkan dengan versi A/B yg selama ini dioperasikan sejak tahun 1989.

      Seperti dapat kita lihat dari operasi2 Internasional NATO, F-16 membutuhkan landasan udara standard NATO yg mewah, dengan landasan pacu yg panjang & mulus; juga fasilitas support, dan service equipment yg lengkap.

      Biaya operasional F-16 tentu saja akan melonjak naik di Natuna, atau semua tempat lain, kalau TNI-AU tidak dapat berinvestasi utk meng-upgrade setiap FOB tersebut ke level kelengkapan yg sama dengan Lanud Iswayudhi. (!!)

      Langkah ini tidak akan optimal, dan hanya akan membuang lebih banyak uang lagi, bukan?

      T-50 yang lebih sederhana boleh dibilang lebih bandel; krn kebutuhan logistiknya dengan sendirinya lebih kecil. Sayang, dari 16 unit yg dibeli, sbnrnya hanya 4 pesawat dari versi TA-50 yg membawa 3-barrel 20-mm cannon (versi sederhana dr M61 di F-16), dan dapat dipersenjatai utk Combat Air Patrol. Sisanya, yah, hanya bisa untuk pesawat latih, atau patroli ringan tanpa senjata.

      Kesemuanya ini semakin menunjuk kalau kebutuhan dasar TNI-AU ini akhirnya hanya akan bisa terpenuhi dengan Gripen-E.

      TNI-AU tidak akan perlu berinvestasi berat utk meng-upgrade setiap Lanud; hampir semua landasan perintis sudah cukup utk menjadi FOB utk Gripen, dan perlengkapan support utk 4 pesawat dapat dipindah2kan cukup dengan 1 CN-235.

      Dan berbeda dengan Super Tucano, atau T-50; Gripen-E yg pilotnya sudah terlatih, dan sudah dipersenjatai dgn lebih lengkap, akan mempunyai kemampuan utk menghancurkan Sukhoi Su-35 PLA-AF, yang dalam beberapa tahun lagi, akhirnya akan mulai bermunculan di atas Laut Cina Selatan.

      Delete
  2. Keliatannya kendalanya justru dari dalam kemenhan sendiri: doktrin peperangan yang sudah usang dan doktrin kalo indonesia tidak punya musuh dari luar yang akan menyerang ke indonesia, makanya beli alutsista juga tidak pernah di kaji dengan matang...
    kesannya ngasal gitu kaya beli su 27/30, kanon giant bow, TD 2000 apa pernah dikaji secara mendalam ????

    sebatas opini orang awam aja nih...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung @reader,

      Pembelian Su-27/30 itu sbnrnya didasari trend "panic buying" gara2 embargo militer US yg terlalu lama (1999 - 2005).

      Sy sendiri dahulu juga ikut terpengaruh dngn pemikiran seperti ini:
      "Kalau US tidak mau menjual senjata / /spare part ke Indonesia, kita kan juga bisa BEBAS berpaling ke supplier dari Russia! "

      Untuk sementara waktu, sy juga sbnrnya pernah menjadi Sukhoi fanboyz, yg senang menggeluti website Ausairpower, yg sepertinya menggambarkan Sukhoi yg tidak terkalahkan!

      Bukan main senangnya waktu itu kalau berpikir Indonesia akan membeli pesawat yg "tidak terkalahkan!"

      Sayang!
      Sebenarnya pemikiran semacam ini adalah pelajaran yg SALAH dari pengalaman di-embargo!!

      Sukhoi yg dideskripsikan dalam website Ausairpower sendiri, stlh lebih banyak mempelajari sumber berita lain yg independent, ternyata boleh dibilang hanyalah produk fiktif imajinasi penulisnya.

      Sukhoi yg nyata tidak akan mungkin sesuai untuk menjawab kebutuhan / keterbatasan kemampuan Indonesia.
      # Pswt ini sendiri terlalu bermasalah, dan akibatnya saja biaya operasionalnya selangit!
      # Kedua, tidak akan mungkin ada Angkatan Udara yg mampu mengoperasikan Sukhoi seefektif yg dideskripsikan di Ausairpower.

      Masakan kita juga mau melompat dari supplier US ke Russia?
      Ini sih namanya seperti melompat dari mulut Harimau, ke mulut Naga berkepala sepuluh!!

      Pelajaran yg seharusnya kita ambil adalah belajar untuk lebih mandiri!
      Bukan terus menerus tergantung kepada kedua supplier negara ex-adidaya...

      Pelajaran kedua adalah:
      Sudah saatnya mulai berencana jangka panjang secara obyektif!.
      Tarik nafas pelan2, lalu mengkaji ulang... apakah yg sbnrnya kita butuhkan dalam jangka panjang utk mencapai kemandirian, sekaligus mencapai target modernisasi.

      Untuk itu, negara kita dituntut utk harus belajar.... dan petama2 berpaling dahulu ke pihak yg memang selalu lebih netral secara politik ke posisi kita yg terjepit!

      EROPA -- darimana kita selalu lupa, kalau sudah mendapat banyak kerjasama, berbagi ilmu / ToT, mulai dari senapan SS-2, sampai CN-235.

      Eh, ternyata pemerintah sebelumnya malah mengejar proyek "kemandirian" dengan menandatangani proyek KF-X / IF-X dengan Korea, sementara terus main mata dengan Sukhoi Russia.

      Negara pembuatnya saja tidaklah independent secara politik, tetapi murid setia US, yg selalu menyembah Washington DC. Wong, tentara US saja masih terus mangkal disana sejak tahun 1950-an!

      Kalau belum cukup parah, Korea juga sama sekali tidak mempunyai kemampuan / pengalaman membuat pespur. Proyeknya sendiri, mulai seperti pesawat jadi2an buatan anak kecil, yg tidak memperhitungkan biaya, resiko, atau keterbatasan sendiri.

      Apakah Korea pernah berhenti dahulu, dan bertanya,
      "Apakah yg dikau butuhkan dari pespur ini, Indonesia?"

      Tidak akan pernah terjadi, bukan?

      Mrk sudah sibuk membuat spesifikasi sendiri, desain sendiri "yg harus compatible" dengan semua pespur buatan US yg mereka miliki, yg masing2nya juga jauh lebih modern, dan tidak akan diijinkan untuk dijual ke Indonesia.

      IMHO, proyek KF-X akan sama spt Sukhoi.
      Tetap saja akan tergantung kepada tehnologi kedua negara adidaya, utk produk yg tidak akan pernah sesuai dengan realita kebutuhan / keterbatasan Indonesia.

      Delete
  3. Tambahan sedikit:
    ====================
    Apa yang akan kita butuhkan di masa depan adalah pesawat tempur yg paling bisa di-Indonesia-kan semaksimal mungkin!!
    ====================

    Bukan KF-X yg dibuat untuk memenuhi ambisi pribadi Korea..

    Bukan versi export dari F-16, atau Sukhoi; dua pswt yg juga dibuat untuk memenuhi kebutuhan pembuatnya masing2!

    Untuk ketiga pilihan diatas, sampai selamanya juga kita tidak akan diperbolehkan utk mengutak-ngatik satu pakupun!


    ....melainkan pesawat tempur yg paling bisa memenuhi kebutuhan Indonesia yg unik, sekaligus memboyong kemajuan tehnologi / industri pertahanan kita ke Abad 21!

    ReplyDelete
  4. Betul sekali bung.
    Pejabat dari Tni Au sendiri saja sudah menyadari bahwa biaya oprasional f 16 lumayan mahal apalagi sukhoi yg bisa 3x lipat.

    Indonesia membutuhkan pesawat yang mobile, irit , mudah perawatan dan murah biaya oprasional. Berfikir cerdas

    Ada yang bilang kalau kita beli gripen 1 skuadron itu tidak mempunyai efek gentar ketimbang beli 8 unit sukhoi, itu jelas fikiran orang bodoh yg terlalu menggilai sukhoi.

    Senjata yg dibawa gripen juga gahar², bahkan kalau bisa kita sudah stock semua jenis rudal atau misil yg sudah bisa dipasang ke gripen.

    F 16 kita biasa bawa aim 9 dan mau akan bawa arraam c7, mungkin sudah kurang menggigit lagi untuk kawasan, berbeda kalau gripen yg bawa meteor dan rudal sekelas aim 9 yang buatan afrika.

    Yoo mungkin masalah disini hanyalah soal kelanjutan senjata saja, pihak saab akan memberikan tot tentang rbs 15'nya.
    Andai kata kita kurang be

    ReplyDelete
    Replies
    1. bung @endo,
      ==================
      Ada yang bilang kalau kita beli gripen 1 skuadron itu tidak mempunyai efek gentar ketimbang beli 8 unit sukhoi, itu jelas fikiran orang bodoh yg terlalu menggilai sukhoi.
      ==================

      Paham semacam ini sbnrnya didasari miskonsepsi universal di setiap forum, baik di Indonesia, maupun di luar negeri: "Twin-Engine lebih superior daripada Single-Engine".

      Dahulu, ketika sy mulai posting (di salah satu forum) kalau Twin-Engine itu sbnrnya tidak akanlebih hebat dibanding Lightweight single-engine; banyak suara yg memprotes, walaupun tidak ada yg berhasil membuat counter-argument yang berarti.

      Yah, semuanya ini salah F-4 Phantom II di tahun 1960-an... :)

      Amerika tidak belajar dari Perang Vietnam, kalau Phantom II sebenarnya harus berjuang mati2an untuk mengimbangi MiG-17, MiG-19, dan MiG-21 Vietnam.

      Sudah menjadi rahasia umum, kalau F-22, dan F-15 terutama, adalah anak emas para "Top brass" (para Jenderal) USAF; sedangkan pilot2 USAF sendiri sebenarnya berpendapat kalau F-16 adalah pespur Air Superiority yang lebih unggul dibandingkan F-15.

      Di lain pihak, Soviet-pun begitu terpukau dengan kemampuan F-4 Phantom II...

      Mereka lupa, kalau Phantom yang bongsor sebenarnya selalu kesulitan menghadapi MiG-21 mereka yang lebih lincah.
      (IMHO, MiG-21 adalah pesawat tempur terbaik buatan Soviet!)

      Dan bukannya mereka membuat versi dari MiG-21 yang lebih unggul lagi, seperti F-16; eh.... mereka akhirnya malah membuat Sukhoi Su-27, dan MiG-29; dua-duanya pesawat twin-engine; yang jauh lebih rumit, dan dengan sendirinya; maintenance-nya jauh lebih berat dibandingkan MiG-21.

      Yah, demikianlah caranya F-4 "merasuki" dunia dengan konsep kebohongan kalau Twin-Engine adalah pespur yang lebih efektif.

      Sy sedang menuliskan artikel lain ttg kenapa Gripen justru akan menjadi "the ultimate Air Superiority Fighter".

      Hanya kedua Eurocanards twin-engine yang lain; Eurofighter Typhoon, dan Dassault Rafale yang akan lebih unggul dibanding Gripen-E dalam hal performa kinematis; tetapi perbedaannya tidak akan terlalu banyak -- dan akhirnya semuanya akan bergantung kepada... kemampuan pilot.

      .... padahal kembali; maintenance requirement, dan biaya operasional untuk Typhoon & Rafale juga hampir 4x lipat dibanding Gripen -- dan Gripen juga akan dapat terbang lebih sering setiap hari.

      Dengan kata lain, pilot negara pemakai Gripen yang serius akhirnya akan dapat mengantongi jauh lebih banyak jam training dibanding pengguna SEMUA pesawat tempur dari jenis lain. Dan kemampuan ini akan terlihat kalau benar terjadi konflik!

      Delete
  5. Dan disini apakah kita bisa berkerja sama dengan suplier rudal dari beberapa penyuplai rudal pwsawat gripen untuk memberikan tot kepada kita supaya kita bisa bikin rudal/misil yg berotak . tentu itu juga akan memberikan efek gentar tersendiri. Bila perlu kita minta lisensi kepada negara tersebut ( minta bahan bakunya trus di rakit di indonesia ) . itu lebih realistis dari pada kita minta kepada amerika atau rusia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Link Kompas.

      Yah, mereka memang sudah menawarkan perakitan RBS-15 untuk dilakukan di fasilitas PT DI di Bandung; walaupun variant-nya belum di-informasikan lebih detail.

      Versi paling modern dapat dipakai dari kapal, atau ground launcher (Mk III); atau ditembakkan dari Gripen (tipe -F ER); dengan jarak jangkau 200 kilometer.

      "It's always been part of Saab's strategy to have Industrial Cooperation" --- pernyataan resmi dari Saab sendiri.

      Spt sy sudah pernah tuliskan, sebenarnya aneh, kalau sudah puluhan tahun menjaga wilayah udara Indonesia, yang notabene negara maritim, TNI-AU bahkan tidak pernah men-stock anti-ship missile.

      Satu-satunya yang dibeli hanyalah Kh-31 (versi export) buatan Russia -- itu juga jumlahnya hanya 10 unit.

      Yah, kita akan membutuhkan RBS-15 mengingat keadaan di Laut Cina Selatan terus memanas.

      Lagipula service life missile (bisa disimpan di gudang) ini sendiri 30 tahun, dengan hanya membutuhkan 1 overhaul.

      Delete
  6. Min, kalo nggak salah koran Kompas pernah bahas tentang Gripen-E

    ReplyDelete