Monday, May 9, 2016

Supplemen: Daftar Export Tier untuk Pespur buatan US


Artikel ini adalah supplement dari artikel sebelumnya: Top 5 F-16 versi Exportuntuk memahami lebih mendalam latar belakang kebijaksanaan export policy dari pemerintah US di tahun 2016 ini.

Setiap negara yang dianggap bersahabat dengan US, dan diperbolehkan untuk membeli senjata dari mereka, sebenarnya menduduki suatu ranking tier yang tidak tertulis, tetapi sebenarnya adalah Rahasia Umum.

Benarkah Indonesia berada dalam Tier-6?

Ini sebenarnya bukanlah sesuatu buruk, tetapi untuk memahami lebih lanjut....




Tier 1 - Very close Allies

Negara-negara sekutu terdekat US, yang sehidup-semati, didorong oleh karena keakraban secara sejarah, kepentingan politik, yang menghadiahkan komitmen kekal untuk mendukung kesemuanya.

Salah satu yang paling menonjol dalam Tier ini, adalah permintaan Australia, Israel, dan Jepang, yang merasa mempunyai exclusive access untuk mengajukan permohonan pembelian F-22 versi export, dalam nama mempertahankan Regional QME (Qualitative Military Edge). Walaupun sebagaimana kita tahu, permohonan ini ditolak; permintaan politik ketiganya secara tidak sengaja sebenarnya sudah menggarisbawahi sebagaimana keakraban mereka dengan US.

UK sendiri tidak pernah mengajukan permintaan untuk membeli F-22. Untuk apa? Pemerintah UK sendiri sudah mendapat cukup banyak informasi / feedback, baik dari pilot maupun industri pesawat mereka.... Eurofighter Typhoon akan jauh lebih dari cukup untuk "mengimbangi" F-22. So why bother?

Contoh lain - AMRAAM-D.

Sebagaimana sudah di-post sebelumnya, Australia adalah satu-satunya negara yang dapat membeli AMRAAM-D, yang lebih modern dibanding AMRAAM C7 untuk export. Akan membutuhkan waktu beberapa tahun, sebelum negara-negara di Tier-2, dan Tier-3A mendapat ijin untuk membeli AMRAAM-D; dan lebih lama lagi untuk negara-negara di Tier yang lebih terbawah untuk memperoleh akses ke versi ini.

Terakhir, tentu saja keempat negara ini mempunyai HAK Ekslusif untuk membeli F-35A/B/C yang sekali lagi, akan menjadi versi Export.



Tier 2 - NATO Allies

Negara-negara yang sudah menandatangani perjanjian NATO, tentu juga mendapatkan exclusive content untuk paket export yang terbaik. 

Sama seperti dengan Tier-1; negara NATO Tier-2 biasanya sudah saling mengerti dengan pemerintah US untuk paket export apa yang diperbolehkan, dan apa yang tidak. 

Kalau perlu, bahkan pemerintah US bisa menawarkan subsidi untuk memastikan negara-negara NATO membeli senjata dari mereka.

Sama seperti negara-negara di Tier-1; semua negara dalam grup ini, asalkan punya uang cukup, mempunyai hak untuk membeli F-35A/B/C versi Export.




Tier 3A

Negara-negara sahabat baik yang non-NATO, yang seperti di dua Tier diatas; diperbolehkan untuk membeli F-35A/B/C versi Export.

Perbedaannya, boleh dibilang negara-negara di tier ini harus pintar-pintar bernegosiasi kalau meminta yang terlalu macam-macam (contoh: Korea dengan KF-X), karena bukan tidak mungkin, US akan menolak apa yang mereka minta. Dengan kata lain, belum ada cukup saling pengertian antara kedua belah pihak, seperti antara US, dengan negara-negara di Tier-1, dan 2.

Faktor lain - tidak seperti negara-negara NATO, keempat negara ini boleh terbilang juga belum dapat cukup dipercaya sepenuh hati oleh pemerintah US. Lihat saja contoh Korea yang mencoba menjual T-50 ke Uzbekistan! Ini adalah dosa yang tidak akan diampuni dalam jangka menengah-panjang, dan tidak tertutup kemungkinan, kalau pemerintah US akan lebih berhati-hati lagi dalam Tech Transfer mereka ke Korea, terutama berkaitan dengan KF-X.

Filipina masuk ke daftar ini, tetapi seperti kita tahu, mereka tidak punya uang, bahkan untuk membeli F-16. 



Tier 3B - Non NATO Allies with strategic importance

Negara-negara sahabat baik non-NATO yang mempunyai posisi strategis yang penting untuk kepentingan US.... terutama di Timur Tengah. Tidak seperti negara-negara di ketiga Tier di atas; negara-negara ini TIDAK DIPERBOLEHKAN untuk membeli F-35, atau jenis-jenis senjata top-tier tententu; tetapi mereka masih akan diperbolehkan untuk membeli versi terbaik dari F-15, F-16, atau F-18 Super Hornet.

Faktor pendukung utama untuk masuk ke Tier ini, adalah UANG....$$$$

Tambahan: Melihat spesifikasi yang ditawarkan US untuk F-16IN India, boleh terbilang, US menginginkan India agar masuk ke Tier ini. Tentu saja, India tidak sebodoh itu mau membeli export model dari US.



Tier 4 

Negara-negara sahabat baik di lapis ketiga yang akan mendapat kemewahan tertentu, tetapi tidak cukup dipercaya. 

US tidak pernah menganggap baik Mesir, maupun Pakistan sebagai sekutu yang dapat dipercaya 100%, apalagi dari segi politik dalam negeri keduanya. Tetapi, apa boleh buat, karena kepentingan strategis regional; mereka harus cukup memanjakan kedua negara ini.

Contoh faktor pemberat:
Pembelian tambahan F-16 Block-52+ Pakistan, sudah sering diblokir di US Senate.
Kudeta di Mesir, juga menjadi penghalang delivery untuk F-16, dan M1A1.

Patut dicatat disini, kalau kedua negara ini sebenarnya juga masih menikmati milyaran dollar subsidi untuk pembelian senjata US, yang biasanya dipergunakan untuk membeli F-16. 

Alasannya sederhana; Untuk Mesir, ini adalah salah satu syarat agar mereka menandatangani perjanjian damai permanen dengan Israel. Hasilnya: Armada F-16 Mesir adalah yang keempat terbesar di dunia, tetapi tidak mempunyai kemampuan untuk menembakkan AMRAAM, agar tidak mempunyai kemampuan menantang Angkatan Udara Israel.

Sedangkan untuk Pakistan? US akan sangat membutuhkan bantuan mereka untuk mencoba menghancurkan Taliban. UAV (drone) US, seperti kita tahu, juga banyak melancarkan operasi-operasi pembunuhan di Pakistan.

Paling tidak, Pakistan masih dapat sedikit lebih lunak; F-16 Block-52+ mereka boleh dibilang kemampuannya bersaing dengan versi Turki, Maroko atau Korea Selatan - tetapi tentu saja, mereka tidak akan diijinkan membeli sebanyak Mesir!


Tier 5

Negara-negara lapisan export yang berikutnya. Belum dapat cukup dipercaya untuk memperoleh top spec, seperti F-16 Block-50+/Block-52+, tetapi US masih menginginkan mereka untuk tetap akrab.

Latar belakang negara-negara tier ini sama; tidak ada satupun yang pernah mengambil posisi antagonis terhadap kebijaksanaan pemerintah US, tetapi juga tidak pernah terlalu akrab secara politik / militer, dengan US. Thailand bahkan masih dianggap sekutu dekat US, tetapi masih ditempatkan di tier ini, karena alasan finansial, dan internal politik.



Tier 6 - Indonesia, dan Argentina

Dua negara ini hanyalah contoh yang boleh dianggap adalah teman baik US, tetapi sampai kapanpun belum akan dipercaya untuk membeli pespur yang tehnologinya cukup bersaing dengan versi negara tetangga. Alasannya karena faktor strategis - US tidak ingin Tier-6 mempunyai kekuatan yang cukup dapat mengancam sekutu favoritnya di kawasan yang sama; dan mungkin karena negara-negara disini biasanya sudah pernah menimbun dosa lama.

Berikut adalah timbunan hutang masa lalu Indonesia, yang belum akan dilupakan begitu saja dengan mudah:
  • Pemerintah Orde Lama sebenarnya pernah mencoba mengadu domba pengaruh antara pihak Soviet, dan US. Pembelian besar-besaran Alutsista dari Uni Soviet di tahun 1960-an, dan kemudian mengambil posisi antagonis terhadap rencana berdirinya Federasi Malaysia - dan mencoba menantang kekuatan gabungan Commonwealth (Inggris, Australia, NZ) adalah perbuatan yang akan selalu membuat pemerintah US was-was!
  • Pemerintah Orde Baru, dan Timor Timur. Kedua faktor yang menjadi penentu utama terjadinya embargo 1999 - 2005! Singkat cerita, sepak terjang Orde Baru di tahun 1990-an untuk memperkeruh suasana dalam negeri, maupun di Timor Timur - sebenarnya hanya menambah hutang masa lalu, yang semakin tidak enak di mata pemerintah US.
  • ..... kemudian juga rencana pembelian Su-30KI di tahun 1997, sebagai tindakan balasan Orde Baru; dan belum selesai disana, disusul pembelian 16 Sukhoi tehnologi tahun 1980-an di tahun 2000-an. Tindakan ini justru mengingatkan US, kalau Indonesia sebenarnya belum dapat cukup dipercaya untuk mendapatkan yang terbaik yang diperbolehkan untuk export.
F-16V Indonesia untuk versi downgrade... eh, export itu bukan lagi kalau, tetapi suatu kepastian. Lockheed-Martin sendiri menyatakan kalau mereka menginginkan Indonesia membeli F-16V, dengan alasan utamanya agar membuat lini produksi F-16 tetap terbuka sampai beberapa tahun ke depan.

Membeli versi yang terbaik? Oh, belum boleh!

Sedangkan Argentina? Ini tidak perlu dijelaskan panjang-panjang. US tidak akan pernah menjual senjata apapun yang memberikannya kemampuan untuk menantang yuridikasi UK atas Falkland.


Tier 7

Hubungan dengan US sudah mulai akrab kembali, dan bukan tidak mungkin US akan mulai menawarkan penjualan senjata ke negara-negara tier ini, terutama untuk mulai menggantikan persenjataan buatan ex-Soviet.

Tetapi membeli F-16.... tunggu dulu! Ini belum akan diperbolehkan dalam waktu dekat.


PENUTUP


Export Tier untuk penjualan senjata US ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan kemungkinan Indonesia dijatuhi embargo oleh US. Seperti sudah dituliskan diatas - dua faktor utama yang menjadi pengganjal kemungkinan terjadinya embargo lagi sekarang sudah tidak ada: Orde Baru, dan Timor Timur.

Sekali lagi, dari segi motivasi politik, sudah tidak ada lagi alasan kenapa US mau menjatuhkan embargo militer ke Indonesia, bahkan dalam jangka panjang. Bahkan US sebenarnya membutuhkan Indonesia, sebagai customer setia tambahan untuk tetap bergantung kepada F-16.

Saat ini US masih menimbun ratusan F-16 di AMARC - yang kesemuanya masih dapat ditarik dari gudang, diperbaiki, dan di-upgrade, untuk menjadikannya alternatif murah untuk Indonesia, kalau memang prioritasnya kuantitas, diatas kualitas. Dan bukan tidak mungkin, pemerintah US akan memainkan kartu F-16 bekas ini, apalagi kalau kelak anggaran pertahanan Indonesia menjadi bokek karena mengoperasikan 2 skuadron Su-27/SU-30/Su-35, tetapi tetap berkeras membutuhkan 8 skuadron tempur yang lain.

Hanya saja, US belum dapat cukup mempercayai Indonesia dengan semua latest tehnology yang tersedia. Butuh waktu untuk menghilangkan faktor terakhir ini, dan ada kemungkinan memang untuk selamanya, US akan terus menomor duakan Indonesia dari segi akuisisi senjata dibanding negara-negara yang dianggap sekutu dekat, seperti Australia (Tier-1), atau Singapore (Tier-3).

Berkaitan dengan KF-X yang 90%-nya akan mengandalkan Tech Transfer dari US; sudah bukan rahasia lagi, kalau US tidak akan memperbolehkan semua tehnologi transfer yang disetujui untuk Korea, akan diturunkan ke Indonesia. 

Lihat daftar tier diatas! 
Negara dari Tier-6, tidak akan mendapat exclusive rights yang sama dengan negara Tier-3A -- yang sudah dipercaya untuk membeli F-35!

Baik Indonesia, ataupun Korea, sebenarnya membohongi diri sendiri sewaktu menandatangani kontrak ini. Bukan tanpa alasan beberapa suara di Korea sudah mulai menyalahkan Indonesia, menjadi salah satu alasan kenapa Tech-Transfer untuk KF-X dipersulit. Walaupun dilain pihak, ini adalah kesalahan Korea sendiri. Meminta beberapa tehnologi, seperti AESA radar dari US, sebenarnya bagaikan kodok merindukan bulan.

Catatan Akhir:

Inti dari artikel ini bukan berarti membenarkan Indonesia justru harus membeli dari Russia. Ini dikarenakan dua faktor utama:
Tentu saja, US menikmati hibah MiG-21 ex-Indonesia ini, dan mengetesnya secara intensif di 4477th Test and Operational Squadron.


Anggota 4477th Squadron berpose bersama MiG-21 F-13.
Apakah unit yang di gambar ini mungkin adalah salah satu model ex-Indonesia?!?
(US Air Force Photos, Wikimedia)

No comments:

Post a Comment