Sunday, May 22, 2016

Sukhoi Su-35 Kommercheskiy Indonesia vs Boeing F-18F Super Hornet Australia (updated)

RAAF F-18F Landing in Victoria Air Show 2013 (Wikimedia)
Su-35 hard landing (Credits: SKYRAIL)
tidak akan membuat Indonesia dapat menandingi RAAF Australia,
yang kemampuannya "State-of-the-art"

Training


Super Hornet (SH) dirancang untuk dapat dioperasikan secara ekonomis di atas kapal induk US Navy, yang dapat beroperasi berbulan-bulan di laut lepas secara independent. Fasilitas reparasi / service di kapal induk, tentu saja tidak akan bisa selengkap seperti di pangkalan darat, dan spare part dituntut untuk dapat tahan lama. Alhasil, menurut research IHS Jane's ; biaya operasional SH adalah yang termurah untuk twin-engine fighter; $11,000 per jam.

Patut dicatat terlebih dahulu, kalau research IHS Jane's ini hanya bisa dianggap sebagai Guidance, atau panduan; BUKAN referensi mati yang tidak bisa ditawar!

Semua pesawat tempur yang diperbandingkan dalam referensi Jane's di atas, dioperasikan oleh Angkatan Udara dari negara yang:
  • Mengoperasikan lebih dari 100 unit dari pesawat tempur tipe tersebut untuk mencapai Nilai Ekonomis Operasional yang maksimal, dan...
  • Memiliki pabrik produksi pesawat tempur tsb; dan dengan demikian supply chain untuk spare part, dan consumable pesawat mereka akan jauh lebih optimal.
Negara lain yang harus meng-import tipe-tipe pesawat tempur tersebut, dengan sendirinya akan melaporkan biaya operasional yang sekurangnya 50% lebih tinggi, apalagi untuk beberapa tahun pertama. Seperti contoh Australia dibawah.

Disinilah biaya operasional itu sendiri mulai mengigit..

Australia yang mengoperasikan hanya 24 SH, melaporkan biaya operasional $24,400 / jam di tahun 2007. Sebenarnya tidak mengherankan kalau angka ini berbeda dua kali lipat, dibandingkan angka yang dilaporkan US Navy.

Pertama-tamaAustralia membutuhkan waktu untuk membiasakan diri terlebih dahulu dalam mengoperasikan SH; untuk mempelancar supply chain, dan inventory management RAAF untuk men-support tipe pesawat tempur baru. Yah, Super Hornet sebenarnya pesawat yang berbeda dengan F/A-18A/B; sama seperti Su-35SK adalah pesawat yang berbeda dengan Su-27SK.

Kedua, JUMLAH yang dioperasikan Australia, tidak akan pernah dapat menyamai Nilai Ekonomis US Navy, yang mengoperasikan lebih dari 400 pesawat. Bahkan, satu kapal induk US saja biasanya membawa 3 – 4 skuadron (36 – 48 pesawat) SH, atau lebih banyak daripada total jumlah yang dioperasikan Australia.

Dewasa ini, seharusnya biaya operasional SH dengan sendirinya sudah menurun, karena Australia semakin terbiasa. Ditambah lagi, pemerintah Australia sudah mengumumkan pembelian 12 EA-18G Growler (SH tipe jammer). Keputusan ini akan meningkatkan nilai ekonomis pemakaian SH Australia. Kita dapat mengambil kesimpulan aman kalau dalam jangka menengah, biaya operasional SH Australia akan turun ke level $14,000 (estimasi terendah) - $18,000 / jam (estimasi tertinggi).

Australia tentu saja memanfaatkan nilai ekonomisnya SH dalam bentuk latihan yang lebih banyak menurut standard NATO, yang mencapai 170 jam / tahun. Masih ditambah lagi, Super Hornet sudah menjadi langganan latihan-latihan udara di Malaysia, Thailand, dan Pitch Black Australia, dan akhirnya mulai dikirim ke latihan Red Flag US, sejak awal tahun 2016 ini.


Patut dicatat juga, pilot-pilot SH Australia juga sudah mendapat pengalaman dalam mengikuti misi tempur untuk membom ISIS di Syria, dan Iraq. Memang, kebanyakan misi ini adalah misi pemboman, tetapi pengalaman yang didapat pilot Australia dalam misi-misi seperti ini, tidak dapat di-subsitusi dengan latihan macam manapun juga.

Kembali ke Su-35 SKI... 

Su-35 tidak pernah dirancang untuk biaya operasional yang murah, karena masih diproduksi dari warisan sistem Soviet. Estimasi biaya operasional Su-35 sekitar $40,000 - $50,000 / jam di Russia, yang tentu saja sudah jauh lebih terbiasa mengoperasikan ratusan anggota keluarga Flanker sejak tahun 1980-an.

Dengan Indonesia hanya mengoperasikan 8 - 10 versi Kommercheskiy model, biaya operasional tentu saja akan jauh dari nilai ekonomis. Indonesia harus mengimport spare part, supply chain-nya juga akan jauh lebih panjang, dan lead time untuk delivery juga jauh lebih lama. Belum lagi menghitung komisi Rosoboronexport, atau lapisan perantara lain, yang tidak perlu dibayar di Russia sendiri.

Inilah kenapa biaya operasional Su-35SKI, sekurangnya akan mencapai $80,000 / jam; dan bukan tidak mungkin bahkan bisa menembus $100,000 / jam.

Tentu saja, kalaupun uang bukan masalah, sangat meragukan kalau Indonesia akan bisa mendapatkan paket training yang comprehensive untuk dapat memanfaatkan Su-35 semaksimal mungkin. Sedangkan Russia sendiri, kalaupun mau, belum tentu bisa mengajarkan bagaimana caranya mengalahkan SH, seperti yang dituliskan cerita dongeng ilmiah Ausairpower.
  

Pemenang: Super Hornet


Pilot adalah yang penentu utama efek gentar pesawat tempur manapun. 
  • Inilah kenapa faktor TRAINING akhirnya akan selalu menjadi penentu utama kehebatan setiap pesawat tempur, dan bukan sebaliknya.
  • Inilah juga kenapa negara-negara NATO, dan Australia, akan selalu memperioritaskan sistem training yang lebih comprehensive, dan jam latihan yang selalu lebih banyak dibanding semua negara lain.

Anak SD-pun sudah bisa melihat, perhitungan matematika yang sederhana antara Indonesia, dan Australia sudah tidak mungkin bisa seimbang bukan?


Kesimpulan disini mudah. Pilot Indonesia TIDAK AKAN PERNAH dapat mengimbangi jumlah training, atau pengalaman yang bisa didapat pilot SH Australia. Seperti sudah dituliskan sebelumnya, Su-35 justru memperlemah kemampuan Indonesia! 

Dan seperti dalam perbandingan sebelumnya, kemampuan training kedua belah pihak akan turut menentukan score yang bisa didapat di babak selanjutnya.


Sortie / Availability Rate


US Navy (USN) boleh terbilang paling unggul daripada angkatan manapun didunia (yah, termasuk USAF) dalam hal men-support pesawat jauh dari rumah. Kemampuan ini sudah dipupuk oleh pengalaman yang sudah didapat sejak tahun 1934, dan disempurnakan selama perang Pasifik (1941 – 1945).

F-18 Super Hornet, yang sudah dirancang dari awal untuk dioperasikan dari atas kapal induk USN, tentu saja mempunyai salah satu design goal untuk High Operasional Tempo. Maintenance / Service sudah diharuskan untuk mudah, karena seperti disinggung diatas, kapal induk US tidak akan kembali ke pelabuhan selama berbulan-bulan. Spare part tambahan, kalau perlu, tentu saja dapat dikirimkan via pesawat transport C-5 Greyhound.

Australia tentu saja mewarisi kemudahan ini. F-18F SH dilaporkan mempunyai availability rate yang hampir 99% selama operasi di Iraq.

Pemenang: Super Hornet


Untuk Su-35…. Tidak perlu ditulis terlalu banyak. Design goal dari pesawat ini tidak pernah diperuntukkan operational tempo yang tinggi, seperti untuk operasi-operasi militer NATO.

Belum tentu akan ada satupun pesawat, dari 8 Su-35 yang akan siap terbang sewaktu-waktu. Sebaliknya, dalam keadaan paling parah, Australia, yang mempunyai sistem logistik yang jauh lebih unggul, akan selalu memiliki sekurangnya 20 pesawat siap terbang setiap saat. Masing-masingnya juga dapat membawa 8 x AMRAAM-D, dan 2 x AIM-9x Block-2. Ini belum lagi menghitung kesiapan terbang EA-18G mereka, yang mempunyai kemampuan mengacaukan radar, dan membungkam seluruh sistem pertahanan udara lawan.

Sensors


F-18F Block-2 yang dibeli Australia, sudah datang standard dengan AN/APG-79 AESA radar, sedangkan Su-35 hanya diperlengkapi dengan Irbis-E PESA radar, yang walaupun mempunyai kapasitas peak power 20 kW, tetap saja dibatasi oleh keterbatasan desain -single-frequency; gelombang radarnya akan mudah dilihat, atau dikacaukan dengan jammer pesawat ISW Barat.

Patut diketahui lebih dahulu, kalau jarak jangkau AESA radar sebenarnya dirahasiakan oleh para pembuat. Angka-angka yang dituliskan di Ausairpower adalah guesstimate. Secara resmi, hanyalah ada beberapa pengumuman simpang siur, seperti misalnya kalau jarak jangkau, dan kemampuan deteksinya bisa melebihi radar pulse-doppler kuno 70 – 80%. Banyak yang menyebut kalau sensitifitas radar AESA akan memungkinkan mencari cruise-missile yang RCS-nya kurang dari 0,1 m2 "from BVR-range"

Dari sini saja, kita hanya bisa mengambil kesimpulan aman, AESA radar yang sudah tersedia dari Northrop-Grumman, Raytheon, Selex ES, atau Elta – jarak jangkaunya akan mengimbangi, atau mungkin bisa melebihi IRBIS-E yang hanya tipe PESA. Apalagi mengingat kalau tidak ada satupun yang merasa "terancam" dengan pengumuman kemampuan Irbis-E -- jarak jangkau 400 km, untuk RCS 5m2.

Seperti sudah di-post dalam perbandingan Gripen-E vs Su-35; kemampuan Low Probability to Intercept dari radar AESA akan jauh lebih sukar untuk dilihat defense suite / ESM Su-35.

KNIRTI SAP-518 ECM, kalaupun tidak di-downgrade saja, sebenarnya dibuat berdasarkan basis tehnologi yang lebih rendah, pre- 2007. Belum tentu sistem ini akan dapat melihat gelombang radar AN/APG-79, apalagi kalau pilot Su-35 level training-nya belum mencukupi.

ATAU....

Pilot Super Hornet Australia tidak akan perlu menyalakan radar sampai saatnya menembakkan AMRAAM-D (!).

Tidak seperti dalam cerita fantasy Ausairpower, AN/APG-79, yang dipadukan dengan kemampuan ESM, dan RWR Super Hornet, akan mempunyai kemampuan passive tracking dari gelombang radar Irbis-E. 

... dan dengan demikian, pilot Sukhoi yang menyalakan radar single-frequency, dengan kapasitas maksimum output 20kW seperti IRBIS-E, yang seperti menyalakan lampu senter ditengah kegelapan; hanya akan "mengkhianati diri sendiri"; memberitahukan posisi, dan jarak pesawat mereka ke lawan.


Kelemahan utama SH: pesawat ini belum diperlengkapi built-in IRST! US Navy saja sedang dalam tahap menguji IRST jenis baru, yang akan dipasangkan ke drop tank di centreline SH. Konfigurasi seperti ini akan kurang optimal jika dibandingkan Eurocanards, atau Sukhoi, karena SH akan diharuskan untuk terus membawa drop tank; bukan opsi yang bagus dalam pertempuran jarak dekat.
OLS-35 IRST: Link
The only advantage of Sukhoi Su-35 against Super Hornet, BUT....
Yah, brosur resmi dari OLS-35 menyatakan kemampuan untuk melihat target.. "dengan ukuran Su-30" dari depan, hanya kurang dari 35 kilometer. Rangefinding atau kemampuan untuk men-lock target dengan missile akan kurang dari 20 kilometer. 

Untungnya, Super Hornet paling tidak ukurannya akan sebanding dengan Su-30; sama-sama pesawat tempur twin-engine yang besar, dengan drag rate yang besar pula. Akan tetapi, sayangnya, jarak deteksi OLS-35 boleh terbilang terlalu dekat. Apalagi mengingat pilot Super Hornet akan memiliki keunggulan dalam SITUATIONAL AWARENESS berkat AESA radar, dan Link-16; dan mereka akan dipersenjatai dengan BVR missile yang jarak jangkaunya lebih dari 160 kilometer.


Pemenang: Super Hornet


Ausairpower sudah banyak mengulas tentang keunggulan Irbis-E, tapi mereka tidak bisa menyangkali kalau dalam hal Sensor advantage, F-18F tentu saja akan jauh lebih unggul.

SH juga sudah mempunyai partial Sensor Fusion, yang tidak seperti Saab Gripen-E, kemampuannya tidak akan optimal karena belum memadukan IRST, dan IFF ke dalam satu gambaran. Tapi dari segi interface, dan situational awareness, dapat dipastikan SH akan jauh lebih unggul dibandingkan Su-35.

Dan jangan lupa, dalam perbandingan ini, pilot Australia yang sudah jauh lebih terlatih, perpengalaman, dan lebih terbiasa dengan Super Hornet, akan selalu dapat memanfaatkan kualitas sensor mereka yang lebih unggul, dengan jauh lebih optimal, dibandingkan pilot Indonesia yang  jauh lebih hijau



Beyond Visual Range Combat



Seperti Su-27, dan Su-35; walaupun bentuk F-18SH mirip dengan Hornet Classic (A/B/C/D), kedua pesawat ini sebenarnya berbeda jauh. Design dari Super Hornet sudah di-optimalkan dari awal, untuk pengurangan RCS dari arah depan, hingga mencapai RCS kurang dari 1 m2. 

Untuk recap, Su-35 pengurangan RCS-nya tidak akan dapat menandingi Super Hornet. India sudah menjabarkan dengan blak-blakan, kalau pengurangan RCS di PAK-FA saja kualitasnya amburadul – panel fitting dari pabriknya saja tidak bisa rata, padahal ini suatu keharusan kalau mau membuat pesawat stealth

Russia mungkin akan menyesal mengikut-sertakan India dalam proyek PAK-FA/PGFA
Business Standard India, 21-Januari-2014
Hal ini menunjukkan kalau Sukhoi belum benar-benar bisa menguasai optimalisasi pengurangan RCS, seperti Lockheed-Martin, Boeing, atau ketiga pembuat Eurocanards. 

Keluarga Flanker tidak pernah dikenal sebagai pesawat yang RCS-nya rendah; walaupun ada upaya pengurangan RCS di Su-35, hasilnya tidak akan pernah optimal. Estimasi RCS untuk Su-35 akan berada di 6 m2 (best case scenario), sampai 12 m2 (worst case scenario).

Perpaduan RCS yang lebih rendah (lebih sukar dilihat), AESA radar, dan kemampuan untuk melihat lawan secara pasif, dengan demikian akan selalu memastikan Super Hornet Australia selalu melihat Su-35 dari jarak yang lebih jauh. 

Biar bagaimanapun juga, AMRAAM tetap saja terhitung satu-satunya fire-and-forget missile yang terbukti sudah berhasil mendapatkan kill di medan tempur. Sebagai anak emas USAF, missile ini juga sudah cukup rajin untuk diuji coba. Banyak QF-4, dan QF-16 (remote-controlled version of F-4, or F-16!) sudah menjadi korban AMRAAM dalam real life testing.

Super Hornet juga sudah membuktikan kalau pesawat ini bukan lawan sembarangan dalam BVR combat… pada tahun 2009, salah satu EA-18G Growler US Navy saja, tanpa disangka berhasil mendapatkan “simulated kill” atas pesawat tempur termahal di dunia: F-22.

F-22 kill marking on EA-18G Growler
Gambar: Flightglobal
F-18F Australia akan lebih mematikan lagi; karena akan dipersenjatai dengan AMRAAM-D yang mempunyai kemampuan 2-way datalink , dan jarak jangkau melebihi 160 kilometer, atau estimasi jarak jangkau efektif 80 - 100 kilometer. Kedua keunggulan ini mungkin akan meningkatkan kemampuan probability Kill AMRAAM ke 12 – 15%, dibanding estimasi 8% kill Ausairpower untuk AMRAAM C7. 

Apakah Su-35 akan dapat mengimbangi Super Hornet?

Patut dicatat, kalau Russia tidak hanya belum mempunyai pengalaman dalam BVR combat, tetapi juga belum pernah melaporkan kalau ada missile testing yang level-nya seintensif apa yang dilakukan di Amerika Serikat, ataupun di Eropa.

Su-35 versi export, hanya boleh dipersenjatai dengan missile RVV-AE (idelyze-190) yang adalah versi export dari R-77. Tidak hanya kemampuan kill missile versi export dengan tehnologi, yang mungkin dari tahun 2000-an awal ini, patut dipertanyakan; jarak jangkaunya juga tidak akan mungkin dapat menyamai AMRAAM-D; versi terbaru, dan termodern dari AMRAAM.



Seperti sudah di-post kan sebelumnya, Sukhoi AU Russia sendiri belum pernah terlihat membawa R-77 dalam adu gertak-sambal dengan NATO di atas laut Baltic. Bahkan Su-30SM yang dibawa ke Syria sejak 2015 yang lalu, selalu dipersenjatai dengan R-27 Semi-Active-Radar-Homing, yang buatan Ukrania.
Look! More Vympel R-27s!
Picture taken on 23-January-2015.
(
The Aviationists)
  
Pemenang: Super Hornet


Loh, kok bisa?

Tidak seperti dalam cerita dongeng Ausairpower, persenjataan Super Hornet Australia dapat dipastikan akan lebih unggul dibanding missile versi export buatan Russia, dan pesawat mereka secara tehnis juga lebih sukar dilihat di radar. Ini juga belum menghitung kemampuan jamming yang akan diperoleh Australia dari EA-18G Growler; kecil kemungkinannya kalau pilot Su-35 SKI akan dapat melihat Super Hornet di radar.

Faktor memperlemah lain: TRAINING. Memangnya, pilot-pilot Australia sudah berlatih memakai BVR missile selama berapa tahun? Mereka juga sudah berkutat memanfaatkan kemampuan AESA radar, yang jauh lebih unggul dibandingkan PESA, atau pulse-mechanical doppler, sejak tahun 2007.

Ide “Mengimbangi negara tetangga ”, dengan membeli pesawat tempur versi export, missile versi export, dengan biaya operasional setinggi selangit sudah terlihat semakin mustahil untuk tercapai, bukan?

WVR and Close Combat


Mungkin disinikah akhirnya Su-35 akan dapat memenangkan, paling tidak satu ronde saja?

Belum tentu.

Berikut adalah salah satu review Super Hornet di majalah Australian Aviation, 2001, yang sudah di-tuliskan kembali di Ausairpower:
Flying the Super Bug (2001):
More than a match for Flankers in Close combat!

Flight control SH terhitung lebih unggul dibandingkan Sukhoi, walaupn generasi yang dianggap disini adalah Su-27/30 seperti model yang dioperasikan TNI-AU, bukanlah Su-35; sebaliknya SH yang di-tes penulis artikel tsb, adalah dari Block-1; versi yang masih memakai radar AN/APG-73 pulse-doppler radar. Tentu saja, sejak 2001; Super Hornet, yang juga adalah pesawat andalan US Navy, sudah menikmati beraneka-ragam upgrade. Tidak akan terkejar oleh Sukhoi Flanker manapun.

Kalau kita bertanya, dari mana sang penulis tsb tahu tentang Sukhoi? Jawabannya, yah, karena tidak seperti Russia, orang-orang Barat rajin untuk belajar tehnologi Russia. Amerika sudah pernah membeli, dan mengetes Su-27 di tahun 1990-an. Sebagian besar pengetahuan yang didapat dari pengalaman ini, tentu saja sudah di-share mengingat Russia, dan China memakai pesawat ini sebagai pespur utama mereka.

Super Hornet memang tidak bisa berakselerasi secepat F-15, atau F-16, tapi kenyataannya SH bukanlah pesawat tempur yang mudah dikalahkan dalam latihan. Ini adalah salah satu pesawat tempur Barat, yang mempunyai keunggulan untuk slow speed manuevering, dengan high angle-of-attack limitation untuk dapat mengarahkan moncong pesawat secepat mungkin ke arah yang diinginkan.

Super Hornet bukan lawan sembarangan dalam close combat.

Silahkan saja melihat sendiri kemampuan manuever Super Hornet di Farnsborough-2014 dalam video dibawah! Tidak seperti Su-35, ataupun pesawat-pesawat tempur lain, kali ini Super Hornet membawa 6 x AMRAAM, dan 2 AIM-9 prop untuk memperlihatkan kemampuan manuever-nya dengan Air-to-air payload.


Perhatikan video ini mulai dari 2:24 --- inilah contoh high AoA manuever dari SH; pesawat ini dapat bergerak dengan sangat lambat di udara, dengan posisi hidung menengadah sedikit ke atas.

Thrust-Vectoring Su-35 TIDAK AKAN RELEVAN dalam pertempuran jarak dekat! Pilot Australia yang sudah berpengalaman untuk melawan, atau beroperasi dengan pilot F-22 USAF, akan menghabisi pilot Flanker manapun yang mencoba-coba bermain TVC.

Angka T/W ratio, dan Wing-loading SH, sebenarnya sebanding dengan Su-35; dan seperti SH, Su-35 yang dapat melakukan high AoA-manuever juga dikenal untuk kemampuan slow-speed maneuver dalam pertempuran jarak dekat. Betul, sebenarnya Su-35, dan SH cukup banyak kemiripannya.

Ugh, ternyata kita menginginkan Super Hornet buatan Russia!
  
Ketika kita masuk ke persenjataan, belum tentu R-73 akan dapat mengimbangi AIM-9X Block-2 yang setengah generasi lebih modern, dan mempunyai jarak tembak lebih unggul (20 kilometer). Satu-satunya keunggulan adalah dalam merge, Revolver cannon Gsh-30 Sukhoi akan mempunyai daya pukul yang lebih kuat dibandingkan gatling gun M61 di SH, akan tetapi muzzle velocity (kecepatan peluru) GSh-30 yang hanya 800 m/2 tergolong kurang bersaing dibanding M61A2, atau BK-27 Mauser yang kecepatannya melebihi 1,000 m/2.

Karena masing-masing pihak mungkin boleh dibilang tidak akan jauh lebih unggul dibanding yang lain, kembali penentu kemenangan adalah…. TRAINING.


Pemenang: Super Hornet


Kecuali pilot Indonesia bisa mendapat training yang se-comprehensive apa yang didapat Australia, dapat dipastikan pilot Australia, yang sudah jauh lebih perngalaman, dan lebih terlatih akan selalu menjadi pemenang.

Australia akan mempunyai 36 pesawat, yang masing-masing pilotnya akan berlatih 170 jam setahun, minimal. Ini artinya ribuan jam keunggulan atas Su-35 Indonesia. Setiap tahun.



PENUTUP


Apanya yang bisa “mengimbangi negara tetangga"?

Kenyataannya tidaklah se-sederhana itu, seperti kalau kita melihat, oh, tetangga kita membeli Toyota Innova, lantas kita membeli Toyota Fortuner, untuk bisa "mengimbangi" mereka. Butuh investasi yang jauh melebihi harga beli, dan komitmen jangka panjang, hanya untuk "mengejar ketinggalan.."

HAMPIR TIDAK MUNGKIN Su-35 akan bisa menandingi Super Hornet Australia.

SH akan jauh lebih unggul dalam Situational awareness, Sensor, dan Persenjataan. Sukhoi mungkin akan dapat berakselerasi lebih cepat, berkat sudut sayap yang lebih memaksimalkan acceleration, top speed, dan melakukan Thrust-Vectoring, walaupun sekali lagi, kemampuan ini tidak akan terlalu relevan dalam pertempuran jarak dekat.

Inilah kenapa penentu utama keunggulan, akhirnya akan jatuh kepada pilot. 

Pilot yang lebih memahami pesawatnya sendiri, dan kemudian juga memahami pesawat yang menjadi lawannya, dengan sendirinya akan dapat mengkompensasi kelemahan-kelemahan pesawatnya sendirinya, dan memaksimalkan kelebihannya untuk memutar-balikkan permainan, agar menjadi pemenang.

Dari segi platform sendiri, Super Hornet adalah pesawat tempur Barat, yang selalu diremehkan dalam setiap analisis Barat. Memang benar, kalau Super Hornet sebenarnya adalah pesawat Kompromis, yang lebih dioptimalkan untuk memenuhi kebutuhan pesawat serangan-ke-darat US Navy. Tetapi semua reviewer, atau analisis ini melupakan suatu hal:



Faktor Internal politis pendukung F-18 Super Hornet: US Navy!


US Navy sebenarnya mengalokasikan bagian terbesar dari anggaran mereka untuk program kapal-kapal perang mereka. Untuk mengambil contoh, kapal induk terbaru mereka, Gerald R. Ford-class, yang diperuntukkan menggantikan satu per satu semua Nimitz-class yang sekarang operasional; sudah menelan biaya hampir $15 milyar, atau LEBIH DARI DUA KALI LIPAT Anggaran Pertahanan Indonesia per tahun. Dan ini hanyalah salah satu dari empat, atau lima program USN lain yang juga tidak kalah mahalnya.

Gerald R. Ford (CVN-78) in Newport News Drydock, 2013
They have lots of money!
Noone else can purchase, build, or operate this ship in the whole world!
(Wikimedia)
Karena itu, tidak seperti USAF, USN tidak akan mempunyai alokasi finansial yang cukup seperti untuk investasi asset udara yang terlalu mahal, seperti F-22, next-generation bomber, atau bahkan F-35 sendiri. Sudah bukan rahasia lagi, kalau US Navy sebenarnya terlihat sebagai yang paling kurang antusias untuk mengadopsi F-35C, karena resiko perebutan anggaran dengan program-program "prioritas" mereka yang lain, seperti Gerald R. Ford, diatas!

Jauh lebih murah dalam jangka menengah, untuk US Navy terus menanam modal untuk upgrade, dan investasi lebih lanjut di Super Hornet, satu-satunya pesawat tempur yang sudah siap produksi.... dan tentu saja Boeing juga melihat hal ini. 

Faktor politik di US yang lain: F-35!
Lockheed-Martin tidak akan pernah memberikan komitmen serius untuk mengajukan paket F-16V yang terlalu bersaing ke USAF; karena F-16V berpotensi mengurangi volume penjualan F-35 mereka, yang akan jauh lebih menguntungkan secara finansial.

Sebaliknya, Boeing yang tidak memegang peran dalam proyek lemon F-35, tidak mempunyai banyak pilihan lain: F-35 akan menjadi ancaman terbesar untuk penutupan lini produksi F-15, dan F-18 di St. Louis! Boeing sudah bertahun-tahun aktif melobi US Navy, agar membeli lebih banyak Super Hornet, dan tentu saja akan lebih rajin mengajukan paket upgrade SH yang lebih bersaing.

Inilah kenapa, dalam jangka menengah, upgrade untuk Super Hornet akan jauh lebih intensif dibandingkan F-16V, yang sekarang sudah semakin dianak-tirikan USAF.


If the "Advanced Super Hornet" Semi-stealth concept got the much needed approval,
Australia will likely buy it post 2020!
Then...the hopelessly outdated Su-35 will be doomed!
(Credits: Boeing)
Advanced Super Hornet concept, seperti yang sudah disajikan Boeing, akan menyajikan beberapa menu baru seperti mesin F414-EPE (Enhanced Performance Engine), yang daya dorongnya 20% lebih kuat, enclosed weapons pod untuk memberikan kemampuan "semi-stealth", dan akhirnya... built-in IRST yang lebih modern.  US Navy sangat menyukai konsep ini, dan mengingat seperti diatas, mereka akan membutuhkan lebih banyak uang untuk program-program kapal mereka, kemungkinannya cukup besar kalau "Advanced Super Hornet" akan menjadi kenyataan di masa depan. Lagipula faktor resiko development-nya rendah, dan biayanya akan jauh lebih murah dibanding F-35C.

Super Hornet sudah membuktikan dalam sejarah, kalau:
".... walaupun sering diremehkan, tetapi selalu dapat melakukan tugasnya dengan lebih baik dibanding kebanyakan pesawat tipe lain!"

Sedangkan si Su-35...... Model yang di-deskripsikan dalam setiap artikel Ausairpower: "bagaimana dengan mudahnya bisa mengalahkan Super Hornet", itu sebenarnya hanyalah pesawat fiktif, atau urban-legendyang memukau, dengan tujuan menakut-nakuti pembaca!

Untuk dapat memanfaatkan kemampuan Su-35 semaksimal mungkin, sebenarnya Dr. Kopp mendeskripsikan pilot yang seolah-olah sudah mendapat 170 jam / tahun, dan ratusan jam simulator lagi menurut standard NATO. Biaya operasional, ataupun sistem training Russia yang berbeda dengan standard NATO, tidak pernah relevan untuk dibahas!

Sepertinya, Su-35 yang di-deskripsikan dalam artikel Ausairpower ini juga cukup fiktif.
  • Lupakan saja supercruise! Beritanya simpang siur. Sukhoi OKB sendiri, atau Sergei Bogdan, test pilot Sukhoi yang sudah mengumpulkan ratusan jam terbang di Su-35, tidak pernah membuat klaim yang sama.
  • Mewarisi tehnologi Russia, pesawat ini juga tidak akan pernah dapat menampilkan SITUATIONAL AWARENESS yang sebanding dengan Super Hornet, atau pesawat tempur NATO lain.
  • Lupakan saja tentang kemampuan Networking! Russia belum menunjukkan kalau bahkan, pesawat tempur mereka dapat beroperasi dengan pesawat AWACS. Pasukan expedisi mereka di Syria saja, tidak membawa satupun Beriev A-50.
  • Persenjataannya juga meragukan. Walaupun Ausairpower mendeskripsikan begitu banyak jenis missile, kenyataannya, untuk BVR, Russia jatuh cinta mati hanya kepadamu….. R-27.
Apakah mungkin sudah saatnya Indonesia membeli missile ini langsung dari Ukrania?
Mereka sudah membuka penawaran ke India, dan Polandia
Tentu saja AMRAAM AIM-120C7 akan jauh lebih modern!!
Dengan kata lain, apa yang di-deskripsikan dalam Ausairpower, adalah semacam pesawat tempur fiktif "Super F-15", yang dapat beroperasi, ataupun di-upgrade secara reguler menurut Standard NATO. Model fiktif semacam ini sebenarnya sudah pernah dituliskan penulis novel Craig Thomas di tahun 1977. 
Su-35 versi tahun 1977:
"The undefeatable Soviet Fighter!"

Ini belum lagi memperhitungkan faktor-faktor external pendukung lain yang dapat diperoleh pilot Australia!


Pilot Super Hornet Australia akan dapat mengandalkan dukungan radar, dan SIGINT (Signal Intelligence) dari Boeing Wedgetail, dukungan air-to-air resupply dari KC-30 Tanker, dukungan kemampuan anti-radar / jamming dari EA-18G, dan dapat membagi target, dan mengatur strategi dengan lebih rapi melalui sistem Link-16. 

Sedangkan pilot Sukhoi Indonesia, dalam hal ini, Su-35SKI tidak akan ada bedanya dengan Su-27SK, akan terbang sendirian tanpa dukungan, menghadapi barisan formasi Super Hornet yang sudah tertata rapi, tidak terlihat, tapi dapat melihat dari jarak yang lebih jauh, dan menembakkan senjata yang kualitasnya juga jauh lebih unggul. Radio komunikasi-pun bisa dipastikan tidak akan berfungsi, hingga pilot kita akan terbang buta, tuli, dan lumpuh!

Tidak akan pernah ada harapan, bukan?

Seperti sudah pernah dituliskan sebelumnya, Australia selalu menganggap serius kepentingan untuk menjadi salah satu Angkatan Udara terkuat di seluruh Asia. Sejalan dengan tujuan ini, mereka juga mempunyai sistem training, dan organizational yang jauh lebih rapi untuk mengoptimalkan kemampuan setiap Alutsista, agar dapat mendorong kemampuannya melebihi 100%!

Tidak seperti Indonesia, RAAF juga sudah dapat mendemonstraksikan proyeksi kemampuan mereka ribuan kilometer jauhnya dari perbatasan. Australia juga dapat memanfaatkan statusnya sebagai sekutu dekat US, untuk mendapatkan kualitas terbaik dari segi persenjataan, dan training bersama. Tidak seperti Indonesia, mereka juga mengoperasikan armada yang non gado-gado, tetapi mereka mempunyai SISTEM, yang sudah dioptimalkan mengikuti standard NATO dari awal.

Inilah kenapa kita justru membutuhkan sistem pertahanan yang jauh lebih rapi daripada sekarang, dan mulai maju selangkah, demi selangkah untuk "mengejar ketinggalan" terlebih dahulu.

Kalau Indonesia memutuskan untuk membeli Sukhoi Su-35, ini hanya akan menjadi proyek Hambalang II.

Topik selanjutnya:
Yah, peta politik dunia dewasa ini sudah berubah...

Setelah embargo militer 40 tahun  diakhiri Presiden Obama, Vietnam saja akhirnya akan mulai meng-import senjata dari United States.

No comments:

Post a Comment