Saturday, May 28, 2016

Saab Gripen-E Indonesia vs F-18F Super Hornet Australia

Gripen-E (Credits: Saab)
F-18F RAAF @ Avalon Airshow 2013 (Wikimedia)

Sukhoi versi export, dengan persenjataan versi export, dan biaya operasional selangit sampai kapanpun akan gagal menantang Superioritas F-18F Australia!

Apakah Gripen-E akan dapat menjawab tantangan ini?




Training

Tidak seperti Sukhoi dalam perbandingan sebelumnya, Saab sudah merancang Gripen agar menjadi pesawat tempur dengan biaya operasional yang semurah mungkin dari awal, dengan F-16 sebagai tolok ukur ekonomis yang harus dilampaui.


Panduan dari hasil research Jane's di atas memberikan indikasi kalau biaya operasional Saab Gripen-C/D hanyalah 67% dibandingkan F-16C/D. Faktor lain yang bisa di petik dari hasil research grafik ini adalah dari sumber datanya sendiri. USAF mengoperasikan 800 F-16 untuk mendapatkan niliai CPFH (Cost per Flight Hour) optimal yang $7000; sedangkan Swedia hanya bisa mengoperasikan 100 Gripen-C/D. Ini sekali lagi menggaris-bawahi Nilai Ekonomis Operasional yang OPTIMAL, bahkan kalaupun keterbatasan jumlah akan menjadi masalah utama.

Gripen-E di klaim akan mempunyai biaya operasional yang lebih murah lagi dibandingkan Gripen-C/D, walaupun kemampuannya jauh lebih unggul. Apakah ini sukar dipercaya? Kita bisa menunjuk ke satu perlengkapan yang biaya maintenance-nya akan lebih murah: RADAR (!!). Mechanical Pulse-Doppler radar PS/05 di Gripen-C/D, seperti semua radar doppler lain, akan mempunya MTBF (Mean Time Between Failure) antara 15 - 20 jam operasional. Sebaliknya, AESA radar sebenarnya relatif maintenance-nya akan sangat MINIMAL seumur hidup. Beberapa transmitter yang rusak, tidak akan mengurangi kemampuan deteksi / tracking.

Keunggulan Kedua: Gripen-E tidak akan menghadapi PENALTY dari pengurangan spesifikasi dari versi export seperti F-16V, Super Hornet, ataupun "Kommercheskiy" Sukhoi. Saab sendiri menggariskan kalau setiap Gripen, akan customizable menurut kebutuhan pembeli. Jadi versi Indonesia, sepenuhnya akan tergantung dari hasil negosiasi pemerintah Indonesia dengan Saab, dan Swedia.

Kedua faktor inilah kenapa Gripen-E akan memberikan kesempatan terbaik untuk Indonesia untuk mulai menabung lebih banyak TRAINING. Seperti sudah dituliskan dalam perbandingan vs F-16V, ataupun Su-35; Indonesia akan memperoleh peluang untuk akhirnya ikut serta dalam program latihan bersama untuk pengguna Gripen. Mungkin latihan ini bukan sekelas Red Flag, tetapi tetap saja, ini akan memberikan pondasi yang bagus untuk pilot Indonesia mulai menguasai pesawatnya.

Dengan biaya operasional sekarang mungkin akan jatuh di kisaran $14,000 - $18,000 / jam; Super Hornet Australia tidak akan dapat menikmati keunggulan biaya operasional Gripen, akan tetapi ini bukan masalah pelik, mengingat Anggaran Pertahanan Australia juga lebih dari 3x lipatnya Indonesia.

Australia juga tidak dapat menghindari dari pembatasan export version US. Mereka TIDAK AKAN DIPERBOLEHKAN untuk menambah senjata baru ke SH, apalagi memodifikasi SOURCE CODE SH untuk menambah kemampuan versi lokal. Akan tetapi, sebagai negara Export Tier-1, Australia akan menikmati beberapa keunggulan yang tidak bisa didapat negara-negara export lain; seperti misalnya, ijin untuk membeli AMRAAM-D, yang satu generasi lebih modern dibandingkan AMRAAM C7. Mereka juga akan lebih menikmati keunggulan training bersama, dan mendapat banyak "inside information" yang setaraf pilot USAF / USN untuk dapat mengoptimalkan kemampuan SH mereka.

Jadi apakah Gripen-E Indonesia akan dapat menandingi Super Hornet Australia?


Pemenang: Super Hornet Australia masih lebih unggul, akan tetapi.... 

Gripen-E adalah platform yang memberikan peluang terbaik Indonesia untuk mengejar ketinggalan!





Biar bagaimanapun, Australia tetap saja mempunyai keunggulan JUMLAH puluhan pilot di kelas "Bruce Lee", yang juga sudah mewarisi ratusan ribu jam latihan, pengalaman, dan tehnik BFM (Basic Fighter Manuevering) selama puluhan tahun.

Kelebihan Gripen-E disini adalah untuk memberikan Indonesia beberapa "kartu As", yang tidak akan pernah bisa diperoleh Australia dari Super Hornet. Namun ini bukan berarti dalam sehari-semalam, kita akan bisa "mengejar ketinggalan"! 

Kita TIDAK BISA PASIF seperti sekarang; hanya mencoba berlatih sendiri, dan belajar menjadi "JAGO KANDANG", lantas merasa sudah "dapat mengimbangiRAAF Australia.

Sebaliknya, kita harus mulai lebih aktif untuk mengikuti sistem Training FWS (Fighter Weapon School) yang diorganisir Saab, dan mulai lebih rajin untuk mengikuti latihan mancanegara dengan negara-negara tetangga seperti Pitch Black Australia untuk terus mengetes kemampuan pilot Gripen Indonesia. 

Bukan tidak mungkin, Indonesia juga berpeluang untuk dapat menawarkan pembuatan "Fighter Weapon Range" di Indonesia sendiri, sebagai salah satu pra-sarana latihan bersama sesama pengguna Gripen dalam program Saab ini. Inisiatif semacam ini adalah EFEK GENTAR-nya tersendiri, karena Indonesia akhirnya dapat membuktikan keunggulannya sendiri ke dunia.

Selalu ingat: Pilot adalah yang penentu utama efek gentar pesawat tempur manapun. 

Kalau Indonesia sudah mengumpulkan lebih dari 5,000 jam terbang di Gripen-E, tentu saja peta perbandingan ini sendiri akan mulai berubah.


Sortie / Availability Rate


Super Hornet adalah platform yang sudah teruji dalam konflik, dengan availability rate yang tinggi, dan maintenance requirement yang rendah. Akan tetapi tetap saja, pesawat twin-engine secara tehnis tidak akan dapat bersaing dengan reliability, dan kemudahan maintenance dari pesawat tempur lightweight single-engine di kelas F-16, dan Gripen.

Super Hornet membutuhkan waktu 6,4 jam maintenance, setiap 1 jam mengudara. Gripen yang sudah di-desain dari awal untuk mengalahkan standard low maintenance untuk F-16; hanya membutuhkan kurang dari 3 jam maintenance per jam terbang

Laporan dari DTIC (Defence Technical Information Centre) tahun 2012 melaporkan 30 kasus Engine Failure dalam armada EA-18G Growler US Navy, dari jumlah 74 pesawat yang operasional di tahun yang sama.
Laporan DTIC (Link PDF)
.... Sebagai pembanding, tidaklah mengherankan, kalau jumlah Sukhoi Indonesia yang mengudara, semakin sedikit dalam beberapa tahun terakhir; dan hanya akan terus berkurang...

Gripen-A/B/C/D, yang memakai mesin dari keluarga mesin GE yang sama (Volvo Aero RM12 - variant dari GE F404), BELUM PERNAH mengalami satupun juga kasus kerusakan tehnis mesin dari 250,000 jam terbang, yang sudah dikumpulkan sejak tahun 1993. Gripen-E, yang akan memakai mesin F414-GE-39-E, yang dibuat GE Aviation dengan input dari Saab, bisa dapat dipastikan akan mengulangi prestasi yang sama dengan versi A/B/C/D.

Pemenang: Gripen-E

Walaupun sekarang Australia lebih berpengalaman, dan personilnya lebih terlatih, dengan mengandalkan Super Hornet, sampai kapanpun mereka tidak akan dapat bersaing dengan Availability Rate dan Kemudahan maintenance yang bisa didapat dari negara pemakai Lightweight Single Engine fighter di kelas Gripen.

Saab Gripen akan dapat mengudara selama 38 jam, dalam setiap 48 jam; dan hanya membutuhkan waktu 10 menit turnaround time untuk dapat dipersenjatai kembali, dan diisi bahan bakarnya. Kalau Indonesia mengoperasikan 24 Gripen saja, kita bisa dipastikan akan SELALU dapat mengudarakan lebih banyak pesawat setiap waktu, dibandingkan 36 SH / Growler Australia. 
Credit: Saab
Inilah kenapa kelebihan Low Maintenance dari Gripen adalah Efek Gentar yang tersendiri, yang tidak akan pernah bisa ditandingi tipe pesawat manapun juga.

Pesawat tempur Twin-Engine, tipe manapun jugadengan sendirinya akan selalu jauh lebih complex, akan selalu semakin high maintenance, dan availability rate-nya akan selalu berkurang. Inilah kenapa F-22, persawat terumit di dunia dengan DUA MESINmempunyai reputasi sebagai "hanggar queen", dengan kebutuhan maintenance 42 jam, setiap satu jam terbang.


Sensors and Networking

Seperti sudah dibahas sebelumnya, Gripen-E akan memiliki kemampuan Sensor Fusion, untuk memadukan kemampuan deteksi dari AESA radar, IRST, dan IFF dalam satu gambaran. Ini akan memberikan keunggulan presentasi informasi yang jauh lebih optimal, jika dibandingkan rata-rata pesawat teen fighters US. Super Hornet Australia, yang masih belum diperlengkapi internal IRST, tidak akan menjadi pengecualian.
Gripen Sensor Fusion - Credit: Saab

Dari segi ukuran radar, Selex Raven ES-05 untuk Gripen-E, dan AN/APG-79 di Super Hornet Block-2 kira-kira sebanding, masing-masingnya akan mempunyai sekitar 1000 transmitter. Secara tehnis, AN/APG-79 sudah mengumpulkan jutaan jam terbang, dan mungkin lebih teruji dibanding Raven ES-05 - tetapi kemampuan deteksi yang didapat dari tehnologi Sensor Fusion tetap tidak akan mudah terlampui.

Networking - Sistem TIDLS Fighter-to-Fighter Networking, yang hanya exclusive dipakai di semua Gripen, sudah dikenal dapat memberikan information sharing dalam level yang jauh lebih tinggi dibandingkan Link-16 Network yang menjadi andalan RAAF. Dipadukan dengan kemampuan Sensor Fusion, Gripen-E akan dapat menyalakan radar secara bergantian, menyulitkan deteksi Super Hornet, tanpa pernah kehilangan target.



Pemenang: Gripen-E

Ini cukup jelas dari awal. Karena faktor politik, pesawat tempur teen fighters US tidak akan pernah dioptimalkan untuk mengadopsi sistem Sensor Fusion, yang sepertinya hanya akan dicadangkan khusus di F-35 (F-22 saja tidak bisa membawa IRST!).

Advanced Super Hornet Concept dari Boeing mungkin akan mengubah hal ini, tetapi pesawat ini masih di atas kertas; sedangkan Gripen, seperti kedua Eurocanard yang lain, sudah memiliki keunggulan ini dari sekarang.

Tentu saja, keunggulan tehnis Gripen-E disini tidak akan selalu menjamin kemenangan, kalau tidak disertai investasi dalam ribuan jam.... TRAINING.

Beyond Visual Range Combat

Dengan keunggulan RCS kurang dari 0,1m2, desain yang setengah generasi lebih modern, dan ukuran frontal view yang jauh lebih kecil, Gripen dengan sendirinya akan lebih sulit untuk terlihat di radar AN/APG-79 Super Hornet. Sebaliknya, keunggulan Sensor Fusion Gripen-NG akan memastikan SH, yang tidak hanya RCS-nya, tetapi juga ukurannya jauh lebih besar akan selalu terlihat lebih dahulu. 

Gripen adalah pesawat tempur pertama yang dipersenjatai dengan Meteor BVRAAM. Dengan kemampuan 2-way datalink, dan mesin Ramjet propulsion, kemampuan kill-nya akan beberapa kali lipat dibandingkan AMRAAM-B, dan jarak jangkaunya diprediksi banyak pengamat akan sebanding, atau mungkin lebih baik dibandingkan AMRAAM-D.
... dan tentu saja, Raven ES-05 akan dapat diputar, 
memberikan kemampuan untuk pilot Gripen-E mempertahankan radar lock
sekaligus mulai menghindari kemungkinan untuk di-lock balik. 

Kemampuan kill AMRAAM-D akhirnya akan diperlengkapi dengan 2-way datalink; fitur yang sebanding dengan Meteor, untuk meningkatkan akurasi, dan akusisi target, jika dibandingkan AMRAAM-C, yang hanya dapat mengandalkan "Mid-course guidance", atau 1-way datalink dari pesawat induk. Tetapi seperti sudah pernah dibahas, kelemahan semua BVR missile, termasuk AMRAAM, adalah KECEPATAN ROCKET PROPULSION yang TIDAK AKAN BISA DIKONTROL dan TERBATASNYA KEMAMPUAN MANUEVER AKHIR (40G) untuk membunuh pesawat tempur lawan

Ini artinya cukup sederhana. Dengan jarak jangkau melebihi 160 kilometer, kemungkinan besar AMRAAM-D akan melaju terlalu cepat saat sampai di target. AMRAAM-D yang melaju dengan kecepatan Mach-4, akan membutuhkan 400G untuk dapat membunuh manuevering pesawat tempur yang bermanuever pada kecepatan Mach 0,6.
Defenseissues Blogspot: Evading Air-to-Air missile
Keunggulan mesin ramjet Meteor tujuannya adalah menghilangkan kedua kelemahan ini, karena kecepatan missile ini akan menyesuaikan diri, untuk manuever yang lebih optimal sampai detik terakhir. Sekali lagi, ini bukan berarti Meteor akan selalu menjamin kemenangan (!!) -- tetapi keunggulan disini memberi kesempatan untuk pilot Gripen-E menentukan jalannya setiap pertempuran udara, dan memaksa pilot Super Hornet ke dalam posisi "defensive" dibandingkan sebaliknya.

Link-16 NATO juga akan sulit untuk bersaing dengan keunggulan information sharing dari TIDLS Gripen

Kalaupun Indonesia belum bisa membeli MBDA Meteor, dan untuk sementara memakai AMRAAM C7; Gripen-E tetap akan dapat memanfaatkannya dengan jauh lebih optimal dibandingkan F-16V. Kalau AMRAAM C7 ditembakkan dari Gripen-E yang terbang Supercruise, dengan sendirinya akan menambah jarak jangkau, dan kecepatan awal AMRAAM C7 - menjadikannya lebih mematikan dibanding kalau ditembakkan F-16 Block-25+, atau V; walaupun hasilnya tidak akan seoptimal kombinasi Gripen-Meteor.

Integrated Electronic Warfare System (EWS-39), yang juga sudah dipadukan dengan Sensor Fusion Gripen-E juga akan melompat setengah generasi lebih maju daripada AN/ALQ-212 Super Hornet, yang lebih bersifat bolt-on; dan tidak terintegrasi ke radar. Salah satu keunggulan utamanya adalah Saab's Next Generation Jammer dari bahan Gallium Niitride, yang diakui lebih modern beberapa tahun dibanding semua pembuat lain. Keunggulan jammer ini lebih menjamin untuk dapat mengacaukan active radar di kepala AMRAAM pada saat akhir. 

Pemenang: Gripen-E

Gripen-E,  "the upgradable fighter", secara tehnis memang adalah platform yang jauh lebih modern dibandingkan Super Hornet, dengan keunggulan desain radar rotating swash plate, Sensor Fusion, the most advanced fighter-to-fighter Network (TIDLS)dan dapat dipersenjatai dengan BVR missile terbaik di dunia.
... penentu efek gentar tidak hanya terbatas pesawat, 
tetapi juga senjata yang mereka pakai!
Seperti ditulis dalam analisis di bagian ini; salah satu prasyarat Gripen-E untuk dapat meraih Qualitative advantage diatas Super Hornet Australia, adalah akuisisi untuk MBDA Meteor. Faktor lain, yang tidak kalah pentingnya, tentu saja mempunyai platform yang lebih modern tidak akan berarti tanpa adanya investasi dalam..... TRAINING.

Kembali, kalau armada Gripen-E Indonesia sudah mengumpulkan latihan, dan pengalaman lebih dari 5000 jam terbang; situasi keunggulan training Australia akhirnya akan mulai terbalik. Pilot Super Hornet Australia justru yang akan "dipaksa" untuk mengejar ketinggalan, karena keterbatasan platform mereka sendiri.

Within Visual Range & Dogfight

Dengan Close-coupled Delta Canard design, dipadukan dengan Triplex fly-by-wire system yang jauh lebih modern, keluarga Gripen memang sudah dirancang dari awal untuk menjadi "close combat monster" untuk mengalahkan pesawat tempur manapun. Dengan maksimum Angle of Attack 70 – 80% (Majalah Air Force Monthly, Maret-2014); Gripen tidak akan kesulitan menyamai kemampuan High AoA Super Hornet, atau bermain "knife fight" ala F-16.

Sebaliknya, Super Hornet adalah pesawat tempur twin-engine dengan desain konvesional, bentuk sayap untuk transonic manuever, yang ukuran badannya jauh lebih besar, dengan drag rate yang lebih besar, dan mempunyai 2 mesin panas pengundang IR-missile. 

Dari segi persenjataan - Super Hornet hanya dapat dipersenjatai dengan AIM-9X buatan US. Sedangkan Gripen, kembali akan mempunyai lebih banyak pilihan. Tidak puas dengan supplier US? Kenapa tidak membeli missile, misalnya dari Afrika Selatan? Missile A-Darter, yang juga sudah dipilih Brazil, dikabarkan mempunyai kemampuan manuever melebihi AIM-9X, karena juga memakai tehnologi Thrust-Vector-Control.

Kalau semua ini belum membuat pilot Super Hornet manapun mulai berkeringat dingin... keunggulan Gripen akan ditutup kembali dengan kemampuan  Sustained Supercruise, dengan masih membawa combat load, yang tidak akan bisa direplikasi draggy Super Hornet; walaupun ironisnya, SH memakai jenis mesin yang sama. 

Dengan kemampuan supercruise, pilot Gripen akan lebih bebas untuk mempermainkan Super Hornet untuk keuntungan strategis yang optimal.
  • Kehabisan missile, dan peluru? Pilot Gripen bisa memilih untuk mundur, dan tidak akan mungkin bisa terkejar. SH akan kehabisan bahan bakar terlebih dahulu, sebelum bisa menangkap Gripen.
  • Sebaliknya, apakah mau menunggu pilot SH kehabisan bahan bakar? Pilot Gripen bisa menjaga jarak, dan terus menunggu sampai SH berputar, sebelum menyusul, dan menyerang dari belakang untuk kemampuan kill missile yang lebih optimal.
Ini hanyalah dua contoh sederhana, dari bermacam skenario yang dapat dilakukan pilot, yang mempunyai pesawat yang mempunyai kelebihan Supercruise: Efek gentar yang tidak dimiliki satupun pesawat tempur lain di seluruh Asia!


Pemenang: Gripen-E

Sejak tahun 1950-an di masa perang Korea, pesawat tempur lightweight single-engine, yang ukurannya lebih kecil; lebih sukar untuk di lihat, dan infra-red signature-nya lebih kecil, akan selalu mempunyai keunggulan dalam pertempuran jarak dekat. Dalam hal ini, sebenarnya Gripen yang menghadapi Super Hornet, tidak akan banyak berbeda dengan Sukhoi Flanker.


Gripen-E dengan mesin F414-GE-39-E, yang mempunyai kemampuan Supercruise akan memberikan kemampuan yang tidak mudah diimbangi pilot Super Hornet manapun.


Tentu saja, kesemua keunggulan Gripen ini, kembali tidak akan semudah didapat, mengingat Australia masih lebih berpengalaman, dan kemampuannya lebih mapan. Indonesia perlu berinvestasi ke lebih banyak jam....TRAINING.



PENUTUP

Secara tehnis, Gripen-E adalah pesawat yang jauh lebih unggul dalam segala hal dibandingkan Super Hornet, ataupun "fosil dinosaurus kuno" seperti Sukhoi Kommercheskiy. Tidak hanya secara tehnologi jauh lebih modern, dengan fighter-to-fighter network yang KEBAL JAMMING, atau dapat dipersenjatai, atau diperlengkapi dengan apapun juga yang kualitasnya terbaik di dunia industri militer Barat; tetapi yang lebih menipu lagi, ukuran Gripen yang kecil justru akan membuatnya sebagai lawan yang hampir tidak bisa dikalahkan dalam setiap situasi.

Kalaupun F-18F Australia di-upgrade ke level Advanced Super Hornet, ini juga tidak akan menjadi masalah yang pelik, seperti halnya kalau armada Indonesia berbasiskan Sukhoi yang TIDAK AKAN BISA di-upgrade. 

Gripen is meant to be upgradable to face any current, and future challenges! 
Link: Editorial Aviation Week

Sayangnya... sejak kemunculan F-4 Phantom II, seluruh dunia sudah termakan obsesi USAF terhadap superioritas twin-engine fighter, yang sebenarnya hanyalah kebohongan yang tidak pernah terbukti dalam konflik manapun. Uni Soviet waktu itu juga tidak kalah parahnya; dengan berkonsentrasi ke pembuatan twin-engine Su-27, dan MiG-29 yang jauh lebih rumit, mereka gagal untuk membuat pengganti MiG-21, pesawat single-engine yang lebih kecil, dan lincah, yang sebenarnya justru menyulitkan USAF di Vietnam.

Australia juga termasuk salah satu negara yang sudah termakan obsesi twin-engine ini. Walaupun sudah pernah mengoperasikan Mirage IIIO di tahun 1960 - 1970-an, mereka sudah turut terbawa "arus" politik para jendral USAF, yang mendewakan F-15, dan F-22; dengan demikian Australia dewasa ini tidak pernah menganggap Lightweight single-engine fighter sebagai lawan yang serius.

Inilah kelemahan utama Australia! 

Dan disinilah kesempatan terbesar Indonesia untuk "mengejar ketinggalan"!

Ausairpower, adalah contoh terbaik dari konsep pemikiran ini. Kedua penulisnya tidak hanya semata menjadi fanboy untuk F-22, tetapi mencintai hidup-mati segala sesuatu yang twin-engine; seolah-olah F-111, dan F-22; dua pesawat yang biaya operasional termahal di dunia, dengan Availability Rate, dan Maintenance requirement yang tidak kalah jeleknya, akan dapat menyelesaikan semua masalah Australia.

Kita harus mengejar ketinggalan terlebih dahulu, sebelum bisa "mengimbangi negara tetangga"!

Sistem AFTER-SALES training yang akan ditawarkan Saab akhirnya akan memberikan kesempatan terbaik kita untuk akhirnya mulai mengikuti perkembangan tehnologi militer Abad ke-21. Yah, boleh dibilang dengan selama ini, memakai kebanyakan pesawat tempur budget dengan basis tehnologi tahun 1980/1990-an, kita sebenarnya sudah tertinggal terlalu jauh...............

Kembali, sebagai bangsa, kita harus belajar untuk RENDAH HATI terlebih dahulu, dan mulai melangkah setahap demi setahap.

Dengan terus-menerus terobsesi dengan pesawat twin-engine, mau itu versi yang sudah ketinggalan jaman seperti Sukhoi, atau hasil dari proyek tidak karuan dengan pemain amatiran, yang sifatnya hanya "saling membohongi diri sendiri", Indonesia akan memainkan permainan yang sama dengan Australia! Dengan Anggaran Australia yang jauh lebih besar, dan pengalaman yang jauh seabrek memakai Twin-Engine, Indonesia tidak akan pernah ada harapan bahkan untuk "mendekati" kemampuan Australia!

Untuk "mengejar ketinggalan", Indonesia memerlukan ribuan jam terbang latihan, untuk memakai pesawat tempur yang sudah diperlengkapi SEMUA tehnologi Abad ke-21 yang paling modern, yang memenuhi persyaratan-persyaratan berikut:

  • Kebutuhan untuk  RIBUAN JAM LATIHAN saja sudah menuntut penggunaan pesawat tempur yang biaya operasionalnya SUPER EKONOMIS, alias SESUAI DENGAN REALITA ANGGARAN INDONESIA.
  • Kemampuan platform yang TIDAK BOLEH dibatasi / didikte kriteria penjualan "versi Export", atau "Kommercheskiy", untuk menjamin kedaulatan, dan kemandirian bangsa.
  • Platform pesawat tempur berikutnya HARUS TERJAMIN TIDAK AKAN BISA KETINGGALAN JAMAN! Kalau mau terus-menerus tertinggal, pemerintah US sudah siap melayani dengan ratusan F-16 bekas yang tersimpan di Arizona.
  • Dan tentu saja, pembelian pesawat tempur berikutnya, HARUS memenuhi semua persyaratan UU no.16/2012; terutama Pasal 43, TANPA PERNAH BOLEH DITAWAR! 


... tidak hanya semata pesawat tempur doang,
TETAPI juga penjamin kemajuan tehnologi industri pertahanan lokal,
yang akan memerdekakan Indonesia,
 dari belenggu
penjajahan "versi Export" US, dan Russia!

(Credits: Saab)

10 comments:

  1. Training / jam terbang memang menjadi problem utama yg melanda tni au . contoh aja sukhoi kita yang konon katanya biaya oprasional mencapai 500 jt per jam. . 2000 jam terbang sama saja dengan harga pesawatnya, dan apakah sukhoi kita sudah ada yang menembus angka 5000 jam terbang.

    Dengan keunggulan soal biaya terbang, perawatan dll. Gripen bisa terbang lebih dari 200 jam bahkan lebih per tahun. Secara yang ratusan juta dijadikan puluhan juta saja.

    Bisa berlatih dengan sesama pengguna gripen juga merupakan bonus yang menguntungkan, banyak pelajaran yg bisa dipetik buat tni au.
    Menurut bang GI, gripen paling cocok berpasangan dengan pespur mana ? Apakah typhoon ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. # Untuk Sukhoi, memang negara akan bangkrut duluan sebelum pilot kita bisa 100% menguasai pesawat sendiri, apalagi belajar mengalahkan pesawat lain. Inilah knp sampai selamanya, "menandingi negara lain" dengan Sukhoi itu akan MUSTAHIL untuk bisa dicapai.

      # Sukhoi Su-27 & -30 yg kita miliki umurnya juga tidak akan panjang.
      Maksimal 3000 - 4000 jam terbang juga sudah harus dipensiunkan -- dan umurnya tidak akan bisa diperpanjang spt F-16.
      Jadi sudah biaya operasionalnya muahal, kerugian finansial jangka panjangnya luar biasa berat.

      # Investasi di training dalam pesawat manapun, memang dalam jangka panjang, akhirnya akan selalu lebih mahal dibanding harga beli pesawat. Ini memang adalah salah satu kebutuhan dasar utk memastikan keunggulan suatu angkatan udara.

      Inilah kenapa kita tidak boleh terlalu sering beli pesawat tempur, kalau tidak bisa investasi di support, training, dan senjata. Macan Ompong! Hanya untuk dipamerkan di parade, tapi tidak akan berdaya menghadapi negara lain, kalau dalam kesemua hal itu serba berkekurangan.

      # Dalam hal training, Gripen akan membelikan nilai Return-On-Investment yang paling maksimal untuk Indonesia. Biaya operasional lebih murah daripada F-16, ini artinya dengan anggaran yg sekarang saja, kita dapat mengoperasikan 48 pesawat, 150 - 200 jam setahun.

      # Untuk pesawat mana yg berpasangan dengan Gripen, secara tehnis, pesawat tempur manapun yg dapat beroperasi mnrt standard NATO akan compatible!

      .... dari keadaan Indonesia; partner yg paling sesuai adalah F-16 -- seperti Thailand.
      KALAU dngn bantuan Saab, kita dapat membuat sistem network nasional, ala Link-16, ini akhirnya kita akan dapat menawar ke US, agar diperbolehkan memasang networking terminal di F-16; dan dngn demikian armada F-16 kita akan jauh lebih efektif dibanding sekarang.

      ### Dalam jangka panjang, sebenarnya solusi yg paling sesuai untuk Indonesia, adalah mengikuti langkah Swedia, dan Brazil -- menjadikan Gripen sbg pesawat tempur utama, yang satu2nya.

      @Tidak akan ada lagi armada gado2 -- biaya operasional borongan akan jauh lebih murah dibanding beli eceran, dari bermacam tipe yg tidak compatible satu-sama-lain.
      @Training untuk semua staff, baik dari maintenance, ataupun pilot akan lebih seragam, dan lebih terfokus, dan dengan sendirinya juga akan menjadi Expert.
      @ Dukungan semua industri pertahanan lokal juga akan jauh lebih maksimal.
      @ Perencanaan strategi pertahanan Nasional juga jadi menjadi lebih jelas, dan efeknya akan jauh lebih mematikan.
      @ Karena Gripen juga tidak membutuhkan landasan2 udara yg mewah, spt F-16, atau Sukhoi, kita juga tidak perlu menghabiskan dana untuk mengupgrade terlalu banyak landasan udara spt sekarang.
      Setiap landasan udara perintis, asal sudah di aspal... sudah akan mencukupi untuk menjadi Forward Operating Base utk Gripen.
      Yah, dengan kata lain, Gripen akan mempunyai ribuan pangkalan instan, tanpa perlu investasi yg mencekak anggaran.

      @..... Terakhir, tidak seperti dalam RENSTRA yg versi sekarang, Indonesia TIDAK AKAN membutuhkan 10 Skuadron -- mungkin 5 Skuadron (80 pesawat) saja sudah akan lebih dari mencukupi.

      Delete
  2. 80 pespur itu kayaknya kurang bung, mengingat luasnya indonesia yang sangat luas.
    Anggaplah saja kita punya 3 skuadron f16 dan 2 skuadron gripen. Pulau besar 1 skuadron, sumatra,jawa,kalimantan,sulawesi dan papua.

    Mungkin perlu penambahan pesawat latih jet lanjut seperti T50, karna biaya oprasionalnya juga termasuk murah. Mungkin perlu di upgrade supaya lebih gahar.

    Soal hibah f 16 amerika juga bukan sebuah hal yang jelek, kalau perlu kita minta tambah lagi hingga jadi 80/100 f 16, andai parlemen amerika menyutujui. Tentunya kita juga akan menjadi pengguna terbesar f 16 di asean. Katanya beli elbot baru dapat bonus elbot bekas pakai

    @untuk kf-x/if-x sendiri. Kalau proyek ini gagal, apakah indonesia tidak akan mendapat pesawat tempur . secara indonesia sudah menginvestasikan ±$2milyar.
    Apakah indonesia akan mendapatkan T50 lagi sebagai gantinya. Karna yang kurang lebih sama dengan 50 T50 untuk nilai tersebut.

    Bila nantinya indonesia deal membeli gripen 36 unit, apakah pihak saab bersedia menjadikan T50 kita lebih gahar.
    36 gripen, 80 f16, 65 T50. Tentu itu lebih realitis buat indonesia dari pada mengoprasikan 80-100 sukhoi. Tentu disini seperti sukhoi, tucano, hawk milik kita tidaklah dihitung.
    Tentu dalam hal senjata juga akan seirama,

    Pihak saab swedia juga tidak hanya berkerjasama dengan angkatan udara semata, angkatan laut dan darat juga perlu. Maaf, mungkin disini adalah swedia. Karna kita juga perlu alutsista laut dan darat.

    Dan akhirnya kalau sudah mandiri buat alutsista. Tentu akan menambah efek gentar tersendiri

    Yang perlu ditanyakan dalam hal ini adalah " berani berapa kita menginvestasikan di bidang ini "

    Yah hanya opini pribadi bung

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung @endo,
      Masukan anda mempertanyakan beberapa hal yg menarik. Sy akan mencoba menjawab satu per satu.

      @ T-50 --- US sbnrnya melakukan pembatasan "versi export" sewaktu dahulu kita membeli 16 pesawat. Waktu itu kita menginginkan pembelian versi TA-50, yang diperlengkapi M61 cannon, dan pylon untuk dapat membawa AIM-9 Sidewinder; ttp ternyata kita hanya "diperbolehkan" mengambil 12 T-50A, dan 4 TA-50.

      TA-50 dapat dibedakan kok di foto2 T-50 Indonesia, karena gun port-nya akan kelihatan di sisi kiri pesawat. Walaupun tidak tertulis spt dalam dokumen DSCA, ada kemungkinan kalau keempat TA-50 itu tidak akan dapat menembakkan Sidewinder, ttp masih bisa membawa "dumb bomb".

      Ini artinya -- yah, pertama2, memang T-50 sbnrnya pesawat buatan US, yang pabriknya saja di Korea.
      Kedua, kita tidak akan bisa berharap banyak kalau T-50 akan diperbolehkan untuk di-upgrade kemampuannya.

      @ Kalau kita mau mengoperasikan 5 skuadron penuh saja, sbnrnya kebutuhan mendasarnya akan menjadi kira-kira 32 pesawat. Untuk sementara, selain ke-16 T-50, kebutuhan ini masih terisi dengan 8 BAe Hawk-109.

      @ KF-X/IF-X --- IMHO, ini pada dasarnya memang sudah menjadi investasi yg salah tempat, terutama karena tergantungan Korea atas tech-transfer dari US.

      Pembatasan spesifikasi yg sama yg akan diaplikasikan US untuk setiap F-16, atau T-50, sudah tentu akan diberlakukan ke IF-X. Bahkan di Korea sendiri, banyak yg mulai bilang kalau penolakan / kesulitan tech transfer dari US utk KF-X, disebabkan oleh keikutsertaan Indonesia dalam proyek ini.

      Kalaupun proyek ini berhasil, IF-X akan menjadi versi "downgrade habis-habisan" dari KF-X. Ada blog yg menuliskan, kalau kemungkinan Indonesia hanya akan diijinkan membeli dari Block-1; versi awal yg RCS-nya lebih besar, kemungkinan rusaknya lebih besar, dan tidak akan bisa di-upgrade karena airframe-nya masih akan berubah lagi di Block-2.

      Untungnya, sejauh ini, kabarnya Indonesia belum menanam modal terlalu besar -- mnrt bbrp sumber, hanya sekitar $160 - 200 juta.

      IMHO,lebih baik cut loss sebelum proyek ini berjalan lebih lanjut; krn spt sy sudah pernah tulis --- budget utk proyek ini saja tidak realistis.

      Kalau kita mengambil contoh dari Eurofighter Typhoon, dan Dassault Rafale saja; untuk mendapatkan pesawat yg dimimpikan orang Korea, biaya development KF-X akan mencapai $40 milyar minimal; dan bukan tidak mungkin masih akan meledak lebih jauh lagi.

      Ini masih ditambah biaya produksi yang minimal akan mencapai $150 juta / unit, terutama untuk pesawat di Batch-1.

      Ini artinya kita akan menghabiskan sekurangnya $16 milyar hanya untuk 50 pesawat IF-X ---- atau hampir dua kali lipat lebih mahal dibanding membeli Typhoon, atau Rafale -- yang sekarang saja sudah kelihatan terlalu mahal untuk Indonesia.

      Belum lagi menghitung seperti diatas, versi IF-X hanya akan menjadi versi downgrade habis-habisan!

      Proyek yg sangat merugikan, bukan?

      Inilah kira-kira rangkuman, kenapa kerjasama dalam bidang industri pesawat dngn Korea itu sbnrnya tidak akan pernah menguntungkan Indonesia.

      Delete
    2. Oh, ya... untuk menambahkan sedikit diatas...

      Baik IF-X, T-50, atau F-16 --- tidak akan diperbolehkan untuk di-upgrade tanpa ijin dari pemerintah US.

      Spt sy sudah tuliskan dalam artikel ini:
      Australia saja tidak akan diperbolehkan untuk memodifikasi Super Hornet mereka, apalagi kalau mencoba menyentuh F-35A versi Export yg akan mereka beli!

      Kalau Australia mau upgrade, mrk harus minta ijin dahulu ke pemerintah US, yg kemudian akan menunjuk kontraktor dari US utk melakukan upgrade tsb.

      Tentu saja, untuk Indonesia hal yg sedemikian akan jauh lebih runyam dibandingkan Australia.

      Inilah kesulitannya kalau terlalu tergantung pada tech-transfer dari US --- dan inilah juga salah satu alasan, kenapa negara-negara Eropa membuat ketiga Eurocanards; agar kemampuannya tidak dibatasi / didikte pemerintah US!

      Delete
    3. Untuk armada masa depan Indonesia... kenapa sebaiknya secara bertahap menggantikan semua tipe ke Gripen, sy akan mencoba menuliskan lebih detail ke dalam artikel lain tersendiri.

      IMHO, memang "F-16 hibah" sebenarnya adalah ide yg lebih baik dibandingkan membeli F-16V yang 100% baru.

      Apa bedanya? Toh kedua-dua versi sama2 akan dibatasi kemampuannya, bukan?

      #Kalau memang akhirnya mau membeli pesawat dngn AESA radar, lebih baik memilih Gripen-E, yg kemampuannya tidak akan dibatasi, dan perihal upgrade-nya 100% kedaulatannya di tangan kita!

      # Daripada mau membeli/memproduksi 50 pesawat IF-X "versi downgrade", dengan biaya development yg super mahal, bukankah lebih baik mempertimbangkan kemungkinan membuat lini produksi Gripen-E/F di Bandung?

      Dengan anggaran super tidak realistis versi Korea yg skrg saja, sudah membutuhkan $16 milyar (proporsi Indonesia $2 milyar), belum termasuk biaya produksi.

      Kontrak Brazil - Swedia untuk membeli 36 Gripen-E, termasuk memproduksi lokal 12 pswt, yang senilai $4,2 milyar saja sudah kelihatan jauh lebih murah, untuk kemampuan yg jauh lebih tinggi.

      ## Point terakhir kenapa Indonesia akan membutuhkan Gripen --- adalah di Laut Cina Selatan!

      Kalau PLA-AF China sudah selesai membangun pangkalan2 udara baru di kepulauan Spartley, mereka akan mulai rajin untuk mengirimkan Su-35, J-11B/D, J-10, dan akhirnya juga J-20 untuk mulai operasi "harassment" negara-negara Asia Tenggara.

      Bukan tidak mungkin mereka akan mencoba "mengetes" pertahanan udara Natuna beberapa puluh kali dalam setahun.
      Mrk akan mengirim bbrp pespur, atau pesawat intai ke arah perbatasan, lalu melihat ada yg berani mencegat atau tidak?

      Kalau Sukhoi dipangkalkan di Natuna, Indonesia akan bangkrut duluan, dan kemudian semuanya harus dikirim balik lagi ke Russia untuk menjalani perbaikan mendalam berbulan2!

      Inilah kenapa pespur yg harus dipangkalkan di Natuna adalah pswt yg dapat beroperasi dalam tempo tinggi, dngn support minimal, biaya operasional yg terjangkau, dan kalau sudah mengudara harus dapat melakukan "Interception" secepat, dan seefesien mungkin!

      Supercruising Gripen-E.

      Delete
  3. Akhirnya bisa koment lagi

    Berarti t 50 kita ada 2 versi yang berbeda, hanya 4 yg bisa jadi pespur sungguhan walau sebatas hanya bisa bawa aim 9.
    Apakah dalam hal ini korea membodohi indonesia dengan t50 ini, mengingat harganya rp. 4,8 triliun. Itu juga pas rupiah tidak terlalu jeblok seperti thn² ini. Anggaplah dulu $1=rp 10.000

    Kira² 1 unit pesawat seharga 300 milyar, untuk hanya pesawat macam itu tentu kita rugi (kayanya hawk lebih bagus buat pesawat latih ketimbang t 50 )
    Harga tak berbeda jauh sama F16 hibah kita, tentu disini kita dapat pespur sungguhan

    DISINI JELAS INDONESIA SALAH BELI ALUTSISTA

    Soal If-x yang katanya dana tersebut belum termasuk dalam jalur produksi, itu jelaslah terlau mahal

    Tentu dengan dana $2milyar, kita akan mendapatkan 18 gripen E tentu dalam hal ini sudah termasuk paket lengkap, dan tentunya gripen lokal seperti brazil

    Anda disini pernah berkata, 100% scoure code bisa kita dapat(maaf bila salah ketik),

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untuk T-50, sy rasa kita tidak perlu terlalu khawatir perihal spesifikasinya, krn tipe ini memang tidak di buat untuk menandingi F-16, tetapi fungsinya adalah pesawat latih, utk menggantikan BAe Hawk Mk.53; yang kemampuan tempurnya sendiri nyaris tidak ada.

      Dalam hal ini Korea sbnrnya tidak bisa apa2, krn spesifikasi utk T-50 sbnrnya ditentukan dari Washington DC(!)

      Yah, T-50 sbnrnya pesawat hasil karya Lockheed-Martin, USA; hanya pabriknya saja di Korea.

      Boleh dibilang, sbnrnya Korea yg dibodohin utk menanggung 87% biaya development untuk T-50; sedangkan Lockheed-Martin menghemat banyak uang, utk mempersiapkan T-50 sebagai kompetitor utk mengikuti kompetisi trainer T-X di US.

      Kalau T-50 memenangkan kontrak T-X, yang nilainya kira2 utk 350 pesawat, produksinya sendiri HARUS dilakukan di US, dan versinya akan sedikit berbeda dari T-50.... jadi Korea keluar banyak uang, tapi Lockheed yg berpotensi meraup lebih banyak keuntungan di masa depan :)

      Kembali ke Indonesia,
      Utk masalah harga, harga T-50 itu sekitar $25 juta, kurs waktu itu (2010/11) sekitar Rp8,500,-
      Harga ini kira2 standard utk ukuran pswt latih baru.
      Sbg bagian dari offset programmya, Korea sbnrya membeli 4 CN-235 untuk Coast Guard, kalau tidak salah. Jadi transaksi ini boleh dibilang sbnrya cukup menguntungkan.

      Tetapi tntu saja, kita harus lebih khawatir dengan proyek IF-X, atau membeli F-16V

      Yah, memang benar perihal IF-X!

      Sbnrya apa yg kita inginkan dari proyek ini?

      Program ini sudah salah tempat dari awal, krn Korea, yg tidak pernah memikirkan kepentingan Indonesia, akan mengandalkan "belas kasihan" pemerintah US, dan "kerjasama" dari LM.
      dua2nya dalam tanda kutip.

      Kalau mau memproduksi 50 pesawat sendiri, memang lebih baik mulai berpikir utk memproduksi Gripen di Bandung, seperti langkah yg diambil Brazil.

      Tidak hanya biaya produksinya akan jauh lebih murah, angkanya juga akan lebih pasti, krn pesawatnya sudah siap.

      100% Kontrol source code, dan Transfer-of-Technology juga sudah pasti akan terjamin;
      kesempatan utk berinovasi lokal juga lebih besar, bahkan jika dibandingkan apa yg bisa didapat Australia dari F-35 mereka,
      dan kita akan menjadi salah satu pengguna Gripen terbesar di dunia!

      Kalaupun ada embargo lagi (walaupun ini sbnrya sudah tidak mungkin lagi terjadi!), silahkan saja!

      Kita akan jauh lebih mandiri, dan akan mampu mensupport Gripen secara independent selama puluhan tahun.

      Delete
  4. Min, kayaknya alusista dari Eropa lbh bagus. Kita aja beli MBT pertama dari Jerman bkn dari Rusia atau AS

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau dari segi pesawat tempur, ketiga Eurocanards boleh dibilang lebih unggul dibanding semua pilihan lain dari US, yang terlalu takabur dengan keunggulan "stealth", dan BVR combat, ataupun dari Rusia, yang sudah tertinggal terlalu jauh secara industri, dan tehnologi.

      Topik kenapa keunggulan pesawat stealth US itu bukan faktor yang akan terlalu menentukan, akan dibahas di lain hari.

      Untuk tank Leopard Indonesia.... ini adalah masalah lain.

      Sederhananya: MBT, yang berat totalnya bisa melebihi 60 ton, didesain untuk beroperasi di dataran yang lebar, dan luas, seperti di mainland Eropa, Asia, Afrika, atau US.

      Indonesia adalah negara kepulauan, dan kemampuan untuk memindah2kan Leopard dari satu pulau ke pulau lain saja masih sangat minimal.

      Diperkotaan, MBT juga bukan senjata yg ideal, karena dapat dihantam dari jarak dekat; terutama dari atas tank, dengan infantry yg membawa anti-tank missile.

      Lantas bagaimana caranya kita dapat memakai Leopard??

      Delete