Tuesday, May 17, 2016

Launching Gripen-E yang pertama (39-8) 18-Mei-2016 -- Analisa presentasi Saab!

Screenshot from Saab Gripen-E Launching 18-Mei-2016
(Gambar: Saab) 
Indonesia!

Saat ini, sudah terlalu lama kalau kita terbuai oleh pesawat tempur model export United States, atau "Kommercheskiy" Russia. Kedua negara yang tidak pernah menganggap Indonesia sebagai sekutu dekat, dan hanya akan mendikte spesifikasi yang "diperbolehkan", terutama karena timbunan dosa di masa lalu.

Kita juga terlalu terbuai dengan ide "membuat pesawat sendiri". Akan tetapi.... eh, kemudian malah memilih kerjasama dengan partner yang kemampuannya hampir nihil, yang justru akan mengandalkan belas kasihan United States, yang sudah terkenal pelit dalam Tech-Transfer, bahkan ke negara sekutu terdekatnya sendiri, boro-boro ke Indonesia.

Saatnya kita bangun dari mimpi-mimpi indah, dan akhirnya melihat kenyataan.

Kalau kita mau dianggap serius oleh dunia, untuk komitmen membangun sistem pertahanan Udara Indonesia yang siap menghadapi tantangan untuk 50 tahun ke depan, pesawat tempur yang dapat memberikan solusi yang tepat, akhirnya sudah didepan mata.

The first Saab Gripen-E has finally arrived.


Artikel ini akan membahas dua pernyataan yang menarik dari presentasi Saab dalam acara ini sendiri. 



"It's always been part of Saab's strategy to have Industrial Cooperation. 

We don't see it as a threat, but as an opportunity to create growth, partnership, and Transfer-of-Knowledge."

 Ulf Nielsson, Head of Aeronautics Saab AB - 18-Mei-2016 


Bukankah ini prospek yang sama-sama menguntungkan kedua belah pihak?

Negara yang menjadi customer untuk Saab AB, bukan semata hanya akan terus diperlakukan sebagai customer selamanya.

Menjadi customer Saab AB, justru sebaliknya, adalah undangan untuk menjadi partner yang akhirnya berpotensi untuk dapat memberikan kontribusi kepada system yang sudah mereka buat. Dan sebagai bagian dari undangan ini, negara pembeli, dan industri pertahanan lokal juga akan mendapat Transfer-of-Technology, dan kesempatan untuk turut berkembang.

Tentu saja pernyataan diatas, secara tidak langsung juga adalah sindiran untuk para pembuat pesawat tempur lain, terutama dari US, dan Russia. Mana pernah Executive dari Lockheed-Martin, Boeing, atau Sukhoi akan menawarkan sesuatu yang sama ke negara pembeli? Jangan bermimpi!

Serigala sampai selamanya akan selalu beranak serigala, dan domba akan selalu beranak domba. Ini bukanlah sesuatu yang bisa ditawar.

Inilah kenapa Gripen-system (bukan hanya terbatas pada Gripen-E semata!), adalah solusi jangka panjang yang paling sesuai untuk memenuhi kebutuhan Indonesia. Seberapa hebatnya "Gripen-Indonesia", pada akhirnya tidak akan lagi ditentukan oleh Saab AB, tetapi 100% berada di tangan para ahli-ahli Indonesia sendiri.

Solusi sistem pertahanan Indonesia sebenarnya selalu hanya dibatasi pada dua pilihan:
Mau mulai lebih mandiri secara bertahap?  Ataukah Apakah kita mau terus diperlakukan sebagai customer yang 100% tergantung kepada si penjual?

Saatnya berhenti membohongi diri sendiri! 
UU no.16/2012 BUKAN DIBUAT UNTUK DILANGGAR.

Dari kedua pilihan diatas; pilihan mana yang akan lebih kebal embargo?

Walaupun ini sekali lagi, kata E*** ini sudah hampir tidak mungkin terjadi dewasa ini.



"Complexity of Embedded System will grow by a multiple of 10x in the span of seven years!"

Gripen System will have: 
  • Faster updates - to ensure its up-to-date!
  • Lower Risk - will not go obsolete in ten, or twenty years time!
  • Future built-in additions - that can be done by partners

Daniela Ivanic, System Engineer of Avionic Platform, Saab AB - 18-Mei-2016 


Kemajuan tehnologi "Embedded systems" akan dapat bertambah 10x lipat setiap periode 7 tahun.

Hal ini sebenarnya sangat berkaitan dengan modifikasi dari Software Source Code - kitab suci semua pesawat tempur modern! Sayangnya, tanpa kitab suci Source Code, semua pesawat tempur Abad ke-21 bahkan tidak akan bisa lepas landas.
Gripen-Evolution from A/B to E/F
(Credits: Saab)
Sekali lagi pernyataan ini menggaris-bawahi, kalau Gripen-System tidaklah hanya salah satu yang paling modern di dunia saat ini, tetapi juga sudah dibuat untuk se-adaptable mungkin untuk dapat menyerap semua tehnologi baru, dalam tempo yang secepat mungkin.

Saab menjamin kalau Gripen akan terus upgradable di masa depan, dan bahkan, kalau negara partner sudah siap, mereka bisa mulai menambahkan sendiri built-in modification ke Gripen mereka, yang spesialis hanya dipakai di negara mereka.

Inilah kenapa Gripen adalah pesawat tempur yang dari segi faktor resiko, adalah pilihan yang paling aman untuk Indonesia! Pesawat tempur yang terjamin akan selalu 100% up-to-date, dan 100% menjunjung kedaulatan Indonesia dalam menentukan sendiri kemampuan tempurnya.

Misalnya: Apakah perlu memodifikasi software untuk kemampuan menghadapi F-35? Boleh, kita bisa melihat tehnologi apa yang bisa adaptable untuk Gripen di saat itu. Kalau memang sudah mahir berinovasi sendiri, bahkan para ahli Indonesia sendiri akan dapat membuat Gripen-E yang memang spesialis untuk "bisa melihat" pesawat stealth.

Sebaliknya, sensei Lockheed-Martin, ataupun murid setianya, KAI (Korean Aircraft Industry) tidak akan pernah bisa menjamin upgrade yang setara dengan perkembangan jaman. Export policy US, akan menjamin kalau negara Export Tier-6 seperti Indonesia, kemampuan pesawat tempurnya... 


Yes..... "does not alter the basic military balance in the region."

United States tentu saja akan memastikan IF-X mendapatkan pembatasan yang sama dengan F-16! Inilah kenapa moga-moga, agar semua pihak sama-sama senang, proyek ini akhirnya dibatalkan sendiri oleh Korea.

Inilah juga kenapa, seperti pernah dituliskan disini, sang pilihan favorit jawara Indonesia saat ini, Sukhoi Su-35, sebenarnya adalah pesawat tempur yang semakin lama sudah semakin ketinggalan jaman! Sukhoi Su-35, atau variant manapun, tidak hanya akan "menggentarkan" keuangan rakyat, tetapi juga dengan masih terpaku pada tehnologi tahun 2007, pesawat ini justru akan membuat Indonesia semakin ketinggalan jaman dibanding negara-negara tetangga.

Jangan lupa juga, kalau hampir tidak mungkin pilot Su-35, akan dapat mengungguli kemampuan pilot Gripen-E!


Penutup

The New Gripen-E:
Satu-satunya Pesawat tempur yang memenuhi SEMUA kebutuhan pertahanan Indonesia!Pilihan lain hanya berdasarkan "mimpi indah",padahal hanya "Model Export" alias downgrade
(Gambar: Saab)
Apa yang kita diskusikan dalam artikel ini sendiri adalah banyaknya keuntungan Nasional yang bisa didapat Indonesia, kalau akhirnya memilih untuk mengadopsi Gripen-System.

Sebenarnya masih ada beberapa pernyataan menarik lain dari Video streaming "Launching of the First Gripen-E" ini. Tetapi agar artikel ini sendiri tidak terlalu panjang, saatnya mengakhiri analisa ini.

Model 39-8 yang dipresentasikan Saab disini, sebenarnya akan menjadi salah satu dari 3 test aircraft untuk finalisasi program Gripen-NG. Dengan Anggaran Development yang dibatasi hanya $2 milyarHåkan Buskhe, CEO dari Saab AB sendiri, menyatakan kalau program ini adalah yang paling memberikan keuntungan maksimal untuk pembeli.

Menurut laporan Defense News, Angkatan Udara Swedia sendiri berencana untuk mencapai status IOC (Initial Operational Capability) untuk Gripen-E di tahun 2023; dengan Full Operational Capability di tahun 2026. Brazil akan menyusul sekurangnya setahun setelah Swedia.

Jadwal timeline Swedia, dan Brazil ini sendiri boleh terbilang, sebenarnya cukup sesuai dengan realita kebutuhan Indonesia untuk menggantikan beberapa tipe pesawat tempur dalam periode yang sama.

Loh?? Apakah tidak terlalu telat?

Sekali lagi, saat ini Indonesia sudah TIDAK MEMERLUKAN pengganti untuk F-5E di Skuadron-14!
  • F-16 Block-25+ yang baru membentuk Sku-16 di PekanBaru, dan T-50 yang berkemampuan supersonic, di Sku-15 sebenarnya SUDAH MENGISI KEKOSONGAN yang ditinggalkan F-5E/F tercinta!
  • Justru sebaliknya, uang yang tadinya hendak dipakai untuk membeli lebih banyak lagi pesawat tempur, lebih baik dialihkan untuk membeli lebih banyak Missile, atau targeting pod!! Entah kenapa, kita sepertinya hobby membeli macan ompong, tanpa perlengkapan infrastruktur yang memadai, simulator, spare part, atau.... persenjataan yang selalu kelupaan!
  • Belum lagi menghitung investasi untuk training, dan segala persiapan lain untuk memastikan ke-46 pesawat tempur yang sudah dibeli sejak 2012 itu, (6 Su-30MK2, 24 F-16 Block-25+, dan 16 T-50iakhirnya dapat mencapai status IOC (Initial Operating Capability). 

Saab Gripen-E sebenarnya akan menjadi pengganti ideal bukan hanya untuk BAe Hawk-209 (buatan tahun 1995 - 1997), tetapi juga.... Sukhoi Su-27/Su-30MK2 di Skuadron-11! Pesawat tempur yang paling memalukan, dan mengecewakan dalam sejarah Indonesia.

Usia pesawat tempur buatan Soviet dengan konstruksi, dan desain tahun 1980-an ini tidak pernah tahan lama; kurang dari 20 tahun, atau hanya 3,000 - 4,000 jam terbang. Di tahun 2020-an, kebanyakan example akhirnya sudah akan jatuh tempo untuk menjalani perbaikan berat di Russia; yang akan menghabiskan puluhan juta dollar lagi. Mana lagi produknya sudah ketinggalan jaman sejak baru dibeli.
The new Gripen-E 39-8:presented heavily armed, 
with 2 Diehl IRIS-T, 5 MBDA Meteor, LITENING targeting pod
8 Boeing GBU-39 in a new smart pylons
(Credits: Saab)




22 comments:

  1. Yes...the smart fighter!!!

    Moga-moga pesenan kaos/topi "smart fighter"nya nggak kena embargo...sizenya "L", trims oom

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah, supply chain utk support / senjata Gripen sbnrnya yg paling beresiko rendah dibanding yg lain; karena tidak akan terlalu tergantung ke satu supplier saja.

      Lebih lanjut, pswt ini sudah didesain utk perang gerilya, hanya perlu support footprint yg minimal.

      Tentu saja...ToT.....

      Kita akan membahas ini di artikel lain. :)

      Delete
  2. Akhirnya keluar juga , yang jelas lebih besar dan lebih berat dibanding versi sebelumnya.

    Bung @ dark rider , apakah anda di swedia ? Wartawan ? Atau sales kah ?

    Yang jelas lebih mahal pula ini pesawat , harga sama spek terbaru dibuatkan artikel bung !!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sy hanya pengamat awam yg tinggal di Indonesia, kok. :)

      Hanya dari awal lebih memihak pilihan yg tidak hanya paling modern, tapi juga paling menguntungkan Indonesia; memenuhi semua kebutuhan, dan paling menjamin kemandirian.

      Pilihan yg sesuai kenyataan, bukan berdasarkan mimpi2 indah.

      Untuk harga, dan biaya operasional sebenarnya setali tiga uang. Semakin banyak yg dibeli/dioperasikan, semakin murah biayanya, dan biasanya jg semakin mandirilah negara pembeli.

      Yah, artikel semacam ini akan cukup menarik kelak.

      ...coming soon... :)

      Delete
  3. Radar aesa milik gripen itu yg tercanggih kah, kalau sama ef typhon trance 3. . hebat yg mana, kan katanya satu anak perusahaan ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selex ES adalah pembuat CAPTOR-E untuk Typhoon, dan Raven ES-05 untuk Gripen.

      Perbedaannya: ukuran radar CAPTOR-E lebih besar (1500 transmitter vs 1000 transmitter); jadi jarak jangkau lebih jauh, dan sudut pandangnya lebih besar.

      Tetapi --- beberapa sumber awam menyebutkan, kalau perbedaan ukuran radar AESA tidak akan memberikan perbedaan kemampuan yang berbeda terlalu jauh, seperti halnya ukuran radar tempo doeloe; seperti APG-63 (F-15C) vs APG-68 (F-16C).

      Lagipula, dengan dunia AESA Barat sedang dalam tahap transisi ke penggunaan Transmitter Gallium Niitride -- yang 25 - 30% lebih efesien; akan memberikan kemampuan deteksi & Tracking yang lebih jauh lagi --- perbedaan kemampuan karena ukuran AESA radar hanya akan semakin mengecil.

      Delete
  4. Dengan keruwetan armada gado2 seperti saat ini...mungkin oom punya contoh exit strategy dari negara yang memiliki keterbatasan anggaran spt negara kita?

    Mengingat usia sukhoi-30 mk2 dan armada "pespur nanggung" hawk 100/200 yang masih terbilang muda....sementara jauh didepan kita punya program IFX

    ReplyDelete
    Replies
    1. IF-X hanya akan ada dua kemungkinan:

      Gagal, atau terlalu mahal; dan kemampuannya tidak akan jauh melebihi F-16.

      gripen-indonesia.blogspot.com/2016/05/analisis-4-alasan-utama-kenapa-proyek.html

      Belum lagi menghitung, kalau IF-X akan sama saja seperti membeli F-16 --- Versi Indonesia dapat dipastikan hanya akan di-downgrade.
      Baca: United States Factor!

      Boleh dibilang daripada IF-X, lebih baik membeli Eurofighter Typhoon, atau Dassault Rafale. Resiko lebih rendah, kemampuan, dan Tech-Transfer akan lebih terjamin, sedangkan harganya sendiri akan lebih murah di tahun 2020-an!

      Delete
    2. ..... Exit Strategy: Ini agak sukar untuk membahasnya, karena armada gado-gado Indonesia sebenarnya sangat berantakan!

      Ini sebenarnya berkaitan dengan miskonsepsi berikutnya:
      Diversifikasi Supplier (Barat vs Timur), bukan berarti anti-embargo!.

      Karena tidak pernah mengambil langkah menuju kemandirian, ini hanya mempersulit supply chain, dan mendongkrak biaya operasional, karena jumlah yang operasional tidak akan pernah mencapai nilai yang ekonomis!

      IF-X hanya akan memperunyam masalah lebih dalam lagi!

      Sy akan membahas ini lebih mendalam di lain hari.

      Delete
  5. Bicara soal ekspor model. . mesin gripen juga buatan as juga kan, tentunya juga akan seperti itu. .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anda sebenarnya menyentuh topik yang cukup menarik:

      Bisakah US men-downgrade kemampuan Gripen, misalnya dengan mesin?

      Jawabannya: Tidak bisa.

      Apa yang mereka bisa, kalau sedang mungkin sedang keki, akan berpura-pura "melambatkan" supply spare part.

      Yang tidak banyak orang tahu, US juga sebenarnya terikat perjanjian di tahun 1940-an/1950-an, untuk menjamin supply, atau support mereka ke industri pesawat Swedia.

      Tentu saja, sejak waktu itu, Saab sudah jauh lebih independent dari ketergantungan ke industri pesawat US, dan dapat bebas mengontrol semua aspek yang akan menentukan kemampuan tempur Gripen -- lepas dari campur tangan US!

      Untuk mengupas lebih dalam re mesin:
      ===============
      Mesin GE F414-GE-39E
      ===============
      Adalah satu-satunya sub-variant dari mesin F414, yang khusus didesain, dengan kerjasama SAAB, untuk operasional di Gripen-E, yang single-engine.

      Walaupun diatas kertas, kelihatannya output dari subvariant F414-39E ini sama dengan mesin F414-400 di Super Hornet (22,000 lbf full afterburner; 13,000lbf dry thrust): perbedaan utamanya adalah; mesin F414G Super Hornet sebenarnya tidak pernah didesain untuk Supercruise; sebaliknya mesin -39E justru desain parameter-nya adalah untuk kemampuan supercruise.

      Ini membuka kemungkinan kalau versi -39E mungkin outputnya sendiri sedikit lebih kuat dibanding versi -400 Super Hornet; dan sekali lagi, ini tidak akan bisa disubsitusi dengan sub-variant mesin lain.

      Saab sendiri sedang mempertimbangkan untuk kemungkinan untuk mengadopsi mesin GE-414-EPE, yang daya dorongnya 20% lagi lebih kuat!

      Blog Resmi Saab.

      =======================================
      Faktor internal politik US, yang tidak diketahui banyak orang:
      =======================================
      General Electric, sebenarnya terancam disapu dari pasar mesin untuk pesawat tempur!

      Persaingan dengan Pratt & Whitney (PW), akhirnya berbuntut dengan US Senate membatalkan funding untuk development dari mesin F136, yang seharusnya menjadi alternatif dari mesin PW F135 di F-35 JSF.

      Dengan demikian, PW memastikan mereka akan monopoly market untuk mesin F-35, dan sudah memotong GE keluar dari kompetisi. Permainan yang kotor memang; krn dngn demikian PW akan bebas menentukan harga yg mereka maui untuk mesin F-35!

      Kalau produksi Super Hornet dihentikan (dan US DOD sudah tidak sabar untuk menghentikan produksi semua pesawat lain, kecuali F-35), divisi mesin pespur GE akan terancam kehilangan market!!

      Harapan mereka terbesar dimasa depan justru adalah untuk terus menjual F404, atau F414 dalam bentuk COTS, seperti untuk HAL Tejas, Lockheed-Martin T-50, atau Saab Gripen.

      Jadi kalau Indonesia memilih Gripen, kita dengan sendirinya juga akan mendapat teman tambahan di GE!

      =======================
      Sebagai pembanding tambahan; mesin Ruski -- faktor resikonya justru jauh lebih besar!
      =======================
      Patut dicatat disini, biar bagaimana, Indonesia tetap saja lebih baik untuk mendekat ke produk buatan US.... dibandingkan Russia.

      Keluarga dari mesin AL-31F yg dipasang di Sukhoi sudah termasyur gampang rusak, bisa mati sendiri di udara, haus spare part, dan umurnya akan lebih cepat habis, dibandingkan spec yg mereka tuliskan!

      Jadi sudah barangnya tidak tahan lama, masih akan menambah % komisi perantara untuk membeli spare part, atau mesin baru!

      Tidak heran biaya operasional Su-27, dan Su-30 yg bertehnologi tahun 1980-an akhir /1990-an awal saja mencapai Rp 400 juta/jam.

      Yah, dalam dunia ini tidak ada yg sempurna.
      Kita seharusnya mengambil alternatif terbaik, yang lebih menguntungkan negara.

      Delete
  6. Mau tanya bung, tni sudah punya pespur yg bermesin yg sama dengan gripen 39e/f. . ??
    Dan apakah dari amerika sudi memberi mesin yg sama dgn swedia kpda indonesia, karna kita di daftar tier paling bwah ?


    Hanya opini pribadi bung

    ReplyDelete
    Replies
    1. Spt sudah sy tuliskan diatas: Mesin F414-GE-39E adalah satu2nya pilihan mesin untuk Gripen-E/F.

      Sy lupa menambahkan point di bawah ini:
      Kontrak pembelian mesin adalah antara Saab, dengan GE --- Indonesia tidak akan berurusan langsung dalam pembelian mesin untuk Gripen-E. Setelah kontrak, dalam jangka menengah-panjang, barusan kita harus mulai membeli spare part dari GE.

      Sy mengerti kalau anda khawatir dengan spare part buatan US.

      Tapi ingat!
      Sampai saat ini sebenarnya, armada TNI-AU yang sekarang masih saja tetap 90%-nya tergantung pada spare part buatan US...
      F-16, T-50 (memakai mesin GE F404, bukan F414!), C-130 Hercules, radar untuk BAe Hawk-209, mesin (dan mungkin bbrp perlengkapan avionics) untuk CN-235, NC-212, dan NC-295.

      Jadi tidak ada bedanya, bukan?

      Gripen justru akan memperkecil "American influence" dalam armada pespur, dan memperbesar proporsi "European influence", yang cenderung lebih politically neutral ke Indonesia.

      Patut dicatat disini; US sebenarnya menganggap Indonesia sebagai negara yang masih besahabat!

      hanya saja.... mereka belum, dan kemungkinan juga, TIDAK AKAN PERNAH percaya untuk men-transfer tehnologi militer mereka ke Indonesia.

      Ingat -- kalau sebagai supplier, US sebenarnya adalah negara yg cukup paranoia (sy sudah tuliskan sebelumnya). Bahkan Israel, ataupun Australia masih menderita "versi export" dari US, yang terus-menerus dibatasi.

      Pembatasan untuk Indonesia, tentu saja akan lebih parah.
      Inilah kenapa justru proyek KF-X/IF-X adalah proyek Indonesia-Korea yang saling "membohongi diri sendiri". Kita tidak akan dapat apa2!

      Contoh2 lain dewasa ini:
      # US tidak akan menjual AMRAAM-D ke Indonesia; tetapi MBDA tidak akan sungkan menawarkan Meteor!

      # RBS-15 Swedia, juga termasuk high-tech cruise missile!
      Sebaliknya, US tidak akan menawarkan Tomahawk, dan sepertinya juga enggan menawarkan pembelian Harpoon ASM.

      ============
      Catatan Tambahan
      ============
      US sbnrnya cukup lihai dalam manuever mereka menawarkan 24 F-16 hibah ke Indonesia. Saat itu, tidak seperti sekarang, kita membutuhkan JUMLAH yang memadai; padahal waktu itu sedang tongpes!

      Dan dengan demikian, US sudah berhasil mengikat Indonesia menjadi pemakai F-16 yang lebih besar (33 unit skrg; krn 1 jatuh).

      Dan spt sudah sy post-kan sebelumnya, F-16 arti strategisnya tetap saja jauh lebih penting dibanding Sukhoi, walaupun kadang bbrp media berita (contoh: SindoNews) mencoba memutar-balikkan dan membuat Sukhoi kelihatan lebih penting!

      Sebaliknya, kita justru seharusnya lebih khawatir justru kalau mengandalkan supplier dari Russia...

      Delete
    2. Kenapa kita justru harus khawatir dengan mengandalkan supplier senjata dari Russia?
      =========================================

      Pertama, kita adalah negara yang 100% Anti-Komunis.
      Bagaimana tidak? Sebagai Negara yg berdasarkan Pancasila, komunis sebenarnya adalah pengaruh luar yang bertentangan!
      Malah, boleh dibilang, setelah pemberontakan PKI di Madiun (1948), seharusnya PKI dibubarkan saja secara permanen sejak waktu itu!

      Russia berbeda!
      Komunis rontok disana bukan karena orang2 Soviet mendadak membenci sistem komunis; tetapi krn sistem komunis membuat negara mereka bangkrut.

      Survey di RBTH (website berita milik Kremlin) baru2 ini menyebut kalau 60% orang Russia "...see communist as a good system".

      Sentimen anti-PKI baru mulai merebak kembali akhir2 ini, dan sebenarnya dengan demikian, bukankah kita tanpa sengaja juga sudah menghina ideologi yg masih dijunjung tinggi di negara lain?

      Jangan pikir kalau Russia tidak akan mengawasi!
      Presiden Putin sendiri adalah ex-anggota KGB; dan boleh dibilang termasuk salah satu master strategist yg paling brilian dewasa ini.
      Dia sendiri menyatakan masih menganggap paham komunisme, sebanding dengan Alkitab, atau Al-Quran!

      Link Newsweek

      Transaksi senjata sebenarnya juga didasari oleh manuever politik.
      Setelah membaca apa yg terjadi di Indonesia akhir2 ini, kemungkinan Russia sudah semakin tidak antusias menjual senjata ke Indonesia; karena seperti mereka kembali diingatkan bagaimana dahulu kita membubarkan PKI -- Partai komunis terbesar setelah di Uni Soviet, dan PRC!

      Kedua, ingat pengkhianatan hibah MiG-21 ke US
      ==========================================
      Gajah tidak akan pernah lupa!

      Sebagai salah satu negara yang juga paling paranoia dalam men-transfer tehnologi ke negara lain --- Russia juga tidak akan pernah berhenti curiga; seberapa besar Indonesia dapat dipercaya untuk mendapatkan High-tech gadgets?


      Ketiga, Russia sendiri tidak mempunyai teman, tapi memusuhi terlalu banyak negara
      ===========================================
      Secara politik luar negeri, mengingat iklim politik luar negeri dewasa ini, dan posisi politik Indonesia yang cenderung netral -- lebih mendekatkan diri, atau terlalu mendekat ke Russia bukanlah ide yg baik.

      Sebaliknya, sy ulangi, hubungan yang lebih akrab dengan US, dan Australia sebenarnya jauh lebih penting baik dari segi ekonomis, sosial, dan strategis; berkaitan dengan posisi Indonesia di Asia Tenggara.

      Keempat, kualitas produk bagus, tetapi tidak akan tahan lama! Dan after-sales supportnya parah!
      ===============================
      Ini sudah sering ditulis berulang2, dan sbnrnya sudah menjadi rahasia umum dalam dunia transaksi militer.

      Sbnrnya inilah salah satu alasan kenapa Argentina, walaupun sudah menderita technical embargo militer, berkat antagonisme mereka terhadap UK; sejauh ini masih menjauhi produk Russia (atau China).

      Baru-baru ini, mereka malah tertarik untuk membeli F-5E/F bekas dari US. link IHS Jane's..

      Delete
  7. Cukup menarik sosok gripen terbaru ini !!!
    Dan cukup menguntungkan juga bila memilikinya, karna senjata kita tidak dibatasi yg itu² saja.
    Soal mesin pun juga tak jadi masalah.
    Untuk air frame sendiri bisa bertahan berapa puluh tahun, masi bisa diperpanjang juga kah ?
    Apakah indonesia pernah mengirim f16 ke amerika untuk menjalani service berat macam sukhoi kita.
    Dan apa yang terjdi sama sukhoi kita yang direparsi , dan bagaimana kondisinya sekarang ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul.
      Tidak akan ada pembatasan spesifikasi,
      bahkan dalam jangka panjang seberapa hebat itu akan tergantung kepada industri pertahanan dalam negeri, dan TNI-AU sendiri.

      Kalau Indonesia memilih Gripen sebagai satu-satunya tipe pespur, sebenarnya keuntungannya akan jauh lebih besar lagi; dari segi strategis, dan finansial.

      # Indonesia tidak akan membutuhkan lebih banyak dari 6 Skuadron @16 pesawat = 96 pesawat total; untuk mengawasi wilayah udara dari Sabang - Merauke.

      # Support bonus: Data Networking, dan Erieye AEW&C untuk pengawasan udara yg lebih maksimal.

      Sedangkan, dengan rencana armada gado2 spt skrng (Sukhoi, IF-X, dan F-16); ini mah, mau beli 15 - 20 skuadron juga kebutuhannya tidak akan pernah mencukupi!

      Ini akan sy bahas lebih mendetail di post lain.

      ## Umur airframe Gripen sering disebut antara 30 - 50 tahun.
      Secara desain, material (advanced composite), dan konstruksi; Gripen-E juga hampir satu generasi lebih maju dibandingkan F-16, yang kabarnya saja akan tahan 15,000 jam terbang.

      Tentu saja, spt semua pespur Barat yg lain, kalau sudah berumur, biasanya akan dapat diperpanjang!

      ======
      F-16
      ======
      Wong, semasa embargo saja, tehnisi Indonesia masih bisa kreatif, dan mempertahankan kemampuan untuk mengudarakan F-16 -- berkat inovasi lokal, dan kanibalisme part dari beberapa unit yg lain.

      Beberapa analyst Barat malah terkaget2 ketika mereka melihat, walaupun diembargo; F-16 Indonesia masih bisa terbang!

      Sebenarnya embargo dahulu justru memperlihatkan kalau tehnisi Indonesia sudah menguasai F-16!

      ## Block-15OCU sudah overdue untuk memasuki tahap Mid-Life Upgrade; dalam rangka perpanjangan umur, dan upgrade perlengkapan tg ada -- ini akan dilakukan di US.

      Reparasi Barat seperti Sukhoi sih, tidak pernah terdengar tuh di F-16 negara lain.

      =======
      Sukhoi
      =======
      ## Ini sebenarnya menggariskan satu lagi kelemahan transaksi dengan supplier senjata Russia:
      Transparansi akan sangat minimal!.

      Perhatikan saja pertanyaan2 berikut:
      ## Kenapa Sukhoi membutuhkan reparasi berat di Russia?
      Sebenarnya apa yg rusak?

      ## Kenapa tehnisi Indonesia tidak bisa melakukan sendiri perbaikannya?
      Toh, pas embargo (lihat diatas), kita tidak kesulitan mempertahankan F-16 siap terbang.
      Memang pespur Twin-Engine biasanya akan jauh lebih rumit dibanding single-engine; tetapi tetap saja, kenapa kita tidak bisa sendiri?

      ## Kapan perbaikannya selesai? Sebenarnya apa yg diperbaiki?
      Ini juga belum ada beritanya sampai sekarang di website TNI-AU.

      ## Berapa biaya perbaikan tsb? Apakah semua Sukhoi juga harus mengalami hal yg sama setelah 12 - 15 tahun?

      Tahun lalu, kabarnya 2 dari Su-30MK2 juga harus direparasi (beritanya dari Russia, bukan TNI-AU.mil) karena kena bird strike kalau tidak salah.

      Jangan lupakan juga kalau TS-3001, dan TS-3002 (2 Su-30MK yg dibeli di tahun 2003), juga sudah lama tidak pernah terlihat keluar!

      Delete
  8. 30-50 th, wow bgt itu
    Dalam waktu yang selama itu, tentunya tni sebagai operator tentu ingin memodifikasi pasang ini itu. Apakah saab keberatan bila itu terjadi ?

    F 16 blok 15 ocu juga katanya mau di upgrade, entah mau di upgrade versi apa ? Apakah sampai bisa yang ke paling maximal.
    Usia f 16 ocu kita sudah mulai masuk ke 30 th, dan masih bisa terbang. Lumayan buat latihan penerbang baru, dari pada t 50 yg belum ada radarnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saab sebenarnya sudah mempunyai reputasi utk membuat pespur tahan lama, biaya akuisisi/operasional murah, dngn kualitas yg sebanding, atau kadang malah lebih unggul dari pespur Barat yg lain.

      Contoh: Saab-35 Draken
      Versi definitifnya, adalah tipe-F / Filip, yg baru mulai dibuat antara tahun 1965 - 1972; produksi 300 unit.
      ## 67 Draken-F sbnrnya mendapat MidLife Upgrade (perpanjangan umur) di tahun 1985, menjadi versi-J; yg kemudian terus operasional sampai tahun 1999 --- 30 tahun operasional.

      Draken sbnrnya tidak dipensiunkan karena umurnya sudah kadaluarsa, tetapi lebih didorong oleh faktor budget cut di AU Swedia pasca-Perang Dingin, seiring dengan mulai diperkenalkannya Gripen-A/B.

      Kalau mau, Draken buatan 1970-an sbnrnya masih bisa terbang sampai tahun 2000-an akhir!!

      ## Draken sendiri sbnrnya biaya akusisinya cukup murah utk standard tahun 1970-an. 300 Draken-F kabarnya biaya akuisisinya hanya equivalent dengan hanya 5 Mirage 2000!
      (The World's Military Aircraft; p142, by Bill Gunston, 1983)

      ## Tentu saja, Draken juga sudah terintegrasi ke sistem Network STRIL-60 Swedia; utk membagi "digital combat information"; yang disebut "tidak mempan untuk di-jamming!"

      ===============
      F-16 MLU untuk Block-15OCU Indonesia
      ===============
      IMHO, apa yang sudah menjadi standard untuk Block-25+, akan menjadi standard utk diaplikasikan kembali ke Block-15.

      ## Perpanjangan umur airframe utk 20 - 25 tahun operasional lagi; ... jadi walaupun lebih tua, F-16 akan berumur lebih panjang dibanding semua Sukhoi Indonesia.
      ## Upgrade radar ke equivalent dari AN/APG-68 basic, untuk menambah kemampuan AMRAAM
      ## Multi-mission computer baru
      ## Compatibility ke sistem targeting pod LANTIRN, atau SNIPER pod.
      ## ... dan mungkin penambahan beberapa countermeasure pack, dan RWR system.

      Tidak akan ada JHMCS (Joint-Helmet Mounted Cueing System) untuk memaksimalkan kemampuan menembakkan AIM-9X; dan tidak akan MIDS-LVT terminal untuk Link-16 Network.

      IMHO, status quo sejak tahun 1989 sbnrnya tidak pernah berubah:
      Pesawat tempur utama TNI-AU yg paling bisa diandalkan adalah F-16, dan bukan Sukhoi!!

      Delete
  9. Untuk gripen sendiri pasti juga sudah punya helm khusus yg seperti JHMCS kan ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudah... tapi bukan tipe JHMCS, yang produksi US.

      Gripen-C/D dahulu memakai Cobra HMD, yang diproduksi BAe Systems -- juga dipasangkan diatas Eurofighter Typhoon.

      Untuk Gripen-E, (lihat gambar presentasi dari Saab diatas) -- akan memakai Helmet-Mounted-Display yang lebih modern, dengan Night-Vision Capability (tipe belum diberitahukan!)

      Tentu saja HMD ini akan dapat diretrofit ke Gripen-C/D.

      Delete
  10. Ya tambah bagus aja .
    Tni sendiri apakah sudah punya helm khusus yg di pakai buat pespur kita

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita tahu kalau F-16 tidak mempunyai JHMCS.

      Sukhoi seharusnya mempunyai HMD (Helmet-Mounted-Display) standard, karena versi export MiG-29 untuk Jerman Timur saja sudah diperlengkapi HMD... dari tahun 1980-an.

      Kembali... tehnologi utk HMD Sukhoi, kalau ada akan berdasarkan tehnologi tahun 1980-an; bukan tandingan F-16 Block-50+/52+ versi export negara lain (Singapore, atau Pakistan) yang diperlengkapi JHMCS II, dan AIM-9X Block-2.

      (kalau ada)... ini karena bbrp komentar awam menyebut Sukhoi export untuk Indonesia tidak diperlengkapi HMD.

      Kita tidak tahu kenyataannya -- karena memang pembelian dari Ruski, akan menjamin baik pembeli, atau penjual akan sama2 tutup mulut. Tidak akan ada transparansi.

      Karena pembelian Sukhoi, akan selalu harus lewat perantara, ini membuka faktor resiko besar kalau setiap Sukhoi justru akan di-downgrade habis2an, sementara harganya di-mark-up; apalagi kalau beli cicilan seperti tempo hari.

      Kita tahu kalau ke-16 Sukhoi kita masih bertehnologi tahun 1980-an, tetapi membelinya lebih mahal dibanding Malaysia, yg membeli 18 Su-30MKM, buatan Irkut, yang jauh lebih modern.

      Delete