Tuesday, May 31, 2016

Kamus Mitos vs Kenyataan


Artikel ini akan menguraikan penjelasan, kenapa semua pernyataan diatas sebenarnya adalah MISKONSEPSI, atau MITOSdan BUKANLAH SUATU KENYATAAN yang dapat dipercaya. 

Stealth = Fifth Generation Fighter ???

Atau sebaliknya. Ini sebenarnya adalah miskonsepsi yang sangat mendasar, yang mewarnai setiap forum militer di seluruh dunia.

FIFTH GENERATION sebenarnya hanyalah bahasa marketing, yang lucunya pertama kali dikoinkan justru dari Russia, sebelum kemudian diadopsi oleh USAF, dan Lockheed-Martin; untuk membedakan pesawat tempur stealth mereka, dari non-stealth. 

Kalau kita melihat sejarah; sebenarnya untuk menentukan terciptanya suatu Generasi pesawat tempur yang baru - harus terjadi suatu perubahan fundamental dalam kemampuan kinematis pesawat tempur tersebut, yang menjadikannya patokan untuk setiap desain pesawat tempur berikutnya.

Kenyataannya, Stealth Fighter sebenarnya malah memperlihatkan lebih banyak kelemahan yang sudah terlampaui jauh dalam pesawat tempur yang disebut Fourth Generation modern.
  • F-35 mungkin mempunyai stealth shaping, tetapi kemampuan manuevernya lebih jelek dibandingkan F-16D Block-40, kecepatan maksimumnya rendah (M1,6), dan tidak bisa melakukan supercruise seperti F-22, Typhoon, Rafale, dan Gripen-E.
    Fifth Generation?? F-35 "Lemon II"
    Tidak akan dapat menandingi MiG-21, atau Mirage III dalam jarak dekat!
    (Credits: unknown artist, @ imagefriend.com)
  • F-22 sendiri tidak pernah menunjukkan perbedaan kinematis yang jauh lebih baik dibanding pesawat non-stealth; Pilot Typhoon, dan Rafale  dapat mengalahkannya dalam pertemuan pertama di tahun 2012. 
  • Terakhir, baik F-22, ataupun F-35 sudah cukup termasyur untuk lebih sulit, dan lebih mahal di-upgrade dibandingkan F-15, F-16, F-18, dan ketiga Eurocanards.
  • Mengenai kelemahan-kelemahan pesawat tempur stealth lebih lanjut, dan Kenapa pesawat stealth tidak akan melebihi kemampuan pesawat tempur lain, akan dibahas lebih lanjut dalam artikel terpisah.
Blog ini sendiri lebih memilih pengertian 21st Century Fighteryang harus memenuhi sebanyak-banyaknya dari persyaratan-persyaratan berikut:
  • AESA radar, penentu utama Situational Awareness di Abad ke-21.
  • Infra-Red Search-and-Tracking (IRST) untuk passive targeting tanpa pernah bisa dilihat lawan.
  • Sensor Fusion - persyaratan bonus untuk memaksimalisasi kemampuan Situational Awareness.
  • Upgradable - untuk terus menambah kemampuan ke platform agar tidak ketinggalan jaman.
  • Fully-Networked, untuk membagi target, atau informasi tanpa bisa di-jamming.
  • Desain harus lebih low-observable -- RCS lebih rendah; boleh stealth, tapi ini bukan penentu utama.
  • Kemampuan akselerasi, dan manuever kinematis yang harus mengimbangi, atau melebihi standard yang sudah ditentukan sejak F-14, dan F-15 pertama kali mengudara, dan juga...
  • Mempunyai kemampuan Supercruise.

Dari daftar kemampuan diatas, F-22, dan F-35, yang sudah sok mengaku-ngaku sendiri Fifth Generation sebenarnya justru tidak berhasil memenuhi kesemua persyaratan diatas; sebaliknya ketiga Eurocanards justru jauh lebih memenuhi syarat, dengan Saab Gripen-E ada diposisi terdepan; karena maintenance-nya lebih mudah, dan ukurannya yang kecil justru membuatnya lebih sukar diikuti pandangan mata dalam pertempuran udara. Itu baru namanya Low observability!

Sedangkan si Sukhoi Su-35, yang katanya "tidak terkalahkan" ....... hampir tidak bisa memenuhi daftar persyaratan diatas!
R.I.P. Su-27 PLA-AF serial number 30008 (1991 - 2009)
Kasihan! Masih remaja sudah harus masuk liang kubur!
(Credits: China-defense.blog)


Air Superiority Fighter = Heavy Twin-Engine Fighter ???

Pengertian ini sebenarnya lebih lucu lagi, karena hanya didasari propaganda kebohongan para jendral USAF, yang berhasil mengelabuhi seluruh dunia. 

Dari segi Berat / Ukuran, tipe pesawat tempur sebenarnya dibagi menjadi tiga kelas tersendiri -- terlepas dari perbedaan fungsi masing-masing:

  • Heavy Twin-Engine Fighter - F-22, F-15, F-18E/F, PAK-FA, J-20, Su-27/30/35
  • Medium Twin-Engine Fighter - F-18 Classic, Typhoon, Rafale, MiG-29
  • Lightweight Single-Engine Fighter - F-16, Gripen
  • Overweight Single-Engine Strike Aircraft - F-35.
Kecuali kita bertanya kepada USAF top brass, sebenarnya pesawat tempur Single-Engine, dengan drag rate yang rendah, dan biasanya juga wing-loading yang lebih kecil, akan selalu menjadi pesawat tempur yang lebih efektif dalam pertempuran udara dibandingkan Heavy Twin-Engine:

Eurofighter Typhoon, Dassault Rafale, dan MiG-29 yang berada di kelasnya sendiri - karena memadukan kelebihan dari kedua kelas ini; Daya dorong Twin-Engine, didalam paket yang lebih kecil, untuk kemampuan kinematis yang jauh lebih optimal, dibandingkan raksasa-raksasa di kelas F-15, F-22, dan Sukhoi Flanker; bahkan boleh dibilang sangat bersaing dibandingkan F-16, dan Gripen. 

Akan tetapi sayangnya, dengan mengambil langkah ini, Typhoon, Rafale, dan MiG-29 sebenarnya juga memadukan kelemahan-kelemahan Twin-Engine, dan Single-Engine dalam satu paket.

Typhoon, Rafale, dan MiG-29 mempunyai biaya operasional yang sebanding dengan F-15 (atau lebih mahal untuk buatan Russia), maintenance requirement yang lebih berat (Rafale membutuhkan 15 jam maintenance setiap satu jam terbang), dan dengan menambah kerumitan twin-engine design, dengan sendirinya justru mengurangi faktor reliabilitas dibandingkan F-16, dan Gripen. Sebaliknya, jarak jangkau Typhoon, dan Rafale lebih mendekati F-16, dibandingkan F-15 --- sedangkan MiG-29 boleh dibilang pesawat tempur jarak dekat yang bensinnya terlalu cepat habis.

Biar bagaimana setiap pesawat tempur sejak tahun 1970-an memang sudah di-desain untuk memenuhi fungsi Multi-Role, tetapi tetap saja akan ada fokus yang lebih memberat ke satu sisi. 

Dari segi fungsi utama, terlepas dari ukuran / berat pesawat-pesawat tempur Barat dapat dibedakan sebagai berikut:
  • Air Superiority Fighter - Fokus desain adalah untuk pertempuran udara dahulu, kemampuan lain adalah secondary; F-22, F-15A/BC/D, F-16A/B/C/D dari Block-30/32/40/42, Typhoon, Rafale, dan Gripen. 
  • Strike Fighter, with more limited Air Superiority  Role; F-15E Strike Eagle, F-16C/D Block-50+/52+/60/ V, F-18 Classic, dan Superhornet.
  • Strike Aircraft, with severely degraded Air Superiority Role; F-35
F-35, berkat badannya yang luar biasa gemuk, draggy, sayap yang kecil untuk Wing-loading yang luar biasa besar, sebenarnya adalah pesawat retrograde, atau boleh dibilang downgrade dibanding semua desain pesawat tempur Barat yang lain. 
Just like Sukhoi Su-35 for Indonesia: 
This is the only known F-35's combat-proven capabilities!
Yah, F-16V, ataupun Block-50+/52+ modern sebenarnya lebih diprioritaskan USAF untuk menjadi pesawat pembom ringan, dibandingkan Air Superiority Fighter; seperti Block-30, Block-40, atau versi awal dari Block-50/52. Kalau saja, USAF tidak membebani F-16 sedemikian rupa, pesawat ini akan jauh lebih efektif dalam pertempuran udara.

Yang menarik disini - pesawat tempur twin-engine yang buatan US, apalagi yang versi berat, seperti F-15, dan F-18E/F lebih cocok untuk menjadi pesawat pembom, dibandingkan Air Superiority Fighter. Kelihatan jelas, bukan? Setiap F-15 yang masih diproduksi sekarang adalah dari improved variant dari Strike Eagle.

Dewasa ini, hanya F-22, dan ketiga Eurocanards yang menduduki posisi sebagai Air Superiority Fighter dalam jajaran setiap angkatan udara di dunia. Prioritas desain dari keempat model ini sudah jelas dari awal, dan tidak pernah dikutak-katik seperti F-16 USAF; yakni untuk menghancurkan sebanyak mungkin Sukhoi Su-27/30/35, dan MiG-29.

Do we need another Twin-Engine Fighter??

Apakah Indonesia membutuhkan pesawat Twin-Engine Fighter?

Jawabannya TIDAK.

Kalau kita mengamati semua berita militer di Indonesia, apakah yang sebenarnya menjadi kebutuhan pertahanan Indonesia di masa sekarang?
  • Fighter coverage yang lebih efektif untuk menjaga seluruh wilayah udara Indonesia. Saat ini, radar coverage saja belum 100%, terutama di wilayah Indonesia Timur, boro-boro masih mau beli pesawat tempur lagi!
  • Kemampuan untuk mencegat pesawat penyusup yang masuk ke dalam wilayah Indonesia, tetapi masakan denda untuk penyusup lebih murah dibanding biaya operasional??
  • "Mengimbangi tetangga?" BUKAN! Pengertian yang lebih tepat adalah - bagaimana caranya untuk bisa "mengejar ketinggalan" dan akhirnya mulai belajar dapat menyamai kemampuan tempur udara negara lain.
  • Mengejar kemandirian, bedasarkan panduan UU no.16/2012, agar lebih kebal dari kemungkinan terjadinya Embargo, atau lebih penting lagi, kesulitan spare part dari negara lain.
Kita bisa melihat kalau titik fokus utama pembelian pesawat tempur Indonesia sebenarnya adalah untuk Self-Defense, dan bukan untuk membom target di negara lain. Wong, Indonesia sebenarnya juga tidak ada pengalaman, ataupun ambisi untuk melakukan agresi ke negara lain.

Pesawat yang dibutuhkan Indonesia adalah 21st Century Fighters, yang juga memenuhi persyaratan UU no.16/2012, BUKAN pesawat twin-engine yang kemampuannya akan meragukan!

Untuk pesawat tempur Barat, kecuali F-22, Typhoon, atau Rafale; kesemua pesawat twin-engine sebenarnya lebih diprioritaskan untuk membawa bom sebanyak mungkin, untuk jarak yang sejauh mungkin. 

Australia membeli F-18F karena tujuannya kompatibilitas cockpit F/A-18A/B dan kemudahan training, selain itu lebih diprioritaskan untuk mengikuti operasi-operasi multi-nasional NATO, yang biasanya dipimpin United States. Dengan kata lain, kebutuhan untuk pesawat yang bisa membawa banyak bomb, adalah salah satu alasan utama, kenapa pemerintah Australia memilih SH.

Singapore mengoperasikan F-15SG, yang sebenarnya adalah variant dari F-15E Strike Eagle, tujuannya juga sama. Untuk membom sasaran jauh dari Singapore -- baca: pesawat tempur lawan di pangkalannya sendiri, sebelum sempat mengudara! Pikirkan saja baik-baik! Kalau ada negara lain yang mengancam keamanan Singapore, mengingat luas daerah mereka yang begitu kecil, mereka tidak akan menunggu sampai diserang terlebih dahulu.

Apakah persyaratan pesawat tempur paling ideal untuk menjaga NKRI di masa depan?


Pilihan yang paling menjamin kemandirian, dan kedaulatan Nasional,
mendukung industri pertahanan dalam negeri sesuai dengan UU no.16/2012,
dapat beroperasi dari ribuan landasan perintis,
100% Complete Territorial coverage, with AEW&C, and Networking,
dan biaya operasional yang tidak mencekak dompet!
(Credits: Saab)


IF-X is the future Fighter for Indonesia??


No, it is NEVER MEANT for Indonesia!!


Topik ini sendiri akan dibahas dalam artikel mendatang yang lain.

2 comments:

  1. @ Bung admin sebenarnya doktrin peperangan udara apa yang dianut indonesia?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung @reader,

      Doktrin Indonesia.... boleh dibilang versi yg sangat tradisional, mungkin seperti tahun 1950-an.

      Ini perpaduan krn belum ada yg mau mengajarkan sistem pertahanan modern Abad ke-21, dan sptnya TNI-AU sendiri belum berinisiatif untuk mau belajar.

      Faktor memperparah: sbnrnya kita juga dipermainkan Alutsista udara buatan US, dan Russia; kedua negara yg memang selalu menjual versi export/kommercheskiy ke semua negara pembeli. Tentu saja, keduanya juga tidak pernah menganggap kita sebagai sekutu militer yg dapat dipercaya 100%.

      Membeli pesawat tempur apapun juga, efek gentarnya akan NOL besar tanpa ada inisiatif untuk mulai mendesain sistem nasional terlebih dahulu, dan ini cangkupannya cukup luas.

      # Pengawasan wilayah udara yg terintegrasi penuh (Networked) dari Sabang - Merauke
      # Sistem command-and-Control yg modern, dan terintegrasi.
      # Semua pesawat tempur harus terkoneksi dalam satu network yg kebal jamming
      # Mengikuti sistem training modern, mnrt sistem NATO, untuk memastikan keterampilan utk memanfaatkan semua asset udara yg ada.
      # Harus mulai lebih rajin untuk mengikuti latihan mancanegara utk terus mengetes kemampuan, dan prosedur baru.

      # Terakhir, tidak boleh lagi ada armada gado2 yg tidak compatible satu sama lain, semua alutsista udara harus dibeli menurut kemampuan mereka untuk terintegrasi ke dalam SISTEM diatas.

      Tentu saja, kebiasaan pembelian alutsista dalam jumlah cekak (kurang dari 1 skuadron), tanpa perlengkapan support, simulator, spare part, dan persenjataan juga HARUS dihentikan.

      Delete