Wednesday, May 11, 2016

Bagaimana kalau Indonesia akhirnya benar membeli Su-35...?

Su-34 crash at Voronezh AB  (Image: su27flanker.com)

..... ya, tidak apa-apa!

Silahkan saja membeli Su-35!

Transaksi persenjataan, sayangnya memang selalu lebih ditentukan oleh politik, daripada pilihan mana yang sebenarnya memberikan lebih banyak keuntungan nasional.

Dave Majumdar, Editor dari National Interest, menuliskan kalau Russia sepertinya mempunyai "inside track" (lobi-lobi, atau koneksi orang dalam), yang mempercepat kemungkinan terjadinya transaksi Su-35. Mengingat Sukhoi adalah satu-satunya pilihan yang menggunakan jasa agen perantara, ini sebenarnya tidaklah terlalu mengherankan. Memang salah satu keunggulan pemakaian jasa perantara adalah untuk mendapat "kemudahan" transaksi.

Tentu saja, dalam jangka panjang Indonesia akhirnya akan sangat menyesal... 


Miskonsepsi pertama: membeli pesawat tempur jenis manapun, tidak akan membuat kita bisa "menandingi" negara tetangga


Maaf, tetapi pernyataan ini saja sebenarnya adalah sudah menjadi miskonsepsi yang mendasar.

Kalau kita menunjuk ke Australia, apakah sudah benar mempelajari Angkatan Udara mereka bagaimana?

RAAF adalah salah satu Angkatan Udara pertama yang didirikan di dunia, sudah memupuk pengalaman bahkan dari jaman Perang Dunia II (1939 - 1945). Dewasa ini, sistem, perlengkapan, infrastruktur, dan training mereka termasuk yang paling modern, dan terbaik di seluruh Australasia. Stock persenjataan mereka jauh lebih banyak, dan yang paling penting.... Anggaran pertahanan Australia juga jauh lebih BESAR.

Dalam keadaan sekarang, kalau Indonesia mencoba "mengimbangi" Australia itu sebenarnya membohongi diri sendiri. Perbedaan kemampuan Angkatan Udara Indonesia, dibandingkan dengan Australia sebenarnya terlalu jauh untuk bisa dikejar dalam sehari-semalam! Butuh komitmen penuh, investasi modal, dan kerja-keras puluhan tahun!

Inilah kenapa; Indonesia seharusnya belajar untuk lebih rendah hati dahulu, dan mencoba "mengejar ketinggalan". 

Bagaimana caranya membuat kemampuan udara kita menjadi lebih bersaing dengan standard sistem yang jauh lebih tinggi di Australia, atau di Singapore?


Inilah salah satu topik yang selalu diangkat dalam blog ini.

... tentu saja, hanya semata membeli pesawat tempur manapun tidak akan menutup "gap" yang sudah menganga lebar, antara kemampuan udara Indonesia, dan Australia.

Ini berkaitan dengan miskonsepsi yang berikutnya...

Tanpa investasi di sistem training, Su-35 justru akan sangat memperlemah kemampuan Indonesia!


Pesawat tempur manapun, nilainya akan NOL BESAR kalau negara pembeli tidak dapat berinvestasi ke jam training pilot, dan Sistem training yang rapi, yang memastikan sang pilot akan 100% terampil untuk menguasai pesawat tersebut.


Legendary Bruce Lee Quote:
 TRAINING always mattered more
than simply KNOWING how to do 10,000 different things!!!

(Gambar:  NaturalNews)

Artinya:

Tanpa Sistem Training untuk berlatih ribuan kali, 
tidak ada satupun negara tetangga yang akan takut,
kalau Indonesia membeli Su-35!!


Dengan memilih hanya membeli 8 pesawat, karena modal cekak, biaya operasional Su-35 akan terjamin akan luar biasa mahal, atau mungkin bisa melebihi Rp 1 milyar / jam. 

Kecuali kemampuan Su-35 "sekali tekan tombol, pesawat lawan pasti hancur!", Indonesia, tentu saja sampai kapanpun tidak akan pernah mungkin dapat bersaing dengan kemampuan tempur Australia, ataupun Singapore.

Kenyataannya saja justru sebaliknya: efek gentar Su-35 tidak akan sehebat iklannya!

Sekarang, terlepas dari hebat, atau tidaknya Su-35 yang sebenarnya, bahkan anak SD akan dapat menghitung kalkulasi sederhana dibawah ini:

Gripen-Indonesia.blogspot



Sejarah sendiri sudah menuliskan - pilot yang lebih terlatih, dan lebih berpengalaman, akan selalu menjadi pemenang dalam konflik udara manapun!
Gripen-Indonesia.blogspot

Dan belum cukup disana...


Sejak 2010, Indonesia sudah membeli lebih banyak pesawat tempur dibanding missile untuk mempersenjatai mereka


Hitung saja, sejak tahun 2010, Indonesia sudah membeli 6 Su-30MK2, 24 F-16 Block-25+ hibah (yang secara tehnis sebenarnya masih lebih modern dibanding semua Sukhoi), 16 T-50, dan 16 lagi Super Tucano (walau bukan pesawat jet). Belum cukup disana, pemerintah sebelumnya juga sudah menandatangani kontrak KF-X, dengan tujuan membeli 50 pesawat.


Sebaliknya, dalam waktu bersamaan, Indonesia hanya membeli 25 RVV-AE (izdeliye-190, atau R-77 versi Export), 25 R-73 versi export, 37 AMRAAM C7 versi tertinggi untuk export, dan 30 AIM-9X Block-2 (padahal tidak ada Helmet Mounted Display!).

Dengan prioritas yang sudah salah kaprah dari awal ini, sebenarnya yang terjadi justru sebaliknya - semakin banyak pesawat tempur yang dibeli, semakin lemahlah kekuatan pertahanan udara Indonesia. 

Bagaimana tidak? 
Pesawat tempur Indonesia, yang tidak mempunyai kemampuan untuk menembak balik, hanya akan menambah jumlah target untuk ditembak lawan!

Masih ingat dengan cerita dongeng dari Australia, yang berjudul: 
"Russian Philosophy of BVR Combat" (Link Ausairpower) ?


Artikel ini menggariskan, kalau salah satu "efek gentar" Su-35, adalah kemampuan untuk membawa 8 - 12 missile untuk BVR combat:

Ausairpower bullshit!
Lupakan saja! Bahkan Russia sendiri tidak akan sebodoh itu mencantoli 8 - 12 missile ke satu pesawat. Alasannya sederhana: 
  • Pesawat yang membawa 8 - 12 missile, berarti faktor resikonya jauh lebih besar. Kalau pesawat tersebut kecelakaan, atau tertembak jatuh sebelum berhasil menembak, itu artinya semua missile tersebut hangus tanpa hasil. Kerugian finansial @ $3 juta / missile = $36 juta.
  • Kalau beberapa pesawat menghabiskan missile begitu banyak, maka logika saja: Tidak akan ada lagi sisa stock di gudang! Harus membeli lagi lewat Rosoboronexport, dan belum tentu barang juga sudah ready stock.
  • Pesawat yang membawa begitu banyak missile, juga hanya akan menambah RCS, BERAT dan DRAG RATE, dan menjadikannya sasaran yang lebih empuk di udara.

Kemudian, masih ingat gambar dibawah ini?
Ausairpower - Russian BVR missile
Katanya Russia memiliki beraneka ragam variant missile, dan seeker
Gambar: Ausairpower

Kenyataannya, kita dapat melihat ke daftar missile yang tersedia untuk export: RVV-AE, RVV-SD, dan RVV-MD, misalnya, adalah versi export dari R-77. 

Lebih lanjut, perhatikan kedua gambar dibawah!

From TheAviationist.com

From theaviationist
Top: Su-27 above the Baltic Sea
Bottom: Su-30SM in Syria (Sputnik News)
All armed with 4 Ukranian-made R-27 R/ER, and 2 R-73
(Picture: TheAviationist)
Yah, BVR missile andalan Russia sendiri, yang bahkan sampai dibawa ke Syria, adalah R-27 (Link wikipedia), yang pertama kali diproduksi sejak tahun 1983, dan bukanlah R-77 AMRAAMski

Perhatikan kalau dalam kedua gambar diatas: 2 R-27 yang dipasangkan dibawah perut Su-27/Su-30SM ukurannya lebih panjang dibanding 2 R-27 yang dipasangkan disayap. 

Menurut Ausairpower, versi R-27 yang lebih panjang ini, adalah dari variant R-27ER; yang berjarak jangkau maksimum 110 kilometer. Sedangkan versi yang lebih pendek adalah versi R-27R, yang berjarak jangkau maksimum 60 kilometer. Seeker-nya sendiri kemungkinan besar adalah dari versi Semi-Active Radar Homing (SARH), yang sebanding dengan AIM-7 Sparrow; yang membutuhkan radar pesawat induk untuk terus mengunci target mulai dari ditembakkan, sampai mengena! 

Tentu saja, AIM-120 AMRAAM dengan Active Radar Guidance, apalagi versi-D yang baru saja dibeli Australia, akan jauh lebih unggul! Dengan 2-way datalink, dan jarak jangkau maksimum melebihi 160 kilometer, yang dipadukan dengan AESA radar; pilot Sukhoi versi manapun tidak akan mempunyai banyak harapan!

RT.com (Russia Today), salah satu media berita milik pemerintah Russia, di Februari-2016 yang lalu meng-upload video ke Youtube, yang memperlihatkan Su-35 yang sekarang sudah operasional di Syria:



Perhatikan video ini di 0:52, dan lihatlah missile apa yang dipakai untuk mempersenjatai Su-35!

Yah, inilah BVR missile langganan Russia:
AA-10 wikimedia
Russian AF's default BVR missile:
AA-10 Alamo, or R-27

Ini menimbulkan dua pertanyaan: 
  • Kenapa Russia kelihatannya lebih mengandalkan R-27, daripada R-77, yang katanya dapat "menandingi" AMRAAM?
  • ... dan kalau Russia sendiri tidak memakai R-77, kenapa mereka menjual versi export dari missile ini ke negara lain?
Tambahan tentang R-27 missile (Link IHS Jane's):
Sebenarnya desain awal missile ini adalah hasil kerja biro desain GosMKB Vympel di Moscow, semasa Perang Dingin. Hanya saja, karena Russia mewarisi military-industrial complex warisan jaman Uni Soviet, lini produksi untuk R-27, dan kemungkinan juga berbagai jenis Air-to-Air missile yang lain, sebenarnya ditempatkan di pabrik Artem, yang berlokasi di Kiev, ibukota Ukrania.

Tentu saja, berkat sepak terjang Russia dewasa ini, Ukrania sudah menjatuhkan embargo militer ke Russia. Dengan demikian, mereka memotong supply chain untuk banyak spare part persenjataan Russia, termasuk salah satunya adalah produksi untuk R-27.

Oh, ya, kembali ke Indonesia: 
Dengan modal cekak yang sudah dihabiskan untuk membeli.... hanya 8 Sukhoi, darimana Indonesia juga akan punya uang untuk membeli sekurangnya 100 RVV-AE, RVV-SD, dan RVV-MD versi export

Bukankah untuk meningkatkan efek gentar Su-35, seperti skenario mimpi indah Ausairpower diatas, memerlukan 8 - 12 missile, per pesawat?

Masih berpikir bisa "mengimbangi" Australia?

Mereka akan mempunyai kemampuan menghadiahi setiap pesawat tempur jet Indonesia (66 unit), dengan 7 AMRAAM-D untuk masing-masing pesawat!

Itu baru namanya efek gentar yang nyata!

Dan tidak hanya berhenti disana untuk Indonesia; kebutuhan pesawat AEW&C saja sebenarnya lebih mendesak, dibandingkan terus-menerus terobsesi membeli pesawat tempur kosong, tanpa senjata, simulator, atau spare part...




Terakhir, sayang sekali, lagi-lagi Indonesia akan melewatkan kesempatan emas untuk bekerja-sama dengan supplier Eropa




Sudah menjadi rahasia umum dalam dunia industri persenjataan internasional, kalau kerjasama dengan Eropa, dibanding US, ataupun Russia, akan selalu lebih menjamin kemandirian, menumbuhkan lebih banyak kader-kader IPTEK dalam tehnologi industri pesawat militer, dan juga menambah lapangan kerja jangka panjang dalam industri pertahanan dalam negeri.

Perancis saja, di tahun 1986, sebenarnya sudah memberikan tawaran Mirage 2000, yang akan memenuhi semua persyaratan dalam UU no.16/2012.

Yah, ini tidak salah tulis. Tawaran Perancis diwaktu itu saja, sebenarnya sudah memenuhi persyaratan pasal 43 dari UU, yang baru ditulis 30 tahun kemudian!

Kalau memang kita begitu menginginkan pesawat "mimpi belaka", dan dengan demikian rela menyerahkan kunci pertahanan udara kita ke Rosoboronexport, dan lapisan-lapisan perantara lainnya, daripada mau mulai belajar mandiri....

Yah, apa boleh buat?

Dengan biaya operasional Su-35 yang begitu mahal, akhirnya juga tidak akan ada uang banyak yang tersisa. Tidak untuk KF-X, atau membeli yang lain. Kemungkinannya terbuka cukup lebar, kalau akhirnya Indonesia akan membeli lebih banyak F-16 bekas dari US untuk mengisi kebutuhan jumlah pesawat tempur yang sudah terlalu diobsesikan sekarang ini.

Dan dengan demikian, menjamin armada gado-gado masa depan, yang efek gentar sebenarnya hampir tidak berarti.

Semoga di masa depan, kita semua bisa belajar untuk lebih mendukung kemampuan industri pertahanan dalam negeri!


Artikel bacaan lebih lanjut:
Su-35SKI (Serial Kommercheskiy Indonesia) vs F-18F Super Hornet RAAF

15 comments:

  1. Skema tot'nya dijelasin dong bung ? Dan harus beli berapa pesawat kan untuk dapat tot macam itu ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. bung @endo

      Saat ini, Saab adalah satu-satunya yang menawarkan ToT, dan menyatakan kalau mereka siap memenuhi semua persyaratan UU no.16/2012.

      Saab menawarkan 100% ToT, tetapi seperti segala sesuatu yang lain; bagaimana skema-nya akan berjalan di Indonesia adalah proses jangka panjang, bukan sesuatu yang dapat terjadi sehari-semalam.

      Indonesia harus belajar dahulu setahap demi setahap.

      Dalam keadaan sekarang, sepertinya kita tidak akan siap kalau langsung menelan mentah-mentah skema 100% ToT; karena pengetahuan industri pertahanan Indonesia dalam hal tehnologi pesawat tempur nol besar.

      Link Tempo.

      Tentu saja, kalau kita terus gandrung membeli F-16, atau Sukhoi (tidak ada bedanya), untuk selamanya juga industri kita tidak akan ada kemajuan yang berarti.

      ## Kalau mengenai berapa jumlah pesawat tempur -- seharusnya, setiap transaksi itu minimal 1 skuadron (12 pesawat).

      Kalau membeli cicilan, tanpa perencanaan jangka panjang yang jelas (seperti Su-35), itu hanyalah membuang uang ke laut.

      Mengingat keuangan Indonesia yang cenderung tak memadai, Saab/Swedia justru sudah memperlihatkan kalau sebelumnya mereka akan dapat mengakomodasi paket pembelian cicilan, tanpa perlu mencekik "komisi".

      Thailand adalah contoh yang baik.
      Mereka membeli cicilan dalam 2 tahap; masing-masingnya 6 pesawat + 1 Saab 340 Erieye AEW&C -- setiap transaksi $600 juta.

      Kenapa Saab siap memberikan ToT, walaupun transaksi penjualannya kecil?

      Pertama, untuk merebut market. Produsen Eropa biasanya selalu lebih kecil, dan dengan demikian harus selalu memberi nilai lebih, karena mereka harus bergulat dengan produsen US, dan Russia.

      Kedua, yang lebih penting adalah kerjasama jangka panjang dengan negara pembeli -- dan sejauh ini, belum pernah ada negara yang tidak puas karena memilih paket2 Gripen.

      Mungkin perlu ditulis lebih lengkap dalam artikel terpisah -- tapi pada pokoknya, ToT yang ditawarkan itu diajukan "tanpa perlu memegang ekor".

      Delete
  2. Gripen memang pesawat canggih , apalagi yang versi E/F . oh ya bung, untuk rudal anti ship yang ditwarkan untuk dirakit di bandung. Apakah itu tot 100% . hebat dong kalau indonesia dikasih hal macam itu , kayanya kita belum bisa buat rudal yg punya otak. Itu loncatan besar bila indonesia mendapt tot rudal itu. Berarti pihak saab kemungkinan mendampingi indonesia sampai bisa membuat gripen made in indonesia ya bung,Walau sampai bertahun². Sungguh tawaran yang sangat bagus. Jadi ga perlu join ma korsel, ga tau jadi apa nda tu pesawat.

    Aneh, indonesia tak ambil ini pesawat. Bingung

    ReplyDelete
    Replies
    1. RBS-15 memang adalah bagian dari ToT-nya sendiri, kalau Indonesia mengambil paket lengkap Saab.

      Sama seperti diatas, produksi RBS-15 tidak akan dapat dimulai sehari-semalam.
      Di Brazil, misalnya, Saab akan terlebih dahulu melakukan penjajakan lokal; kemudian maju setahap, demi setahap dalam menentukan tender.
      Jadi semuanya adalah suatu proses.

      Paket lengkap ini sendiri secara keseluruhan, mulai dari Erieye AEW&C, RBS-15, Gripen, dan tawaran untuk membantu National Network lokal ---- inilah akhirnya yang akan menutup semua lubang pertahanan Indonesia.

      Untuk produksi lokal Gripen ---- satu hal yang pasti; ini akan jauh lebih murah, dan beresiko rendah dibanding KF-X Korea.
      Spt sy sudah tuliskan, proyek KF-X ini akan gagal, atau kalaupun berhasil, harganya akan lebih mahal dibanding Eurofighter Typhoon, atau Dassault Rafale; sedang kemampuannya akan meragukan, karena dibuat dari basis tehnologi yang lebih rendah dibanding para pemain lama.

      Untuk semua negara lain, atau Indonesia sendiri, apa bedanya?
      Kalau memang menginginkan "proven twin-engine fighter"; lebih baik membeli Typhoon, Rafale, atau (kalau memang sangat akrab ke US) F-15SE.

      Kalau Indonesia mau perencanaan strategis yang lebih baik, dan menghilangkan semua perasaan "gengsi" -- sebenarnya produksi lokal Gripen adalah solusi jangka panjang yang sangat masuk akal.

      ## Spesifikasi Gripen akan 100% ditangan kita. Tidak akan pernah lagi membeli pesawat versi export/downgrade dari US, ataupun "Kommercheskiy" versi Russia.

      ## Biaya operasional untuk 72 Gripen, masih akan lebih murah dibandingkan mengoperasikan armada gado-gado seperti sekarang.
      Ingat -- biaya operasional Gripen hanya 60%, atau sekitar setengahnya dari F-16; dan kalau dioperasikan dalam jumlah besar, tentu saja kita akan berhasil mendapatkan Nilai Ekonomis operational yang tinggi!

      ## Tentu saja, harga per unit juga akan lebih murah, dibanding beli eceran 1 skuadron. Harganya bisa 20 - 30% lebih murah.

      ## Gripen-system Indonesia yang terintegrasi dengan AEW&C, satelit (kalau perlu), dalam satu Network -- akhirnya akan membuat kemampuan udara kita sangat bersaing di Asia; tanpa perlu terus menghitung dompet; "Uang cukup, atau tidak, ya?"

      Tapi yang paling penting disini, yah pertanyaan berikut:

      Sampai kapan pertahanan Indonesia mau terus didikte US, atau Russia?

      Kalau tidak mau, saatnya memperhatikan tawaran Saab dengan lebih serius.

      Delete
  3. Kayanya pengaruh usa sama rusia akan tetap abadi di indonesia ( suplier alutaista )
    Tapi kemungkinan berpaling juga sangat besar ke suplier eropa.
    Toh kalau sama suplier lama terus di anak tirikan terus. walau sudah tau di anak tirikan, toh ga sadar². Berarti kan kita masih didikte terus.
    Dan berharap tahun depan apbn pertahanan udah naik, investasikan aja 50T ke produk ini ( ngarep )
    Untuk armada yang sudah ada udah lumayan banyak, tambaih rudal ma amunisi biar sangar. Supaya suplier lama ga ngambek

    Maaf saya ngaco ngomongnya bung

    ReplyDelete
    Replies
    1. ... sbnrnya sy jg ada pikiran yg serupa.

      Tetapi kalau kita berpaling ke Eropa, dalam hal ini Saab yg paling sesuai utk kebutuhan Indonesia, lebih baik tetap lebih menjalin hubungan supplier dgn US, dibanding Rusia.

      Dari segi Alutsista udara, walaupun kelihatannya Sukhoi seperti di-"anak emas"-kan, sbnrnya status quo tetap saja tidak berubah --- F-16 jauh lebih penting secara strategis untuk Indonesia:

      # Jumlah lebih banyak
      # Usia airframe F-16, walau bekas, atau sudah uzur spt Block-15, kalau sudah diupgrade tetap saja akan lebih panjang dibanding Sukhoi beli baru.
      # Pilihan missile lebih combat-proven, dan lebih modern dibanding RVV-AE.
      # Sortie, dan availability rate akan selalu lebih tinggi

      Perhatikan saja -- jumlah Sukhoi yg ikut parade kemerdekaan, atau HUT TNI-AU semakin tahun semakin berkurang.

      Sedangkan F-16, berkat tambahan 24 pswt hibah, yg sbnrnya secrara tehnis hampir spt membeli baru -- semakin banyak, dan lebih sering keluar utk latihan parade dihari2 menjelang perayaan.

      Point terakhir, semua missile, dan perlengkapan lain, seperti targeting pod yg dipakai F-16, semuanya sudah compatible, dan dapat dipakai dgn lebih optimal diatas Gripen-E.

      Mengoperasikan Gripen-E, dan F-16, seperti Thailand, juga akan memberi kita lebih banyak kemampuan menawar perlengkapan yg lebih modern ke US.

      Misalnya, boleh minta Link-16 terminal, dan HMD utk dibawa pulang?

      Faktor strategis lain: F-16 dapat dipakai untuk "memancing" pesawat lawan mengejar dalam BVR, untuk kemudian dihabisi Gripen-E yg jauh lebih mematikan!

      Delete
  4. apa tanggapan anda tentang embargo swedia terhadap arab saudi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung @hamba,

      Pertama2, kita harus memahami dahulu kalau Indonesia, dan Saudi adalah dua negara yg sistem politik/hukum/sosialnya berbeda jauh, dan dgn demikian gejolak sosial disana tidak akan diatasi dengan cara yg sama dgn di Indonesia.

      Lebih lanjut - sistem pemerintahan juga bumi-dan-langit.

      Indonesia sendiri adalah salah satu negara yg paling demokratis di slrh Asia-Afrika; sedangkan Saudi masih Monarchy Absolute, dgn semua kekuasaan di kontrol keluarga kerajaan.

      Singkat cerita, kasus embargo dari negara manapun yg diberlakukan ke Saudi (atau semua contoh lain manapun) tidak akan bisa diaplikasikan ke Indonesia.

      Contoh pembanding yg lain:
      Politik dalam negeri Thailand sudah kacau-balau sejak 10 tahun tetakhir, tetapi Swedia relatif masih terus mensupport export / tech-transfer ke Thailand.

      Dibandingkan Thailand saja, kita jauh lebih stabil secara sosial-politik, dan kembali lagi, sudah jauh lebih demokratis.

      Semoga penjelasannya membantu.

      Delete
  5. Dan mungkin kah gripen yang kita beli dari swedia mempunyai kapasitas dan kemampuan yang sama dengan angkatan udara swedia sendiri / tanpa di downgrade.

    Miris juga klau gripen tni au kalah sama gripen negara2 lain, apalgi ma elbot&cornet ??

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung @endo,
      Seperti sy sudah sering tulis -- para produsen Eropa, tidak seperti US, dan Russia, tidak pernah mempunyai kebiasaan downgrade.

      Export model US, atau "Kommercheskiy" Russia - ini sepertinya timbul akibat mental dua negara adidaya yang timbul selama perang Dingin.

      Walaupun sekarang Perang Dingin sudah usai, keduanya tidak akan berubah, karena masing2nya ada dipihak yang berlawanan satu sama lain.

      # Ada kemungkinan negara pembeli mendadak menjadi "rewel" (Contoh: Iran, untuk US), dan ada kemungkinan negara penjual adidaya tsb harus berhadapan dengan mereka secara militer!
      Kalau senjata pembeli sama canggihnya dengan yang dipakai penjual --- bisa repot!

      # Atau, kemungkinan yang lebih parah: Negara pembeli bisa saja berkhianat, dan kemudian men-transfer senjata mereka ke Blok seberang (Contoh: Indonesia, yang menghibahkan MiG-21 ke US)

      Delete
    2. Gripen Indonesia.

      Saab sendiri menuliskan kalau setiap platform apapun yg mereka jual, semuanya akan menjadi hasil customisasi menurut kebutuhan/ apa yg diminta pembeli!

      Bukan seperti yang sudah ditentukan dalam apa yang sudah didikte / diperbolehkan dalam versi export US/Russia!

      Jadi seberapa hebatnya Gripen untuk Indonesia, itu akan tergantung permintaan para negosiator kita!

      Tentu saja faktor resiko disini; Indonesia sudah "terbiasa" untuk di-dikte US, atau Russia. Jadi belum ada pengalaman murni, kalau membeli pespur buatan Eropa itu bagaimana.

      Kalau alasannya mau hemat, atau mau cepat delivery, terus masih memilih Gripen-C, yah, rugilah kita!

      Kalau mau serius -- Saab Gripen-E, dan pastikan mengambil juga optional Selex Britecloud Active Decoy -- agar hampir kebal dihantam missile PL-8 / PL-12 China, atau AIM-120D Australia!

      Dan jangan lupa mengambil Meteor BVRAAM, untuk mendapat regional superioritas, karena untuk pertama kalinya, Indonesia akan mempunyai missile yang jarak jangkau, atau pK (probability Kill-nya) MELEBIHI semua negara lain di seluruh Asia!!.

      Delete
  6. Oom dark rider, pulangnya bawain brosur gripen ya...

    Atau kalo ada kaos, topi apa jaket "smart fighter", boleh dong...sizenyala L...xixixixi(ngarep)

    ReplyDelete
    Replies
    1. :)

      Sebenarnya, sy sedang menunggu satu berita penting!

      Saab Gripen-E yang pertama (nomor 39-8), akan diresmikan tanggal 18-Mei-2016 ini!

      Link

      Yah, Gripen-NG yang selama ini di-foto sebenarnya hanyalah Demo model.

      Gripen-NG yang "beneran", baru akan pertama kali mengudara minggu ini!

      Delete
  7. bung GI

    saya sering baca komen2 dari yg pro shukoi bahwa banyaknya permasalahan india dgn shukoi2nya adalah karena mereka tiak becus merawat shukoi2nya dan bahwa masalah ini g akan terjadi kalau yg merwatnya kita penapat bung GI gimana

    ReplyDelete
    Replies
    1. bung @leon,

      Sebenarnya argumen yg sama juga sudah pernah dituliskan dalam RBTH, alias website berita resmi milik Kremlin (DepHan Russia).

      "Itu semuanya kan salah India sendiri, bukan salah Russia!"

      Memang HAL India, ataupun IAF sendiri bukanlah dua organisasi yang sudah terkenal dalam hal disiplin, atau kinerja yang rapi/teratur; dengan, atau tanpa Sukhoi saja, masalah internal mereka sebenarnya sudah seabrek.

      Akan tetapi.... saatnya kita melihat beberapa kenyataan lain:

      #1# India bukanlah "newbie" dalam hal tehnologi pespur Russia!

      Pengalaman India sudah dimulai dari tahun 1961, dimana mereka mendapatkan "Transfer-of-technology" untuk memproduksi lokal MiG-21.

      #2# Yang juga dilupakan orang2 Russia sendiri, Sukhoi Su-30MKI masih tetap jauh lebih modern dibanding rata-rata pesawat tempur AU Russia ; yg rata2 masih memakai pswt bertehnologi tahun 1980-an.

      Baru di tahun 2000-an akhir, Russia sendiri akhirnya mulai membeli Su-30SM (versi lokal dari MKI) dari Irkut, dan Su-35S dari KnAAPO; sedangkan India sudah memulai pertualangan Su-30MKI sejak tahun 1997.

      Tambahan lagi, sama seperti diatas, dalam rangka memperoleh ijin memproduksi MKI, mereka juga sudah mendapatkan Transfer-of-technology secara terbatas dari Russia.

      #3# Jumlah produksi Su-30MKI, juga lebih banyak dibanding Su-30SM, dan Su-35S Russia. 220 pesawat sudah diproduksi sampai 2015, dengan tujuan akhir memproduksi 270 pesawat.

      #4# Orang-orang India juga memakai Su-30MKI dalam level training, dan jam terbang, yang jauh lebih intensif dibandingkan AU Russia sendiri!
      Mereka bahkan mempunyai kemampuan untuk mengirim MKI ke Red Flag Amerika -- ini saja sudah menjadi prestasi yg belum tentu bisa direplikasi dengan mudah oleh Russia sendiri; yang tidak mempunyai pengalaman yg sama.

      Dengan kata lain -- India sebenarnya juga lebih berpengalaman dalam maintenance Sukhoi Flanker Generasi kedua dibandingkan Russia sendiri!.

      ==================================
      ==================================

      Nah, sekarang kalau kita kembali ke Indonesia....

      Apakah Indonesia akan mempunyai kemampuan untuk support Sukhoi, yang lebih mahir dibandingkan India?

      Tidak mungkin, bukan?

      Kalau pengalaman India dengan MKI yg sudah diproduksi ratusan unit saja sudah demikian sulit, kita justru dapat menarik kesimpulan aman:
      Su-35 Indonesia tidak akan bisa terbang lagi dalam beberapa tahun!.

      ## TS-2701 dan TS-2702 --- dua pesawat Su-27SK (alias versi Kommersial / downgrade dari Su-27S tehnologi tahun 1980-an), yang jauh lebih sederhana saja, kita perlu mengirim balik ke Russia untuk perbaikan mendalam.

      http://gripen-indonesia.blogspot.co.id/2015/12/analisis-apakah-mungkin-ts-2701-dan-ts.html

      Yang sering dilupakan orang juga: Su-30MK (TS-3001, dan TS-3002), juga sudah lama tidak pernah kelihatan bisa terbang.

      Kemungkinan kedua pesawat ini juga sudah mengantri untuk dikirim balik ke Russia untuk menjalani "perbaikan mendalam" lagi.

      Yah, seperti diatas -- Su-35 hanya akan memperlemah kekuatan udara Indonesia.

      Delete