Monday, May 2, 2016

Analisis: 4 Alasan Utama, kenapa proyek KF-X akan gagal!

Gambar: Pattrick Allen, IHS


Tidak seperti semua artikel KF-X / IF-X yang lain; Keterlibatan Indonesia dalam proyek ini TIDAK AKAN DIBAHAS. Apa yang harus diperhatikan justru adalah faktor-faktor negatif yang internal dari Korea sendiri, ataupun faktor external lain, yang sebenarnya sudah memberatkan proyek ini dari awal.



Spesifikasi yang diminta ADD Korea menuntut pesawat yang biaya development-nya akan jauuuuh.... melebihi budget....


Menurut laporan di tahun 2014 (Link sudah di-archive), KAI (Korean Aerospace Industry), kontraktor utama untuk KF-X, dan Lockheed-Martin sendiri sebenarnya lebih menganjurkan desain C-501, yang single-engine, yang akan menjadi pengembangan tahap selanjutnya dari T-50. Apa yang dimaksud disini bukan seperti membuat F/A-50, tetapi seperti membuat versi Super Hornet dari keluarga T-50. 

KIDA (Korean Institute of Defense Analysis), organisasi think-thank pemerintah Korea juga mendukung ide C-501. Alasan tehnis-nya cukup masuk akal, bukan? Spesifikasi pesawat yang dituntut, akan jauh lebih sesuai dengan kemampuan industri pesawat Korea dewasa ini. 

ADD Korea tidak setuju. Gengsi, dong!
Inilah perubahan spesifikasi yang mereka minta:

  • Twin-Engine desain - dengan sendirinya proyek akan jauh lebih mahal, dan pesawatnya akan jauh lebih rumit
  • Block-1 diharapkan mempunyai RCS dibawah 1 m2 -- lebih baik daripada F-16; sedangkan Block-2 harus mempunyai internal weapons bay, ala F-35; dengan RCS yang sebanding dengan B-2 bomber.
Bukan hanya apa yang diproyeksikan disini terlalu ambisius, tetapi sebenarnya tidak akan mungkin dapat tercapai dengan Anggaran development KF-X, yang kabarnya hanya akan dibatasi senilai US$10 milyar - $15 milyar.

Sebagai pembanding, Saab Gripen, yang tidak seperti KF-X, sudah diproyeksikan dari awal agar biaya development, harga per unit, dan biaya operasionalnya lebih murah dari generasi sebelumnya, sebenarnya sudah menghabiskan dana development cost $13,54 milyar. Dan ini hanyalah angka di tahun 2006. 

Belum menghitung faktor inflasi, sudah mustahil kalau twin-engine KF-X, development cost-nya hanya $15 milyar. Ini belum menghitung kemungkinan cost overrun, yang sudah selalu terjadi.

Masalah berikutnya untuk membuat pesawat tempur yang sekarang jadi lebih kompleks, dan mahal, daripada yang dianjurkan KAI, Lockheed, dan KIDA ini.....

Korea sendiri tidak ada pengalaman, dan tidak mempunyai kemampuan industri pesawat tempur yang sebanding dengan US, Eropa, ataupun Russia


Yah, secara tehnis, Korea hanyalah Newbie....

... dan New entrants yang mencoba membuat pesawat tempur baru di Abad ke-21 sebenarnya menghadapi uphill battle, yang sudah hampir tidak mungkin bisa terkejar!

Sebagai pembanding, Rafale tidak akan mungkin bisa dibuat, kalau Dassault belum mempunyai kemampuan yang sudah dipupuk dari pengalaman mereka membuat Mirage 2000, Mirage F1, Mirage III, dan sebelum Mirage; membuat Ouragan, Mystere II, IV, dan Super Mystere B2.

Korea belum pernah belajar melalui learning curve yang sama, yang ditempa dari darah, dan keringat di masa lalu. Sekadar mendapat ijin untuk produksi lokal F-16, atau memproduksi T-50, yang sebenarnya 100% milik Lockheed-Martin, dan penjualannya dibawah kontrol oleh pemerintah US, tidak pernah memberikan basis yang cukup meyakinkan untuk memproduksi KF-X menurut spesifikasi C-201, yang diinginkan ADD Korea diatas.

Korea memang sebenarnya menyadari keterbatasan ini, dan karena itu mereka meminta tech transfer...

.... dari United States, dan dengan demikian melakukan tendangan bunuh diri ke gawang sendiri!



US of A, yang kebiasaannya saja menjual export, eh... downgrade model ke semua negara sekutunya, sebenarnya juga adalah negara yang paling paranoia dalam melindungi SEMUA tehnologi pesawat tempurnya. Penolakan 4 core technology dari US akhir tahun lalu sebenarnya tidaklah terlalu mengherankan.

Defense News: Jangan banyak mimpi!
Meminta AESA technology dari US, sebenarnya bagaikan kodok merindukan bulan!
Lupakan saja!
Sekarang nasib ke-21 core technology yang sudah disetujui untuk di-transfer-pun, sebenarnya sudah patut dipertanyakan:
Korea Times, 24-Nov-15
Akan tetapi.... Bukankah Lockheed-Martin sudah menandatangani kontrak untuk membantu proyek ini?

Kontrak hanyalah secarik kertas, yang tidak akan mempunyai nilai apa-apa di mata mekanisme politik sistem proteksionisme industri senjata US.

Sejauh mana US akan membiarkan produk dari saingan baru, yang dibuat berdasarkan tehnologi mereka sendiri? 

Apakah US mau mengambil resiko kemungkinan KF-X untuk mengancam jumlah lapangan kerja di Forts Worth, atau St. Louis?

Dan faktor resiko yang paling menakutkan,
Mengingat Korea sudah lancang untuk mencoba menjual T-50 ke Uzbekistan, tindakan apa yang akan diambil US ambil untuk memastikan tehnology mereka tidak jatuh ke tangan negara-negara yang tidak diinginkan? 

Seandainya Korea akhirnya mengatasi ketiga masalah ini, dan kemudian akhirnya KF-X bisa terbang, tetap saja mereka akan menabrak masalah berikutnya...


Jumlah produksi domestik untuk KF-X (200 - 250 unit) terlalu sedikit, dan terlepas dari campur tangan politik US, TIDAK AKAN ADA negara yang mau membeli pesawat ini!


Berapa proyeksi harga per unit untuk KF-X? Estimasi antara $50 - $60 juta?

Angka ini terlalu optimis.

Dengan mimilih desain twin-engine, dengan spesifikasi ambisius diatas, yang dipadukan dengan jumlah produksi yang ada sekarang (simpang siur antara 200 Korea, 50 Indonesia; atau 120 Korea, dan 80 Indonesia); harga per unit untuk KF-X, dalam skenario terbaik saja, TIDAK AKAN lebih murah dari $100 juta per unit; bahkan bukan tidak mungkin bisa menembus angka $200 juta untuk unit-unit pertama yang diproduksi di Block-1.

Ada yang menuliskan, agar produksinya lebih banyak, dan harganya bisa menjadi lebih murah, mungkin KF-X akan di-export.

Ini sebenarnya menabrak kenyataan lain, dalam Fighter Market Abad ke-21:
Siapa yang mau membeli KF-X?

Link Forbes:
Yah, ironisnya, F-16 akan menjadi pilihan yang lebih baik dibanding KF-X
Yah, kalaupun kemampuannya sedikit melebihi F-16, siapa yang akan menginginkan twin-engine version dari F-16, yang harga (dan biaya operasionalnya) akan dua kali lipat lebih mahal? 

Ini adalah pesawat yang belum teruji, terutama secara logistik, dan industrial. Pembuatnya saja hanyalah negara yang basis tehnologinya lebih rendah dibanding para pemain lama (US, Eropa, ataupun Russia). Siapa yang berani mengambil resiko?

Lagipula.... para pembeli yang mempunyai anggaran besar, sudah akan menutup dompet mereka di tahun 2020-an, dengan membeli produk-produk pemain lama yang sekarang sudah ada di pasar.

Australia, Jepang, Israel, ataupun Singapore sudah berkomitmen ke F-35, dan tidak akan mungkin menyentuh produk yang bukan buatan US. Negara-negara Timur Tengah baru saja menentukan pilihan mereka; Saudi (F-15 & Typhoon), Kuwait (Typhoon), Qatar & Mesir (Rafale), UAE (lebih mungkin akan membeli Rafale), dan Oman (Typhoon); jadi semuanya sudah cukup senang. Market besar yang lain, India, akan mengocok kartu antara PAK-FA, dan Rafale di tahun 2020-an.

Sedangkan negara-negara Eropa? Tidak ada satupun yang akan membeli di luar dari pilihan ketiga Eurocanards, F-18SH, atau F-35.

Faktor yang ironis disini: Kalau tempo hari, Korea memilih desain C-501; KF-X hanya akan berhadapan dengan F-16, dan Saab Gripen di pasar pesawat tempur (ini saja sebenarnya masih banyak Tapi-nya). Sebaliknya, dengan ADD Korea memilih desain twin-engine, KF-X justru akan dipaksa untuk memasuki pasar sudah dipenuhi lebih banyak pemain:
  • Kalau mau twin-engine yang harga awalnya murah, tetapi tidak keberatan dengan logistic, supply spare-part yang kacau, dan biaya operasional yang nightmare-ish, pembeli bisa memilih Sukhoi Su-30SM, buatan Irkut, atau Su-35 buatan KnAAPO! Faktor pendukung: Apalagi kalau si pembeli memang tidak diperbolehkan / alergi dengan pesawat tempur Barat.
  • Kalau punya uang lebih banyak, dan menginginkan twin-engine yang sudah terbukti dapat mengalahkan F-22, dalam pertemuan pertama; tergantung kemampuan logistik (terbiasa dengan buatan Perancis atau tidak), pembeli bisa memilih antara Eurofighter Typhoon, atau Dassault Rafale.
  • Kalau memang menginginkan twin-engine buatan US, karena alasan kedekatan politik: F-15SE, atau F-18 Super Hornet. 
  • Untuk negara yang dianggap sekutu terdekat US, dan memang kebanyakan uang - F-35; pesawat 'stealth for all' yang harganya lebih mahal lagi, juga sudah tersedia.
Dari analisa ini, harga per unit KF-X bisa diperkirakan akan berada dalam rentang yang sama dengan Typhoon, Rafale, dan F-15SE; tetapi kemampuannya dapat dipastikan akan jauh lebih inferior; berkat kerja-sama dengan sang partner baik, Lockheed-Martin, yang menggariskan kalau persyaratan gamang untuk membuat pesawat yang: "melebihi kemampuan F-16, tetapi tidak boleh menandingi F-35!"

Yah, dua-duanya saja pesawat buatan Lockheed!


Penutup

Artikel ini akan ditutup dengan faktor pemberat terakhir, yang justru lebih ironis lagi:

"ROKAF (AU Korea) sebenarnya TIDAK MEMBUTUHKAN KF-X!

Kenapa bisa demikian?

Silahkan memperhatikan alasan rhetoris mereka memulai proyek KF-X! Mereka menyebut untuk membuat pesawat tempur, yang bisa menggantikan F-5E Tiger II, dan F-4D/E Phantom II, bukan?

Kenyataannya, kebutuhan ini sudah terpenuhi tanpa perlu KF-X! Korea sudah membeli 40 F-15K, dan meneken kontrak untuk 40 F-35A untuk menutup kebutuhan high-end pengganti F-4D/E yang masih operasional. Sedangkan F-5E? Dilain pihak, KAI sekarang sedang dalam proses memproduksi 40 F/A-50, untuk mulai menggantikan F-5E mereka.

Akan jauh lebih murah baik dari segi anggaran pembelian, maupun logistic operasional, kalau mereka menambah lebih banyak F-15/F-35 untuk pengganti F-4, dan lebih banyak F/A-20 untuk mengganti semua F-5 yang masih tersisa. ROKAF hanya perlu mengoperasikan 4 tipe dalam keadaan ini (F-15, F-35, F-16, dan F/A-20), sedangkan KF-X, yang harganya akan lebih mahal, hanya akan menambah satu tipe lagi!

Eh, mungkin KF-X untuk menggantikan F-16?
Hampir semua KF-16 Korea baru diproduksi di tahun 1990-an; menjadikan armada F-16 Korea termasuk yang umurnya cukup baru, dibanding para pemakai F-16 yang lain. Faktor lain: mereka baru saja menandatangani kontrak $1,5 milyar dengan Lockheed-Martin untuk meng-upgrade F-16 mereka ke versi-V. Dengan kata lain, KF-16 Korea belum akan memerlukan pengganti sampai 20 tahun ke depan.

Kita hanya dapat menyimpulkan kalau proyek KF-X ini lebih diperuntukkan agar memenuhi ambisi pribadi / egoisme Korea, agar dapat bergabung dengan club negara yang 'bisa membuat pesawat tempur sendiri'. Lagipula, di pasar consumer goods; Korea kan sudah berhasil menguasai pasar smartphone, LCD, dan mobil; sedangkan dari segi military industrial sudah bisa membuat Main Battle Tank (MBT) sendiri, dan AEGIS destroyer, yang sebanding dengan Arleigh-Burke class US Navy! Masakan masih belum bisa membuat pesawat tempur?

Inilah salah satu alasan, kenapa mereka juga memilih desain twin-engine, yang biasanya selalu dinilai prestigious, tanpa ambil pusing keterbatasan industri mereka sendiri. Keputusan ini bahkan menentang rekomendasi kedua partner pembuat; KAI, dan Lockheed-Martin agar membuat pesawat single-engine yang lebih sederhana.

KF-X boleh dibilang lahir dari konflik antara Keinginan vs Kebutuhan pribadi. Dalam hal ini, terjadi penolakan untuk memahami apa yang seharusnya menjadi kebutuhan, dan membela mati-matian hanya untuk memenuhi impian belaka!

Akan jauh lebih baik kalau akhirnya Korea memutuskan untuk membatalkan proyek ini, dan menyadari kalau tidak semua mimpi akan semudah itu menjadi kenyataan.

6 comments:

  1. Saya malah lebih khawatir dg masa depan pt.di...dg cash flow yang belum menggembirakan, bukannya konsentrasi pd pesawat komersial yang pasarnya lebih besar, justru sekarang memperlebar product rangenya.

    Sedikit mirip dg campur tangan imf dalam menyuntik pingsan pt.di kala krismon

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung @hari,
      Sebenarnya industri pesawat terbang, perusahaan manapun juga, adalah industri yang paling di-subsidi diseluruh dunia.

      Divisi Komersial untuk Boeing, dan Airbus saja, masing2 sebenarnya menerima milyaran subsidi.

      Kalau divisi komersial saja sudah sulit, untuk pesawat militer -- faktor resikonya jauh lebih besar lagi..

      TIDAK AKAN PERNAH ADA CUKUP PEMBELI.

      Masalahnya, tidak seperti di tahun 1950/1960-an, dimana anggaran pertahanan nilainya cenderung tinggi dari segi % terhadap PDB; masih banyak AU yang membeli ratusan pesawat, kebanyakan negara cenderung akan memotong jumlah pesawat mereka.

      Dewasa ini, industri pesawat terbang harus belajar menghadapi pasar yang sudah jenuh.

      Dengan kata lain, untuk para pemain lama saja -- sudah tidak ada yang berani mengambil resiko membuat pespur baru.

      Pertanyaannya untuk setiap kasus sbnrnya sama: Seberapa jauh negara bisa / mau menanggung rugi untuk setiap proyek?

      IMHO, masanya untuk mencoba membuat pespur sendiri sudah lewat.

      Delete
  2. Oom punya update terbaru tentang prospek gripen sbg pengganti f-5?


    Di asian defense News muncul lagi berita, presiden jokowi akan menyaksikan pembelian 8 unit su-35(setelah sebelumnya diberitakan pak rr yang seharusnya tanda tangan bulan lalu)...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sy sudah melihat artikelnya.

      Asian Defense News adalah blogspot, bukan sumber berita resmi.
      Artikel ini bahkan tidak memuat satupun link ke website2 resmi yg credible.

      Lebih lanjut men-quote Antara News, malah menyebutkan jumlah Sukhoi Indonesia yg salah; 24 pesawat?!?

      Padahal jumlah Sukhoi skrg hanya 12 unit - 2 sedang direparasi di Russia (TS-2701, TS-2702), sedang 2 lagi (TS-3001, TS-3002) sudah lama hilang dari peredaran tidak ada beritanya, kemungkinan juga sudah rusak berat.

      Kelihatannya justru armada Sukhoi Indonesia perlu di-audit dulu, sblm menentukan akan membeli Su-35, atau tidak.
      Contohnya, Kita harus mempertanyakan berapa % biaya operasional Sukhoi masuk ke "fee", atau komisi perantara.

      lebih lanjut, upaya utk mencegat T-50, atau baling2 bambu saja kesusahan.

      Kita tunggu saja berita resminya.
      Kita tidak tahu apa yg skrg terjadi di belakang layar,
      tp sy tidak yakin beliau (Pres Jokowi), akan menyetujui pembelian pswt dngn biaya operasional ratusan juta, dngn efek gentar semu, sementara kita seharusnya mengalihkan lebih banyak dana ke pembangunan infrastruktur, dan meningkatkan tingkat kompetitifnya ekonomi Indonesia.

      Delete
  3. Setuju,,,su-30 kita yang psw multirole jg tidak pernah menampilkan kemampuan optimalnya, tanpa dilengkapi targeting pod&smart bomb, bahkan lebih sering menampilkan aksi carpet bombing dan straffing dg roket. Negara2 disekitar kita tampaknya sdh selangkah lebih maju

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya Russia sampai saat ini belum bisa membuat smart bomb sendiri, baik memakai IR guidance, ataupun GPS.

      Link.

      Dan tentu saja mereka juga masih belum berhasil membuat targeting pod sendiri -- di kelas LANTRIN, atau SNIPER pod, spt yg sudah bisa dipasang ke F-16 Block-25+.

      Di tahun 2008, sbnrnya mereka berencana membeli Thales Damocles pod dari Perancis, untuk memperlengkapi Su-30SM. Tentu saja skrg ini sudah MUSTAHIL dilakukan karena embargo dari EU.

      Begitulah -- memang sbnrya dalam banyak hal, Russia sudah ketinggalan banyak dibanding produsen2 senjata Barat.

      Belum lagi menghitung kalau mereka hanya men-export pesawat, atau senjata versi Kommersial, alias model export.

      Delete