Tuesday, April 26, 2016

Seandainya di tahun 1986, Indonesia memilih Mirage-2000, dan bukan F-16


Di tahun 1986, Dassault Perancis sebenarnya pernah menawarkan Mirage-2000 untuk bersaing dengan tawaran F-16 Amerika Serikat.

Apakah yang akan terjadi, seandainya dahulu pemerintah Orde Baru memutuskan untuk memilih Mirage-2000?


Sedikit latar belakang dahulu

Di tahun 1980-an, sebenarnya perang dingin sedang memasuki titik puncak baru. Pemerintahan Ronald Reagan di US, baru saja memulai perlombaan “Massive Military build-upuntuk mengalahkan persepsi kalau Amerika, akan kesulitan untuk menandingi keunggulan jumlah yang dimiliki Red Army Uni Soviet.

Dalam masa ini, pemerintah masa Orde Baru adalah sahabat karib US, dan Australia. Bagaimana tidak? Dengan berhasil membubarkan partai komunis terbesar di waktu itu, Orde Baru sudah berhasil melenyapkan kemungkinan semakin merambahnya pengaruh komunis di Asia Tenggara. Suatu hal yang dikhawatirkan US, dan Australia dalam masa Perang Dingin.

Australia tentu saja sangat gembira, karena kemungkinan terbentuknya negara komunis di halaman depannya sudah hilang sama sekali. Sebaliknya, Amerika Serikat juga tidak kalah senang; kekalahan mereka di Vietnam, ternyata mendapat imbalan munculnya pemerintahan baru di Indonesia yang sangat anti-komunis.

Dalam konteks ini, tidaklah mengherankan, kalau di tahun 1988, pemerintah Orde Baru akan lebih memilih F-16, dibandingkan Mirage-2000.


Artikel New Strait Times Malaysia, 10-Juli-1986 di atas, menuliskan kalau dahulu pak BJ Habibie sebenarnya lebih mendukung akuisisi Mirage-2000. Bagaimana tidak? Perancis sebenarnya menawarkan paket offset 105% (mereka akan membeli export Indonesia, senilai 80% dari nilai total kontrak), dan menawarkan kemungkinan 25% dari jumlah komponen Mirage-2000 akan diproduksi di pabrik IPTN di Bandung.

US, dan General Dynamics katanya akan menawarkan deal yang “similar to” apa yang ditawarkan Perancis. Ingat kata kunci dalam artikel ini: “similar toatau “mirip dengan”, BUKAN BERARTI pasti akan sama menguntungkannya!

Tetapi seperti sudah dituliskan diatas, politik akhirnya yang menjadi pemenang transaksi. Pemerintah Orde Baru membutuhkan US, dan Australia untuk pura-pura tidak tahu tentang sepak-terjang mereka memberantas oposisi di Indonesia, sebaliknya keduanya membutuhkan Orde Baru untuk melawan komunis.

Dan akhirnya kita sampai ke seandainya yang pertama:

Kalau waktu itu Indonesia memilih Mirage-2000, mungkin sekarang PT Dirgantara Indonesia sudah lebih menguasai tehnologi pesawat tempur modern, dan Indonesia akan lebih menghargai pentingnya 100% Transfer-of-Technology.

Untuk membahas lebih lanjut...

Seandainya #2: Indonesia tidak akan pernah membeli Sukhoi, dan akan membeli lebih sedikit BAe Hawk-209


Siapa yang sangka, kalau komunis tiba-tiba runtuh dengan sendirinya di tahun 1989 – 1990, dan dengan sendirinya, masa bulan madu antara US / Australia, dengan pemerintah Orde Baru sudah berakhir.

Pada awalnya, TNI berencana untuk mengakuisisi 60 F-16 secara bertahap untuk memenuhi kebutuhan pertahanan udara Indonesia. Sayang, media massa Barat yang sudah lepas dari sensor, dan kemudian juga pemerintah Clinton di US semakin aktif mengkritik sepak terjang pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia. Alhasil, semua rencana ini dikandaskan di tahun 1997.

Sebagai balasannya, pemerintah Orde baru memesan 24 Su-30KI dari Russia, sebenarnya tipe single-seater (bukan twin-seater seperti Su-30 jaman sekarang), tapi mempunyai kemampuan multi-role. Tentu saja, rencana balasan ini kembali dikandaskan oleh Krisis Ekonomi di tahun 1998.

Seandainya, Indonesia sewaktu itu sudah mengoperasikan Mirage-2000, tidak akan pernah ada masalah yang sama. Di antara tahun 1995 – 1997, sebelum Krisis Ekonomi dimulai, bukan tidak mungkin Indonesia mungkin sudah mengakusisi skuadron Mirage-2000 yang kedua, dan mungkin juga mempersedikit jumlah pembelian BAe Hawk-209.



Seandainya #3: Embargo militer di akhir tahun 1990-an tidak akan menimbulkan trauma yang terlalu mendalam (dan terlalu mendominasi diskusi di formil)


Berkaitan dengan krisis di Timor Timur, tentu saja Perancis juga akan memberlakukan embargo militer sementara ke Indonesia, seiring partisipasi mereka dalam EU (European Union).

Seperti sudah dibahas dalam artikel embargo di blog ini, embargo yang dijatuhkan EU (European Union), hanya berlaku selama 5 bulan. Sedikit latar belakang lain, sewaktu Perancis sempat berperang dengan Libya, di pihak Chad, February 1986, dalam Operation Epervier; pada waktu yang bersamaan, Libya tidak pernah mempunyai masalah untuk mengirimkan Mirage mereka untuk menjalani overhaul di Perancis!

Mirage 5D Libya, di Perancis, 1986
(Gambar: Dassault)
Singkat cerita, kesulitan supply spare part seperti yang sudah terjadi ke F-16, tidak akan pernah bisa terlalu merusak armada Mirage-2000 Indonesia, yang sekarang sudah berjumlah dua skuadron. Ingat juga, tidak seperti US, pada tahun 2000-an awal ini, IPTN seharusnya juga sudah lebih mandiri untuk dapat men-support Mirage-2000, diluar bantuan Perancis!

Insiden pulau Bawean 2003, mungkin juga akan menjadi peristiwa yang lebih menarik, antara Mirage-2000 Indonesia vs F-18 Hornet / Super Hornet US Navy.

Bahkan yang lebih menarik lagi, mungkin insiden ini justru akan mendorong akuisisi Skuadron Mirage-2000 yang ketiga, mungkin akan menjadi negara pembeli Mirage-2000 yang terakhir, sebelum lini produksi Mirage-2000 akhirnya ditutup di tahun 2007.

Sekali lagi, tentu saja, tidak akan pernah ada pembelian Sukhoi di tahun 2003!

Belakangan, Indonesia tentu saja akan menyambut lebih baik tawaran Qatar di tahun 2009 untuk menghibahkan Mirage 2000 mereka, karena kali ini sudah terbiasa dengan tehnologi Mirage.

Force Structure dalam TNI-AU di tahun 2010 - 2011 menjadi kira-kira demikian:
·        Sku-01 “Elang Khatulistiwa”  - 12 Mirage-2000 (dibeli tahun 1995 – 1997)
·        Sku-03 ”Elang Biru”  - 12 Mirage-2000 (dibeli tahun 1989)
·        Sku-11 – 12 Mirage-2000 (bisa jadi dibeli bekas, di tahun 2003)
·        Sku-12  - 12 Mirage-2000-5 (9 ex-Qatar, 3 mungkin ex-Perancis)
Qatari Mirage-2000-5
(Aviation Week)

Seandainya #4: Tidak akan pernah ada proyek mercusuar seperti KF-X, atau polemik penggantian F-5E seperti sekarang


Dengan sudah mengoperasikan 4 skuadron Mirage-2000, mungkin Indonesia sudah lebih betah memakai senjata buatan Perancis, dan tidak lagi ada mimpi untuk membuat pesawat tempur sendiri untuk menghindari embargo. Proyek yang anehnya, justru memilih kerjasama dengan Korea, yang sedari awal akan mengandalkan transfer-of-technology dari US, yang bukan hanya meng-embargo terlalu lama (dari tahun 1999 – 2005), tetapi juga dikenal pelit soal ToT…. apalagi ke negara yang belum bisa cukup dipercaya seperti Indonesia.

Di antara tahun 2007 – 2012, Indonesia mungkin sudah meminta Perancis untuk meng-upgrade ketiga Skuadron Mirage-2000 TNI-AU ke versi 2000-5, atau 2000-9, dan melakukan reparasi untuk memperpanjang usia airframe pesawat sampai tahun 2025.

F-5E di Skuadron-14, tentu saja akan perlu diganti, tetapi kebutuhannya tidak akan terlalu digembar-gemborkan seperti sekarang, mengingat kemampuan TNI-AU akan jauh lebih mapan dalam skenario ini: karena mengoperasikan armada yang non gado-gado. Dan tentu saja, karena US, atau Russia tidak pernah mencoba mendominasi jumlah pesawat tempur TNI-AU, kompetisi untuk pengganti F-5E akan menjadi.....

THE BATTLE OF THE THREE EUROCANARDS

Gripen v Mirage 2000 v Rafale
Tiga pilihan yang akan sama-sama menawarkan Transfer-of-Technology, dan seberapa besar tambahan kerja-sama yang mereka bisa ditawarkan ke industri pertahanan Indonesia, khususnya PT Dirgantara Indonesia.

Dassault Rafale, mungkin akan menduduki kursi terdepan, karena hubungan kerjasama jangka panjang yang sudah terjalin antara PT DI, dan Dassault. Akan tetapi, seperti yang sudah terjadi di Swiss, atau di Brazil, kedua negara ex-pengguna Mirage III; pengalaman dengan industri pertahanan Perancis, tidak akan automatis menjadikan Dassault pemenang dalam kompetisi pesawat tempur.

Kenyataannya, Dassault Rafale, sebenarnya dibuat untuk kebutuhan negara Perancis, bukan pengganti ideal untuk negara yang pernah mengoperasikan Mirage III, Mirage F1, atau Mirage-2000; ketiga jenis pesawat tempur single-engine yang biaya operasionalnya lebih murah.

Ini akan bisa menjadi diskusi sendiri, tetapi SAAB Gripen-NG tetap saja akan menjadi pilihan yang lebih logis, dalam jangka panjang, untuk menggantikan F-5E, dan akhirnya semua Mirage-2000 yang lain dalam skenario “seandainya ini.

Penutup


Ini hanyalah light-hearted article tentang seandainya…. Apa yang akan terjadi sekarang, jika tempo hari bukan politik yang menang, tetapi justru pilihan yang lebih menguntungkan Indonesia secara tehnologi, dan industrial.

Keterlibatan industri lokal sebenarnya adalah salah satu faktor penentu utama, terbiasa atau tidaknya TNI-AU terhadap satu jenis pesawat tempur. Saat ini, kalau mau meng-klaim terbiasa dengan pesawat buatan Russia, ataupun US, yang relatif tidak akan menawarkan knowledge-know-how, apalagi Transfer-of-technology, sebenarnya hanya membohongi diri sendiri.

Sekarang belum terlambat untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama, seperti di tahun 1986.

Apa yang menarik dari sini, bagaimanapun cara melihatnya, pada akhirnya Indonesia juga tidak akan pernah bisa menjauh dari kebutuhan pesawat tempur single engine, untuk menjawab tantangan masa depan di Abad ke-21.

Pelajaran lain yang juga harus diambil dari artikel "seandainya" ini: efek gentar TNI-AU akan jauh lebih besar dibandingkan sekarang. Dengan tipe pesawat tempur hanya akan berpusat kepada Mirage-2000, dengan full-support dari PT DI, dengan sendirinya biaya operasional akan lebih murah, dan prosedural training juga akan lebih rapi, dan terarah.


6 comments:

  1. Akan sangat hebat bung, walaupun pabrik sudah tidak produksi. Tapi pt DI sudah bisa fullsuport. Jika dulu indonesia ambil mirage 2000, mungkin sekarang pt DI sudah bisa upgrade bahkan buat itu mirage. Keuntungan yang luar biasa. Tekhnologi mirage 2000 mungkin sudah ketinggalan jaman, tapi kalo bisa upgrade sendiri dan buat sendiri. Bisa ditingkatkan terus menerus untuk buat pespur canggih. Pt Di setara sama pabrik pembuat mirage ( kalau dulu pilih mirage 2000 ). Su 30 KI ( komersil indonesia ) khusus buat indonesia, itu pesawat bagus pa buruk ya min ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung @endo,
      Produksi Mirage-2000 memang sudah berakhir -- tetapi bukan berarti produksi spare part, support, atau paket upgrade sudah berhenti dilakukan pabrik Dassault.


      600 unit sudah diproduksi, dan kebanyakan pemakai masih belum ada rencana mempensiunkan Mirage mereka, sampai mungkin periode antara 2025 - 2030.

      Dalam skenario "seandainya" ini, PT DI dengan sendirinya akan dapat lebih mandiri dalam men-support Mirage, tetapi untuk upgrade biar bagaimana negara pembeli harus tetap tergantung kepada Perancis.

      ## India, salah satu negara yg paling getol memakai Mirage, baru saja keluar uang milyaran $$ untuk menandatangani paket upgrade Mirage mereka.

      ## Perancis masih mengoperasikan 100 unit.
      37 pesawat sudah di-upgrade ke tipe 2000-5; dan masih ada rencana untuk meng-upgrade lebih jauh untuk memulai memakai MICA-IR, -EM seperti yang dipakai Rafale, dan penambahan Helmet Mounted Display (HMD).

      Delete
    2. .... sedangkan Sukhoi, tipe manapun juga, kelemahannya sama....

      Tidak akan pernah ada UPGRADE
      --- dan kalaupun nantinya ada, itu juga karena terpaksa; dan biayanya akan disengaja hampir sama dengan seperti membeli baru.

      Sistem produksi Soviet berarti pesawat tempur mereka seharusnya tidak boleh dipakai lebih lama dari 10 tahun.

      ## Su-30KI dibuat menjadi basis untuk pengembangan tipe multirole Su-27SM1, SM2, dan SM3. Dari segi interface cockpit, mungkin akhirnya sudah dipasangi LCD (semua pespur Russia, bahkan sampai sekarang, cockpit-nya masih bergaya 1980-an), tetapi akan sedikit lebih "primitif" dibanding F-16 Block-30 / Block-40 waktu itu, apalagi dalam menyajikan Situational Awareness ke pilot.

      ## Su-27SK yang dibeli Indonesia di tahun 2003, adalah versi eksport dari Su-27S, yang relatif masih murni pesawat bertehnologi tahun 1980-an. Segala sesuatu serba basic dalam tipe ini. Refueling probe saja tidak ada; dan interface cockpit-nya sudah jauh ketinggalan jaman dibanding sekarang.

      ## Su-27SKM yang dibeli tahun 2006, adalah versi export dari Su-27SM.
      Sub-type definitif produksi-nya, adalah dari tipe Su-27SM3, memiliki sub-variant mesin AL-31F yang daya dorongnya lebih kuat, komputer yang lebih baru, dan radar yang kemampuannya lebih baik.

      Seperti sudah sy tulis diatas.

      Su-27SK (TS-2701 & 2702) -- tidak akan bisa di-upgrade ke tipe SKM.

      Su-27SKM (TS-2703, 2704, 2705) --- juga, tidak akan bisa / tidak akan diperbolehkan untuk di-upgrade ke variant SM3 seperti yang dipakai AU Russia.

      Delete
  2. apa kalau beli 1 skadron sudah ter masuk 1 pesawat aew&c atau diluar kontak

    ReplyDelete
  3. Kayanya belum loh bung, tapi ga tau juga. Bung dark rieder lebih tau kayanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung @hamba, @endo;

      Perancis tidak pernah membuat pesawat AEW&C sendiri, seperti Saab Swedia.

      Pengguna pesawat AEW&C diluar US, NATO, Israel, dan Jepang sebenarnya tergolong langka sebelum tahun 2000-an.

      Australia saja baru mulai mengoperasikan Wedgetail mulai dari tahun 2009 --- ini juga mungkin ada hubungannya dengan keputusan pemerintah mereka untuk mem-pensiunkan F-111, yang biaya operasionalnya selangit. Dana yang dahulu dihabiskan F-111, dapat dialihkan ke tempat lain.

      Delete