Thursday, April 21, 2016

Saab Gripen-E vs F-16V versi Export untuk Indonesia

Kontes antara dua pesawat tempur single-engine,
yang tidak seperti Sukhoi, biaya operasionalnya akan terjangkau!
(Gambar: Saab, Lockheed-Martin - ilustrasi F-16IN)
Training


Seperti sudah dibahas sebelumnya, biaya operasional Gripen lebih murah 40% dibandingkan F-16C. Indonesia juga akan mendapat kesempatan untuk bergabung dalam sistem training Gripen-club. Spesifikasi tidak akan ada main asal downgrade, kecuali kalau negosiator Indonesia sendiri menang sengaja meminta downgrade agar harga lebih murah!

Kalau tujuannya memang hanya membeli untuk harga murah, dan mengurang-ngurangi spesifikasi, agar target jumlah yang dapat dibeli dapat tercapai: F-16V, atau Su-35 dengan senang hati akan memenuhi syarat! Versi downgrade, dengan harga mark-up "sedikit".

Argumen untuk yang pro-F-16, sama seperti untuk Sukhoi, adalah karena Indonesia juga sudah terbiasa. Hanya saja, sayangnya….

Setiap sistem training itu berbeda.

Pertanyaannya seberapa jauh kebijaksanaan pemerintah US untuk dapat men-support training program untuk F-16V Indonesia?

Bukan, yang dimaksud disini bukanlah program Initial Training yang selalu didapat setiap negara pembeli, sebelum pesawat di antar; tetapi After-Sales Service dalam bentuk Sistem Training Jangka panjang, untuk terus mengasah kemampuan pilot, agar semakin lama, semakin menguasai pesawat.

Kenapa kita membutuhkan sistem training dalam jangka-panjang, dari negara PEMBUAT:

1.  Sistem training yang baik tidak mudah unduk di-organisir. Dibutuhkan desain untuk beraneka-ragam skenario yang realistik, yang akan melibatkan bermacam asset udara yang lain, seperti Air Tanker, atau pesawat AEW&C.

2. Kalau training lokal, misalnya untuk BFM (Basic Fighter Manuevering), hanya melibatkan pilot dari Skuadron-A, dengan Skuadron-B; ini juga akan kurang berbobot, karena terbuka kemungkinan "pilih kasih". Jauh lebih obyektif untuk mengadu kemampuan dengan pilot dari negara lain, yang sudah mengasah strategi-nya sendiri.

3.  Sistem training yang di-desain baik, apalagi dengan nilai plus, training bersama pilot dari negara lain, akan memupuk kemampuan, dan menambah pengetahuan pilot. Dan dari sini, kemampuan dan pengetahuan itu akan mengalir ke kadre pilot-pilot yang lebih muda, dan belum berpengalaman.

Masalah training ini akan dibahas secara lebih mendalam di topik lain.

Singkat cerita, kalau tidak pernah ada investasi untuk mengikuti sistem training yang baik, pilot negara manapun juga hanya menjadi jago kandang. Berdoa saja kalau kemampuan sebenarnya tidak akan pernah di-tes dalam konflik!

Australia, dan Singapore, contohnya, menikmati latihan-latihan udara seperti di Red Flag, dimana pesawat-pesawat mereka, bahkan bisa diijinkan untuk beroperasi bersama F-22, pesawat tempur anak emas USAF. Apakah Indonesia akan bisa bergabung dalam klub yang eklusif ini?


Masalah lain yang lebih pelik: F-16V sebenarnya sudah tidak lagi di-prioritaskan untuk pesawat tempur untuk bertempur Air-to-Air. Sistem Training USAF sendiri, lebih memprioritaskan untuk Serangan udara-ke-darat, dengan Air-to-Air mission sebagai prioritas kedua. Masalah ini akan dibahas lebih lanjut dibawah.

Pemenang: Gripen-E


Training untuk Gripen, tidak akan pernah dipengaruhi faktor politik (pelayanan ekstra kalau menjadi sekutu US, atau Russia?), seperti halnya training untuk F-16V, atau juga Su-35. Yang menjadi masalah hanyalah seberapa jauh komitmen Indonesia untuk dapat mengadopsi Gripen-System sebagai salah satu pra-sarana awal sistem pertahanan udara Indonesia yang jauh lebih modern, dan akhirnya diakui dunia.

Selalu ingat juga kalau biaya operasional Gripen yang lebih murah, berarti lebih banyak jam terbang latihan, yang akan lebih berarti kalau ada sistem training yang rapi.


Sortie / Availability Rate


F-16 sudah di-desain untuk operasional tempo tinggi, dan sudah membuktikan diri dalam Perang Lebanon (Israel), atau dalam operasi-operasi Internasional, mulai dari Iraq (1991, 2003), Kosovo, Afganistan, Libya, dan Syria.

Hanya saja, Gripen sudah didesain dari awal untuk mempunyai operational sortie, dan availability rate yang lebih tinggi dibandingkan F-16V.
Tidak ada yang bisa bersaing dengan kemudahan maintenance Gripen!
Untuk mengupas lebih lanjut kelebihan Gripen; masih ingat kecelakaan F-16 Block-25+ di Halim, pada 16-April-2015 yang silam?
Link dari Kompas
Gripen hanya membutuhkan 800 meter landasan pacu untuk tinggal landas, atau kurang dari setengah jarak yang dibutuhkan F-16. Seandainya pilot Gripen yang harus membatalkan take-off, akan mempunyai cukup ruang untuk mengerem pesawat – tanpa perlu drag chute.

Perhatikan saja video dari Gripen, dan F-16B RTAF (Thailand) yang mendarat di bawah (mulai dari 1:20). Gripen memang hanya membutuhkan setengah jarak landasan pacu dibandingkan F-16.


Kalau F-16 sebenarnya terhitung sangat reliable, Gripen boleh dibilang adalah pesawat tempur yang paling reliable, and the safest di seluruh dunia. Sejak unit yang pertama kali diproduksi, kemungkinan terjadinya kerusakan tehnis sangat minimal. 

Pemenang: Gripen-E


F-16 mungkin adalah combat proven fighter yang sudah terbukti memiliki operational tempo, dan availability rate yang tinggi, TETAPI Gripen sudah di-desain dari awal untuk mengalahkan operational tempo F-16, dan untuk dapat mendarat di landasan-landasan darurat yang serba berkecukupan.


Sensors and Networking


Radar: F-16V memang akan diperlengkapi dengan AN/APG-83 AESA radar, buatan Northrop Grumman; radar AESA yang ukurannya kira-kira sebanding dengan Selex Raven ES-05 di Gripen-E (1000 element). Sekilas kelihatannya sebanding, bukan? 

Kenyataannya tidak begitu.

Gripen akan mempunyai keunggulan Sensor Fusion, yang memadukan readings dari AESA radar, Selex Skyward-G IRST yang sudah built-in, IFF system (produksi Selex/Saab) yang built-in, dan Saab’s integrated ESM / ECM yang sudah terpadu dalam satu paket. Sebaliknya di F-16, kebanyakan sub-system itu boleh terbilang optional, dan akibatnya sensor fusion F-16, seperti yang di-klaim Northrop-Grumman di bawah (untuk F-16E/F UAE), sifatnya partial.

F-16V, walaupun akan mendapat radar AESA AN/APG-83 yang setengah generasi lebih maju dari segi software / hardware AN/APG-80, sebenarnya juga masih belum dapat bermigrasi terlalu jauh dari sistem di F-16E/F UAE. Ini dikarenakan, tehnologi Sensor Fusion sudah sengaja di-reserve untuk F-35.

IRST:  Di ketiga Eurocanards sistem ini sudah built-in ke airframe pesawat, sedangkan F-16V hanya mendapat optional module dalam bentuk Legion Pod, yang baru saja diperkenalkan Lockheed-Martin. Selain pod seperti ini hanya akan menambah drag rate pesawat, letak IRST yang berada dibawah perut pesawat, juga akan mengurangi kemampuannya untuk melihat target yang terbang pada ketinggian yang lebih tinggi. Ini juga KALAU Legion Pod yang masih sama sekali baru ini, termasuk atau tidak dalam tawaran FMS pemerintah US.

Data-linked IRST: Optional untuk legacy teen fighters F-15, dan F-16.
Ironisnya LEBIH MODERN dibanding EOTS di F-35,
dan TIDAK BISA dibawa F-22!
(Gambar: Lockheed-Martin)
IFF: ini juga optional untuk teen fighters US, dalam bentuk APX-111, APX-113, atau APX-125 (baru dibeli Singapore) bird slicers. Dan sama seperti faktor IRST di atas; untuk versi Indonesia, apakah IFF akan masuk ke daftar perlengkapan F-16V, atau tidak? 

Catatan: F-16 Block-25+ Indonesia tidak diperlengkapi dengan IFF system

Networking: Program FMS US sejauh ini belum memberi ijin untuk Indonesia memasang MIDS-LVT terminal untuk Link-16 Network di F-16 Block-25+ yang baru saja dihibahkan. F-16 A/B Block-15OCU yang sudah berumur, sebentar lagi akan menjalani paket upgrade MLU (Mid Life Upgrade) untuk modernisasi, dan menambah umur, juga belum tentu akan mendapat MIDS-LVT.

Apakah ini semua akan berubah dengan F-16V? Kita belum tahu karena patut selalu diingat.... F-16, sama seperti semua Sukhoi, hanyalah pesawat versi export, yang sudah di-downgrade untuk Indonesia tercinta.

Dan kalaupun F-16V Indonesia, diijinkan untuk memasang MIDS-LVT, apakah akhirnya Amerika akan mengijinkan memasang terminal ini ke semua F-16 Indonesia yang lain?

Semua embel-embel "optional untuk export" tidak ada di Gripen-E.

Swedia sebenarnya adalah salah satu negara pelopor penggunaan networking pesawat tempur. Saab TIDLS fighter-to-fighter Gripen network akan memberikan keunggulan pembagian informasi dalam lingkup yang jauh lebih luas, dibandingkan Link-16 NATO yang sifatnya broadcast. Dan Gripen, akan dapat memanfaatkan TIDLS, dan Link-16 (atau National Network) secara bersamaan. Sistem yang sama belum akan siap pakai di pesawat tempur buatan US, sampai F-35 yang bermasalah akhirnya siap tempur.


Pemenang: Gripen-E


Dengan AESA radar, F-16V memang terjamin akan memberikan situational awareness yang lebih tinggi ke pilot, dibandingkan pesawat dinosaurus Su-35 buatan Russia. Sayang, tehnologi Sensor Fusion masih partial. Alasannya politik, dan komersial. 

Kalau F-16 dapat di-upgrade terlalu jauh (sebenarnya memang BISA!), insentif untuk membeli F-35 yang harga, dan biaya operasionalnya berkali-kali lipat, akan menjadi berkurang! USAF, dan Lockheed-Martin tidak menginginkan hal ini!

Gripen tidak pernah menghadapi kendala politik yang sama. Ketiga Eurocanards, sebenarnya sudah bersaing dalam cockpit interface, dan Sensor Fusion, antara satu, dengan yang lain. Ketiganya juga sudah mempersiapkan diri untuk bersaing dengan F-35 di pasar pesawat tempur masa depan. Alhasil, jangan heran, kalau sistem Sensor Fusion di pesawat-pesawat Eropa akan selangkah, dua langkah lebih maju dibanding legacy teen fighters.



Beyond Visual Range Combat


Dengan keunggulan RCS kurang dari 0,1m2, Gripen akan lebih sulit untuk dapat dilihat radar AN/APG-83. Sebaliknya, keunggulan Sensor Fusion Gripen-E akan memastikan F-16V, yang RCS-nya sepuluh kali lipat lebih besar akan selalu terlihat lebih dahulu. Gripen akan dapat dipersenjatai missile exclusive untuk ketiga Eurocanards: Meteor BVRAAM; yang kemampuan kill-nya akan beberapa kali lipat dibandingkan AMRAAM  - satu-satunya missile BVR yang tersedia untuk F-16V.

Selex Raven ES-05 di Gripen juga bisa diputar untuk mengikuti target, memberikan kemampuan untuk terus memberikan 2-way datalink update ke missile, sekaligus memberi kesempatan untuk menghindari tembakan lawan.
Rotating swashplate Selex Raven ES-05
(Gambar: Saab)
Sebaliknya, AN/APG-83 F-16V yang fixed-mounted di dalam hidung pesawat, tidak akan dapat memberikan kemampuan fleksibilitas yang sama, walaupun maintenance-nya akan lebih mudah.
AN/APG-83 untuk F-16V
Gambar: Northrop-Grumman
KALAU Gripen-E misalnya, untuk sementara hanya dipersenjatai dahulu dengan AMRAAM-120 C7, seperti yang baru dibeli Indonesia di bulan Maret-2016, peluang Gripen-E untuk dapat menghancurkan F-16V tetap saja akan jauh lebih besar, dibandingkan sebaliknya.

Gripen dapat membuka permainan dengan terbang supercruise untuk menambah momentum awal AMRAAM sebelum ditembakkan!  Dengan demikian jarak jangkau, dan pK (probability Kill) AMRAAM C7 terhadap F-16V dengan sendirinya akan meningkat lebih tinggi.

F-16V mungkin dapat mencoba yang sama dengan Afterburner, akan tetapi RCS Gripen yang lebih kecil, akan membuatnya lebih sulit untuk dilihat dari jarak yang lebih jauh. Afterburner, selain akan menambah radar reflection, juga akan meningkatkan infra-red signature, dan membuatnya lebih terlihat di Skyward-G IRST, yang jarak jangkaunya mencapai 90 kilometer. Dengan kata lain, F-16V yang mencoba melakukan yang sama, malah akan menambah kemungkinannya tertembak jatuh.

Missile defense untuk F-16V, seperti semua perlengkapan sensornya diatas – terlalu banyak option-nya. Kemungkinan DRFM jammer, seperti AN/ALQ-214 Defense Suite akan dapat menangkal AMRAAM, atau RVV-AE – tetapi masalahnya kembali, tidak seperti Gripen-E, defense suite untuk F-16V belum menunjukkan adanya Integrated Sensor / Electronic Warfare untuk kemampuan self-defense yang lebih optimal.

Dan pertanyaannya kembali sama: Karena F-16V versi downgrade untuk export mempunyai banyak opsi – mulai dari mesin, IRST, IFF, dan beraneka ragam defense suite - Perlengkapan yang mana yang akan diperbolehkan untuk diambil Indonesia?


Pemenang: Gripen-E


Kombinasi Gripen-Meteor; jarak tembak, dan kemampuan kill Meteor yang lebih tinggi, yang dipadukan dengan keunggulan sensor Fusion (juga fleksibilitas radar Raven ES-05), dan RCS Gripen yang jauh lebih kecil akan memenangkan 80 – 90% dari setiap BVR combat dengan F-16V.

Satu-satunya perlengkapan missile defense yang optional dalam Gripen-E adalah Selex Britecloud Active Decoy. Sebaliknya, F-16 mempunyai puluhan macam kombinasi untuk missile defense, dan apa yang diambil Indonesia, belum tentu akan se-optimal perlengkapan USAF.

Kalimat terakhir sebenarnya kurang relevan.
Gripen-E bahkan akan mengungguli kemampuan BVR dari F-16V versi USAF.


WVR, and Close Combat


Variant-variant sebelumnya dari F-16; terutama Block-30, Block-40, Block-50 dengan mesin GE, dan Block-52 dengan mesin F100-PW-229 adalah close combat monster, yang sulit dikalahkan.


Seperti sudah dituliskan dalam artikel Single-Engine vs Twin-Engine sebelumnya, F-16 sebenarnya adalah close-combat fighter yang lebih baik dibandingkan F-15, dan demikian juga semua Sukhoi – variant manapun juga.

F-16V berbeda.

Sayangnya, efek gentar F-16 juga menggentarkan para jendral USAF. Untuk melindungi pesawat anak-emas-nya (F-15, dan kemudian juga F-22), mereka sengaja mengubah standard training untuk pilot F-16 agar lebih diprioritaskan ke serangan udara-ke-darat (War-is-boring)
Artikel dari War-is-boring
Apakah USAF hanya akan melatih supaya pilot kita belajar menjadi pembom?
Seiring dengan itu, mereka juga mulai mendorong spesifikasi F-16 untuk lebih menjadi pesawat pembom ringan, dibandingkan variant-variant sebelumnya. Alhasil, terlalu banyak embel-embel tambahan yang diperuntukkan serangan ke darat, yang menjadikan berat pesawat naik cukup besar. Setiap Variant menjadi lebih berat dibanding sebelumnya. 

Dengan patokan berat dari Block-60 milik UAE; F-16V akan hampir 12% lebih berat dibandingkan Block-50, atau Block-52, akan tetapi parahnya, hanya akan ditawarkan dengan dua mesin yang sama: 
  • Pratt & Whitney F100 PW-229 (29,160 lbf) dari Block-52, atau 
  • GE F110-129,(29,500 lbf) dari Block-50
Link: Defense Media Network
Gripen tidak pernah menghadapi faktor politik “para jendral USAF” yang justru sengaja menggunting sayap F-16, agar lebih diperuntukkan membom sasaran di darat, daripada bertempur di udara (itu tugas F-15, dan F-22!). Swedia selalu merencanakan hanya mengoperasikan satu tipe, dan karena itu Gripen dituntut untuk harus bisa mengalahkan pesawat tempur tipe manapun, dengan kemampuan secondary untuk serangan ke darat, dan reconaissance.

Gripen-E, dan F-16V akan sama-sama dapat memakai AIM-9X, dan Phyton-4 / -5 Israel. Kelebihannya, daftar pilihan untuk missile jarak dekat Gripen akan lebih panjang. Mau buatan Jerman? IRIS-T. Mau buatan Afrika Selatan? A-Darter. Negara pemakai Gripen akan mempunyai kebebasan untuk men-stock 2 macam WVR missile, mengurangi resiko kesulitan supply chain dari satu supplier, dan Efek gentar tambahan untuk membuat pilot negara lain lebih sulit untuk menebak apa yang akan dipakai.

Tidak seperti pada legacy design seperti F-16, Saab juga sudah melakukan pengurangan infra-red signature untuk Gripen, untuk menyulitkan targeting missile modern di kelas AIM-9X, dan mengoptimalkan kemampuan flare decoy untuk mengecohnya.

Dengan kemampuan Sustained Supercruise, pilot Gripen akan lebih bebas untuk menentukan kapan, dan bagaimana mengambil posisi yang lebih optimal untuk mengalahkan F-16. Misalnya, kalau kedua pihak sudah kehabisan missile, pilot Gripen dapat membuka jarak. Pilot F-16 tidak akan bisa mengejar, atau mencoba menutup jarak, kalau dia tidak mau bensinnya bingo (habis!); sebelumnya akhirnya pada saat yang tak terduga, pilot Gripen akan dapat mengejutkan pilot F-16 dan memberikan pukulan akhir.

Terakhir, daya pukul BK-27 Mauser revolver cannon (27 mm) akan lebih unggul dibandingkan M61A2 gatling gun yang menjadi standard di semua teen fighter US.

Pemenang: Gripen-E


F-16 versi modern, sayangnya sudah lebih dioptimalkan menjadi pesawat pembom, dan ada kemungkinan, F-16V akan menjadi pesawat yang  overweight.

Base design close-coupled delta-canard, kemampuan Supercruise, infra-red signature yang lebih rendah, ukuran yang lebih kecil agar lebih sukar dilihat, integrated defense suite, dan ditutup dengan daya pukul cannon yang lebih besar akan menjadi kunci keunggulan Gripen diatas F-16, dalam pertempuran jarak dekat.

Sekali lagi, ini bukan berarti Gripen akan selalu lebih unggul dibandingkan F-16; tetapi seperti perbandingan sebelumnya, Training akan menjadi penentu utama kemenangan dalam setiap pertempuran udara.

Range and Payload


Jarak jangkau F-16V, dan Gripen-E sebenarnya akan cukup bersaing dengan pesawat tempur Twin-Engine, dan hampir kira-kira seimbang. F-16V mungkin akan mempunyai keunggulan karena sudah diperlengkapi dengan CFT (Conformal Fuel Tank), tapi dalam konfigurasi ini, pesawat ini tidak akan disarankan untuk pertempuran air-to-air.

Akan tetapi….. Kita akan menyorot ke kemampuan air-to-air refueling.

KC-10 refueling USAF F-16. Notice the flying-boom system
Public Image
F-16 memakai sistem flying boom – sistem yang masalahnya, hanya exclusive dipakai untuk semua tipe pesawat tempur USAF doang (F-15, F-16, F-22, dan F-35A). Semua pesawat tempur lain, mulai dari F-18 US Navy, Sukhoi / MiG Russia, Mirage / Rafale Perancis, Typhoon, dan Gripen semuanya memakai sistem probe-and-drogue.

Kelebihan, atau kekurangan masing-masing sistem kurang relevan untuk dibahas; yang menjadi masalah….. F-16 Indonesia (semua model) sebenarnya TIDAK PERNAH BISA mengisi bahan bakar di udara. Di lain pihak, tidak seperti AustraliaIndonesia TIDAK AKAN CUKUP DANA untuk membeli pesawat tanker di kelas KC-30 (Airbus A330) tanker.

Sebaliknya, Gripen akan fully-compatible untuk air-to-air refueling dari KC-130. Salah satu dari hanya dua KC-130B Indonesia memang sudah jatuh di Medan, di tahun 2015 yang silam --- tapi mengingat keterbatasan anggaran pertahanan, berapa besar kemungkinannya Indonesia bisa membeli Airbus A330 untuk air-to-air refueling?
Probe-and-drogue refueling:
Dipakai pespur US Navy, atau semua pespur negara lain,
kecuali USAF.....

Indonesia adalah negara kepulauan; bukankah kemungkinan besar kalau ada agressor, tentara lawan itu akan didatangkan dengan kapal?

Sayangnya, Indonesia tidak pernah membeli AGM-84 Harpoon, untuk dibawa F-16. Apakah karena Indonesia tidak mendapat ijin untuk membeli Harpoon? Atau, apakah karena USAF sendiri "alergy" dengan Anti-ship missile? (Itu tugas US Navy!)

Di lain pihak, Swedia sudah menawarkan produksi RBS-15 anti-shipping cruise missile, yang akan dioperasikan Gripen.
Gripen-D armed with recon pod,
2 RBS-15 anti-ship missile, 2 MBDA Meteor, and 2 IRIS-T at its wingtips
(Gambar: Saab)
Pemenang: Gripen-E


Sukhoi Su-27, dan Su-30 di Skuadron-11 sebenarnya tidak bisa membawa drop tank, tapi bisa air-to-air refueling dengan KC-130B; sedangkan F-16 Block-15, dan Block-25+, bisa membawa 3 drop tank besar, tetapi tidak bisa compatible untuk mengisi bahan bakar dari KC-130B TNI-AU.

Gripen tidak akan memiliki masalah kompatibilitas yang sama. Dalam kondisi tempur, akan lebih menghemat bahan bakar, karena tidak akan perlu terlalu sering menyalakan afterburner.

F-16 sebenarnya juga tidak pernah sesuai untuk negara maritim seperti Indonesia, karena tidak dipersenjatai dengan missile untuk menghajar kapal lawan. Sebaliknya, Gripen tidak akan mempunyai masalah yang sama. RBS-15 anti-shipping missile sudah ditawarkan untuk diproduksi sendiri di Bandung!
 
Ayo, belajar mendukung kemajuan industri pertahanan lokal!
... dan memenuhi persyaratan UU no.16/2012
PENUTUP


F-16 yang single-engine sebenarnya akan menjadi lawan yang lebih tangguh untuk Gripen-E dibandingkan Su-35, yang tidak hanya sudah jauh ketinggalan jaman, tapi juga umur pendek, dan gampang rusak.

Sayangnya, secara tehnis Gripen tetap saja jauh lebih unggul hampir dalam segala hal, terutama kalau misi yang diprioritaskan adalah Air-to-Air, atau menjaga wilayah udara Nusantara.

F-16V adalah karya negara Amerika Serikat, yang sudah diprioritaskan sedari awal untuk memenuhi kebutuhan eksklusif dari USAF, yang sebenarnya saja sudah dipaksa Konggres US untuk menerima pesawat ini dengan berat hati
USAF tidak pernah belajar dari pelajaran Perang Vietnam...
(
Link from Aviation Week)
Boleh dibilang, karena terlalu banyak keterbatasan, F-16 sebenarnya tidak pernah bisa menjadi pesawat tempur ideal untuk Indonesia. Sistem training-nya tidak bisa bersaing dengan negara-negara tetangga, tidak mempunyai kemampuan air-to-air refueling (dengan KC-130), dan tidak pernah dipersenjatai dengan Anti-ship missile.

Gripen (versi-NG) yang development-nya juga hampir setengah generasi lebih maju dalam segala hal, terutama dalam integrasi sistem mulai dari radar, networking, IRST, ataupun integrated Electronic Warfare System, dan kemampuan TIDLS Gripen-to-Gripen network yang hampir tidak mungkin bisa di jamming.



Saatnya menaruh prioritas akuisisi di tempat yang lebih benar.

Tidak ada satupun negara di seluruh Asia Pasifik / Australia, yang berencana mengakuisisi pesawat tempur yang bisa supercruise, atau dapat dipersenjatai BVR missile terbaik di dunia. Australia, Singapore, dan Korea Selatan sudah terlalu gandrung untuk buy American (F-15, F-18); sedangkan PLA-AF China, dengan anggaran militer kedua terbesar di dunia, mengancam di Laut Cina Selatan, dengan perpaduan tehnologi Russia (Su-35, Su-27, dan Su-30MK2), dengan pespur buatan lokal (J-11 jiplakan, atau J-10).

Gripen – dengan biaya operasional murah, yang dipadukan dengan kesempatan untuk mempelajari semua sistem / prosedural baru, yang boleh terbilang satu-dua generasi, atau 20 tahun lebih modern dibandingkan pesawat-pesawat tempur Indonesia sekarang. Ini akan memberi kesempatan untuk Indonesia mengejar ketinggalan, tanpa perlu mengadu besarnya jumlah anggaran.

F-35?

Stealth, memang. Lebih modern, sih mungkin. Tetapi pesawat ini sebenarnya terlalu lebih bermasalah dibandingkan Su-35, atau F-16V. Pesawat kualitas lemon ini sudah dibahas dalam topik lain secara lebih mendalam.


Argumen untuk membeli Sukhoi, atau F-16, hanya karena sudah "terbiasa" sebenarnya TIDAK RELEVAN

Saatnya berhenti membohongi diri sendiri! 

Kalau memang mau terus menerus membeli tambahan Sukhoi, atau F-16; berarti memang kita sudah "terbiasa" dengan pesawat versi export downgrade.

Gripen sudah membuktikan diri sebagai pesawat tempur yang memudahkan Learning Curve pilot, dan crew di masing-masing negara pembeli. 

Czech, dan Hunggaria dapat beradaptasi dengan cepat ke Gripen-C/D, dari armada MiG-21, dan MiG-29, yang tidak hanya sistem trainingnya tidak karuan, tetapi juga cockpit interface ala-Soviet-nya sudah dikenal sama sekali tidak ada situational awareness. Thailand, dan kelak Brazil, juga tidak pernah kesulitan dalam mempelajari Gripen System, dari F-5E/F Tiger II yang bertehnologi tahun 1970-an.

Gripen tidak hanya sebatas akan menghemat biaya operasional, dan dapat mengumpulkan jam terbang lebih banyak untuk menjaga wilayah udara Nusantara; lebih penting lagi, Indonesia akan mendapat akses ke training untuk pesawat tempur yang jauh lebih modern, dan tidak disertai embel-embel kebiasaan pembatasan spesifikasi via program Foreign Military Sales US, atau monkey model Russia, yang sebenarnya jauh lebih parah, karena mulai dari harga, ataupun biaya operasional, harus selalu disertai komponen komisi untuk perantara.

Gripen Indonesia, untuk kebutuhan Indonesia. 

BUKAN F-16V Amerika Serikat untuk kebutuhan USAF, dan BUKAN Su-35 Russia untuk kebutuhan AU Russia, dan China.
Memenuhi Kebutuhan Indonesia
(Gambar: Saab)
Lenyapkan semua pesawat "versi export"dan....
Para perantara penghisap uang rakyat!

8 comments:

  1. Kayaknya pemerintah masih menunggu-nunggu keputusan mesin kfx/ifx...sebelum memutuskan tipe NG atau yang C/D

    ReplyDelete
  2. apa gripen yang dijual ke indonesia kelak akan beda spesifikasinya dibanding degan yang dipakai pasukan swedia ( down grade )

    ReplyDelete
    Replies
    1. Supplier2 senjata Eropa biasanya tidak mempunyai kebiasaan menjual model downgrade, seperti halnya US, atau Russia.

      Seperti sudah di-post sebelumnya disini:
      Eurofighter Typhoon untuk Kuwait saja secara tehnis, bahkan akan menjadi yg pertama yg memasang Captor-E AESA radar, dan dengan demikian menjadi Typhoon paling modern di dunia, melebihi versi yg dipakai UK, Spanyol, Jerman, dan Italy.

      Untuk pemerintah negara2 Eropa ini bukan masalah.

      Yang menjadi masalah itu negosiator dari pihak Indonesia.
      Modal tidak cukup utk 1 skuadron, jangan lantas nego agar harga lebih "terjangkau", dan terjadi pengurangan spec, agar kemudian bisa dipamerkan!

      Tidak cukup disana, Indonesia juga punya kebiasaan beli "kosong" -- tanpa spare engine, simulator, atau perlengkapan support lainnya. Hampir semua Alutsista yg dibeli 10 tahun terakhir, dibeli tanpa senjata!

      Misalnya: kasus untuk Gripen, kenapa masih mau membicarakan mau membeli versi C/D?
      Alasannya karena mau cepat delivery... tapi uangnya tidak cukup utk 1 skuadron..?!?

      Kalau begitu sih, lebih baik menunda pembelian dahulu, dan negosiasi dgn supplier.
      Swedia, dan SAAB sebenarnya reputasinya cukup baik utk nego dngn negara2 yg modalnya cekak.

      Pembelian Gripen Thailand dilakukan dalam 2 cicilan, kira2 $600 jutaan per batch, masing2 dibagi 6 pesawat, dan 1 Saab-340 Erieye AEW&C.
      Hunggaria, dan Czech hanya bisa menyewa, tapi masih mendapat paket offset lebih dari 100%.

      Satu hal yg pasti sih, persenjataan (missile), atau perlengkapan seperti Targeting pod, pasti akan berbeda dengan yg dipakai Swedia, Brazil, atau Thailand.

      Ini karena fleksibilitas platform Gripen -- supplier senjata terserah pembeli!
      Gripen Indonesia, pertama2 akan dipersenjatai dngn AIM-9x, dan AMRAAM C7... versi Swedia sudah tidak akan lagi memakai 2 missile tsb, krn mereka sedang beralih ke IRIS-T, dan Meteor.

      Delete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung, Anda lupa kalau masih banyak subsistem/komponen Gripen dan Gripen NG yang masuk klausul undang2 ITAR termasuk mesinnya. AS masih bisa "bermain" untuk melumpuhkan armada Gripen kalau mereka mau. Mereka bahkan bisa memveto penjualan Gripen, seperti halnya mementahkan rencana Artgentina membeli Gripen buatan lokal Brazil (atas tekanan Inggris)

      Delete
    2. Kalau - inilah kata kunci argumen anda!

      Pertama-tama, seperti sudah sy tuliskan berulang kali - sebenarnya sudah tidak ada lagi alasan politis bagi US, ataupun EU, untuk memberlakukan embargo militer lagi ke Indonesia!

      Seperti sy sudah pernah post-kan: Memangnya kenapa US berkeras untuk menjual F-16V ke Indonesia?

      Alasan pertama: Lini produksi F-16 di Forts Worth, sudah terancam akan ditutup! Pembelian F-16 Indonesia, akan membuka lini ini selama paling tidak 2 tahun.

      Alasan Kedua: Customer lama! Kalau Indonesia lebih tergantung dengan US untuk F-16, semakin baik, karena semakin banyak bisnis jangka panjang untuk Lockheed-Martin, dan semua kontraktor US yang lain.

      Sekarang kembali ke Gripen:
      Kalau, dalam skenario andai-andai yang sangat jauh, US ingin mencoba melumpuhkan armada Gripen Indonesia -- ini tidak akan pernah bisa berhasil!!

      Berbeda dengan US, ataupun Eropa, Saab Swedia sudah menawarkan 100% ToT, dan peningkatan kerja-sama jangka-panjang secara industrial.
      Ini adalah salah satu langkah solid menuju kemandirian industri lokal.

      "Mandiri" disini sebenarnya relatif -- karena supply chain persenjataan didunia begitu terkoneksi satu sama lain, sebenarnya tidak ada satupun negara yang mandiri 100%, kecuali US sendiri (makanya mereka boleh sombong!).

      Lebih lanjut, semua part buatan US dalam Gripen, sebenarnya dibeli dalam status COTS (Commercial Off-the-Shelf).
      Contoh paling besar: Mesin F414G-39E, variant yang khusus dibuat untuk Gripen-E, dengan kerjasama Saab.

      Berbeda dengan mesin buatan Russia, yang tidak pernah dikenal berumur panjang, kemudian bisa mati sendiri di udara, atau terbakar -- mesin F414G sudah mengumpulkan 2,5 juta jam terbang di Super Hornet, dengan kemungkinan terjadinya kerusakan tehnis saja sudah sangat minimal.

      Sebagai bagian dari ToT, tentu saja para tehnisi Indonesia akan diajarkan bagaimana caranya maintenance mesin F414G secara independent, kalau perlu bertahun-tahun tanpa support dari luar -- sama seperti di Swedia.

      Masalah spare part?
      Di tahun 2003 saja, ditengah puncak embargo militer US, Indonesia masih mengejutkan banyak pengamat ketika ternyata masih bisa menerbangkan F-16 untuk menghadang F-18 US dalam "Insiden Pulau Bawean".

      Ini sekali lagi menggaris-bawahi, spare part buatan Barat, selalu lebih panjang umur. Sedikit inovasi, akan dapat melangkahi embargo manapun juga.

      Tentu saja, Indonesia tidak boleh terus sebodoh sekarang, untuk terus-terusan beli kosong. Belilah spare part dalam transaksi awal, dan juga beberapa mesin F414G untuk spare!

      Ini prosedur standard dalam transaksi persenjataan dunia. Bahkan Australia-pun masih memesan sekitar 12 mesin F414G untuk spare Super Hornet mereka.

      Lagipula, keluarga mesin F414G sudah semakin dipasarkan di dunia internasional sebagai barang COTS.

      HAL India saja, berencana memasang mesin F414G ke HAL Tejas mereka, dan jumlah produksi Tejas, akan mencapai ratusan unit!
      Padahal, sama seperti Indonesia, merekapun pernah dihadiahi embargo militer US, berkat percobaan2 nuklir ditahun 1990-an.

      .... lanjut di bawah...

      Delete
    3. ... dan yang paling penting disini, adalah Source Code, yang menentukan kemampuan terbang / tempur setiap pesawat tempur didunia!

      Source Code Gripen adalah 100% proprietary Saab; dan sebagai bagian dari ToT, mereka akan mengajarkan Indonesia, untuk belajar memahami Source Code Gripen.

      Dan inilah kunci kemandirian yang paling penting....

      Tidak seperti pespur buatan Ruski, atau US, yang kemampuannya dapat didikte melalui beberapa baris programming code, dan kemudian dikunci agar orang Indonesia tidak bisa melihat!;

      Kemampuan tempur Gripen Indonesia, akan 100% berada ditangan Indonesia!

      Tidak seperti F-16,
      Gripen tidak memakai radar buatan US, dan juga tidak perlu terus-menerus memakai senjata buatan US.

      Kalau mereka rewel, silahkan ganti supplier!

      Kalau Indonesia mau melangkah lebih jauh menuju kemandirian, pikirkan untuk merakit Gripen di Indonesia, ala Brazil!

      Opsi ini akan jauh lebih murah, dibanding program mercusuar seperti KF-X!
      Sy akan menuliskan artikel tersendiri mengenai hal ini...

      ==============================================
      ==============================================
      Sedangkan kalau alternatif solusi kita, adalah untuk berpaling ke Russia, agar tidak terkena "embargo"....

      Silahkan membaca artikel yg saya sudah tulis disini:

      Link Sukhoi Su-35 adalah kesalahan besar Bag. II.

      Ringkasan dari artikel: Tidak seperti bayangan semua orang, industri persenjataan Russia sendiri sebenarnya tidak mandiri; karena mereka mewarisi sistem industrial warisan Soviet.

      Dengan sudah memusuhi negara-negara ex-Soviet yang lain, seperti Ukrania, dan Georgia; yang kemudian meng-embargo Russia; dengan sendirinya mereka sudah memotong supply chain untuk persenjataan mereka sendiri.

      Misalnya:
      # R-27, BVR Missile andalan AU Russia, diproduksi di Kiev, Ukrania; demikian juga Infra-Red Seeker untuk R-73, dan semua jenis missile lain.

      Oh, tidak, mungkin Indonesia tidak perlu khawatir dengan embargo dari Russia...

      Tetapi kesulitan spare part itu sudah menjadi suatu kepastian, bukan lagi hanya kalau terjadi.

      Tanyakan saja ke orang-orang India yang sudah jauh lebih berpengalaman dalam semua kesulitannya berurusan dengan Rosoboronexport Russia!

      Link Times of India.

      Laporan India ini bahkan dari tahun 2011, sebelum hubungan Russia - Ukrania sudah serunyam sekarang!

      Delete
    4. Link Sukhoi Su-35 itu tidak bagus kalau diklik.
      Silahkan copy alamat ini ke browser:

      http://gripen-indonesia.blogspot.co.id/2016/03/kenapa-su-35-akan-menjadi-kesalahan.html

      Delete