Sunday, April 10, 2016

Saab Gripen-E vs Sukhoi Su-35 Kommercheskiy

Su-35 hard landing (Credits: Skyrail)
Pahlawan Nordic Abad ke-21 
vs 
Dinosaurus ex-Perang Dingin versi export,
dengan biaya operasional LEBIH MAHAL dari F-22




Training

Dengan biaya operasional yang diklaim sekurangnya 40% lebih murah dibandingkan F-16; Gripen dengan sendirinya dapat memberikan pilotnya jauh lebih banyak pengalaman / training, dibanding Sukhoi Su-35, yang biaya operasionalnya akan lebih dari 10x lipat.

Angkatan Udara Czech saja berhasil mencapai 20,000 jam di tahun 2015. Mengoperasikan 14 Gripen-C/D sejak tahun 2005, Czech melaporkan jumlah jam terbang rata-rata 2,100 jam per tahun, atau sekitar 150 jam / pesawat / pilot. Dengan asumsi biaya operasional $4,700 / jam; biaya training pilot untuk 14 Gripen Czech hanya akan mencapai $10 juta dollar per tahun.

Dengan jumlah anggaran yang sama, pilot untuk 10 Su-35 hanya akan bisa terbang kurang dari 25 jam / tahun. Logika saja disini: Pilot, yang hanya bisa latihan 25 jam / tahun, TIDAK AKAN MUNGKIN BISA MENANDINGI kemampuan pilot yang dapat mengumpulkan 150 jam / tahun.

Swedia juga sudah mempersiapkan program training Fighter Weapons School (FWS) dengan konsep WISCOM untuk semua negara pembeli Gripen. Tujuannya untuk menelusuri semua fitur baru dalam Gripen-NG secara bersama-sama, dan membahas tehnik-tehnik tempur baru yang belum bisa dilakukan dalam Gripen-C/D. Latihan bersama antara para pengguna Gripen juga sudah lebih sering dilakukan secara reguler akhir-akhir ini.

Gripen Meeting (Malmen AB, Swedia, 2012):
Gripen NG Demo, Hungaria, ETPS (Empire Test Pilot School), Swedia, Thailand, dan Afrika Selatan

(Gambar: Aviation Week) 
Tidak ada equivalent-nya untuk sistem training yang sama dalam keluarga Sukhoi. Faktor memperlemah lain: dua pabrik utamanya saja KnAAPO, dan Irkut; sebenarnya adalah dua pabrik yang saling bersaing. Walaupun Su-35S memang sering mengadakan atraksi pertunjukan air show yang menarik, belum tentu Russia sendiri sebenarnya mempunyai kemampuan memakai Su-35 secara maksimal dalam konteks tempur. Apalagi mengingat jumlah jam terbang AU Russia yang kualitasnya tidak menentu.

Moscow Times, 14-Juli-2015:
"6th Russian Air Force crash raised concerns over Aircraft safety"
Terakhir, jangan lupakan juga kalau fasilitas simulator untuk Gripen sudah siap, dan setiap negara pembeli biasanya mengambil beberapa simulator. Pilot-pilot NATO rata-rata akan menambah ratusan jam terbang tambahan (per tahun) di simulator untuk terus mengasah kemampuan.

Simulator untuk Su-35 memang juga sudah dibuat. Tetapi ingat juga kalau sumber dari Moscow Times menyebutkan kalau Russia sendiri cukup terlambat dalam pemakaian simulator untuk training pilot. Sekarang, mengingat jumlah Su-35 sejauh ini masih sedikit, simulator yang sekarang ada juga jumlahnya lebih sedikit lagi (mungkin hanya 1 atau 2 unit)…..

Hukum ekonomi: Kalau jumlah supply sedikit, maka harga akan….?


Pemenang: Gripen


Kalau mengikuti standard latihan NATO 150 - 170 jam per tahun, pilot yang berlatih dengan Gripen, dengan sendirinya akan dapat mengumpulkan jauh lebih banyak jam terbang, dan dengan sendirinya pengetahuan, pengalaman dibandingkan Sukhoi manapun.

Bonus: Indonesia akan dilibatkan dalam Sistem Training FWS / WISCOM, yang juga menjadi prasarana “experience and knowledge sharing” untuk menghadapi bermacam tantangan geografis, dan threat yang berbeda.

Pilot Sukhoi sudah pasti akan lebih hijau (newbie alert!), dan belum tentu dapat benar-benar menguasai kemampuan pesawatnya semaksimal pilot Gripen. Sepanjang 100 tahun konflik udara, belum pernah ada pilot yang masih hijau, akan pernah bisa mengalahkan pilot yang sudah jauh lebih terlatih, dan berpengalaman. Bahkan kemampuan training, dan skill pilot akan dapat menutup kekurangan pesawatnya sendiri, dan menjadi pemenang melawan pilot pesawat lain yang lebih lincah, ataupun lebih modern.

Kemenangan dalam setiap pertempuran udara sebenarnya akan lebih ditentukan oleh kemampuan (dan training) pilot, bukan semata: "pesawat kami lebih canggih dari punya anda!"



Sortie / Availability Rate


Gripen-C/D dilaporkan mempunyai Mission Avalability rate nyaris 100%, baik dalam latihan Red Flag di US, ataupun dalam operasi United Protector di Libya. Dalam kedua kasus diatas, Swedia hanya mengirimkan 8 – 9 Gripen, cukup dengan bantuan perlengkapan / maintenance crew support yang dapat dibawa 1 C-130 saja.
Hanya perlu 10 menit untuk mengisi bahan bakar, dan dipersenjatai kembali
Lebih banyak Gripen mengudara, dibanding Su-Kommercheskiy 
Dengan MTBF (Mean Time Between Failure) sekitar 7,6 jam, dan MTTF (Mean Time to Repair) maksimal 2,5 jam; Gripen dapat mengudara selama 38 jam, dalam kurun waktu 48 jam --- memberikan Keunggulan JUMLAH terhadap lawan, yang tidak bisa mengudara sebanyak itu dalam periode yang sama! Bahkan F-16-pun tidak akan dapat bersaing dengan Gripen.
Gripen dibuat untuk SIAP terbang terus, dan menjaga wilayah udara nasional;
bukan hanya untuk ngendok di hanggar, atau dipamerkan di perayaan kemerdekaanl!

Su-35 kemungkinan besar availability rate-nya akan sangat kurang dari 50% -- mengingat Su-30MKI buatan saingannya, Irkut, yang sudah diproduksi, dan dioperasikan India dalam jumlah ratusan unit hanya dapat melaporkan availability rate kurang dari 55% (Audit Control India, Desember-2015). Sebaliknya, belum ada yang tahu seberapa reliable-nya Su-35, dan dengan demikian faktor resiko pesawat ini hanya akan menjadi hanggar queen akan SANGAT TINGGI.

Spare part untuk Sukhoi dalam 30 tahun terakhir, sudah dikenal hanya bisa tahan ratusan jam, dan cepat habis masa pakainya. Walaupun dituliskan mesin AL-41F1 akan tahan 4,000 jam operasional, kenyataannya Russia selama ini belum pernah membuat mesin yang bisa tahan operasional lebih dari 1000 jam  --- dan mesin AL-41F1 hanyalah derivatif dari keluarga AL-31F yang sudah termasyur bisa mati sendiri di udara.
BOOM!
Variant 117 dari mesin AL41F1 di Su-35 baru saja terbakar pada tahun 2014 yang lalu, 
dalam testing untuk PAK-FA
(Gambar: United Aircraft)


Pemenang: Gripen


Silahkan mengetes kedua model ini untuk misi Interception berkali-kali dalam sehari, dan apa yang terjadi?

Sukhoi tidak akan dapat mengudarai lebih banyak dari sekali sehari, dan setelahnya hanya akan menjadi “hanggar queen” berbulan-bulan, jika dibandingkan rata-rata pesawat tempur Barat; sedangkan Gripen sudah di-desain sejak awal untuk operational tempo yang tinggi, atau melebihi F-16, yang menjadi tolok ukur di NATO.

UPDATE 2-November-2016: Karena keunggulan Ease-of-maintenance, dan High Sortie rate, sebenarnya 48 Gripen-E akan dapat menghabisi 48 Su-35 Kommercheskiy, dalam waktu kurang dari tiga hari.


Sensors


Platform Gripen adalah clean-sheet design yang lebih modern; sudah dioptimalkan dari awal untuk Low Observable design - pengurangan RCS, dan infra-red signature. Sebaliknya, teen fighters Amerika, atau Sukhoi manapun dibatasi oleh desain warisan tahun 1970-an, sebelum pengurangan RCS menjadi prioritas utama. Berkaitan dengan hal ini, pengurangan infra-red signature di teen fighters dan Sukhoi juga hampir tidak ada. 

RCS untuk Gripen-C/D diklaim hanya sepersepuluh dari F-16. Versi E/F dengan konstruksi yang berbeda dari versi sebelumnya, dipadukan dengan AESA radar, akan mengurangi RCS lebih kecil lagi.


Built for continuous evolution....

Selex Raven ES-05 AESA radar, dengan kemampuan Low Probability Intercept dapat beroperasi dalam ribuan frequency, dan akan jauh lebih kebal Jamming; dengan sendirinya akan memberikan qualitative Edge diatas single-frequency PESA radar Sukhoi. Lebih lanjut, Gripen akan memiliki tehnologi SENSOR FUSION untuk memadukan readings dari AESA radar, IRST, IFF, datalink, dan RWR sistem, dalam satu gambaran terpadu dalam cockpit.

Saab: Superior and unmatched Situational Awareness!
Sistem TIDLS (Tactical Information Data Link System) networking untuk Gripen-to-Gripen tidak hanya akan dapat membagi gambaran situational awareness ke seluruh formasi, tapi bahkan mempunyai kemampuan untuk membagi semua status Gripen yang lain, mulai dari persenjataan sampai ke kapasitas bahan bakar – dalam satu layar display. Kemampuan ini tidak bisa didapat dari Link-16, yang sudah menjadi standard untuk menghubungkan semua pesawat tempur NATO yang lain; hanya F-22, dan F-35 yang dikabarkan mempunyai sistem datalink yang sebanding.

... superior fighter-to-fighter Network, and connection to a National Network
Dengan radar yang hanya PESA (pespur Barat tidak ada yang memakai model tanggung seperti ini), belum adanya tehnologi sensor fusion, dipadukan dengan kemampuan networking yang kualitasnya meragukan, Su-35 TIDAK AKAN DAPAT BERSAING dari segi information management, atau target sharing. Russia belum pernah menunjukkan kalau angkatan udara mereka dapat beroperasi baik dalam satu network; di Syria saja mereka bahkan tidak membawa satupun pesawat AEW&C. Ini menunjukkan kalau Russia belum bisa melaju terlalu jauh dari sistem Soviet kuno yang mengharuskan semua posisi pesawat tempur harus selalu di micro-manage dari ground control. Sistem semacam ini sudah dirobek habis-habisan oleh Israel di tahun 1982.

Singkat cerita, dari jarak jauh (Beyond Visual Range), ada tiga kemungkinan dimana Gripen-E akan selalu dapat melihat Sukhoi terlebih dahulu, daripada sebaliknya:

1.    AESA radar Gripen-NG akan dapat melihat Su-35 terlebih dahulu; karena RCS dari pespur twin-engine yang lebih besar, dan tidak pernah dioptimalkan untuk pengurangan RCS. Kemampuan Low probability intercept berarti juga belum tentu RWR di Su-35 akan dapat “melihat” gelombang radar dari Raven ES-05.

Sistem training WISCOM  mengajarkan kalau formasi Gripen akan dapat menyalakan AESA radar mereka secara bergantian, untuk mempertahankan target locking, tanpa perlu mengambil resiko gelombang radar mereka terlihat lawan. Sistem Network TIDLS akan memastikan kalau setiap pilot dalam formasi Gripen akan tetap mendapat gambaran yang jelas untuk posisi, dan arah formasi Sukhoi.

Selex Raven ES-05 Swashplate model
dapat diputar untuk field-of-view 200 derajat di sekeliling pesawat
(Gambar: Saab)
2. Pilihan yang lebih baik: Pilot Su-35 akan menyalakan radar terlebih dahulu, dan pilot Gripen dapat memilih untuk menyalakan radar AESA dalam passive listening mode, agar dapat menentukan posisi Su-35, dari arah gelombang radar yang dipancarkan single-frequency PESA radarnya!
Jarak jangkau radar Sukhoi tidak akan relevan:
Contoh illustrasi bagaimana RWR, dan passive sensor F-18F dapat "melihat" gelombang Irbis-E 
Pilot Sukhoi Kommercheskiy, yang kurang latihan, dan memakai senjata versi export
tidak akan pernah punya banyak harapan!

Dalam skenario ini, Su-35 akan terlihat dari jarak 400 kilometer di layar cockpit Gripen. Selanjutnya pilot dapat menentukan pilihan target, dan mengambil posisi yang lebih enak untuk menembak jatuh setiap Sukhoi satu per satu.

3.   Dalam keadaan heavy jamming dengan asumsi tidak ada radar yang bisa bekerja, Skyward-G IRST akan mempunyai kemampuan melihat lawan dari jarak 90 kilometer head-on, dan dengan tehnologi QWIP, juga akan dapat melihat Sukhoi terlebih dahulu. Positive identification pada jarak 40 kilometer. Sebaliknya, OLS-35 Sukhoi hanya berjarak jangkau maksimum 35 kilometer, dan kemampuannya targeting-nya bisa pertanyakan.



Pemenang: Gripen



Dengan Sensor Fusion, yang memadukan kemampuan AESA radar, RWR, dan IRST yang lebih modern – dan kemudian memberikan ONE shared picture berkat sistem TIDLS fighter-to-fighter Network; Sukhoi tidak akan mempunyai banyak harapan untuk menyajikan bobot informasi yang serupa ke pilot!



Beyond Visual Range Combat


Gripen yang sudah melihat lawannya terlebih dahulu, tentu saja dapat menghadiahi Su-35S dengan Meteor BVRAAM, missile buatan Eropa yang jarak jangkaunya melebihi 100 kilometer, dan kemungkinan bahkan akan dapat mencapai 200 kilometer. Seperti sudah dibahas sebelumnya, kemampuan kill Meteor akan beberapa kali lipat dibandingkan AMRAAM versi US. Radar Raven ES-05 di Gripen yang dapat diputar untuk mengikuti target, akan memberikan kemampuan untuk terus memberikan 2-way datalink update ke missile, sekaligus memberi kesempatan untuk menghindari tembakan lawan.

.... dan inilah keuntungan swashplate radar

Kalau Meteor sudah ditembakkan, pilot Sukhoi sebaiknya berdoa agar sistem jammer edisi tahun 2007 mereka; KNIRTI SAP-518 ECM pod (kalau versi Export tidak di-downgrade!) akan dapat memperingatkan mereka, dan kemudian memberitahukan posisi, dan jarak missile lawan dengan akurat. Lebih lanjut, belum tentu kemampuan ECM pod, dan chaff yang dibawa Sukhoi juga akan siap untuk menangkal guidance sistem Meteor BVRAAM yang lebih modern, yang akan dapat dituntun terus dengan 2-way datalink dari AESA radar Gripen.

Semoga saja pilot Su-35, yang sudah kurang latihan, akan dapat bermanuever semaksimal mungkin untuk menghindari Meteor. Atau, silahkan saja melakukan thrust-vectoring, dan kemudian kehilangan kecepatan untuk menghindari missile modern!
Su-35 di Syria, membawa R-73, dan seperti biasa, R-27
AU Russia sendiri sampai 2016, hampir tidak pernah terlihat membawa R-77 AMRAAMski,
melainkan R-27 (AA-10 Alamo) "crappy" missile
(Gambar: Russia Today)

Sebaliknya, kalau Su-35 ternyata dapat melihat Gripen, dan menembakkan missile versi export RVV-AE (izdeliye-190), atau mungkin juga  semua jenis missile (Russia) apapun, tidak akan bedanya. Missile yang mengancam Gripen, akan berhadapan dengan sistem pertahanan yang berlapis-lapis.


Pusatnya adalah EWS-39 (Electronic Warfare System) yang fully-integrated, akan membuka permainan dengan MAW – Missile Approach Warning, yang dipadukan dengan sistem ECM Gripen, akan memberikan peringatan ke pilot. Tidaklah penting kalau missile itu adalah radar guidance, atau infra-red – karena sensor feed-nya tidak hanya dari ECM sensor, tapi juga dari laser sensor di sekeliling pesawat.

Kita belum tahu seberapa ampuhnya guidance sistem missile RVV-AE; kalau mengambil asumsi kemampuan kill-nya yang sebanding dengan AMRAAM, pilot Gripen akan dapat mengandalkan Next Generation Gallium-Niitride Jammer untuk dapat mengacaukan seeker guidance missile lawan. Dan kalau ini masih belum cukup, perlengkapan optional (tergantung di beli atau tidak) Selex Britecloud active decoy masih akan menjadi lapisan pertahanan kedua, untuk menangkal missile lawan.

Selex Britecloud Active Decoy
Di lapisan pertahanan ketiga, Gripen juga sudah membawa BOL dispenser yang diklaim mengantongi lebih banyak chaff, ataupun flare dibandingkan semua pesawat tempur lain. Tentu saja, BOL dispenser juga sudah terintegrasi dengan seluruh sistem EWS-39 untuk melindungi pesawat. 

Terakhir, dengan keunggulan RCS yang kecil (sulit dikunci missile dengan radar-guidance seeker), dan infra-red signature yang juga kecil (single-engine, pengurangan IR signature), dan kemampuan manuever yang diakui termasuk ".... one of the most agile in the world", Gripen tentu saja dengan sendirinya akan lebih sulit untuk di-lock missile, apalagi BVR missile dengan kemampuan manuever maksimum hanya 40G.

Opsi lain yang tersedia bagi pilot Gripen -- berputar 180 derajat, dan melarikan diri dari missile lawan. Dengan Gripen yang berkemampuan
 supercruise, tentu saja peluangnya cukup besar untuk BVR missile manapun akan kehabisan bahan bakar, sebelum berhasil menangkap Gripen, yang sistem pertahanannya begitu berlapis-lapis.


Pemenang: Gripen


Dalam skenario 4 vs 4 pesawat, dan memperhitungkan kalau BVR combat sebenarnya masih belum menghasilkan Kill Rate yang sebanding jika dibandingkan dalam WVR combat; Meteor, dan Sensor advantage dari Gripen sekurangnya akan menghasilkan 1 atau 2 Su-35  rontok!

Ada kemungkinan kemudian pilot Su-35 yang masih selamat akan mundur, daripada mencoba mengadu terus untuk mencari Gripen yang ”tidak kelihatan”.

Ding-dong! The Sukhoi is dead!

Sebaliknya, hampir tidak mungkin Su-35 akan dapat menembak jatuh Gripen dalam BVR combat. Gripen tidak hanya dipersenjatai dengan MBDA Meteor, tetapi defense suite Gripen yang berlapis-lapis, seperti sudah dipersiapkan untuk menghadapi kemungkinan kalau missile ramjet di kelas Meteor mengancam pesawat ini!

Ingat juga faktor training di atas – pilot Gripen bisa dipastikan trainingnya akan lebih banyak dibandingkan Sukhoi manapun juga.


WVR and Close Combat



Dengan close-coupled delta-canard clean-sheet design, yang dipadu dengan sistem Fly-by-wire modern, Gripen diakui banyak pihak termasuk pesawat tempur yang paling lincah di dunia. Secara tehnis, Gripen berhasil memadukan kelebihan dari F-16 (high energy manuever), dan F-18 (Slow-speed combat manuevering). Gripen akan dapat bersaing dalam “knife fight” melawan F-16, yang mempunyai reputasi baik dalam hal ini, sebaliknya, dengan maksimum Angle of Attack 70 – 80% (Majalah Air Force Monthly, Maret-2014); tidak akan kesulitan menyamai kemampuan High AoA Hornet, yang menjadi ciri khas utamanya untuk mengalahkan F-16 (yang jauh lebih cepat), dalam close combat.

Dalam WVR combat, Gripen sudah mengintegrasikan semua WVR missile Generasi ke-3 buatan Barat, dengan kemampuan High-Off-boresight, dan Lock-On After-Launch – Phytoon-5 (Israel), IRIS-T (Jerman), atau AIM-9X Block-2 (US), yang terhitung satu generasi lebih modern dibanding R-73 Russia. Dipadukan dengan sistem datalink, dan Cobra Helmet-Mounted-Display, Gripen akan menjadi lawan yang mematikan dalam pertempuran jarak dekat.

Seperti sudah dituliskan diatas, missile defense untuk Gripen yang rapi, juga memberikan keunggulan situational awareness yang maksimal ke pilot, dan kemampuan untuk menghindari / menangkal missile manapun juga. Tentu saja, pengurangan infra-red signature, dan mesin tunggal akan menjadi efek pendukung agar pesawat ini sukar ditargetkan missile WVR modern.
Flare / Chaff dispersion is integrated to Sensors, and EW systems

Sedangkan lawannya?
Kemampuan manuever Su-35 memang piawai. Tetapi dengan Angle-of-Attack yang tinggi; kemungkinan besar, pesawat ini akan lebih optimal dalam slow-speed manuevering seperti halnya F-18 Hornet!

Di lain pihak, Su-35 adalah pesawat twin-engine berukuran besar, dengan dua mesin yang ukurannya juga lebih besar, tanpa pernah ada upaya pengurangan infra red signature. Kemungkinannya terbuka cukup lebar, kalau WVR missile modern buatan Barat dengan ICCM (Infra-red Counter Counter-Measure), akan “mencuekin” flares Sukhoi, dan langsung menancap ke pantatnya yang panas.

Kalau semua missile sudah dihabiskan, saatnya bermain dengan peluru.

Mauser K-27 revolver cannon di Gripen, dan Gsh-30 30-mm cannon Sukhoi, boleh dibilang kemampuan pukulnya hampir sebanding – atau lebih unggul dibanding M61A2 gatling gun di F-15, dan F-16.

Gripen akan kembali bersinar, berkat ukurannya yang kecil, akan sukar untuk diikuti oleh pandangan radar Mark.1: Mata pilot. Tanyakan saja pada pilot-pilot NATO yang sudah berhadapan dengan Gripen!

Pilot Sukhoi Su-35, dengan pesawatnya yang jauh lebih besarhigh drag rate, dan T/W ratio yang kurang bersaing justru akan lebih kesulitan lagi untuk mengikuti gerakan Gripen, yang bisa saja memanfaatkan posisi matahari dibelakangnya, untuk mempersulit pandangan pilot lawan.

Kalau pilot Su-35 sudah mulai “nakal” dan mencoba bermain TVC, pesawat ini will bleed too much energy... losing speed, and alttitude – dan dengan demikian menjadi sasaran yang lebih empuk untuk wingman dari Gripen yang pertama! Strategi pertempuran udara dengan memakai TVC, tidak akan pernah bisa efektif untuk menghadapi WVR missile modern, ataupun Mauser K-27 cannon.


Pemenang: Gripen


WVR combat menjadi lebih berbahaya. Kemungkinan tertembak jatuh lebih besar dibandingkan dalam situasi BVR, dan Su-35 mempunyai peluang yang lebih besar untuk mengalahkan Gripen.

Tetapi kembali lagi, Energy-manuever Gripen, dengan ukuran yang lebih kecil agar sulit terlihat radar Mk.1 (mata pilot), close-coupled delta canard yang dibuat untuk kemampuan manuever maksimal, desain low-observable yang setengah generasi lebih modern, yang dipadukan dengan sistem pertahanan yang berlapis-lapis, dan 10x lipat lebih banyak jam latihan; pilot Sukhoi versi Kommercheskiy tidak akan pernah punya banyak harapan.

Sukhoi yang ukurannya lebih besar, lebih berat, dengan high-drag rate, dan dua mesin yang PANAS, dan BESAR justru akan menjadi undangan bagi WVR missile, atau tembakan lawan.

Kemampuan Supercruise juga akan memberikan kesempatan untuk pilot Gripen untuk dapat menentukan aturan permainan; apakah pilot mau menutup jarak, dan mengambil posisi tembakan yang paling menguntungkan? Atau apakah mau menghindari pertempuran, membuat lawan kehabisan bahan bakar kalau mencoba mengejar, kemudian berbalik untuk menghabisinya kemudian?



Range and Payload



Payload, kelebihan utama pespur Twin-engine, sebenarnya kurang relevan, karena Indonesia belum pernah menggunakan pesawat tempur untuk mengebom sasaran strategis di negara lain. Bukan! Bukan untuk counter-insurgency, seperti untuk menghantam insurgency di Poso sekarang – untuk misi ini pesawat yang bisa terbang lambat, dan terus-menerus berputar-putar lama di atas medan tempur akan jauh lebih optimal (Super Tucano).

Oh, ya... Swedia menawarkan RBS-15F anti-ship cruise missile,
untuk bisa
 diproduksi sendiri di Bandung.
Anehnya, untuk negara kepulauan, kenapa investasi TNI-AU dalam anti-ship missile masih minim?
Mau lebih mandiri, atau tidak? Efek gentar diperlukan, atau tidak?
Lagipula tidak seperti mitos kuno; jarak jangkau Gripen-E, dan Sukhoi Su-35 sebenarnya hampir berimbang – sekitar 1500 km, dengan 30 menit on-station. Dan dalam keadaan tempur, Gripen-E akan jauh lebih hemat bahan bakar, karena dengan kemampuan supercruise tidak akan perlu untuk rajin memakai afterburner (yang memboroskan bensin) untuk dapat melaju ke kecepatan supersonic.



PENUTUP
Kemenangan 5:0 untuk Gripen-NG

Di satu sudut adalah versi terbaru dari pesawat tempur lightweight single-engine yang terus-menerus di-upgrade, yang sudah mempunyai reputasi sebagai the most agile fighter, dibuat dengan basis tehnologi yang lebih tinggi, dan kemampuan untuk mengintegrasikan semua persenjataan, dan perlengkapan terbaik yang tersedia di industri militer Barat. 

BONUS: biaya operasionalnya juga sesuai untuk semua negara yang kantongnya terbatas - tapi tidak mau ketinggalan jaman di Abad ke-21 ini.

Di sudut lain, pesawat raksasa yang mengandalkan keunggulan Thrust-Vector-Control, mesin besar, radar besar, TETAPI..... mewarisi desain Soviet tahun 1970-an, dengan biaya operasional sistem Soviet yang mahal (hanya tahan ratusan jam), dibuat dari basis military-industrial complex Soviet yang sudah tertinggal, dan seperti tipikal semua pesawat warisan jaman Soviet yang lainnya, tidak pernah mendapat upgrade sejak pertama kali dibuat. Belum lagi menghitung kalau negara pembuatnya TIDAKLAH MANDIRI, malah sedang menderita embargo militer dari Ukrania, dan semua supplier Barat.

Hasilnya seharusnya tidak mengherankan - Gripen adalah pesawat tempur yang jauh lebih unggul, dari segi desain, dan tehnologi. Sistem sensor, dan networking beberapa generasi lebih maju; dan pesawat ini akan dipersenjatai dengan BVR missile yang paling modern dewasa ini. Ukuran yang kecil, dan biaya operasional murah Gripen sebenarnya menipu kebanyakan orang – ini adalah pesawat tempur yang kalau dipergunakan dengan baik, dan didukung dengan infrastruktur yang lebih modern, bahkan akan dapat mengalahkan F-22 sekalipun.

Lagipula, yang sepertinya tidak diketahui banyak orang, Gripen-E sebenarnya sudah didesain untuk bisa "menghancurkan" Su-35, atau true stealth version dari PAK-FA. 

Terlepas dari perbandingan tehnologi / kemampuan, perbandingan ini memang sebenarnya juga tidak pernah seimbang, karena dengan biaya operasional murah, tentu saja pilot Gripen akan SELALU mendapat jauh lebih banyak training daripada pilot Sukhoi negara manapun.

Ini belum lagi memperhitungkan efek positif apa saja yang bisa didapatkan Indonesia dari kerjasama industrial jangka panjang dengan Swedia, dan Saab.

Kenapa banyak orang di Indonesia masih menginginkan Sukhoi? 

Salah satu alasan karena Sukhoi Su-35 yang digambarkan di media-media Barat, sebenarnya sudah bersalin rupa menjadi tokoh karakter fiktif (Rahwana), sebagai reference threat yang luar biasa berbahaya, yang seolah-olah tidak dapat dikalahkan oleh pesawat Barat manapun!

"Wah, kelihatannya Australia takut dengan Su-35, kalau kita juga ikutan beli, efek gentar-nya pasti huebat!!"

KESALAHAN BESAR! 

RAAF Australia TIDAK AKAN PERNAH GENTAR dengan Su-35! Para strategists di RAAF tentu saja sudah memperhitungkan kekurangan-kekurangan Sukhoi, dan lemahnya sistem pertahanan Indonesia. Mereka tahu, kalau pilot Su-35 Indonesia hanya akan selalu kekurangan training, harus menderita memakai versi Kommercheskiy downgrade, dengan persenjataan Kommercheskiy kelas tiga. 

RAAF F-18F yang dipersenjatai missile kelas satu AMRAAM-D tentu saja masih jauh lebih unggul dibanding Su-35 versi export.

Mau sampai kapanpun juga, Sukhoi Indonesia, variant manapun juga, tidak akan mungkin menjadi ancaman besar untuk Super Hornet, yang tidak hanya pilotnya jauh lebih terlatih, dan jauh lebih berpengalaman, tetapi persenjataan, dan support infrastructure-nya juga jauh lebih lengkap.

Lagipula, Indonesia justru akan membutuhkan Gripen-NG justru untuk menghadapi ancaman Su-35 PLA-AF di laut Cina Selatan (!!), bukan untuk menandingi Australia yang akan membeli F-35. 

22 comments:

  1. Sungguh pesawat yang bagus bung, harusnya kita punya pesawat jenis ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tks untuk komentarnya.

      Sebenarnya yg lebih penting disini, bukan terbatas pada tehnologi / kemampuan / networking / persenjataan yang tersedia di Gripen --- tetapi ADDED VALUE dari potensi TRAINING, dan latihan bersama yang bisa didapatkan Indonesia...

      Delete
  2. Untuk topik-topik beberapa mendatang (seminggu sekali):
    - SAAB Gripen-NG vs F-16V -- versi export untuk Indonesia
    - Sukhoi Su-35 Export vs F-18F RAAF Australia === versi kenyataan, bukan menurut fantasi sci-fi Ausairpower!
    - F-16V Indonesia vs F-16V Singapore === yah, kedua versi ini akan mempunyai bbrp perbedaan... coba tebak mana yang lebih unggul?
    - SAAB Gripen-NG vs F-35A versi Export & F-18F SuperHornet (Australia)
    - Sukhoi Su-35 Export vs F-15SG Singapore
    - SAAB Gripen-NG vs IF-X (KF-X versi Indonesia yg sudah di-downgrade!)

    ReplyDelete
  3. Oom minta dijelaskan fitur "passive listening" pada radar aesa...?

    Sonar passive pd kapal selam atau towed sonar kapal perang dan RWR bisa mendeteksi kehadiran obyek lain atau pancaran radar(esm/rwr) tapi hanya bisa mengukur secara kuantitatif (jauh atau dekat saja)...tidak bisa menunjukkan jarak aktualnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung @hari,

      Hukum pertama dalam BVR combat sbnrnya sbb:
      "Siapa yang pertama kali menyalakan radar, dia akan menjadi pihak yang KALAH!"

      Gelombang radar yg dipancarkan akan dapat dilihat lawan -- apalagi kalau jenis radar yg dipakai adalah model lama, spt pulse-doppler, atau PESA spt di Sukhoi.

      "Passive listening" mode pengertiannya adalah menggunakan AESA untuk "menangkap" gelombang radar lawan ini, menganalisa, dan kemudian mempergunakannya untuk mendeteksi posisi, dan arah lawan dengan sangat akurat!

      Dengan demikian, pihak yg memakai AESA tidak perlu menyalakan radar, dan menghilangkan resiko gelombang radarnya sendiri bisa dideteksi oleh lawan.

      Patut diketahui, kalau fungsi utk "melihat" gelombang radar lawan ini, dari dulu sudah dapat dilakukan dengan sistem Radar-Warning-Receiver (RWR).

      Perbedaannya, kalau RWR hanya memperingatkan pilot kalau ada lawan yg mendekat, AESA radar dlm passive listening mode akan dapat memanfaatkan gelombang radar lawan itu untuk menembakkan BVR missile.

      Dengan kata lain, AESA radar mengubah gelombang radar lawan, menjadi umpan manis untuk mengundang BVR missile menggigit pantatnya sendiri!

      Dalam skenario Gripen v Su-35 --- krn Su-35 sudah pasti terpaksa menyalakan radar terlebih dahulu, Gripen akan dapat melihat Sukhoi secara pasif, tanpa pernah terlihat.

      Dengan RCS 0,1 m2, IRBIS-E baru bisa melihat Gripen pada jarak 100 - 130 km, dan iuntuk mendapatkan lock, jaraknya harus lebih dekat lagi.

      Sebaliknya, karena pilot Su-35 sudah menyalakan radar itu dari bbrp menit sblmnya, semua Gripen sudah dapat "melihat" dimana Sukhoi dari jarak ratusan kilometer, tanpa pernah perlu menyalakan radar mereka menjadi aktif, dan mengambil resiko "terdeteksi" RWR yg mungkin dibawa Sukhoi.

      Karena jarak jangkau Meteor juga dikabarkan "melebihi 150 km", ini memberi peluang utk Gripen menembak terlebih dahulu. Meteor akan di-"guide" oleh gelombang radar IRBIS-E, yang sudah dilihat AESA radar!

      Gripen tidak akan perlu menyalakan radar sendiri sampai detik terakhir, untuk memastikan (dgn 2-way datalink) agar Meteor membumi-hanguskan Sukhoi...

      Super Hornet Australia, yang RCS-nya juga rendah, dan membawa AESA radar, tentu saja dapat melakukan hal yg sama --- hanya saja AMRAAM-C/D tidak akan memiliki kemampuan kill yg sebanding dgn Meteor.

      Semoga penjelasannya membantu ;)

      Delete
  4. kenapa gripen hanya di bandingkan dgn sukhoi yang nota benya dari blok timur kenapa tidak membandingkannya dgn rafale, f16, f35 f22 dll yang nota benya dari blok barat.
    kenapa penulis selalu mengangkat isu tentang kehebatan kenapa tidak mengangkat tentang kemandirian.
    indonesia punya luka dengan blok barat yang menerapkan embargo terkait isu timor-timur sehingga banyak alat militer yang tidak terawat
    apa jaminan dari saab bisa di jadikn patokan dengan menjadikan gripen sebagai penjanga langit NKRI yang begitu luas.
    apa jaminan saab biala NKRI mengakuisisi gripen tidak akan di embargo mengingat komponen pesawat gripen ada dari negara nato.
    hanya orang awam!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kehebatan vs kemandirian -- walau berkaitan, boleh dibilang ini adalah dua topik berbeda.

      Kalau kita berbicara kemandirian, kerjasama dengan SAAB akan jauh lebih menguntungkan Indonesia, jika dibandingkan dengan KF-X Korea.

      http://gripen-indonesia.blogspot.co.id/2015/12/bagian-pertama-perbandingan-saab-gripen.html

      Sy juga sudah pernah menuliskan, kenapa ketakutan akan embargo sbnrnya sudah kurang relevan konteksnya dewasa ini:

      http://gripen-indonesia.blogspot.co.id/2015/11/kenapa-indonesia-harus-takut-dengan.html

      Untuk perbandingan Gripen vs model2 lain, perlahan-lahan akan ditulis satu per satu di artikel lain

      Topik ini sendiri sudut pandangnya lebih dilihat dari -- membandingkan operasional Gripen vs Su-35, dari sudut pandang KALAU Indonesia, sebagai pengguna, memilih salah satu pesawat ini.

      Gripen vs Su-35 PLA-AF China, misalnya, akan menjadi topik yg berbeda, krn pilot2 China akan lebih terlatih, dan persenjataannya juga berbeda dengan Russia.

      Contoh Topik2 mendatang:
      Gripen vs F-16V -- membandingkan dua piliihan Indonesia yg lain.

      Gripen vs F-35 Australia




      Delete
  5. Dark rider@ dapet pesawat bagus + jam training lebih banyak + katanya juga dapet tot juga. Brasil katanya juga beli gripen 39 ng sebanyak 36 unit , yang katanya 1 unitnya di bandrol dengan harga $150 juta / unitnya. Ya memang sudah termasuk pelatihan, perawatan dan suku cadang. Thailand udah punya 12 gripen c/d. . yang saya mau tanyakan adalah harga gripen untuk indonesia itu berapa ya bung ? Maklum orang awam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untuk harga per unit dalam transaksi penjualan sangat sulit untuk dijadikan patokan.

      Semuanya akan tergantung akan 2 hal yg mendasar:
      # Option apa saja yg diambil, atau apakah ada perubahan dari spesifikasi dasar yg ditawarkan penjual?
      Brazil, misalnya, meminta perubahan desain cockpit Gripen-NG, dari 3 layar LCD standard layout, menjadi satu widescreen LCD, ala F-35. Akibatnya, harga per unit menjadi lebih mahal!

      Brazil juga meminta persiapan produksi lokal, di pabrik Embraer. Kabarnya 14 pswt akan dirakit di Brazil. Dalam rencana jangka panjang, pada awalnya mrk juga akan memesan 108 pswt (tapi keuangan mrk skrg berantakan, jadi mngkn jumlahnya akan lebih sedikit). Ini juga akan menambah harga.

      Opsi2 lain juga, misalnya, berapa simulator yang dipesan? Simulator yg kualitasnya seperti apa?

      # Faktor kedua, jumlah unit yang dipesan. Semakin banyak, discount biasanya semakin besar.

      Inilah kenapa, rata2 transaksi pespur negara lain, biasanya jumlah minimalnya 16 - 24 pesawat. Memang harga awalnya kelihatannya mahal, tapi dibanding mencicil, dalam jangka panjang akan jauh lebih murah.

      Sebaliknya, kalau hanya mau membeli 10 unit, seperti rencana Su-35 itu sih namanya seperti minta diporotin orang!

      Nanti sy akan post-kan link-nya. Tapi mnrt salah satu sumber berita di Swedia, harga "kosong" untuk Gripen-NG Brazil kalau tidak salah hanyalah 40% dari nilai total kontrak $4,2 milyar yg sudah ditutup, jadi kira2 sekitar $50 - $60 juta / unit.

      Delete
    2. .... dan kalau masih berpikir harga 36 Gripen-NG di Brazil terlalu mahal --- sebagai pembanding, kontrak 36 Dassault Rafale untuk India, nilainya akan mencapai US$8,8 milyar.

      Kontrak 24 Super Hornet untuk Australia (2007) juga harganya tidak kalah mahal -- $2,9 milyar, dari total pengeluaran $6 milyar selama 10 tahun untuk support Super Hornet.

      Semua harga kelihatan mahal?

      Yah, karena semua negara lain, kecuali Indonesia, TIDAK ADA YANG PERNAH MEMBELI KOSONG, alias tanpa perlengkapan support yang memadai, atau persenjataan.

      Delete
    3. Semua kembali ke awal bung ( uang ) katanya anggaran untuk angkatan udara cuma Rp 41 triliun di taun ini. Ga bakal bisa seperti australia pa india yg ngeluarin $ 8,8 milyar. Brti berapa ratus triliun bung. Mungkin itu sebabnya kalau beli pespur kita kosongan. Berharap keuangan indonesia semakin tambah baik

      Delete
    4. Betul, bung @endo

      Re Anggaran
      Walaupun akhirnya APBN 2016 mengalami kenaikkan 2% dibanding 2015, sebenarnya dalam US$ anggaran kita terpapas habis dari $8,1 milyar di 2015, menjadi hanya $7 milyar tahun ini.

      Masalahnya kurs US$ yg memang melonjak naik, dan Rupiah cukup terpukul dibandingkan mata uang tentu kedua tetangga kita yg juga jauh lebih kaya (Aussie & Singapore).

      Keuangan Indonesia dalam jangka panjang tentu akan bertambah baik, tetapi dari segi anggaran pertahanan, untuk selamanya tidak akan terlalu mendapat prioritas tinggi di mata pemerintah manapun. Di jaman Orde Baru dulu, kabarnya pemerintah hanya mengalokasikan kurang dari 25% dari yg dibutuhkan waktu itu.

      Alasannya sederhana: Indonesia tidak pernah berada dalam ancaman agresi militer, seperti India, atau Korea Selatan. Ekonomi kita juga tidak memadai -- kita harus mengejar ketinggalan yg cukup jauh, bahkan jika dibandingkan pendapatan per kapita Malaysia.

      Jadi alokasi anggaran pertahanan kita tidak akan pernah bisa bersaing dengan Saudi, India, Korsel, Australia, atau Singapore.

      Butuh perencanaan yg lebih matang dalam jangka panjang. Kalau hanya sekadar melihat "kita harus menandingi apa yg negara lain beli" -- itu sih selamanya tidak terkejar.

      Dari segi pespur, IMHO, boleh diblang dalam jangka pendek, kebutuhan untuk mengganti F-5E itu sbnrnya sudah tidak lagi mendesak, seperti yg sering diberitakan.

      Sejak 2011, Indonesia sudah menambah total 46 pesawat tempur supersonic baru (24 F-16C/D, 16 T-50, dan 6 Su-30MK2), masih ditambah lagi 16 Super Tucano.
      Sebelumnya, kita hanya punya 10 Sukhoi, 10 F-16, dan sekitar 25 BAe Hawk, yg tidak bisa terbang supersonic.

      Untuk apa lantas mau terus-menerus menambah jumlah terlalu cepat?

      Secara organisasi saja, TNI-AU waktu membutuhkan waktu dahulu untuk menyesuaikan diri, karena armada supersonic-nya melompat 3x lipat dibanding sebelumnya -- walaupun, sayangnya, semua F-16, dan Sukhoi itu terbilang model downgrade dibanding apa yg dipakai di negara asalnya.

      Ini saatnya untuk mengambil nafas dahulu, jangan pikir mau beli ini-itu doang, dan melihat kembali rencana2 yg sudah ada.

      Indonesia sebenarnya membutuhkan pertahanan yg seperti apa?
      Dalam keadaan skrg, sistem pertahanan kita sebenarnya sudah cukup semerawut.


      Delete
  6. bahas juga keuntungan duet maut antara grifen dan su 35

    ReplyDelete
  7. Kayaknya bagus juga ya bung . kalau itu pespur di duetkan, secara sukhoi Su 35 heavy fighter class dan gripen 39 multi role class

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung @hamba, dan bung @endo;

      Ini bukan ide yang baik.
      Armada gado2 semacam ini justru akan lebih menyulitkan negara pengguna, dibandingkan sebaliknya.

      Su-35 tidak akan pernah bisa compatible dengan Gripen, ataupun F-16.

      Perbedaannya tidak hanya sebatas "beda pembuat", atau persenjataan / perlengkapannya berbeda, tetapi....

      Masalah utama: filosofi sistem tempur berbeda (Sistem Soviet vs NATO), dan dari sini problemnya merambat banyak ke prosedural, dan sistem training.

      ## Pilot pespur Russia belum pernah diajarkan untuk bertempur dalam satu network, dan mengandalkan pesawat AEW&C sebagai pemandu / organisir dalam pertempuran udara.

      Pilot pespur NATO, sebaliknya, sudah memprioritaskan Networking sebagai fokus utama sejak tahun 1960-an (tapi F-16 Indonesia tidak bisa Networking!). Pespur / AEW&C sudah luar biasa luwes untuk bisa bekerja-sama dalam satu tim. Lebih lanjut, kemajuan dalam sistem Networking ala NATO berarti deteksi / pembagian target menjadi semakin menyatu antara Alutsita Udara / Laut / Darat --- mulai dari drone, ground scout team, ataupun kapal patroli.

      ## Bicara soal network, Su-35, dengan Gripen / F-16 AKAN HAMPIR MUSTAHIL untuk di-network bersama.

      SAAB saja perlu berinvestasi milyaran agar Gripen-A/B yg pada awalnya hanya 100% pure compatible ke sistem Swedia saja, agar bisa compatible ke sistem NATO (Gripen-C/D).

      ## Lebih lanjug, India adalah salah satu contoh negara yang mencoba mengoperasikan Su-30MKI, menurut sistem Barat.

      Website RBTH (website milik Kremlin) menuliskan beberapa alasan yang "mungkin" menyebabkan Su-30MKI mempunyai safety record yang jelek.

      http://in.rbth.com/blogs/2015/06/04/why_the_indian_air_force_has_a_high_crash_rate_43501

      Artikel ini menyalahkan maintenance crew di India, bird strike, cuaca, dan kurang banyaknya trainer; tetapi yang paling menarik adalah cuplikan berikut:

      =======================================
      Possible reason No.1: Intense training

      Mock air combat can involve hundreds of aircraft flying thousands of kilometres. During such a war game in 2013, Sukhois flew 1800-km bombing missions from Chabua in Assam to the western front, with mid-air refuelling. In fact, IAF pilots are known to lead missions over 10 hours in their Sukhois.

      Such training places a great deal of stress on aircraft, pilots and air crews, which means potentially more accidents. But that’s the way the IAF trains for war. In fact, a former air force chief has gone on record that he would rather lose pilots during training than during war.
      ====================================

      Dengan kata lain, Russia mengatakan kalau India sebenarnya mengoperasikan Su-30MKI terlalu intensif --- memberikan terlalu banyak jam terbang untuk training --- tidak seperti AU Russia, Vietnam, atau Indonesia.

      Tanpa sengaja, RBTH sebenarnya sudah menggariskan satu lagi kelemahan Sukhoi vs pesawat tempur NATO:

      Pesawat ini tidak di-desain untuk dioperasikan dalam operasional tempo yang tinggi, dan jam terbang yang banyak dalam setahun.

      "Too much stress on the aircraft..."

      Ini justru adalah prosedur standard dalam sistem Barat, dimana pilot pesawat tempur akan dituntut untuk menabung 170 jam training per tahun.

      Pilot akan dapat berlatih untuk melakukan setiap manuever / tehnik yang sama sampai puluhan kali dalam setahun, dan dengan sendirinya kemampuannya juga akan semakin piawai.

      Untuk itu, pesawat2 tempur Barat (F-15, F-16, F-18, Typhoon, Rafale, & Gripen) justru sudah di-desain untuk operasional tempo yang tinggi, perawatan lebih mudah, dan spare part-nya juga lebih tahan lama.

      Singkat cerita, armada gado-gado seperti sekarang saja justru akan sangat merugikan negara dalam jangka panjang.

      Gripen - Su-35 hanya akan membuat armada Indonesia semakin gado-gado lagi dengan 2 filosofi yang saling bertentangan, dari 2 platform yang berbeda.

      ....sy akan menuliskan dalam artikel lain secara lebih mendetail.

      Delete
  8. Oom penasaran ttg kemampuan supercruise...

    Kapan pespur mengaktifkan kemampuan SC, apa saja essential load yang dibawa(untuk gripen NG)dan berapa menit bisa mempertahankan kecepatan SC tsb (utkk gripen NG)?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Supercruise berarti kemampuan untuk terbang supersonic, tanpa perlu menyalakan afterburner (yg sangat memboroskan bensin, dan akan menambah wear and tear ke mesin), dengan considerable combat load.

      Jadi bukan kalau pespur dimuati maksimum weight, tapi juga bukan terbang kosong tanpa membawa apa2.
      Inilah satu alasan lain kenapa pespur akan lebih optimal utk membawa 6 air-to-air missile, daripada membawa sebanyak mungkin missile.

      Untuk berapa lama pespur bisa supercruise (tidak hanya Gripen,tapi juga Typhoon, Rafale, dan F-22) akan lebih tergantung kepada kebutuhan strategis dalam setiap misi.

      Lagipula supercruise biar bagaimana akan tetap lebih memboroskan bensin dibanding terbang dalam normal cruise speed (Mach 0,8), jadi terlalu banyak supercruise berarti juga akan memperpendek jarak jangkau; walaupun tetap saja lebih hemat dibanding memakai aferburner.

      Gripen NG demo model dikabarkan dapat mempertahankan supercruise sampai ke tapal batas tes area yg ditentukan SAAB.

      Yang lebih menarik utk Gripen-NG, mesin GE F414G sebenarnya tidak pernah didesain utk bisa supercruise.
      Versi F414 ini kabarnya adalah variant baru, dari hasil kerjasama antara GE dan SAAB.

      Bukan tidak mungkin kalau versi F414-GE-39-E ini juga mempunyai thrust rating lebih tinggi dibandingkan mesin F414-400 di Super Hornet.

      Delete
  9. Ooh,,,jadi bisa dianalogikan dengan AIP pada kapal selam ya oom? Hanya digunakan pd "situasi tertentu..."

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul,
      Boleh dibilang Supercruise sebanding dengan tehnologi AIP di kapal selam.

      Lebih tepat lagi, Supercruise akan dapat dipergunakan di "saat yang tepat" untuk memperoleh Strategic Advantage, yang dapat dipakai dalam bermacam-macam situasi:

      # Kebebasan untuk menentukan kapan mau menyerang (terhadap lawan yg tidak bisa supercruise), dan dari arah mana.

      Contoh:
      Lawan yg memakai afterburner hanya akan membuang2 bensin kalau mencoba mengejar Supercruising fighter yang akan dapat mempertahankan kecepatan supersonic lebih lama.

      DAN kalau pespur non-Supercruise berputar mundur; Supercruising fighter akan mendapat kesempatan untuk menyerang mereka dari belakang --- dimana kemungkinan tertembak jatuh paling besar!!

      # Kemampuan untuk melarikan diri dari BVR missile lawan -- terutama konvensional missile dengan solid-boost rocket, yang akan kehabisan bahan bakar dalam beberapa detik.
      * Meteor akan lebih sulit dihindari, tapi bukannya tidak mungkin.

      # Untuk menembakkan BVR missile sendiri -- pespur yang supercruise akan menambah momentum missile yang ditembakkan, dan dapat menambah jarak jangkaunya beberapa puluh kilometer(!!)

      ==============
      Catatan Akhir:
      ==============
      Sama seperti tehnologi "stealth", AESA radar, atau Meteor BVRAAM -- di dalam dunia ini tidak ada yang namanya "silver bullet", yang pasti bisa mememangkan pertempuran 100% setiap kali.

      Supercruise akan memberikan strategic Advantage, tetapi bukan berarti tidak akan bisa dikalahkan pespur yg non-supercruise.

      Delete
  10. min tolong di percepat artikel tentang duet su dgn gripen nya

    ReplyDelete
  11. Su35 punya radae yg bisa menjangkau jarak 400km sdangkan gripen tdk serta jarak jangkauan yg jauh dn mampu terbang di ketinggiang 45.000 kaki dn memiliki kecepatan kalau terjadi pertempuran di LCS indonesia tetap pake gripen jelas kalah karna su 35 menggunakan rudal terbaru yg bisa mencapai 200km sdangkan rudal andalan gripen si meteor hanya mencapai 120-150km saja jelas jika menggunakan cara cerdik gripen kalah jauh dibandingkan sukhoi,dn ketika anda membandingkan su 35 dgn f18 super hornet jika yg dibandigkan adlah psawatnya jelas su 35 menang karena hormet menggunakan teknologi usah thn 90 an sdngkn su35 menggunakan teknologi terbaru dn modern dn bahkan bru dluarkan thn 2011 kmren. daya jangkau,kecepatan,kemampuan radar,rudal yg dibawa,dn kemampuan manuver jelas terlihat bahwa su 35 lbh unggul jd wajar jika indonesia membli su 35 meskipun biaya perawatan nya ckup mahal

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anda sebenarnya tidak menyebutkan satu juga argumen baru, yang belum dibahas dalam artikel ini:
      Kenapa Su-35 adalah pesawat yang INFERIOR dalam segala hal vs Saab Gripen-E

      Silahkan membaca dahulu semua artikel Su-35 yang menjelaskan secara lebih mendetail betapa banyak kerugian negara, kalau sampai Su-35 terbeli.

      Semua argumen pro-Sukhoi sudah dipatahkan kok disini.

      Logika saja, ya, supaya tidak perlu menjelaskan terlalu panjang lebar:
      ##TRAINING adalah penentu utama "Efek Gentar" pesawat tempur manapun.
      Sukhoi yang hobinya "perbaikan mendalam", dan berbiaya operasional mahal (+ Komisi perantara) MUSTAHIL untuk dapat melatih pilot yang kemampuannya sebanding dengan pilot F-16, atau Gripen.

      ##Versi Kommercheskiy Yah, barang buatan Ruski, sama seperti buatan US; hanya tersedia dalam versi export yang sudah di-downgrade.
      Versi yang dibeli Indonesia, tidak akan mungkin dapat mengimbangi bahkan 70% dari kemampuan Su-35S di negara asalnya.

      ##Persenjataan Inferior, dan hanya versi export-- Entah kenapa, Ruski juga hanya menjual missile versi export RVV-AE (izdeliye-190) untuk export; padahal versi R-77 untuk kebutuhan domestik (izdeliye-170) tidak pernah dibeli dalam jumlah besar, ataupun di-tes secara intensif dalam AU Russia sendiri.

      Missile yang belum teruji, maka probability Kill-nya tidak akan terjamin. Jauh lebih inferior dibandingkan AMRAAM AIM-120C7 yang dapat mempersenjatai F-16 Block-25+.

      Untuk keperluan BVR; AU Russia sendiri memakai R-27 missile kuno peninggalan jaman Soviet, buatan pabrik Artem di Kiev, Ukraine.

      ##Kesiapan tempur akan RENDAH, karena mewarisi sistem produksi Soviet, Su-35 reliabilitasnya terjamin cepat rusak; akan butuh banyak "perbaikan mendalam" seperti sudah menghantam armada Sukhoi Indonesia.

      Artikel terbaru:
      Karena Gripen dapat mengudara berkali-kali, dan sudah di-desain dari awal untuk maintenance yang mudah, maka dalam kondisi perang:
      48 Gripen-E dengan mudah akan dapat membantai 48 Su-35 hanya dalam 2 - 3 hari!

      ## Terakhir, jangan lupakan juga:
      Russia tidak akan pernah bersedia memenuhi UU no.16/2012.
      Wong, barang yang dijual saja versi Kommercheskiy, alias versi export downgrade.

      Kalau ada yang bilang, mereka "mau memberi ToT", silahkan tanyakan kepada orang-orang India, ToT macam apa yang mereka dapat dari PAK-FA, atau dari Su-30MKI!

      Sudah saatnya kita menjadi lebih dewasa, dan mulai belajar mendukung pilihan pesawat tempur yang memenuhi kebutuhan, dan bukan keinginan.

      Pilihan, yang pembuatnya saja sudah berkomitmen untuk memenuhi semua persyaratan UU no.16/2012; untuk memulai pembangunan langkah menuju kemandirian.

      Pilihan, yang 85% dari nilai belinya saja dapat diinvestasikan kembali ke dalam industri lokal.

      Gripen-Indonesia.

      Delete