Tuesday, April 26, 2016

Quick Update: Australia akan membeli AMRAAM-D!

Jangan meremehkan RAAF Super Hornet:
Pilot mereka jauh lebih TERLATIH, dan lebih BERPENGALAMAN,
dan
sekarang persenjataannya jauh lebih modern daripada seluruh Asia

(Gambar: RAAF: Superhornets over Iraq, 2014) 
Masih ingat kalau Indonesia baru saja mengajukan pembelian 37 AMRAAM C7 senilai $95 juta?

Nah, Australia baru saja mendapat persetujuan untuk mengakuisisi AMRAAM-D -- tidak hanya 37 unit, tetapi jumlahnya 450 missile, dalam transaksi senilai $1,22 milyar!

Apakah jumlah transaksi Australia yang kelihatan terlalu berlebih?

Apakah mereka semata hanya membeli AMRAAM-D, versi yang lebih baru, dan jarak jangkaunya lebih jauh, untuk mengimbangi transaksi Indonesia?



Saatnya membuat perhitungan sederhana terlebih dahulu!

RAAF mempunyai 71 F/A-18A/B Hornet classic, 24 F-18F Super Hornet (dengan AESA radar), dan masih memesan 12 EA-18G Growler. Ini memberikan total jumlah 107 pesawat dengan kemampuan BVR combat. 

F/A-18A/B akan digantikan secara bertahap dengan F-35A, yang hanya dapat dipersenjatai dengan 4 AMRAAM per pesawat. Untuk jumlah total 107 pesawat ini, dengan asumsi minimum kalau setiap pesawat hanya bisa dipersenjatai dengan 4 missile, akan memberikan jumlah total kebutuhan sekitar 428 missile.

Ternyata, jumlah pembelian AMRAAM-D Australia tidaklah berlebih, bukan? 

Bahkan boleh terbilang memenuhi kebutuhan minimum; walaupun patut dicatat disini, kalau Australia juga masih men-stock ratusan AMRAAM C5/7. Kemungkinan besar, AMRAAM-D diperuntukkan menggantikan versi C5 dalam stock mereka. F-18F Australia, bukan tidak mungkin, dalam kebanyakan skenario hanya akan dipersenjatai dengan mixed loadout: 2 AMRAAM C7, dan 2 AMRAAM-D.


Pelajaran untuk Indonesia: Belilah lebih banyak missile, bukan terlalu banyak macan ompong!


Dengan perhitungan 4 missile per pesawat, transaksi AMRAAM C7 untuk ke-34 pesawat F-16 (termasuk 10 F-16A/B yang akan di-upgrade) terlihat amat teramat sangat minimal, bukan? Alias, macan ompong!

Hanya cukup untuk mempersenjatai 1 missile per pesawat, dan bahkan tidak ada lagi stock di gudang. Padahal dengan 34 pesawat saja, F-16 sebenarnya akan mempunyai kebutuhan minimal 80 AIM-9M atau -X, dan sekitar 150 AMRAAM C7.

Renstra TNI-AU 2015 - 2019, seperti yang dilaporkan dalam Antara News, tidak menyebutkan berapa banyak missile yang dibutuhkan untuk mempersenjatai ke-34 F-16, dan 16 Sukhoi (2 sudah rusak, 2 lagi sudah lama hilang dari peredaran). Malah prioritas utamanya adalah membeli pesawat "pengganti F-5E".

Membeli pesawat tempur sebenarnya tergolong murah! Men-support pesawat-pesawat tersebut dengan maintenance, dan infrastruktur pendukung, kemudian mempersenjatai mereka, dan mempersiapkan dana untuk upgrade - kesemuanya akan jauh lebih mahal.

Biaya support pesawat diperkirakan bisa TIGA sampai EMPAT KALI lipat harga beli pesawat sepanjang 25 tahun operasional - dan ini hanya standard untuk pesawat tempur Barat, seperti F-16. Untuk pesawat buatan Russia, yang setiap part-nya akan cepat kadaluarsa, dan umur airframe-nya selalu lebih pendek, dapat dipastikan akan jauh lebih mahal.

Berapa jumlah missile yang harus dibeli untuk mempersenjatai semua pesawat tempur yang sudah ada sekarang? 


Inilah justru yang seharusnya menjadi prioritas utama! Bukan terus-menerus membeli pesawat dalam keadaan "kosong", kemudian mengumumkan kalau tidak akan ada cukup uang untuk membeli satu skuadron! Jangan melupakan juga kebutuhan simulator, dan perlengkapan support yang lain!

Kenapa para petinggi masih menginginkan membeli Su-35?

Apakah ini kebutuhan nyata, atau hanya mimpi semata?
AntaraNews: Menyedihkan sekali!
Sukhoi Su-35 justru akan sangat memperlemah NKRI

Biaya operasionalnya saja jauh lebih mahal dari Super Hornet Australia,
padahal anggaran pertahanan kita jauh lebih kecil...


Su-35 adalah pesawat yang biaya operasionalnya, kalau hanya dibeli 10 unit, akan melebihi biaya operasional F-22. Apalagi kalau mengingat transaksi spare part, juga harus melalui perantara Rosoboronexport, maka 5 - 10% biaya operasional ini juga akan termasuk komisi perantara.

Darimana ada uang untuk membeli missile "versi downgrade" RVV-AE, yang sejauh ini, bahkan tidak pernah terlihat mempersenjatai satupun Sukhoi Russia?

Dimana efek gentar Sukhoi? Mempersenjatainya dengan 10 - 14 missile seperti skenario mimpi indah Ausairpower?


Dr Carlo Kopp: Sudah saatnya anda berhenti membual!
Bahkan Russia tidak sebodoh itu mau membawa 8 - 12 BVR missile,
dan Semua missile mereka adalah dari variant R-27 Semi-Active Radar-Homing (SARH),
bukan Active Radar Guidance (Fire-and-forget) 
modern seperti AMRAAM
Su-30SM versi Standard (Non-Export),
tapi hanya bisa dipersenjatai dengan 4 R-27 (AA-10 Alamo)
(Gambar: Sputnink News)

Tentu saja, satu skuadron Gripen-E dengan semua keunggulan training, sensor, Networking, kemampuan supercruise, dan persenjataan yang jauh lebih modern, hampir bisa dipastikan akan dapat menghabisi dua, atau tiga Skuadron Su-35, yang pilotnya akan kurang training, tanpa pernah bisa tersentuh!


PENUTUP: 

Apakah ini artinya Indonesia seharusnya tidak membeli pesawat tempur lagi? 

Bukankah ini Gripen-Indonesia blog, yang selalu merekomendasikan pembelian Gripen untuk kebutuhan Indonesia?

Jawaban dari dua-dua pertanyaan ini sebenarnya sama-sama benar. Dalam jangka pendek, Indonesia sebenarnya tidak memerlukan pesawat tempur tambahan, karena yang ada saja boleh terbilang masih belum siap tempur.

Jumlah pesawat tempur supersonic kita sudah melompat dari hanya 20 pesawat (10 Sukhoi, 10 F-16), ditambah 4 - 5 F-5E di tahun 2011 -- menjadi lebih dari 66 pesawat karena kedatangan 6 Su-30MK2, 24 F-16 Block-25+, dan 16 T-50i. 

Boleh dibilang sebagian dari F-16 Block-25+, dan T-50i, yang kemampuannya memang sudah disengajakan oleh Lockheed-Martin agar sebanding dengan F-5E, sebenarnya sudah memenuhi kebutuhan jangka pendek untuk pengganti F-5E.

Ini justru seharusnya menjadi masa pengkajian ulang - sistem pertahanan apa yang dibutuhkan untuk menjaga wilayah udara Indonesia? Masakan sampai 20 tahun, armada-nya mau terus gado-gado? Setiap negara lain tahu, kalau efek gentarnya NOL besar!


Kebutuhan Indonesia untuk membeli Gripen, memasang sistem Networking sendiri, dan akhirnya membeli pesawat AEW&C sifatnya jangka menengah-panjang. Pada akhirnya, kita tidak bisa terus-menerus gembira menikmati model-model downgrade dari US, dan Russia.

Secara realistis, kalau di masa depan Gripen-E dapat mengisi semua ENAM skuadron yang ada sekarang (Sku-01, -03, -11, -12, -14, dan -16 --- total 96 pesawat), biaya operasional TNI-AU saja sudah akan lebih murah dibandingkan sekarang. Akan lebih banyak ruangan untuk berinvestasi ke sistem training modern, dan membeli lebih banyak missile untuk "efek gentar" yang nyata.


...terutama pembelian untuk ratusan BVR missile terbaik di dunia!
Eat this, AMRAAM-D!
Tidak akan ada lagi armada gado-gado! 

Pada waktu itu, TNI-AU mungkin akan menjadi pengguna Gripen terbesar di dunia! Dipadukan dengan penggunaan pesawat Saab Erieye AEW&C, dan sistem Network Indonesia, kemampuan udara Indonesia akhirnya akan sangat disegani. F-22-pun tidak akan berani mencoba-coba!
Fighter jets are meant to be fully-armed:
Gripen-NG Demo armed with 4-Meteors, 2 IRIS-T ( at its wingtips), and 2 Paveway IV bombs
(Gambar: Saab)
Jangan melupakan juga kalau akan ada ribuan tenaga kerja Indonesia, yang dipekerjakan untuk men-support Gripen System Indonesia! Apalagi kalau mulai dari Gripen ke-33, akhirnya bisa mulai diproduksi sendiri di Bandung!

Yah, mungkin ini hanya mimpi, tapi mimpi ini masih lebih realistis dibanding membayangkan kalau Indonesia akan dapat mengoperasikan Su-35 secara efektif!

9 comments:

  1. Mengutip dari bbrp medi cetak, TNI AU akan segera menerima berbagai jenis pesawat dlm jumlah besar, persis spt yang dialami oleh industri penerbangan nasional.

    Yang masih menjadi PR adalah,,,utk ukuran industri jasa perawatan pesawat yang komersial saja, mereka hanya sanggup menyerap 30% dari kebutuhan yang ada, sisanya lari keluar negri. Ada satu hal yang unik, yaitu kesenjangan usia antara teknisi Junior dan senior, yang artinya proses sharing knowledgenya kurang berjalan mulus, krn sepintar2nya sdm, faktor jam terbang sangat berpengaruh.

    Kondisi serupa saya rasa jg dirasakan oleh TNI AU,,,cepat atau lambat krn banyaknya tipe pesawat yang harus di maintenance

    ReplyDelete
    Replies
    1. Spt sy sudah tuliskan diatas: Beli pesawat baru itu sebenarnya murah!

      Yang lebih mahal itu adalah biaya untuk investasi infrastruktur pendukung, jam terbang/ training, maintenance, upgrade, dan utk pespur: persenjataan (missile), atau perlengkapan tambahan (targeting pod, jammer, IFF, Link-16).

      Dan .... semakin banyak jumlah tipe pesawat yg operasional, tentu saja semua biaya diatas menjadi semakin mahal; krn untuk semua hal, kita harus bayar harga eceran yg lebih mahal.

      Inilah kenapa armada gado2 itu tidak sehat untuk keuangan negara, mana lagi efek gentarnya hampir tidak ada.

      Ini akan menjadi salah satu topik baru minggu depan,

      Delete
  2. Lebih canggih dari yang kita pesen ( )

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul.
      Australia, dengan demikian sbnrnya menjadi negara pertama diluar US, yg memperoleh ijin untuk membeli AMRAAM-D.
      Jangankan Indonesia, bahkan Singapore, atau Korsel-pun belum tentu akan mendapat 'export clearance' untuk AMRAAM-D dalam waktu dekat.

      Sy kurang menggariskan di artikel diatas:
      Tapi AMRAAM-D akan mempunyai jarak jangkau maksimum 160 km -- melebihi AIM-120C7, ataupun semua jenis missile BVR buatan Ruski yg efektif melawan pespur lain.

      Tetapi krn missile ini masih memakai solid-boost rocket propulsion, dan tergantung ketinggian di udara sewaktu ditembakkan, jarak jangkau efektifnya kemungkinan akan turun ke sekitar 80 km, tetap saja akan lebih unggul dari jarak efektif AMRAAM C7 yg kira2 hanya akan terbatas di 50 km.

      Kelebihan lain, akurasi lebih tinggi dibanding AIM-120C7, krn versi-D ini adalah missile US pertama yg memakai 2-way datalink;
      Pesawat induk memberi update posisi, dan jarak lawan ke missile;
      sebaliknya missile akan mengirim balik posisi, arah, dan trajectory-nya sendiri balik ke pswt induk.

      Dengan demikian ada timbal-balik untuk mengarahkan missile ke posisi lawan dengan lebih akurat.

      MBDA Meteor sbnrnya sudah mendahului AMRAAM-D untuk menggunakan sistem 2-way datalink ini.

      Kemampuan sedemikian belum dimiliki tehnologi missile BVR buatan Ruski.....
      DAN....

      F-16 Block-25+ Indonesia belum tentu mempunyai kemampuan 2-way datalink dengan AMRAAM-D.

      Serba-serbi versi downgrade yg dijual US, dan Russia akan bisa dibahas dalam artikel lain lebih mendetail.

      Delete
  3. Oom apa sih kelebihan yang ditawarkan oleh produk ESTL...bukankah disekujur tubuh pespur sudah disematkan berbagai macam rwr/lwr dan flare/chaff dispenser..?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pertanyaan yang menarik..

      ## ESTL adalah countermeasure pod, yang sifatnya bolt-on; dapat dipasang ke pesawat yg mempunyai interface utk AIM-9, atau AMRAAM.

      Pod ini ukurannya sama dengan AIM-9, dan memadukan kemampuan Missile Approach Warning, Chaff (BOL dispenser), dan Flare (BOL dispenser) dalam satu paket.

      Kelebihannya, sistem ESTL Saab akan mempunyai kemampuan menangkal baik missile dengan radar seeker (AMRAAM), ataupun dengan Infra-Red Guidance (AIM-9).

      Sistem yang paling equivalent di F-16 adalah AN/ALQ-211 (standard untuk Block-50/52) -- tetapi sistem hanya lebih dioptimalkan untuk counter-measure anti-radar.

      Produk ini sepertinya ditawarkan ke semua pengguna F-16/F-18.

      ## Gripen-NG berbeda.

      Pertama-tama, sistem Electronic Warfare di versi -NG dikabarkan akan terintegrasi dengan sistem sensor yang lain (AESA radar, IFF, dan IRST)

      Pada pusatnya adalah sistem passive warning / jammer baru berbasiskan Gallium Nitride, yg 25% lebih efesien dibanding semua sistem jammer lain. Pertama kali di dunia!

      Sistem MAW yg sekarang ada di pod seperti ESTL akan terintegrasi dengan sistem Electronic Warfare yg baru ini. Sedangkan BOL / BOP dispenser akan dipasang pada pylon pesawat.

      Kita tunggu saja informasi lebih lanjut sampai Gripen-NG selesai testing.

      Saab sudah memberikan tanggal pasti untuk kapan pesawat pertama akan selesai -- 18-Mei!

      Delete
    2. Nah...kalo sistem modular seperti estl ini, perlukah dibeli dalam jumlah yang sama sesuai jumlah armadanya atau tidak perlu sebanyak itu karena bisa dipertukarkan?

      Delete
    3. Ehh,,,jadi mleset pertanyaannya oom, kalo pespur sudah dilengkapi estl, sistem pertahanan diri(esm/mwr/chaff&flare dispenser) yang tersemat pada tubuh pesawat apakah masih diperlukan?

      Delete
    4. Lebih baik tidak, krn tidak menjadikan pesawat jadi lebih aman.

      Lagipula sistem integrated defense suite, yg terpadu dgn sensor (radar AESA, IRST, RWR), dan jammer seperti di Gripen-E, kemampuan pertahanannya akan lebih optimal dibanding ESTL yg sistemnya lebih independent.

      Misalnya, dgn defense suite, programming sequence utk melepas flare akan bisa di-timing seakurat mungkin utk mengecoh missle IR lawan.

      Utk mengecoh radar-guided BVR missile; sistem jammer, dapat bekerjasama dgn chaff utk membingungkan seeker missile lawan.

      ====
      ESTL boleh dibilang dibuat untuk melingkari kontrol source code pembuat pswt lain tanpa perlu banyak repot.

      Delete