Friday, April 29, 2016

New Serries: Memahami model downgrade US, dan Russia.... Bagian I: F-16

Topik pertama: Top 5 F-16 versi Export tahun 2016

F-16 Block-60 UAEAF -- credits: uaeusaunited.com


Semua F-16 sekilas terlihat sama, tetapi kenyataannya tidak demikian. Export restriction berhubungan dengan sebagaimana akrabnya negara tersebut dengan US, dan kemudian juga dipengaruhi oleh kemampuan beli, dan kemampuan tawar-menawar secara ekonomi/sosial/politik oleh setiap negara, sebenarnya menentukan spesifikasi setiap negara pengguna F-16.

Berikut adalah 5 F-16 versi export, dari negara-negara pengguna yang paling unggul. Bisa dilihat disini dari bermacam perspektif, bagaimana masing-masing negara sebenarnya mendapatkan solusinya sendiri, untuk dapat menghindari kekurangan yang sudah ditentukan keputusan program FMS Amerika Serikat.

1.           F-16 Block-60 UAE
F-16 Block-60 UAEAF -- credits: uaeusaunited.com

Sewaktu pertama kali dibuat di tahun 2005, dengan menyandang radar AESA AN/APG-80; F-16 UAEAF adalah versi F-16 yang sering disebut lebih modern dibanding versi USAF. F-16V mungkin sudah mulai dipasarkan di pasar internasional, tetapi ada beberapa alasan kenapa F-16 Block-60 UAE akan tetap menyandang gelar sebagai versi export yang lebih baik dibandingkan versi-V:


Keunggulan Mesin: Block-60 akan tetap menjadi satu-satunya yang memasang mesin GE F110-132; dengan daya dorong 32,500 lbf. Inilah mesin terkuat di keluarga F-16, yang sayangnya….. tidak diperbolehkan untuk dijual ke negara lain, bahkan dalam versi-V yang lebih baru. Seperti sudah dibahas sebelumnya, F-16V hanya akan diperbolehkan memakai mesin GE F110-129, atau mesin PW F100-229, dengan daya dorong 29,000lbf.

Electronic Warfare yang custom-builtFalcon-Edge, produksi Northrop Grumman, yang dikabarkan semi-terintegrasi dengan radar AN/APG-80. Sejauh ini belum terlihat kalau paket Electronic warfare yang kompetitif ditawarkan pada versi F-16V export. Sebaliknya, Electronic warfare di versi F-16V USAF dapat dipastikan akan setingkat / dua tingkat lebih unggul. 
War-is-boring
Flightglobal
Ini juga tergantung financing, mengingat USAF sendiri sebenarnya sudah semakin malas untuk terus meng-upgrade F-16, karena ingin melindungi program F-35 yang bermasalah.

Keunggulan Training – UAE juga salah satu negara yang menikmati rajinnya latihan bersama Red Flag, yang memupuk pengalaman, dan kemampuan pilot.

KELEMAHAN: Persenjataan Block-60 tergantung kepada kebijaksanaan export restriction pemerintah US; mereka menolak permintaan UAE untuk memasang AGM-158 stealthy long-range cruise missile. Source code setiap pesawat tempur buatan US dikunci; ini berarti tidak semudah itu UAE dapat berganti supplier untuk dapat memasang missile lain ke Block-60.

Solusi UAE: mereka membeli MBDA Stormshadow; dan memasangnya ke Mirage-2000-5/9.

Masalah Source Code ini, adalah alasan kenapa F-16 versi export kedua mungkin lebih berbahaya dibandingkan F-16 termodern di dunia saat ini...

2.           F-16I Sufa Israel 
F-16I Sufa at Red Flag (wikimedia)
F-16I Sufa sebenarnya adalah versi Block-52+, yang diproduksi untuk Israel. Sebelum membahas ke beberapa keunggulan utamanya, ada baiknya menggaris-bawahi beberapa kelemahan utamanya terlebih dahulu:

Pertama, radar standard di F-16I adalah AN/APG-68v9 (masih setengah generasi lebih modern dibanding AN/APG-68 Indonesia). Akusisi F-16I memang dimulai sebelum AN/APG-80 AESA untuk UAE selesai dibuat; tetapi sejauh ini Israel bahkan masih belum diijinkan untuk mulai meng-upgrade radar mereka ke versi AESA.

Kedua, walaupun Israel sebenarnya dikenal sebagai salah satu negara pembuat radar AESA; Elta EL/M-2052 – radar ini TIDAK DIPERBOLEHKAN untuk dipasang pada F-16I, atau pesawat buatan US manapun!

Sumber: F16.net
Alasannya sederhana: Proteksi ke market untuk AESA radar F-16. Walaupun radar EL/M-2052 boleh dibilang sebenarnya dibuat untuk F-16, US tidak akan mengijinkan barang asing menjadi ancaman terhadap market AN/APG-83 radar.

KF-X-junkies, take note from these lessons!

Ketiga, mesin PW F100-229. Mesin ini adalah mesin standard untuk Block-52/52+, dengan daya dorong 29,100 lbf. Hanya sangat disayangkan, bahkan sebagai sekutu terdekat US, Israel juga sepertinya tidak mendapat ijin akses ke mesin favorit GE-132, seperti Block-60.

Tetapi kesemua kelemahan ini, tidak menutupi beberapa keunggulan lain, yang tidak bisa didapat pengguna F-16 manapun.

Keunggulan Pertama: Kecuali untuk radar, Israel sebenarnya mempunyai limited-access untuk me-modifikasi source code di F-16I. Mereka adalah satu-satunya negara yang memperoleh hak istimewa ini. Ini bukannya tanpa alasan, ada beberapa sumber yang menunjuk kalau hasil kerjasama US – Israel dalam pengembangan tehnologi F-15, dan F-16, justru sangat menguntungkan ke USAF juga.

Kedua, karena Israel mengontrol source code, mereka juga mempunyai lebih banyak kebebasan untuk mengatur persenjataan / perlengkapan /  upgrade sendiri dengan lebih bebas. Selain beberapa perlengkapan standard, seperti mesin PW F100-229, dan radar AN/APG-68(v9), hampir segala sesuatu didalam F-16I sudah dimodifikasi menurut kebutuhan mereka.

Dari apa yang terlihat saja, missile standard mereka, bukanlah AIM-9x, atau AMRAAM C7 seperti yang dipakai negara-negara lain, tetapi Phyton-5 WVR missile, dan Derby BVR missile – dua produk hasil produksi industri Israel sendiri.

Helmet-Mounted-Display....? Mereka juga sudah membuat DASH helmet sendiri.

Yah, F-16I Sufa adalah versi F-16 yang paling custom-made diluar beberapa pembatasan export restriction US.

Ketiga, kelebihan pengalaman, dan kemampuan training Israel. F-16I mungkin adalah satu-satunya variant modern yang sudah di-tes secara reguler, Misalnya, untuk merobek-robek pertahanan udara Syria (yang buatan Soviet/Russia) tanpa perlawanan yang berarti. Tipe ini juga adalah yang paling sering dipakai dalam konflik Israel – Palestina.

Inilah salah satu alasan, kenapa Israel sebenarnya bisa dianggap sebagai salah satu pakar pengguna semua pespur US. Bahkan, boleh dibilang kalau kemampuan / pengalaman pilot Israel melebihi pilot USAF.

3.           F-16 Block-50+ Turki

Kelemahan Block-50/52 vs Block-60 sudah dibahas diatas; tetapi apakah yang membuat Block-50+ Turki lebih unggul dibanding Block-50/52+ negara-negara lain?

Pertama – latihan, pengalaman, dan kerjasama dengan Israel. 

Letak geografis Turki bersebelahan dengan dua negara yang kurang stabil (Iraq, Syria), masih cukup dekat dengan Iran, yang sempat menjajal tehnologi nuklir, dan baru-baru ini juga berhasil menembak jatuh Su-24 Russia – dengan demikian memanaskan situasi dengan Russia, yang perbatasannya hanya diseberang laut dari batas utara Turki. 

Dalam kondisi yang demikian, Turki tidak mempunyai tempat untuk memandang remeh pentingnya Training untuk pilot. Boleh dibilang, dengan atau tanpa Su-35 (ini tidak akan menentukan), Russia akan membayar mahal kalau mau menguji kemampuan Angkatan Udara Turki. Apalagi mengingat persenjataan Sukhoi kualitasnya sudah tertinggal dibanding AIM-9X, dan AMRAAM C7.

Sebelum hubungan antara Turki – Israel sempat mendingin, TuAF banyak melakukan latihan bersama dengan AU Israel. Israel juga pernah meng-upgrade F-4 Phantom Turki ke spesifikasi Kurnass-2000. Kerjasama semacam ini tentu saja memajukan industri pertahanan / udara Turki.

Kedua: Turki adalah negara pertama yang diijinkan untuk memproduksi F-16 secara lokal. Ini memberikan armada TuAF, armada F-16 yang ketiga terbesar didunia, setelah USAF, dan Israel, dan boleh terbilang juga rata-ratanya juga terhitung paling modern. Mereka sangat serius dalam soal upgrade F-16 mereka, dan baru-baru ini mulai meng-upgrade Block-30 mereka agar standardnya menyamai Block-50+.

Kelemahan – Upgrade ke Block-60, atau ke versi-V, dengan radar AESA? Tunggu dulu!

Pemerintah US menginginkan kalau Turki membeli F-35, dan mereka kabarnya berencana membeli 100 unit. Dengan latar belakang ini, sepertinya kedua belah pihak sepertinya akan puas untuk menyetarakan F-16 Turki ke standard Block-50+.

Dan tentu saja, tidak seperti Israel, Turki tidak pernah mendapat akses ke source code untuk F-16. Ini mungkin adalah salah satu faktor, kalau mereka juga sedang mencoba proyek mercusuar ala KF-X: TF-X program.

4.           F-16 Block-52+ Advanced Yunani
F-16 B52+ Hellenic AF - LMTAS photos
Walaupun dari segi spesifikasi sebenarnya sebanding dengan versi Turki, kemampuan F-16 Yunani sebenarnya seperti Domino Effect, yang dimulai dari Turki, dan Israel.

Walaupun Yunani, dan Turki sama-sama anggota NATO, dan dengan demikian hampir tidak mungkin untuk terjadi konflik, sudah bukan rahasia lagi kalau keduanya tidak pernah saling menyukai satu-sama-lain. Pesawat tempur kedua negara, kerap melanggar wilayah udara satu dengan yang lain di laut Aegean.

Keunggulan utama F-16 Yunani – kembali sama - TRAINING. Singkat cerita, karena Yunani akan selalu memperhatikan level training yang diperoleh pilot-pilot Turki, mereka akan terus mencoba mengimbangi.

Sebagai bagian dari NATO, dan karena juga didorong rasa “tidak boleh kalah dari Turki”, level training pilot Yunani tidak bisa diremehkan. Beberapa laporan tidak resmi menyebutkan kalau dalam latihan, pilot-pilot F-16 Yunani berhasil “mengalahkan” pilot-pilot Rafale Perancis – pesawat tempur yang secara tehnologi, dan desain seharusnya jauh lebih modern, dan lebih unggul dibandingkan F-16 Block-50/52+ manapun.

Terlepas dari ini, F-16 Block-50+ Yunani boleh terbilang tidaklah jauh lebih unggul dibandingkan versi Singapore upgrade, atau versi yang dibeli Pakistan, dan Maroko. Kuncinya disini adalah TRAINING untuk memaksimalkan kemampuan platform (dan kemampuan finansial negara) yang terbatas!

5.           F-16 A/B MLU Belgia, Belanda, Denmark, dan Norwegia
F-16 Norwegia, Belgium, Denmark, & Netherlands - Credits: LMTAS photo

Tidak seperti semua versi F-16 paling modern di empat contoh diatas; sebenarnya F-16A/B Belgia, Belanda, Denmark, dan Norwegia adalah dari Block-1, -5, -10, dan -15; kesemuanya adalah versi yang paling tua dibanding yang dioperasikan negara lain. Ini dikarenakan keempat negara NATO ini termasuk yang pertama mengoperasikan F-16 diluar US.

Lalu, apa tidak salah? Kenapa pesawat-pesawat tua ini masih memasuki peringkat kelima?

Pertama-tama, MLU upgrade versi Eropa memberikan kemampuan radar AN/APG-66 (v2) yang hampir sebanding dengan radar AN/APG-68 (v9) di Block-50/52+. Kemudian menambah MIDS-LVT Link-16, JHMCS untuk AIM-9X, kemampuan mengoperasikan AMRAAM, mengoperasikan targeting pod seperti LANTRIN, atau SNIPER pod, dan perpanjangan umur airframe dalam program MLU membuat pesawat-pesawat NATO ini sebenarnya tidak kalah bersaing melawan F-16 Block-50+/52+ yang sama sekali baru.

Malah boleh dibilang, F-16MLU masih lebih unggul secara spesifikasi dibandingkan Block-25+ yang baru dihibahkan / di-upgrade untuk Indonesia.

Kedua, kembali ke pengalaman, dan training. Latihan reguler NATO adalah suatu pengalaman sehari-hari untuk keempat negara ini.

Sebagai bagian dari NATO, keempat negara ini secara reguler mengirim F-16 mereka ke dalam misi-misi internasional, seperti menjaga wilayah udara Lithuania, Latvia, dan Estonia (tiga negara ex-Soviet anggota NATO, yang tidak mempunyai pespur), dan rajin mencegat pesawat-pesawat AU Russia.

Selain itu, tidak bisa dielakkan lagi, kemana NATO pergi, keempat negara ini harus berkontribusi; mulai dari operasi di Afganistan, Libya, atau untuk menghantam ISIS di Syria, dan Iraq.

Yang paling penting untuk keempat negara ini adalah common NATO platform untuk bekerja-sama semaksimal mungkin. Pilot keempat negara ini sudah berlatih sebagai bagian dari satu sistem pertahanan udara bersama yang didukung pesawat AWACS, dan sistem radar yang mungkin paling rapat di wilayah udara Eropa!

Bahkan segi persenjataan juga, kalau perlu, negara-negara NATO juga dibolehkan untuk meminjam stock bomb, dan munition dari USAF. Inilah kenapa Source Code kontrol, atau pembatasan spesifikasi bukan masalah yang pelik.

Penutup
Kalau memperhatikan, apakah satu persamaan dari kelima pengguna F-16 diatas, agar dapat memanfaatkan F-16 mereka secara maksimal?

Training, dan pengalaman. Inilah faktor paling utama yang menentukan efek gentar pesawat tempur manapun! 

Tetapi yang lebih penting lagi, bagaimana caranya mendapatkan level training yang maksimal?

Jawabannya adalah karena kesemua negara pengguna F-16 diatas, biasanya sudah ternobatkan terlebih dahulu sebagai Sekutu dekat US. Semakin akrab suatu negara dengan US, terutama secara politik, biasanya kemampuan F-16 mereka semakin baik! Dari sini saja, masing-masing negara tersebut menikmati beberapa kemudahan, yang tidak bisa didapat para pengguna F-16 awam, seperti Indonesia.

Sampai selamanya, Indonesia tidak bisa menjadi, atau tidak akan bisa dianggap sebagai sekutu terdekat US. Hutang masa lalu kita terlalu banyak, terutama pada masa serong Soviet semasa Konfrontasi Malaysia di tahun 1960-an, dan kemudian secara politik luar negeri kita boleh terbilang terlalu netral. Dewasa ini saja, Indonesia tidak pernah bisa bersuara bulat 100% mendukung operasi-operasi militer internasional, seperti membom ISIS, atau operasi di Kosovo.

Keakraban, atau dalam kasus Indonesia, kurangnya keakraban politik disini, akan mempengaruhi apa yang diperbolehkan untuk dibeli dari paman Sam!

Kalau negara-negara pengguna F-16 tersebut saja sudah menemui beraneka-ragam pembatasan dalam berbagai hal, dapat dipastikan F-16 versi Export Indonesia keadaannya akan JAUH LEBIH PARAH.

Bukan berarti semua ini berita buruk!

Beberapa blog Indonesia yang pro-F-16 / KF-X juga sudah menggaris-bawahi – F-16V akan memenuhi syarat untuk mempertahankan wilayah udara Indonesia, dan ini memang benar.

Sayangnya, 
”Membeli dari US, atau Russia berarti Indonesia harus siap mental untuk diperlakukan sebagai anak bawang!”

Tentu saja pernyataan diatas juga berlaku untuk membeli KF-X dari Korea, yang adalah murid tersayang US.

Korea Times25-Nov-2015:
"Indonesia hanya akan menjadi penghalang mimpi kami!"

F-16V Indonesia tidak akan dapat menandingi versi upgrade Singapore, atau F-18F Australia. Tidak hanya karena akan terjadi pengurangan spesifikasi, tetapi juga kelemahan Training yang seimbang dengan negara-negara tetangga kita. Karena source code untuk F-16V versi Export sudah dikunci, bukan tidak mungkin Lockheed-Martin bisa mengutak-ngatik AESA radar F-16V Indonesia, agar tidak mempunyai kemampuan melihat F-35, yang sebenarnya hanya pesawat kualitas lemon!

Jadi, bukan embargo yang harus kita takuti dari US! Masa ini sudah berakhir! Sekali lagi, sudah tidak ada alasan politik yang jelas untuk negara manapun untuk menjatuhkan embargo ke Indonesia, kecuali kalau memang kita mau bertindak sebodoh mungkin agar dimusuhi seluruh dunia.

Inilah kenapa Saab Gripen-E adalah solusi jangka-panjang yang paling ideal untuk Indonesia. Tidak akan ada pengurangan spesifikasi karena di-dikte oleh kepentingan politik. Kedaulatan Indonesia dalam menentukan sendiri spesifikasi Gripen-E juga akan sangat terjamin. Terakhir, tentu saja paket yang ditawarkan Saab juga sudah disertai dengan penawaran kerja-sama jangka panjang untuk ribuan tenaga kerja di Indonesia.

Apakah anda pikir Su-35 versi export Indonesia dapat dengan mudah mengalahkan F-18F, atau F-35 Australia? 
Jawabannya: Belum tentu.... eh, maksudnya, Su-35 versi export Indonesia TIDAK AKAN MUNGKIN bisa menang!!

Seperti artikel ini telah menggaris-bawahi -- kuncinya semua ada di TRAINING PILOT. 

6 comments:

  1. Oom berapa biaya yang dikeluarkan sebuah negara jika ingin mengikuti latihan berskala besar spt: red Flag dan pitch Black, atau latihan bilateral/trilateral antara rtaf, usaf&rsaf yang telah melibatkan penggunaan pesawat awacs?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini akan tergantung dengan:

      ## Biaya operasional pesawat tempur per jam (spare part, & consumables yg dibutuhkan), dan tentunya juga harus menghitung jarak & waktu tempuh dari negara asal ke lokasi latihan.

      ## Biaya tambahan #1: biaya operasional pesawat transport yg dibutuhkan utk membawa spare part, tehnisi, dll

      ## Biaya tambahan #2: biaya staff yg terlibat, dan untuk akomodasi mereka disana.

      ## Biaya tambahan #3: Mungkin juga berapa fee yg harus dibayar utk keikutsertaan AU dalam Red Flag?!?

      Singkat cerita, partisipasi untuk latihan udara internasional ini tidak murah. Tetapi kalau mau mendapat lebih banyak pengalaman, atau istilahnya... lebih gaul... harus rajin untuk partisipasi.

      Inilah justru tempat paling ideal untuk memperlihatkan "efek gentar" suatu Angkatan Udara.

      Kita tahu kalau Angkatan Udara India harus mengeluarkan biaya lebih dari 100 crore untuk mengirim 4 Su-30MKI, 4 Jaguar, dikawal oleh 2 Il-78 tanker, dan masih memerlukan 2 C-17 untuk support.

      100 crore = 1 milyar Rupee = Rp 200 milyar Rupiah.

      Angka India sbnrnya sudah sengaja "disensor" -- lebih dari 100 crore, tapi tidak disebut pasti berapa.

      Ini sekali lagi menggaris-bawahi kalau Sukhoi bukan pesawat yg murah untuk dioperasikan.

      Sebagai pembanding, Swedia mengirim hanya 8 Gripen, didukung 117 staff, dan 1 C-130H untuk mengikuti latihan Red Flag di tahun 2013.

      Ini saja memperlihatkan kalau Swedia dapat mengirim lebih banyak pesawat tempur utama (8 Gripen vs 4 Su-30MKI)... dengan keunggulan support yg sangat minimal dibandingkan India

      Delete
    2. Catatan lain untuk latihan udara bersama:

      RAAF, dalam Pitch Black 2012 di Australia, sebenarnya menyebutkan kalau TNI-AU Indonesia masih kurang pengalaman dalan latihan mancanegara semacam ini.

      Mereka bilang Indonesia "perlu dituntun" perlahan-lahan.

      ==========================
      Since this was Indonesia’s debut at Pitch Black, and because its personnel are not well versed in multilateral exercises, Australia adopted a “crawl-walk-run approach”.
      =========================

      Dan komentar mereka untuk Sukhoi Su-27, dan Su-30 Indonesia, yang dikirim dalam latihan ini?
      =========================
      Perhaps the question uppermost on everyone’s minds was how the Flankers compared to equivalent Western aircraft. There is something of a fascination with the legendary status of this aerodynamic fighter, but one official stated categorically that none of the international partners felt outclassed by it.
      =========================
      Yah, Sukhoi Indonesia ternyata tidak menggentarkan siapapun juga.... Tidak ada yang takut..!

      Lebih lanjut dalam artikel ini:
      =========================
      WGCDR Jones said Australian pilots were getting a “buzz out of working with a new platform (Sukhois),” but he too declined to offer an opinion on the capabilities of the Flankers. Instead he diplomatically said, “I remain very comfortable that we have the Super Hornet in RAAF service.” GPCAPT Kitcher assessed the Super Hornets as enjoying parity with the Flankers, but that “a pilot’s skill is the most important factor”.
      =========================

      .... seperti sudah sering digaris-bawahi disini, kemampuan pilot / Training adalah faktor utama kemampuan suatu Angkatan Udara, bukan semata hanya karena bisa memiloti Sukhoi, automatis pasti lebih unggul, seperti banyak mitos di Indonesia saat ini.

      Apa yang disebutkan disana ttg kemampuan Sukhoi Indonesia, adalah jawaban yang lebih diplomatis... "kira-kira seimbang".

      Kalau mau blak2an, pernyataan ini artinya Sukhoi Indonesia bukan tandingannya Super Hornet Australia.

      Delete
  2. Ohya bung @dark rider, swedia itu apakah negara non blok seperti indonesia
    Apakah mungkin bila swedia dan negara tercinta kita (indonesia) melakukan kerja sama pembuatan pesawat lain selain dari jenis gripen ini. Karna gripen adalah kelas light / medium fighter. Brati kan kita perlu untuk yang heavy fighter.
    Dari pada kita nunggu sama yang sekarang ( tidak tau jadi atau tidak ). Sebagai rakyat indonesia aku sangat senang bila negara kita kuat, tni kuat.
    Ya seperti join fighter, kita tau gripen adalah pesawat yg canggih juga murah dalam hal perawatan. Kalau di bandingkan sama pespur milik kita.
    Seperti singapura yang memakai 1 jenis pesawat di kelas masing -masing (f 15& f 16)
    Aq juga senang sekali bilamana kita seperti negara tetangga kita, Negara kecil tapi jaya.

    Opini pribadi supaya kita kuat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Swedia tidak akan pernah memproduksi twin-engine fighter!

      Alasannya sederhana: Mereka sebenarnya sudah belajar dari sejarah, kalau Single-Engine Lightweight fighter sebenarnya adalah pesawat tempur yang jauh lebih efektif dibanding twin-engine.

      Didalam konflik udara, kalau asumsinya dua-dua pihak mempunyai jumlah pesawat tempur yang sama, pihak mana yang akan lebih unggul?

      Jawabannya, adalah pihak yang dapat mengudarakan lebih banyak pesawatnya dalam suatu waktu!

      Pesawat twin-engine biaya operasionalnya akan selalu 2 - 3x lipat lebih mahal dibanding F-16, sebagai standard umum.

      Dari sini saja, ini artinya setiap angkatan udara dapat mengudarakan dua sampai tiga F-16, dengan biaya yang sama untuk satu F-15, Typhoon, atau Rafale.

      Dalam konflik yang berkepanjangan, suatu negara akan dapat terus-menerus menerbangkan F-16, tanpa perlu menghitung sisa uang di dompet, seperti yang mengoperasikan armada twin-engine.

      Swedia sudah melihat ini dari suatu keungguln dari awal, dan karena itu justru sengaja mendesain Gripen, agar biaya operasionalnya hanya 50 - 60% dibanding F-16, dan maintenance requirement-nya lebih rendah lagi, agar dapat mengudara juga, lebih sering lagi dibanding F-16...

      Dalam perbandingan yang sama, 4 - 5 Gripen dapat mengudara dengan biaya yang sama untuk 1 F-15.

      Setiap Gripen ini, juga dapat mengudara 4 -5x sehari, sedangkan F-15? Kalau sistem logistiknya bagus, paling cepat hanya bisa mengudara 2x sehari; karena service requirement untuk pespur twin-engine juga akan selalu jauh lebih berat.

      Disinilah kunci keunggulan Gripen!

      Delete
    2. Swedia adalah negara non-blok, dengan kecendrungan lebih memihak blok Barat.

      Indonesia sebenarnya juga serupa.
      Dari segi diplomatis, kita tidak pernah terlalu sahabat karib, baik dengan Uni Soviet, PRC, ataupun Vietnam.

      Dari segi supplier - ini menjadikan Swedia justru pilihan yang paling ideal, dibandingkan Russia, ataupun US; dua negara dengan mental adidaya, yang akan selalu lebih menghitung-hitung negara mana yg lebih dekat ke mereka.

      Lagipula komponen buatah US di Gripen, sifatnya hanyalah COTS (Commercial-Off-the-Shelf). Yang paling penting, source code di Gripen -- penentu utama kemampuan tempur -- 100% hak proprietary Saab / Swedia; dan mereka akan membuka semua kartu (ToT)!

      Delete