Friday, April 8, 2016

MBDA Meteor - BVR missile terbaik di dunia



MBDA Meteor BVRAAM (Beyond Visual Range Air-to-Air missile). Next Generation Missile pertama yang menggunakan ramjet, dan 2-way datalink. Missile ini sudah diakui sebagai BVR missile terbaik di dunia. Gripen-C yang sudah mendapat MS-20 upgrade (periodical upgrade yang setiap 3 tahun sekali) di tahun 2015, akan menjadi Eurocanard pertama yang berhasil mengintegrasikan Meteor.

Negara-negara ASEAN sebenarnya akan membutuhkan missile ini, daripada hanya mengandalkan AMRAAM; karena PLA-AF China berencana untuk mengoperasikan Su-35 di Laut Cina Selatan.

How deadly is the Meteor BVRAAM?


Sedikit mengenai manuever missile, seperti dituliskan dalam perhitungan fisika di blog defenseissue dari picard578. 

Kelemahan pertama; karena kecepatan yang lebih tinggi (semisal Mach 3), missile akan membutuhkan kemampuan manuever 25 kali lipat lebih tinggi dibandingkan kemampuan manuever maksimum pesawat tempur modern, yang dapat bermanuever 9-G. Kebanyakan BVR missile hanya mempunyai kemampuan manuever 40G; ini tidak cukup untuk menghancurkan pesawat lawan.

Kelemahan kedua, jarak jangkau efektif BVR missile dengan solid-boost rocket, seperti AMRAAM, atau RVV-AE hanya akan kurang dari setengah dari jarak jangkau maksimumnya; karena bahan bakarnya akan habis setelah beberapa detik, dan kemudian missile ini hanya aken meluncur ke target tanpa pendorong lagi.

Kedua kelemahan ini yang menjelaskan kenapa BVR combat sebenarnya bukanlah "Silver bullet" yang diagungkan Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF), yang anehnya, sampai sekarang juga masih belum melakukan investasi yang lebih mendalam untuk AMRAAM-D.

Defenseissues blog (picard578)
Su-35, misalnya, memang bisa saja lari setelah menembakkan BVR missile (lihat ilustrasi Ausairpower dibawah); walaupunpilot Super Hornet Australia tentu saja tidak akan sebodoh itu untuk terus mencoba melakukan Mid-course update, dan terbang ke arah missile Sukhoi!
Catatan:
Pilot Super Hornet Australia yang lebih terlatih, dan berpengalaman

tidak akan berlaku SEBODOH dalam gambar ini!

MBDA Meteor menghilangkan kedua kelemahan ini dengan sistem ramjet propulsion, yang memberikan keunggulan untuk mengatur kecepatan missile secara optimum, dengan tujuan untuk meningkatkan jarak jangkau, dan momentum akhir untuk menghancurkan target

Setelah ditembakkan, mesin ramjet akan mengambil alih fungsi daya dorong missile pada kecepatan yang ekonomis agar menghemat bahan bakar. MBDA sengaja merahasiakan jarak jangkau maksimum Meteor "... in excess of 100 kilometers". Menurut estimasi banyak pengamat, jarak ini bisa mencapai antara 180 kilometer, sampai 250 kilometer. Ini akan memberikan strategic advantage-nya tersendiri untuk ketiga Eurocanards; dapat menembak lawan dari jarak yang lebih jauh, sebelum bisa ditembak balik.

Target yang mencoba lari juga tidak akan dapat menghindar semudah itu, karena tidak seperti missile dengan solid-boost rocket-propulsion, kemampuan kill Meteor tidak akan berubah, baik dalam jarak 40 kilometer, ataupun 150 kilometer. Meteor mempunyai kemampuan untuk akan menambah kecepatan KALAU target sudah tidak lagi bisa menghindar! Dengan demikian target berhadapan dengan momentum penuh missile pada detik terakhir!
War-is-Boring:The Best Air-to-Air missile is in Sweden!
Kelebihan lain untuk Meteor adalah 2-way datalink (hanya bisa dilakukan Typhoon, dan Gripen) untuk memastikan kalau missile akan menghantam target dengan akurasi tinggi. Ini fitur yang pertama kali di dunia! Pesawat dengan (preferably) AESA radar, akan mengirimkan informasi arah, dan posisi target ke Meteor (Mid-course update); dan sebaliknya, Meteor akan mengirimkan data posisi, dan arahnya sendiri ke pesawat induk. Jadi akan ada hubungan timbal-balik untuk memastikan akurasi untuk menghantam sasaran.

Tentu saja bukan berarti pesawat penembak Meteor harus terus mengunci radarnya ke arah target! 2-way datalink untuk Meteor juga dapat dilakukan melalui pesawat tempur lain, atau bahkan pesawat AEW&C, kalau perlu. Hal ini akan memberikan tactical advantage dalam BVR combat dengan pihak lawan.

Sistem training WISCOM yang sudah dipersiapkan Swedia untuk negara-negara pengguna Gripen; menggariskan, kalau beberapa Gripen, akan dapat menyalakan AESA radar mereka secara bergantian, untuk mempertahankan target locking, tanpa perlu mengambil resiko gelombang radar mereka terlihat lawan. Sistem Network TIDLS akan memastikan kalau setiap pilot dalam formasi Gripen akan tetap mendapat gambaran yang jelas untuk posisi, dan arah lawan, dan tentu saja, memberikan 2-way datalink untuk Meteor.
Link: AviationWeek

Perpaduan antara Gripen, yang diperlengkapi Sensor Fusion (AESA, IRST, IFF, dan EW), dengan sistem Networking exclusive antar-Gripen (TIDLS), dengan MBDA Meteor, tentu saja akan menjadi kombinasi yang sangat berbahaya, dan boleh terbilang tidak ada bandingannya di dunia:
Example of Gripen + Meteor combination:
Target tidak akan bisa lari, sedangkan pesawat penembak dapat cepat menghindari tembakan lawan,
Kalau wingman-nya sudah siap untuk take-over!



MBDA Meteor tidak ada bandingannya di dunia

Sejauh ini, belum ada development yang sebanding untuk membuat BVR missile dari negara lain, baik dari Amerika Serikat (AMRAAM-D akan memakai 2-way datalink), Russia (Development untuk RVV-AE-PD -- R-77 versi Ramjet sudah dibatalkan di tahun 1999l! ataupun China. 

Kalaupun ketiga negara diatas akhirnya membuat ramjet missile equivalent untuk Meteor, karena orang-orang Eropa sudah mengambil langkah terlebih dahulu; MBDA berada di posisi terdepan. Ramjet missile generasi pertama US, Russia, atau China, akan dipaksa berhadapan dengan Meteor Block-2, atau Block-3 -- yang akan lebih mematikan lagi dibandingkan sekarang!


Ada yang pernah menuliskan Russia dapat menandingi Meteor, dengan R-37 missile yang dipasangkan ke Su-35, hanya karena missile ini mempunyai kecepatan maksimum Mach-6, dan berjarak jangkau 150 - 398 kilometer. Tidak segampang itu!

Selain Su-35 akan membutuhkan banyak keberuntungan untuk bisa melihat Gripen di radar terlebih dahulu, ada dua masalah dengan skenario ini:


1.    R-37 TIDAK PERNAH di-integrasikan ke Su-35, tetapi hanya untuk MiG-31BM Foxhound   (Link: Sputnik News, 2012).
2.  Kalaupun ditembakkan sendiri oleh MiG-31 tetap saja tidak berubah. R-37 adalah missile jarak jauh (dengan kemampuan manuever hanya 8G), yang diperuntukkan menghantam target pesawat AWACS, atau tanker yang besar; bukan pesawat tempur yang lincah, seperti F-16, atau Gripen. Untuk dapat mengalahkan pesawat tempur, R-37 dengan solid-boost rocket propulsion harus mempunyai kemampuan manuever 300 - 400G lebih+Ini belum menghitung Mid-course guidance yang diperlukan untuk mendapatkan Lock!
Ausairpower
Bagaimana dengan skenario Ausairpower yang menyebutkan kalau Russia mempunyai banyak pilihan Seeker?


Pertama-tama, saatnya meluruskan beberapa mitos. Semua Sukhoi Russia sejauh ini selalu terlihat membawa R-27, dan TIDAK PERNAH terlihat membawa R-77. Jadi jangankan beraneka ragam seeker; R-27 biasanya hanya tipe Semi-Active Radar Homing; yang membutuhkan panduan total dari radar pesawat induk, tanpa pernah bisa dilepas sendirian. H
al ini sepertinya menunjukkan kalau AU Russia sendiri menilai kalau keluarga R-77
belum cukup mature jika diperbandingkan dengan R-27...... oh, dan R-27 adalah buatan Ukraine, yang sekarang sudah meng-embargo Russia.
Su-27S di atas Baltic membawa 4 x R-27 dan 2 x R-73
(The Aviationist)
Su-30SM di Syria tetap saja membawa 4 x R-27 dan 2 x R-73(The Aviationist)
Sputnik News menjelaskan kalau tipe R-27 yang dipakai adalah tipe -R, dan -ER;
Menurut Ausairpower; ini adalah tipe Semi-Active Radar Homing Missile
(BUKAN tipe Fire-and-forget),
Model ini kira-kira hanya sebanding dengan AIM-7 Sparrow
Kedua, anti-radiation seeker (anti-radar), dan Infra-Red seeker tidak akan efektif untuk BVR combat, alias tidak akan dapat cukup bersaing dengan radar-guided seeker. Alasannya sederhana --- kedua tipe ini sebenarnya BUKAN Fire-and-Forget missile. Mereka akan memerlukan Mid-course update secara terus-menerus dari pesawat induk, untuk memastikan arah, dan posisinya tepat untuk menghajar lawan!

Dalam hal ini, Anti-Radiation Seeker, ataupun Infra-Red Seeker akan membutuhkan jarak yang jauh lebih dekat daripada radar-guided missile seperti AMRAAM; sebelum akhirnya dapat independently locked-on to target! MICA-IR (Infra-red seeker) buatan Perancis saja kemampuan jangkau BVR-nya hanya 50 kilometer, justru karena alasan ini!

Ini artinya, kemungkinannya terlalu besar pesawat target akan dapat mem-break lock dari radar pesawat induk, apalagi kalau seperti Su-35, yang radarnya saja hanya tipe PESA, sebenarnya sudah kurang bersaing di Abad ke-21. 

Dengan semakin berlanjutnya profilerasi AESA radar di negara-negara Barat, kemungkinan missile dengan anti-radiation seeker (anti-radar), seperti yang dipakai Russia, akan semakin mubazir. Penjelasannya mudah saja. Bagaimana caranya seeker kecil di R-27, atau R-77 akan dapat melihat gelombang AESA radar, yang sendirinya Low Probability Intercept? Dan pertanyaan yang lebih mendasar, kenapa pilot pesawat tempur Barat akan sebodoh itu untuk mengarahkan gelombang radarnya agar bisa dilihat seeker di missile lawan?

Penutup

Kombinasi antara SAAB Gripen, dan MBDA Meteor boleh dibilang akan menjadi tolok ukur baru untuk BVR combat di dunia. Walaupun MBDA Meteor di-desain untuk dipakai ketiga Eurocanards; baik Eurofighter Typhoon, ataupun Dassault Rafale (hanya bisa 1-way datalink), bahkan belum bisa mengintegrasikan Meteor sampai 2017, dan 2018.

Pemerintah Swedia, Swedish AF, dan SAAB sedari awal sudah berkeras untuk menduduki posisi terdepan selama proses testing Meteor; dan kebanyakan testing Meteor dilakukan di atas Gripen. Alhasil, Gripen adalah pesawat pertama yang berhasil menembakkan missile ini. Sekarang, Swedia mempunyai waktu lebih lama untuk melakukan tes, dan training untuk memaksimalkan kemampuan Meteor, yang sudah terhitung jauh lebih unggul dibandingkan AMRAAM C7, atau missile Russia versi-export, seperti RVV-AE (Izdeliye-190).
Kecuali Thailand, tidak ada satupun negara tetangga Indonesia, yang rata-ratanya menggunakan pesawat tempur buatan US (F-15, F-16, dan F-18) akan dapat mengoperasikan Meteor dalam waktu dekat. Ada pembicaraan kalau Meteor akhirnya akan diintegrasikan ke F-35, hanya sayangnya; ukuran Meteor tidak akan muat ke dalam conformal weapons bay F-35! 

Mengubah spesifikasi dasar Meteor (ukuran panjang), hanya agar bisa dimasukkan ke dalam weapons bay F-35, berarti akan mengkompromikan sekurangnya kapasitas bahan bakar, dan kedua, perhitungan aerodynamis missile untuk manuever akhir. Alhasil, versi Meteor untuk F-35; jarak jangkaunya akan berkurang 30 - 40% dibanding versi Eurocanards, dan kemampuan kill-nya juga akan berkurang.

... yang lebih menarik lagi, harga Meteor menurut perkiraan awam, tidaklah jauh lebih mahal dibandingkan biaya akuisisi untuk AMRAAM-D (sekitar $2 juta+ per missile untuk beli borongan); dan bukan tidak mungkin harganya akan turun sedikit dalam beberapa tahun, karena banyaknya order, dan semakin efesiennya produksi MBDA.
War-is-boring
"MBDA Meteor is a game changer." 

Kalau kemampuan kill-rate untuk AMRAAM di-estimasi hanya sekitar 8%, bukan berarti kemampuan kill-rate untuk Meteor melompat ke 100%. Sebaliknya, dapat ditarik kesimpulan estimasi yang realistis, kalau Meteor akan mempunyai kemampuan kill rate antara 20 - 30%.

Sepuluh (10) AMRAAM belum tentu dapat mengena jika dihadapkan dengan lawan yang siap. Sebaliknya, sepuluh (10) MBDA Meteor kemungkinannya akan lebih besar kalau sekurangnya 2, sampai 3 missile akan mengena.

Yang paling penting, Sukhoi, tipe manapun juga, tidak akan mempunyai banyak harapan! Missile ini sudah dipersiapkan untuk menghadapi "Current threats" (baca: untuk membunuh Sukhoi), ataupun cruise missile, dan UAV yang RCS, dan ukurannya jauh lebih kecil.


3 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. saya sangat berharap pesawat gripen berikut senjatanya di akuisisi pemerintah indonesia sebagai kawan yang baik bagi su 35 tentu akan sangat mengerikan dari pada bersanding dengan pesawat f 16 indonesia, mengingat kemampuan gripen yang lincah dan dapat mendart di jalan raya.
    Dan saya juga berharap swedia melalui saab memberikan tot tanpa syarat dan dapat di produksi di indonesia
    hanya orang awam!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. SAAB menjanjikan ToT 100%, tanpa memegang ekor!

      Ini termasuk prosedur standard supplier2 Eropa, krn mrk harus berjuang utk merebut pasar persenjataan dari para pemain2 besar: US dan Russia.

      Bahan pemikiran tambahan:
      Kalau kita menjadi negara customer SAAB, kita akan menjadi salah satu customer terbesar mereka.

      Tentu saja pelayanan after-sales service, dan peluang kerja-sama jangka panjang akan sangat menguntungkan Indonesia!

      Jadi semua pihak sama2 senang!

      Kalau kita terus membeli dari US, atau Russia, sampai kapanpun kita akan diperlakukan sebagai customer kecil. Saudi, UAE, atau Australia dapat memborong puluhan pesawat, dari US, sedangkan India, dan China memborong ratusan pswt dari Russia.

      Untuk lebih lanjut keuntungan ToT SAAB, sy sudah pernah menuliskan artikel ini:
      http://gripen-indonesia.blogspot.co.id/2015/12/bagian-pertama-perbandingan-saab-gripen.html

      Delete