Thursday, March 17, 2016

Twin-Engine Fighter LEBIH BAIK dibanding Single-engine fighter?? (Bagian Pertama)

MITOS ATAU KENYATAAN ?!?

F-4E Phantom II: Pesawat yang memulai trend twin-engine fighter
(Gambar: Wikimedia)
Banyak Angkatan Udara, dan hampir 99% penghuni forum militer; tidak hanya di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia, sepertinya selalu berkesimpulan kalau pesawat tempur bermesin ganda (twin-engine) akan selalu lebih unggul dibanding single-engine.

Tapi apakah benar "Twin-engine" makes a better fighter than single-engine?"

Kenapa banyak orang bisa mencapai kesimpulan yang sedemikian? 

Apakah pernah terbukti dalam sejarah?

Apakah ada fakta pendukung yang jelas?


Trend Twin-engined fighter sebenarnya dimulai pada tanggal 27-Mei-1958. Inilah tanggal pesawat tempur twin-engine yang paling terkenal sepanjang masa, mengudara untuk pertama kalinya --- McDonnell (setelah merger menjadi McDonnell Douglas) F-4 Phantom II.

Konsep F-4 Phantom II berikut ini ternyata akan dijadikan model untuk semua model pespur twin-engine masa depan:
  • Kemampuan membawa radar yang lebih besar untuk melihat lawan dari jarak yang lebih jauh.
  • Berkaitan dengan kemampuan radar diatas, dapat memakai BVR missile, untuk menembak lawan sebelum lawan sadar apa yang terjadi.
  • Airframe yang lebih besar, berarti jarak jangkau dan payload juga jauh lebih besar. Kapasitas angkut bom untuk Phantom II yang 8 ton, sudah menyamai kapasitas pembom berat Boeing B-17 Flying Fortress di masa Perang Dunia II.

Tetapi lambat laun, konsep twin-engine ini mulai berkembang ke berbagai cabang lagi:
  • Twin-engine dapat berakselerasi LEBIH cepat dibanding single-engine (Dua mesin!!)
  • Twin-engine LEBIH UNGGUL dalam manuever dibanding single-engine fighter!
  • Twin-engine LEBIH aman dibanding single-engine; kalau satu mesin mati, pesawat masih dapat mendarat dengan satu mesin.

Yang dilupakan semua orang, US Navy, pengguna pertama dari F-4 Phantom II, sebenarnya tidak pernah memprioritaskan Phantom sebagai dogfighter, tetapi sebagai long-range interceptor untuk melindungi kapal induk US, dari pembom Soviet, seperti Tu-16. Peranan untuk dogfighter sebenarnya diambil oleh F-8 Crusader, pespur Single-engine mereka waktu itu. Akan tetapi, lambat laun, US Navy-pun boleh dibilang sudah termakan trend twin-engine yang sama. Sejak tahun 1980-an, semua pesawat tempur di atas kapal induk US dari tipe twin-engine (F-14, atau F-18, sekarang SuperHornet).

Di tahun 1970-an, US Air Force (USAF), yang juga sudah terbuai konsep Phantom II, dan BVR combat, lalu membuat F-15 Eagle. Kali ini, tidak seperti Phantom, F-15 jauh lebih manueverable, lebih cepat, dan radar-nya jauh lebih reliable (tetapi juga jauh lebih muahal!). 

Patut diketahui, kalau USAF sebenarnya dipaksa Kongres Amerika Serikat untuk akhirnya membeli F-16A yang single-engine lightweight fighter; karena dorongan lobby "the fighter Mafia".

Sementara itu di Moscow, pemerintah Soviet melihat, dan mendengar kemunculan F-14, dan F-15, dua jenis pesawat tempur baru, yang jauh lebih modern dibanding apapun juga yang dimiliki Soviet waktu itu. Untuk menandingi F-14, dan F-15, mereka akhirnya memulai desain untuk pembuatan MiG-29 twin-engine, yang kemudian diikuti si favorit Indonesia, Su-27, satu lagi pesawat twin-engine.

Tapi, apakah pesawat tempur Twin-engine sehebat itu?

Artikel ini akan menengok ke belakang dahulu, melihat dari lembar sejarah, apakah kesimpulan yang diambil di Washington DC, atau Moscow ini cukup beralasan?

Fakta Sejarah Single vs Twin-engine

Artikel kali ini akan terlebih dahulu menengok fakta sejarah, apakah argumen "twin engine better than single engine" itu pernah terjawab dengan pasti.

Untuk itu, kita harus menengok bahkan dari tahun 1939, sebelum era jet dimulai:
  1. Perang Dunia II
Di tahun 1939, Luftwaffe Jerman menggunakan Messerchmitt Bf.110, pesawat tempur twin-engine untuk pengawal jarak jauh, dan pesawat tempur malam. Hasilnya: Disaster!


Bf.110 hanya menjadi “mangsa empuk” untuk single-engined Supermarine Spitfire, dan Hawker Hurricane Inggris sampai akhir masa perang.

Tidak mau kalah, pada tahun 1942 USAAF (US Army Air Force) juga mempernalkan pesawat tempur twin-engine mereka sendiri, Lockheed P-38 Lightning. Konsep awalnya sama dengan Bf.110; cepat, dan jarak jangkau jauh. Dalam perang Pacific melawan Jepang, P-38 terbukti cukup sukses, tapi kebanyakan ini sebenarnya karena lawan utama mereka, Mitsubishi Zero, sebenarnya seperti dibuat dari kertas, dan sangat gampang terbakar.

Namun ketika USAAF membawa P-38 ke theater Eropa untuk menghadapi Lufftwaffe Jerman, pesawat ini akhirnya dipercundangi oleh single-engined Messerchmitt Bf.109, dan Focke-Wulf Fw. 190, dua lagi pesawat tempur single-engine. Pada September-1944, USAAF Eropa akhirnya sudah mengganti semua P-38 mereka, dengan P-51 Mustang, salah satu pespur single-engined US yang kemudian tergolong paling sukses selama perang.
  1. Perang Korea
Pahlawan pertempuran udara semasa konflik ini adalah MiG-15 Soviet vs F-85 Sabre US – dua-duanya sesama single-fighter, yang kembali lebih lincah, dan lebih cepat. Titik.
  1. Konflik Arab-Israel 1969 - 1973
Mulai dari tahun 1969, Israel akhirnya mulai mendapat pesawat twin-engine bertehnologi ultra-modern untuk ukuran waktu itu, F-4E Phantom II. Soviet tidak dapat membuat pesawat yang dapat menandingi Phantom waktu itu, dan dengan demikian tidak dapat mempersenjatai Mesir, atau Syria dengan pesawat yang equivalent.

Walaupun demikian, selama periode War of Attrition (Link ACIG), yang berlangsung antara tahun 1967 - 1973, Israel mendapati kalau Mirage III CJ, dan Nesher (Mirage 5) single-engine fighter yang jauh lebih sederhana, dan bahkan tidak membawa radar, adalah pesawat yang lebih lincah, dan dapat lebih diandalkan untuk menghadapi barisan single-engined MiG-15, -17, -19, dan MiG-21 Syria, dan Mesir, yang sama sederhananya.

Mirage IIICJ-158, with 13 kill-markings - Israeli Aerospace Museum
(Gambar: Public Image, Wikimedia)
Hasilnya: Dalam perang Yom-Kippur 1973, Israel lebih memilih menggunakan Phantom sebagai pesawat pembom jarak jauh, atau untuk menghantam Surface-to-Air missile lawan, sementara Mirage IIICJ, dan Nesher menikmati begitu banyak kill rate terhadap lawan-lawan mereka, yang semuanya single-engine fighter.
  1. Perang Vietnam
Pada masa awal Perang Vietnam, USAF yang sewaktu itu sudah termakan obsesi konsep twin-engine, akhirnya dipaksa untuk membayar mahal! Tidak seperti Israel, mereka tidak lagi mempunyai pespur single-engine untuk superiority fighter, sebaliknya mereka harus mengandalkan F-4E Phantom II.

Kill ratio untuk F-4 Phantom II USAF yang jauh lebih mahal, dan lebih rumit hampir 1:1 pada masa awal ini. MiG-21, atau MiG-19 Vietnam, yang jauh lebih sederhana, dan kualitas pilotnya belum tentu bisa bersaing, ternyata terbukti lebih lincah, dan dapat mempercundangi banyak super Phantom.

Pahlawan pertempuran udara dalam Perang Vietnam, sebenarnya justru adalah F-8 Crusader; satu lagi single-engined fighter yang lebih sederhana, yang justru berhasil memperoleh kill ratio 1:19 melawan MiG Vietnam. Sayang, performa ini saja dilupakan oleh orang-orang Amerika!


Vought-Chance F-8 Crusader pernah dipakai juga oleh AU Filipina
Bukan pesawat tempur yang bisa diremehkan di tahun 1960-an!
(Gambar: US Navy)
Tentu saja, keputusan USAF untuk memakai Phantom sebagai pesawat tempur utama, berarti juga kerugian finansial yang berat. 445 Phantom rontok selama masa perang, 382 pesawat terhitung sebagai combat loss. Mungkin bukan masalah yang pelik di waktu itu, di masa puncak perang Dingin, dimana Kongres pemerintah US lebih murah hati untuk masalah anggaran.

Pierre Sprey menyebutkan andaikata USAF sewaktu itu memilih menggunakan F-5A Freedom Fighter (yah, ini juga twin-engine, tapi konsepnya adalah Lightweight fighter dengan dua mesin kecil!), jumlah kerugian mereka tidak akan sebesar itu. Air Superiority, dan Kill ratio yang lebih baik akan bisa didapat dalam tempo yang lebih cepat, dan tentu saja harga F-5 yang jauh lebih sederhana, tidaklah semahal Phantom.


PENUTUP

Ternyata kalau kita melihat sejarah, TIDAK PERNAH TERBUKTI kalau twin-engine fighter ternyata adalah pesawat-tempur yang jauh lebih hebat dibanding single-engine, lightweight fighter. Malahan sebaliknya, pihak yang membawa twin-engine fighter seringkali masuk ke dalam konflik, dengan apa yang disebut HUBRIS – mereka berpikir karena pesawat mereka LEBIH SUPERIOR, mereka pasti menang!! Dan setiap kali, mereka akhirnya hanya bisa menggigit hari ketika dipercundangi pihak lawan yang ternyata sukses menggunakan pesawat tempur lightweight single-engine yang lebih murah, dan meriah.

Wah, tapi itu kan terakhir pada masa perang Vietnam, bukankah pesawat tempur Twin-engine Generasi Keempat / Kelima (F-15, Su-27/30/35, F-22, atau PAK-FA) JAUH LEBIH SUPERIOR dibandingkan F-4 Phantom II yang hanya Generasi ketiga?


Sebenarnya, perbedaannya antara Single vs Twin-engine dibandingkan pesawat tempur Generasi Keempat TIDAKLAH TERLALU BESAR

Ini dikarenakan HUKUM FISIKA yang berlaku ke F-4 Phantom II vs F-8 Crusader / Mirage / F-5 tetap saja tidak bisa dihilangkan dari semua pesawat tempur generasi selanjutnya!

Agar artikel ini tidak terlalu panjang, hal ini akan dibahas ke Bagian Kedua.

Sebagai referensi, artikel berikut akan memperbandingkan F-15SG Singapore vs F-16C Block-50 -- keduanya adalah versi yang memakai mesin GE, yang daya dorongnya hampir 20% lebih kuat dibanding versi mesin PW F100-PW200 (versi yang dipakai Indonesia). Sebagai referensi tambahan, tentu saja pesawat double inferior Su-35 juga akan turut diperbandingkan.

Artikel berikut juga akan memebahas kelebihan / kekurangan pesawat tempur mid-range twin-engine, seperti F-18 Hornet, Eurofighter Typhoon, dan Dassault Rafale.

No comments:

Post a Comment