Tuesday, March 22, 2016

Klaim PRC atas Laut Cina Selatan (LCS) -- Apakah artinya untuk Pertahanan Indonesia?

Kawasan LCS yang diklaim PRC - melanggar kedaulatan semua negara ASEAN
(Gambar: BBC)
Pada Senin, 21-Maret-2016 yang lampau, kapal Coast Guard PRC dengan sengaja "turun tangan" untuk membebaskan kapal nelayan Kwan Fey 10078, yang sudah tertangkap basah karena melakukan perikanan illegal. Tempo memberitakan lebih lanjut kalau kejadian ini, bukanlah yang pertama kalinya; sudah beberapa kali kapal Coast Guard PRC mencoba melakukan hal yang sama.

Bisa disimpulkan, kalau ulah Coast Guard PRC ini seperti memberi signal, kalau pemerintah PRC sendiri sebenarnya mendukung / melindungi perikanan yang illegal menurut hukum internasional ini. Bukankah wilayah disekitar Natuna itu, sebenarnya dianggap sebagai wilayah territorial PRC yang sah (lihat gambar di atas)? Menurut paham PRC, mereka hanya melindungi nelayan negara mereka sendiri untuk melakukan perikanan secara legal.


Apakah arti semua ini dalam konteks tantangan untuk pertahanan Indonesia?


Pertama, Indonesia akhirnya harus mulai melibatkan diri dalam kerja-sama pertahanan SATU ASEAN 

Yah, dalam konteks ini berarti kerjasama yang lebih erat dengan Singapore, Malaysia, Filipina, Vietnam, dan secara tidak langsung juga HARUS melakukan pendekatan ke kubu Amerika Serikat, dan Australia. 


Kalau selama ini, konflik LCS ini lebih banyak melibatkan
Vietnam, dan Filipina, Indonesia juga sudah tidak bisa lagi berpangku tangan, dan berpikir itu adalah masalah mereka! Tantangan disini adalah bagaimana caranya membentuk UNITED FRONT dalam SATU ASEAN yang berdaulat!
Kenapa PRC berani main gila?

Mudah saja. Karena PRC sebenarnya melihat negara-negara ASEAN yang terpecah-pecah, yang sebenarnya hanya memusingkan urusan masing-masing. Negara-negara ASEAN yang territorialnya dilanggar belum pernah memberi pernyataan bersama untuk menentang klaim PRC secara bulat! 

Bercerai kita runtuh!  


Boleh dibilang sejauh ini, Amerika Serikat, ataupun Australia malah lebih aktif untuk menentang klaim PRC di laut Cina Selatan, dibandingkan negara-negara ASEAN.


Ini juga menunjukkan kemampuan US, dan Australia untuk memproyeksikan
kekuatan militer mereka, jauh dari markas terdekat!

Bagaimana konteksnya dari segi Alutsista?


Mudah. Sudah saatnya berhenti berpikir untuk mengakuisisi Alutsista kelas dua, dan mulai berpikir ke arah kemandirian pertahanan, dan mengatur agar TNI mempunyai perlengkapan yang akan compatible dengan apa yang dipakai sekutu-sekutu Indonesia dalam konteks konflik ini.

Saatnya mulai berpikir untuk membuat sistem National Networked Datalink, dan belajar untuk mulai lebih rajin berlatih bersama dengan Angkatan Udara / Laut Singapore, Malaysia, Australia, Filipina, dan Amerika Serikat.

Saatnya menunjukkan UNITED FRONT, dan saatnya menunjukkan ke PRC, kalau Indonesia sebagai salah satu negara ASEAN, juga bukanlah negara yang bisa diremehkan dengan mudah!

Dengan sistem Alutsista gado-gado, seperti sekarang, secara militer Indonesia sebenarnya jauh lebih lemah, bahkan jika dibandingkan dengan Malaysia. Walaupun Malaysia tidak kalah gado-gado, tetapi mereka tetap saja lebih menang karena rajin Latihan Bersama dengan Australia, dan Amerika Serikat.

F-22, dan F-15 USAF berlatih bersama armada gado-gado Malaysia
Catatan: 
Walau gado-gado, semua pespur Malaysia masih JAUH LEBIH MODERN dibanding Indonesia

Lupakan saja rencana 'mau membeli' pesawat "inferior" Su-35! PLA-AF China berencana menggunakan pesawat ini di atas Laut Cina Selatan!


..... dan mereka akan dapat menggunakannya dengan jauh lebih mahir dibanding Indonesia.
  • Tidak seperti Indonesia, pilot PLA-AF (People's Liberation Army Air Force) China sudah berpengalaman memakai ratusan Sukhoi Su-27SK / Su-30MK / Su-30MK2 / J-11B / J-15 dan J-16 sejak tahun 1991.
  • Tidak seperti Indonesia, yang mau membeli 10 pesawat saja sudah kedodoran, PRC sudah membeli 24 pesawat dengan harga borongan. Bayar cash lagi, karena kocek mereka juga jauh lebih tebal! Sudah pasti harga per unitnya lebih murah dibanding biaya pembelian Indonesia, yang 20% lebih uangnya hanya masuk ke kocek perantara!
  • Tidak seperti Indonesia, dengan Anggaran militer kedua terbesar di dunia, PLA-AF juga tidak akan pusing menghitung biaya operasional Sukhoi. National Review bahkan memprediksi kalau jam terbang pilot China mungkin lebih tinggi jika dibandingkan standard NATO. Ini berarti jumlah jam latihan pilot Su-35 mereka juga akan JAUH LEBIH BANYAK dibandingkan Indonesia!!!
  • Tidak seperti Indonesia, sistem pertahanan PRC juga NON-gado-gado, dan sudah jauh lebih optimal untuk men-support Sukhoi!
  • Tidak seperti Indonesia, kalau ada yang rusak, pabrik-pabrik fotocopy PRC juga sudah siap untuk memproduksi spare part yang diperlukan, tanpa perlu berurusan dengan Agen perwakilan resmi Russia, Rosoboronexport!

Jarak jangkau Su-35 yang hanya 4,500 kilometer tidak relevan untuk konteks Indonesia, yang dapat membeli pesawat buatan Barat yang jauh lebih hemat bahan bakar, tetapi justru sangat penting bagi PRC untuk melanjutkan klaim mereka atas LCS, dan secara tidak langsung, wilayah laut di sekitar Natuna!

Kenapa semua negara ASEAN justru harus belajar untuk menghadapi Su-35!
Link: The Diplomat: How China plan to use Su-35

Begitulah, kenyataannya, pilot Indonesia BUKAN harus belajar untuk menghadapi F-15SG Singapore, F-18F Australia, atau Su-30MKM Malaysia. Bakal lawan yang lebih pasti dihadapi dalam konflik yang sesungguhnya, tidak lain adalah..... SU-35 PLA-AF!!

Kalau sama-sama memakai Su-35, bagaimana caranya Indonesia dapat mengalahkan lawan yang SUDAH PASTI LEBIH MAHIR, dan senjatanya lebih BUANYAK?


1 comment:

  1. Bersambung ke.... "Bagaimana caranya mempertahankan Natuna?" KALAU PRC menyerang!

    ReplyDelete