Thursday, March 3, 2016

Kenapa memilih Su-35 adalah KESALAHAN BESAR ( Bagian 2)

Pembelian Su-35 hanya akan SANGAT MERUGIKAN keuangan Indonesia





Seperti sudah dibahas sebelumnya, "Efek gentar" Su-35 yang katanya "bisa menandingi negara tetangga" sebenarnya hanyalah mitos belaka yang direkayasa media Barat, yang memang senang mencari ”rahwana”.

Su-35 memang adalah pesawat tempur paling modern yang bisa dibuat Russia dewasa ini, tetapi kenyataannya  BELUM TENTU pesawat ini akan dapat menandingi kemampuan F-15C/E, dan F-16C yang sudah hampir berumur 40 tahun lebih. Hanya karena keduanya sudah terus-menerus mendapat upgrade, dan umur airframe-nya tidak bisa kunjung habis. Apalagi, kalau kedua model ini juga mendapat dukungan TRAINING, dan SITUATIONAL AWARENESS CONTROL yang sudah proven, dan jauh lebih unggul.

Sekarang saatnya mengulas lebih dalam, 5 lagi alasan kenapa Su-35 hanya akan sangat MERUGIKAN NEGARA. 



 1.     Indonesia harus siap MEMBAYAR KOMISI untuk PERANTARA


Rosoboronexport sendiri sebenarnya adalah agen perantara tunggal resmi yang ditunjuk Presiden Russia sendiri di tahun 2000, yang fungsinya untuk mewakili 90% penjualan export senjata negara Russia. Dalam fungsinya sebagai wakil (perantara) dari Russian Military Industrial complex yang luar biasa besar, dan ruwet, tentu saja Rosoboronexport dengan sendirinya menuntut pembayaran komisi dalam setiap transaksi pembelian senjata, DAN spare part.

Dalam artikel ini, First Deputy General Director Sergei Chemezov menyatakan kalau  biasanya Rosoboronexport meminta antara 1 – 5% komisi dari setiap penjualan, tetapi bukan berarti tidak ada pengecualian (lebih mahal). Entah berapa komisi yang akan dituntut Rosoboronexport untuk negara yang hanya bisa membeli Su-35 dalam jumlah cicilan, sehabis itu masih coba menuntut macam-macam.

Kedua, sebenarnya sudah menjadi prosedur standard, untuk Rosoboronexport juga memanfaatkan perantara lokal untuk memuluskan hubungan dengan berbagai pihak, baik perusahaan lain, ataupun militer di negara pembeli. Dalam hal ini, PT Trimarga Rekatama yang berperan sebagai perantara / makelar untuk penjualan Sukhoi, tentu saja harus meminta tambahan % komisi lagi diatas penjualan Su-35!

Sekali lagi, seharusnya DPR, atau KPK tidak perlu curiga, atau was-was. Ini hanya prosedur standard transaksi. Sogok-menyogok pejabat tentu saja juga sudah menjadi bagian dari prosedur standard ini.

Pembahasan lebih lanjut tentang "Asyiknya memakai perantara", dan kerugian yang lebih mendalam yang akan menimpa Indonesia, dapat dibahas lebih lanjut di artikel ini.


2.     Indonesia akan bayar mahal KARENA MEMBELI CICILAN


Kalau kita pergi ke pasar dan membeli cabe rawit, misalnya, berapa harga per kilogram yang lebih murah? Kalau membeli 10 kilogram, atau hanya 2 kilogram? Harga kiloan untuk orang yang membeli 10 kilo, tentu saja lebih murah bukan?

Indonesia sejauh ini adalah satu-satunya negara yang mencicil pembelian 16 Su-27SK/SKM, dan Su-30MK/MK2 bertehnologi 1980-an, dalam tempo 10 tahun, dengan harga total akhir yang jatuhnya $1,1 milyar lebih; lebih mahal dibandingkan pembelian $800 juta untuk 18 Su-30MKM Malaysia (2 pesawat lebih banyak!) buatan Irkut, yang jauh lebih modern.

Nah, dari sini saja, harga markup untuk membeli hanya 10 Su-35 sih, sudah menjadi kepastian.

Dan sebagai kedua agen perantara di atas yang meminta komisi sales, untuk penjualan yang jumlahnya sedikit, apakah meminta % komisinya lebih besar, atau akan lebih kecil? Ini terserah imajinasi pembaca.



3. Salah satu alasan kenapa memilih Su-35 adalah KARENA TAKUT EMBARGO?!??

Seperti sudah pernah di-post disini, ketakutan semacam ini sebenarnya sudah menjadi phobia yang tidak lagi beralasan. Baik Amerika Serikat, atau European Union, sudah tidak lagi mempunyai insentif untuk memberlakukan embargo militer ke Indonesia yang demokratis, dan tidak didera hutang masa lalu. 

Silahkan menuliskan sendiri skenario bagaimana caranya Indonesia bisa terjerat embargo militer lagi!

Namun, sebaliknya, kalau membeli dari supplier Russia yang “katanya kebal embargo”…..


4.  Russia sebenarnya mewarisi military-industrial complex warisan Uni Soviet. Sebagian besar komponen senjata yang dijual Rosoboronexport, pabriknya berada di negara-negara ex-Soviet yang lain, seperti Ukrania, atau Georgia!


Russia membutuhkan pabrik-pabrik senjata Ukraine
(Gambar: The Washington Post)

Artikel Moscow Times ini menguraikan lebih lanjut bagaimana tindakan Russia akhir-akhir ini, untuk memerangi banyak negara-negara ex-Soviet lain sejak tahun 1990-an pada akhirnya akan merugikan industri militernya sendiri dalam jangka menengah-panjang.

Infra-Red Seeker untuk R-73, hampir seluruh R-27 missile, dan beberapa komponen untuk Sukhoi, seperti Hydraullic system saja sebenarnya buatan Ukrania. Dan tentu saja, Ukroboronprom, agen export resmi Ukrania sudah melakukan embargo militer terhadap Russia!

Kenyataannya, juga tidak semudah itu untuk Russia bisa membangun pabrik-pabrik sendiri yang bisa mensubsitusi komponen-komponen tersebut secara lokal. Beberapa usaha Russia sebelumnya untuk mencoba independent dari warisan Soviet Military Industrial complex itu juga kurang berhasil.

Daily Mail UK

Oh, dan tentu saja, sebenarnya industri militer Russia sebenarnya sudah ketinggalan jauh dari segi tehnologi dibandingkan industri militer Barat. SebelumnyaRussia sudah mencoba mengejar ketinggalan, dengan membeli / mempergunakan komponen elektronik buatan Barat, untuk menciptakan senjata modern seperti Armata Tank.

Daily Mail UK

Tetapi seperti diatas, sepak terjang Russia di Ukraine, yang dianggap mengancam keamanan di Eropa, berarti baik Amerika Serikat, dan European Union juga sudah memberlakukan embargo militer terhadap Russia.

Faktor-faktor inilah yang mendorong, kalau dalam jangka menengah-panjang, akhirnya, industri militer Russia akan mengalami penurunan yang tidak terhenti.

Ini artinya jelas. Membeli dari Russia, bukan berarti kebal embargo. Kesulitan spare part bukan lagi masalah KALAU, tetapi KAPAN?

Dalam 5, atau 10 tahun lagi, belum tentu masih ada satupun Su-35 Indonesia yang masih bisa mengudara. Dan bicara soal operasional …


5. Biaya operasional Su-35 SUDAH PASTI AKAN JAUH LEBIH MAHAL dibandingkan Su-27, dan Su-30 desain tahun 1980-an!

Beberapa pernyataan menyatakan kalau alasan lain, Indonesia sudah “terbiasa” dengan Sukhoi. Oh, ya?

Pertama-tama berat kosong Su-35 yang 62,800 pound saja sudah berbeda dari Su-27 yang hanya 55,000 pound. Inilah isyarat pertama, kalaupun bentuk luarnya mirip, didalamnya, Su-35 yang baru mulai dibuat dari 2007 sebenarnya BERBEDA JAUH.

AL-41F1
(Gambar: Sina.com.cn)

Lebih lanjut, untuk mudahnya, lihat saja gambar mesin AL-41F1 seperti diatas. Mesin yang bisa melakukan Thrust-Vector Control itu bukan main jauh lebih rumit. Ada ratusan komponen, dan elektronik tambahan dalam AL-41F1 yang bahkan belum pernah dilihat tehnisi Indonesia. Banyak komponen untuk TVC ini, sering disebut membutuhkan banyak maintenance, dan kenyataannya….

….reliabilitasnya juga belum tentu terjamin. Selain daya dorongnya lebih besar, mesin AL-41F1 untuk Su-35 yang lebih complex mempunyai kemampuan 3-D Thrust-Vectoring, menghilangkan kebutuhan untuk membawa Canard, seperti di Su-30MKI/MKM/SM buatan Irkut. Singkat cerita, ini adalah mesin generasi baru yang belum diketahui seberapa reliabilitas-nya!

Sedangkan India sudah berkali-kali complain, kalau kualitas part untuk mesin AL-31FP, mesin generasi sebelumnya, dengan 2-D Thrust-Vectoring buatan NPO Saturn itu banyak yang tidak memenuhi syarat – terlalu cepat RUSAK. NPO Saturn bahkan terpaksa merevisi desain mereka sampai sembilan kali. Dan semua ini terjadi ke atas pesawat tempur yang sudah diproduksi lebih dari 200 unit untuk India, Algeria, Malaysia, dan Russia sendiri.

Su-35 baru diproduksi 48 pesawat, dengan tambahan 24 pesawat untuk PRC, dan 50 pesawat lagi untuk Russia. Apa yang akan rusak disana? Tentu saja belum ada orang yang tahu, karena tidak seperti India, baik Russia, ataupun China akan tutup mulut!

Semua ini artinya jelas: BIAYA OPERASIONAL Su-35 sih TERJAMIN MUAHAL!!

Kalau untuk Su-27SK/SKM, dan Su-30MK/MK2 saja, yang sudah diproduksi hampir 1000 unit, dan harga komponennya seharusnya sudah murah; Indonesia masih bisa mengeluh biaya operasionalnya Rp 400 juta; bukan tidak mungkin Su-35 yang jauh lebih complex biaya operasionalnya bisa menembus Rp 800 juta / jam.

Tambahan: Mengingat Indonesia juga berencana hanya bisa "menyicil" membeli hanya 10 Sukhoi, ini artinya kita juga akan mendapatkan angka biaya operasional yang non-ekonomis

Bukan mustahil kalau biaya operasional Su-35 Indonesia BISA menembus Rp 1 MILYAR per jam


PENUTUP

Untuk dapat ”menandingi” jam terbang pilot-pilot Australia, dan Singapore, Indonesia HARUS siap keluar uang Rp 1,5 triliun per tahun hanya untuk 10 pesawat. Itu juga belum tentu semua pesawatnya bisa siap terbang terus-menerus, seperti F-16, atau BAe Hawk.

Dengan jumlah investasi per tahun yang sama, Indonesia juga dapat mengoperasikan lebih dari 100 pesawat Gripen-E, yang Fully-Networked, dan didukung Erieye AEW&C, dan tentu saja, lebih memajukan, dan meningkatkan partisipasi Industri pertahanan lokal dengan lebih maksimal. Belum lagi, dengan biaya operasional murah, pilot, dan staff TNI-AU akan mendapat kesempatan untuk bisa rajin turut serta dalam latihan-latihan udara mancanegara Pitch Black, dan kemudian silahkan membuktikan kehebatan Gripen Indonesia ke negara-negara tetangga lain disana! 

Efek gentar mana yang lebih nyata?

Kenapa mau mengambil TARUHAN BESAR dengan nasib pertahanan Indonesia hanya untuk segelintir pesawat berbiaya operasional mahal, yang efek gentarnya belum tentu terjamin?
.
Tentu saja kerugian Indonesia, kalau membeli Su-35, belum berakhir disini saja.

Memangnya kalau Indonesia membeli Su-35, negara-negara tetangga lain akan menjadi lebih segan atau takut?

(Bersambung ke Bagian Ketiga)

12 comments:

  1. 1.PT Trimarga Rekatama itu di tunjuk Rosoboron sebagai "penerjemah", bukan sebaliknya sbg makelar untuk pemerintah RI.
    2.Sanggupkah pihak gripen memberikan kredit senilai US$3 bill,
    Karena pembiayaan pengganti F-5 adalah dari itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya tidak mau membahas terlalu dalam mengenai peranan PT Trimarga Rekatama. Yang jelas, PT tsb terlibat dalam penjualan "semua Sukhoi" di Indonesia, termasuk Sukhoi Superjet 100 (bukan hanya Sukhoi pespur).

      http://news.okezone.com/read/2012/05/24/435/635095/siapa-sebenarnya-pemilik-trimarga-rekatama

      Harian Republika bahkan menuliskan kira2 sama dengan apa yg sy sudah tuliskan diatas: "Negara akan rugi 20% kalau membeli Su-35!"

      http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/10/22/nwmatr354-beli-sukhoi-melalui-broker-negara-bisa-rugi-20-persen

      IMHO, kerugian Indonesia tentu saja akan jauh lebih besar dari hanya sekadar 20%, karena setiap penjualan spare part di masa depan, tetap saja akan dicantoli "Komisi".

      Seperti sy sudah tuliskan diatas, terlepas apapun hubungannya PT tsb, dengan Rosoboronexport - ini bukan masalah pelik; karena Rosoboronexport sendiri saja sebenarnya memang agen penjualan resmi untuk senjata Russia, yang menuntut komisi.

      Boleh dibilang prosedur memakai "perantara" atau "State intermediaries" yang berlapis2, dan masing2nya menuntut komisi, adalah prosedur standard dalam Russia sendiri.

      http://www.kommersant.com/p625463/r_1/Military_Spare_Parts_Abroad-Oriented/

      Pertanyaan kedua, sy jawab di bawah.

      Delete
    2. @bung Bang Kong,
      Sebenarnya hampir 90% penjualan senjata itu, hampir tidak ada yang membayar cash; tetapi selalu disertai fasilitas kredit, biasanya dijamin pemerintah, atau 1 - 2 bank dari negara penjual.

      Kalau mengenai Swedia, dan supplier SAAB -- tentu saja mereka dapat menyesuaikan menurut permintaan Indonesia.

      Bukankah mereka sebenarnya menawarkan paket lengkap, termasuk Erieye AEW&C, pembuatan RBS-15 anti-ship missile di Bandung, dan kerjasama jangka panjang secara industrial untuk membangun industri pertahanan Indonesia?

      Mana mungkin Indonesia bisa / dipaksa untuk bayar cash untuk level kerjasama yang ditawarkan Swedia?

      Baru-baru ini, pemerintah Swedia baru saja menandatangani perjanjian financing (kredit) dengan Brazil, untuk pembelian / pembuatan lokal 36 Gripen-NG, disertai ToT, dan kerjasama industri jangka panjang.

      Nilai pinjaman US$4,3 milyar (Nilai kontrak dengan SAAB sebenarnya ditandatangani dalam mata uang SEK), dengan bunga 2,19%.

      http://www.defensenews.com/story/defense/2015/10/24/sweden-brazil-pursue-deeper-cooperation-47b-gripen-ng-deal/74415116/

      Delete
    3. 1. "“Negara tidak akan rugi karena kami (pemerintah Republik Indonesia) beli harga pabrik, enggak ada lagi main-main. Presiden Joko Widodo bahkan juga menyetujui,” kata Menhan di Jakarta."

      https://www.intelijen.co.id/menhan-pembelian-armada-sukhoi-sudah-disetujui-jokowi/

      2.Kredit US$3bill itu selain untuk Sukhoi lengkap dengan senjata, juga, pesawat amphibi, Kilo?, Mi-17?.
      Seperti sudah diketahui secara umum bahwa produk barat mempersulit (politis) pembelian rudal BVR, tidak seperti produk Rusia, asal ada uang, jadi.

      Kedua, kredit tidak harus dibayar dengan uang, tapi bisa dengan hal lain, seperti hasil pertanian, proyek tambang, dll. Sedangkan fihak Rusia mempunyai berbagai proyek besar dan nilai perdagangan yang tinggi dibanding Swedia.

      Delete
    4. Kita tunggu saja beritanya, ya?

      Akhir2 ini sepertinya banyak pernyataan seperti membawa-bawa nama Presiden, walaupun sebenarnya beliau belum pernah membuat pernyataan resmi, atau mungkin sebenarnya mencatat percakapan apa antara Menteri atau pihak lain, dengan beliau, ternyata sudah dipelesetkan oleh yang membawa berita.

      Artikel contoh: "Papa minta saham"

      http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/11/151119_indonesia_luhut_freeport

      Lagipula, secara sejarah, nilai transaksi perdagangan antara Indonesia - Russia itu tidak pernah tinggi. Indonesia -- bukanlah partner perdagangan yang vital untuk Russia, dan dengan demikian juga sebaliknya.

      Kalau melihat dari polemik pengadaan helikopter VVIP, sy juga tidak yakin kalau Presiden Jokowi akan mengambil keputusan yang merugikan industri pertahanan dalam negeri:

      http://gripen-indonesia.blogspot.co.id/2015/12/analisis-polemik-pengadaan-helikopter.html

      Mnrt sy, masalah pengadaan pespur tambahan untuk Sku-15 ini bukan suatu pengeluaran yang harus menjadi prioritas UTAMA dalam keadaan ekonomi yg skrg.

      Lagipula, spt sudah pernah sy tulis -- sebenarnya sejak tahun 2012 saja, armada pespur supersonic TNI-AU sudah melompat dari 20 pesawat (10 Sukhoi, 10 F-16, F-5???), menjadi 66 pesawat (6 Sukhoi, 16 T-50i, dan 24 F-16 Block-52ID).

      Sekadar membeli pesawat, bukan berarti sudah mendadak MAHIR... memangnya ke-66 pesawat TNI-AU yang sekarang itu automatis statusnya sudah siap tempur?

      Dan walaupun sudah beli baru, ternyata banyak pesawat2 baru beli baru malah berjatuhan sendiri (T-50, & Super Tuscano), padahal keduanya juga sudah diakui di dunia internasional sebagai pesawat yang sangat "reliable".

      Dahulu sih bisa menyalahkan karena beli bekas (F-16 Block-52ID), atau barang sudah tua (KC-130B); tetapi jumlah kecelakaan TNI-AU sepanjang 2 tahun terakhir, seharusnya membuat kita bertanya:

      Apakah TNI-AU sebenarnya sudah siap secara organisasi, dan logistik untuk terus menambah jumlah?

      Kalau dengan jumlah yang ada saja, jumlah kecelakaan banyak, apalagi kalau terus ditambah?

      Ini akan sy bahas di artikel lain.

      Delete
    5. Oh, ya untuk senjata buatan Russia....

      R-77 (izdeliye 170) adalah versi resmi untuk dalam negeri Russia.

      RVV-AE (izdeliye 190) adalah versi R-77 untuk "export"

      Nah, kalau ada dua versi - lokal, dan untuk Export, kira-kira versi mana yang akan di-downgrade?

      Catatan: Lucunya, sebenarnya pespur2 Russia sendiri hampir tidak pernah terlihat membawa R-77, kecuali untuk static display di MAK Airshow.

      Sukhoi Su-27, Su-30SM sebaliknya justru hampir selalu terlihat membawa R-27 missile, yang pertama dibuat tahun 1980-an.

      http://sputniknews.com/military/20151019/1028776200/air-to-air-missiles-su-30-syria.html

      Kemungkinan ini juga mengisyaratkan kalau R-27 adalah senjata yang mereka nilai "lebih mature", atau lebih bisa dipercaya dibandingkan R-77.

      Delete
    6. yg penting gx ada kpentingan bukan karena iri,,mau beli su 35 atau yg lain toh klebihan fn kekurangannya masing masing produk yg ttp ada.

      Delete
    7. Betul.
      Tidak ada satupun produk yg sempurna.

      ini kan sama kalau kita sedang memilih untuk membeli mobil, atau Smartphone.

      Kita kan tidak mau membeli mobil kualitas Avanza, dengan biaya operasional Porsche Cayenne, dan harga beli Mercedes C200.

      Sayangnya, yah, Su-35 lebih banyak kerugiannya daripada keuntungan yg bisa didapat.
      misalnya:

      # Masih ingat efek gentar Su-35, karena bisa membawa 10 - 12 missile (seperti skenario manis karangan Ausairpower)??
      Kalau kita mau beli 10 Sukhoi, sebenarnya kita butuh paling sedikit 180 missile lebih dong!

      kalau duit sudah akan habis di biaya operasional (mengoperasikan 10 pesawat terjamin SUPER MAHAL), mana ada uang untuk beli missile?

      Mana versi yg tersedia untuk dijual, hanyalah versi export, baik dari segi pesawat, ataupun missile..
      oh, dan jangan lupa juga kalau Russia juga sama sekali tidak mempunyai pengalaman dalam BVR combat, jadi semua kemampuannya belum terbukti.

      Belum lagi menghitung kalau TNI-AU belum pernah "test drive" Su-35, atau pesawatnya saja belum pernah kemari.

      Dalam hal ini, baik F-16, atau Gripen sudah menjadi dua tawaran yang lebih menguntungkan.

      Diantara keduanya, tawaran dari Saab adalah yg paling menguntungkan dari segi tech transfer, paket lengkap, dan kerja sama jangka panjang secara industrial, yang juga menjanjikan banyak lapangan kerja lokal!

      Belum lagi membuka prospek keuntungan jangka panjang dalam membangun sistem network lokal yang terpadu udara-darat-laut, dan bisa didukung lewat satelit untuk memastikan pengawasan tiap jengkal wilayah udara Indonesia!


      Delete
  2. Replies
    1. =========================
      Amerika ketakutan RI punya Su-35
      =========================
      NKRI harga mati! Harus beli Su-35!
      =========================

      Terima kasih,
      anda telah menuliskan salah satu pernyataan miskonsepsi yang terlalu sering mewarnai semua formil Indonesia.

      Anda harus tahu terlebih dahulu akan salah satu prinsip yang paling sederhana, dalam memilih pesawat tempur untuk setiap negara:
      Hanya semata BISA membeli pesawat tempur, bukan berarti pilot Indonesia automatis bisa menguasai pesawat tempur tersebut tanpa adanya investasi di jam latihan.

      Kalimat ini saja sudah menyimpulkan dengan sederhana, kenapa Sukhoi, variant manapun, sebenarnya tidak pernah sesuai dengan realita kebutuhan Indonesia.

      ## Kalau biaya operasional Sukhoi di SKu-11 saja mencapai Rp 500 juta per jam, semua orang awam dapat mengambil kesimpulan mudah:
      "Wah, kalau begitu jam terbang pilotnya akan kurang, dong?"

      Pesawat tempur yang pilotnya kurang latihan, hanya akan menjadi pilot newbie, mustahil untuk dapat mengimbangi pilot US, Australia, dan Singapore, yang mengumpulkan 150 - 200 jam terbang latihan per tahun, sudah jauh lebih berpengalaman, dan berpengalaman tinggi.

      Tidak ada negara yang takut kalau Indonesia membeli Su-35 kok, bahkan, sebenarnya kita hanya akan menjadi bahan tertawaan semua negara lain -- mengoperasikan pesawat tempur yang biaya operasionalnya lebih mahal daripada F-22, dan akan kurang latihan!

      Lagipula Su-35, yang tersedia untuk di-export Ruski, akan menjadi versi..... Kommercheskiy, alias versi export, yang sudah di-downgrade.

      Bagaimana caranya pesawat versi-export downgrade dapat menjunjung kedaulatan NKRI?
      Sepertinya anda melihat di tempat yang salah!

      Secara tehnologi, bahkan versi non-Kommercheskiy, atau Su-35S original untuk AU Russia sendiri, sebenarnya sudah ketinggalan jaman 30 tahun.

      Untuk lebih jelasnya, silahkan mengikuti ulasan di blog ini:
      Kenapa Su-35 Super F-Lemon hanya akan menjadi pesawat tempur yang paling inferior di seluruh Asia Tenggara

      http://gripen-indonesia.blogspot.co.id/search/label/Su-35

      Untuk lebih spesifik silahkan membaca semua kemampuan Su-35 disini:

      Kenapa memilih Su-35 adalah kesalahan terbesar!

      Pesawat tempur inferior Su-35, bahkan tidak akan dapat menandingi F-18F Superhornet Australia:
      F-18F SuperHornet Australia vs Su-35 versi Export

      Tentu saja, Saab Gripen, adalah pesawat tempur yang jauh lebih superior dalam segala hal dibanding dinosaurus ex-perang dingin, yang sudah kadaluarsa ini:
      Saab Gripen-E Indonesia vs Su-35 versi Export

      Saatnya kita menjadi lebih dewasa, dan mendukung pilihan pesawat tempur yang sesuai kebutuhan, dan bukan menurut keinginan

      Delete
  3. Embargo tololl..Sangattt...sensitiff...australia ASU sama saja

    ReplyDelete
  4. Ri harus tau harga dan spesifik pesawat dari as ataupun rusia, dan mana yg paling sesuai setelah it baru beli pesawat, inggat it uang rakyat

    ReplyDelete