Tuesday, March 1, 2016

Jangan meremehkan kebutuhan pesawat AEW&C di Indonesia!

Saat ini "TIDAK ADA AKAR, ROTAN PUN JADI!"

Kebutuhan pesawat AEW&C sebenarnya lebih penting dibanding tambahan pesawat tempur!

Boeing 737 2x9, produksi 1982,
Fungsi utamanya untuk MARITIME PATROL

tapi tetap dipaksa untuk menjadi "AEW&C" di saat penting!
(Gambar: Andrei Mihaila, Airliners.Net)

Menurut penulis, kebutuhan pesawat AEW&C (Airborne Early Warning & Control) untuk membantu pengawasan wilayah udara Indonesia yang sedemikian luas, sebenarnya JAUH LEBIH PENTING dibandingkan kebutuhan: "Pengganti F-5E" di Skuadron-15 yang jauh lebih marak, dan lebih seru untuk diskusi.

Alasannya sederhana saja. Penambahan ke-24 F-16 Block-52ID hibah sebenarnya memberikan kesempatan untuk membentuk Skuadron-16 di Pekan Baru. Hal ini secara tidak langsung juga sudah memenuhi kebutuhan penambahan Skuadron / pesawat tempur Indonesia. Kalau melirik ke Madiun, pesawat LIFT T-50 yang baru saja "menghidupkan kembali" Skuadron-12, yang sebelumnya sudah sekarat, boleh dibilang juga sudah turut menggantikan F-5E di Skuadron-14. Ini tidak mengherankan, mengingat Lockheed-Martin sebenarnya mendesain pesawat ini khusus untuk pengganti pesawat latih T-38 (derivatif Northrop F-5) yang berkemampuan supersonic.

Sedangkan pesawat AEW&C? Kebutuhan ini sebenarnya sudah menjerit-jerit sejak bertahun-tahun yang lampau!

Pada Februari-2009 saja, pernah terjadi kasus dimana dua Su-30MK2 Indonesia tiba-tiba melaporkan kalau keduanya tiba-tiba sudah di-lock oleh mungkin "pesawat lawan". Lantas pesawat mana yang dikirim TNI-AU untuk membantu menyelidiki apa yang terjadi?

Ternyata tidak lain dari.... Boeing 737 2x9 Surveiller! 

Sampai sekarang, sebenarnya apa yang terjadi dalam kejadian Februari-2009 ini? Tidak pernah ada jawaban yang pasti? Tapi kesimpulan yang dapat diambil dari kejadian ini cukup jelas:

COVERAGE RADAR di wilayah Indonesia masih KURANG, dan...

Boeing 737 2x9 juga sebenarnya bukanlah pesawat AEW&C yang memadai!

Pertama-tama, saatnya meluruskan beberapa fakta tentang Boeing 737 2x9 ini terlebih dahulu. Dari segi platform, ini adalah pesawat dari Generasi pertama Boeing 737 yang bahkan masih memakai mesin Pratt & Whitney JT8D yang pertama mengudara di tahun 1963. Radar yang dibawa 737 2x9 ini adalah Motorola AN/APS-135 SLAMMR, radar khusus untuk surveillance maritim untuk dapat melihat kapal dari jarak 185 kilometer, bukan Aerial surveillance radar. Yang lebih parah lagi, sebenarnya AN/APS-135 ini sebenarnya hanyalah improved model, dari improved model radar AN/APS-85 yang sebenarnya sudah mulai dioperasikan di pesawat Beechcraft L-23 sejak tahun 1958.


"Saya dari dulu juga sudah membawa AN/APS-85 kok!"
Beechcraft L-23 dalam Perang Vietnam
(Gambar: Wikipedia)

Walaupun dengan kemampuan radar yang sedemikian terbatas, tidak bisa disangkali, kalau TNI-AU kerap kali sudah menggunakan B737 2x9 ini, seperti menggunakan pesawat AEW&C.

Bahkan dalam latihan Perkasa D-14 yang sudah diliput SindoNews tahun 2014 yang lalu, TNI-AU juga kembali "terpaksa" menggunakan B737 2x9 sebagai pesawat AEW&C, untuk membantu Sukhoi "menangkap" T-50. Tentu saja, hasilnya tidak memuaskan. Kedua-dua platform sama-sama TIDAK MEMPUNYAI Situational awareness control yang memadai, dan tentu saja juga TIDAK ADA datalink untuk komunikasi pembagian target.

Tidak, sebenarnya Indonesia tidak membutuhkan tambahan pesawat tempur lagi dalam jangka pendek


Dalam semua pembahasan militer, kerap kali semua komentator ramai, dan bersemangat untuk membicarakan "KF-X", atau "pengganti F-5E". Kenyataannya, Indonesia sebenarnya tidak lagi butuh lebih banyak pesawat tempur, tetapi justru HARUS BELAJAR BAGAIMANA CARANYA MENGGUNAKAN JUMLAH YANG ADA AGAR JAUH LEBIH EFEKTIF!

Seandaikata, Indonesia bisa ketiban rejeki, dan mengoperasikan 200+ pesawat tempur, tetapi tidak disertai kemajuan dalam pengawasan wilayah udara, boleh dibilang TIDAK AKAN ADA perbedaan yang berarti. Pesawat baling-baling bambu buatan Beechcraft yang terbang dengan kecepatan 300 kph dari Australia, tetap saja bisa menyusup ribuan kilometer, sebelum akhirnya tertangkap di dekat Manado.

Inilah kenapa kebutuhan pesawat AEW&C sebenarnya lebih nyata, dan lebih penting dibandingkan pesawat tempur manapun, dan seharusnya justru dijadikan salah satu titik fokus utama untuk Modernisasi Militer Indonesia. 

Yang sangat menyedihkan, Renstra II TNI-AU 2015-2019, seperti dituliskan dalam AntaraNews masih tetap lebih terpaku kepada mantera kuno "pesawat tempur lebih penting". Point pertama yang dituliskan lagi-lagi adalah untuk pengganti F-5E. 

Err.... kita sebenarnya sudah kedatangan 40 pesawat tempur baru kok sejak 2012, kenapa TNI-AU masih memerlukan tambahan lagi secepat mungkin? 

Apakah Indonesia sudah bisa menguasai 100% penggunaan F-16 Block-52ID, yang saat ini saja boleh dibilang lebih modern dari semua tipe lain? 

Katanya mau membeli AIM-9X Block II? Missile-nya saja belum diantar, apalagi diuji coba di atas F-16.

Apakah Indonesia sudah benar-benar menguasai sistem perlatihan dengan menggunakan T-50, yang walaupun sudah 100% baru saja, ternyata masih bisa jatuh di Yogjakarta

Dalam keadaan demikian, apakah Indonesia sebenarnya siap untuk menambah pesawat tempur baru?

Nah, lantas pesawat AEW&C yang mana?



AEW&C: Pesawat yang jauh lebih dibutuhkan Indonesia!
(Gambar: SAAB Press Release, Singapore Air Show 2016)
Semua orang mau menjual pesawat tempur (dan menginginkan Indonesia menjadi langganan setianya!!), tetapi kenyataannya, TIDAK ADA SATUPUN PEMBUAT AEW&C yang mau menawarkan produknya ke Indonesia, kecuali SAAB.


Sebagaimana sudah disampaikan langsung oleh duta besar Swedia untuk Indonesia, Johanna Brismar Skoog, SAAB sudah menawarkan "paket lengkap" termasuk pesawat yang membawa radar Erieye, ground-based Command & Control centre, dan National Datalink system untuk memajukan integrasi Alutsista Indonesia, baik darat, laut, maupun udara.

Radar Erieye dengan kemampuan jarak jangkaunya sebenarnya hanya dibatasi oleh batas cakrawala, adalah PROVEN CONCEPT yang sudah dioperasikan Swedia, UAE, Pakistan, Thailand, Brazil, dan Yunani.

Pada 9-November-2015 yang lalu, UAE baru saja menandatangani kontrak senilai $1,27 milyar untuk pembelian Globaleye dari SAAB, berbasiskan Bombardier Global 9000, dan radar Erieye Generasi kedua. Ini adalah sistem AEW&C pertama yang mengombinasikan kemampuan maritime- dan Air-surveillance dalam satu system. Perbedaan lain dengan apa yang ditawarkan dalam paket Erieye lain, adalah platform Bombardier Global 9000, yang memberikan kemampuan mengudara pada ketinggian Sembilan kilometer dari atas permukaan laut, selama sebelas jam.

Sebenarnya kontrak AEW&C ini sendiri sudah diperebutkan sejak tahun 2011. SAAB dengan demikian berhasil menyalip Boeing Wedgetail (yang dioperasikan Australia, Turki, dan KorSel), dan Northrop-Grumman Hawkeye (US Navy, dan Jepang) dalam transaksi ini. Kunci keunggulan SAAB yang memenangkan kompetisi ini, dibanding kedua pilihan Amerika ini jelas:

Sumber: AINonline

"Erieye solution akan dibuat menurut KEBUTUHAN PEMBELI", bukan untuk kebutuhan Superpower seperti Amerika Serikat, kemudian negara pembeli harus dipaksa menyesuaikan sistem nasionalnya menurut model si penjual.

Disinilah keunggulan paket AEW&C Erieye SAAB dibandingkan semua pilihan lain. Kembali, kecuali Erieye, Indonesia sebenarnya tidak pernah mempunyai pilihan lain!

SAAB Indonesia bahkan sudah menyatakan dengan terus-terang, kalau mereka siap membantu untuk pembangunan sistem datalink Indonesia, menurut spesifikasi yang dibutuhkan Indonesia!

Versi GlobalEye, seperti yang sudah dibeli UAE memang mungkin akan terlalu mahal, dan juga terlalu berlebihan untuk kebutuhan Indonesia, tapi patut diketahui, kalau penawaran Erieye ini dapat dibeli dalam bentuk "paket hemat" seperti yang sudah diambil Thailand. Langkah yang paling penting disini adalah MEMENUHI KEBUTUHAN.

KEMAMPUAN mengontrol territorial Udara
Bukan berarti hanya bisa diisi dengan menambah JUMLAH pesawat tempur 
(Gambar: SAAB Press Release, Singapore Air Show 2016)

Memangnya ada pilihan lain?


Lupakan saja mau membeli AEW&C kalau buatan Russia, ataupun China! Kedua sistem ini selain tidak pernah ditawarkan, kemampuannya sama sekali unproven, dan mencoba mengintegrasikan "sistem kelas tiga" semacam ini ke Indonesia, hanya akan menjadi FINANCIAL, LOGISTICAL, & TECHNICAL NIGHTMARE. 

Sedangkan pemerintah US? Jangan bermimpi kalau mereka akan menawarkan pesawat seperti Wedgetail, atau E-2 Hawkeye ke Indonesia!

Posisi politik luar negeri Indonesia memang tidak pernah terlalu condong ke Barat, ataupun ke Timur. Kenyataannya memang baik US, ataupun Russia, tidak pernah menganggap Indonesia sebagai negara sekutu yang dapat "dimanjakan" dari segi militer. 

Inilah kenapa Indonesia seharusnya justru bermain lebih pintar, dan MENGAMBIL PILIHAN dari pihak KETIGA, yang tentu saja sudah terbukti PROVEN CONCEPT

Pilihan mana yang paling menguntungkan untuk kebutuhan modernisasi pertahanan Indonesia? 

Pilihan mana yang juga paling memajukan untuk industri pertahanan Indonesia?

Pilihan mana yang paling menyokong "Transfer-of-technology"?

Pilihan mana yang paling menjamin kemandirian sistem pertahanan Indonesia?


PENUTUP


Kebutuhan Indonesia untuk sistem AEW&C pada akhirnya akan jauh lebih penting dibanding pembelian pesawat tempur manapun. 


Masalahnya, kalaupun Indonesia membeli Erieye AEW&C, kemungkinannya terlalu kecil kalau sistem ini akan compatible ke armada pesawat tempur gado-gado yang sekarang, terutama Sukhoi (jenis apapun). F-16 mungkin masih bisa nego, tapi ini bisa dibahas lebih lanjut di lain hari.

Loh, kenapa tidak bisa compatible khusus ke Sukhoi? Bukankah SAAB berjanji akan menyesuaikan sistem Erieye menurut kebutuhan negara pembeli?

Yah, masalahnya kembali mengacu ke Source Code. Pesawat tempur buatan Sukhoi memangnya memakai programming code apa? Targeting system, fly-by-wire, dan akhirnya juga data-link (kalau Indonesia tidak mendapat versi Monkey Model), kemungkinan besar tidak akan compatible ke sistem source code untuk Erieye.

Pertanyaan Akhir: 

Angkatan Udara Indonesia (TNI-AU), yang sudah bermodal kecil, sampai kapan mau mengoperasikan armada udara yang gado-gado, seperti sekarang? 

F-16 untuk selamanya tidak akan compatible dengan Sukhoi; sedangkan Sukhoi sejauh ini seperti terbang membabi-buta, mencoba menangkap T-50, atau pesawat capung saja kesusahan!

Saat ini, dengan SUKHOI Indonesia sebenarnya membayar biaya operasional SEBANDING DENGAN F-22 untuk pesawat tempur bertehnologi tahun 1980-an saja!

Dan Su-35 - biaya operasionalnya, bukan tidak mungkin BISA 2x LEBIH MAHAL LAGI! Semua orang selalu mungkir kan, kalau ditanya biaya operasionalnya akan berapa?

Sudah saatnya memikirkan perencanaan jangka panjang yang lebih jelas!

6 comments:

  1. Ahaha ketemu lg dgn oom GI...

    Oom mo tanya, dulu pernah cerita konfigurasi erieye bisa menyesuaikan budget. Dg budget terbatas konsumen bisa pesan versi ekonomis dg 2/3 console (spt rtaf)...sdg operator "pengendali pertempuran" bisa dioperasikan dari darat (via datalink).

    Nah yang bikin penasaran brp jangkauan datalink tsb,,,indonesia kan negara yang luas??? (jika tni au membeli versi erieye yang sama dg rtaf)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf belum reply krn kesibukan pribadi.

      Jawabannya: Jarak jangkau maksimum datalink re Erieye buatan Swedia akan terbatas "kira-kira" 500 km.

      Kenapa "kira-kira" disini? Karena jarak jangkau datalink itu hakekatnya seperti "broadcast range" dari suatu station TV, atau radio. Tentu saja jarak jangkaunya dapat diperluas, TERGANTUNG dari banyaknya, dan tersebarnya relay station.

      Untuk Relay station sendiri -- bisa jadi FIXED relay station di darat (untuk daerah terpencil), atau bisa juga SEMUA Alutsista darat, laut, dan udara, yang kesemuanya terhubung dalam SATU NETWORK.

      Kalau sy tulis ttg National Data Network, ini artinya adalah 100% terkoneksi dari antara Sabang - Merauke.

      Pesawat pembawa Erieye boleh saja terbang di atas kepulauan Natuna, di laut Arafura, atau di laut Sulawesi, dimanapun juga di pelosok Indonesia tidak akan masalah. Tetap saja semua pimpinan militer, atau bahkan Presiden sendiri akan dapat melihat apa yang dilihat Erieye dari Jakarta.

      Skenario ideal ini tidak mudah. Butuh investasi waktu, komitmen, dan kerja-keras selama bertahun-tahun. Kalau sudah jalan; baru namanya bisa "menandingi negara tetangga", atau "disegani di kawasan".

      Inilah yang seharusnya menjadi salah satu tujuan Modernisasi Alutsista Indonesia, bukan hanya sekadar "asal beli", dan "mementingkan kuantitas diatas kualitas".

      Delete
  2. Oom, kapan-kapan dikasi contoh progress pengintegrasian national-datalink kedalam 3 angkatan dan instansi terkait dinegara tetangga(australia, india, singapura&thailand),,,seberapa kompleks&intensif, serta tantangan yang dihadapi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siip, bung hari :)

      Subyek ini akan menjadi bagian dari artikel ttg Networking kelak.

      Delete
  3. bung GI, bagaimana caranya T-50i bisa gantiin F-5 padahal radar pun gak punya? terus apakah T-50i bisa dipasangin AIM-9 atau AGM-65?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## T-50i, sekali lagi hanyalah model Export downgrade.
      =================
      Pada awalnya TNI-AU menginginkan versi TA-50, yang bisa membawa AIM-9, dan AGM-65, sayangnya Washington DC yang berhak menentukan spesifikasi yang diperbolehkan.

      T-50i tidak boleh membawa radar, dan.... hanya 4 unit terakhir yg sebenarnya versi TA-50; bisa dilihat di TT-5013, 5014, 5015, dan 5016 yg terlihat mempunyai internal A-20 3-barrel 20mm cannon, di sisi kiri cockpit.

      TA-50 seharusnya bisa mengoperasikan AIM-9, dan AGM-65, akan tetapi mengingat US mendikte spesifikasi.....

      ## Kenapa T-50 sudah bisa menggantikan F-5E?
      =================
      Karena toh, penggunaan F-5E TNI-AU sebenarnya tidak pernah optimal, dan paket upgrade-nya tidak pernah bisa mendekati spesifikasi seperti F-5S Singapore, atau F-5EM Brazil.

      F-5E adalah pesawat tempur jarak pendek, dengan radar tipe AN/APQ-153, yang sangat sederhana, dan kemampuannya terbatas. Lingkup kegunaannya di Indonesia seumur hidupnya sangat terbatas.

      T-50i, sejauh ini sudah terbukti cukup fleksibel sebagai pesawat agressor yg dapat mengalahkan Sukhoi Kommercheskiy dalam latihan Perkasa D-14, ataupun dapat dipindah-pindahkan untuk menjaga Natuna.
      Lebih penting lagi, biaya operasionalnya murah.

      Singapore, dan Brazil mengintegrasikan F-5 mereka ke dalam satu network, memasang Helmet-Mounted Display, dan Grifo-F radar untuk menambah kemampuan BVR; kemudian juga mengintegrasikan Phyton, dan Derby missile. Versi Brazil bisa mengisi bahan bakar di udara.

      Yah, F-5E kedua negara ini saja mempunyai kemampuan untuk membantai Su-35K, atau Su-30SME.

      Delete