Wednesday, March 9, 2016

Identification Friend-or-Foe (IFF) --- Fundamental Requirement for BVR Combat (II)

.....dan parahnya, sistem ini TIDAK DIMILIKI INDONESIA, akibat terlalu tergantung dengan US, dan Russia; yang sebenarnya "setali tiga uang"...

F-16D Block-52+ Singapore (RSAF) di tahun 2008 (Gambar: WIkimedia):
Perhatikan 
empat tonjolan di moncong pesawat (Lingkaran Merah)!
APX-113 IFF system, untuk membedakan pesawat kawan maupun lawan di udara!
SATUPUN TIDAK DIMILIKI F-16 ataupun Sukhoi Indonesia!

Post kali ini membahas satu lagi perlengkapan yang bahkan sampai sejauh ini TIDAK DIMILIKI (atau bahkan pernah dibahas) dalam modernisasi TNI-AU: Identification Friend-or-Foe System.

Kenapa sistem ini seharusnya menjadi standard di setiap pesawat tempur Indonesia?
Gambar: Cracked.com
Lihat TITIK yang ditunjuk panah merah di HUD pesawat tempur modern dalam gambar di atas? Itu adalah pesawat tempur lain. Bagaimana caranya membedakan kalau TITIK itu adalah kawan, atau lawan, dalam situasi konflik?

Waktu reaksi pilot hanya sepersekian detik untuk menentukan dia harus menembak, atau tidak!

Dan contoh di atas masih dalam jarak pandangan mata pilot (Within Visual Range / WVR), mungkin dalam jarak kurang dari 20 kilometer. Bagaimana kalau pilot melihat TITIK di radar, apalagi dalam BVR combat???


F-16 Block-52ID alias Block-25+: Tidak dipasangi IFF seperti versi Singapore
(Gambar: Indonesian defense blogspot)

Why IFF System?

Mudah saja. Dalam situasi konflik antar dua belah pihak yang berlawanan, masing-masing pihak HARUS mengetahui benar posisi, dan arah pesawat kawan, dan dapat membedakannya dengan bogey, atau pesawat lawan.

Interception di saat konflik, tidak seperti menghadang SATU pesawat sipil baling-baling bambu, yang tidak bisa terbang cepat, atau berusaha menembak balik. Pihak lawan akan mengudarakan sekurangnya empat, sampai delapan pesawat, sedangkan pihak Indonesia mungkin harus mengirimkan beberapa pesawat tempur sekaligus, bahkan kalau perlu dari dua skuadron yang berbeda (Pekan Baru adalah pangkalan untuk 2 Skuadron, sedangkan Madiun mempunyai 3 Skuadron).

Lupakan saja pernak-pernik BVR Combat, kalau hanya membaca dari website seperti Ausairpower, yang penuh technical arguments yang tidak relevan, karena sebenarnya tidak pernah membahas Basics of Fundamental strategy!

Setelah terjadi merge di antara formasi pesawat dari kedua pihak, TIDAK SEGAMPANG itu membedakan kawan, dan lawan. Masing-masing formasi dari keduanya akan berubah dalam sepersekian detik. Yang tadinya berpasangan, masing-masing bisa break formation, dan menyerang dari dua arah yang berbeda. Pesawat kawan bisa saja tanpa sengaja menaruh dirinya di garis tembakan pesawat-pesawat yang lain!

Inilah kenapa masalah pertama dalam pertempuran udara dewasa ini, apalagi kalau menembak lawan dari jarak lebih jauh dari pandangan mata (Beyond Visual Range - BVR combat), pertama-tama masing-masing pihak sebenarnya harus terlebih dahulu bisa membedakan, mana yang kawan, dan mana yang lawan.

Secara basic, IFF System sebenarnya masih satu keluarga dengan Transponder pesawat sipil, untuk mengenali / memberi tahu posisi pesawat. Tetapi berbeda dengan sistem sipil, IFF untuk pesawat militer menggunakan encrypted signal untuk menginterogasi target secara rahasia, dan melihat apakah target itu adalah kawan, atau lawan?

(Dean-boys.com)


Kenapa dengan sistem sekarang, Indonesia SUDAH PASTI tidak akan punya banyak harapan?


Jawabannya mudah saja: Armada gado-gado (F-16 v Sukhoi Su-27/30 v mungkin Su-35), dan sejauh ini, tidak ada satupun yang membawa IFF system modern.

Baik US, ataupun Russia sebenarnya sama-sama sudah menjual Monkey model versi downgrade untuk Indonesia. Dan tidak tertutup kemungkinan, hal yang sama mungkin akan terulang lagi, kalau Indonesia memilih F-16V dari Lockheed-Martin, atau Su-35, dari Rosoboronexport.

Untuk F-16 Block-52ID (sebenarnya Block-25+), ini mungkin masih dapat dimaklumi, karena prioritas utama pembelian ini adalah untuk menekan biaya, dan mendapatkan hibah 24 pesawat, dengan harga kurang dari US$750 juta. 

Alhasil, menurut dokumen DSCA 17-November-2011 dari pemerintah US, F-16 Block-52ID hanya mendapat daftar perlengkapan sebagai berikut::

  • AN/APG-68 radar - jauh lebih modern daripada AN/APG-66 di F-16A/B Block-15OCU, tetapi versinya sengaja tidak disebut. Artinya mudah - kita mendapatkan radar tahun 1980-an, yang sudah dipugar, bukan AN/APG-68v9 yang lebih reliable, dan kemampuan jarak jangkau untuk deteksi, tracking, dan resolutionnya 50% lebih baik dibanding original version.
  • Mesin P&W F100-PW-200, versi yang sama persis dengan Block-15OCU, tetapi tanpa digital control seperti dalam versi -229.
  • ALR-69 RWR, ALQ-213 ECM, dan ALE-47 Countermeasure system semuanya adalah sistem dari generasi sebelumnya, yang sudah tidak pernah dipilih oleh pembeli F-16 Block-50+/52+ yang lain. Pakistan, misalnya, mendapat ALQ-211(V)9 Advanced Integrated Defensive Electronic Warfare Suites (AIDEWS). Ini adalah versi modern yang mengkombinasikan tiga subsystem kuno yang didapat Indonesia.
  • LAU-129A/A launchers - salah satu titik terang dalam daftar ini. Pemerintah US sebenarnya memberi signal kalau Indonesia akan diperbolehkan membeli AMRAAM, walaupun dengan radar APG-68 standard, F-16 Indonesia tidak akan dapat menembak AMRAAM dari jarak yang sejauh F-16 Singapore.
  • Modular Mission Computer dalam F-16 Indonesia juga salah satu titik terang lain, karena memenuhi standard Block-52+ modern.
  • EPLRS, dan LITENING / SNIPER pod juga boleh dibilang cukup standard.
  • ARC-164/185 -- ini hanya radio basic.

Perhatikan juga, kalau daftar pemerintah US tidak memasukkan MIDS-LVT terminal, untuk Link-16 Network, atau paling tidak sekurang-kurangnya APX-111 untuk IFF system!

Sebaliknya, jangan berpikir kalau begitu Russia lebih baik!

Sebenarnya malah lebih parah lagi, karena transaksi dari Russia via Rosoboronexport TIDAK AKAN TRANSPARAN

Kita justru beruntung karena pemerintah US justru sengaja mengumumkan secara terang-terangan, perlengkapan apa saja yang kita dapat dari "F-16 Block-52ID". Ini dikarenakan transaksinya lewat program FMS -- Government-to-Government deal, berarti tidak ada perantara, dan tidak perlu membayar komisi atau mungkin suap!

Saat ini, masalah pertahanan udara Indonesia cukup jelas:

Bagaimana caranya membedakan F-16, dan Sukhoi gado-gado Indonesia, dari pesawat lawan? Kemungkinannya cukup besar kalau keduanya akan saling tembak sendiri terlebih dahulu!


Seandaikata dalam dunia ideal, baik Sukhoi ataupun F-16 diperlengkapi dengan IFF system, tetap saja tidak akan ada perubahaan yang berarti!

Kenapa demikian? 

Tujuan utama IFF system adalah mengurangi kemungkinan terjadinya Fracticide - kawan menembak kawan lain. Bahkan untuk USAF, yang jauh lebih berpengalaman, dan perlengkapannya jauh lebih modern, masih saja tidak kebal dengan masalah "menembak kawan" ini, walaupun semua Alutsista mereka seharusnya memakai sistem IFF yang compatible satu sama lain.


Contoh menembak kawan sendiri: 1994 Blackhawk shotdown incident
Untuk Indonesia, bisa saja gambar diatas untuk puing-puing F-16 / Sukhoi
yang sudah tertembak kawan sendiri!

Gambar: Wikimedia

Di tahun 1994, F-15E USAF tanpa sengaja sudah berhasil menembak jatuh UH-60 Blackhawk US Army, walaupun sudah dipandu dengan pesawat E-3 Sentry AWACS. Terjadi mis-identification disini; baik crew F-15E, ataupun E-3 Sentry, mengira target-nya adalah Mi-24 Hind Iraq, hanya karena IFF system pada Blackhawk ternyata didapati tidak berfungsi dengan baik.

Untuk Indonesia, masalahnya tentu saja akan jauh lebih pelik lagi, karena kita akan dipaksa untuk menggunakan dua sistem IFF yang berbeda, dan TIDAK COMPATIBLE! Boleh dibilang secara standard IFF F-16 akan melihat Sukhoi sebagai lawan, dan demikian juga sebaliknya.

Akan dibutuhkan lebih banyak uang lagi untuk memprogram ulang kedua sistem IFF ini, agar sesuai dengan apa yang dibutuhkan Indonesia. Tetapi yah, kemungkinan besar, hasilnya juga tidak akan memuaskan.

Penutup

Dalam skenario konflik seperti yang digambarkan sebelumnya, baik dengan, atau tanpa IFF, kemungkinannya terlalu besar kalau SUKHOI dan F-16 akan SALING TEMBAK terlebih dahulu (!!), daripada dapat menembak jatuh lawan!


Kalau Indonesia memilih Sukhoi Su-35, fundamental ini tidak akan berubah! Bahkan tidak tertutup kemungkinan kalau Su-35, bahkan bisa !!menembak jatuh Su-27/30 dari Skuadron-11!!

Inilah lagi salah satu alasan kenapa armada gado-gado seperti yang sekarang ini tidak layak untuk terus dipertahankan dalam jangka panjang!

.... dan tentu saja ini BUKAN "rocket science". Setiap negara tetangga, yang katanya "mau ditandingi" tentu saja juga sudah melihat kelemahan ini.


Lebih lanjut, IFF sebenarnya hanya salah satu komponen dari tiga faktor peningkatan SITUATIONAL AWARENESS dalam pertempuran udara di Abad ke-21 yang terdiri dari sistem berikut:
  1. AESA radar
  2. Networking
  3. IFF System (Inilah topik utama dalam post ini!
Saat ini Indonesia tidak mempunyai satupun dari tiga hal di atas, dan yang lebih lucu lagi, sepertinya tidak pernah dituliskan requirement kalau pesawat pengganti F-5E, harus memenuhi tiga persyaratan tehnis di atas!

Blog ini akan membahas AESA radar, dan Networking System sebagai dua post yang terpisah, dalam komponen BVR Combat Abad ke-21.

Sekian dulu.

11 comments:

  1. Ada jaminan nggak andaikata mengakuisi gripen tidak bakal menembak armada yang sudah punya, seperti Flangker, F-16, T-50?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Artikel ini sebenarnya menggarisbawahi kelemahan sistem pertahanan udara Indonesia saat ini -- tidak ada IFF, dan kalaupun ada akan mubazir, karena armada kita gado-gado.

      Untuk menjawab pertanyaan anda -- SAAB Gripen tentu saja membawa IFF system yang built-in standard. Dalam versi -NG; AESA radar, IRST (Infra-Red Search-and-Tracking), dan IFF akan terintegrasi dalam satu SENSOR FUSION --- tidak kalah kok dari F-35.

      http://aviationweek.com/awin/gripen-sensors-claim-counter-stealth-performance

      Mengenai bagaimana paket SAAB, dan pembelian Gripen akan dapat "mengatasi" banyak kelemahan Indonesia yang sekarang, akan dikupas perlahan-lahan, dalam artikel2 mendatang di blog ini.

      Delete
    2. Dalam beberapa minggu kedepan (mungkin seminggu sekali), akan dimuat artikel tentang AESA radar (dan IRST), Networking, dan Tehnologi Missile modern.

      Semuanya ini akhirnya akan menuju RONDE FINAL -- yakni perbandingan kemampuan tempur SAAB Gripen-NG (versi Abad ke-21 dari Gripen) vs pilihan pespur lain.

      Dan tentu saja, akhirnya akan memulai versus battle antar beberapa model pespur di kawasan Asia Tenggara.

      Babak pertama dalam ronde FIGHTER VERSUS ini akan diikuti oleh SAAB Gripen-NG Indonesia vs Sukhoi Su-35 PLA-AF China.

      Delete
    3. 1. Ada tidaknya IFF tidak akan menjamin tidak adanya kesalahan.
      "identify-friend-or-foe (IFF) technology — systems that enable forces to identify friendly platforms among potential targets — has not been reliable enough to allow our pilots to fire at blips on their radar screen without fear of committing fratricide. In other words, no matter how good our BVR technology, pilots still needed to get within visual distance before taking a shot. Progress has been made in IFF technology, in part because of better capabilities on our support aircraft, but it remains a problem.

      Read more at: http://www.nationalreview.com/article/418430/sixty-years-american-air-power-dominance-are-threatened-bad-strategy-mike-fredenburg

      Su-30 SM aja sudah ada IFF, masak generasi setelahnya nggak ada sih...

      2. Maka dari itu, pemerintah memilih generasi yang lebih maju dari jenis2 pesawat daripada menambah jenis baru yg belum pernah dipunyai.
      Kecuali jika nanti dibentuk armada kelas baru untuk menjaga jika IFX gagal atau terlambat masuk layanan penuh.

      Delete
    4. 1. Pernyataan anda benar... IFF tidak akan menjamin BVR combat akan 100% efektif.

      Tantangan terbesar BVR combat adalah dapat "mengenali dahulu apakah itu lawan? Sebelum pilot akhirnya bisa mengambil keputusan menembak!"

      Hanya US yang sangat "cinta mati" dengan konsep BVR, sampai membuat pesawat yang spesialis untuk BVR, dan kemampuan tempur jarak dekatnya sangat kurang (F-35). Ini contoh menaruh semua telur dalam satu keranjang!

      Sebaliknya Eurocanards; ketiganya sudah di-desain dari awal untuk dapat menandingi / mengalahkan F-16 / MiG-29 (yang kemampuan manuevernya dinilai lebih handal dibanding Sukhoi) dalam pertempuran jarak dekat (WVR). Sebaliknya dalam BVR, mereka AKAN dipersenjatai AESA radar (sama seperti F-35), dan Meteor BVRAAM -- senjata BVR yg jauh lebih efektif daripada AMRAAM, atau R-77. Ini akan sy bahas lebih lanjut di artikel lain.

      Hanya saja masalahnya untuk Indonesia begini:
      Semua negara lain (termasuk Australia, Singapore, Malaysia) sudah lama naik kereta, untuk mempelajari BVR combat sejak tahun 1990-an awal, sedangkan Indonesia masih terus menunggu di stasiun.

      Selepas efektif, atau tidaknya BVR combat dalam REAL LIFE, Indonesia HARUS mengejar ketinggalan.
      Dalam hal ini, melirik ke US, ataupun Russia, berarti kita akan melihat ke arah yang salah...

      Delete

    5. 2. "Generasi yang lebih maju dari jenis2 pesawat yang ada" -- kalau anda maksudkan Su-35, seperti sy sudah tulis:

      "Bentuk luar mirip, didalamnya 99% akan BERBEDA JAUH!"

      Su-27 yang buatan tahun 1980-an, TIDAK AKAN PERNAH bisa di-upgrade ke model Su-35. Ini dua pesawat yang SAMA SEKALI BERBEDA.

      Lihat daftar yang baru di Su-35, dibanding Su-27, ya?

      Airframe berbeda jauh -- lebih banyak Titanium content / composite; Irbis-E PESA radar (tidak bisa dipasang ke semua Flanker lain!), computer BARU, OLS-35 BARU, countermeasure sistem BARU, mesin AL-41F1 BARU, dan dengan demikian hampir 99% komponen, atau part lain juga, akan SAMA SEKALI BARU.

      Kalau prioritasnya hanyalah UPGRADE dari model yang sudah ada, pesawat itu adalah F-16. Sebenarnya F-16 Indonesia, kalau diijinkan, bisa saja di-UPGRADE agar kemampuannya seimbang dengan F-16V yang sekarang ditawarkan Lockheed-Martin.

      Generasi yang lebih maju dari sekarang --- biar bagaimana, karena Anggaran Pertahanan kita untuk selamanya TIDAK BISA BERSAING dengan Australia / Singapore, tidak akan bisa menjadi prioritas utama dalam pengeluaran negara.

      Sebenarnya hanya kita-kita saja yg menekuni forum militer ramai membahas "pengganti F-5E", sedangkan 99,99% orang Indonesia yang lain tidak akan ambil pusing, dan KEBUTUHAN MEREKA LEBIH PENTING.

      Tentu saja, APBN sampai kapanpun akan lebih memprioritaskan pembangunan ekonomi negara kita yang masih tergolong "negara berkembang", daripada kompetisi dalam pembelian Alutsista.

      Wong, Indonesia juga sebenarnya tidak pernah menghadapi ancaman militer dari luar, kok, sejak kedaulatannya diakui dalam PBB dalam KMB.

      Tapi kata kuncinya disini --- Indonesia memerlukan perencanaan jangka panjang yang jelas dari segi pertahanan.

      Kenyataannya, F-16Block-52ID, Su-27SKM, atau Su-30MK2 --- semuanya adalah versi downgrade (monkey model) dibanding apa yang dipakai di negara asalnya. Secara tehnologi, ketiga model ini saja hanya sekitar equivalent dari tehnologi pesawat tempur tahun 1990-an awal.

      Itulah konsekuensi dari terlalu gandrung kepada US, atau Russia.

      Ini karena memang kebiasaan keduanya, dan faktor lain:

      Sejarah masa lampau (tahun 1960-an) -- memberi signal kalau Indonesia tidak bisa dianggap "sekutu" yang bisa dipercaya.

      # "Konfrontasi" dengan Malaysia (1962-1966) -- bukan di Timor Timur!!!

      Sebenarnya Konfrontasi ini adalah titik terdekat dimana Angkatan Udara kita hampir mengadu nasib dengan semua angkatan udara negara Commonwealth (Inggris, Australia). Untung kedua pihak tidak pernah menembakkan satu pelurupun! Dan kemudian...

      # Hibah Alutsista ex-Soviet ke US (1969)
      Yah, harta karun paling berharga yang diserahkan ke US, adalah MiG-21, yang kemudian diikuti dengan langkah menjadi customer setia pembelian senjata dari US.

      Sekarang sih, kita hanya membayar dari akibatnya saja.

      Delete
  2. Gripen memiliki iff yangbuilt-in dg radar,,,berapa jangkauan deteksi iff jika dibandingkan dg deteksi radar?

    ReplyDelete
    Replies
    1. @bung hari,
      untuk angka pastinya, ini memang sengaja dirahasiakan SAAB dari informasi publik.

      Tapi IFF-nya sendiri hanyalah satu komponen dari apa yang sekarang disebut SENSOR FUSION Abad ke-21.

      Yah, Networking (compatible ke Link-16) di Gripen juga akan memberikan INFORMASI jelas dan tepat dimana posisi pesawat tempur "kawan".

      Kalau kita menengok ke artikel Aviation Week:

      "The three main sensors (AESA, IRST, IFF) will cue one another automatically to display to pilots a fused picture of airspace around the fighter; it will also be fused with the JAS's new electronic-warfare system. Finally, sensor data can be shared between Gripens in a flight via (Swedish-made TIDLS) data link."

      Berapa jarak jangkau IFF? Kita hanya bisa estimasi.

      "The new IFF is designed to provide low-latency coverage over the radar's entire field of view and to its maximum range, and is independent of the radar."

      Kemungkinan IFF-nya akan berada dalam "BVR range" sekurang-kurangnya 50 kilometer.

      Tapi, ingat juga, Meteor BVRAAM, senjata BVR utama Eurocanards, dikabarkan mempunyai jarak jangkau melebihi 160 kilometer, juga akan mempunyai pK (probability Kill) yang lebih tinggi dibandingkan AMRAAM yang ditembakkan dari jarak 30 kilometer...

      Delete
  3. sebenernya tni itu punya niatan gak sih? Untuk pasang iff di pespurnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mengenai kenapa? Kita juga tidak tahu.

      Memang sangat mengherankan walaupun banyak petinggi kita sering berbicara "menandingi negara tetangga", atau "modernisasi Alutsista", tetapi sepertinya tidak ada pertimbangan sama sekali mengenai komponen2 penting seperti diatas -- IFF, AESA, dan Networking.

      Entah apakah memang kurang research?
      Atau apakah berpikirnya yang hanya bisa "Beli, beli, beli BARU" saja?

      Peningkatan jumlah kuantitas, kalau tidak disertai peningkatan kualitas, bukankah sama saja bohong?

      Delete
  4. kelihatanya terjebak pada mengejar jumlah senjata gan

    ReplyDelete