Monday, March 14, 2016

Akhirnya, Indonesia akan membeli AIM-120C7 AMRAAM dalam kontrak senilai $95 juta!

Dokumen DSCA 17-Nov-2011 memang sudah menuliskan bahwa F-16 Block-25+ Indonesia diperlengkapi dengan LAU-129A/A launchers untuk AIM-120 AMRAAM!!

Gambar: Wikimedia

Kebiasaan buruk dalam akuisisi setiap Alutsista Indonesia adalah pembelian platform secara 'kosong' alias tanpa perlengkapan support, atau persenjataan apapun. Paling tidak rencana pembelian AIM-120C7 AMRAAM senilai $95 juta ini akhirnya diajukan pada 10-Maret-2016, atau tidak terlalu lama setelah delivery F-16 Block-25 dimulai di tahun 2014.

Sampai saat ini, AIM-120C7 adalah versi AMRAAM yang paling modern yang available untuk export dari paman Sam. Akuisisi BVR missile modern ini akan menjadi salah satu langkah pertama Indonesia untuk memasuki era BVR Combat. AKAN TETAPI...

Sudah saatnya memperhatikan arti dari satu kalimat penting dalam dokumen DSCA yang sudah menyertai konfirmasi pembelian F-16 Block-25, kemudian juga AIM-120C7 AMRAAM, dan AIM-9X Block-2 pada 5-Mei-2015 yang silam:





Arti kalimat ini sederhana saja: 

F-16C Block-25; KALAUPUN SUDAH dipersenjatai dengan AIM-120C7 AMRAAM, dan AIM-9X Block-2 TETAP SAJA BUKAN TANDINGAN pesawat-pesawat tempur negara tetangga customer US yang lain (Baca: Khususnya Australia, dan Singapore)

Untuk lebih jelasnya, mari menilik kembali spesifikasi untuk F-16 Block-25 Indonesia (menurut dokumen DSCA bukan Block-52ID seperti kerap ditulis):
  • AN/APG-68 radar - jauh lebih modern daripada AN/APG-66 di F-16A/B Block-15OCU, tetapi versinya sengaja tidak disebut. Artinya mudah kita mendapatkan radar tahun 1980-an, yang sudah dipugar, bukan versi akhir AN/APG-68(v)9 yang lebih reliable, dan kemampuan jarak jangkau untuk deteksi, tracking, dan resolutionnya 50% lebih baik dibanding original version; dan juga sudah dibeli SEMUA pembeli Block-50/52 yang lain.
  • ALR-69 RWR, ALQ-213 ECM, dan ALE-47 Countermeasure system semuanya adalah sistem dari generasi sebelumnya, yang sudah tidak pernah dipilih oleh pembeli F-16 Block-50+/52+ yang lain. Pakistan, misalnya, mendapat ALQ-211(V)9 Advanced Integrated Defensive Electronic Warfare Suites (AIDEWS). Ini adalah versi modern yang mengkombinasikan tiga subsystem kuno yang didapat Indonesia.
  • Tidak ada IFF system (jenis APX- manapun)
  • Tidak ada JHMCS (Joint Helmet Mounted Cueing System) untuk memanfaatkan kemampuan HOBS (High Off BoreSight) dari AIM-9X
  • Tidak ada MIDS-LVT terminal untuk Link-16 Data Network


Bagaimana efeknya jika diperbandingkan dengan misalnya, F-16 Singapore?

Keterbatasan kemampuan radar AN/APG-68 original buatan tahun 1980-an di versi Indonesia, berarti F-16 Block-52+ Singapore yang diperlengkapi dengan AN/APG-68(v)9, sejak tahun 2004, akan memiliki jarak deteksi yang 30% lebih unggul. Dengan demikian, F-16 Singapore akan dapat menembakkan AMRAAM C7 mereka dari jarak yang lebih jauh dibandingkan versi Indonesia.

Tidak adanya IFF, seperti sudah disebut dalam artikel sebelumnya, artinya F-16 Indonesia tidak akan dapat membedakan mana lawan, dan mana kawan di radar. Bukan tidak mungkin, F-16 Indonesia dapat menembakkan AIM-120C7 ke arah F-16, atau Su-27/30 "kawan". 

Dan faktor yang memperparah lagi untuk BVR F-16 Indonesia....

TIDAK ADANYA Link-16 - walaupun sifatnya seperti broadcasting system, Link-16 akan memudahkan untuk pesawat tempur Australia, dan Singapura untuk membedakan mana yang kawan (yang sudah terkoneksi dalam network), dan lawan; dan tentu saja memberikan kemampuan untuk berkoordinasi lebih erat, dalam membagi target. 

RAND organisasi think-tank yang kerap menjalankan beraneka ragam simulasi militer profesional menuliskan laporan kalau pesawat yang diperlengkapi dengan Link-16 akan memiliki keunggulan kill rate dua setengah kali lipat lebih baik jika dibandingkan pesawat tempur, yang hanya bisa dikoordinasi dengan radio. 

Pembelian AIM-9X pada 5-Mei yang lalu, sebenarnya lebih menarik lagi. Dari segi kemampuan, tentu saja AIM-9X akan jauh lebih baik daripada versi AIM-9M, apalagi versi -L yang di-stock Indonesia. Akan tetapi, tanpa adanya Helmet Mounted Display (JHMCS untuk versi US), dan tidak adanya sistem datalink, berarti F-16 Indonesia tidak akan dapat memanfaatkan kelebihan AIM-9X untuk ditembakan mengikuti pandangan pilot, atau jarak tembak yang mendekati kemampuan BVR.


Ilustrasi kemampuan AIM-9X Block-2 dari donhollway:
F-16 Indonesia
saat ini TIDAK BISA


Penutup

Mengingat F-16 Block-25 juga sudah diperlengkapi LAU-129A/A, memang sudah SEHARUSNYA cepat dipersenjatai dengan AMRAAM.

Sayangnya, pembelian versi AMRAAM C7, atau AIM-9X yang nilai pembeliannya lebih mahal boleh dibilang sebenarnya agak mubazir dari segi operasional. 

F-16 Indonesia, dalam spesifikasi yang sekarang, tidak akan dapat memanfaatkan keunggulan kedua senjata ini secara MAKSIMAL, bahkan jika dibandingkan semua negara pembeli F-16 yang lain (tidak hanya Singapore!).

Penulis sendiri pernah menulis di salah satu formil kalau lebih baik Indonesia mengakuisisi versi sebelumnya dari kedua missile ini -- AIM-9M, dan AMRAAM C5 untuk menghemat biaya. Toh, sebenarnya USAF saja masih mengoperasikan ratusan AIM-9M, dan AMRAAM C5 kok, dan demikian juga negara tetangga Singapore.

Walaupun demikian, tidak bisa disangkali kalau pembelian AIM-120C7, atau AIM-9X akhirnya akan memberikan kesempatan untuk TRAINING pilot Indonesia dengan sistem Barat. Kedua jenis missile ini boleh terbilang jauh lebih unggul secara tehnologi daripada segelintir R-73, atau RVV-AE Russia yang pernah dibeli Indonesia di tahun 2011. Tidak hanya itu, kedua jenis missile buatan US ini juga sudah mengumpulkan proven kill rate, dan sudah menjalani testing yang lebih banyak di negara asalnya. Ini akan dibahas secara lebih mendalam dalam post lain.


Catatan Akhir


Patut diketahui kalau sebenarnya AIM-120C7 dan AIM-9X Block-2 sudah 100% terintegrasi dengan SAAB Gripen (semua versi). Versi E/F (NG) dari SAAB akan dapat memanfaatkan kedua senjata ini SECARA JAUH LEBIH MAKSIMAL bahkan jika dibandingkan F-16V, yang membawa AESA radar!


Compatible ke semua senjata:SwAF Gripen-C (atas) membawa 4 AMRAAM, dan 2 Sidewinder;
Gripen-D (bawah) membawa 6 Sidewinder
(Gambar: Public Image)

Gripen-E/F dengan Selex Raven ES-05 AESA radar, akan memberikan keunggulan jarak deteksi, dan lock-on untuk AIM-120C7 dari jarak yang lebih jauh, dan lebih fleksibel dibandingkan F-16V, dengan AN/APG-83 AESA radar. Ingat juga kalau RCS Gripen hanya sepersepuluh F-16! Kelebihan ini akan mempersulit pilot F-16 untuk men-lock Gripen, daripada sebaliknya. Ditambah lagi dengan kemampuan supercruise, Gripen-E akan dapat menambah momentum, dan meningkatkan pK (probability Kill) dari AIM-120C7, dari jarak yang lebih jauh dibanding F-16 jenis manapun.

Tentu saja, Gripen yang juga sudah terintegrasi dengan Cobra HMD dapat memanfaatkan kemampuan HOBS, dan LOAL (Lock-On After-Launch) dari AIM-9X Block-2.

KALAU Indonesia membeli Gripen (apalagi versi E/F), bukan tidak mungkin kita juga akan mendapat kemampuan menawar dengan US, untuk meng-upgrade standard F-16 Block-25 agar menjadi setara dengan Block-52+ tulen, seperti yang dibeli negara-negara lain. 

Kenapa tidak? 

Bukankah mereka sebenarnya juga tidak mau kehilangan Indonesia sebagai customer F-16? 

Hanya kali ini, permainannya menjadi terbalik: KALAU selama ini dari segi Alutsista; Indonesia sebenarnya hanya dipermainkan US, dan Russia, seperti bola ping-pong;

Sebaliknya, pembelian Gripen akan membuat Indonesia menjadi pemain YANG LEBIH PINTAR (!!).


2 comments:

  1. Om DR apakah benar jika seluruh pesawat F 16 & Sukhoi adalah monkey model, truss aku jg bingung kenapa tni masih mempertahankan sistem gado gado dalam modernisasi. Kalo ane boleh milih ane akan lebih memilih teknologi barat, kenapa demikian, karena sebagian besar alutsista tni adl standar nato, dan industri pertahanan dalam negeri juga bekerjasama dengan industri pertahanan barat. Sebetulnya saya juga kesel kenapa tni lebih milih su 35 truss masih nycil juga trus jumlahnya hanya 10. Mengenai teknologi BVR kita kalah jauh di banding tetangga, pertanyaanya? Apakah petinggi militer kita sadar akan hal tersebut atau memang tak peduli dengan teknologi BVRBVR.

    ReplyDelete
    Replies
    1. @bung Rizki,

      Kalau F-16, dan Sukhoi itu adalah "versi downgrade" (monkey model) dari versi yang digunakan sendiri oleh negara pembuatnya -- sebenarnya ini memang adalah STANDARD PRACTICE penjualan baik dari negara2 ex-Superpower, seperti US, dan Russia.

      FAKTOR LAIN YG MEMPERPARAH:

      Kenyataannya, yang seringkali dilupakan orang, baik yang memfavoritkan F-16 (atau proyek KF-X sebenarnya sama saja), dan Sukhoi ---> Indonesia itu tidak pernah mempunyai hubungan aliansi secara militer dengan erat, baik ke US (seperti Korea, Australia, Singapore), atau ke Russia (Syria, India, Mesir).

      Alhasil, kalau Indonesia terus-menerus tergantung ke DUA NEGARA SUPERPOWER ini, yah, suka-nggak suka, harus selalu mau menjadi di-"anak tiri"-kan secara negatif, yang diperlakukan setengah hati.

      Dalam jangka panjang, secara idealnya sistem gado-gado sekarang harus dihentikan. Tidak hanya merugikan negara, tetapi efek gentar-nya NOL besar. Yang lebih lucu (dan memalukan) lagi, semua negara lain yang mengamati pertahanan Indonesia sebenarnya SUDAH LEBIH TAHU ttg kelemahan ini sendiri, dibanding kita.

      Itulah sebabnya, saya sbnrnya sering menuliskan, kalau memang sistem pertahanan Indonesia ingin MANDIRI, kita seharusnya berpaling ke Eropa.

      Eropa adalah pihak ketiga, yang kalau melihat dari sejarah saja sudah membantu men-transfer tehnologi untuk pembuatan senapan Pindad SS2, Panser Anoa, atau CN-235 -- memang satu-satunya partner yang akan terus menawarkan "alih tehnologi", KALAU Indonesia MAU BELAJAR.

      Inilah salah satu tujuan blog ini, bukan semata "favoritisme" Indonesia harus beli Gripen :)

      Untuk subyek BVR, sy akan uraikan pelan-pelan dalam artikel2 berikutnya -- terutama seberapa jauh sebenarnya Indonesia harus mengejar ketinggalan, gara2 sistem gado2.

      Delete