Wednesday, February 24, 2016

Kenapa memilih Su-35 adalah KESALAHAN TERBESAR!!

Bagian 1: Mengupas mitos "efek gentar" Su-35



Su-35 hard landing, Credits: SKYRAIL
Su-35 hard-landing di  Komsomolsk-on-Armur Airshow, 16-Apr-2014
(Gambar oleh SKYRAIL, flickr)

Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa  petinggi dari TNI, politikus di Komisi I DPR, berita-berita dari hampir semua media, dan tentu saja banyak pengagum Sukhoi di Indonesia menjunjung tinggi: Su-35 sebagai pilihan fan favorit untuk pesawat tempur terbaik untuk Indonesia!


Saatnya menguraikan beberapa fakta yang sebenarnya mengenai pesawat ini, dan kenapa ini adalah pilihan yang SALAH TOTAL untuk Indonesia. 

1. Semua sumber informasi awam mengenai semua "kehebatan" Su-35 kebanyakan berasal dari Ausairpower, dan ini bukanlah sumber informasi yang obyektif!


Ausairpower Australia, walaupun penuh dengan penjelasan ilmiah (Baca: yang kedengarannya meyakinkan!), sebenarnya adalah blog dengan motivasi politik untuk meyakinkan pemerintah Australia untuk membeli F-22 sebagai pengganti F-111, BUKAN sumber informasi obyektif yang bisa dipercaya untuk menampilkan seberapa hebatnya kemampuan Su-35.


Dalam argumennya, adalah kewajiban untuk Ausairpower menunjukkan kalau Su-35 adalah si “Rahwana” yang tidak bisa dikalahkan oleh lawan manapun, kecuali oleh sang “titisan Wisnu”, yakni F-22. Para kontak Russia mereka tentu saja dengan senang hati memberikan berbagai macam data untuk memenuhi kebutuhan ini.


Yang lebih menyedihkan, dan bahkan sama sekali tidak disinggung disana, bahkan sampai tahun 2016; F-22 belum diperlengkapi JHMCS Helmet Mounted-Display, bahkan baru mulai dipersenjatai dengan AIM-9x di tahun 2015, dan tidak ada rencana untuk membawa IRST – salah satu prasarana utama BVR combat Abad ke-21.


Secara praktis, dalam ketiga hal diatas saja, F-22 bahkan kurang bersaing jika dibandingkan dengan versi akhir dari F-15, dan F-16; apalagi ketiga Eurocanards, terutama dalam pertempuran jarak dekat!


Jadi argumen Ausairpower kalau F-22 adalah “titisan Wisnu” saja sebenarnya sudah buyar berantakan! Demikian juga si “Rahwana” Su-35! Pesawat ini juga tidaklah sehebat apa yang digambarkan disana!


F-111 sendiri yang didewa-dewakan disana, mungkin seperti Betara Indra, juga sebenarnya hanyalah “gajah putih” – sesuatu yang terlihat mewah, tanpa kemampuan taktis yang berarti, karena biaya maintenance yang begitu mahal. DailyTelegraph Australia menuliskan, kalau ternyata F-111 membutuhkan 170 jam maintenance untuk setiap jam terbang! Keputusan pemerintah Australia untuk mempensiunkan F-111C, bukanlah tanpa alasan yang jelas!


(Kasus F-111 Australia mirip kan, dengan Sukhoi Indonesia?)


Sekali lagi, Ausairpower sebenarnya hanyalah F-22-fanboyz-website.


Patut diketahui, kalau kebiasaan media Barat untuk memilih “rahwana” dari salah satu tipe pesawat tempur buatan Russia (Soviet), untuk diperbandingkan dengan tipe pespur mereka sendiri adalah kebiasaan buruk lama! Tujuannya sangat sederhana: Motivasi politik untuk menaikkan jumlah anggaran pertahanan, dan mendorong pemerintahnya agar membeli / membuat pesawat tempur yang lebih hebat!


Bahkan di masa lampau, MiG-23 juga pernah dianggap sebagai salah satu tipe yang tak terkalahkan, sampai akhirnya orang Barat mempelajarinya dengan lebih baik, dan menemukan kalau pesawat ini sebenarnya sangat bermasalah! 

The Diplomat, The Hard Politics of Fighter Aircraft,
by Robert Farley


 

2.     Performance data resmi dari Su-35 TIDAKLAH MEYAKINKAN


KnAAPO sendiri menuliskan data resmi Su-35 dalam website-nya. Inilah saatnya untuk menganalisa baik-baik angka yang sudah ada!


Thrust-to-Weight ratio adalah angka pembanding, berat total pesawat dibagi daya dorong mesin dengan FULL Afterburner. Semakin tinggi angka ini, semakin hebat akselerasi pesawat tempur. Jadi berapa angka untuk Su-35, pesawat tempur Heavy Twin-Engine yang berat, dan jauh lebih draggy dibanding Single-Engine Fighter ini?


T/W Ratio untuk Su-35 (bensin penuh), hanyalah 0,945; jauh dibawah dari angka target 1 yang dikejar semua pesawat tempur Barat lain. Angka ini HANYA SEIMBANG dengan Super Hornet, yang setengah pembom, atau sama sekali tidak bersaing dengan pesawat tempur Heavy Twin-Engine F-15SG Singapore, dengan mesin GE F100-129 (1,128), atau Lightweight Single-Engine F-16V dengan mesin PW100-229 (0,977), yang drag rate-nya jauh lebih rendah.


Ini membawa kita ke kelemahan pertama dari Su-35: dengan berat kosong 18,400 kg, pesawat ini sebenarnya termasuk yang TERBERAT di dunia. Di lain pihak, daya dorong mesin AL-41F1 117S (32,000 lbf wet thrust) tidak mencukupi untuk memberikan pesawat ini T/W ratio yang lebih bersaing.

Kenapa Sukhoi begitu berat?
Tidak hanya karena ukurannya luar biasa besar, tapi industri pesawat Russia kelihatannya belum menguasai penggunaan Advanced composite material untuk konstruksi pesawat. Su-35 material utamanya dari bahan Titanium alloy.


Bahkan kalau dalam keadaan tangki 50% kosong, dan membawa 6 missile, tetap saja peta ini tidak berubah. Su-35 hanya sebanding dengan Super Hornet, dan tidak akan dapat menandingi F-15SG, atau lightweight Single-Engie di kelas F-16V, atau Gripen-E, yang mempunyai kemampuan supercruise, terbang supersonic dengan membawa combat load (6 missile) tanpa perlu menyalakan afterburner.


Jadi tidak seperti F-22, Typhoon, Rafale, atau Gripen NG; Su-35 TIDAK AKAN PERNAH mempunyai kemampuan Supercruise! 


Sekarang kita masuk ke angka Wing-Loading – berat total pesawat, dibagi dengan luas sayap – angka perbandingan yang turut menentukan seberapa manueverable-nya pesawat tempur dalam pertempuran jarak dekat. Semakin kecil angka wing-loading, pesawat tersebut seharusnya semakin manueverable. Logika saja, karena setiap per m2 sayap tidak perlu menanggung banyak berat total pesawat, gaya LIFT akan jauh lebih baik untuk membantu manuever.


Sekali lagi penalty berat Su-35 juga memberikan angka yang hanya 489,5 kg/m2. Ugh! Hanya seimbang dengan MiG-23 kuno yang bermasalah! Bahkan sedikit lebih jelek dari angka Super Hornet, yang 455 kg/m2. Pendahulunya saja, Su-27S yang buatan tahun 1980-an, masih menikmati angka yang sedikit lebih rendah, 444,61 kg/m2. Sedangkan lawan-lawannya? F-16C saja masih menikmati angka 431 kg/m2, Eurofighter Typhoon 312 kg/m2sedangkan Gripen-E menikmati angka Wing-loading 335 kg/m2.

Arti dari angka T/W ratio dan wing-loading yang kurang bersaing ini mudah saja. Dalam kondisi tempur, performa Su-35 belum tentu sehebat apa yang dipertunjukkan dalam Airshow! Belum tentu Super Hornet (yang sebenarnya tidak dianggap sebagai pesawat tempur tulen) tidak mempunyai peluang untuk mengalahkan Su-35 dalam pertempuran jarak dekat! Apalagi kalau pilot SH mendapat lebih banyak training, dan mempunyai segudang pengalaman!


Wah, ternyata banyak juga ya, yang tidak dituliskan di website politik Ausairpower? Padahal semua informasi diatas tersedia bebas di Internet bagi mereka yang mau research sedikit!

 

3. Argumen "JARAK JANGKAU SUKHOI COCOK UNTUK INDONESIA", juga semakin TIDAK BERALASAN


Sukhoi menuliskan jarak jangkau (Ferry range) maksimum sekitar 4,500 kilometer, dengan membawa 3 drop tank 500 gallon. Padahal, kapasitas bahan bakar Su-35 juga termasuk yang TERBESAR di dunia; sekitar 11,900 kilogram.


Sebagai pembanding, SAAB Gripen-NG, dengan kapasitas bahan bakar hanya 3,400 kilogram, akan mempunyai jarak jangkau (Ferry Range) 4,000 kilometer dengan membawa 2 drop tank saja.


Ternyata perbedaan jarak jangkaunya tidak terlalu besar, bukan? Dan kenyataannya memang mesin Russia selalu dikenal lebih boros bahan bakar. 


... dan gampang RUSAK 
Variant 117  dari mesin AL41F1 di Su-35 baru saja terbakar pada tahun 2014 yang lalu, 
dalam testing untuk PAK-FA
(Gambar: United Aircraft)

Berapa $$ extra yang harus ”dibakar” untuk menempuh jarak yang sama (dan untuk ongkos perbaikan)?

 

4.     Supermanueverable? MASA SIH?

Pssst…. Mau tahu satu rahasia kenapa Su-35 bisa tampil begitu memukau di Paris Air Show 2013?


Jawabannya sederhana. Su-35 untuk Airshow, tidak akan membawa banyak bensin! Ini hanyalah sirkus udara untuk memperlihatkan kebolehan airframe Sukhoi, dan kemampuan TVC yang memang piawai untuk pertunjukan yang bagus. Sekarang coba saja isi bensin lebih banyak untuk kondisi tempur, dan cantolkan 4 – 6 missile ke atas pesawat ini, dan lihat apakah dia masih bisa beraksi sehebat itu?


Yang kedua – pilotnya sendiri juga bukanlah orang sembarangan. Sergey Bogdan adalah test pilot sipil untuk Sukhoi, ex-member dari Angkatan Udara Soviet masa lampau yang sudah mengantongi ribuan jam terbang. Talenta yang sedemikian sebenarnya tergolong langka dalam Angkatan Udara Russia sendiri, yang dilaporkan jam terbangnya sebenarnya tidak karuan, jika diperbandingkan dengan standard NATO.

Sumber:
The Moscow Times, 14-July-2015

Ini membawa kita ke masalah lain: Sebenarnya training seperti apakah yang dapat diberikan Russia, seandainya Indonesia membeli Su-35? Bukankah pilot-pilot Indonesia sama sekali tidak ada pengalaman untuk memakai semua perlengkapan modern, mulai dari radar PESA, RWR, IRST, apalagi bahkan pernah menjajal pesawat tempur yang memakai TVC?


Dan bicara soal TVC, atau Thrust-Vector-Control......


5.   Keunggulan Thrust-Vectoring dalam Close Combat itu hanya MITOS



Komentar diatas diambil dari interview website FoxTrot Alpha dengan Lt. Col. Fred "Spanky" Clifton, pilot USAF yang sudah mengumpulkan ribuan jam terbang di F-15C/D, F-16C/D, F-5E, dan yang lebih menarik lagi, juga MiG-29 ex-Jerman Timur. (Baca saja, artikelnya sangat menarik!)


Singkat cerita – pilot-pilot pesawat tempur Barat bahkan tidak perlu khawatir menghadapi Su-35 yang bisa TVC kok! Wong, dalam latihan, mereka juga harus mempelajari caranya menghadapi pesawat tempur TVC yang lebih hebat lagi; F-22 Raptor


Lt. Col Clifton bahkan menyatakan kalau para pilot F-22, pesawat yang seharusnya lebih unggul dari semua, justru dipaksa untuk belajar, kalau mereka tidak boleh menggunakan TVC mereka sembarangan dalam pertempuran udara jarak dekat!



Penjelasan yang lebih sederhana mengenai seluk-beluk TVC:


Pernah membuat pesawat terbang kertas sendiri? Apa yang membuatnya bisa terbang? Pesawat kertas kita bisa terbang, karena kita lempar ke depan, bukan?


Gerakan melempar ke depan itu menciptakan apa yang disebut FORWARD THRUST dalam tehnologi pesawat terbang. Dengan adanya THRUST tersebut, sayap si kertas menciptakan apa yang disebut LIFT, yang memungkinkan si kertas itu terbang.


Nah, sekarang, anggaplah kita mempunyai tangan ajaib, dan dapat membelokkan THRUST itu dari arah depan, tetapi ke arah atas, atau ke samping! Apa yang terjadi kemudian? Si pesawat kertas akan jatuh kebawah!


TIDAK ADA FORWARD THRUST, BERARTI KECEPATAN HILANG, DAN TIDAK ADA LAGI gaya LIFT di SAYAP!


“Tangan ajaib” inilah yang disebut sebagai Thrust-Vector Control. Dengan kata lain, mencoba melawan hukum fisika, dan mencoba membelokkan arah pesawat, tanpa meminta kerjasama dari LIFT sayap pesawat.


Dengan tidak adanya FORWARD THRUST, dan LIFT, Su-35 dalam waktu beberapa detik ini, akan menjadi bebek yang tidak berdaya, yang siap dibantai oleh pesawat-pesawat tempur non-TVC yang akan menyimpan banyak Energy Kinetic, seperti F-16! Faktor lain yang lebih menyedihkan (Lihat diatas!) T/W Ratio Su-35 tergolong rendah! Justru akan sangat sulit untuk pilot Su-35 untuk mengembalikan kecepatan pesawat, dan menghindari tembakan musuh.


TVC juga sebenarnya sudah di-tes di tahun 1980-an dalam F-16MATV, atau F-16VISTA

Adalah KESALAHAN BESAR kalau menganggap fitur Thrust-Vector Control di Su-35 adalah suatu KEUNGGULAN dibanding pesawat tempur lain. Pilot pesawat tempur model Barat TAHU BENAR kalau Lawan mereka akan diperlengkapi dengan TVC, dan mereka juga SUDAH JAUH LEBIH SIAP DAN LEBIH BERPENGALAMAN untuk menghadapi lawan yang memakai TVC.


Sedangkan pilot Indonesia yang memakai Su-35, bahkan BARU MULAI BELAJAR.... 

LANTAS BAGAIMANA CARANYA MENGEJAR KETINGGALAN?


6. Su-35 butuh berapa jam maintenance per 1 jam terbang? Bisa terbang berapa kali dalam sehari?


Maintenance. Seberapa siap terbangkah Su-35 dalam 365 hari?


Ini akan sangat penting di saat konflik. Seberapa sering pesawat dapat mengudara per hari akan menentukan berapa jumlah pesawat yang dapat diudarakan dalam setiap waktu.


Kenyataannya, keluarga Sukhoi tidaklah dikenal sebagai pesawat yang maintenance-nya mudah, dan meriah. Artikel BBC dari tahun 2002 saja sudah mencatat, kalau spare part Sukhoi Su-27 original, bahkan tidak pernah di-desain untuk bisa tahan lama. Sistem Uni Soviet (Kita akan membahas ini di lain waktu) menuntut keberadaan spare part Sukhoi harus selalu READY STOCK, tanpa memperhitungkan harga, ataupun berapa lamanya masa pakai. Tidak masalah kalau anggaran militer itu tidak terbatas, seperti di jaman Soviet dahulu, tetapi sekarang...? Dan untuk Indonesia?

Artikel BBC, 28-Juli-2002

Untuk berita yang lebih baru, dan model Flanker yang lebih baru, kelihatannya masalahnya tetap saja disana. Tribune India sudah melaporkan kalau mesin AL-31FP di atas Su-30MKI mereka bermasalah, dan perlu lebih sering di-servis dibandingkan jadwal. Mereka juga membutuhkan waktu 4 - 5 hari untuk mengganti mesin AL-31FP yang rusak. Terlebih lanjut, laporan audit Su-30MKI India Desember-2015 yang lalu, baru saja melaporkan betapa Su-30MKI ini adalah pesawat yang haus spare part, dan operasional readinessnya terlalu rendah (karena terlalu sering diperbaiki!)


Indonesia sendiri baru-baru ini terpaksa mengirim pulang TS-2701, dan TS-2702 untuk menjalani perbaikan yang mendalam, yang hanya bisa dilakukan di Russia! Kesulitan semacam ini TIDAK MENUNJUKKAN kalau Indonesia "sudah terbiasa" dengan Sukhoi. Padahal Su-27SK adalah tipe yang sudah diproduksi hampir 1000 unit, dan secara tehnis / tehnologi juga jauh lebih sederhana dibandingkan Su-30MKI/SM buatan Irkut, atau Su-35 buatan KnAAPO.


Masalahnya untuk Su-35 sebenarnya lebih pelik lagi, dibandingkan Su-27S, Su-30MK, ataupun Su-30MKI. Kenyataannya, Su-35 ini juga sama sekali belum mengumpulkan jumlah jam terbang yang cukup banyak, atau diproduksi lebih banyak daripada jumlah order original yang 48 unit. Jadi faktor resiko apa saja yang bisa rusak, masih terbuka lebar! 


Bagaimana kalau sampai terjadi konflik? Apakah yang menjamin Su-35 akan selalu siap tempur? 


Maaf, tetapi dibandingkan dua pilihan terdekat lain; F-16V, ataupun SAAB Gripen, kenyataannya inilah pilihan yang PALING RISKAN untuk masa depan pertahanan Indonesia!

Bandingkan dengan Gripen-C yang sudah di-desain sejak awal untuk maintenance yang minimal. Pesawat ini hanya memerlukan waktu 1 jam untuk mengganti mesin, dan dapat mengudara 3 – 4 kali dalam sehari. Mempersenjatai kembali Gripen dalam landasan darurat, hanya membutuhkan 1 tehnisi, dan 3 orang terlatih (pelajar SMU-pun bisa), karena Gripen-system yang memang memfokuskan kemudahan operasional / maintenance.




"BAMBU RUNCING" Abad ke-21: 
JAUH LEBIH MODERN, TAHAN BANTING,
& MUDAH untuk dioperasikan
Display cockpit untuk pilot: Superioritas dalam SITUATIONAL AWARENESS




7.   Sejak tahun 2007, Su-35 TIDAK PERNAH mendapat upgrade bertahap seperti semua tipe pesawat tempur Barat, dan kemungkinan besar kecuali TERPAKSA, tidak akan pernah mendapat Upgrade.


Kita sudah sering membaca tentang Sukhoi Su-35 baik di Ausairpower, atau baru-baru ini bahkan dituliskan ulang oleh beberapa media Indonesia. Kesemuanya seperti bersorak-sorai memuji-muji kehebatan Sukhoi.


Bisakah ditebak apa yang kurang disini?


Sejak tahun 2007, sebenarnya Su-35 TIDAK PERNAH BERUBAH! Silahkan saja cari sendiri, upgrade macam apa yang sudah didapat pesawat ini! Apakah Sukhoi pernah mengumumkan "growth path" untuk Su-35 agar menjadi lebih modern?


Sementara itu, di dunia Barat, ketiga Eurocanards sedang dalam proses mendapatkan AESA radar, Meteor BVRAAM, dan next-generation Jammer, atau Defense system. Eurofighter Typhoon sudah berevolusi terus dari Tranche-2, ke level Tranche-3 yang jauh lebih modern, dan sekarang sedang mengetes program Eurofighter Enhanced Manoeuvrability (EFEM).


F-16 juga tidak berhenti berevolusi. Lockheed-Martin baru-baru ini mengetes ketahanan airframe F-16 sampai 25,000 jam terbang! Versi-V yang juga ditawarkan ke Indonesia, secara tehnis bahkan lebih modern dibanding versi E/F yang dijual ke Emirat Arab di tahun 2005. Radar AN/APG-83 saja baik hardware, dan software-nya tergolong lebih baru daripada yang dipasang di tipe AN/APG-80.


Sedangkan Su-35? Apakah ada sesuatu yang baru yang ditambahkan sejak tahun 2007?


Kriikk…. Krikkk…Krikkk…. Bunyi jangkrik.


Contoh Growth Path di masa depan: Unmanned version of SAAB Gripen
(Gambar: by Anders Lejczak, 2012) 

 

8.  Mau memasuki Abad ke-21? Radar saja masih tipe PESA. Secara praktis Su-35 sudah ketinggalan jaman 20 tahun dibanding radar AESA F-18F Australia, dan F-15SG Singapore


Ini masih berhubungan dengan diatas. Ausairpower tidak berhenti-hentinya menyanjung kehebatan Irbis-E yang sebenarnya hanya tipe PESA. Sewaktu artikel mereka ditulis, profilerasi AESA radar di negara-negara Barat masih berjalan lambat; Eurocanards saja belum ada yang memasang AESA radar. AN/APG-79 Super Hornet, atau AN/APG-81 F-35 juga masih belum teruji cukup dalam. Jadi menurut standard tahun 2007, yah, memang mungkin kemampuan Irbis-E cukup piawai.

(Satu rahasia lagi: Ausairpower mengklaim kalau radar Irbis-E bisa "melihat" F-35 dari jarak 95 km. Kenyataannya "bisa melihat", bukan berarti bisa mendapatkan lock. Ini akan dibahas di post lain mengenai keunggulan AESA radar.)

Tetapi sekarang? Setelah hampir 10 tahun berselang?


Berbagai perusahaan pembuat AESA radar, termasuk SAAB, juga sudah bersemangat untuk meningkatkan kemampuan deteksi AESA radar sampai 30%, dengan mengganti komponen transmitter yang sekarang masih berbasiskan Gallium Arsenade (GAa), ke komponen Gallium Nitride (GaN). Saat ini Gallium Niitride hanya dapat digunakan di radar AESA yang berpangkalkan di darat, tetapi evolusi selanjutnya akan menuntut AESA radar yang berbasiskan GaN, di atas pesawat tempur!


Sedangkan Su-35 Russia? Bagaimana dengan PESA-radarnya bisa menghadapi evolusi yang begitu cepat dalam industri AESA barat?


Kenyataan pertama, industri militer Russia, yang warisan jaman Soviet, belum berhasil mereplikasi kesuksesan para pembuat AESA radar di negara-negara Barat, seperti Raytheon, Northrop-Grumman, Elbit Israel, atau Selex-ES. Kesemua perusahaan Barat tersebut sudah mulai menelusuri tehnologi AESA bahkan sejak tahun 1980-an, dan secara tehnologi, maaf, mereka jauh lebih unggul daripada kemampuan industri militer warisan Soviet.


Kenyataan kedua, yang masih berkaitan dengan point sebelumnya, Russia masih membuat pesawat menurut peninggalan sistem Uni Soviet. Tidak seperti para pembuat pesawat tempur Barat yang sebenarnya menyisakan beberapa % bagian pesawat tempur mereka kosong, untuk menambah upgrade di kemudian hari, TIDAK PERNAH ADA PERHITUNGAN yang serupa dari Russia. Inilah sistem yang sudah terkenal sebagai sistem ”Sekali pakai buang!


Konsekuensinya cukup jelas bagi Indonesia, Su-35 yang misalnya dibeli di tahun 2017, masih akan bertehnologi tahun 2007-an. Dan 20 tahun lagi juga, tetap saja tehnologinya terpaku di tahun 2007.


Dalam jangka 10 tahun ke depan saja, baik Australia, dan Singapore berencana untuk memakai AESA radar di setiap pesawat tempur mereka; Singapore dengan meng-upgrade F-16 Block-52+ mereka ke versi-V, sedangkan Australia masih berencana membeli F-35 untuk menggantikan F-18A/B


Masakan Indonesia mau terus berkutat hanya memakai radar generasi "tempo doeloe"? Pulse-mechanical doppler, atau Irbis-E PESA yang kuno?


Itu sih namanya bukan "mengimbangi negara tetangga", tetapi SEMAKIN KETINGGALAN KERETA!



9.  Su-35 sejauh ini BELUM PERNAH diuji / di-tes secara intensif dalam latihan udara Mancanegara seperti halnya semua tipe Barat


Yah, inilah tipe yang sama sekali belum pernah mengetes kemampuannya dengan tipe pesawat tempur lain, manapun. Efek gentarnya, yah, sangat menyedihkan karena 90% berasal dari Ausairpower!


Memang sejak berakhirnya tahun 1980-an, tidak pernah ada lagi konflik udara yang mempertandingkan dua belah pihak yang hampir seimbang. Nah, lantas dimanakah, dan bagaimana mengetes kemampuan suatu pesawat tempur?


Jawabannya – dalam latihan udara Mancanegara, seperti Red Flag, ataupun Pitch Black Australia. Disanalah personil Angkatan Udara dapat mengadu kemampuan, dan mempelajari kelebihan / kekurangan platform, dan perlengkapan mereka jika diperbandingkan dengan pesawat / platform lain.


Eurofighter Typhoon sudah beberapa kali mengadu nyali dengan F-22, demikian juga Rafale. SAAB Gripen sudah menjadi langganan dalam latihan-latihan NATO; sedangkan Swedia sendiri sengaja mengirim Gripen-C/D ke latihan Red Flag untuk meningkatkan compatibilitas ke sistem NATO, dan melihat upgrade yang diperlukan.


Sedangkan Russia yang relatif tidak mempunyai teman, bagaimanakan caranya mereka mengetes Su-35 dengan pesawat lain?


Apakah yang menjamin semua sistem di Su-35 (yang unproven) sudah pasti 100% tokcer?


Apakah yang menjamin pesawat ini PASTI tidak akan terkalahkan oleh Super Hornet, atau F-35, sebagaimana di-klaim Ausairpower? (Pssst... kemungkinan besar sih TIDAK BERDAYA!)


Yah, baru-baru ini, Russia mengirim Su-35 ke Suriah, dalam rangka mengetes pesawat ini lebih jauh. Kita lihat saja beritanya. Menurut penulis, pilot-pilot Su-35 di Suriah, akan lebih memakai Sukhoi mereka seperti Su-27.

 

10.    Faktor X -- Efek gentar yang mana? Sebenarnya sudah terlalu banyak tehnologi militer Russia yang sudah jatuh ke tangan negara-negara Barat, daripada sebaliknya.

 

Pernah mendengar kalau Russia berhasil mendapatkan F-16 untuk dianalisa? KALAU sampai ini terjadi, tentu saja akan menjadi skandal besar untuk dunia Barat. Untuk Russia, tehnologi tercanggih yang tercolong dari Barat, adalah dalam bentuk F-5A, dan F-5E yang diperoleh Vietnam.

 

Sebaliknya Uni Soviet, dan kemudian juga Russia, tidak hanya sudah kecolongan tehnologi militer sekali, tetapi berkali-kali.

 

Semasa perang dingin saja, US sudah mendapat banyak copy dari MiG-15, -17, dan -21 dalam perang Arab-Israel. Tentu saja, Indonesia juga turut berperan membocorkan rahasia Soviet, dengan menghibahkan MiG-21 dalam kondisi yang masih laik terbang, ke paman Sam di tahun 1969.


Harta karun terbesar yang didapat dari Uni Soviet, datang pada 6-September-1976, ketika Viktor Belenko, memutuskan untuk membelot ke Jepang, dengan membawa MiG-25P, pesawat yang sewaktu itu menjadi "anak emas" Soviet, dan mendorong program F-X yang membuahkan F-15. Akan tetapi, ternyata....

Yah, ternyata MiG-25P pesawat lemon, yang jauh ketinggalan jaman (untuk standard tahun 1976)!


Sewaktu Uni Soviet runtuh di tahun 1989, dan kemudian Russia harus berada di ambang kebangkrutan sepanjang tahun 1990-an, US tentu saja tidak segan-segan untuk membeli banyak kado berupa MiG-29, dan Su-27 dalam kondisi laik terbang.

 

Artikel dari Air & Space Smithsonian ini mengungkap lebih lanjut berapa banyak yang sudah dipelajari dari MiG-29. Oh, dan Su-27 juga bukan pengecualian. Pemerintah US sudah pernah membeli 2 Su-27 dari Ukrania untuk dipelajari lebih lanjut.

 

Yang lebih menyakitkan lagi, perusahan private Pride Aircraft Inc. bahkan pernah menjual 2 Su-27 yang sudah di “de-militarized” ke publik. Pernah mendengar cerita yang sama dengan F-16?

 

Catatan Akhir: Sepanjang sejarah konflik di udara sejak berakrhinya perang dunia II, belum pernah negara yang menggunakan armada udara berbasiskan sistem Soviet yang terbukti cukup berhasil untuk menghadapi negara yang menggunakan pesawatnya menurut sistem Barat.

 

Su-35 tidak mempunyai cukup keunggulan untuk mengubah ekuasi yang sudah dituliskan dalam sejarah ini, justru karena semua faktor yang sudah dituliskan disini.



Kesimpulan Akhir:

Apakah benar Su-35 lebih unggul dibandingkan F-18 Super Hornet (atau F-35) sebagaimana diceritakan dengan sangat menarik oleh Ausairpower?



Jawabannya: TIDAK MUNGKIN BISA MENANG! 

Perbedaan terbesar antara pesawat tempur buatan Ruski, dan pesawat tempur Barat adalah tipe Barat sebenarnya sudah mendapat PERIODICAL UPGRADE dari tahun ke tahun. Semua pesawat tempur Barat non-Stealth, seperti F-15, F-16, F-18, dan ketiga Eurocanards; terus-menerus mendapat upgrade sejak artikel tersebut ditulis, sedangkan Su-35 hanya berlari di tempat saja. Tidak bisa kemana-mana. 

Semakin hari, tentu saja perbedaan kemampuan antara Pespur Barat, dan Su-35 semakin terbuka lebar!



Update


Su-35 dalam artikel ini sebenarnya adalah versi S, atau versi lokal untuk AU Russia. Negara yang membeli Su-35, hanya akan diperbolehkan untuk membeli versi Kommercheskiy, alias versi Export downgrade, yang kemampuannya sudah pasti akan jauh lebih lemot. Dalam hal apa? Kita tidak akan tahu, karena transparansi transaksi persenjataan dengan Rosoboronexport akan buram.

Artikel ini sebenarnya sudah agak ketinggalan dibanding perkembangan sepanjang 2016 ini. Untuk versi yang lebih baru, silahkan mengikuti interview fiktif dengan "pejabat" yang mendukung pembelian  Su-35K

Beberapa link lain yang menarik:

Belajarlah, dan anda akan mendapat!

Semua artikel Su-35 dalam blog ini didasarkan atas pengetahuan umum, bukan khalayan seperti dalam blog fiksi ilmiah Australia Air Power.

4 comments:

  1. begitulah korban iklan. di mana mana pesawat tempur barat lebih maju dan lebih hebat. akrobat berbeda dengan perang udara sebenarnya. saat Su 35 menari nari akrobatik sudah di lock oleh F 16. saat su 35 tau dia ter "lock" , rudal udah lepas. jatuhlah su 35. kalau pakai su 35 sebaiknya jangan ikut perang. ikut saja lomba akrobat... kasian negaraku.. masih saja salah pilih.. su 35 belum battle proven. beda dgn f 16 dan f 18...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar, bung @Riza,

      Semua manuever keluarga Sukhoi memang selalu tampil memukau dalam Airshow, tetapi semua manuever tsb secara taktis sebenarnya tidak akan berarti banyak dalam pertempuran udara yg sesungguhnya.

      Pilot Typhoon UK sendiri mengungkapkan kalau dalam atraksi udara, Typhoon tidak akan dapat menandingi F-22, yg juga diperlengkapi dengan TVC, seperti Su-35. Tetapi dalam latihan tempur, pilot F-22 yg mencoba bermain TVC hanya akan tertembak jatuh vs Typhoon yg non-TVC.

      Kelemahan terbesar Ruski: mereka belum pernah mencoba kemampuan TVC Su-35 vs pesawat tempur Barat manapun.

      TVC di F-22 sebenarnya diperuntukkan mengubah arah pesawat sewaktu terbang "stealh", bukan untuk manuever pertempuran jarak dekat.

      Sebaliknya, Russia memasang TVC di Su-30SM, dan Su-35 justru untuk bertempur jarak dekat!

      Sekarang, pilot F-22 sudah belajar dari kesalahan mengandalkan TVC utk mengadu manuever. Sebaliknya, pilot Sukhoi Ruski belum pernah mendapat pengalaman yg sama.

      Delete
  2. Terimakasih bung DarkRider, tulisan bagus dan mencerahkan, mudah2an pihak TNI bisa sepaham.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Trmksh atas komentarnya, bung @arief

      Keluarga Sukhoi, tidak seperti berita/rumor/propaganda yang sekarang merebak, biar bagaimanapun juga memang adalah pesawat yang sangat merugikan kepentingan Nasional dibandingkan sebaliknya:

      Semua artikel lain re Su-35 dalam blog ini:
      http://gripen-indonesia.blogspot.co.id/search/label/Su-35

      .. dan kenapa Gripen-E adalah pilihan yang paling ideal untuk menjaga kedaulatan NKRI, sekaligus menjamin masa depan negara kita sampai sekurangnya 50 tahun kedepan:
      http://gripen-indonesia.blogspot.co.id/search/label/Kebutuhan%20vs%20Keinginan

      Delete