Tuesday, January 12, 2016

Bagian Kedua: Keunggulan SAAB Gripen secara nilai ekonomis, dan jangka panjang! (UPDATED 26-Feb-16)

Pespur mana yang akan menjadi pengganti BAe Hawk-209 di masa depan?
KF-X? Sukhoi? 
Pikirkanlah baik-baik! UANGNYA DARI MANA?
TT-0207 di Pekanbaru 
(Gambar: Peter de Jong, Airliners.net)
Dengan sudah berakhirnya liburan tahun baru, sudah saatnya kembali menulis post baru, yang kali ini akan berkonsentrasi penuh menuliskan nilai ekonomis jangka panjang pilihan dari SAAB.

Sebelumnya sudah dibahas dalam bagian pertama, kalau pilihan dari SAAB akan memberikan keuntungan untuk memenuhi semua persyaratan seperti yang digariskan ke dalam Pasal 43, dari UU no.16/2012. Boleh dibilang, sebenarnya kalau memang Indonesia membutuhkan pesawat tempur yang paling memenuhi syarat untuk memenuhi semua persyaratan yang digariskan dalam Undang-Undang diatas, sebenarnya TIDAK PERNAH ADA PILIHAN LAIN!


Apakah semua keuntungan ini sudah berakhir disana?


Nilai ekonomis jangka panjang: Kenapa Indonesia membutuhkan SAAB Gripen



Pertama-tama patut diingat terlebih dahulu; kalau sebelum pembelian Sukhoi di tahun 2003, sebenarnya Indonesia belum pernah mengoperasikan pesawat tempur bermesin ganda. 

Saat ini TNI-AU mempunyai 6 skuadron pesawat tempur jet, ditambah 1 skuadron pespur LIFT (T-50).
  • Dua skuadron (Sku-01, dan Sku-12) mengoperasikan BAe Hawk 209/109, 
  • Dua skuadron (Sku-03, dan Sku-16 yang baru dibentuk) mengoperasikan F-16, 
  • Sku-14 mengoperasikan pespur ringan F-5E, 
  • Sku-11 mengoperasikan Su-27/30.
  • Sku-15 mengoperasikan T-50 LIFT (Pesawat latih/tempur, tapi kemampuannya sebenarnya hampir sebanding dengan F-5E)
Lalu bagaimana dengan perencanaan jangka panjang untuk armada pespur TNI-AU dimasa depan?

BAe Hawk 209 yang sekarang beroperasi di Sku-01, dan Sku-12, sebenarnya dibeli pada pertengahan tahun 1990-an. Ini adalah tipe pesawat tempur subsonic, dengan biaya operasional yang kurang dari setengahnya saja dibandingkan dengan F-16. Tidak hanya F-5E di Sku-14 yang sudah sekarat, dalam tempo sekitar 10 - 15 tahun lagi, Indonesia juga sudah harus berpikir untuk mencari pengganti BAe Hawk-209.

Kalau Indonesia berpikir "saatnya menambah Sukhoi Su-27 atau Su-30"? 
Dengan asumsi jumlah jam terbang yang sama saja, ini artinya Sku-11, yang mengoperasikan Sukhoi dengan biaya operasional Rp 400 juta / jam / unit, sudah akan menelan jauh lebih banyak dana dibanding 6 skuadron yang lain.

Lagipula, mengoperasikan lebih banyak dari 16 Sukhoi, bukan berarti biaya operasionalnya akan jauh lebih murah dibanding Rp 400 juta, seperti sudah dilaporkan di tahun 2014 yang lampau. Uni Soviet (dahulu kala) tidak pernah merancang pesawat ini sebagai tipe yang perawatannya mudah, ataupun murah. Pengalaman dari India, yang mengoperasikan lebih dari 200 pesawat saja sudah menjadi saksi, kalau tipe ini sebenarnya adalah tipe yang memang haus spare part.

Lah, lantas.......uangnya darimana?

Belum lagi menghitung kalau usia pespur buatan Russia, sebenarnya tidaklah dikenal bisa berumur panjang seperti layaknya rata-rata pespur buatan Barat, yang minimal tahan 8.000 jam terbang, atau 30 tahun; dan biasanya masih terus dapat diperpanjang lagi.


Bagaimana dengan KF-X?
Ini adalah pesawat Korea, yang menurut rencananya akan bermesin ganda. Mengingat mereka mengandalkan Lockheed-Martin sebagai partner ToT utama, dan mereka sudah menjadi langganan pembeli mesin GE F404 (untuk T-50), kemungkinannya cukup besar, kalau jenis mesin yang dipakai di KF-X adalah dari tipe GE F414G.

Hasil research dari IHS Jane's menuliskan kalau biaya operasional (CPFH) pespur terdekat (Super Hornet) dengan 2 mesin GE F414, dapat mencapai nilai ekonomis $11,000 / jam. Tapi angka ini eksklusif untuk US Navy, yang memang mengoperasikan ratusan pesawat di atas 10 kapal induk. Australia, yang hanya mengoperasikan 24 pesawat (sewaktu laporan ini dibuat) melaporkan biaya operasional untuk pesawat yang sama bisa mencapai $24,000 / jam.

Perbedaan disini adalah NILAI EKONOMIS. Siapa yang membeli, dan mengoperasikan lebih banyak dari satu jenis pesawat tempur saja, dengan sendirinya dapat menekan biaya operasional agar seekonomis mungkin, tanpa mengkompromikan keamanan.

Fokus dari desain Korea sendiri akan merencanakan KF-X akan mempunyai kemampuan gamang yang "melebihi F-16". Alhasil, walaupun menggunakan mesin yang sama dengan Super Hornet, kemungkinannya justru cukup besar kalau KF-X biaya operasional ekonomisnya justru akan menembus $20,000 / jam. Ditambah lagi, faktor lain yang perlu diperhitungkan, pada saat ini KF-X tidak direncanakan untuk diproduksi melebihi 250 unit. Biaya operasionalnya akan terjamin luar biasa mahal!

Indonesia berencana membeli 50 KF-X, kemungkinan juga diperuntukkan sebagai pengganti BAe Hawk-209 seperti diatas.

Silahkan menghitung sendiri! Dengan biaya operasional, sekurang-kurangnya $20,000 / jam, atau kemungkinannya hampir pasti bisa 50 - 80% lebih mahal lagi (karena jumlah produksi KF-X yang sedikit, dan ini adalah pesawat yang sama sekali baru!); kita kembali ke pertanyaan yang sama dengan Sukhoi.

......uangnya dari mana?


Dalam hal ini, pilihan Eurofighter Typhoon, Dassault Rafale, ataupun Sukhoi Su-35 justru akan lebih parah lagi. 


Apakah sudah menghitung berapa jumlah tipe pespur yang sekarang dioperasikan TNI-AU? Ketiga tipe diatas adalah tipe yang sama sekali baru. Mengoperasikan mereka dengan jumlah sedikit, ala Indonesia, berarti biaya operasionalnya dapat melebihi 200 - 400% lebih mahal dibanding di negara asalnya.

Patut dicatat disini, walaupun bentuk dasarnya mirip, Su-35 TIDAK AKAN memiliki persamaan logistik dengan armada gado-gado Su-27/30 yang sekarang dioperasikan di Sku-11. Hal ini akan dibahas lebih mendalam dalam post mendatang.

Inilah kenapa, pembelian Su-35, sebenarnya akan sama saja dengan membeli Typhoon atau Rafale, atau bahkan sebenarnya lebih parah lagi, mengingat kesulitan-kesulitan "standard" yang datang dari Russia (Link: Moscow Times).

Apakah logis kalau berpikir bahwa Indonesia akan dapat mengoperasikan pesawat yang biaya operasionalnya bisa mencapai 10 - 20 kali lipat dibanding BAe Hawk, dengan jumlah yang sama????



Halo, SAAB Gripen!


Apakah Indonesia bisa menandingi Czech?
Czech Air Force yang hanya mampu mengoperasikan 14 Gripen-C/D sewaan,
sudah berhasil mengumpulkan 10,000 jam terbang di tahun 2010,
atau sekitar 170 jam terbang / tahun

Kalau memang Indonesia mau "menandingi negara tetangga" (AntaraNews), investasi yang diperlukan tidak bisa hanya terbatas dengan sekadar membeli pesawat yang "wah"; yang sebenarnya hanya bisa dibeli dalam jumlah cicilan, dan biaya operasionalnya bahkan belum tahu akan seberapa mahal.

Pilot-pilot Australia, dan Singapore yang sudah bertahun-tahun berlatih menurut standard NATO, akan menuntut sekurang-kurangnya 170 jam terbang / pilot / tahun, masih ditambah lagi ratusan, atau ribuan jam terbang di simulator. 

Untuk dapat "menandingi" kemampuan pilot negara-negara tetangga ini, Indonesia tentu saja juga harus dapat berinvestasi ke jumlah jam terbang / training yang seimbang.

170 jam terbang per tahun, per pilot. Ini adalah angka minimal.

Austria, yang mengoperasikan 15 Eurofighter Typhoon Tranche-1, adalah salah satu contoh jelek dari negara yang membeli pesawat diluar kemampuannya. Negara netral yang kecil, kenapa memerlukan pesawat seharga (estimasi) $125 juta dollar? Realitanya, anggaran militer mereka hanya cukup untuk 11 pilot, dan 1 trainee. Hanya 3 Typhoon yang siap terbang setiap hari, dan jumlah jam terbang mereka? Hanya 180 menit / di hari kerja, atau sekitar 156 jam / tahun!!

Yang lebih parah lagi, Typhoon Austria juga biasanya hanya bisa membawa 1 IRIS-T missile.

Mirip kan? Pesawat dngn biaya op super mahal, persenjataan super minimalis,
jumlah jam terbang yang belum tentu "bisa menandingi" negara tetangga,

dan infrastruktur pendukung juga masih berkekurangan
Foto: Composite dari: 
Typhoon Austria (Military-today.com) & Su-30MK2 Indonesia (Ival/Sandhiyudha, JakartaGreater)  

Kalaupun Indonesia, andaikata, bisa membeli pespur super F-22, tapi hanya dapat menerbangkannya 20 jam setahun; ini sih sama saja bohong! Pilot Singapore yang sudah berlatih dengan F-16 Block-52+ selama 200 jam per tahun akan akan dapat dengan mudah melibas F-22 Indonesia!

Belum lagi menghitung kalau pilot-pilot Singapore, dan Australia sudah berpengalaman dalam latihan mancanegara. Mereka dapat menggunakan sistem Link-16 data network, mempunyai AESA radar (F-15SG, F-18F), dan armada pespur mereka mendapat dukungan pesawat AEW&C integrated system, dan pesawat tanker untuk menambah jarak jangkau. Jumlah missile? Baik Australia, ataupun Singapore juga sudah men-stock ratusan WVR dan BVR missile modern.

Inilah kenapa SAAB Gripen, dengan biaya operasional yang hanya 60% dibandingkan dengan pespur single-engine favorit dunia, F-16, yang dipadukan dengan pesawat SAAB-340 AEW&C justru akan menjawab tantangan ini di masa depan.

Tidak akan ada yang bisa lolos: 
RTAF Gripen-D, dan SAAB-340 AEW&C
(Youtube)


Seperti Czech Republic, seperti diatas, yang sudah berhasil mengumpulkan 10 ribu jam terbang dalam 5 tahun, RTAF (Royal Thai Air Force) baru saja mengumpulkan 5 ribu jam terbang, pada 15-Sept-2015 yang lampau.

Dengan kebutuhan jangka menengah yang mencapai 3 skuadron (F-5E, dan BAe Hawk), kesemuanya ini juga adalah pesawat tempur ringan dengan biaya operasional minimalis, sekali lagi logika saja! Tidak mungkin mengganti kesemua ini dengan pesawat tempur yang biaya operasionalnya melebihi Rp 200 juta / jam. 

Sebenarnya dari segi nilai ekonomis, pilihan Indonesia memang tidak pernah banyak: F-16, atau Gripen?

Keunggulan Gripen dibandingkan F-16 yang buatan US, sudah cukup jelas. Keuntungan industri & tehnologi Pertahanan Nasional dalam jangka panjang akan jauh lebih menguntungkan. Yang lebih penting lagi, pembelian Gripen akhirnya juga akan mempelopori kemungkinan pembuatan NATIONAL NETWORK lokal. 

Untuk Sukhoi Su-35? Selamat berjuang untuk bisa mengumpulkan ribuan jam terbang seperti yang bisa didapat Czech Republic, ataupun Thailand! 

Tetapi untuk pembangunan tehnologi pertahanan Nasional, apakah Russia dapat memenuhi UU no.16/2012? Jangan bermimpi terlalu indah!

BISA KARENA BIASA !!!
Pilot yang jam terbang latihan-nya kurang, tidak peduli sehebat apapun juga tipe pesawatnya, tidak akan mempunyai banyak harapan, bahkan untuk berhadapan dengan pilot F-16, atau F-18 yang sudah berlatih menurut standard NATO!

Keunggulan Gripen diatas semua pilihan lain, seperti Kemampuan tempur, Fighter-Networking-System, AEW&C support, dan bagaimana SAAB juga sudah menawarkan Indonesia untuk membangun sistem Network Militer Nasional, akan terus dibahas secara bertahap dalam blog ini.


Sekian dulu.



No comments:

Post a Comment