Thursday, December 17, 2015

Tujuan utama Lockheed partnership dalam proyek T-50

.... akhirnya menampakkan wujudnya

Gambar: KAI

Inilah prototype pertama Lockheed untuk kompetisi pesawat T-X trainer di Amerika.


T-X program adalah proyek penggantian T-38 supersonic trainer (versi pengembangan dari F-5 Tiger) di Amerika Serikat. Semua T-38 yang sekarang ada, diproduksi hanya sampai tahun 1972; tentu saja masa pakainya sudah hampir habis. Jumlah yang dibutuhkan secara resmi disebut pada jumlah 350 pesawat, tapi bukan tidak mungkin kalau jumlah yang dipesan akhirnya akan mencapai 1000 unit.

Pesawat prototype ini berbasiskan dari T-50 yang juga sudah dioperasikan Indonesia, dengan beberapa perbedaan khusus; aerial refueling, cockpit dengan Large Area Display, dan lihat gambar dibawah: punuk di punggung pesawat.

Foto kedua: Prototype T-X KAI/LM (Gambar: KAI)

Kalau mereka memenangkan proyek T-X, bukankah ini akan menjadi berita bagus untuk KAI, dan Korea?

Er... pada akhirnya, tidak akan ada satupun, ulangi -- TIDAK AKAN ADA SATUPUN pesawat T-X ini yang akan diproduksi di fasilitas KAI. Sebaliknya pesawat untuk T-X program akan diproduksi di Fort Worth, Texas; pabrik pesawat utama Lockheed-Martin.

Pemerintah Amerika tentu saja akan membayar royalti ke KAI, dan Korea, dan mungkin akan mengimport beberapa sub-komponen yang sudah diproduksi di Korea. Tapi untuk seberapa lama, dan seberapa banyak mereka akan mengimport dari Korea? Ini pertanyaan lain.

Dalam jangka panjang, bukan tidak mungkin jumlah komponen import dari Korea akan diminimalisir. 

Jangan lupa kalau Lockheed-Martin memegang kontrol atas SOURCE CODE dari T-50, dan juga versi T-X-nya. Bukan tidak mungkin, kecuali untuk beberapa bagian yang memang tetap diimport terus dari KAI untuk sekadar formalitas, hampir semua komponen lain akan diproduksi langsung oleh sub-contractor Lockheed sendiri di Amerika Serikat.

Korea mungkin juga masih mendapat keuntungan untuk mencoba menjual T-50 yang sekarang sudah memakai medali "terpilih sebagai pesawat T-X" untuk USAF.


Apa yang kita bisa pelajari dari sini? 

Lockheed-Martin, tidak seperti kompetisi mereka yang lain (Boeing-SAAB, Northrop-Grumman, dan BAe Systems), sebetulnya sudah menghemat banyak uang untuk development cost dalam proyek T-X ini. Kontribusi finansial mereka dalam proyek T-50 sebelumnya hanya 13%; sedangkan 55% ditanggung langsung oleh pemerintah Korea, dan sisanya baru dari KAI sendiri.


Karena Korea tidak pernah memegang source code dari T-50, berarti pesawat ini memang TIDAK PERNAH menjadi murni milik Korea. Kunci kepemilikan atas T-50 memang selalu berada di tangan Lockheed-Martin sendiri, tidak peduli seberapapun sedikitnya kontribusi finansial mereka. 

Lockheed-Martin bebas untuk menentukan sesuka hati mereka apa yang boleh/bisa dipasang / dikurangi diatas T-50; sedangkan Korea tidak akan bisa mengubah satu pakupun!
Kerjasama proyek T-50 memang menguntungkan untuk industri pesawat terbang Korea juga, tapi biar bagaimana akhirnya Lockheed-Martin yang akan menarik keuntungan yang jauh lebih besar dalam jangka panjang.



Catatan Akhir: Tidak akan ada motivasi yang sama untuk Lockheed-Martin dalam mendukung kesuksesan proyek KF-X. Untuk apa?!?




No comments:

Post a Comment