Friday, December 18, 2015

Bagian Pertama: Perbandingan Saab Gripen-NG vs semua pilihan lain (termasuk KF-X)

KEUNTUNGAN nilai kerjasama strategis, dan industrial Saab Gripen untuk INDONESIA

Gripen-NG Demo model with full weapons payload
Apakah benar ini pilihan paling sesuai untuk Indonesia??
(Gambar:: Saab)
Semua model yang diperbandingkan disini adalah Saab Gripen-NG, Eurofighter Typhoon Tranche-3B, Dassault Rafale F3+, Sukhoi Su-35 , Lockheed-Martin F-16 Block-62+, dan KAI KF-X yang masih pesawat kertas.

Seperti judul diatas, apa yang diperbandingkan disini sudah jelas. Keuntungan semaksimal apakah yang bisa didapat dari masing-masing model yang diperbandingkan?



Penjelasan dari infografis ini, dan kenapa Gripen-NG justru menjadi pilihan terdepan:


Transfer-of-technology

Apakah pengertian ToT, atau peralihan tehnologi?

Ini artinya pembuat/penjual menawarkan kepada pembeli kesempatan untuk mempelajari sistem mereka secara lebih mendalam, dengan tujuan meningkatkan partisipasi industri lokal dalam jangka menengah-panjang untuk menjadi kontributor dari sistem mereka. Seberapa jauh alih tehnologi ini dapat diserap negara pembeli, hal ini sendiri tergantung komitmen negara itu sendiri.

Kesempatan untuk BELAJAR. Tawaran seperti ini, hakekatnya seperti pelajar lulusan SMA, yang mendapat tawaran beasiswa kuliah di luar negeri!

Saab merupakan pilihan yang terbaik untuk Indonesia, karena dua alasan:
  1. Gripen-NG hanyalah satu bagian dari paket lengkap yang ditawarkan Saab. AEW&C (Airborne Early Warning & Control), atau radar di udara, misalnya, adalah kebutuhan yang tidak bisa terelakkan dalam sistem pertahanan udara Indonesia, tapi kunjung tidak ada upaya untuk mengisi kebutuhan ini. Kenapa tidak sekalian memenuhi semuanya dalam satu paket?
  2. Reputasi Saab juga sudah sangat baik justru untuk memberikan 100% ToT ke negara pembeli dengan keuangan cekak, bahkan untuk negara seperti Czech, yang hanya bisa menyewa saja, atau membeli cicilan ala Thailand; "tanpa pernah memegang ekor".
Untuk para pemain lain; baik Eurofighter, dan Dassault sama-sama mempunyai reputasi yang baik dalam masalah ToT; hanya saja keterbatasan mereka hanya menawarkan paket pesawat tempur dan (lihat di bagian kedua), pesawat tempur keduanya justru akan terlalu mahal dari segi biaya akuisisi, dan operasional.

Jangankan membicarakan paket lengkap ala Saab, atau ToT dari pihak Eropa yang lain; baik Russia, ataupun Amerika Serikat, tidak dikenal sebagai kedua negara yang murah hati untuk urusan ToT -- dengan kata lain, luar biasa KIKIR

Dan dalam hal ini, KF-X tidak akan banyak bedanya dengan F-16 Block-62.

Pertanyaan untuk partisipasi Indonesia di KF-X: Memangnya Indonesia akan dapat banyak Transfer-of-technology? 

Jangan bermimpi indah terlalu banyak!

Link dari Korea Times
Artikel penulis sebelumnya mengenai KF-X, dapat ditemukan di link JakartaGreater ini. Versi Update yang lebih baru mengenai hal ini.... coming soon.... 

Kalau mau meningkatkan kemajuan industri lokal, dan dalam hal ini juga memenuhi persyaratan pasal 43 dari UU no.16/2012; Indonesia memang tidak pernah bisa berharap banyak mendapatkan apapun yang berarti baik dari US (dan murid setianya, Korea), ataupun Rusia. Hanya pihak-pihak dari Eropa, yang sudah pernah, dan pasti akan bisa memberikan tawaran untuk memenuhi Pasal 43 (3) mengenai "alih tehnologi".



Pemberian kontrol atas Source Code pespur 

Sebenarnya ini masih berkaitan dengan diatas. Seperti sudah dibahas dalam artikel sebelumnya; kontrol atas source code pespur, berkaitan dengan kepemilikan pesawat itu sendiri.

Selalu ingat! Kalau Indonesia membeli F-16, KF-X, atau Su-35; walaupun pesawat itu ngendok di hanggar dengan indahnya, pesawatnya sebenarnya bukan milik kita. 

Artikel dari Korea Times, yang sudah dikutip atas, sudah memberikan penjelasan singkat pembatasan yang diberikan di T-50. Ini sebenarnya sudah menjadi lampu kuning untuk pembelian dari US, atau secara tidak langsung; Korea, yang sebenarnya sangat tergantung dengan US. Russia yang sebenarnya juga tidak kalah pelit, dan mempunyai kebiasaan menjual Monkey model untuk export.

Ketiga penjual Eurocannards tentu saja akan memberikan source code kontrol ke tangan Indonesia, tetapi kembali Saab memberikan keuntungan satu-dua langkah lebih maju dibanding kedua yang lain.

Untuk penjelasannya lihat saja gambar berikut:

Gambar: SAAB
Yah, Gripen sudah berhasil mengintegrasikan beraneka ragam Air-to-Air missile, Air-to-Ground missile, dan Smart bomb buatan US, Inggris, Jerman, MBDA Eropa, Swedia, Israel, Brazil, atau Afrika Selatan. Apapun yang dimaui, ini terserah negara pembeli!

Kalau ada kesulitan supply senjata dari suatu negara, mungkin karena urusan politik, dsb, bukankah sangat mudah untuk beralih ke supplier lain?

Fleksibilitas yang sama tidak akan didapat dari semua pilihan yang lain. Keunggulan ini dikarenakan oleh sistem source code Gripen, yang memang sudah dioptimalkan untuk dapat mengintegrasikan hampir setiap senjata buatan pihak ketiga dengan lebih mudah, dan lebih murah. Saab sendiri mengklaim kalau Gripen adalah favorit kebanyakan perusahaan pembuat senjata pihak ketiga, justru karena keunggulan ini.


Penawaran partisipasi industri lokal

Kembali, ketiga pilihan Eropa paling unggul disini. Eurofighter yang ditawarkan melalui EADS Casa Spanyol, sudah mempunyai reputasi kerjasama yang baik dengan PT DI. Perancis memang akan menjadi pemain baru kalau Rafale terpilih, tapi reputasi mereka untuk ToT, dan mengikutsertakan partisipasi industri lokal juga tidak kalah baiknya.

Sedangkan Saab yang relatif juga termasuk pemain baru? 

Gripen-nya saja belum tentu terbeli, tapi mereka sudah menandatangani kerjasama alih tehnologi dengan BPPT.

Gambar: situs resmi BPPT

Website Jejaktapak, dan NKRI sudah menuliskan perihal ini dengan lebih mendalam.

Mana pernah Lockheed-Martin, atau Sukhoi mau menawarkan hal yang sama? 

Ini karena fokus keduanya hanya agar Indonesia sebagai negara pembeli yang setia, bukan pembeli yang bisa bertambah mandiri, lebih mapan, dan lebih matang dalam industri pesawat tempur. Mungkin Lockheed, atau KAI Korea akan memberikan sedikit paket offset untuk produksi beberapa komponen secara lokal, tapi ini berbeda dengan partisipasi penuh yang berkaitan dengan Technology-transfer.

Selalu ingat juga, kalau ketakutan akan embargo militer terhadap Indonesia sebenarnya juga sudah sangat tidak beralasan!

(Bersambung ke Bagian Kedua)

No comments:

Post a Comment