Tuesday, December 15, 2015

Analisis: Apakah mungkin TS-2701 dan TS-2702 yang RUSAK adalah pesawat BEKAS??

Sukhoi Su-27SK kembali dimuat ke dalam Antonov AN-124 untuk menjalani reparasi di Russia 
(Gambar:TNI-AU mil.id)
Website resmi TNI-AU baru saja melaporkan pada 9-Desember yang lalu, kalau TS-2701 dan TS-2702 akhirnya sudah dikirim kembali ke Russia untuk melakukan overhaul total. 


Service life dari Sukhoi Flanker generasi pertama ini memang tidak lama - hanya sekitar 20 tahun, atau sekitar 2000 - 3000 jam terbang saja. Dengan biaya operasional mencapai Rp 400 juta / jamdan mengingat persenjataannya saja baru tiba di tahun 2012, sangat meragukan kalau Indonesia sudah menghabiskan masa pakai TS-2701 dan TS-2702 secepat itu, atau mungkin memang pesawat buatan Russia ini memang umurnya jauh lebih pendek, atau sangat gampang rusak.

Patut dicatat juga disini, kalau tidak hanya TS-2701, dan TS-2702, tapi juga TS-3001, dan TS-3002; keempat pesawat ini sudah tidak pernah tampil di muka umum sejak tahun 2007. Tentu saja nasib TS-3001 dan TS-3002 sampai sekarang belum diketahui.

Teori awam lain mengenai hal ini:


Apakah mungkin Sukhoi batch pertama yang dibeli di tahun 2003 ini sebenarnya adalah pesawat bekas?

.... mungkin buatan tahun 1980-an, yang memang masa pakainya sudah sekarat?

Ini mungkin teori yang kurang masuk akal, tapi mari perhatikan baik-baik prosedur pembelian keempat Sukhoi pertama ini di tahun 2003.

Pembelian ini sendiri ditanda-tangani pada 27-April-2003. Tapi 2 Su-27SK ini ternyata sudah tiba pada tanggal 27-Agustus-2003, disusul kemudian oleh 2 lagi Su-30MK pada tanggal 1-September-2003.

Bandingkan dengan pembelian 12 Sukhoi dalam dua batch yang berikutnya.

Keenam Sukhoi berikutnya; walaupun kontraknya sudah ditandatangai pada acara MAKS di Russia, pada 21-Agustus-2007; dua dari tiga Su-30MK2 baru tiba pada tanggal 26-Desember-2008. Sedangkan pengantaran Su-27SKM masih terus molor lebih lama lagi; dua dari tiga Sukhoi Su-27SKM baru tiba pada 10-September-2010, sebelum pesawat yang terakhir akhirnya selesai diantar pada 16-September.

Keenam Sukhoi Su-30MK2 di batch yang berikutnya, kontraknya ditandatangani pada 31-Desember-2011. Dua pesawat yang pertama baru tiba pada tanggal 25-Februari-2013
Lihatkah apa yang aneh disini? Kalau pesawatnya diproduksi dari NOL, biasanya lamanya semua persiapan mulai dari penandatanganan kontrak, masa produksi, sampai delivery bisa mencapai 1 - 2 tahun, atau bahkan lebih. Tapi keempat Sukhoi tahun 2003 sudah selesai diantar dalam waktu kurang dari 5 bulan!


Masalah berikutnya: Ini bukan pertama kalinya Russia mencoba menjual Airframe / perlengkapan bekas ke negara client mereka, atau melakukan pelanggaran kontrak

Pada 25-Februari-2008 yang lalu, Algeria (Aljazair) sudah  menolak mentah-mentah delivery 12 MiG-29 SMT buatan RSK MiG. Memang apa yang dibeli Algeria adalah versi modernisasi dari MiG-29 dari Ukrania, dan Belarus; tapi kontrak mereka menspesifikasi kalau semua perlengkapan modernisasi yang dipasang ke dalam versi SMT seharusnya juga produksi baru, bukan produksi dari tahun 1990-an, seperti yang sudah dilakukan Russia.

Sebagai gantinya, Algeria menuntut penggantian kontrak untuk membeli Su-30MKA (buatan Irkut) baru dengan harga yang sama dengan MiG-29 SMT.

Pelanggaran dari spesifikasi yang ditentukan dalam kontrak transaksi persenjataan Russia memang sebenarnya juga bukan berita baru. 

India, negara customer terbesar Russia, sudah melaporkan sejak 2011, kesulitan berurusan dengan Rosoboronexport dalam masalah supply spare-part, warranty, permintaan perubahan harga dari nilai semula, atau bahkan permintaan agar kontrak tersebut ditulis ulang!
Kejadian-kejadian semacam ini membuka kemungkinan kalau Indonesia juga sudah dibodohi dalam kasus pembelian TS-2701, dan TS-2702.


Semua ini sudah menunjukkan kalau pengalaman memakai Sukhoi di Skuadron-11 sejauh ini tidak menunjukkan banyak hasil yang positif: 

  • Kalau memang ternyata TS-2701, dan TS-2702 ini bukan pesawat bekas, kita sekarang sudah bisa mengukur sampai berapa tahun lagi, sebelum semua Sukhoi yang lain akhirnya harus dikirim balik ke Russia untuk direparasi total. Belum lagi menghitung kalau pesawat buatan Russia memang tidak pernah di-desain untuk bisa beroperasi lama.
Su-27SK PLA-AF China dari batch pertama diantar Februari-1991,
tapi sudah harus dipensiunkan pada tahun 2009.
Umur hanya 18 tahun, bukan 20 tahun seperti estimasi Sukhoi OKB
(Gambar: China-defense.blogspot)
  • Tentu saja, biaya operasionalnya juga terlalu mahal untuk realita kemampuan anggaran pertahanan Indonesia, yang berkaitan dengan keterbatasan / tantangan ekonomi dewasa ini. Apakah bisa membayangkan kalau TNI-AU mengoperasikan 32 Sukhoi dengan biaya operasional Rp 600 juta / jam?
  • Berkaitan dengan point diatas, perhitungan biaya operasional Sukhoi ini dikutip dari tahun 2014, dan belum menghitung berapa biaya yang harus dimasukkan untuk pengiriman kembali TS-2701, dan TS-2702 (atau semua Sukhoi lain kelak) ke Russia, beserta semua biaya restorasi / perawatan disana. Yah, semua ini tentu saja akhirnya harus diperhitungkan kembali ke biaya operasional per jam yang baru.
  • Dari beberapa informasi awam, keeenam belas Sukhoi yang sudah dibeli Indonesia dari 2003 - 2011 sebenarnya adalah "monkey model"; atau versi downgrade untuk export. Ini bukan khusus untuk Indonesia, tapi memang prosedur standard penjualan senjata Russia ke semua pihak. Bahkan, China, dan India; walaupun keduanya sudah meng-import senjata Russia dengan nilai sampai puluhan milyar dollar, tetap saja tidak kebal dari masalah yang sama.
  • Faktor terakhir: Pengalaman Algeria, China, dan India menunjukkan kalau transaksi dengan pihak Russia itu sulit; transparansi kurang, dan kemungkinan juga pembeli tidak akan mendapatkan seperti apa yang diminta. 
  • Masalahnya untuk Indonesia: ketiga negara contoh lain seperti diatas, sudah jauh lebih berpengalaman bertransaksi dengan Russia. Faktor lain yang memperparah: Indonesia justru sudah menimbun dosa menghibahkan MiG-21 F-13 ke Amerika di tahun 1969.


Mengingat semua masalah diatas, lantas kenapa TNI-AU masih menginginkan untuk membeli Su-35?

Atau pertanyaan yang lebih baik:

Apakah yang bisa menjamin kalau Su-35 akan menjadi pesawat tempur terbaik untuk Indonesia di masa depan?

Su-35SKI (Standard Kommerhchesky Indonesia) bisa dipastikan juga akan menjadi versi "monkey model", jauh dari spesifikasi dan kemampuan Su-35 yang sudah diiklankan di Ausairpower.net; apalagi mengingat Indonesia hanya kuat untuk membeli dalam jumlah cicilan. 

Bukan tidak mungkin akan terjadi tawar-menawar (pengurangan spesifikasi) agar harganya lebih murah...



No comments:

Post a Comment