Thursday, November 5, 2015

Pesawat tempur terbaik untuk Indonesia... favoritisme atau sesuai kebutuhan?

Apakah pilihan dukungan kita relevan dengan kebutuhan, dan keterbatasan Indonesia dewasa ini?

Gripen-NG demo - 2 drop tanks, 2 paveway-IV bombs, 2 Meteors & 2 IRIS-Ts 
(Gambar: SAAB)

Transfer-of-technology untuk Indonesia, 
undangan partisipasi industri lokal, transaksi langsung G-to-G,
RCS 0,1m2, Supercruise, jarak jangkau 4,000 km, RBS-15, Meteor BVRAAM, Selex AESA radar, 
fully-networked, Erieye AEW&C, Gallium-Nitride Next Generation jammer,
easy maintenance, STOL capability, & lowest operating cost
Kurang apa lagi?

Setelah setahun penuh menimba pengalaman di forum Kaskus militer, Jakarta Greater, dan di Analisismiliter.com, sudah saatnya untuk kembali berkonsentrasi penuh untuk meng-update blog sendiri. 

Selama setahun ini, penulis sudah banyak mendapati ribuan pertanyaan atau komentar yang kritis, supportif, beberapa yang emosional (atau sewot), dan akhirnya juga banyak komentar yang menimba ilmu. Semuanya ini bagus untuk membangun pengetahuan. Bagi yang sudah pernah bertukar-pikiran dengan penulis (GI, Gripen-Indonesia, atau D4rkR1der), pertama-tama mohon maaf dahulu kalau ada tulisan yang mungkin menyinggung anda. Semua itu tidak dimaksudkan sedemikian.

Penulis menjumpai beberapa trend yang tidak bisa dielakkan dalam semua pembicaraan di forum militer Indonesia -- judul artikel ini adalah pertanyaan pertama.






Kalau kita membicarakan tipe pesawat tempur terbaik untuk Indonesia, apakah pilihan atau dukungan kita berdasarkan favoritisme, atau relevansi kebutuhan?



Pertanyaan ini harus kita kembalikan ke diri kita masing-masing;
Pesawat apa yang kita anggap terbaik untuk Indonesia?

Berikut adalah sebagian dari komentar yang sering dijumpai penulis:

"Wah, pesawat itu terkenal ditakuti negara-negara lain!" 
"Pilihan ini mempunyai detterent efek yang tinggi!" 
"Kita akhirnya bisa ikut program membuat pesawat tempur sendiri dari NOL" 
Atau komentar favorit penulis -- "pesawat tempur kita harus anti-embargo!"

Kalau kita mendukung satu pilihan, hanya karena pilihan itu adalah favorit semata, biasanya kita justru akan mencoba mengesampingkan, tidak mau mendengarkan sisi negatif tentang pilihan Pilihan kita sudah tidak lagi berdasarkan logika, tetapi pilihan ini sebenarnya sudah menjadi pilihan yang emosional

Kita akan cenderung akan tersinggung kalau mendengar pilihan ini tidaklah sempurna, tapi kenyataannya, memang tidak ada pilihan yang sempurna.

Yang sering dijumpai penulis; komentator yang biasanya sudah mempunyai pilihan favorit cenderung malah lebih memihak kepentingan negara penjual, daripada kepentingan Indonesia sendiri!

Ini justru lebih menakutkan! 


Bukankah kalau kita membahas hal-hal militer ini, seharusnya kita menempatkan kepentingan Indonesia yang teratas? BUKAN kepentingan Russia, Amerika, Korea (atau dengan kata lain, Amerika juga), ataupun negara-negara Eropa manapun, termasuk Swedia!


Belajarlah mendukung pilihan anda menurut relevansi kebutuhan, dan keterbatasan Indonesia!


Apakah kita mau duduk, dan berpikir dengan kepala dingin, lalu bertanya sendiri:

Sebenarnya, dari semua pilihan yang tersedia, pilihan mana yang paling relevan dengan realita kelebihan / keterbatasan Indonesia, baik secara diplomatis/politik, atau finansial? 

Apakah sebenarnya yang dibutuhkan Indonesia untuk MENJAWAB TANTANGAN ABAD ke-21 ini?

Pilihan manakah yang akan paling menguntungkan dalam jangka panjang untuk industri pertahanan Indonesia?

Pilihan manakah yang paling dapat memajukan sistem pertahanan Indonesia dibandingkan sekarang?

Berapakah anggaran pertahanan Indonesia? Seberapa prospeknya kalau anggaran ini akan terus meningkat dari tahun ke tahun?

Patut dicatat disini, tingkat kemakmuran bangsa Indonesia sendiri, tentu saja mempengaruhi batasan seberapa tingginya anggaran pertahanan.

Berkaitan dengan diatas - apakah Indonesia sebenarnya menghadapi ancaman agresi militer langsung dari negara lain?


Menurut penulis sendiri, SAAB Gripen adalah pilihan yang paling memenuhi kebutuhan Indonesia


Pada 22-Oktober-2015 yang lalu, menurut CNN Indonesia, SAAB akhirnya menawarkan paket sistem pertahanan udara yang lengkap ke Indonesia. Penawaran ini tidak hanya terbatas kepada SAAB Gripen, yang pada awalnya diajukan untuk menjawab RFI dari TNI-AU untuk pesawat tempur pengganti F-5E.

Tulisan penulis yang pertama sebenarnya hanyalah komentar awam dalam Defense-Studies.blogspot.co.id. Ini memang salah sendiri memilih nama komentator "Gripen for Indonesia", konotasinya memang menjadi lebih emosional / favoritisme. Tapi penulis tetap kaget ketika dipertanyakan, adalah penulis adalah "sales rep" dari SAAB Indonesia.

Kenyataannya - SAAB Gripen sebenarnya BUKAN pesawat tempur favorit penulis!

Tidak ada pesawat tempur di dunia yang sempurna; masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya sendiri. Dan untuk masing-masing negara, akan ada satu pesawat tempur yang paling ideal untuk kebutuhannya.

Blog ini menanmpilkan kenapa tawaran Saab sebenarnya bukan hanya untuk semata menjawab kebutuhan pengganti F-5E, tapi juga untuk keberlangsungan masa depan sistem, dan industri pertahanan Indonesia.

Argumen "ketakutan akan embargo militer" sebenarnya juga sudah tidak relevan lagi dewasa ini, dan tidak layak untuk disangkut-pautkan dengan pemilihan Alutsista.






Penutup



Untuk menutup artikel ini, mari kembali mengulang apa yang seharusnya menjadi titik fokus utama pembelian setiap Alutsista:

PILIHAN MANA YANG PALING MENGUNTUNGKAN NEGARA?

PILIHAN MANA YANG PALING MEMENUHI KEBUTUHAN PERTAHANAN?

Dan terakhir,

PILIHAN MANA YANG AKAN PALING MENJAMIN KEMANDIRIAN PERTAHANAN?

Dari tiga pertanyaan yang mendasar ini saja, sebenarnya banyak pilihan seharusnya sudah dicoret dari daftar. Menurut penulis, jawabannya sudah jelas.


5 comments:

  1. Hebat. Salut Anda sudah mau belajar ke banyak pihak.

    ".....Setelah setahun penuh menimba pengalaman di forum Kaskus militer, Jakarta Greater, dan di Analisismiliter.com, sudah saatnya untuk kembali berkonsentrasi penuh untuk meng-update blog sendiri...."

    Satu pertanyaan saya: sudahkah Anda juga berbincang dan menggali info (ilmu) dari pengguna langsung? Pilot, mekanik, atau personel dari TNI AU kita tercinta?

    ReplyDelete
  2. Trmksh atas komentarnya.
    Sy memang hanya pengamat awam; lebih menjadi penghuni internet, dan melakukan analisa2 yg berdasarkan informasi publik yg sudah tersedia.

    Tentu saja sy tidak mempunyai koneksi, atau pengalaman untuk berkomunikasi dengan pihak2 yg anda sebut.

    Untuk saat ini, sy akan mencoba lebih aktif meng-update blog ini dahulu.

    ReplyDelete
  3. Jadi...pesawat tempur favorit admin kalau bukan saab gripen lalu apa?

    ReplyDelete
  4. Jadi...pesawat tempur favorit admin kalau bukan saab gripen lalu apa?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin Colonial Mk VII Viper dari Battlestar Galactica?

      :D

      Ini tidaklah penting.

      Secara tehnis, kenyataannya tidak ada satupun model pesawat tempur yang sempurna.
      Setiap desain adalah suatu kompromi; masing2 mempunyai kekuatan, maupun kelemahannya sendiri.

      Konteksnya, kita harus memperhatikan kalau pesawat tempur yang ideal untuk setiap negara, akan selalu menjadi model yang memenuhi kebutuhan, dan bukan keinginan / pilihan favorit kita sendiri.

      Bagaimana dengan kebutuhan Indonesia?

      ## Pertama-tama, harus selalu diingat kalau anggaran pertahanan kita itu kecil.
      Kurang dari $7 milyar, atau hanya 25%-nya Australia.

      Biaya operasional pespur tidak boleh semahal Sukhoi, yang Rp 500 juta/jam; yang lebih mahal dibandingkan F-15SG Singapore, ataupun F-18F Australia.
      Ini sih hanya pemerasan keuangan rakyat.

      Jadi disini saja, semua model twin-engine; Sukhoi (variant manapun), Typhoon, Rafale, dan IF-X semuanya sudah harus dicoret dari awal.

      Hanya tesisa F-16, dan Gripen; dua model single-engine yg biaya opnya terjamin dibawah Rp100 juta; dan diantara keduanya, Gripen lebih murah 40%.

      ## Kedua, kita akan membutuhkan penjual yg memenuhi persyaratan UU no.16/2012,
      terutama untuk memenuhi persyaratan Alih tehnologi, dan keterlibatan industri lokal.
      Tidak cukup disana; upgrade, dan kedaulatan operasional pespur harus bisa terjamin untuk 30 tahun ke depan.

      Saatnya mencoret semua produk yang asalnya dari Moscow, atau Washington DC, yang hanya mau menjual Versi Export Downgrade: Sukhoi, F-16, dan IF-X.

      Hanya ketiga pembuat Eurocanards yang akan mampu memenuhi kebutuhan ini, sayangnya, seperti diatas; Rafale, dan Typhoon dinilai terlalu mahal (walau sebenarnya masih lebih murah vs IF-X, atau Su-35).

      Disini saja, hanya Gripen yang tersisa untuk memenuhi kedua persyaratan.
      Tidak hanya disana, peluang industri lokal untuk turut mengembangkan Gripen System sebenarnya sudah terbuka cukup lebar.

      ## Ketiga, seberapakah luasnya Indonesia?
      Dengan anggaran yg sedemikian kecil, dan jumlah lanud TNI-AU yang ada, sampai kapanpun pesawat manapun tidak akan bisa optimal menjaga Indonesia, bukan?

      Bagaimana dengan pespur, yg bisa dipangkalkan dimanapun juga, dengan kebutuhan support / maintenance, yg minimal?
      Bagaimana kalau juga bisa dikombinasikan dengan pesawat AEW&C agar kemampuan pengawasannya jauh lebih optimal?

      Bintang Gripen, yg sudah tekoneksi dengan Erieye AEW&C, sudah semakin bersinar lebih terang disini.

      ## Terakhir, kalau harus Gripen, apakah kemampuan tempurnya akan terjamin?
      Ya. Gripen sebenarnya sudah dirancang dari awal untuk dapat menghadapi lawan pesawat tempur manapun.

      Su-35 sih, dapat dipastikan akan dibantai, tanpa ada banyak perlawanan.

      Sensor Suite, Electronic Warfare, persenjataan, performa kinematis jauh lebih unggul, dan biaya op yg lebih murah, berarti lebih banyak latihan pilot.

      Kalau kita sudah mahir menguasai Gripen system, bahkan F-22 USAF-pun sebenarnya belum tentu lebih unggul.

      Yah, boleh suka, boleh tidak.
      Kembali, dalam konteks "pesawat tempur terbaik Indonesia", sebenarnya tidak pernah ada pilihan lain yang memenuhi semua peryaratan kebutuhan.

      Delete