Saturday, November 7, 2015

Kenapa Indonesia harus takut dengan Embargo militer (lagi)?!?

Sekarang, Indonesia sudah menjadi negara yang demokratis


Pertama-tama, sekarang ini, Indonesia sebenarnya termasuk salah satu negara yang paling demokratis di seluruh Asia-Afrika.


Dalam laporan index demokrasi  The Economist tahun 2014, Indonesia menduduki peringkat 49 - posisi yang lebih tinggi dibanding semua negara ASEAN yang lain. Kecuali Jepang, Korea Selatan (dua negara yang tingkat kemakmurannya juga jauh lebih tinggi), Timor Leste, dan Afrika Selatan, tidak ada satupun negara Asia-Afrika yang menempati posisi lebih tinggi daripada Indonesia.


Demokrasi Indonesia berarti kedaulatan berada di tangan rakyat Indonesia
Embargo militer terhadap Indonesia, berarti meng-embargo rakyat Indonesia. 

Dalam dunia dimana segala sesuatu sudah terkoneksi begitu cepat, mana ada rakyat, terutama dari negara demokratis yang lain, yang akan mendukung negaranya sendiri untuk meng-embargo Indonesia?

Justru sebaliknya, Indonesia seharusnya justru lebih khawatir kalau membeli senjata dari negara-negara yang non-Demokratis! 

Tentu saja, kemungkinan tidak terjadinya lagi embargo, tidak hanya semata ditentukan oleh seberapa demokratisnya Indonesia. Untuk membahas lebih dalam lagi:


Faktor-faktor penentu utama: Kenapa Embargo militer terhadap Indonesia sudah tidak mungkin terjadi lagi





SIPRI (Stockholm International Peace Research Institute) memuat daftar negara yang pernah / sedang di embargo dalam 50 tahun terakhir. Apa saja yang kita dapat perlajari dari sini?



Pertama, embargo militer terhadap Indonesia yang diberlakukan dahulu kala itu sebenarnya hanya bersifat jangka pendek  - dan terutama, berkaitan dengan Krisis di Timor Timur. Embargo dari Amerika memang berlaku sampai tahun 2005, tapi embargo yang berlaku dari EU (European Union) sendiri -- bahkan hanya 4 bulan!!

Yang tidak banyak diketahui orang, sebenarnya PBB ataupun semua negara di dunia (kecuali Australia karena alasan politis) - tidak pernah ada yang mengakui kedaulatan Indonesia atas Timor-Timur.

Ini tidak perlu dibahas terlalu mendalam. Singkat cerita - semuanya ini sudah berakhir; Timor-Leste sekarang sudah merdeka sendiri, dan Indonesia sudah tidak lagi terbebani hutang masa lalu yang serupa.

Kedua, perhatikan daftar SIPRI! Embargo militer itu sebenarnya tidak hanya semata ditentukan oleh Amerika Serikat, tapi bahkan juga dari PBB, dan dalam lingkup yang lebih kecil - EU (European Union). Kalau Embargo ini sudah diberlakukan PBB, atau boleh terbilang - seluruh dunia? Siapa yang akan berani menentang?

Bahkan Russia, atau PRC-pun tidak akan berani menjual senjata ke negara yang sudah mendapat embargo langsung dari PBB!

Tapi jangan khawatir!

Ketiga, untuk suatu negara dapat memenuhi persyaratan embargo militer dalam skala global, negara tersebut harus memenuhi persyaratan tertentu. Kembali melihat ke daftar SIPRI, kita akan melihat alasan-alasan utama yang dapat dipenuhi suatu negara sebagi berikut:
  1. Tidak ada pemerintah, atau terjadi status Anarchy, sehingga terjadi kekacauan dimana siapapun yang memegang senjata dapat berlaku semaunya. Lihat negara-negara seperti Yaman, Liberia, dan Sudan.
  2. Percobaan senjata nuklir secara illegal, atau diam-diam. Kita bisa melihat contoh Iran, Korea Utara, India, dan Pakistan (kedua negara terakhir ini sempat mengalami embargo militer dari US, dan Eropa selama beberapa tahun).
  3. Negara dengan pemerintah yang "otoriter" yang tidak segan mengangkat senjata terhadap rakyatnya sendiri. Lihat Suriah, Yugoslavia, atau peristiwa Tiannamen di PRC (PRC sudah di-embargo EU, dan Amerika sejak tahun 1989).
  4. Negara, yang biasanya juga mempunyai pemerintah "otoriter", yang sudah melakukan invasi terhadap wilayah negara lain secara illegal. Lihat contoh Iraq yang mencaplok Kuwait (Agustus, 1990), ataupun Russia yang dengan enaknya mencaplok semenanjung Crimea dari Ukrania di tahun 2014.
  5. Persyaratan Bonus: Hak Asasi Manusia. Hal ini biasanya juga kembali berkaitan dengan negara yang berpemerintahan Otoriter atau Authoritarian seperti diatas. Apakah ada kasus pelanggaran hak asasi manusia secara besar-besaran yang terorganisir langsung dari pemerintah?

Dari kelima persyaratan diatas - memangnya sekarang ini Indonesia mau masuk ke persyaratan yang mana agar bisa dimusuhi seluruh dunia?

Keempat, kalau mau terjadi embargo militer, Indonesia juga harus menjadi negara yang agressif; walaupun tidak "main caplok" seperti Iraq (1990), atau Russia (2014) -- kita harus "main gila" dan mencoba mengklaim wilayah negara lain.

Kita tidak perlu jauh-jauh dari mengambil contoh dari Argentina. Negara yang sudah ekonominya berantakan, tapi masih tidak kunjung capek untuk mengklaim kepulauan Falkland dari Inggris - salah satu negara anggota tetap dewan keamanan PBB, dan produsen militer besar dunia, yang mempunyai kemampuan melobi semua negara Barat, untuk menjatuhkan "embargo" terhadap Argentina.

Hasilnya, kita bisa melihat bagaimana kacaunya Angkatan Udara Argentina (Artikel: "Wave goodbye to Argentinian Air Force"). Dari kekuatan yang patut diperhitungkan di tahun 1980-an, sekarang hanya bisa hidup dari remah-remah. Sampai Argentina mau mengakui kedaulatan Inggris, atas Falkland, untuk selamanya juga mereka akan menderita!



Penutup


Ketakutan akan "embargo militer" dewasa ini sudah menjadi "phobia" yang tidak beralasan di Indonesia - dan sangat menyedihkan kalau faktor ini justru dijadikan alasan sebagai penentu pembelian Alutsista di Indonesia.

Kecuali rakyat Indonesia menginginkan untuk kembali ke jaman otoriter ala Orde Lama / Baru, dan menghapuskan segala perjuangan dari tahun 1998 sampai sekarang untuk menuju negara Indonesia yang lebih demokratis, dan pemerintah yang lebih mendengarkan rakyat -- kenapa masih khawatir dengan embargo?

Sebagai suatu negara demokrasi baru, kita memang masih harus banyak belajar. Tetapi kita patut berbangga, bahkan dalam keadan sekarang, negara kita sudah dapat patut dicontoh negara-negara lain. 

Kita justru harus bersyukur, kalau Indonesia juga sedang menikmati periode yang sangat damai dalam hubungan dengan semua negara-negara tetangga. Mereka semua mengakui kedaulatan teritorial Indonesia 100% kok, dan kalaupun terjadi peselisihan seperti di Ambalat (dengan Malaysia), kasusnya tidak pernah meruncing. 

Lebih penting lagi - dua negara dengan militer terkuat di Australasia -- Australia, dan Singapore, sebenarnya membutuhkan Indonesia untuk menjadi lebih kuat, demi menjamin keamanan kedua negara itu sendiri. Hubungan Indonesia - Australia akan dibahas di lain waktu --- kenapa hubungan yang semakin erat antara kedua negara justru semakin penting.

Sudah saatnya Indonesia tampil menjadi negara yang justru lebih percaya diri; Indonesia adalah bangsa yang pecinta damai, dengan sistem pemerintahan demokratis, dan politik luar negeri yang bebas-aktif!

Dalam keadaan yang demikian, memangnya siapa yang berani memberlakukan embargo militer ke Indonesia?

Apalagi kalau rakyat Indonesia sendiri berkomitmen untuk terus meningkatkan kedaulatan rakyat!


9 comments:

  1. Saya setuju soal tawaran pesawat Gripen dan Swedia. teknologi, Cost operasi, pengeluaran bahan bakar, dan training rutin juga lebih murah. Tapi bukan murahan. Banyak pertimbangan dalam pengadaan Alutsista. Salah satunya, sesuai dengan kebutuhan. Namun, isu embargo masih tetap menjadi bayang-bayang. Semua negara, yang masih ada hubungan dengan ASU, entah itu lembaga semacam NATO, atau apalah, pasti punya standar ganda. Lihat lockheed martin yang menarik ToT dari Korsel, dalam program IFX/KFX dengan alasan takut disaingi. Korsel kurang jeli soal ToT. Apakah ToT punya kadarluarsa yang mempengaruhi kebijakan.

    Jadi, sesuai pertanyaan "Dalam keadaan yang demikian, memangnya siapa yang berani memberlakukan embargo militer ke Indonesia?" Kita balik menjadi siapa yang takut memberlakukan embargo militer ke Indonesia?.

    Hibah beberapa F-16 sama saja membuang "bangkai pesawat" ke negeri kita. Kemarin saja rodanya tergelincir. Blunder. Anggota NATO = USA. Kalau yang diembargo Alutsista sekelas Pespur, bisa RI kewalahan. SAAB harus menjaminnya?

    Saya berharap pemerintah bisa memilih Gripen dalam MEF berikutnya. Tapi RI selalu harus belajar dari sejarah. Jangan nafsu harga murah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung @Earthworm,
      Komentar anda cukup panjang, dan mengutarakan bbrp masalah. Sy akan mencoba menjawab bbrp hal dahulu.

      Pertama-tama untuk Korea & KF-X:
      Ini bukan masalah standard ganda, tetapi memang benar; Korea yang sepertinya sama sekali tidak peka terhadap protectiveness policy dari pemerintah US.

      Korea menginginkan untuk mandiri membuat pespur sendiri, agar bisa menjualnya tanpa dicampuri program Foreign Military Sales yang dikontrol US.

      Tetapi, eh, kenapa mereka justru meminta ToT-nya untuk membuat pespur justru dari Lockheed-Martin, US?

      Ini saja sudah kesalahan besar dari awal.
      US adalah satu2nya negara yg 100% mandiri dalam tehnologi pespur, dan mereka tidak akan suka kalau terlalu banyak tehnologi mereka dicangkok ke pespur yg akan bisa menjadi saingan bagi pasar pesawat tempur mereka.

      Sebaliknya, Indonesia juga sebenarnya sudah blunder dalam ikut proyek KF-X untuk urusan ToT.

      Semua orang juga sudah tahu dari awal, kalau untuk urusan pespur, sebenarnya Korea akan sangat tergantung dengan US. Dan dengan sendirinya, untuk KF-X-pun mereka tentu saja akan rela lompat ke jurang demi "sekutu dekat"-nya.

      Sudah bukan rahasia lagi, kalau US tidak akan menginginkan kalau ToT KF-X akhirnya turun ke Indonesia.... .

      Ada bbrp suara di Korea bahkan mulai menyalahkan partisipasi Indonesia re kenapa US menolak ToT untuk KF-X.

      Kenapa orang2 Perancis dari dahulu terus membuat Mirage (kemudian Rafale), dan kenapa Eropa memutuskan membuat Tornado, dan Typhoon?
      Alasannya justru supaya industri pespur mereka tidak tergantung ke US!

      Jadi kalau mau mandiri, jangan terlalu tergantung kepada US. Ini hukum pertama, dan dalam hal ini, Russia tidak akan ada bedanya dengan US.

      Delete
    2. Kedua, untuk safety record Gripen, dan kenapa kita tidak perlu takut ketergantungan kepada komponen made-in-US.

      SAAB sebenarnya membeli beberapa komponen di Gripen, terutama mesin F414-GE-39-E, untuk alasan komersial.

      India juga membeli mesin F404, dan F414 kok untuk dipasangkan ke pespur buatan sendiri mereka, HAL Tejas.

      Keluarga mesin F414G sudah mengumpulkan 2,5 juta jam terbang di Super Hornet dengan safety record yang sempurna. Lifetime untuk mesin F414G mencapai 7,000 jam, dan dapat di refurbish kalau perlu.

      Dan bicara soal safety record -- sejak pertama kali dibuat, belum pernah ada Gripen yang jatuh karena kerusakan tehnis!!

      Betul -- memang sudah pernah terjadi 7 kecelakaan di Gripen...

      Tapi 2 yang pertama adalah flight control software error di Gripen prototype, dan sudah diperbaiki.

      1 kecelakaan karena terkena wake vortex dari Gripen yg lain; 2 kecelakaan karena pilot error, dan 1 kecelakaan karena posisi ejection lever yg kurang optimal, tanpa sengaja jadi ditarik keluar dalam manuever (Ini juga sudah diperbaiki).

      Kecelakaan terakhir, 10-Juni-2015, Gripen Hunggaria yang "belly landing" boleh dibilang adalah kerusakan tehnis pertama yang terjadi di Gripen -- rodanya tidak bisa keluar. Tetapi, pesawat ini dapat diperbaiki, dan akhirnya akan bisa kembali terbang!

      Pesawat ini justru termasuk yang paling aman untuk diterbangkan di dunia.

      Setiap kecelakaan yang terjadi, laporannya akan diberitakan secara umum, dan mendetail. Dan setiap kecelakaan Gripen yang sudah terjadi, menjadikan pesawat ini lebih aman daripada sebelumnya.

      Delete
    3. Untuk pernyataan anda ini:
      ==========================
      Kita balik menjadi siapa yang takut memberlakukan embargo militer ke Indonesia?
      ==========================

      Jawabannya sudah tertulis dalam artikel di atas.

      Apa yang akan menjadi alasan yang jelas untuk negara lain dapat memberlakukan embargo terhadap Indonesia?

      Action - Reaction Embargo adalah reaksi yg diberlakukan suatu negara / dunia terhadap tingkah laku suatu negara.

      Kalau tidak aksi, tidak mungkin bisa terjadi reaksi, bukan?

      Delete
    4. Lalu ngapain UK enggak setuju kalau Argentina beli Gripen, dengan ancaman menjatuhkan embargo? Soal Falkland waktu dahulu yah..? Emang SAAB dari UK?
      keyword
      Argentina Buying Gripens? Brits Say 'No Way'

      Oh... ternyata Gripen punya jeroan lebih dari 10 negara. Ada UK yang jadi salah satunya.

      Jika ada salah satu negara, di masa mendatang yang "kurang bersahabat" dengan negeri kita, pasti enggak bisa jalan tuh Gripen. Inget kasus Belanda yang menolak dibeli Leopard bekasnya dari Indonesia, karena alasan HAM. Pergesekan hubungan bilateral atau yang lebih luas lagi, dapat saja terjadi pada negeri ini. Arab Saudi, juga Turki kemarin di embargo Swiss, gara-gara perang yang mereka ikuti. Kalau negara yang dikelilingi 15 pangkalan asing ini perang, lalu alat-alatnya diembargo semua, mau pakai sumpit atau golok melawan mereka?

      Mungkin bisa juga sewaktu-waktu punya urusan negatif sama Russia. Tapi...

      Udah tahu kan... Info terkini, pada akhirnya petinggi kita sudah putuskan, agar kembali ke Russia juga

      Delete
    5. .... Maksud anda Russia, yang mungkin sudah dengan nyaman melupakan peristiwa2 pasca G30S, yang kemudian diikuti pembubaran partai komunis terbesar di dunia waktu itu, dan pengkhianatan dengan hibah MiG-21 F-13 ke Amerika Serikat?

      Anda sudah menyebutkan sendiri negara2 seperti Argentina, atau Arab Saudi.
      Anda sudah tahu bukan, kalau Indonesia tidak mungkin mencoba mengklaim territorial negara lain seperti Argentina, atau Russia?

      Anda melihat betapa bebasnya media berita di Indonesia?
      Dan bagaimana sering terjadi demonstrasi di DPR?
      Memangnya kalau hal yg demikian terjadi di Saudi Arabia, apa yang akan terjadi?

      Intinya, apakah anda menginginkan agar Indonesia menjadi seperti Argentina, atau Saudi? Dan dengan demikian memang sengaja mengundang agar embargo terjadi lagi?

      Transaksi militer kalau dengan negara yg demokratis, memang menuntut negara yg damai, yg pemerintahnya juga tidak sibuk menginjak-nginjak hak rakyat.
      Indonesia sudah sangat menjauh dari bentuk negara yg demikian, sy rasa anda juga sudah bisa melihat sendiri.

      Kita negara demokratis, dan bukankah salah satu motto TNI sekarang juga sudah berbunyi:"Bersama rakyat, kita kuat" ?

      Lagipula, apa anda pikir Russia itu mandiri dari segi industri pertahanan, dan terjamin akan dapat memastikan supply spare part yg aman?

      Mereka mewarisi industri complex warisan jaman Soviet --- sebagian besar dari daftar senjata yg dijual Rosoboronexport, sebenarnya harus di-import dari pabrik2 di Ukrania, dan Georgia -- dua negara ex-Soviet lain, yg skrg sudah meng-embargo Russia.

      Satu lagi yg anda juga tidak ketahui:
      industri militer Soviet sebenarnya tertinggal jauh secara tehnologi dibanding negara2 Barat. Kalau sebelum peristiwa Crimea, untuk memajukan industri mereka mereka dapat meng-import avionics utk Su-30SM, kapal Mistral, berencana membeli Spectra defense suite, dan mengimport bermacam2 optical sensor dari Perancis, atau UAV dari Israel ---- semuanya itu sudah tidak mungkin terjadi lagi!

      Industri militer Russia, dalam jangka menegah-panjang akan terus mengalami penurunan tanpa henti. Kenapa Indonesia mau mengambil resiko beli dari Russia?

      Silahkan membaca artikel ini utk melihat kerugian Indonesia, kalau misalnya memang akan memilih... pesawat inferior Su-35:

      Kenapa Su-35 akan menjadi kesalahan besar.

      Delete
  2. Artikel sudah agak lama tapi saya tergelitik untuk mengomentari. Dari 5 persyaratan sebuah negara diberikan embargo secara global lebih pantas untuk disebut alibi embargo. Lihatlah israil, apa belum cukup bukti untuk dijatuhkan embargo jika ditilik dari 5 persyaratan diatas. Nyatanya malah dibackup. Dengan demikian embargo dapat dilakukan kepada siapapun dengan 5 alibi diatas. Objeknya ? Terserah si bos

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh, tidak apa2 mengkomentari...

      Artikel ini sengaja ditulis justru karena alasan:
      Phobia akan embargo sebenarnya sudah tidak lagi beralasan dewasa ini; dan pembacanya masih cukup banyak.

      Untuk menjawab pertanyaan anda:
      ================================
      Israel sekarang ini sudah dianggap sebagai sekutu terdekat US; karena perpaduan alasan diplomatis, historis, politik, dan kontribusi dalam Perang Dingin. Dengan demikian mereka sudah mendapat kartu "bebas dari penjara" untuk selamanya!

      Semua negara lain tidak akan mungkin bisa mendapatkan kemewahan yang sama!

      Indonesia, pada khususnya, tidak pernah menjalin hubungan militer yang akrab, baik ke US, ataupun Russia. Ini justru membuat posisi kita lebih terjepit!.

      Untuk memahami lebih lanjut, Israel sebenarnya tidak mendapatkan "kartu bebas penjara" ini dengan cuma2; malah mereka harus berjuang selama puluhan tahun untuk mendapatkannya:

      =====================================================
      ## Setelah merdeka di tahun 1948; sebenarnya tidak ada satupun negara yg berani menjual senjata ke Israel; karena tekanan politik dari negara-negara Arab di sekitarnya. Untuk sementara waktu; Israel hanya bisa membeli pesawat2 bekas dari kiri-kanan, kebanyakan adalah barang sisa stock dari Perang Dunia II.

      Mereka mengkompensasi justru dengan lebih banyak training; yang membuat kemampuan pilot/tentara Israel jauh melebihi standard negara-negara Arab waktu itu.

      Keadaan "tanpa supplier" ini berlangsung sampai akhirnya, Israel berhasil melobi Perancis untuk menjadi supplier utama senjata Israel, mulai dari tahun 1950-an; yang dimulai dari pembelian Dassault Ouragan.

      ## Krisis Suez 1956 --- menguatkan hubungan militer antara Perancis - Israel; menjadikan Israel menjadi pengguna utama senjata Perancis.... sampai di tahun 1967.

      ## Setelah perang 7 hari di tahun 1967, sebenarnya Presiden Perancis Charles De Gaulle juga akhirnya sempat menjatuhkan embargo militer ke Israel; karena mereka tidak menyetujui keputusan Israel untuk melakukan "pre-emptive strike" ke Mesir.

      Tentu saja, US justru melihat arti strategis dari Perang Arab - Israel, sebagai testing ground untuk menguji senjata Barat vs Soviet; dan kemudian mulai menobatkan diri menjadi supplier senjata untuk Israel.... Inilah yang memulai hubungan dekat itu sampai sekarang!

      Pertamanya saja, US agak sungkan menjual F-4 Phantom; tetapi malah menawarkan A-4 Skyhawk (32 Skyhawk ex-Israel kemudian juga dihibahkan ke Indonesia!). Israel sendiri harus menunggu sampai 1970 sebelum mendapatkan Phantom II.

      ## Di tahun 1973, ketika keadaannya kembali memanas, sebenarnya MenLu US Henry Kissinger, memperingatkan Israel, kalau mereka tidak mengulangi pre-emptive strike seperti di tahun 1967. Kali ini Israel patuh; dan US menghadiahi Israel dengan supply senjata berkelangsungan untuk memastikan mereka tidak akan kehabisan stock pesawat, tank, senjata, amunisi, atau missile -- "Operation Nickel Grass".

      Delete
    2. Pada pokoknya dari jawaban sy diatas: Beberapa negara sebenarnya akan menjadi pengecualian, justru karena alasan strategis, dan politik!

      Contoh lain:
      Syria -- yg skrg disokong habis2an oleh Russia -- bukankah seharusnya juga harus dijatuhi embargo militer?

      Tentara Syria sendiri, sebenarnya lebih banyak menjatuhkan korban dalam perang saudara Syria, dibandingkan ISIS, ataupun grup-grup lain disana!

      Tetapi Syria adalah sohib Russia; sama seperti Israel - US -- karena itu mrk memenangkan "kartu bebas penjara".

      Sekali lagi, sekarang ini sudah tidak ada alasan untuk negara manapun menjatuhkan embargo ke Indonesia; kecuali kita mau bertindak sebodoh mungkin agar dapat terkena embargo lagi!

      Kita seharusnya bangga;
      Indonesia adalah negara yang pecinta damai, dan relatif menjalin hubungan akrab dengan semua negara tetangga kita.

      Hanya saja, hutang2 masa lalu kita, terutama terhadap US, dan Russia, akan terus membatasi kemampuan pertahanan Indonesia --- selama kita justru harus terus bergantung ke US, atau Russia.

      Sy juga sudah menuliskan artikel ini untuk summary hutang masa lalu Indonesia:

      gripen-indonesia.blogspot.co.id/2016/05/supplemen-daftar-export-tier-untuk.html

      Dan kenapa kita justru harus mulai berpaling ke supplier Eropa, dan meningggalkan status quo yang seperti sekarang:

      https://gripen-indonesia.blogspot.co.id/2016/05/peresmian-gripen-e-yang-pertama-18-mei.html

      Delete