Sunday, September 28, 2014

Gripen-E, sebagai pengganti tepat untuk F-5E TNI-AU

Memenuhi Kebutuhan Nasional, bukan Keinginan Pribadi
(Gambar: Saab)

TNI-AU berencana untuk segera menggantikan F-5E Tiger II di skuadron 14, yang berpangkalan di Lanud Iswayudhi. Dilaporkan bahwa Su-35 Flanker E, F-15 (ada yang menyebut tipe Silent Eagle, tapi kemungkinan kita mendapat bekas lagi), F-16 Block-62, Dassault Rafale, dan pilihan terakhir, JAS Gripen-E buatan Swedia.

SAAB saat ini adalah satu-satunya dari semua produsen tipe-tipe di atas yang sudah menawarkan ”100%Tehnologi Transfer” untuk Gripen-NG. Ini bukanlah pilihan yang bisa kita kesampingkan begitu saja.

Penulis berpendapat bahwa Gripen E adalah pesawat tempur terbaik di dunia ini. Memang mudah untuk “meremehkan” pesawat buatan Swedia ini. Gripen-E bukanlah pesawat yang memiliki daya dorong terbesar, bukan yang paling cepat, yang dapat membawa bom paling banyak, atau yang memiliki jarak jangkau paling jauh. Akan tetapi, ceritanya tidak berakhir disana.

Indonesia bisa belajar dari pengalaman Thailand, Brazil, dan Switzerland. Ketiga Angkatan Udara ini dihadapkan kepada masalah yang sama dengan TNI-AU sekarang ini; untuk mengganti F-5E Tiger II, pesawat tempur ringan tahun 1960-an yang sudah uzur. Ketiganya memutuskan untuk memilih Gripen (versi C/D untuk Thailand, pembelian di Switzerland hanya digagalkan referendum rakyat) sebagai pengganti yang paling sesuai.

Ketiga Angkatan Udara ini menolak untuk mengganti F-5E mereka dengan tipe pesawat tempur berat (seperti Su-35 dalam kasus Indonesia). Brazil menggugurkan Su-35 dan Eurofighter Typhoon di ronde pertama, dan Dassault Rafale di ronde akhir. Thailand sempat berpikir untuk membeli Su-30 untuk bisa menandingi semua negara tetangganya (China, India, Vietnam, dan Malaysia adalah pengguna Flanker). Sedangkan di Switzerland, Gripen-E menang atas Eurofighter Typhoon dan Dassault Rafale.

Ketiga Angkatan Udara ini juga menolak "the American option" (seperti F-16 Block 62 dalam kasus Indonesia). Super Hornet tidak pernah punya banyak harapan di Brazil. Thailand mempunyai pilihan untuk membeli F-16 Block-50/52+. Switzerland sudah menjadi pengguna Hornet C/D, akan tetapi Super Hornet juga tidak masuk hitungan di kontes yang terakhir. Ini dikarenakan Amerika terkenal pelit dalam masalah Tehnologi Transfer, juga kebiasaan buruk untuk mengancam embargo, dan juga mengontrol kepemilikan "source code" di software pesawat-pesawat tempur buatan mereka

Networking di Gripen C/D dan Saab 340 yang dibeli Thailand mendorong mereka untuk meng-upgrade F-16 ke Block50/52 dengan tambahan Link-16. Sebagai pembanding, menurut DCDA request yang diserahkan ke US Senate, F-16 Block-25+ (atau Block-52ID menurut versi DPR) bahkan tidak diperlengkapi dengan Link-16 Network. Versi radar APG-68 juga tidak pernah disebutkan. F-16 Block-25 adalah pesawat pertama yang memakai APG-68, sedangkan Block-50/52 biasanya diperlengkapi dengan versi 8 dan 9 yang jauh lebih modern.

Sama seperti Angkatan Udara ketiga negara di atas, Indonesia akan mendapatkan bermacam keunggulan yang tidak bisa diimbangi semua pilihan tipe yang lain, sebagaimana bisa dilihat sebagai berikut:


Biaya operasional terendah di dunia - Menurut Jane's, biaya operasional Gripen per jam hanya $4800 per jam. Ini berarti juga hanya 69% dibanding biaya F-16. Sedangkan Su-27/30 membutuhkan biaya operasional lebih dari $25.000 per jam. Ini berarti Indonesia bisa menerbangkan 5 Gripen E dengan biaya per jam yang sama dengan 1 pesawat sekelas Su-27/30/35 saja. Ini membuka kemungkinan untuk meningkatkan kualitas pilot kita dalam menerbangkan pesawat tempur kelas atas.


Performa dan jarak jangkau – Gripen-E memiliki kecepatan maksimal 2.204 km/jam, dan jarak jangkau 4.000 km dengan 3-external tanks. Dari segi manuever, Gripen-E  dengan desain delta-canard dianggap seimbang atau lebih baik dibanding tipe awal F-16 yang sudah termasyur lincah. Dan bukan cuman itu kelebihannya…


Supercruise - Gripen E ada salah satu tipe yang bisa melebihi kecepatan suara tanpa  menggunakan afterburner. Su-27/30/35 dan F-15SG Singapura mungkin bisa melaju    lebih cepat, tetapi tidak bisa lama2 krn harus memakai afterburner yang sangat memboroskan  bensin. Ini artinya, Gripen lebih mudah melakukan "interception" (penyergapan).  Gripen juga bisa memiliki keunggulan kinematis untuk menembakkan Meteor dari jarak yang lebih jauh dibanding F-35, Su-30MKM, F-18F, F-16V, atau F-15SG milik negara-negara  tetangga kita.


MBDA Meteor - Gripen adalah pesawat pertama yang dipersenjatai missile jarak jauh yang paling modern di dunia saat ini. Meteor dengan tehnologi pendorong Ramjet dianggap lebih baik dibanding AMRAAM C7 tipe terbaru yang di ekspor Amerika (dan sekarang dipakai Singapore dan Australia). Meteor juga lebih unggul dibanding R-77 tipe konvensional Russia yang sudah dibeli Indonesia dan Malaysia (kecuali tipe R-77PD masih dalam tahap development).


Logistik/Fleksibilitas: Gripen dirancang untuk bisa operasional di landasan "darurat" di masa perang. Dia bisa mendarat di jalan raya, asalkan ada cukup 800x16 meter jalan  lurus. Gripen bisa dipersenjatai/diisi bahan bakar hanya dgn 1 tehnisi, 5 orang terlatih dan 1 truk pengangkut. Indonesia dgn belasan ribu pulau, berpotensi bisa "menyembunyikan" Gripen E mereka di jutaan tempat. Sekarang ini, kalau Lanud Sultan Hassanudin, Roesmin Nurjadin, dan Iswayudhi berhasil di bom di hari pertama, TNI-AU kita mungkin sudah akan berantakan.


Radar - Gripen E sudah diperlengkapi Selex AESA radar, dan juga memiliki IRST (Infra-Red Search&Tracking) - ini memudahkan deteksi bisa mencari pesawat tipe F-35 (akan dibeli Singapore/Australia) di udara. Jika TNI-AU membeli Gripen E, untuk pertama kalinya kita akan memiliki radar AESA yang menjadi standar 50 tahun kedepan.


Networking - Gripen E memiliki data Network terbaik di dunia. "Satu target yang terlihat radar salah satu Gripen / radar di Darat terintegrasi, dapat dilihat semua Gripen lain." Saat ini, Sukhoi Su-27/30 di Skuadron 11 mempunyai airborne Network (TSK-2), tapi ini TIDAK compatible dgn transfer data dari radar2 TNI-AU di darat, atau semua tipe pesawat tempur TNI-AU yang lain. Sedangkan, F-16 Block 52ID, sama sekali tidak memiliki data network standard Link-16. Dengan membeli Gripen-E, kita bisa membuka era baru sistem pertahanan udara yang terintegrasi penuh dari Sabang sampai Merauke. Satu penyusup masuk, Gripen sudah siap mencegat!


Sebagai Pengganti Northrop F-5E (dan BAe Hawk 209) - Biaya operasional sama-sama murah, jarang jangkau jauh lebih baik, Gripen juga jauh lebih modern dan lebih cepat. Pembaca juga harus memperhatikan, sebentar lagi Hawk 209 / 109 yang dibeli TNI-AU di tahun 1990-an juga akan memasuki usia uzur. Gripen-E juga merupakan pengganti ideal untuk pesawat tempur ringan, subsonic buatan Inggris ini. Pembelian Gripen-E sekarang sebagai pengganti F-5E akan membuka kemungkinan untuk Indonesia membeli 32 Gripen-E lagi yang akan menggantikan Hawk 209 di Skuadron 1 dan 12.


Tehnologi Transfer & Support - Dgn tehnologi transfer 100%, kedaulatan Indonesia lebih terjamin dibandingkan mengandalkan pesawat tempur buatan Amerika. Hanya mesin F414G yang masih buatan Amerika, tapi dari segi support masih satu keluarga dengan tipe F404 yang dipakai KAI T-50i TNI-AU. Akan tetapi hal-hal yang penting, yaitu dari segi software "source code" dan persenjataan, Indonesia akan menjadi kebal embargo. Jangan pernah bermimpi mendapat keuntungan yang sama, kalau Indonesia memilih F-16 Block-62!


Peluang partisipasi dalam pengembangan Gripen NG – Saat ini Gripen-E dalam tahap development dengan Brazil sebagai partner utama Swedia. Dengan turut menjadi pembeli resmi kedua untuk tipe Gripen-E, Indonesia juga bisa meningkatkan kemampuan PT Dirgantara Indonesia dalam pengembangan pesawat tempur kelas satu ini.

Proyek KF-X dengan Korea Selatan, penulis berpendapat masa depannya sangat meragukan. Sekarang Korea sudah berkomitmen membeli F-35 (harga selangit & memakan biaya anggaran AU Korea). Banyak di Korea yang menyatakan bahwa kemungkinan besar KF-X akan dianggap tidak akan bisa cukup efektif dibanding membeli dari negara lain.

Korea juga belum cukup punya kemampuan/pengalaman mengembangkan pesawat dgn target ambisius spt ini. Jadi apakah partnership ini bukanlah langkah yang terbaik untuk Indonesia? Ini akan dibahas lebih lanjut di post lain di masa depan. 

Untuk sekarang, Indonesia harus mempunyai rencana cadangan; apa yang terjadi kalau KF-X gagal? 

Jangan lupa juga, bahwa pemerintah Korea Selatan masih mempunyai banyak alternatif pembelian pesawat tempur jenis lain untuk menggantikan KF-X. Dengan anggaran militer yang jauh lebih kecil, pilihan Indonesia akan jauh lebih terbatas.


Unmatched Regional Firepower: 4 MBDA Meteor, and  2 IRIS-T
(Gambar: Saab)

Indonesia, tunggu apa lagi?


Indonesia perlu merencanakan pembelian alutsita-nya dengan lebih baik, dan berhenti untuk sekadar main beli senjata yang kelihatannya “paling hebat”. Indonesia tidak perlu membeli senjata yang paling hebat, atau mengambil pilihan yang kelihatan “murah”. Indonesia memerlukan senjata yang tepat, efektif, dan sesuai untuk masa depan bangsa.


Gripen-E akan memiliki keunggulan secara tehnologi, network, support, kinematis, dan ongkos operasional dibanding pesawat-pesawat tempur regional seperti F-15SG dan F-16C/D Block 52 Singapore, F-18E Super Hornet Australia, dan Su-30MKM Malaysia.


Siapa yang bisa mengklaim kalau supercruise Gripen-E yang diperlengkapi AESA radar, dan IRST, dan dipersenjatai missile kelas atas Meteor dan IRIS-T tidak menimbulkan efek gentar di kawasan Asia Tenggara?


Dalam beberapa minggu ke depan, blog ini akan menampilkan perbandingan keunggulan-keunggulan Gripen-E dibanding pilihan-pilihan lain TNI-AU. 


Beberapa post menarik:

Gripen-E versus Su-35 Kommercheskiy (Versi Export downgrade)

Gripen-E versus F-16V versi Export Indonesia

Gripen-E versus F-18F Superhornet Australia

Gripen-E versus Dassault Rafale 
(Dua model yang non Versi Export)

3 comments:

  1. Bagaimana dengan mesin?? Bukankah tetap saja buatan AS, bukan Swedia, sehingga apa bedanya dengan F-16, rawan diembargo?

    "The Gripen E, a major upgrade of Sweden’s Gripen C, is powered by an American-made General Electric F414 engine. U.S. export law gives Washington veto power over any sale of the motor, even as part of a foreign warplane........"

    https://medium.com/war-is-boring/gripen-fighters-wont-save-the-argentine-air-force-545d53575ba

    ReplyDelete
  2. @Anto,

    Maaf, saya baru me-reply comment anda hari ini.

    ## Sebenarnya yang paling vital dalam setiap pesawat tempur adalah pertama, software code di computer/radar -- kemampuan untuk memprogram ulang radar untuk memasukan parameter misi tempur. Hal yang kedua adalah persenjataan pesawat tempur.

    Didalam kedua hal ini, terlepas dari adanya embargo atau tidak, Amerika akan mengontrol SETIAP pembelian senjata dari mereka. Ini berarti selama kita tetap memakai F-16, kemampuan tempur F-16 kita akan di kontrol supaya tetap satu tingkat di bawah F-16V Singapore atau F-18F Super Hornet Australia. Dari segi persenjataan, saya juga meragukan kalau Indonesia akan boleh membeli persenjataan yang setaraf dengan yang sudah dibeli Australia dan Singapore; AMRAAM C7 untuk BVRAAM, dan AIM-9X untuk WVRAAM.

    ## Dari segi mesin, kalaupun Gripen-E kelak masih memakai F414G, kita tidak perlu terlalu khawatir. Kita sudah mendapat tawaran 100% tehnologi transfer. Kebanyakan hal untuk reparasi dan servis F414G, Indonesia sudah pasti dapat belajar untuk mengerjakan sendiri, paling tidak sampai dengan taraf yang sama dengan yang bisa dikerjakan Swedia. Sedangkan untuk mencegah ancaman embargo, Indonesia juga bisa terlebih dahulu men-stock beberapa full spare mesin F414G juga, untuk memastikan Gripen-E tetap operasional di masa konflik.

    Jangan lupa juga, di masa embargo militer dahulu, bukankah kita masih bisa tetap mengudarakan F-16 kita dengan persenjataan lengkap dalam peristiwa insiden pulau Bawean? Beberapa analis awam bahkan kagum dengan kemampuan tehnisi TNI-AU untuk tetap dapat mengoperasikan F-16 kita di tahun 2004 -- pada saat krisis spare part sudah mencapai puncaknya.

    http://www.acig.org/artman/publish/article_428.shtml

    Untuk komentar ini baca di bawah foto TS-1602.

    ## Lagipula sebagai contoh kemandirian satu Angkatan Udara terhadap embargo militer US; IRIAF (Iranian Air Force). IRIAF masih tetap dapat mengoperasikan kira-kira 20 F-14A Tomcat. Tipe ini sudah dipensiunkan di Amerika, dan mesin TF-30 yang dipakai sudah lama tidak diproduksi lagi. Lalu bagaimana IRIAF masih dapat menerbangkan F-14A?

    Lihat saja foto F-14A dibawah yang difoto April-2012 di Tehran:

    http://theaviationist.com/2013/09/04/iranian-f-14-tomcat-camo/

    ## Sekarang, berita baiknya....

    Mesin F414G memang dipakai untuk test di Gripen NG 2-seater demonstrator, tetapi ada kemungkinan, mesin standar di Gripen-E akan memakai derivative dari Volvo RM12 -- Ini sebenarnya dibuat berdasarkan tipe GE F404 yang sudah diproduksi di Swedia under license; dan sudah dimodifikasi semaksimal mungkin untuk pengurangan RCS, maintenance yang lebih mudah, dan daya dorong lebih kuat. Kabarnya Swedia bisa memodifikasi RM12 agar mempunyai daya dorong yang sebanding dengan F414G.

    Dlm bahasa Swedia (pakai Goggle translate saja):
    http://www.nyteknik.se/nyheter/fordon_motor/flygplan/article2510693.ece

    Ini dikarenakan Swedia juga tetap mencari kemandirian dari US. Modifikasi dari Volvo RM12 sebagai mesin standar Gripen-E memang akan menjadi pilihan yang lebih aman, karena hanya 50% komponennya yg masih harus diimpor dari US. Sisanya semua diproduksi Swedia, dan dirakit disana. Untuk Indonesia ini juga akan menjadi faktor anti-embargo si Paman Sam yang sangat bagus.

    Ini akan saya tuliskan di ronde kedua comparasi ini.

    Trmksh

    ReplyDelete
  3. cocok buat pengganti hawk mk.53 nih.. lower-cost bagus buat pesawat latih pilot2 kita sekaligus back-up heavy-fighter jika terjadi perang. menurut saya sih gitu ya.. :)

    ReplyDelete