Friday, November 17, 2017

Memahami Konsep BVR Combat (Bagian 2)


Artikel ini adalah kelanjutan dari bagian pertama, yang sudah membahas tentang berbagai macam guidance yang tersedia dalam BVR missile.

Seandainya sang pilot sudah berhasil memenangkan pertempuran tidak terlihat pertama antara radar vs RWR, kemudian mendapatkan lock tanpa pernah terlihat lawan, lalu memencet tombol untuk meluncurkan BVR missile....?

Apakah berarti pertempuran BVR ini sudah selesai?

Hanya berhasil menembakkan BVR missile sebenarnya baru separuh dari perjuangan dalam pertempuran udara modern. 

Artikel ini akan membahas semua tantangan tahap selanjutnya dalam BVR combat, dari spektrum penggunaan AMRAAM, dan Meteor; dan BUKAN missile versi export haram seperti RVV-AE, yang hanya diperbolehkan untuk semua negara pembeli yang mengimport pesawat tempur dari Russia.

Friday, November 3, 2017

News Update Oktober 2017

NASAM missile System  Credits: Kongsberg

Maaf, agak lama sejak artikel News update terakhir. Ini dikarenakan kebanyakan berita kurang relevan dengan kondisi Indonesia.

Artikel ini akan men-cover beberapa berita yang relevan dalam sebulan terakhir. Setiap berita tidak dituliskan berdasarkan urutan tanggal.

Beberapa berita ini juga akan memperlihatkan kenapa mengikuti mimpi itu hanya akan selalu menabrak tembok kenyataan pahit.

Tuesday, October 17, 2017

IF-X dan Su-35: Antara Mimpi, Korupsi, dan Downgrade

Realita: F-16 lebih unggul dari Su-35, atau IF-X Gambar: TNI-AU

Silahkan membaca semua artikel, atau blog, dan kita akan melihat tiga persamaan ini dalam setiap subyek Su-35K atau IF-X!

Yang paling berbahaya dari antara ketiganya ini adalah MENJUAL MIMPI.

Bukan berarti bermimpi itu salah. Yang menjadi masalah disini seberapa jauh dari kenyataan, bagaimana mimpi itu sendiri bisa membawa kita ke suatu surga yang indah di awang-awang. Menjual mimpi itu mudah. Realita akan selalu jauh lebih pahit.

Kedua, KORUPSI.  

Artikel ini tidak membicarakan korupsi finansial dari kedua proyek mercusar ini; keduanya masalah penyelidikan KPK, dan penuntut umum di Korea. Apa yang akan dibahas disini adalah bagaimana keduanya akan menjadi korupsi generasi masa depan, korupsi kesempatan membangun industri pertahanan lokal, korupsi secara sistem pertahanan, dan yang paling parah, korupsi kedaulatan nasional .

Terakhir, dan tidak bisa dipungkiri lagi karena mimpi akhirnya bertabrakan dengan kenyataan; DOWNGRADE yang adalah suatu kepastian yang tidak akan pernah bisa ditawar dari kedua opsi mimpi ini.

Tuesday, October 10, 2017

Memahami Konsep BVR Combat (Bagian 1)

Meteor development test on Gripen   Credit: Saab

BVR combat bukanlah konsep yang mudah, ataupun murah yang bisa didapat dari sembarang membeli pesawat tempur.

Setiap pesawat tempur modern HARUS mempunyai kemampuan BVR, tetapi belum tentu dua jenis pesawat yang berbeda, performanya akan sebanding walaupun menembakkan satu jenis missile yang sama.

Setiap jenis BVR missile sendiri mempunyai guidance system yang berbeda, jarak jangkau, dan kemampuan efektif yang berbeda. Misalnya, membandingkan R-77, atau RVV-AE versi export sebagai equivalent dari missile AMRAAM adalah suatu pemahaman yang sangat keliru.

Artikel bagian pertama ini akan membahas terlebih dahulu semua jenis guidance dalam BVR combat. Artikel berikutnya akan mendalami lebih lanjut kesulitan, dan tantangan dalam pertempuran BVR, dan artikel terakhir akan membahas kenapa performa setiap pesawat tempur akan berbeda, walaupun memakai BVR missile jenis yang sama. 

Monday, September 25, 2017

Produksi lokal Gripen: Menggantikan IF-X

Gripen 39-7 with Neuron UAV   Credits: Pia Ericcson / FMV
Seperti baru saja dilaporkan Defense News, 23-September-2017 dari Helsinki, Swedia; mulai dari sekarang:
Kita tahu kalau tawaran Saab ke Indonesia sudah mengajukan perakitan 6 unit dalam kontrak $1,14 milyar. Tawaran inilah yang akan menjadi model untuk semua tawaran Gripen berikutnya. Untuk Indonesia, sejauh ini belum ada yang berani memberikan penawaran yang sama. 
Patut dicatat disini kalau belum tentu setiap negara pembeli Gripen akan mempunyai fasilitas dirgantara yang memadai untuk memulai produksi lokalnya sendiri. 

Inilah peluang emas untuk kita bisa mencapai kursi terdepan dalam membangun kembali pertahanan udara Indonesia, tidak hanya secara strategis, tetapi juga melalui penyerapan alih tehnologi, dan peningkatan kemampuan industri lokal. Inilah peluang terbaik kita untuk mengembalikan kedaulatan nasional, melalui partisipasi PTDI, yang terus-menerus diterbengkalaikan dalam setiap akusisi alutsista udara dalam 20 tahun terakhir.

Produksi lokal Gripen berpotensi untuk menggantikan efek gentar nihil dari penghisap uang di Sku-11, dan rencana pembelian skema barter yang "menguntungkan"

Tidak hanya disana, proyek ini juga berpeluang untuk menggantikan potensi kerugian dari proyek korupsi KF-X (Korea Times, 24-Juli-2017), yang sekarang sudah berada dalam proses penyelidikan Kejaksaan Korea sendiri.

Friday, September 15, 2017

Memahami Arti "Kedaulatan atas Alutsista"

Gripen 39-08 Credit: Saab

Apakah perjuangan kemerdekaan itu baru dimulai dari 17-Agustus-1945? 

Ini keliru. 

Semuanya diawali dari bangkitnya kesadaran nasional sebagai titik pemersatu seluruh Indonesia. Perjuangan kemerdekaan kita sebenarnya dimulai dari  20-Mei-1908 dengan berdirinya organisasi Budi Oetomo. Inilah pertama kalinya kata "Indonesia" menjadi identitas bangsa kita yang satu. Tentu saja, sejak tahun 1908, dan kemudian 1945, perjuangan ini sendiri tidak pernah usai.

Berkaitan dengan ini, sekarang kita dihadapkan kepada dua pilihan sederhana antara Gripen vs pesawat tempur "favorit pejabat" Su-35K. Pertanyaan disini sebenarnya sangat sederhana.

Apakah masih mau terus menikmati penjajahan supplier asing? 

Ataukah.... apakah kita sudah siap untuk merdeka sendiri, dan memperoleh kedaulatan atas pertahanan udara kita sendiri?

Sudah saatnya kita membangkitkan kesadaran nasional yang sama dalam menjunjung kedaulatan pertahanan udara Indonesia yang mandiri, yang berada di tangan rakyat, dan bukan di tangan supplier asing, ataupun para perantara mereka. Masa depan pertahanan udara Indonesia untuk 50 tahun ke depan ada di tangan kita, dan jangan biarkan pihak lain mencoba merampasnya.

Sunday, September 3, 2017

Kasus Su-22 Syria menunjuk pentingnya diversifikasi jenis Missile

F-18E firing flares over Afganistan   Wikimedia: USAF Photo

Masih ingat kasus penembakan Su-22 AU Syria (versi export dari Su-17) oleh F-18E Super Hornet pada 19-Juni-2017 yang lampau?

Su-22 versi export ini memang tertembak jatuh dengan missile AMRAAM-C; akan tetapi ternyata.... Sukhoi Syria ini sempat berhasil mengecoh AIM-9X yang ditembakan pada jarak 800 meter, dengan melepaskan flares....?

Eh, bukankah seeker AIM-9X seharusnya bisa mencuekin flare?

Missile jarak dekat (WVR) AIM-9X seharusnya mempunyai probability Kill yang jauh lebih tinggi dibandingkan AMRAAM; sedangkan missile AMRAAM dalam kasus ini sendiri ternyata ditembakan dari jarak dekat (WVR), sama seperti prosedur F-4C/D/E Phantom II dengan Sparrow missile dalam perang Vietnam.

Apa yang terjadi?

Artikel ini akan sekaligus menjawab kenapa jauh lebih penting untuk mengutamakan diversifikasi missile, dibanding mengutamakan armada gado-gado berantakan dengan jenis persenjataan yang terkunci dari satu supplier doang.

Friday, August 25, 2017