Tuesday, October 10, 2017

Memahami Konsep BVR Combat (Bagian 1)

Meteor development test on Gripen   Credit: Saab

BVR combat bukanlah konsep yang mudah, ataupun murah yang bisa didapat dari sembarang membeli pesawat tempur.

Setiap pesawat tempur modern HARUS mempunyai kemampuan BVR, tetapi belum tentu dua jenis pesawat yang berbeda, performanya akan sebanding walaupun menembakkan satu jenis missile yang sama.

Setiap jenis BVR missile sendiri mempunyai guidance system yang berbeda, jarak jangkau, dan kemampuan efektif yang berbeda. Misalnya, membandingkan R-77, atau RVV-AE versi export sebagai equivalent dari missile AMRAAM adalah suatu pemahaman yang sangat keliru.

Artikel bagian pertama ini akan membahas terlebih dahulu semua jenis guidance dalam BVR combat. Artikel berikutnya akan mendalami lebih lanjut kesulitan, dan tantangan dalam pertempuran BVR, dan artikel terakhir akan membahas kenapa performa setiap pesawat tempur akan berbeda, walaupun memakai BVR missile jenis yang sama. 

Monday, September 25, 2017

Produksi lokal Gripen: Menggantikan IF-X

Gripen 39-7 with Neuron UAV   Credits: Pia Ericcson / FMV
Seperti baru saja dilaporkan Defense News, 23-September-2017 dari Helsinki, Swedia; mulai dari sekarang:
Kita tahu kalau tawaran Saab ke Indonesia sudah mengajukan perakitan 6 unit dalam kontrak $1,14 milyar. Tawaran inilah yang akan menjadi model untuk semua tawaran Gripen berikutnya. Untuk Indonesia, sejauh ini belum ada yang berani memberikan penawaran yang sama. 
Patut dicatat disini kalau belum tentu setiap negara pembeli Gripen akan mempunyai fasilitas dirgantara yang memadai untuk memulai produksi lokalnya sendiri. 

Inilah peluang emas untuk kita bisa mencapai kursi terdepan dalam membangun kembali pertahanan udara Indonesia, tidak hanya secara strategis, tetapi juga melalui penyerapan alih tehnologi, dan peningkatan kemampuan industri lokal. Inilah peluang terbaik kita untuk mengembalikan kedaulatan nasional, melalui partisipasi PTDI, yang terus-menerus diterbengkalaikan dalam setiap akusisi alutsista udara dalam 20 tahun terakhir.

Produksi lokal Gripen berpotensi untuk menggantikan efek gentar nihil dari penghisap uang di Sku-11, dan rencana pembelian skema barter yang "menguntungkan"

Tidak hanya disana, proyek ini juga berpeluang untuk menggantikan potensi kerugian dari proyek korupsi KF-X (Korea Times, 24-Juli-2017), yang sekarang sudah berada dalam proses penyelidikan Kejaksaan Korea sendiri.

Friday, September 15, 2017

Memahami Arti "Kedaulatan atas Alutsista"

Gripen 39-08 Credit: Saab

Apakah perjuangan kemerdekaan itu baru dimulai dari 17-Agustus-1945? 

Ini keliru. 

Semuanya diawali dari bangkitnya kesadaran nasional sebagai titik pemersatu seluruh Indonesia. Perjuangan kemerdekaan kita sebenarnya dimulai dari  20-Mei-1908 dengan berdirinya organisasi Budi Oetomo. Inilah pertama kalinya kata "Indonesia" menjadi identitas bangsa kita yang satu. Tentu saja, sejak tahun 1908, dan kemudian 1945, perjuangan ini sendiri tidak pernah usai.

Berkaitan dengan ini, sekarang kita dihadapkan kepada dua pilihan sederhana antara Gripen vs pesawat tempur "favorit pejabat" Su-35K. Pertanyaan disini sebenarnya sangat sederhana.

Apakah masih mau terus menikmati penjajahan supplier asing? 

Ataukah.... apakah kita sudah siap untuk merdeka sendiri, dan memperoleh kedaulatan atas pertahanan udara kita sendiri?

Sudah saatnya kita membangkitkan kesadaran nasional yang sama dalam menjunjung kedaulatan pertahanan udara Indonesia yang mandiri, yang berada di tangan rakyat, dan bukan di tangan supplier asing, ataupun para perantara mereka. Masa depan pertahanan udara Indonesia untuk 50 tahun ke depan ada di tangan kita, dan jangan biarkan pihak lain mencoba merampasnya.

Sunday, September 3, 2017

Kasus Su-22 Syria menunjuk pentingnya diversifikasi jenis Missile

F-18E firing flares over Afganistan   Wikimedia: USAF Photo

Masih ingat kasus penembakan Su-22 AU Syria (versi export dari Su-17) oleh F-18E Super Hornet pada 19-Juni-2017 yang lampau?

Su-22 versi export ini memang tertembak jatuh dengan missile AMRAAM-C; akan tetapi ternyata.... Sukhoi Syria ini sempat berhasil mengecoh AIM-9X yang ditembakan pada jarak 800 meter, dengan melepaskan flares....?

Eh, bukankah seeker AIM-9X seharusnya bisa mencuekin flare?

Missile jarak dekat (WVR) AIM-9X seharusnya mempunyai probability Kill yang jauh lebih tinggi dibandingkan AMRAAM; sedangkan missile AMRAAM dalam kasus ini sendiri ternyata ditembakan dari jarak dekat (WVR), sama seperti prosedur F-4C/D/E Phantom II dengan Sparrow missile dalam perang Vietnam.

Apa yang terjadi?

Artikel ini akan sekaligus menjawab kenapa jauh lebih penting untuk mengutamakan diversifikasi missile, dibanding mengutamakan armada gado-gado berantakan dengan jenis persenjataan yang terkunci dari satu supplier doang.

Friday, August 25, 2017

Wednesday, August 16, 2017

Apakah keuntungan Nasional dari pembelian Su-35?


Pertanyaan ini adalah hak rakyat.

Semenjak dari 5 tahun yang lalu, sampai sekarang, sudah terlalu banyak mendengar seruan "Kita harus membeli Sukhoi!" yang bergema berulang-ulang di media massa, seolah-olah semuanya sudah bersalin rupa menjadi agen sales untuk Rosoboronexport.

Tetapi semenjak 5 tahun yang lalu sampai sekarang, kecuali untuk memenuhi keinginan spesifik, kita belum pernah mendengar jawaban apapun dari pertanyaan seperti judul artikel:

Apakah keuntungan Nasional  yang bisa didapat dari mengakuisisi Su-35K Model downgrade?

Produsen pesawat tempur manapun, seperti dalam kompetisi di India, Switzerland, dan di Brazil, seharusnya terlebih dahulu dapat membuktikan seberapa besar keuntungan yang dapat diserap secara lokal, bahkan sebelum bisa membuktikan kemampuan tempur barang yang mereka jual.

Wednesday, August 9, 2017

MoU barter Su-35K... irasional, dan memalukan!

Betapa malang nasibmu!  Credits: PTDI
PT Dirgantara Indonesia (Indonesian Aerospace)
Hari kemenangan besar untuk para oknum pro-perantara, yang memang senangnya beli import, tanpa memperhatikan industri lokal!

Seperti baru diumumkan di BBC Indonesia, pada 8-Agustus-2017 ini, PT Perusahaan Perdagangan Indonesia, dan Rostec, Perseroan agen perantara "state intermediaries" untuk pemerintah Russia, baru saja menandatangani MoU yang menyepakati transaksi barter untuk membeli 11 Su-35 "monkey model" atau variant export downgrade

Panglima Besar Jendral Sudirman, dan para pahlawan perang Kemerdekaan Era 1945 - 1949 akan menangis dalam kubur mereka kalau mendengarkan berita ini. Ironis, karena menjelang perayaan 17-Agustus-2017, untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia yang ketujuh puluh dua tahun, ternyata negara kita tercinta ini masih begitu bodoh untuk mau mengabdi ke penjajahan supplier asing.

Wednesday, August 2, 2017

Radar vs RWR dalam Pertempuran Udara


Artikel ini akan membahas berbagai tipe radar pesawat tempur, dan musuh terbesar mereka dalam pertempuran udara: Radar-Warning Receiver (RWR).

Secara basic, cara kerja radar pesawat tempur sama seperti pemancar radar di airport, mengawasi wilayah udara dalam jarak pandangnya, dan mencari obyek lain di udara. Radar pesawat tempur kemudian menambah kemampuan untuk men-tracking (mengunci arah, dan posisi) lawan, dengan tujuan menghabisi lawan tersebut dengan BVR missile.

Di pihak lain, setiap pesawat tempur modern juga sudah membawa Radar-Warning-Receiver. RWR memberikan kesempatan untuk pilot menghindari, atau mengalahkan BVR missile lawan. Dalam versi Defense Suite modern, ya, RWR juga mulai dapat men-trinangulasi posisi lawan hanya dari arah gelombang radar yang mereka pancarkan.

Hal ini tidak pernah perlu terlalu diperhitungkan sampai tahun 1970-an, karena toh baik radar, ataupun BVR missile di masa itu masih terlalu primitif. Tetapi seperti sudah dibahas sebelumnya, bagaimana Source Code akan menentukan kemampuan pesawat tempur, sekarang adalah Abad ke-21; evolusi keduanya sudah meningkat puluhan kali lipat, dan semakin tergantung kepada Source Coding.