Friday, April 20, 2018

Indonesia AKAN keluar dari program rugi KF-X

Image: Korea Joongang Daily
Demikianlah seperti dilaporkan IHS Janes dari wawancara dengan beberapa perwakilan Indonesia dalam acara Defense Service Asia 2018 di Kuala Lumpur.

Ini adalah kabar yang sangat menggembirakan untuk seluruh rakyat Indonesia!

Artikel ini akan menilik ulang kenapa meneruskan program ini hanya akan menimbulkan kerugian Nasional yang semakin lama semakin berat.

Kenapa pemerintah Indonesia justru HARUS memberi keputusan final untuk secepatnya keluar dari "proyek" dalam tanda kutip ini.

Monday, April 9, 2018

News Update Q1 2018

Sementara para resi durna sedang kembang kempis menunggu kontrak sebelum Pemilu 2019, mari kita melihat beberapa berita News Update dari seluruh dunia... yang semakin memperbesar kemungkinan dibatalkannya rencana merugikan Su-35 Versi Export Edisi anti-komunis.

Monday, March 19, 2018

Kenapa biaya OP Su-35K jauh LEBIH MAHAL dari F-22

Perhatikan Grafik rangkuman Forbes tahun 2016 untuk biaya operasional aneka pesawat tempur United States, dari militer dengan anggaran terbesar, dari negara terkaya di seluruh dunia!

Sedangkan biaya operasional Sukhoi Kommercheskiy bertehnologi tahun 1980-an yang tidak bisa di-upgrade, dan dioperasikan oleh Angkatan Udara negara berkembang, yang anggarannya pas-pasan, sudah mencapai Rp 400 juta, menurut artikel Tempo di tahun 2014

Kita bisa menilik kembali dari grafik live dari Xe.com, kalau di tahun 2014, sebenarnya kurs tengah  US$ terhadap Rupiah masih bertengger di kisaran Rp 11,500.

Ini sudah menunjuk biaya operasional per jam di Sku-11 yang sudah menggapai $34,782, atau lebih mahal daripada biaya per jam F-22 USAF super stealth fighter di tahun 2016. Tentu saja, angka ini belum termasuk biaya perbaikan mendalam 20 bulan, yang kemudian sudah menghantam empat unit pertama yang dibeli dengan barter, dan sekurangnya dua unit lain.

Para agen sales alutsista, atau mereka yang dari dahulu mementingkan tutup kontrak secepat mungkin demi kepentingan asing, sebenarnya banyak alasan untuk bergembira.... karena biaya operasional untuk 11 Su-35 Versi Export... TERJAMIN JAUH LEBIH MAHAL LAGI.

Artikel ini akan menjelaskan sederhana mengapa biaya operasional para Flemon ini demikian muahal, dan kenapa Super Flemon berarti super mahal.

Wednesday, March 14, 2018

Apakah Su-35 BENAR sudah kontrak?

Website berita milik pemerintah Russia, Tass, akhirnya mengkonfirmasi kalau kontrak Su-35 Versi Export untuk Indonesia sudah ditandatangani.

Wah, berarti semua sudah selesai? Semua sudah beres?

Eh, sebenarnya masih ada beberapa masalah yang masih belum terselesaikan. 

Friday, March 9, 2018

Re-Post: Kenapa Indonesia tidak membutuhkan Twin-Engine Fighter!

Gripen-C MS20  Gambar: Saab

Artikel ini sebelumnya sudah di-post 25-Agustus-2018, tetapi sudah saatnya diangkat kembali mengingat konteks sandiwara penipuan Su-35 Versi Export yang sedang merebak akhir-akhir ini.

Argumen konyol yang sering dijual pemeran Resi Durna penipu adalah, "Oh, kita membutuhkan Heavy twin-engine untuk mengimbangi tetangga". 

Tentu saja golongan the dreamers, alias para pemimpi kemudian memakan argumen ini, dan mulai mengembangkan fantasy yang tidak ketulungan, seperti bagaimana huebatnya suatu hari kalau kita mengoperasikan pesawat efek gentar nihil Su-35 Versi Export downgrade abish, dan IF-X Block-1 dari produsen bau kencur -- sama sekali tanpa memperhitungkan kemampuan kedua platform ini, ataupun perhitungan jumlah anggaran yang dibutuhkan.

Artikel ini akan memperkenalkan realita penjelasan hukum fisika: Kenapa sepanjang sejarah, pesawat tempur twin-engine tidak pernah terbukti lebih efektif dibandingkan pesawat single-engine fighters.

Thursday, February 22, 2018

Penipuan sandiwara Su-35 Bagian 1


Alias upaya transaksi merugikan total untuk menjual kedaulatan negara ke tangan perusahaan asing ini sebenarnya mempunyai empat pemeran.

Pemeran pertama adalah  the ignorant majority, mayoritas masyarakat yang tidak mau ambil pusing, atau kurang peduli. Berapa anggaran yang harus dibayarkan, atau seberapa jauh kedaulatan atas alutsista itu dari tangan kita, jauh dari benak pikirannya. Ah, hanya membeli alutsista itu tidak penting! Seperti kita bisa mengikuti di media berita, inilah kira-kira pandangan umum masyarakat Indonesia.

Pemeran kedua adalah the naive follower. Mereka yang terlalu naif untuk sembarang menganggukkan kepala kepada apapun yang dikatakan oleh si pemeran utama keempat nanti. Mungkin juga hanya karena lebih mengikuti arus, atau karena alasan politik. "Kita percayakan saja kepada pihak yang memang lebih mengerti daripada kami!"

Pemeran ketiga adalah the dreamer. Mereka yang terlalu terbuai mimpi-mimpi indah, dan juga merasa pintar mendukung Su-, atau IF-X, karena membaca terlalu banyak informasi re Su-35, dari sumber-sumber yang salah, seperti Ausairpower, atau media propaganda you-know-who. 

"Banyak kok yang bilang Su-35 hebat!", argumen mereka. 

Pemeran terakhir adalah si Resi Durna, atau si biang keladi kelicikan dalam pewayangan. Mereka sudah mengarang begitu banyak cerita, seolah-olah barang kuno versi export, "bersenjatakan lengkap" dengan missile versi export ini bisa memenuhi UU no.16/2012. 

Si Durna tentu saja menginginkan kelompok terbesar ignorant mayoritas, agar dapat bersalin rupa untuk bisa dibodohin menjadi the dreamer, atau the follower

Sudah saatnya sandiwara ini berhenti disini, dan menterjemahkan kembali semua kebohongan para durna!

Friday, February 9, 2018

Kenapa tidak akan ada Perang Dunia III

Tokyo, setelah pemboman US, 1945  (Wikimedia)
Beberapa laporan analisa menudingkan sejak 20 tahun yang lampau, kalau Perang Dunia yang berikutnya, yang ketiga, akan dimulai di Israel, di Timur Tengah, eh, di Taiwan, dan sekarang... di semenanjung Korea.

Pada 23-Januari-2018 yang lampau, pemerintah Trump tiba-tiba mengumumkan kalau titik fokus keamanan nasional United States akan beralih ke Russia, dan PRC. Fokus mereka, katanya, bukan lagi ke terorisme.

Sayangnya, pandangan semacam ini hanya melihat ke arah yang keliru.

Artikel ini adalah bagian pertama dari analisa sederhana dari realita perubahan situasi konflik pasca 15-Agustus-1945, atau setelah berakhirnya Perang Dunia kedua. Kenapa tidak seperti ditakuti terlalu banyak orang, Perang Dunia yang berikutnya justru hampir tidak mungkin bisa terjadi lagi.

Thursday, February 1, 2018

Empat Kelemahan Pertahanan Udara Indonesia

TS-1629 High speed pass, Hills AB   USAF Photo
Bukan.

Bukan seperti pemikiran awam dewasa ini, kelemahan terbesar pertahanan udara Indonesia bukanlah dikarenakan kekurangan jumlah. 

Bayangkan saja istana yang terbuat dari pasir. Seandainya istana pasir ini diperbesar dengan menara-menara, dan tembok pasir yang lebih banyak, tentu saja kelihatan lebih megah. Sayangnya, ombak kecil yang bisa menyapu bersih istana pasir yang dahulu lebih kecil, akan tetap sama bisa menyapu istana pasir yang lebih besar tadi. 


Kalau kita terus mencoba menambah jumlah dalam keadaan de facto yang sekarang, hanya akan melipat-gandakan kesemua kelemahan yang sudah ada. Dari segi kekuatan sih, tidak akan perbedaan yang berarti.

Daftar keempat kelemahan ini sebelumnya sudah pernah disinggung dalam artikel-artikel lain di blog ini, dan untuk pertama kalinya akan dirumuskan ke dalam satu artikel, yang sekaligus menjelaskan:

Suka, atau tidak suka
Kenapa kita masih belum siap untuk membeli pesawat tempur baru?

Terlepas dari model apapun yang "rencananya" mau dibeli, termasuk kebutuhan nyata untuk Gripen, atau keinginan untuk akuisisi barang downgrade favorit para agen sales; kita hanya akan menambah pajangan dalam acara kemerdekaan.