Friday, September 15, 2017

Memahami Arti "Kedaulatan atas Alutsista"

Gripen 39-08 Credit: Saab

Apakah perjuangan kemerdekaan itu baru dimulai dari 17-Agustus-1945? 

Ini keliru. 

Semuanya diawali dari bangkitnya kesadaran nasional sebagai titik pemersatu seluruh Indonesia. Perjuangan kemerdekaan kita sebenarnya dimulai dari  20-Mei-1908 dengan berdirinya organisasi Budi Oetomo. Inilah pertama kalinya kata "Indonesia" menjadi identitas bangsa kita yang satu. Tentu saja, sejak tahun 1908, dan kemudian 1945, perjuangan ini sendiri tidak pernah usai.

Berkaitan dengan ini, sekarang kita dihadapkan kepada dua pilihan sederhana antara Gripen vs pesawat tempur "favorit pejabat" Su-35K. Pertanyaan disini sebenarnya sangat sederhana.

Apakah masih mau terus menikmati penjajahan supplier asing? 

Ataukah.... apakah kita sudah siap untuk merdeka sendiri, dan memperoleh kedaulatan atas pertahanan udara kita sendiri?

Sudah saatnya kita membangkitkan kesadaran nasional yang sama dalam menjunjung kedaulatan pertahanan udara Indonesia yang mandiri, yang berada di tangan rakyat, dan bukan di tangan supplier asing, ataupun para perantara mereka. Masa depan pertahanan udara Indonesia untuk 50 tahun ke depan ada di tangan kita, dan jangan biarkan pihak lain mencoba merampasnya.

Sunday, September 3, 2017

Kasus Su-22 Syria menunjuk pentingnya diversifikasi jenis Missile

F-18E firing flares over Afganistan   Wikimedia: USAF Photo

Masih ingat kasus penembakan Su-22 AU Syria (versi export dari Su-17) oleh F-18E Super Hornet pada 19-Juni-2017 yang lampau?

Su-22 versi export ini memang tertembak jatuh dengan missile AMRAAM-C; akan tetapi ternyata.... Sukhoi Syria ini sempat berhasil mengecoh AIM-9X yang ditembakan pada jarak 800 meter, dengan melepaskan flares....?

Eh, bukankah seeker AIM-9X seharusnya bisa mencuekin flare?

Missile jarak dekat (WVR) AIM-9X seharusnya mempunyai probability Kill yang jauh lebih tinggi dibandingkan AMRAAM; sedangkan missile AMRAAM dalam kasus ini sendiri ternyata ditembakan dari jarak dekat (WVR), sama seperti prosedur F-4C/D/E Phantom II dengan Sparrow missile dalam perang Vietnam.

Apa yang terjadi?

Artikel ini akan sekaligus menjawab kenapa jauh lebih penting untuk mengutamakan diversifikasi missile, dibanding mengutamakan armada gado-gado berantakan dengan jenis persenjataan yang terkunci dari satu supplier doang.

Friday, August 25, 2017

Wednesday, August 16, 2017

Apakah keuntungan Nasional dari pembelian Su-35?


Pertanyaan ini adalah hak rakyat.

Semenjak dari 5 tahun yang lalu, sampai sekarang, sudah terlalu banyak mendengar seruan "Kita harus membeli Sukhoi!" yang bergema berulang-ulang di media massa, seolah-olah semuanya sudah bersalin rupa menjadi agen sales untuk Rosoboronexport.

Tetapi semenjak 5 tahun yang lalu sampai sekarang, kecuali untuk memenuhi keinginan spesifik, kita belum pernah mendengar jawaban apapun dari pertanyaan seperti judul artikel:

Apakah keuntungan Nasional  yang bisa didapat dari mengakuisisi Su-35K Model downgrade?

Produsen pesawat tempur manapun, seperti dalam kompetisi di India, Switzerland, dan di Brazil, seharusnya terlebih dahulu dapat membuktikan seberapa besar keuntungan yang dapat diserap secara lokal, bahkan sebelum bisa membuktikan kemampuan tempur barang yang mereka jual.

Wednesday, August 9, 2017

MoU barter Su-35K... irasional, dan memalukan!

Betapa malang nasibmu!  Credits: PTDI
PT Dirgantara Indonesia (Indonesian Aerospace)
Hari kemenangan besar untuk para oknum pro-perantara, yang memang senangnya beli import, tanpa memperhatikan industri lokal!

Seperti baru diumumkan di BBC Indonesia, pada 8-Agustus-2017 ini, PT Perusahaan Perdagangan Indonesia, dan Rostec, Perseroan agen perantara "state intermediaries" untuk pemerintah Russia, baru saja menandatangani MoU yang menyepakati transaksi barter untuk membeli 11 Su-35 "monkey model" atau variant export downgrade

Panglima Besar Jendral Sudirman, dan para pahlawan perang Kemerdekaan Era 1945 - 1949 akan menangis dalam kubur mereka kalau mendengarkan berita ini. Ironis, karena menjelang perayaan 17-Agustus-2017, untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia yang ketujuh puluh dua tahun, ternyata negara kita tercinta ini masih begitu bodoh untuk mau mengabdi ke penjajahan supplier asing.

Wednesday, August 2, 2017

Radar vs RWR dalam Pertempuran Udara


Artikel ini akan membahas berbagai tipe radar pesawat tempur, dan musuh terbesar mereka dalam pertempuran udara: Radar-Warning Receiver (RWR).

Secara basic, cara kerja radar pesawat tempur sama seperti pemancar radar di airport, mengawasi wilayah udara dalam jarak pandangnya, dan mencari obyek lain di udara. Radar pesawat tempur kemudian menambah kemampuan untuk men-tracking (mengunci arah, dan posisi) lawan, dengan tujuan menghabisi lawan tersebut dengan BVR missile.

Di pihak lain, setiap pesawat tempur modern juga sudah membawa Radar-Warning-Receiver. RWR memberikan kesempatan untuk pilot menghindari, atau mengalahkan BVR missile lawan. Dalam versi Defense Suite modern, ya, RWR juga mulai dapat men-trinangulasi posisi lawan hanya dari arah gelombang radar yang mereka pancarkan.

Hal ini tidak pernah perlu terlalu diperhitungkan sampai tahun 1970-an, karena toh baik radar, ataupun BVR missile di masa itu masih terlalu primitif. Tetapi seperti sudah dibahas sebelumnya, bagaimana Source Code akan menentukan kemampuan pesawat tempur, sekarang adalah Abad ke-21; evolusi keduanya sudah meningkat puluhan kali lipat, dan semakin tergantung kepada Source Coding.


Wednesday, July 19, 2017

News Update Juli-2017

2nd Test Flight Gripen   Credit: Stefan Kalm

News Update Juli-2017. Update singkat, sebelum membahas Radar vs Defense Suite; pertempuran elektronik tidak terlihat di Abad ke-21.

Friday, July 14, 2017

Source Code: Kitab Suci pesawat tempur

Gripen 39-8 at Saab's Linköping facility  -- Credit: Saab

Perhatikan terlebih dahulu cara kerja tubuh anda sendiri, seperti misalnya, proses mengambil nafas!

Pada saat anda menarik nafas, anda akan menghirup udara melalui hidung, atau mulut. Kontraksi diafram akan menarik masuk udara ke dalam paru-paru. Di dalam paru-paru, oksigen kemudian di-transfer ke dalam sel-sel darah merah, dan berbarengan dengan itu, karbon dioksida yang sebelumnya dibawa sel-sel darah merah tersebut dipindahkan kembali ke paru-paru untuk kemudian dikeluarkan kembali saat kita menghembukan nafas. Sementara itu, sel-sel darah merah dipompa ke dalam jantung, yang kemudian mensirkulasikannya ke seluruh tubuh, dan mengkoleksi balik karbon dioksida untuk dihembuskan keluar.

Semuanya ini berlangsung automatis. Anda tidak perlu berpikir, atau belajar untuk bernafas, atau bagaimana caranya mengolah makanan. Seluruh tubuh anda sudah mengatur semua proses ini secara alamiah sejak anda lahir.

Source Code pesawat tempur adalah jutaan baris programming line yang tersembunyi di dalam internal computer menentukan SEMUA FUNGSI dalam pesawat tempur modern, sama seperti bagaimana tubuh kita bekerja dengan sendirinya. 

Tanpa source coding untuk fly-by-wire system, pesawat modern (tidak hanya pesawat tempur) bahkan tidak bisa lepas landas, berbelok, ataupun bermanuever di udara. Dewasa ini, komputer sudah melakukan jutaan perhitungan dalam setiap pesawat tempur setiap detik, untuk memastikan segala sesuatu bekerja semestinya. Apalagi untuk kemampuan tempurnya.

Tanpa ada Source Code, tidak akan ada pesawat tempur modern. 

Seberapa jauh negara bisa memegang kontrol atas source code pesawat tempur akan menentukan kepemilikan pesawat itu sendiri.